Bab 1

Mohon maaf jika cerita ini terlalu jujur dan polos tanpa sensor, karena memang ini adalah KISAH NYATA yang semuanya benar-benar telah kualami. Hanya nama tokoh yang disamarkan.

^*^

Namaku Prasetya Putra Pramudya biasa dipanggil Pras, Indonesia asli, darah campuran ayah Jogja sementara mama Sunda.

Usiaku saat ini 21 tahun, mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta. Kampus kecil, kurang terkenal. Bahkan banyak yang baru dengar namanya waktu aku sebutin.

Kalau soal penampilan, aku orang biasa. Kata tetangga, mirip Arhan Pratama, pemain Timnas Garuda. Ganteng? Mungkin nggak segitunya. Tapi aku nggak keberatan dibandingin, karena fans berat Timnas, terutama Justin Hubner dan Ole Romeny.

Ada satu hal dalam diriku yang beda, ialah punya ketertarikan sama perempuan yang usianya jauh lebih tua dariku. Minimal seumuran dengan mamaku. Apalagi jika wanita tersebut berstatus mama atau ibu dari temanku. Aneh bukan?

Aku juga nggak tahu kenapa bisa begitu. Rasanya muncul begitu aja, tanpa alasan yang jelas. Tapi aku bersyukur, karena perasaanku masih tertuju pada lawan jenis, walau usianya lebih tua. Nggak seperti Anwar, temanku, yang menyukai ayah temannya padahal sudah jelas dia juga seorang lelaki.

Hidupku berubah saat kelas dua SMP. Orang tuaku bercerai. Katanya sudah nggak cocok lagi. Mama kembali ke rumah nenek di Sukabumi, membawa serta adikku, Prilia Putri Pramudya. Aku tinggal sama Ayah, melanjutkan sekolah di Kota Bogor. Prilia yang masih SD kala itu, melanjutkan sekolah di Sukabumi. Sebulan sekali ketemu Mama dan adikku.

Di rumah, aku lebih sering sendirian. Ayah kerja sebagai sopir bus antar kota. Sering pergi berhari-hari. Jadinya aku udah terbiasa ngurusin diri sendiri.

Lima bulan setelah cerai, Mama hamil lagi. Calon suaminya seorang driver ojek online, usianya baru dua puluh satu. Mereka nikah, dan sejak itu, rasa hormatku ke Mama agak pudar. Gosip tentang perselingkuhannya dulu, jadi terasa masuk akal. Mungkin itu sebabnya Ayah menceraikan dia.

Ayahku, Pramudya, asli Jogja. Sebenarnya dia sarjana pendidikan. Tapi entah kenapa lebih milih kerja sebagai sopir bus. Meski jarang di rumah, dia tetap tanggung jawab. Untuk makan, kalau lagi malas masak, aku tinggal ke warung langganan. Nggak perlu bayar, karena Ayah yang urus semuanya di akhir pekan.

Setahun setelah cerai, Ayah nikah lagi. Aku manggil istri barunya Mama Nina, wanita cantik keibuan berasal dari Karawang. Nggak butuh waktu lama buatku nerima dia. Orangnya baik, perhatian, dan hangat. Aku sempat ngerasa kayak punya keluarga utuh lagi. Seperti punya dua ibu kandung.

Tapi itu nggak lama. Mama Nina nggak kuat hidup sama pria yang jarang di rumah. Akhirnya dia pergi juga. Aku kecewa, tapi bisa ngerti. Sepi itu nggak gampang dijalanin.

Saat menikah dengan Ayah, status Mama Nina, sebagai janda kaya raya, mantan istri pejabat di sana. Mungkin karena ayahku ganteng banget, sehingga Mama Nina mau menjadi istrinya, padahal status sosial kami bagai bumi dan langit.

Sekarang, aku kembali hidup sendiri di rumah. Ayah tetap urus semua kebutuhanku, walau kami hidup sederhana. Aku sekolah naik motor matic, nggak pernah neko-neko.

Dari luar mungkin aku kelihatan seperti remaja biasa. Tapi dalam hati dan pikiranku, banyak hal yang nggak semua orang tahu. Dan sebagian dari itu... mungkin terlalu rumit buat dijelaskan.

^*^

Awal sebuah perubahan dan kejutan.

Pagi itu aku telat bangun. Sempat kepikiran bolos, tapi udah janji ketemu teman sekelas, jadi aku paksa juga berangkat. Walaupun aku tahu, udah pasti bakal kena omel guru piket. Apalagi aku baru beberapa bulan menjadi siswa SMA swasta yang juga tidak terkenal tapi sangat ketat dalam penerapan disiplin sekolah.

"Pras!"

Baru aja motorku melaju, ada yang manggil dari belakang. Aku rem, noleh, dan agak bingung. Ternyata Rifky. Anak bungsu Pak Haji Anhar, tetangga sebelahku. Orang-orang manggil dia "Rifky Ustad" karena memang dikenal santun, alim, sederhana dan sangat religius. Menjadi panutan semua anak muda di kompleks.

Dia buru-buru nyamperin aku.

"Sorry, Pras. Kesiangan ya? Lagi buru-buru?" katanya sambil ulur tangan.

