Bab 2

Saat ini Meli sedang sibuk beres-beres dan menyiapkan segala sesuatu di rumahnya. Karena hari ini ada teman-teman arisan yang akan berkumpul di rumah Meli. Dia tidak mau melewatkan kesempatan ini untuk menyambut geng sosialitanya yang tidak akan lama lagi akan berkumpul bersama.

Jamuan yang telah disajikan juga terlihat sangat enak dan mahal. Karena Meli tidak mau repot dengan memasak untuk beberapa temannya, dia hanya memesan semua masakan itu di restoran mewah. Sehingga, masakan yang dia suguhkan begitu berkelas dan super mewah. Bagi Meli, dia akan repot-repot memasak hanya untuk anak dan suami tercintanya saja.

Dengan hati riang gembira, wanita setengah baya itu terlihat ceria menunggu kedatangan temannya. Dia sesekali tersenyum sambil terus memperbaiki riasan make up di wajahnya agar terlihat tetap cantik. Meli sangat modis dengan dress brokat hitam selutut yang dia kenakan. Penampilannya tidak menunjukkan umur dia yang sesungguhnya. Meli begitu pandai merias diri. Sehingga, tampangnya jauh lebih muda dibanding umur dia yang sebenarnya.

Perhiasan yang dikenakan Meli juga tidak terlalu berlebihan, sehingga tidak membuat penampilannya mencolok. Namun, dengan begitu, penampilannya masih terlihat mewah dan modis. Harga setiap item yang dia kenakan mulai dari perhiasan kepala hingga ujung kaki tidaklah murah. Total keseluruhannya jika dilihat dari merk yang dia kenakan bisa mencapai satu milyar untuk pakaian, accesoris, dan perhiasannya.

Beberapa lama menunggu dengan gaya anggun, akhirnya ada juga yang mengetuk pintu Meli.

"Halo, Jeng," sapa seorang wanita dari balik pintu rumah Meli dengan suara mendayu.

Meli yang mendengar ketukan pintu, dan mendengar suara temannya menyapa darik balik pintu, dia pun langsung membalikkan badannya dan gegas berjalan menuju pintu untuk menyambut kedatangan semua temannya dengan senang hati.

"Eh, kalian sudah datang. Aku sudah menunggu dari tadi. Mari, silahkan masuk," ucap Meli mempersilahkan tamunya masuk kedalam rumah.

Empat perempuan dengan perhiasan yang sangat mencolok itu langsung masuk kedalam rumah, dengan jalan yang berlenggok ala model. Walau usia mereka tidak muda lagi, tetapi gaya mereka melebihi dari abegeh yang sedang puber pertama kalinya.

Setelah memasuki rumah Meli, mata mereka liar menatap ke seluruh sudut rumah itu di setiap inci yang bisa dipindai retina mata mereka. Seisi rumah Meli disapu bersih untuk mereka amati. Mereka semua terlihat sangat terpukau dengan suguhan interior yang ada di dalam rumah besar itu. Dalam hati mereka masing-masing begitu kagum. Ada juga yang terselip rasa iri dalam kekaguman itu.

"Sendirian aja di rumah sebesar ini, Jeng?" tanya salah satu wanita seumuran Meli yang mengenakan sanggul besar di kepalanya.

"Iya, Jeng. Anak semata wayangku sudah berangkat ke kampus. Dia lagi ada kelas pagi. Suami aku juga sudah berangkat kerja." Jawab Meli sambil mendaratkan bokongnya di sofa.

"Owh," jawab orang yang bertanya tadi tanpa ekspresi.

Sepertinya dia adalah orang paling cerewet dan berhati karatan diantara beberapa teman mereka yang lainnya. Dari sorot matanya dan cara dia berbicara, terlihat jelas kalau dia adalah orang yang begitu kepo dan mempunyai hati penuh noda. Dari air wajahnya pun terlihat begitu tidak positif dalam bersikap.

Tanpa dipersilahkan oleh Meli, geng sosialita itu ikut duduk di sofa menyusul Meli. Mereka seperti orang yang sudah terbiasa datang kerumah itu. Padahal, hari ini adalah pertama kalinya mereka bertandang ke rumah Meli.

Tidak lama setelah itu, seorang pelayan datang dengan membawakan minuman dan beberapa cemilan yang dari tadi sudah disiapkan. Semuanya terlihat antusias untuk bisa mencicipi cemilan itu. Terutama orang yang tadi bertanya pada Meli.

"Silahkan dinikmati dulu minum dan makanan ringannya. Setelah itu kita beralih ke makanan berat yang sudah aku siapkan di meja makan," ucap Meli mempersilahkan mereka, walau sebelum dia angkat bicara, teman-temannya sudah mulai duluan mencicipi hidangan yang dibawa oleh pelayan.

Hari-hari Meli memang dihabiskan untuk bertemu dengan para teman-temannya itu. Apalagi yang bisa dilakukan oleh Meli selain itu untuk menghibur dirinya. Menjadi seorang nyonya pemilik perusahaan besar, membuat dirinya mampu melakukan apa saja tanpa memikirkan uang lagi. Bertemu dengan geng sosialitanya adalah cara Meli menikmati dan menghabiskan waktu.

Biasanya mereka berlima selalu berkumpul di tempat-tempat yang mewah, jarang sekali mereka berkumpul di rumah anggota geng sosialita yang mereka beri nama Geng Macan. Akan tetapi, untuk kali ini mereka memilih rumah Mely sebagai markas berkumpulnya mereka. Entah apa tujuannya, yang pasti empat orang teman Meli ngotot hari ini berkumpul di rumah Meli. Saat teman-temannya memaksa, Meli tidak ada pilihan selain menerima dan menuruti keinginan anggota Geng Macan. Jika dia menolak, takutnya Meli akan dianggap tidak tulus sama mereka dan berkemungkinan bisa dikucilkan bahkan dikeluarkan dari anggota Geng Macan. Mau tidak mau, Meli menurut walau ada rasa risih di hatinya.

"Jeng, kamu gak mau nambah anak lagi?" tanya salah satu diantara mereka pada Meli.

Meli yang ditanya langsung menoleh ke arah orang yang bertanya. "Mau, tapi gak mungkin dapat lagi." jawab Meli dengan diiringi tawa renyahnya.

"Kenapa gak bisa lagi, Jeng? Apa suamimu sudah tidak kuat lagi memberi kamu bibit?" Selidik Mirandah kembali dengan sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan dan tatapan mata yang sulit diartikan.

Dari tadi, hanya seorang dia yang selalu buka suara untuk bertanya pada Meli. Itu pun yang dia tanyakan begitu tidak penting untuk mereka bahas. Kerempongan begitu kental terlihat dari gaya bicaranya dan sikap dia yang seperti jarum dalam kain. Akan tetapi, Meli terlihat santai dalam menanggapi temannya itu. Entah karena Meli menganggap temannya itu lagi iseng, atau berusaha ramah sebagai tuan rumah untuk tamunya.

"Masih sangat kuat, Jeng. Bahkan kekuatannya mampu membuat aku KO berkali-kali kalau sedang bermain gulat." Meli terkekeh dengan gurauannya yang begitu nyeleneh menurutnya.

Beberapa anggota geng mereka tertawa mendengar penjelasan Meli, sedangkan yang tadi bertanya terlihat jelas wajahnya memerah dengan postur tubuh yang menunjukkan kalau dia tidak suka dengan penjelasan Meli.

"Kalau suami aku lagi pengen semai benih, dia yang dari mulanya terlihat seperti kucing, langsung berubah jadi singa. Aku gak bisa nambah anak bukan karena dia gak bisa semai benih. Akan tetapi, perkembangan benihnya yang aku hambat," ujar Meli menjelaskan kenapa dia tidak bisa nambah anak lagi.

"Aku mau nikmatin manis-manisnya malam berdua sama suami sampai tuwir nanti tanpa direpotkan bayi, makanya disumbat dulu sebelum jadi," Meli berbicara setengah berbisik dengan guyonannya.

"Suamimu samaan dengan suami aku, Jeng. Dia maunya langsung terkam," sela teman Meli yang juga terpancing untuk membahas tingkah suaminya.

"Kalau suami aku, suka yang slow. Gak langsung terkam. Ada pemanasan dulu dari aku yang lebih seringnya" timpal teman Meli satu lagi.

"Sepertinya kamu yang lebih hiper, Jeng," goda Meli mendengar celoteh teman geng sosialitanya.

Meli dan tiga teman geng sosialita lainnya, asyik membahas karakteristik suami mereka masing-masing saat ada di ranjang untuk bermain gulat dengan pasangan masing-masing. Berbeda dengan yang tadinya begitu cerewet sekarang berubah menjadi pendiam. Mirandah terlihat tidak suka dengan pembahasan teman-temannya. Beberapa kali bola matanya mendelik jengah.

Karena tidak suka dengan pembahasan teman-temannya, Mirandah pun mencari pembahasan lain. Bahkan terlintas di pikirannya untuk cabut duluan dari rumah Meli. Namun, jika dia cabut dari rumah Meli, dia merasa tidak enak hati sama yang lainnya. Bahkan dia takut dikeluarkan dari groub Macam hanya karena itu.

"Apa ada tamannya di rumah ini, Jeng?" tanya Mirandah yang mengalihkan pembicaraan Meli dan tiga teman lainnya.

"Ada donk, Jeng. Suami aku suka banget merawat tanaman. Mulai dari tanaman obat herbal sampai bermacam-macam bunga," jawab Meli begitu bangga dan antusias menanggapi pertanyaan Mirandah.

"Owh." Mirandah tidak terlalu tertarik dengan jawaban Meli, tetapi sepertinya dia lebih tertarik memperhatikan lebih detail setiap inci isi ruangan tempat mereka berkumpul.

"Apa kamu mau jalan-jalan ke sekeliling rumah aku, Jeng? Nanti juga bisa melihat taman," Meli mencoba berbasa-basi pada Mirandah.

"Emangnya kamu mengijinkan aku melihat taman suamimu, Jeng?" tanya Mirandah berbinar dan begitu semangat.

"Boleh, dong, Jeng. Kamu jangan sungkan sama aku." Jawab Meli terkekeh.

"Mau diantar ART aku, apa kita jalan bareng-bareng?" tanya Meli menimpali ucapannya kembali.

"Kalau hanya melihat taman, tidak perlu diantar. Cukup kamu arahkan di mana letaknya saja, Jeng. Aku bisa sendiri melihat taman suamimu," jawab Mirandah yang menggelitik hati salah satu temannya.

"Jangan sampai kamu berniat melihat taman suami Meli yang ada pohon di tengahnya, Jeng. Itu bisa menimbulkan perang dunia di dalam geng kita," celetuk salah satu anggota geng mereka yang merasa aneh dengan tingkah Mirandah.

Mirandah terlihat tidak respek dengan ucapan temannya yang seakan menyindir dirinya. Dia mengacuhkan dengan pura-pura tidak mendengar celotehan orang yang duduk di hadapannya itu.

"Tamannya ada di sebelah mana, Jeng?" tanya Mirandah tanpa peduli sindiran temannya yang mengusik ketenangan dia tadi.

"Ada di samping kolam renang umum. Tepatnya arah belakang rumah ini. Bisa lewat samping memutari pekarangan rumah, bisa juga kita jalan pintas melalui belakang dari dalam sini," ujar Meli yang juga tidak merespon sindiran temannya untuk Mirandah.

"Aku suka jalan pintas," Mirandah langsung menimpali ucapan Meli.

"Awas, jangan sampai jalan pintasnya membuat kamu tersesat, Jeng," yang tadi menyindir Mirandah kembali melontarkan kata-kata penuh penekanan.

Sepertinya dia tidak suka sama Mirandah. Buktinya, setiap ucapan Mirandah seakan mengarah ke sesuatu yang tidak baik baginya. Dia selalu membalas setiap perkataan Mirandah dengan sindiran. Begitu juga Mirandah, sepertinya dia juga tidak suka pada teman satu geng dengannya itu. Setiap kali teman dia yg satu itu berbicara, Mirandah tidak menanggapinya. Bahkan berusaha mengalihkan pembicaraan agar tidak menyambung dengan apa yang diucapkan temannya.

"Ayuk, kalau begitu mari sama-sama kita jelajah rumahku yang sederhana ini. Akan aku bawa kalian melihat pekarangan rumahku yang asri." Meli langsung berdiri dan menuntun teman-temannya berjalan menuju sekeliling rumahnya.

"Jangan terlalu merendah, Jeng. Kalau terlalu rendah, nanti diinjak semut yang buta kalau ada gajah di depannya." Teman mereka yang dari tadi berkicau menyindir Mirandah, kini kembali berceloteh lagi.

"Kalau di injak semut, aku sudah antisipasi sebelum terjadi, Jeng. Aku sudah siap sedia menyiapkan racun serangga, agar semutnya pergi menemui ajal sebelum dia berhasil menginjak aku," balas Meli dengan ciri khas senyumnya.

"Bagus itu, Jeng. Zaman sekarang kita harus siapkan racun sebelum digigit tikus. Kita juga harus waspada dengan sampah yang akan menodai pakaian," jawabnya kembali yang seakan mensuport Meli agar berhati-hati terhadap apa yang belum jelas maksudnya.

Mereka berlima berjalan beriringan. Ada yang santai, ada juga yang seperti sedang mencari sesuatu yang hilang. Sedangkan Meli begitu sumringah memperlihatkan isi rumahnya kepada teman-teman geng sosialita dia. Meli sengaja berjalan melalui beberapa ruangan untuk secara tidak langsung memamerkan kemewahan tempat tinggalnya.

"Tadi kamu bilang tamannya ada di samping kolam renang umum, Jeng. Berarti ada kolam lainnya di rumah ini, donk," selidik Mirandah yang tidak peka kalau teman-temannya begitu risih dengan sikapnya bertamu ke rumah Meli.

Meli menoleh ke arah Mirandah dengan senyum yang terus menunjang kecantikan dirinya. "Tentu saja, Jeng. Di sini ada dua kolam renang. Di dekat taman itu kolam renang umum. Fungsinya, kalau ada tamu atau keluarga yang datang dan ingin ikut berenang, mereka bisa pakai kolam renang yang itu. Kalau kolam renang aku sama suami dan juga anakku, ada di lantai atas. Gak ada orang luar yang ikut berenang di sana, kecuali kami bertiga," jelas Meli yang berhasil membuat wajah Mirandah berubah menjadi pias.

Entah apa yang ada dalam pikiran Mirandah saat ini, air wajahnya langsung berubah total ketika Meli menjawab dan menjelaskan tentang pertanyaannya tadi. Tidak ada lagi kata-kata yang diucapkan oleh Mirandah. Dia menjadi pendiam dengan seribu bahasa. Namun, matanya tetap liar memindai seisi ruangan yang dia lewati berjalan bersama geng sosialitanya. Sedangkan temannya yang tadi terus menyindir Mirandah nampak puas dengan senyum mengejeknya buat Mirandah.

Di sisi lain, dengan waktu yang sama, tetapi tempat berbeda, suami Meli yang bernama Hendra, sedang berusaha untuk mempertahankan perusahaan peninggalan orang tuanya dari seseorang yang begitu ambisius untuk menyingkirkan dia dan membuat dia jatuh melarat.

Seseorang itu yang selalu saja ingin merebut segalanya dari Hendra. Namun, selama ini Hendra masih bisa mengendalikan hal itu dengan semampu dia. Suami Meli begitu menjaga amanah dari orang tuanya, agar perusahaan tidak jatuh ke tangan orang lain. Karena perusahaan itu berdiri penuh perjuangan dan butuh pengorbanan yang berat dari orang tua Hendra.

Dari dulu, kakak Hendra yang bernama Vero, juga berusaha keras merebut perusahaan orang tua mereka. Bahkan, itu terjadi dari sejak orang tua mereka masih hidup. Akan tetapi, semasa itu orang tua mereka tidak mau memberikan perusahaan itu pada kakak Hendra yang bernama Vero tersebut. Mereka tahu kalau Vero tidak akan bisa membuat perusahaan itu maju. Bahkan melihat dari kebiasaannya, Vero tidak akan bisa mempertahankan perusahan itu. Melainkan hanya bisa merusak a0a yang sudah ada. Sejak kecil Vero memang selalu malas dan iri dengan semua pencapaian Hendra.

Kini setelah orang tua mereka meninggal, Vero semakin gencar ingin merebut semuanya dari Hendra. Bahkan dia menjuruskan siasat yang lebih tajam lagi. Hendra juga berusaha sekuat dirinya untuk mempertahankan apa yang sudah menjadi milik dia saat ini.

Di kantornya, lebih tepat di dalam ruang kerja yang tidak pernah beralih dari beberapa tahun lalu, Hendra terlihat seakan sedang tidak baik-baik saja. Dia menghembuskan napasnya jengah. Hari ini sudah ada dua investor yang mundur dari proyek kerjasama dengannya. Entah apa yang menyebabkan hal itu, padahal Hendra sendiri yang bernego dengan mereka saat itu dan investor itu juga terlihat sangat senang degan kerja sama ini. Akan tetapi, tiba-tiba saja mereka mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas dan menarik kembali modal bersama yang disepakati.

Hendra harus menggali masalah ini dengan jelas, jika terus seperti ini nama perusahannya akan diperbincangkan buruk, karena banyak investor yang mengundurkan diri. Hendra memijit kepalanya yang terasa berat karena lelah memikirkan hal itu.

"Aku harus melakukan apa lagi sekarang ini?" tanya Hendra lesu. Entah kepada siapa pertanyaan itu dia tujukan.

"Haruskah aku mundur, dan hancur di titik ini? Atau masih adakah kesempatan aku untuk bertahan?" batin Hendra yang sudah mulai diserang kecemasan.

Hendra terus bermonolog sambil menyenderkan kepalanya ke punggung kursi. Pria itu menatap langit-langit ruang kerjanya dengan pemikiran yang kacau. Dia terus berusaha memikirkan cara apa yang harus dia tempuh untuk bisa menggaet kembali para investor yang sudah memutuskan sepihak kerjasama mereka.

Ingin sekali Hendra berbagi keluh kesahnya yang dia rasa saat ini kepada orang lain, karena sudah tidak kuat lagi menahan semua itu pada dirinya sendiri. Terkadang, terlintas di keinginannya untuk berbagi dan cerita pada Meli tentang bagaimana keadaannya saat ini, tapi disisi lain dia juga takut membuat istrinya itu merasa khawatir kepadanya.

Selama ini paling anti bagi Hendra untuk membuat istri dan anaknya merasa khawatir terhadap urusannya. Karena bagi Hendra, masalah pekerjaan itu adalah masalah yang harus dia selesaikan sendiri. Namun kali ini, rasanya urusan pekerjaan yang sedang dia hadapi sudah melebihi daripada batas kemampuan yang Hendra miliki. Maknanya sering terlintas keinginan untuk curhat pada istri tercinta.

Sebenarnya, atas kasus yang dia alami saat ini, Hendra sedikit mencurigai permasalahan yang terus bergulir adalah campur tangan dari kakaknya yang bernama Revo. Akan tetapi, Hendra tidak bisa menuduhnya begitu saja. Apalagi saat ini Vero sedang berada diluar kota untuk berlibur. Oleh karena itu, Hendra tidak ada bukti yang kuat untuk menuduh Vero melakukan kecurangan sehingga membuat Hendra mengalami kerugian besar.

Hendra semakin pusing menerka-nerka siapa dalang dibalik ini semua. Jika semua investor memutuskan kerjasama mereka dan menarik kembali saham mereka dari perusahaan Hendra, maka perusahaan yang sudah berdiri puluhan tahun itu berkemungkinan hanya akan tinggal nama.

Bab 3

Di sebuah tempat yang begitu terasa hawa-hawa negatif dari perlawanan individual. Di sana ada beberapa botol minuman keras menjadi saksi bisu penghianatan dan kebajingan seseorang yang haus akan tahta. Seisi ruangan menggema dengan begitu kental terdengar tawa dari pria paruh baya. Tawanya menggema mengisi ruangan tempat itu untuk mewakili hatinya yang riang gembira atas pencapaiannya saat ini.

Aroma minuman beralkohol menyeruak ke dalam indra penciuman siapa saja yang mendekati ruangan itu. Di sana terlihat bukan sang juarawan saja yang berada dalam ruangan tempat yang akan menjadi saksi kebahagiaannya di atas penderitaan orang lain. Namun, terlihat juga lima pria ada di sana yang sangat menikmati minuman beralkohol tersebut.

Beberapa dari mereka sudah terlihat sedikit teler dengan kesadaran yang sudah sangat minim. Karena dari tadi mereka sudah menghabiskan total sepuluh botol alkohol yang habis mereka teguk bersama.

Ketua dari mereka terus tertawa bahagia, dengan sesekali terlihat masih meneguk minuman beralkohol yang dari tadi botol minuman itu tidak lepas dari tangannya. Dia adalah Revo yang berstatus sebagai kakak kandung dari Hendra. Hanya karena rasa ingin menguasai tahta, dia rela melakukan apa saja untuk menghancurkan sang adik kandung.

Saat ini Revo berpesta ria dengan minuman keras untuk merayakan keberhasilannya. Saat ini Revo telah berhasil membuat investor mundur dari proyek perusahaan adiknya. Perusahaan yang dulunya dibangun dengan susah payah oleh orang mereka, namun kini dihancurkan oleh Revo dengan dibantu oleh orang-orang kepercayaan dari Hendra, untuk mencapai suatu tujuan. Dengan bantuan orang kepercayaan adiknya, Revo bisa berhasil melaksanakan keinginannya dengan baik dan lancar tanpa ada hambatan sedikit pun.

Sangat pantas dan tidak diragukan jalan licik mereka berjalan lancar seperti sekarang. Karena Revo menjalankan rencanya dengan mempekerjakan orang-orang kepercayaan Hendra yang memegang kendali penting dalam perusahaan. Sudah pasti mereka tahu selut-belut tentang perusahaan dan berkas-berkas penting yang dikelola Hendra, makanya apapun tujuan Revo ketika bekerjasama dengan mereka, pasti jalannya akan mulus. Apalagi mereka juga punya akses atas aktifitas yang dilakukan Hendra selama ini.

Hanya karena uang yang ditawarkan Revo, mereka buta hati dan buta mata untuk menghalalkan segala cara dan melupakan mahalnya sebuah kepercayaan.

Kini Revo dengan suara yang sedikit serak mengoceh dan sesekali tertawa bahagia. Impian dan keinginannya telah berada di genggaman yang sebentar lagi akan dia patenkan. Walau sudah sedikit oleng, tangan pria itu masih setia memegang gelas yang berisi alkohol untuk terus dia konsumsi.

"Besok kita harus berpesta lebih besar daripada ini. Karena besok akan menjadi hari kehancuran Hendra yang sesungguhnya. Aku adalah pemenang yang tidak terkalahkan" ucap Revo dengan suara yang sedikit serak.

Tangan pria itu masih setia memegang gelas yang berisi alkohol yang sudah hampir habis isi cairan di dalamnya. Tawa Revo menggelegar, menggema dan membuncah segalanya. Dari sekian tahun dia menyusun rencana dan memainkan taktik licik yang dia luncurkan. Sekarang ketika dia mendapatkan apa yang dia mau, mana mungkin dia tidak akan sebabagia ini. Kecurangan yang dia berikan, mampu membuat dia merasa sukses atas rencananya.

"Kalian sudah siap untuk the next party keberhasilanku yang tidak terkalahkan?" Tanyanya dengan diselingi tawa dan menepik dadanya berulang kali.

"Tentu saja kami siap, Bos. Besok adalah hari di mana kau akan mengambil seluruhnya dari Hendra. Kau pemenang yang sesungguhnya. Kau adalah raja jagat raya," balas pria berkemeja biru yang hampir seumuran Revo.

Dia adalah pengelola keuangan di perusahaan Hendra. dia juga adalah orang yang sudah buta karena uang. Kepercayaan yang diberikan Hendra padanya sudah tidak ada harga dan arti lagi. Sekarang uang telah berkuasa untuk dia yang lupa akan mahalnya sebuah kepercayaan.

Sebenarnya pria itu memang sudah cukup lama berada dipihak Revo untuk bekerjasama. Akan tetapi, Hendra tidak mengetahui tentang itu. Kepercayaan masih Hendra tanamkan pada orang yang sesungguhnya sudah menjadi belati untuk menusuknya bersama orang lain. Orang kepercayaan Hendra itu tidak lagi bekerja sesuai perjanjiannya dengan Hendra. Kini menurut dia, Revo lebih bisa diajak kerjasama, ketimbang Hendra yang lebih formal dan selalu bekerja konsisten tanpa bisa memberi dia keuntungan lebih. Apalagi saat bergabung dengan kakak Hendra, orang-orang kepercayaan Hendra diberi bonus oleh Revo berkali-kali lipat besarnya dari gaji yang dia dapat dari Hendra.

Selain bonus kerjasama yang besar, bersama dengan Revo, dia bisa menggelapkan beberapa uang perusahaan demi kesenangannya. Sedangakan bersama Hendra selalu saja harus bersikap jujur dan gajinya hanya seupil dibanding uang yang dia dapat dari Revo.

"Besok akan aku traktir kalian semua dengan minuman yang lebih berkelas dari ini. Tenang saja, kerja kalian tidak bertambah berat, kok. Cukup kalian terus berakting pada sasaran sebentar saja, dan kita aka mendapatkan semuanya." Revo mengatakan hal itu dengan percaya diri dan terus menebar tawa yang membawa aroma minuman keras dari mulutnya.

"Oh, iya. Kalian yang ikut berpesta hari ini, tidak lupa tugas masing-masing 'kan?" tanya Revo yang seperti sedang ingat pada sesuatu yang mungkin saja bisa mematahkannya nanti.

"Aku sudah siap dengan semua berkas-berkas penting untuk menunjang keberhasilanmu, Tuan. Semuanya aku letakkan di atas meja itu." Tunjuk orang yang dulu jadi salah satu pengacara mendiang orang tua Revo dan Hendra.

Dia adalah orang yang dulu ikut membacakan warisan peninggalan dari orang tua Hendra dan Revo. Dia juga adalah orang yang sangat setia pada orang tua Hendra. Dulunya dia sangat menjunjung tinggi kepercayaan serta memuliakan kejujuran. Namun entah kenapa, dan entah bagaimana caranya, Revo akhirnya bisa membuat pengacara itu berpihak kepadanya dan menuruti setiap keingan yang dia pinta. Revo berhasil meluluhlantakkan komitmen sang pengacara entah bagaimana caranya.

"Kau sangat bisa diandalkan. Aku akan terus memakai jasamu jika kamu tidak mengecewakan aku." Revo tersenyum kasar sambil mengacungkan jempolnya.

"Bagaimana dengan yang lain? Apakah ada yang lalai?" tanya Revo memastikan kembali untuk tugas anak buahnya.

"Aku juga sudah siap semuany, Bos. Berkas-berkas penting sudah aku amankan," jawab salah satu yang juga ikut berpesta dengan minuman keras bersama Revo.

"Bagus!" Revo mengacungkan jempolnya dan kembali meneguk minuman yang masih tersisa.

Setelah memastikan semua aman terkendali untuk rencana yang telah dibikin skenario sebelumnya, mereka semua kembali menikmati momen bahagia atas keberhasilan mereka dengan kepuasan yang tiada tara. Walau mereka sedang berpesta ria dalam keadaan bahagia level dewa, hal itu tidak membuat mereka lupa juga membahas rencana besok agar berjalan dengan sangat lancar. Yang paling tampak sangat antusias adalah Revo, dia sudah tidak sabar melihat wajah adiknya ketika mendapat suprise atas semua perbuatan Revo bersama tim yang dia bentuk untuk menghancurkan Hendra.

"Kalian bisa bayangin, betapa lucunya wajah Hendra dan Meli ketika dapat suprise dari kita." Revo tertawa lepas membayangkan adiknya yang akan mengemis pada dia beberapa saat lagi.

"Pasti dia akan langsung bersujud di kaki aku ketika mendapatkan suprise yang begitu amazing. Dia akan menangis bersama istrinya untuk meminta belas kasih dariku. Betapa hancur dan rapuh dia saat itu, dan aku akan membeli harga dirinya, lalu menginjak tanpa ampun," ucap Revo begitu angkuhnya.

"Keadilan yang tidak pernah aku dapat, sekarang akan aku balas semuanya dengan ketidak adilan pula. Aku yang dulu tidak dipandang, sekarang datang waktunya untuk memberi bukti pada mereka, kalau aku pantas dan layak untuk menjadi seorang penguasa. Aku adalah Revo sang penguasa keabadian yang tidak terkalahkan!" teriak Revo dengan tangisnya yang entah bahagia atau lagi bersedih.

Semua terdiam, tidak ada suara dari mereka selain isakan tangis Revo. Gejolak api dendam membara di dalam dadanya. dibawah alam sadar, Revo meremas kuat botol di tangannya. Sejenak dia terdiam, lalu melemparkan botol itu ke dinding, hingga botol dari kaca itu berubah jadi berling.

"Hancur! Yah, hancur ... semua akan hancur seperti botol itu yang telah jadi berling, dan tidak akan pernah kembali utuh," ujarnya datar, namun penuh penekanan.

"Hendra! Kamu akan hancur di tanganku. Tunggu jam mainnya, kamu akan menikmati segala yang aku dapatkan hari ini!" Revo kembali menarik botol kosong minuman keras disela teriakannya dam kembali melemparkan botol itu ke dinding.

Suara tabrakan antara botol dan dinding terdengar begitu nyaring diantara diamnya orang-orang yang bekerjasama dengan Revo dan ada di dalam ruangan itu. Botol yang baru saja dilempar Revo menjadi berling berserakan di lantai, sama seperti botol sebelumnya yang dilempar Revo beberapa saat lalu.

"Kau adalah jembatanku untuk keserakahan yang tidak aku inginkan ini, Hendra! Kau dudukkan aku di atas nestapa kehancuran yang tak bertepi. Namun, itu dulu. Bukan sekarang! Aku yang dulu tak dianggap orang tua karena kehadiranmu diantara kami, sekarang kau harus membayar segalanya," teriak Revo yang terlihat jelas telah terbakar api dendam membara dalam dirinya.

"Kamu harus membayar semuanya!" Revo terus berteriak seakan menuntut keadilan yang menurut dia tidak ada untuk dirinya.

Gelapnya malam membentang dan menyambut teriakan dari Revo bersama dendamnya. Angin malam yang berseliweran seakan enggan memacu jagat raya untuk menyampaikan apa yang diutarakan pria paruh baya itu. Dinginnya malam pun sekarang tidak mampu menusuk inci kulit Revo. Malam ini seakan begitu mendayu dan tunduk kepada teriakan maut Revo yang telah berhasil mendapatkan keinginannya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED