Hujan pertama di awal tahun mengguyur kota Yogyakarta dengan lembut. Butirannya jatuh menimpa jendela mobil yang melaju pelan di jalanan basah. Dari balik kemudi, Reno Adiprana menatap lurus ke depan, sesekali menghela napas panjang. Aroma tanah basah menyeruak masuk melalui celah jendela yang sedikit terbuka, membawa kenangan yang sulit ia buang.
Sudah dua tahun berlalu sejak Rhea, istrinya, meninggal dunia dalam kecelakaan yang tidak pernah sempat ia maafkan-terutama kepada dirinya sendiri. Ia masih mengingat jelas pagi itu, saat Rhea pamit dengan tawa kecil karena terlambat pergi ke klinik tempatnya bekerja. Hanya beberapa jam setelahnya, telepon berdering, mengabarkan semuanya berakhir.
Begitu cepat. Begitu kejam.
Sejak hari itu, hidup Reno terasa seperti putaran jam yang kehilangan arah. Ia pergi bekerja, pulang, makan seadanya, lalu tidur di ranjang yang terasa terlalu luas dan dingin. Tidak ada lagi suara lembut yang menyambutnya di rumah, tidak ada lagi tawa yang memantul di dinding. Semuanya sepi.
"Pak Reno, surat mutasi sudah ditandatangani direktur," ujar rekan kerjanya suatu siang. "Mulai bulan depan, Bapak resmi pindah ke cabang Yogyakarta."
Kabar itu membuat dadanya berdebar aneh. Antara lega dan takut. Ia tahu, pindah kota berarti meninggalkan semua bayangan masa lalu di Jakarta, tapi juga berarti menghadapi kenyataan baru yang belum tentu lebih baik.
Namun setelah malam-malam panjang yang ia habiskan menatap foto Rhea di meja kerja, akhirnya ia sadar: diam di tempat yang sama hanya akan membuatnya semakin tenggelam.
Maka pagi itu, ia menyalakan mobil, menempuh perjalanan panjang menuju Yogyakarta dengan perasaan campur aduk-hampa, takut, tapi juga ada sedikit rasa ingin sembuh.
"Lha, kok kurus, Ren?"
Suara Bude Ratna terdengar hangat ketika pintu rumahnya terbuka lebar. Perempuan itu memeluk Reno erat-erat, seolah menyambut anak yang pulang dari pengembaraan panjang.
Reno tersenyum tipis. "Biasa, Bude. Makan di kantor nggak teratur."
"Alasannya itu-itu terus. Sini, masuk. Aku udah masak sayur lodeh kesukaanmu," ujarnya sambil menarik tangan Reno ke ruang makan.
Rumah Bude Ratna berdiri di sebuah desa kecil di lereng Merapi. Udara di sana jauh lebih sejuk daripada Jakarta, dengan aroma rumput dan tanah yang khas. Dari halaman belakang, gunung menjulang megah dengan kabut tipis yang menutupi puncaknya. Di kejauhan terdengar suara gamelan dari radio tetangga, berpadu dengan gemericik air yang turun dari talang bambu.
Reno menghela napas dalam-dalam. "Tenang banget, Bude."
"Ya, beginilah desa. Nggak ada macet, nggak ada gedung tinggi. Tapi juga nggak ada kesepian kalau kamu mau buka hati," ujar Bude Ratna sambil tersenyum penuh arti.
Reno hanya menatap sendoknya. "Saya belum tahu, Bude... apakah masih bisa buka hati."
Bude Ratna tidak menjawab. Ia tahu, luka Reno masih dalam. Tak perlu dipaksa sembuh.
Hari-hari pertama di Jogja terasa canggung. Kantor cabang tempat Reno bekerja jauh lebih kecil, suasananya santai, tapi ia masih membawa kebiasaan kota besar-cepat, tegas, kaku.
Teman-teman barunya ramah, tapi ia tetap menjaga jarak. Setiap sore ia pulang ke desa, menembus jalan menanjak yang sepi, hanya ditemani suara jangkrik.
Hingga suatu pagi, rutinitasnya berubah.
Ia sedang mampir ke pasar desa untuk membeli sarapan sebelum berangkat kerja. Pasar itu kecil, penuh warna. Penjual sayur duduk bersila di atas tikar, aroma tempe goreng dan daun pisang bercampur di udara. Di sudut pasar, ia melihat seorang perempuan muda mengaduk sesuatu di panci besar di atas kompor kecil.
Wajah perempuan itu teduh. Rambutnya digelung sederhana, pipinya sedikit merah karena panas uap. Ada ketenangan dalam setiap geraknya.
"Bubur bayi, Mas? Baru matang," katanya ramah begitu Reno mendekat.
Reno menatap gerobak sederhana yang tertulis 'Bubur Sehat Mira'. "Iya, Mbak. Saya beli satu."
"Untuk bayi siapa?" tanya perempuan itu sambil menyiapkan mangkuk kecil.
Reno terdiam sejenak. Pertanyaan sederhana itu tiba-tiba menohok. Ia menunduk, lalu tersenyum pahit. "Nggak ada bayi. Buat saya aja."
Perempuan itu tersenyum malu, matanya menunduk. "Maaf, Mas. Saya kira-ya, soalnya kebanyakan yang beli ibu-ibu muda."
"Tidak apa," jawab Reno singkat.
Setelah menyerahkan uang dan menerima bubur hangat dalam wadah kertas, Reno sempat melirik papan kecil di sisi gerobak: 'Dibuat dengan hati, tanpa pengawet.'
Ia tidak tahu kenapa, tapi kalimat itu membuatnya berhenti sejenak sebelum pergi.
Sejak hari itu, Reno jadi pelanggan tetap. Setiap pagi, sebelum berangkat ke kota, ia selalu mampir membeli semangkuk bubur. Kadang rasa labu, kadang bayam, kadang kacang hijau. Semuanya terasa sederhana, tapi menenangkan.
"Mas Reno kerja di mana?" tanya Mira Pradipta, nama perempuan itu, suatu pagi ketika mereka sudah mulai cukup akrab.
"Di kantor cabang perusahaan konstruksi, di kota," jawab Reno sambil menunggu buburnya dikemas. "Saya nglaju tiap hari."
"Wah, jauh banget, ya. Nggak capek?"
"Kalau di jalan banyak yang bisa dilihat, capeknya malah hilang," ujarnya sambil menatap wajah Mira. Ia tidak tahu kenapa, tapi setiap melihat senyum gadis itu, perasaannya sedikit hangat.
Mungkin karena sudah lama tak ada yang membuatnya merasa hidup.
"Kalau Mbak Mira sendiri, kenapa jualan bubur bayi? Latar belakangnya kan kayaknya... nggak biasa."
Mira tersenyum kecil, tapi matanya sedikit sayu. "Saya dulu kuliah di jurusan gizi, Mas. Tapi setelah lulus, Bapak saya sakit. Demensia. Kadang lupa waktu, kadang lupa saya ini siapa. Jadi saya harus di rumah terus buat ngawasin."
Reno menatapnya, diam. "Maaf, saya-nggak tahu."
"Nggak apa. Saya sudah terbiasa," ujar Mira lembut. "Awalnya saya bingung gimana tetap bisa dapat penghasilan tanpa ninggalin rumah. Akhirnya saya bikin bubur bayi homemade. Dari situ malah banyak pelanggan."
"Hebat," kata Reno tulus. "Bisa kuat kayak gitu."
Mira hanya tersenyum. "Kadang harus kuat karena nggak ada pilihan lain."
Kata-kata itu menghantam Reno tanpa peringatan. Karena entah kenapa, ia merasa sedang berbicara dengan dirinya sendiri.
Hari berganti minggu. Interaksi kecil mereka menjadi rutinitas yang tak pernah Reno sadari ia butuhkan. Kadang mereka berbincang sebentar soal cuaca, kadang tentang bahan makanan, kadang sekadar saling sapa singkat. Tapi setiap pertemuan, selalu meninggalkan rasa hangat yang bertahan hingga malam.
Bude Ratna tentu menyadarinya.
"Ren, kamu akhir-akhir ini sering senyum sendiri, lho," ujarnya suatu malam sambil menata lauk di meja makan.
"Ah, masa, Bude?"
"Ya masa aku nggak tahu? Dulu kamu makan aja diam. Sekarang tiap malam kok kayak nunggu pesan WhatsApp."
Reno tertawa kecil, mencoba mengalihkan. "Namanya juga adaptasi tempat baru."
Bude Ratna menatapnya curiga. "Adaptasi sama siapa, hayo?"
Reno hanya menggeleng sambil tersenyum malu. Ia tahu Bude Ratna terlalu peka untuk dibohongi.
Suatu sore, hujan turun deras ketika Reno pulang dari kantor. Jalanan desa licin, kabut turun cepat. Di tikungan dekat pasar, ia melihat gerobak bubur Mira sudah ditutup, tapi lampu di warung kecil sebelah rumahnya masih menyala.
Tanpa pikir panjang, Reno menepi. Ia melihat Mira tengah memindahkan bahan-bahan dari gerobak ke dapur. Baju dan rambutnya sudah basah kuyup.
"Mbak Mira!" panggil Reno dari depan pagar bambu.
Mira menoleh, sedikit kaget. "Mas Reno? Kok bisa lewat sini?"
"Lihat gerobakmu masih di luar, saya kira butuh bantuan."
Mira tertawa kecil, suaranya tenggelam dalam hujan. "Masih sempat aja nolongin di tengah badai begini."
Reno nyengir. "Ya, siapa tahu Mbak Mira nggak punya payung."
"Punya, tapi payung saya juga bocor," jawabnya sambil menunjukkan payung lusuh yang sudah miring di satu sisi.
Akhirnya Reno memutuskan membantu memindahkan gerobak ke tempat teduh. Hujan makin deras, tapi entah kenapa suasana itu terasa hangat. Setelah semuanya selesai, Mira menyodorkan segelas teh hangat kepadanya.
"Terima kasih, Mas. Kalau nggak dibantu, bubur besok bisa gagal jual."
Reno menerima teh itu, uapnya mengepul tipis. "Sama-sama. Saya juga butuh alasan buat berhenti kerja terus."
Mira tersenyum samar. "Berhenti kerja terus maksudnya?"
"Kadang saya kerja cuma buat nggak merasa kosong. Tapi kalau berhenti, ya... kosong itu datang lagi."
Mira menatapnya lama, tak berkata apa-apa. Di bawah gemericik hujan dan aroma teh, dua orang itu hanya diam-tapi diam yang tidak lagi canggung.
Malam itu, di rumah, Reno tidak bisa tidur. Ia memandangi foto Rhea di meja kerja-foto yang selalu ia bawa ke mana pun.
"Rhea..." bisiknya lirih. "Aku nggak tahu apakah ini salah, tapi aku mulai merasa... ada kehidupan lagi."
Air matanya menetes tanpa bisa ditahan. Tapi kali ini, bukan karena kehilangan. Melainkan karena ia tahu, mungkin sudah waktunya berhenti menyalahkan diri sendiri.
Keesokan harinya, Reno kembali ke pasar. Namun gerobak bubur Mira kosong. Hanya tertulis papan kecil: 'Libur dulu, Bapak sedang kambuh.'
Hatinya berdebar. Entah kenapa, ia merasa cemas luar biasa. Tanpa berpikir, ia mencari alamat yang tertera di papan itu, menapaki jalan kecil menuju rumah kayu sederhana di pinggir sungai.
Dari jauh, ia melihat Mira sedang duduk di teras, menenangkan seorang pria tua yang menatap kosong ke arah pepohonan.
"Bapak, ini Mira... anak Bapak," ucapnya lembut. Tapi pria itu hanya tersenyum bingung.
Reno berdiri di pagar, tak berani masuk. Tapi Mira melihatnya, lalu tersenyum lemah. "Mas Reno..."
"Maaf, saya cuma mau lihat kabar."
Mira bangkit, menghampirinya. "Bapak lagi lupa lagi. Tadi sempat marah-marah, nyari ibu yang udah nggak ada."
Reno menatap mata Mira yang lelah. "Kalau butuh apa-apa, kabari saya, ya."
Mira mengangguk pelan. "Terima kasih. Tapi ini cuma sementara, nanti juga tenang lagi."
Reno tahu, kata "sementara" itu seringkali berarti "selamanya". Tapi ia tidak ingin menyinggung lebih jauh.
Minggu-minggu berikutnya, mereka semakin dekat. Reno sering membantu mengantar bahan ke pasar, kadang menemaninya menyiapkan adonan bubur saat pagi buta.
Dan entah bagaimana, di antara uap panci dan tawa kecil, luka lama perlahan sembuh.
Suatu pagi, saat matahari baru muncul di balik kabut Merapi, Mira berkata, "Mas tahu nggak, kenapa saya jualan bubur bayi?"
Reno tersenyum. "Sudah, karena Bapak."
"Sebagian, iya," jawab Mira lembut. "Tapi juga karena saya ingin belajar sabar. Bubur itu butuh waktu. Nggak bisa terburu-buru. Sama seperti hidup."
Reno memandangi wajahnya lama. Ada cahaya lembut di mata Mira, yang membuat hatinya bergetar pelan.
Ia tersenyum tipis. "Mungkin, saya juga sedang belajar hal yang sama."
Malam itu, di halaman rumah, Reno menatap langit Merapi yang dipenuhi bintang. Suara serangga bersahutan. Dari jendela dapur, Bude Ratna muncul membawa dua cangkir teh.
"Cantik, ya?" katanya pelan.
"Iya, Bude. Tenang sekali."
Bude Ratna duduk di sebelahnya. "Kadang Tuhan nggak kasih kita orang yang kita mau, tapi orang yang kita butuh. Kamu ngerti maksudku, kan?"
Reno menatap cangkir tehnya. Uapnya berputar seperti napas hangat kehidupan. "Mungkin, Bude. Mungkin saya mulai mengerti."
Di kejauhan, cahaya dari dapur rumah Mira masih menyala.
Dan untuk pertama kalinya setelah dua tahun, Reno tersenyum bukan karena kenangan masa lalu-melainkan karena masa depan yang perlahan tampak mungkin.
Kabut tipis menyelimuti jalan-jalan kecil di lereng Merapi. Udara pagi terasa dingin, tapi di dapur rumah Bude Ratna, aroma kopi hitam dan gorengan membuat suasana hangat. Reno duduk di kursi rotan, memandangi halaman yang perlahan diterpa sinar matahari pertama.
Sudah hampir dua bulan sejak ia pindah ke Yogyakarta. Aneh, tapi dalam waktu sesingkat itu, hidupnya terasa jauh berbeda. Ia mulai bangun pagi tanpa rasa berat di dada. Mulai menikmati perjalanan ke kantor, bahkan kadang pulang lebih cepat hanya agar bisa mampir sebentar ke pasar dan membeli bubur dari Mira.
Namun pagi ini, gerobak bubur itu tidak ada di tempat biasa.
Ia berhenti di tepi jalan, menunggu beberapa menit, tapi yang datang hanya ibu-ibu desa yang lewat membawa keranjang sayur. Papan kecil bertuliskan "Bubur Sehat Mira" masih tergantung di tiang, tapi panci dan meja kayu yang biasa menemani sudah menghilang.
Entah kenapa, dada Reno terasa kosong. Ada rasa kehilangan yang aneh, meski ia tahu itu konyol untuk seseorang yang baru dikenalnya beberapa minggu.
"Mas Reno nyari Mbak Mira, ya?" tanya seorang penjual bunga yang lewat.
Reno mengangguk. "Iya, Bu. Biasanya dia jualan di sini."
"Oh, tadi pagi ada ambulans lewat. Katanya Bapaknya Mbak Mira dibawa ke klinik desa," jawab ibu itu lirih.
Reno langsung diam. Ujung jarinya terasa dingin. Tanpa pikir panjang, ia menstarter mobil dan menuruni jalan kecil menuju arah klinik.
Klinik desa itu kecil, tapi ramai. Suara batuk, tangisan bayi, dan aroma obat bercampur di udara. Di pojok ruang tunggu, ia melihat Mira duduk sendirian, menunduk dalam diam. Rambutnya terurai, wajahnya pucat, dan mata sembab seolah habis menangis.
"Mbak Mira..." panggil Reno pelan.
Mira menoleh, terkejut. "Mas Reno? Kok bisa tahu saya di sini?"
"Saya dengar dari warga. Gimana Bapak?"
Mira menghela napas berat. "Kambuhnya parah, Mas. Tadi pagi Bapak tiba-tiba panik, nyari jalan pulang ke kampung lamanya di Klaten. Untung tetangga lihat dan bantu. Sekarang lagi diobservasi dokter."
Reno duduk di sampingnya tanpa bicara. Kadang diam lebih bermakna daripada seribu kata.
Beberapa menit berlalu sebelum Mira bersuara lagi.
"Saya takut, Mas. Kalau nanti Bapak nggak ingat saya lagi... saya nggak tahu harus gimana."
Reno menatapnya, lembut. "Kalau pun Bapak lupa, kamu tetap anaknya, Mir. Kenangan bisa hilang, tapi cinta nggak."
Mira menunduk, menahan air mata yang kembali menggenang. "Kata-kata Mas Reno terlalu manis buat orang yang masih belajar kuat."
"Kadang orang kuat justru yang paling sering jatuh," jawab Reno lirih.
Sejak hari itu, Reno mulai sering mampir ke rumah Mira, bukan untuk membeli bubur, tapi sekadar memastikan semuanya baik-baik saja. Kadang ia datang membawa buah, kadang sekadar membantu memperbaiki atap bocor atau kran air.
Mira semula menolak dengan sopan, tapi lama-lama ia menyerah. "Kalau Mas Reno terus datang, saya takut utang budi," katanya suatu sore.
Reno tersenyum. "Anggap aja ini saya bayar bubur yang kemarin belum sempat beli."
Mira terkekeh. "Mas Reno itu ada-ada aja."
Hari-hari berikutnya terasa seperti potongan film yang sederhana tapi damai. Ada tawa kecil, aroma bubur labu yang mengepul, dan obrolan ringan tentang hidup. Tapi di balik semua itu, Reno mulai menyadari sesuatu: ia mulai takut kehilangan Mira.
Bukan karena cinta-setidaknya belum ia akui. Tapi karena perempuan itu satu-satunya yang membuat dunia barunya terasa berarti.
Sampai suatu hari, masa lalu datang mengetuk pintu.
Reno baru saja selesai rapat ketika ponselnya bergetar. Nama yang muncul di layar membuatnya membeku - Nadine, adik mendiang istrinya.
"Halo, Din."
"Mas... aku di Jogja. Bisa ketemu?"
Reno menghela napas. "Ada apa, Din?"
"Aku cuma mau kasih sesuatu dari Rhea. Aku nemuin jurnalnya waktu beresin gudang rumah Mama."
Seketika dada Reno bergetar. Nama itu saja sudah cukup membuat kenangan lama berhamburan. Tapi ia tak mungkin menolak.
"Baik. Kita ketemu di kafe mana?"
Pertemuan itu terasa aneh. Nadine, yang dulu masih SMA ketika Rhea meninggal, kini sudah jadi perempuan dewasa. Senyumnya masih sama, tapi ada kesedihan yang samar di sana.
"Mas, aku nemuin ini." Ia mengeluarkan buku catatan lusuh berwarna cokelat. "Rhea nulis ini beberapa bulan sebelum kecelakaan."
Reno menerima buku itu dengan tangan gemetar. Helaan napasnya terasa berat. "Terima kasih, Din."
Nadine menatapnya lama. "Mas... aku senang Mas mulai hidup lagi. Tapi aku cuma mau bilang satu hal. Jangan terus merasa bersalah, ya?"
Reno menatap keluar jendela, menghindari mata adik iparnya. "Kamu nggak tahu apa yang aku lakukan waktu itu, Din."
"Tapi Rhea udah maafin, Mas. Dia nulis sendiri di situ," kata Nadine pelan.
Reno tak sanggup bicara lagi.
Malam itu, di kamar, ia membuka jurnal itu perlahan. Tulisan tangan Rhea masih sama seperti dulu-rata, rapi, penuh hati-hati.
"Kalau aku pergi duluan, semoga Reno bisa bahagia lagi. Aku tahu dia keras kepala, tapi aku cuma ingin dia berhenti menyalahkan diri sendiri."
Tulisan itu membuat dadanya serasa diremas.
Ia menutup jurnal itu dan menatap langit-langit kamar. Air matanya jatuh pelan tanpa suara. Ia sadar, mungkin inilah waktu untuk benar-benar melepaskan.
Keesokan paginya, Reno memutuskan pergi ke rumah Mira lebih awal. Tapi kali ini bukan sekadar ingin tahu kabar. Ia ingin bicara jujur-tentang siapa dirinya, tentang masa lalu yang belum tuntas.
Namun saat ia tiba di halaman, terdengar suara laki-laki dari dalam rumah. Reno berhenti di depan pagar. Suara itu bukan suara bapak Mira.
"Mir, kamu nggak bisa terus kayak gini. Aku tahu kamu masih bisa kerja di kota. Kamu punya potensi."
Itu suara Bayu, teman kuliah Mira, yang pernah datang sekali dulu membantu memperbaiki gerobak. Dari sela pintu yang terbuka, Reno melihat Bayu berdiri agak dekat dengan Mira. Wajahnya serius.
Mira menjawab pelan, "Bayu, aku nggak bisa ninggalin Bapak. Dia cuma punya aku."
"Tapi sampai kapan? Hidupmu berhenti di sini, Mir. Aku cuma nggak mau kamu nyesel nanti."
Suasana hening. Reno mundur selangkah, tak ingin terlihat. Tapi sebelum ia pergi, Mira berkata lirih, "Aku nggak nyesel, Yu. Aku udah milih jalan ini."
Reno menunduk dan meninggalkan halaman itu tanpa suara.
Hari-hari berikutnya, Reno kembali menjaga jarak. Ia tetap mampir sesekali, tapi tidak seperti dulu. Mira menyadarinya, tapi tidak tahu alasan sebenarnya.
Kadang ia hanya memandangi jalan dari teras, menunggu mobil putih itu lewat seperti biasa. Tapi mobil itu sering hanya berhenti sebentar, lalu pergi lagi.
Bude Ratna, yang selalu peka, akhirnya menegur.
"Ren, kamu kenapa? Wajahmu kayak orang kehilangan arah lagi."
Reno menghela napas. "Saya nggak tahu, Bude. Mungkin saya takut mengulang kesalahan yang sama."
"Kesalahan apa?"
"Mencintai, tapi nggak bisa melindungi."
Bude Ratna menatapnya tajam. "Ren, cinta bukan tentang menyelamatkan. Kadang cukup menemani."
Kata-kata itu terngiang di kepala Reno lama setelahnya.
Sementara itu, Mira juga bergulat dengan batinnya sendiri. Setelah Bayu datang, pikirannya jadi kacau. Ia mulai bertanya-tanya, apakah benar keputusannya untuk tetap di desa adalah bentuk cinta, atau justru pelarian dari ketakutan kehilangan.
Malam itu, saat Bapaknya tertidur, Mira duduk di teras sambil menatap langit. Angin gunung berembus pelan, membawa suara jangkrik dan aroma tanah basah.
Tiba-tiba lampu depan rumah menyala. Reno berdiri di sana, membawa dua gelas teh.
"Boleh saya duduk?" tanyanya hati-hati.
Mira mengangguk. "Silakan."
Mereka duduk tanpa bicara cukup lama. Hanya suara malam yang menemani.
"Aku dengar Bapakmu sudah agak membaik," kata Reno akhirnya.
"Sudah, Mas. Tapi ya begitu... tiap hari kayak lotre. Kadang ingat, kadang nggak."
Reno menatap gelasnya. "Kalau suatu hari kamu bisa ninggalin semua ini, apa kamu mau?"
Mira menoleh. "Maksudnya?"
"Pergi dari sini. Hidup di kota, kerja di tempat yang kamu mau."
Mira tersenyum samar. "Dulu aku sempat mikir gitu. Tapi sekarang... aku merasa, mungkin Tuhan naruh aku di sini bukan buat dihukum, tapi buat belajar menerima."
"Dan kamu nggak merasa terjebak?"
"Kadang iya. Tapi setiap kali lihat Bapak bisa makan bubur dengan tenang, rasanya semua cukup."
Reno menatapnya lama. "Kamu tahu nggak, Mir... dulu aku kehilangan seseorang karena terlalu sibuk menebus rasa bersalah. Aku nggak mau itu kejadian lagi."
Mira terdiam, menatap matanya. "Mas Reno masih mencintai almarhumah istri Mas?"
Pertanyaan itu membuat waktu seolah berhenti.
Reno menarik napas panjang. "Aku nggak tahu. Tapi aku tahu, aku nggak ingin terus hidup di masa lalu."
Mira menunduk. "Kalau begitu, berhentilah menyamakan setiap hal dengan kenangan."
Hening menyelimuti mereka. Tapi hening yang aneh-menyakitkan, tapi juga jujur.
Beberapa minggu kemudian, klinik tempat Bapak Mira dirawat meminta Mira datang lebih sering. Kondisi Bapaknya mulai menurun. Mira jarang ke pasar, dan Reno semakin jarang bertemu dengannya. Namun setiap kali ia lewat jalan itu, ia tetap memperlambat mobilnya-seolah berharap gerobak itu muncul lagi di tempat biasa.
Hingga suatu sore, ia menerima pesan singkat:
"Mas Reno, Bapak saya mau ketemu. Katanya mau minta maaf."
Reno segera melajukan mobilnya ke rumah Mira. Ketika sampai, pria tua itu duduk di kursi, wajahnya pucat tapi tersenyum samar. "Kamu Reno, ya?" katanya lirih.
"Iya, Pak."
"Terima kasih sudah bantu Mira. Anak saya keras kepala, tapi hatinya baik. Jangan biarkan dia sendirian."
Reno menatap Mira, yang matanya mulai berkaca-kaca. "Saya janji, Pak."
Beberapa hari kemudian, Bapak Mira meninggal dunia dengan tenang di pangkuan putrinya. Desa kecil itu ikut berduka. Reno ikut membantu pemakaman, diam-diam, tak banyak bicara. Tapi setiap kali mata Mira menatapnya, ia tahu-tidak ada kata yang cukup untuk mengisi kehilangan seperti itu.
Setelah tujuh hari berlalu, Mira datang ke rumah Bude Ratna membawa sebuah bungkusan kecil.
"Ini titipan Bapak sebelum meninggal," katanya lirih pada Reno. "Katanya, kasih ke orang yang bikin Mira berani tersenyum lagi."
Reno membuka bungkusan itu perlahan. Di dalamnya ada sapu tangan putih bersulam nama Rhea-milik istrinya dulu.
Ia terpaku. "Ini...?"
Mira menatapnya lembut. "Bapak pernah cerita, dulu sapu tangan ini dikasih Rhea waktu mereka sama-sama jadi relawan gizi di desa sini, sebelum Mas Reno menikah dengannya."
Dunia seakan berhenti sejenak. Reno menggenggam sapu tangan itu dengan mata basah.
"Jadi ini... tempat yang sama?"
Mira mengangguk. "Mungkin bukan kebetulan Mas akhirnya ke sini."
Reno menatap wajah Mira, yang kini tampak lebih tenang meski baru saja kehilangan.
"Mir," katanya pelan, "mungkin kita berdua sama-sama kehilangan. Tapi mungkin juga, kita disatukan bukan buat menggantikan siapa pun-melainkan buat belajar hidup lagi."
Mira tersenyum, senyum yang tipis tapi hangat. "Kalau begitu, ayo kita belajar bareng."
Dari kejauhan, Merapi tampak berdiri megah dalam cahaya senja. Angin berembus membawa aroma tanah dan doa yang tak terucap.
Di antara dua hati yang hancur, perlahan tumbuh sesuatu yang baru-bukan cinta yang berapi-api, tapi ketenangan yang akhirnya mereka temukan bersama.
Udara pagi di lereng Merapi tak pernah gagal menenangkan hati Reno. Kabut tipis turun perlahan dari arah gunung, menyelimuti atap rumah dan sawah yang menguning di kejauhan. Suara ayam berkokok bersahut-sahutan, berpadu dengan aroma tanah basah setelah gerimis semalam.
Reno berdiri di teras rumah Bude Ratna, memegang secangkir kopi yang masih mengepulkan asap. Ia menatap ke arah langit, membiarkan udara dingin menusuk kulit. Setiap pagi di sini seperti pengingat kecil bahwa hidup masih berjalan. Meski ada bagian dirinya yang belum pulih, tapi setidaknya, ia sudah mulai bernafas tanpa rasa sesak.
“Reno!” suara Bude Ratna memanggil dari dapur. “Kalau mau sarapan, cepat, keburu dingin.”
Reno menoleh, tersenyum kecil. “Iya, Bude. Saya cuma mau habiskan kopi dulu.”
“Jangan cuma kopi. Tubuhmu itu perlu karbohidrat juga. Sudah kurus dari dulu, malah makin kering.”
Reno tertawa kecil. “Bude ini, selalu saja.”
Ia menyesap sisa kopi lalu masuk ke dapur. Meja makan kayu sederhana itu sudah penuh dengan hidangan: sayur lodeh, tempe goreng, dan sambal bawang. Aroma masakannya selalu seperti rumah — sesuatu yang sudah lama hilang sejak istrinya meninggal.
“Ren,” kata Bude Ratna pelan, menatap keponakannya dengan sorot mata hangat. “Aku dengar dari Pak RT, kamu kemarin bantu warga perbaiki jembatan?”
Reno mengangguk sambil menyendok nasi. “Cuma bantu sedikit, Bude. Mereka kekurangan tenaga.”
“Ya Tuhan…” Bude tersenyum. “Akhirnya kamu mau berbaur juga. Waktu pertama datang, mukamu kayak awan mendung. Sekarang sudah mulai bisa ketawa.”
Reno tersenyum, menunduk. “Saya cuma nggak mau terus-terusan hidup di masa lalu, Bude. Saya pikir, mungkin tempat ini memang bikin orang belajar ikhlas.”
Bude Ratna menatapnya lembut, lalu mengangguk pelan. “Mungkin juga karena ada seseorang yang bikin kamu betah di sini.”
Reno tersedak nasi. “Bude… apa maksudnya?”
“Sudahlah, jangan pura-pura. Aku ini bukan anak kemarin sore. Aku sering lihat kamu mampir ke pasar pagi-pagi sekali, padahal kamu bisa sarapan di kantor. Kalau bukan karena si penjual bubur itu, masa iya tiap hari kamu bela-belain turun ke pasar?”
Reno menunduk, pipinya memanas. “Cuma… beli bubur, Bude.”
“Beli bubur? Kalau cuma beli, kenapa kamu bantu dia angkat galon air minggu lalu?”
Reno tak bisa menjawab. Bude Ratna terkekeh kecil, senyum nakal tersungging di wajahnya. “Sudah kubilang, Reno. Hati yang hancur bukan berarti tidak bisa jatuh cinta lagi. Kadang, Tuhan hanya mengganti tempatnya.”
Reno hanya terdiam. Tapi ucapan itu berputar-putar di kepalanya sepanjang perjalanan ke kota.
Jam makan siang di kantor. Reno duduk di kantin sambil menatap layar ponselnya. Ia membuka pesan dari Mira:
“Mas Reno, bubur labu hari ini banyak yang pesan. Bapak saya senang banget, katanya rasanya mirip buatan Mama dulu.”
Reno tersenyum tanpa sadar. Ia membalas pelan:
“Syukurlah, Mir. Bapakmu sehat hari ini?”
“Iya, cuma tadi pagi sempat bingung siapa saya. Tapi sekarang sudah lebih tenang.”
Hatinya menghangat membaca pesan itu. Ia tahu betapa beratnya Mira merawat ayahnya sendirian. Ia pernah melihat langsung bagaimana lelaki tua itu duduk termenung di kursi bambu, memandangi jalanan seolah menunggu seseorang yang tak akan kembali.
“Kalau butuh bantuan, kabari aja ya,” Reno mengetik.
“Aku pulang sore ini, bisa mampir.”
“Jangan repot, Mas. Saya nggak enak.”
“Nggak repot. Saya cuma pengen lihat kamu baik-baik aja.”
Pesan itu terkirim sebelum sempat Reno berpikir panjang. Ia menatap layar, menunggu balasan yang tak kunjung datang. Mungkin Mira merasa canggung. Mungkin juga ia takut salah menafsirkan. Tapi yang jelas, hatinya mulai bergerak ke arah yang bahkan ia sendiri tak rencanakan.
Sore itu langit Yogyakarta berwarna jingga pucat. Reno menghentikan motornya di depan rumah kecil Mira. Gerobak bubur sudah disandarkan di bawah pohon mangga, ember-ember sudah dibersihkan.
Mira keluar sambil menenteng gayung air, rambutnya diikat asal, wajahnya masih basah keringat. “Mas Reno?” katanya sedikit terkejut.
“Katanya nggak repot,” jawab Reno santai, menurunkan helm. “Tapi kelihatannya kamu belum sempat istirahat.”
Mira tersenyum malu. “Baru kelar. Tadi banyak pesanan.”
“Bagus dong. Usahamu makin laris.”
Mira mengangguk, tapi tatapannya cepat berpindah ke dalam rumah. “Bapak lagi tidur. Tadi sempat gelisah.”
Reno menunduk sedikit. “Boleh aku bantu apa?”
Mira menggeleng. “Nggak perlu. Tapi kalau Mas nggak keberatan, bisa tolong duduk sebentar? Kadang Bapak suka bangun kaget kalau dengar suara orang asing. Kalau dia dengar Mas ngobrol, mungkin merasa tenang.”
Reno mengikuti Mira ke teras. Mereka duduk di kursi bambu, memandangi pekarangan kecil yang dipenuhi bunga melati. Aroma harum itu menenangkan.
“Bapakmu suka melati?” tanya Reno.
“Iya. Dulu Mama yang tanam. Sekarang aku rawat supaya rumah ini tetap wangi. Katanya, kalau melati masih mekar, berarti cinta Mama belum pergi jauh.”
Reno terdiam. Kata-kata itu menohok hatinya seperti pisau lembut. “Aku juga pernah punya kebiasaan begitu,” katanya pelan. “Dulu setiap pagi aku nyalain lilin di kamar istriku. Tapi sekarang aku nggak berani lagi. Rasanya bukan dia yang hilang… tapi aku yang tersesat.”
Mira menatapnya penuh empati. “Mungkin bukan tersesat, Mas. Mungkin Mas cuma belum menemukan arah baru.”
Mereka terdiam lama. Hanya suara jangkrik yang mulai muncul, dan bunyi dedaunan bergesekan karena angin.
“Mas Reno,” kata Mira kemudian, suaranya lembut. “Aku nggak tahu banyak soal kehilangan. Tapi aku tahu rasanya takut setiap hari melihat orang yang kita sayang makin lupa siapa kita.”
Reno menoleh. “Bapakmu?”
Mira mengangguk pelan. “Tadi pagi dia tanya aku, ‘Kamu siapa, Nak?’ Aku cuma bisa senyum dan jawab, ‘Saya Mira, Pak. Anak Bapak.’ Tapi beberapa menit kemudian dia sudah lupa lagi.”
Reno menggenggam tangannya spontan, mungkin karena empati, mungkin karena sesuatu yang lebih dari itu. Mira menatap tangan mereka, tapi tak menarik diri.
“Terima kasih,” katanya pelan. “Nggak banyak orang yang mau denger cerita kayak gini tanpa merasa iba.”
“Aku nggak iba,” ujar Reno jujur. “Aku cuma kagum. Kamu kuat banget, Mir.”
Mira tersenyum samar. “Kalau aku nggak kuat, siapa lagi yang akan jaga Bapak?”
Sore itu berakhir dengan keheningan yang hangat. Saat Reno pamit pulang, Mira memberinya sebungkus kecil bubur labu. “Buat Bude Ratna. Katanya suka yang manis.”
Reno menerima, tapi di dalam hatinya, yang terasa manis bukan buburnya—melainkan cara Mira memandang dunia, meski penuh luka.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti lembaran baru. Reno semakin sering mampir ke rumah Mira setelah pulang kerja, kadang hanya untuk membawa bahan masakan, kadang membantu memperbaiki gerobaknya yang sudah mulai reot.
Warga desa mulai memperhatikan. Ada bisik-bisik kecil di warung kopi dan pos ronda.
“Mas Reno itu duda, to?” tanya seorang ibu muda sambil menakar gula.
“Iya, katanya istrinya meninggal di Jakarta.”
“Lha, sering banget ke rumah Mira. Jangan-jangan…”
“Ah, biar aja. Mira itu butuh teman juga. Lagian Mas Reno orang baik.”
Gosip itu akhirnya sampai ke telinga Bude Ratna. Saat makan malam, beliau berdeham pelan. “Reno, kamu tahu kan, di desa ini apa-apa cepat nyebar?”
Reno meletakkan sendok. “Bude dengar sesuatu?”
“Dengar banyak.” Bude tersenyum, tapi nadanya tegas. “Aku nggak larang kamu dekat sama Mira. Tapi hati-hati, Nak. Jangan datang kalau kamu belum siap menetap.”
Reno menghela napas. “Saya cuma… pengen bantu.”
“Bantuan itu baik, tapi jangan sampai berubah jadi janji yang nggak bisa kamu tepati.”
Kalimat itu membekas. Malam itu, Reno tak bisa tidur. Ia menatap foto lama istrinya, Aila, yang masih tersimpan di dompet. Wajah lembut itu membuat dadanya nyeri.
“Aila…” bisiknya lirih. “Kalau aku belajar mencintai lagi, apa itu salah?”
Angin malam menjawab dengan dingin yang panjang.
Beberapa hari kemudian, Reno datang ke rumah Mira lebih pagi dari biasanya. Tapi kali ini suasananya berbeda. Gerobak belum dibuka, pintu rumah tertutup rapat.
“Mir?” panggilnya pelan.
Tak ada jawaban.
Ia mengetuk pintu beberapa kali sebelum akhirnya terdengar langkah pelan dari dalam. Pintu terbuka, dan Mira muncul dengan wajah pucat, mata sembab.
“Bapak kambuh?” tanya Reno cepat.
Mira mengangguk, suaranya bergetar. “Iya… semalam beliau keluar rumah. Aku nemuin dia pagi-pagi di pinggir jalan, duduk sendirian, tanpa sandal.”
Reno langsung masuk tanpa banyak bicara. Di ruang tengah, lelaki tua itu duduk di kursi bambu, memandangi lantai dengan tatapan kosong.
“Bapak?” sapa Reno pelan. “Saya Reno, teman Mir—”
Belum sempat ia lanjutkan, tangan tua itu menggenggam tangannya erat. “Aila…” suara serak itu bergetar. “Kamu pulang, Nak?”
Reno tertegun. Mira menutup mulutnya, menahan tangis.
“Bapak… bukan Aila, ini Mas Reno,” ucapnya lembut.
Tapi pria itu terus menggenggam tangan Reno, matanya mulai basah. “Aku kangen kamu, La… kamu dulu suka buat bubur kayak gini, kan?”
Reno terpaku. Rasanya aneh—nama itu, Aila, seperti menghantam sisi hatinya yang belum sembuh. Dunia mendadak sunyi.
“Mir,” katanya akhirnya, berusaha tenang. “Biar aku jagain Bapak sebentar. Kamu istirahat dulu.”
Mira hanya mengangguk, menunduk dalam-dalam.
Saat lelaki tua itu tertidur, Reno duduk diam di sampingnya, memandangi wajah renta yang tenang. Di dadanya, ada perasaan campur aduk: iba, haru, tapi juga ketakutan. Ketakutan bahwa ia mulai menambatkan hatinya pada seseorang yang hidup di dunia penuh kehilangan—sama seperti dirinya.
Malamnya, sebelum pulang, Reno berdiri di depan rumah Mira. Bulan separuh tergantung di langit, menerangi halaman dengan cahaya lembut.
“Mira,” katanya pelan, “kalau suatu hari kamu butuh tempat bersandar, kamu bisa datang ke rumah Bude.”
Mira menatapnya lama. “Mas Reno…” suaranya serak. “Aku nggak mau jadi seseorang yang kamu tolong cuma karena kamu kasihan.”
“Bukan kasihan.” Reno menatapnya dalam. “Aku datang karena kamu bikin aku merasa hidup lagi.”
Mira menunduk. Air matanya menetes, jatuh di punggung tangan Reno. “Aku takut, Mas. Takut kalau semua ini cuma sementara.”
Reno mengusap air matanya dengan ujung jari. “Nggak ada yang tahu sampai kapan sesuatu bertahan. Tapi aku tahu, aku pengen terus di sini… bareng kamu.”
Mira tersenyum di sela tangisnya. “Bapak mungkin nggak akan ingat siapa kamu, tapi aku nggak akan lupa.”
Dan malam itu, di bawah cahaya bulan dan aroma melati yang masih semerbak, dua hati yang terluka perlahan menemukan cara baru untuk percaya lagi — meski mereka tahu, perjalanan ini baru saja dimulai.
Sudah hampir tiga bulan Reno tinggal di lereng Merapi, tapi setiap harinya selalu ada hal baru yang membuatnya merasa hidup lagi. Udara di pagi hari yang dinginnya menggigit, aroma kopi dari dapur Bude Ratna, hingga suara kentongan di pos ronda yang kini mulai akrab di telinganya.
Namun pagi ini terasa berbeda. Bukan karena cuaca, tapi karena ada surat resmi yang ia temukan di meja makan saat hendak berangkat kerja. Amplop berwarna coklat dengan logo kantor pusat di pojok kiri atas.
"Dari kantor, Ren," kata Bude Ratna sambil menuang teh. "Tadi diantar kurir. Katanya penting."
Reno membuka amplop itu perlahan. Isinya surat panggilan dinas. Matanya menelusuri kalimat demi kalimat dengan perasaan campur aduk.
"Diperintahkan untuk mengikuti evaluasi tahunan di Jakarta selama dua minggu."
Jakarta. Kota yang selama ini berusaha ia tinggalkan, kini memanggilnya kembali.
"Kenapa, Ren?" tanya Bude dengan nada khawatir.
Reno meletakkan surat itu. "Saya harus ke Jakarta, Bude. Dua minggu."
"Wah, jauh juga. Terus, siapa yang bantuin Mira kalau kamu pergi?"
Pertanyaan itu membuat Reno terdiam. Ia tak tahu bagaimana menjawab. Mira memang sudah bisa mengurus usahanya sendiri, tapi entah kenapa, meninggalkannya begitu saja membuat dada Reno terasa sesak.
Sore itu, Reno memutuskan mampir ke rumah Mira. Langit mulai memerah, dan kabut turun perlahan di kaki gunung. Gerobak bubur sudah ditutup, tapi Mira masih duduk di teras sambil mengupas labu.
"Mas Reno?" katanya begitu melihatnya. "Tumben sore-sore ke sini."
Reno tersenyum kecil. "Ada yang mau aku bilangin."
Mira menatapnya penuh tanya. "Apa, Mas?"
"Aku... harus ke Jakarta. Dinas dua minggu."
Mira menunduk sesaat, lalu tersenyum lembut. "Oh, begitu. Berarti Bude bakal sendirian, ya?"
"Kayaknya iya. Tapi aku udah bilang ke Pak RT, kalau butuh apa-apa nanti bisa bantuin."
"Baguslah." Mira mencoba terdengar tenang, meski nada suaranya samar berubah. "Jakarta... pasti banyak kenangan, ya, Mas?"
Reno menatap jauh ke arah barat, di mana matahari mulai tenggelam. "Iya. Banyak yang pengen aku lupakan, tapi kota itu selalu tahu caranya mengingatkan."
Mira berhenti mengupas labu. "Kamu takut kembali ke sana?"
"Bukan takut," jawab Reno pelan. "Cuma nggak siap kalau harus bertemu masa lalu."
Mira menatapnya lama, lalu tersenyum lagi. "Kadang, masa lalu nggak datang buat menyakiti. Tapi buat memastikan kamu sudah benar-benar sembuh."
Reno hanya mengangguk. Kata-kata itu seperti menampar lembut, tapi juga menenangkan.
Dua hari kemudian, Reno berangkat ke Jakarta. Bude Ratna menyiapkan bekal nasi liwet dan sambal terasi kesukaannya. "Kalau sudah sampai sana, jangan lupa makan. Jangan kerja melulu," katanya sambil menepuk pundak Reno.
Reno tertawa. "Iya, Bude. Doain aja biar cepat selesai."
Perjalanan itu memakan waktu hampir delapan jam. Begitu memasuki kota, suara klakson dan hiruk-pikuk jalan langsung menyambutnya. Semua terasa sama, tapi juga berbeda. Gedung-gedung tinggi masih berdiri kokoh, lampu kota tetap berkelip, tapi di hatinya, ada sesuatu yang dulu terasa berat kini perlahan ringan.
Di hotel tempatnya menginap, Reno menatap keluar jendela. Dari lantai dua puluh, ia bisa melihat hamparan lampu kota yang seperti lautan cahaya.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama di layar membuatnya tersenyum.
Mira
"Mas Reno udah sampai?"
"Udah. Baru nyampe hotel."
"Capek, ya?"
"Lumayan. Tapi udah lega. Di sini rame banget."
"Kalau kangen suasana tenang, lihat foto Gunung Merapi aja. Aku kirim, ya?"
Tak lama kemudian, foto langit sore dengan latar gunung muncul di layar. Reno terdiam lama. "Terima kasih, Mir," tulisnya akhirnya. "Kayak bisa nyium aroma melati dari sini."
"Hati-hati, Mas. Jakarta suka bikin orang lupa pulang."
Reno menatap pesan itu lama, sebelum membalas, "Kalau yang nunggu di sana kamu, aku pasti pulang."
Hari-hari di Jakarta berjalan cepat. Reno sibuk dengan presentasi dan laporan tahunan, menghadiri rapat-rapat yang membuatnya hampir lupa waktu. Namun di sela semua kesibukan itu, pikirannya tetap tertambat pada satu hal: Mira.
Setiap malam ia menelponnya, sekadar menanyakan kabar Bapak atau membicarakan hal-hal ringan. Tapi malam ketujuh terasa berbeda. Suara Mira di seberang telepon terdengar berat.
"Bapak mulai sering diam, Mas. Nggak mau makan."
"Sudah dibawa ke dokter?"
"Sudah. Katanya wajar, tapi aku takut."
"Mau aku pulang sekarang?"
"Jangan. Tugas kamu belum selesai. Aku cuma pengen cerita aja."
Reno terdiam, lalu berkata pelan, "Mir, kamu nggak sendirian. Aku di sini, selalu."
Suara Mira tercekat. "Aku tahu, Mas. Dan itu cukup buat aku kuat."
Namun keesokan harinya, sesuatu yang tak ia duga terjadi. Saat Reno baru selesai rapat, seseorang memanggilnya dari belakang.
"Reno?"
Ia menoleh, dan tubuhnya kaku seketika. Seorang perempuan berdiri di sana, mengenakan setelan biru navy dengan rambut dikuncir rapi. Senyum lembut tapi tajam tersungging di wajahnya.
"Rena," ucap Reno pelan, nyaris tak percaya.
"Sudah lama, ya?" katanya sambil melangkah mendekat. "Aku dengar kamu pindah ke Yogyakarta."
Reno menarik napas panjang. "Iya. Udah hampir tiga bulan."
"Pantas, aku nggak pernah lihat kamu lagi di kantor pusat." Rena tertawa kecil. "Dulu kamu susah banget diajak pindah, sekarang malah betah di sana."
"Aku cuma butuh suasana baru."
"Suasana baru atau hati baru?" pertanyaan itu meluncur ringan, tapi menusuk.
Reno menatapnya tajam. "Apa maksudmu?"
Rena tersenyum samar. "Kabar menyebar cepat, Ren. Katanya kamu dekat dengan seorang perempuan penjual bubur?"
Reno diam. "Itu urusanku."
"Reno, aku cuma khawatir. Kamu dulu butuh waktu lama buat lepas dari kehilangan Aila. Aku nggak mau kamu salah langkah."
Reno menghela napas. "Aku tahu apa yang kulakukan, Rena. Dan aku nggak butuh nasehatmu."
Perempuan itu menatapnya lama, lalu berkata pelan, "Kalau begitu, semoga dia bisa menyembuhkan kamu seperti yang tak bisa aku lakukan dulu."
Setelah Rena pergi, Reno berdiri lama di lorong kantor. Kata-katanya bergema di kepalanya. Ia dan Rena memang sempat dekat setelah Aila meninggal, tapi hubungan itu tak pernah benar-benar jadi apa-apa. Ia tahu Rena menyayanginya, tapi hati Reno waktu itu sudah mati rasa.
Kini, setelah bertahun-tahun, kenapa rasa bersalah itu muncul lagi?
Malamnya, Reno duduk di balkon hotel dengan segelas teh. Ia menatap langit Jakarta yang nyaris tanpa bintang. Ia membuka ponselnya, menulis pesan untuk Mira, lalu menghapusnya lagi.
Akhirnya, ia menekan panggilan.
"Mira?"
"Mas Reno? Kok tumben nelpon jam segini?"
"Aku cuma pengen dengar suara kamu."
Mira tertawa kecil. "Mas capek, ya?"
"Lumayan. Tapi tadi ketemu orang masa lalu."
"Hm... mantan?"
Reno terdiam. "Ya, semacam itu."
Mira tidak menjawab seketika. Hanya ada napas pelan di ujung telepon. "Berarti Tuhan lagi nguji hati Mas."
"Kayaknya iya," jawab Reno lirih. "Tapi aku cuma pengen kamu tahu satu hal. Aku nggak mau kembali ke siapa pun. Aku sudah punya alasan untuk tetap di lereng Merapi."
Suara di seberang sana terdengar menurun. "Terima kasih, Mas."
"Kenapa suaramu gemetar?"
"Nggak apa-apa. Aku cuma senang. Dan... sedikit takut."
"Takut apa?"
"Takut kamu beneran jatuh cinta."
Reno tersenyum dalam gelap. "Kalau itu terjadi, kamu mau aku berhenti?"
Suara Mira lama terdiam, sebelum akhirnya terdengar pelan, nyaris seperti bisikan. "Nggak. Aku cuma mau kamu jujur sama perasaanmu."
Hari terakhir di Jakarta akhirnya tiba. Setelah semua laporan selesai, Reno bergegas menuju stasiun. Ia tak sabar ingin kembali ke Yogyakarta, ke udara yang bersih, ke suara jangkrik malam, dan ke seseorang yang membuatnya merasa pulang.
Namun sesampainya di stasiun Tugu malam itu, ponselnya berdering. Nama Mira muncul di layar, tapi suaranya kali ini panik.
"Mas Reno... Bapak jatuh! Aku bawa ke puskesmas sekarang!"
Darah Reno berdesir. "Mir! Aku baru sampai Yogya! Di mana kamu?"
"Puskesmas Cangkringan! Tolong, Mas, aku takut-"
Telepon terputus. Reno langsung menyalakan motor, melaju di jalan berkelok menuju lereng. Angin malam memukul wajahnya, tapi ia tak peduli. Di kepalanya hanya ada satu hal: jangan sampai terlambat.
Sesampainya di puskesmas, Mira duduk di kursi tunggu dengan mata bengkak. Reno berlari menghampiri. "Gimana Bapak?"
"Masih di dalam. Dokter lagi periksa."
Reno memegang bahunya. "Sabar, Mir."
Tak lama kemudian, pintu ruang periksa terbuka. Seorang dokter keluar, melepaskan masker. "Bapak kalian jatuh karena tekanan darahnya drop. Untung cepat dibawa ke sini. Tapi harus rawat inap semalam, biar kami pantau."
Mira menunduk lega, menangis pelan. Reno merengkuhnya tanpa pikir panjang. Pelukan itu bukan sekadar pelipur - tapi janji diam-diam, bahwa ia tak akan pergi lagi.
Malam semakin larut. Setelah Bapak Mira dipindah ke ruang rawat, Reno duduk di kursi plastik di sebelah ranjang. Mira tertidur di tepi tempat tidur, kepalanya bersandar di lengan Reno.
Reno menatap wajahnya yang lelah tapi damai. Dalam hati ia berbisik, "Mungkin benar, Tuhan tidak mengambil Aila untuk membuatku hancur. Tapi untuk menyiapkan ruang baru agar aku bisa belajar mencintai lagi - dengan cara yang lebih tenang."
Dari luar jendela, suara serangga malam berpadu dengan angin gunung yang menembus celah kaca. Di tengah keheningan itu, Reno menatap Mira dan tahu, untuk pertama kalinya sejak lama, ia tidak lagi sendiri.