"Yoi. Ustad juga telat ke kampus?" Aku jawab sambil senyum.

"Banget. Eh, boleh nebeng sampai perempatan? Motor saya mogok," ucap Rifky mahasiswa tingkat tiga salah satu universitas ternama.

Aku angguk dan kasih dia boncengan. Motor langsung aku gas lagi. Entah kenapa, malah makin kenceng. Rifky nggak pake helm, tapi aku pikir aman aja karena kami nggak lewat jalan besar.

Walau rumah kami bersebelahan, namun ini pertama kalinya aku boncengin Rifky. Dulu dia kakak kelasku waktu SD dan SMP, tapi sejak SMA dan kuliah, kami jarang ngobrol. Dia anaknya sopan banget. Gak pernah ngomong 'gue-lu'. Gayanya juga rapi-celana bahan, kemeja, nggak pernah pakai jeans sobek-sobek kayak anak kompleks lainnya.

"Stop di sini aja, Pras," katanya sambil nepuk pundakku.

"Nggak lanjut ke kampus, Tad?" tanyaku.

'Tad' adalah sapaan akrab kami dari kata 'Ustad' Bukan Rifky yang meminta, tapi memang kami semua terbiasa menyapanya demikian. Kaya sudah jadi nama panggilan aja.

"Masih, tapi dari sini kita kan udah beda arah. Saya naik angkot aja, Pras."

"Sekalian aja saya anterin. Saya juga udah telat parah. Ke sekolah juga paling disuruh muter lapangan, Tad."

"Serius mau nganterin sampai kampus?"

"Kalau perlu, saya anter sampe kelas," candaku.

"Hehehe, ya udah deh, ayo lanjut."

Kami jadi lebih santai ngobrolnya. Jalanan makin padat, motor aku pelanin. Ternyata Rifky enak juga diajak ngobrol. Biasanya kami cuma sapa-sapaan kalau papasan. Lingkungan kami tahu keluarga dia religius. Sementara aku, ya... tipikal anak remaja biasa. Slengekan.

"Ngopi dulu yuk di kantin. Saya masih lama juga masuknya," ajaknya.

Aku nggak jawab, langsung arahkan motor ke kantin dekat ATM Centre. Aku emang hafal area kampus ini. Dari kecil suka main ke sini, suasananya adem, sejuk, dan tenang. Aku masuk ke lingkungan kampus tanpa mencolok. Seragam SMA-ku ketutup jaket.

Kami duduk, pesan kopi dan gorengan. Tiba-tiba Rifky ngomong serius.

"Pras, kamu kelas satu SMA, tapi kalau pake jaket gitu, terus nongkrong di kampus, udah kaya mahasiswa tingkat tiga aja, badan kamu sama kaya saya," ucap Rifky sambil terkekeh.

"Ya, mungkin keturunan ayah. Rifky tahu sendiri ayah saya gimana."

"Betul, gantengnya juga sama, hehehe," timpal Rifky.

"Hahaha, Ustad lebay ah."

"Pras, sebenarnya saya udah lama pengen ngobrol berdua sama kamu. Tapi agak gimana gitu. Soalnya ini masalah pribadi. Rahasia banget."

"Ngobrol kayak bintang tamu acara teve?" aku godain, agar suasana lebih cair dan dia ketawa kecil.

Jujur, ngobrol dengan gaya 'saya-kamu' itu bikin agak kikuk. Terasa formal banget, kayak lagi diinterogasi oleh guru BP.

"Agak canggung sih saya ngomongnya," lanjut dia.

"Gini, Tad. Kalau kamu ragu saya bisa jaga rahasia, mending jangan cerita. Tapi kalau percaya, silakan aja."

"Oke. Saya percaya. Saya lagi punya masalah pribadi. Udah lama juga. Kamu bisa bantu?"

"Bisa!" jawabku cepat, walau belum tahu masalahnya apa.

Dia ketawa. "Belum saya cerita, udah jawab bisa. Hebat kamu, Pras."

Aku ikut ketawa, minimal suasana semakin cair.

"Gak nyangka ternyata kamu cukup dewasa juga Pras, padahal baru kelas satu SMA. Kita pindah tempat yu," ajaknya.

Kami pindah ke taman kampus. Sepi dan nyaman buat ngobrol.

Rifky sempat diam. Lalu akhirnya nanya pelan, "Eh... Pras, kamu serius pake obat apa?"

Aku langsung noleh. "Hah? Obat? Maksudnya apaan, Tad?"

Kepalaku langsung mikir ke narkoba. Tapi aku yakin 100 persen, nggak pernah nyentuh barang haram itu.

"Eh... maaf, maksud saya bukan itu," Rifky terbata. "Saya denger dari anak-anak kompleks... katanya, kontol kamu itu paling gede dan paling panjang diantara semua. Malah terlalu besar. Nah, kamu pake obat khusus, gak?"

"Astaghfirullah..." teriakku spontan karena kaget. Aku menatapnya tak percaya. Namun hampir ngakak sambil guling-guling di bangku taman.

Rasanya absurd banget mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut seorang Rifky. Sosok yang dikenal santun, agamis, dan serius. Berada dalam lingkungan keluarga yang sangat religius, putra bungsu dari Pak Haji Anhar dan Bu Hajah Anhar. Tapi sekarang? Nanyanya begini? Dengan bahasa vulgar tanpa tedeng aling-aling.

Aku menatap wajah Rifky cukup lama. Dia kelihatan serius, tapi juga malu-malu. Kalau yang bertanya bukan Rifky Ustad, mungkin sudah kutampar kepalanya sejak tadi.

"Serius, Pras." katanya lagi, kali ini agak lantang.

"Yang Ustad maksud, ini?" Aku menunjuk pelan ke arah selangkanganku untuk memastikan, dan Rifky mengangguk, wajahnya mulai memerah.

"Emang kenapa dengan kontol saya, Tad?" Aku balik bertanya dengan nada yang sengaja kuangkat sedikit, ingin tahu sejauh mana dia serius mempertanyakan hal itu.

"Eh... sorry, jangan tersinggung ya, Pras. Gini, saya langsung aja. Kontol saya itu... terlalu kecil. Bahkan dibanding semua teman sebaya. Saya jadi gak percaya diri. Jujur aja mau pacaran pun gak berani. Menurut kamu, ada solusinya gak?"

Rifky menyampaikan kalimat itu dengan lancar, seolah sudah dia latih berhari-hari. Aku terdiam. Antara ingin ketawa dan gak percaya.

Speechless.

Untuk apa Rifky mempermasalahkan ukuran penisnya? Bukankah di usia kami, alat itu fungsinya masih sebatas buat buang air kecil? Bukan sesuatu yang harus dipikirkan dalam-dalam.

Tapi aku juga sadar, Rifky bukan orang pertama yang mengangkat topik ini. Beberapa teman dekatku juga pernah iseng membahas hal yang sama. Bahkan ada yang terang-terangan mengaku sangat iri dengan ukuran penisku.

Aku sendiri nggak tahu harus bangga atau biasa-biasa aja soal itu. Mungkin mereka semua, termasuk Rifky, sudah terpengaruh oleh doktrin bahwa ukuran penis itu segalanya. Bahwa 'kebanggaan laki-laki' diukur dari seberapa besar dan panjang penisnya.

Aku sama sekali tidak bisa memberikan saran atau solusi, sampai akhirnya Rifky pamit karena harus masuk kampus.

Aku tak pernah memikirkan soal ukuran penisku. Apalagi menganggapnya istimewa. Tapi ternyata, diam-diam, banyak yang memperhatikan. Banyak yang penasaran. Bahkan membanding-bandingkan. Dan, ya... ada juga yang ingin seperti aku.

Saat ereksi, panjang penisku hampir 20cm, untuk ukuran anak kelas satu SMA, mereka anggap itu sangat luar biasa. Udah kaya anak bule aja, katanya.

Aku tak bisa bohong-ada rasa bangga. Dianggap 'spesial' atau 'luar biasa' oleh orang lain, siapa yang tak senang?

Tapi di balik rasa bangga itu, ada keganjilan. Aku merasa seperti dianggap ada, hanya karena sesuatu yang tak pernah kuduga. Seolah yang dilihat hanya satu bagian tubuhku, bukan diriku seutuhnya.

"Gila. Kontol gua yang udah punya anak dua aja, kalah sama kontol lu! Diobat ya, Pras?" Mas Agus, memuji penisku saat kami mandi rame-rame di sungai sehabis kerja bakti di kompleks. Aku tak menggubris karena itu hanya candaan. Walau banyak sekali yang mendukung omongan Mas Agus itu.

Dan yang pasti, aku tidak minum obat, jamu atau ramuan apapun untuk perawatan penisku. Sejak akhir SMP, penisku tumbuh lebih cepat dari teman sebayaku, bahkan mengalahkan beberapa teman kompleks yang usianya jauh di atasku. Termasuk kaum dewasa seperti Mas Agus itu.

^*^

Bab 2

Sejak sering mendengar obrolan absurd dari teman-temanku, terutama setelah bicara dari hati ke hati dengan Rifky Ustad, pikiranku jadi sering melayang ke mana-mana.

Awalnya aku cuma heran, lalu bangga dan akhirnya semua berubah jadi rasa penasaran yang aneh. Seolah aku butuh bukti: apa benar ukuran penisku ini segitu pentingnya? Sebegitu diidamkan perempuan? Apa benar mereka memimpikan pria dengan ukuran penis di atas rata-rata sepertiku?

Setiap kali lihat cewek cantik, kadang muncul pikiran nakal: 'Kalau dia tahu aku punya 'kontol' besar dan panjang, kira-kira dia bakal tertarik gak, ya?' Pikiran itu selalu membayangi. Bukan cinta yang aku cari, tapi hanya sekedar validasi atau pengakuan.

Setiap Minggu pagi, lapangan futsal di dekat rumahku ramai dengan ibu-ibu kompleks yang rutin senam. Mereka lewat di depan rumah dengan pakaian olahraga warna-warni yang ketat. Meski sebagian besar memakai kerudung, entah kenapa penampilan mereka justru terasa lebih mencolok. Seksi dan menggoda di mataku.

Sejak saat itu juga mulai muncul perasaan aneh yang sulit dijelaskan: semacam ketertarikan samar yang tak kukenal sebelumnya. Kadang aku sengaja menyapu halaman depan, pura-pura sibuk hanya dengan memakai singlet dan celana pendek tanpa daleman, sehingga tonjolan di selangkanganku, sengaja dipamerkan. Ada rasa penasaran: apakah mereka memperhatikan selangkanganku?

Dan sejak saat itu, aku mulai sadar bahwa dunia orang dewasa tidak selalu sederhana. Ada bahasa yang tak diucapkan, tapi bisa dirasa. Aku bisa merasakan ketertarikan luar biasa dari ibu-ibu itu saat curi-curi pandang ke arah selangkangaku yang besar dan menonjol, sambil berbisik-bisik diantar mereka. Hal itu benar-benar membuatku jadi sangat percaya diri.

Dan sejak saat itu juga aku semakin rajin onani sambil membayangkan ibu-ibu yang mata genitnya selalu jelalatan dan bernafsu menatap tonjolan selangkanganku. Salah seorang obyek fantasiku saat sedang onani ialah Bu Hajah Anhar, mamanya Rifky, tetangga sebelahku.

Bu Anhar, atau biasa disapa Bu Haji, berusia setengah baya, selalu berdandan tertutup setiap kali keluar rumah. Anehnya aku justru bisa merasakan kalau dia, justru paling rajin dan intens memperhatikan selangkanganku. Bukan karena lebih sering bertemu denganku. Tetapi aku merasa dia memiliki perhatian khusus pada diriku, khususnya isi celanaku.

Letak kamar tidurku di bagian belakang dan di sisi samping kamarku ada area tempat Bu Anhar mencuci perabot atau pakaian. Sebenarnya tempat itu dibatasi dengan dinding tembok namun tingginya hanya kira-kira setengah meteran. Dulu mamaku juga sering ikut nyuci di sana.

Ketika gorden kamarku yang berkaca gelap dibuka, maka Bu Anhar yang sedang mencuci akan terlihat jelas. Dan itu biasanya menjadi ajangku untuk menonton aktifitasnya secara sembunyi-sembunyi, terkadang sambil onani. Saat sedang mencuci, Bu Anhar hanya memakai daster rumahan, tanpa kerudung, karena mungkin dia pikir tidak akan ada yang melihatnya.

Tidak hanya sekali aku melakukan itu, nyaris tiap pagi mengintip Bu Anhar sambil mengocok penisku. Terutama ketika ayahku tidak ada di rumah.

Aku benar-benar telah terobsesi dan gila olehnya. Wajah Bu Anhar yang terlihat keibuan dan cantik dalam usianya yang sudah menua, selalu sukses membuat jantungku dag-dig-dug tak karuan. Aku bahkan lupa kalau Rifky, anak bungsunya, sudah mahasiswa tingkat tiga.

Kadang Bu Anhar mencuci hanya mengenakan daster pendek yang ditariknya ke atas, beberapa kali aku bisa melihat paha mulusnya dan celana dalamnya yang mendebarkan. Pemandangan yang mustahil bisa aku lihat ketika dia sedang di depan rumahnya.

Lama-lama aku mulai bosan dengan ritual mengintip sambil oanani. Aku menginginkan sesuatu yang lebih. Maka ketika rumah Bu Anhar kosong aku masuk ke tempatnya mencuci lewat pintu belakang rumahku yang tembus ke samping. Di sana aku mengamati jendela kamarku dan aku pikir sangat aman.

Sejak saat itu, aku tidak lagi mengintip di balik gorden yang tertutup tapi sengaja dibuka lebar-lebar. Dan gilanya lagi aku merasa mendapatkan kepuasan tersendiri ketika Bu Anhar sepertinya menyadari jika aku sedang mengintipnya sambil onani di kamar.

Menyadari Bu Anhar sepertinya tidak terganggu, aku pun semakin meningkatkan keberanianku. Feelingku mengatakan jika sesungguhnya Bu Anhar sangat penasaran dan menikmati apa yang sering aku lakukan itu.

Puncak keberanianku pun akhirnya datang. Aku melakukan ritual gila itu dengan lebih terbuka dan ketika ejakualasiku tiba, aku sengaja mengarahkan penisku ke luar jendela hingga cairan yang menyembur pun nyaris mengani Bu Anhar yang sedang mencuci pakaian.

Setelah itu, aku benar-benar kerasukan obsesi, karena ternyata sikap Bu Anhar pun teramat biasa-biasa. Dia tidak marah atau terganggu, malah terkesan menikmati.

Hal itu bisa aku rasakan ketika dia sedang mencuci namun aku sengaja tidak melakuakan onani, Bu Anhar seperti yang gelisah dan matanya selalu mencuri-curi pandang ke kamarku. Bahkan sesekali dia sengaja mengguyurkan air yang menimbulkan suara cukup keras. Seolah memberikan kode 'Pras, saatnya onani!'

Dan aku mulai merancang sebuah atraksi yang lebih ekstim.

Pada suatu sore, aku sedang asyik nonton film dewasa, telingaku kembali mendengar suara Bu Anhar sedang berada di tempat mencuci pakaian.

Aku segera bangkit dari tiduran dan langsung menyalakan lampu kamar serta membuka gorden dan kaca nako. Setelah itu aku pun melucuti seluruh pakaian, lalu memulai onani sambil berdiri menghadap tempat Bu Anhar mencuci pakaian.

Aku yakin Bu Anhar melihat dengan jelas apa yang sedang aku lakukan. Aku sengaja maju mendekati jendela. Saat itulah sensasi liarku membakar birahi, menyergap jiwa ragaku, merasakan sensasi aneh yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Gairahku meletup-letup menyaksikan Bu Anhar yang tampak begitu gelisah dan berkali-kali melihat ke arah kamarku dengan pandangan tajam, kemudian menunduk dan tak berapa lama kemudian aku pun mencapai puncak, ejakulasi dengan menyemburkan sperma sangat banyak.

Setelah itu aku benar-benar lemas dan terhempas. Lalu terlentang di atas tempat tidur. Aku yakin seyakin-yakinnya Bu Anhar bisa mengintipku lewat jendela nako yang sengaja masih aku buka.

Semua berakhir, dan aku bisa tidur dengan pulas, karena sudah berhasil melampiaskan obsesi gilaku yang sulit untuk aku kendalikan.

Hari berikutnya saat pulang sekolah, aku berpapasan dengan Bu Anhar di depan rumahnya. Kebetulan aku pergi dan pulang sekolah jalan kaki. Aku menunduk malu tidak berani beradu pandang dan segera bergegas menuju rumahku yang berjarak beberapa meter lagi.

"Pras!" Tiba-tiba Bu Anhar memanggil saat aku sedang memasukan anak kunci pada pintu rumahku.

Deg!

Jantungku berdegup kencang dan benar benar gemetar karena Bu Anhar mendatangiku dengan langkah yang sedikit terburu-buru walau wajah cantiknya tetap kalem.

"Ya, Bu Haji," jawabku saat Bu Anhar sudah benar-benar berdiri di dekatku.

"Pras, kemarin sore waktu ibu lagi nyuci, kamu ngapain di kamar?" tanya Bu Anhar dengan lembut namun tubuhku tambah gemetaran. Salah tingkah tak karuan mendengar pertanyaannya itu.

Aneh bin ajaib. Padahal saat melakukannya kemarin dan hari-hari yang lalu, aku sama sekali tidak punya rasa malu atau takut. Justru aku berniat hari ini akan kembali melakukan dengan gaya yang lebih ekstrim. Namun setelah berhadapan ternyata seluruh keberanianku hilang sirna berganti dengan rasa malu yang tiada tara.

"Ma..maa..maaf kan salah sa... sa... saya, Bu Haji." Aku menjawab dengan terbata-bata.

Sekujur tubuhku mendadak panas dingin. Aku yakin Bu Anhar bisa melihat wajah gantengku berubah pucat pasi menahan takut.

"Kenapa kamu melakukan itu, Pras?" tanya Bu Anhar dengan suara kalemnya, sambil merapikan jilbab besar yang dikenakannya karena tertiup angin.

"So..so... soalnya saya suka dan nafsu ngeliat wajah ibu yang cantik. Saya bener-bener gak tahan, Bu Haji," jawabku nekat dan polos.

Keberanianku timbul karena wanita di depanku ini sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda akan marah. Bu Anhar kembali terdiam, mendengar jawabanku. Aku sendiri merasa heran.

"Ya sudah, gak apa-apa. Asal kamu jangan kurang ajar sama ibu." Ucapannya sontak membuat dadaku plong, benar-benar lega hingga bisa menarik napas panjang.

"Jadi..kalau kapan-kapan saya gitu lagi, gak papa, Bu Haji?" Pertanyaanku meluncur beitu saja. Mungkin saking tak percaya dan senangnya mendengar pernyataan Bu Anhar yang sama sekali tidak memarahiku.

Bu Anhar tersenyum kecil sambil menatap wajah dan selangkanganku bergantian. Ajaibnya penisku di balik celana seragamku mendadak beraksi dan berdiri keras dengan cepatnya. Padahal hanya ditatap.

"Terserah kamu, ibu kan gak rugi apa-apa."

Lagi dan lagi jawaban Bu Anhar membuat darahku semakin berdesir karena merasa dia menyukai apa yang aku lakukan selama ini. Aku juga sangat yakin Bu Anhar hatinya sangat senang dengan penisku, terbukti dengan matanya yang tak lepas dari selangkanganku.

Beberapa saat setelah puas menatapku, Bu Anhar pamit kembali ke rumahnya dan aku pun masuk ke rumahku.

Beberapa saat kemudian aku mendengar suara air diguyur-guyurkan. Sepertinya Bu Anhar akan mencuci siang menjelang sore ini. Dan seketika itu juga aku langsung terinspirasi untuk melaksanakan rencanaku yang lebih ekstrim.

Dengan hanya memakai celana kolor tanpa celana dalam, aku segera menuju tempat Bu Anhar mencuci, lewat pintu dapur yang tembus ke rumahnya, langsung mendekati dia yang sedang mencuci.

"Ada apa, Pras?" Bu Anhar bertanya gelagapan, tampaknya dia sangat terkejut dengan kehadiranku, atau memang pura-pura tekejut.

"Sa..sa..saya pingin ngocok kontol saya depan Bu Haji, boleh?" tanyaku memelas.

"Di sini?" tanya Bu Anhar dengan nada sedikit keras mungkin tidak percaya.

"Kalau ibu gak marah sih maunya gitu. Lagian gak ada orang lain ini, Bu?" sanggahku dengan sedikit memaksa.

"Ya udah terserah kamu. Tapi janji jangan kurang ajar sama ibu!" Bu Anhar lagi-lagi menatapku dengan tatapan yang sulit diterjemahkan.

"Saya hanya ingin onani saja. Bu Haji terusin aja nyucinya, jangan terganggu," jawabku sambil menahan birahiku yang makin melonjak-lonjak.

Tanpa basa-basi lagi, aku langsung menurunkan celana kolorku hingga batas lutut. Bu Anhar terbelalak memandangi tubuh dan penisku.

"Kamu kelas satu SMA? Astaga gede dan panjang banget anunya, kaya orang dewasa, Pras!" serunya setengah tercekat.

"I...iya..., tapi Bu Haji suka kan?" tanyaku polos.

"Dasar bocah gendeng!" bentaknya sambil tersenyum penuh misteri.

^*^

Bab 3

Aku sendiri sebenarnya hampir tidak percaya dengan semua yang terjadi saat ini. Tak menduga, siswa kelas satu SMA bisa berdiri telanjang di depan Bu Anhar, wanita yang selama ini begitu dhormati oleh semua warga kompleks, istri seorang PNS, ibu dari tiga anak dewasa dan mertua dari seorang Polisi.

Lebih aneh lagi, Bu Anhar pun tampak tenang-tenang saja walau matanya tak beranjak dari penisku yang ngaceng maksimal berjarak kurang dari setengah meter dari wajahnya. Bu Anhar bahkan sesekali mendongak memandang wajahku sambil tersenyum. sepertinya dia juga tak menduga kalau aku berani berbuat senekad ini.

"Gede dan panjang banget Pras.." ucapnya lagi dengan suara yang sangat lirih, sorot matanya pun seketika nanar memandangi penis coklat kehitaman dalam genggamanku. Walau belum banyak uratnya namun bulu-bulunya sudah lebat.

Mendengar pujiannya yang berkali-kali itu, gairahku semakin melonjak. Dari posisiku juga terlihat jelas payudara Bu Anhar dari lobang leher dasternya yang lebar. Dia sama sekali tidak berusaha menutupinya, malah menarik kerudungnya lebih ke atas.

Aku masih berdiri tanpa mengocok penisku. Masih menikmati sensasi aneh, melihat wajah Bu Anhar yang mupeng mengagumi penisku yang mungkin saja ukurannya jauh lebih besar dan panjang dari miliki Pak Haji Anhar, suaminya. Apalagi bila dibanding dengan milik Rifky, anaknya.

Aku benar-benar merasa menjadi lelaki paling beruntung, paling perkasa dan paling berkuasa di dunia ini. Laksana seorang raja yang menguasai seorang selir yang pasrah dan siap memuaskan hasrat gilaku ini.

Aku pun tetap masih tak percaya, seorang Bu Haji yang selama ini dikenal sebagai istri alim dan solehah, tak marah apalagi melarang, bahkan mengizinkan aku melakukan pelecehan terhadapnya.

Setelah beberapa saat, aku membasahi telapak tangan dengan liurku, lalu dilumurkan pada penisku yang semakin keras dan panas. Bu Anhar tak melakukan apa-apa, tampaknya dia pun mulai tidak berkonsentrasi untuk melanjutkan kerjaannya mencuci pakaian. Beberapa kali aku melihat dia menelas air liurnya sendiri, seolah sedang menjilati penisku.

Dengan gerakan yang konstan, aku mulai mengocok penisku secara perlahan-lahan. Sesekali desahan lembut kleuar dari mulutku sambil sedikit menjulurkan lidah menyapu bibir bawahku. Mataku dan mata Bu Anhar beberapa kali saling berserobok nanar dalam perasaan yang sulit diterjemahkan.

Sengaja aku tidak mempercepat kocokanku, beberapa kali meludahi telapak tangaku dan melanjutkan memijat, meremas dan mengocok penisku dengan sangat intens seperti berirama. Napas Bu Anhar terlihat mulai memburu dan duduknya pun mulai terlihat sedikit gelisah, wajahnya mulai memerah.

Beberapa menit berlalu. Aku berusaha menahan orgasme agar kenikmatan sensasi ini bisa bertahan lama, padahal aku sudah merasakan spermaku hampir saja meledak.

Mata Bu Anhar makin lama makin sayu dan nanar memandangi tubuhku yang atletis dan mulus. Sengaja aku sedikit meliuk liuknya dengan gerakan lamban nan erotis sambil menikmati sensasi gila yang kian menggulung jiwaku.

Setelah beberapa menit, Bu Anhar terlihat makin gelisah. Sepertinya dia juga terangsang dengan pemandangan aneh di depannya. Dan itu benar-benar membuat darahku semakin berdesir hebat. Aku mendekatkan penisku ke wajahnya.

Bu Anhar terlihat semakin gelisah dan nafasnya terdengar makin memburu naik turun. Aku yakin dia berusaha sekuat tenaga menahan gairahnya yang meletup-letup.

Aku berusaha menempelkan kepala penisku ke wajah Bu Anhar, dan ternyata dia tidak menolaknya sama sekali. Lalu aku melebarkan kedua kakiku hingga posisi selangkanganku benar-benar sejajar dengan wajah Bu Haji yang cantik, anggun keibuan.

Kepala penisku makin sempurna menempel di wajah Bu Anhar. Tangan kiriku memegang kepalanya yang terbungkus jilbab cream, dan tangan kananku menekan penisku di pipi kanan dia. Aku menggosok-gosokkan kepala penisku yang licin oleh air liur dan percumku pada beberapa bagian wajah Bu Anhar.

Bu Anhar beberapa akali melenguh kecil, kedua tangannya memegangi pahaku. Namun sayang, hanya berlangsung beberapa menit saja karena akhirnya aku benar-benar tak kuasa menahan senasasi nikmat dan dorongan birahi yang sudah memuncak.

"Aaaaaaaaa. Buuuuuu Hajiiiii sssssst,"

Seeeeer crot crot crot... penisku akhirnya memuncratkan isinya yang putih, kental dan panas tepat di wajah Bu Anhar hingga belepotan, sebagian lainnya mengenai jilbabnya. Untung saja beliau segera memejamkan mata dan mengatupkan bibirnya, sehingga tidak masuk ke mulutnya.

Namun sejurus kemudian, mataku terbelalak saat melepaskan genggaman tangaku di kepalanya. Dengan gerakan malu-malu lidah Bu Anhar menjilati bagian pinggir bibirnya yang blepotan dengan spermaku. Dia menelan spermaku?

Ini benar-benar pemandangan dan pengalaman yang sangat-sangat gila. Bu Haji Anhar, mau menjilati dan menelan sisa-sisa spermaku?

Setelah melampiaskan hasrat yang seharusnya tak kulakukan, aku segera masuk ke kamar mandi membersihkan penisku tanpa mandi. Lalu setelah itu mengunci diri rapat-rapat di kamar. Entah mengapa, tiba-tiba dadaku sesak oleh rasa penyesalan dan takut yang begitu dalam.

Keberanianku runtuh seketika, digantikan oleh perasaan bersalah dan berdosa karena telah berlaku kurang ajar terhadap Bu Haji Anhar. Meski dia tidak menunjukkan amarah, namun pikiranku mulai dipenuhi ketakutan yang membuncah.

Bagaimana jika Bu Anhar menceritakan semuanya pada Rifky, Mas Rido, atau Mas Benny, menantunya yang seorang polisi? Atau lebih buruk lagi, pada Pak Haji Anhar, suaminya yang bekerja sebagai PNS di kantor kejaksaan?

Habis sudah riwayatku. Bukan hanya namaku yang tercoreng, tapi juga kehormatan ayahku akan ikut tercabik.

Selama ini, kami dikenal sebagai ayah dan anak yang kalem, pendiam, dan selalu bersikap santun terhadap siapa pun.

Ayah memang bukan tipe yang gemar bersosialisasi dengan para tetangga, namun wibawanya tak perlu diragukan. Rasa hormat dari lingkungan bisa terlihat jelas dari cara para tetangga bersikap padanya-sopan, penuh takzim, dan menjaga tutur kata.

Kepalaku terasa berat. Aku segera menenangkan diri, lalu bergegas tiduran, sambil menantikan apa yang akan terjadi setelah ini.

^*^

Azan maghrib berkumandang dari masjid, mengalun tenang di udara senja yang lembap. Suaranya membangunkanku dari tidur sore yang tanpa rencana. Masih setengah sadar, aku bangkit, menyapu wajah dengan tangan, lalu menyeret langkah ke kamar mandi.

Usai mandi, dengan tubuh masih basah dan hanya selembar handuk melingkar di pinggang, aku mendengar ketukan pelan di pintu dapur. Tiga kali. Hening sebentar. Lalu dua kali lagi. Jantungku langsung berdegup kencang.

"Siapa?" tanyaku, setengah berbisik.

"Ini, Ibu, Pras," jawab suara dari luar. Suara yang sangat kukenal.

Perlahan aku membuka pintu, hanya menyisakan celah kecil. Bu Anhar berdiri di sana, dengan pakaian gamis dan kerusung besarnya seperti biasa. Dia membawa sepiring nasi hangat dengan lauk yang aroma rempahnya langsung menyelinap ke hidungku.

"Kamu sudah makan belum, Pras?" tanyanya sambil tersenyum, suaranya lembut seperti biasanya dan seperti tak ada kejadian mendebarkan tadi sore.

"Oh... iya, Bu Haji. Terima kasih banyak." Aku berusaha tersenyum, meski dalam hati deg-degan tak karuan.

"Silahkan masuk dulu, Bu Haji?"

"Bentar aja ya. Takut Bapak keburu pulang," jawabnya sambil melangkah masuk ke dapurku. Lalu menyimpan piring nasi itu di meja makan.

Aku mengangguk, meski rasa kikuk masih melingkupi. Bayangan kejadian sore tadi masih lekat dalam ingatanku dan entah mengapa, penisku di balik handuk, justru mendadak bergeliat kembali dan berdiri dengan kokohnya dalam waktu yang sangat singkat.

"Eh... maaf saya hanya pakai handuk begini, Bu Haji," kataku sambil memegang erat pinggiran handuk, namun tak bisa menyembunyikan tonjolan di selangkangaku.

Bu Anhar tersenyum kecil, lalu mendekatiku, "Ini masih berdiri aja dari tadi? Bukannya tadi sudah dikeluarin?" tanyanya sambil menghulurkan tangan meraba penisku dari balik handuk.

"I... i...ya Bu Haji, maaf kalau tadi saya kurang ajar," jawabku dengan suara masih terputus-putus.

"Dasar, bocah mesum!" ucapnya sambil terus meremas-remas penisku.

Aku benar-benar tak percaya dengan semua yang sedang terjadi. Tak terasa tanganku pun terlepas dari memegangi handuk di pinggangku, hingga handuk itu melorot terjatuh ke lantai.

Bu Anhar semakin inten meremas-remas penisku, kedua mata kami saling bertatapan tanpa ada sepatah kata pun yang keluar. Jantungku dag-dig-dug tak karuan, darahku berdesir. Imajinasiku melayang kemana-mana, serasa Bu Anhar akan mengajakku bersetubuh. Sesuatu yang belum pernah kulakukan sebelumnya.

"Pras, kamu sudah biasa ya melakukan itu?" tanya Bu Anhar setengah berbisik, dengan tangan yang terus meremas-remas penisku.

"Me..me,,lakukan apa, Bu Haji?" tanyaku dengan suara bergetar karena terdorong oleh gemuruh dada dan desiran darah yang sulit dikendalikan.

"Ya, kaya tadi sore, ngocok depan ibu," balas Bu Haji sambil melotot, tapi bukan marah.

"Be... be..belum pernah Bu. Saya baru pertama kali melakukannya di depan Bu Haji."

"Jangan bohong, kamu!"

"Sumpah Demi Allah, Bu."

"Memangnya kamu belum punya pacar?"

"Belum Bu Haji," jawabku sambul merem melek, merasakan nikmat yang tiada tara dari remasannya. Dan ini benar-benar pengalaman pertama penisku dipegang dan dirmas-remas manja oleh tangan wanita.

"Kamu masih kelas satu SMA, tapi kok barangnya gede banget sih, Pras," Bu Anhar kembali memujiku sambil menurunkan tubuhnya, berjongkok tepat di depan selangkanganku. Dan...

"Hah!" Aku benar-benar berseru dan tercekat. Nyaris berteriak kaget. Tak percaya saat dengan tiba-tiba Bu Anhar memasukan penisku ke dalam mulutnya.

"Ooh, amazing!" seruku lagi saat gairahku seketik melambung, tak bisa mendefiniskan bagaimana rasa kaget, geli dan nikmat menyatu menjadi satu. Ini benar-benar pengalaman pertama penisku dikulum dan dijilati oleh wanita. Apalagi wanita tersebut masih mengenakan pakaian lengkap dan berjilbab.

Aku tidak berani melakukan apapun selain merem melek dan mendesah-desah nikmat serta membiarkan penisku dijilati dan dihisap oleh Bu Anhar yang semakin lama semakin kuat sedotannya.

Entah karena nafsuku yang terlalu meletup-letup atau karena sepongan Bu Anhar yang terlalu nikmat, beberapa menit kemudian, aku mulai merasakan desakan kuat dari dari dalam diriku.

"Aduh, Bu Hajiiii, saya mau keluaaaaar sssst aaaah...!" desahku tak tertahankan.

Namun Bu Anhar sama sekali tidak menggubrisnya, alih-alih melepaskan penisku dari kulumannya, malah makin memperkuat sedotannya, hingga akhirnya aku tak kuasa lagi menahannya,

"Aaaaaaah ssssst Buuuu Hajiii saya muncraaaat..." lenguhku cukup panjang walau tertahan, berbarengan dengan penisku yang memuntahkan sperma dalam mulutnya.

Aku merasa bersalah dan takut dia marah, namun ternyata Bu Anhar malah menelan semua spermaku hingga tandas, bahkan sisa-sisanya pun dijilati, hingga tubuhku begidik dan melengkung karena ngilu dan geli.

Dan dengan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Bu Anhar bergegas keluar rumah, meninggalkan aku yang masih melongo tak percaya dengan semua kejadian yang sangat mendadak dan dirasa masih sangat di luar nalar.

Terpaksa aku pun kembali mandi besar. Setelah itu menikamti nasi, ayam goreng dan tempe bacem kiriman Bu Anhar.

"Apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan diriku ini?"

^*^

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED