Beberapa menit kemudian, Evelyn keluar dari toilet dengan ekspresi masam. Saat ini dia sudah mengganti pakaiannya menjadi gaun putih.
Romeo bertanya, "Ada apa?"
"Tadi aku mengganti pakaianku di toilet. Ketika aku keluar, aku melihat Kak Violet."
"Violet?"
Evelyn menganggukkan kepalanya.
Lalu, Evelyn berkata, "Aku melihat Kak Violet bersama pria yang waktu itu. Mereka terlihat dekat ...."
Setelah mengatakan itu, Evelyn memperhatikan raut wajah Romeo. Kemudian, dia buru-buru berkata, "Tapi, aku mungkin salah melihat. Bagaimana mungkin Kak Violet mengenal orang seperti Charles Griffin .... Dengar-dengar, Charles bukan orang baik."
"Violet ...."
Nada Romeo menjadi sinis.
Kemarin dia sudah bisa melihat kalau Charles tertarik pada Violet.
Apa wanita itu tidak bisa menjauh dari bahaya? Kenapa dia mau mendekati orang jahat seperti Charles?
Entah kenapa Romeo merasa panik.
Violet barusan keluar dari toilet dan dia mendapati Romeo sedang menatapnya dengan ekspresi kesal dan tatapan yang mencurigakan.
"Ngapain kamu tadi?" tanya Romeo.
"Aku? Tadi aku masuk toilet."
Violet kebingungan.
Evelyn maju, kemudian dia menarik tangan Violet dan berkata, "Kak Violet, tadi aku melihatmu. Charles Griffin bukan orang baik. Kak Violet jangan sampai tertipu olehnya."
Violet tanpa sadar menarik kembali tangannya.
Tangan Evelyn pun membeku di udara. Lalu, dia berkata dengan sedih, "Kak Violet, aku bukan sengaja mau mengadu kepada Tuan Romeo. Tapi, Charles benar-benar bukan orang baik."
"Aku tahu orang macam apa Charles. Orang lain nggak usah membantuku menilainya."
Sikap Violet sangat dingin.
"Aku ...."
Evelyn menggigit bibirnya dan dia terlihat sakit hati.
Romeo pun berkata dengan sinis, "Evelyn hanya memikirkanmu. Kamu nggak tahu apa-apa, tapi kamu malah pergi menyinggung orang yang nggak patut kamu singgung."
Evelyn menarik-narik lengan baju Romeo. Dia seolah-olah menyalahkan Romeo menegur Violet terlalu keras.
Violet melihat semua itu. Orang yang tidak tahu mungkin bisa mengira kalau Evelyn barulah istrinya Romeo.
"Pokoknya, lebih baik Kak Violet jangan mendekati Charles. Kak Violet adalah putri yang terhormat, sedangkan pria itu adalah orang biadab yang nggak berpendidikan. Kak Violet nggak boleh terlibat dengannya."
Tuk!
Tiba-tiba, terdengar suara tongkat menghantam tanah di kejauhan.
Semua orang menoleh ke arah suara itu. Mereka langsung melihat ada seorang lelaki tua berambut putih sedang berdiri di tengah-tengah aula.
Violet menoleh dan dia merasa lelaki tua itu terlihat familier. Dalam sekejap, dia mengenali kalau lelaki tua itu adalah tukang kebun yang tadi menjatuhkan vas bunga di aula.
Saat ini lelaki tua itu mengenakan jas dan sepatu kulit. Ada dua pengawal berdiri di belakangnya. Lelaki tua itu tampak sangat berwibawa. Dia mempunyai sepasang mata yang tegas dan tajam sehingga membuat orang tidak berani mendekatinya.
"Para tamu sekalian, ini Pak Thomas Griffin."
Pengawal yang berdiri di sebelah memperkenalkan lelaki tua itu.
Orang-orang di sekitar pun mengangkat gelas mereka untuk menunjukkan hormat.
Saat ini, hanya wajah Evelyn seorang yang tampak pucat.
Lelaki tua yang tadi dia bentak ternyata adalah Pak Thomas!
Tak lama kemudian, Charles muncul dari belakang Pak Thomas. Dia berdiri di sebelah Pak Thomas dan memegang lengannya.
Violet mendadak mempunyai firasat buruk.
Charles menatap Violet dan tersenyum ke arahnya.
"Hari ini aku mengundang kalian semua untuk memberi tahu kalau Charles adalah cucu Thomas Griffin. Dia adalah satu-satunya pewaris Keluarga Griffin."
Pak Thomas mengarahkan matanya yang sinis ke Evelyn.
Tatapan itu pun membuat Evelyn merinding.
Pak Thomas berkata dengan sinis, "Dia bukan orang biadab yang nggak berpendidikan."
Semua orang kaget dan hanya jantung Violet yang berdebar.
Tidak! Waktunya salah! Kenapa bisa menjadi seperti ini?
Menurut garis waktu, identitas Charles tidak akan diumumkan sampai kematian Pak Thomas tiga tahun kemudian.
Jangan-jangan kelahiran kembali Violet tanpa sengaja mengubah segalanya?
Saat ini, wajah Evelyn menjadi pucat pasti karena ucapan Pak Thomas.
Bukankah Charles adalah anak yatim piatu? Bagaimana mungkin dia adalah cucunya Pak Thomas?
Kalau begitu, apakah Pak Thomas mendengar apa yang barusan dikatakan Evelyn?
Kalau Evelyn menyinggung Pak Thomas, untuk seumur hidupnya dia tidak akan bisa melakukan apa-apa lagi di dunia keuangan.
Setelah memikirkan itu, Evelyn melihat Romeo dan meminta bantuan.
"Pak Thomas, Evelyn hanya salah bicara. Karena dia masih muda, semoga Pak Thomas bisa memaafkannya."
Pak Thomas mendengus sebelum dia berkata, "Dengar-dengar ada seorang genius di sisi Tuan Romeo. Sekarang setelah aku melihatnya, sepertinya dia biasa saja."
Wajah Evelyn memucat.
Jelas sekali kalau Evelyn telah kehilangan dukungan Pak Thomas
Violet melihat semua itu.
Kali ini meskipun Romeo mengatakan sesuatu, itu tidak berguna. Evelyn sudah mengatai cucu orang. Dia tidak langsung diusir keluar sudah termasuk baik.
Romeo pun memanyunkan bibirnya dan diam.
Ketika Pak Thomas melihat Violet, tatapan matanya menjadi lembut. "Kamu dari Keluarga Gloria?"
Violet tersentak. Ketika dia melihat Pak Thomas berinisiatif berbicara dengannya, dia menganggukkan kepalanya. "Namaku Violet Gloria."
"Dulu tampang kakekmu biasa-biasa saja, tapi cucunya sangat cantik. Empat puluh tahun yang lalu, aku dan kakekmu pernah bersumpah menjadi saudara. Dalam sekejap mata, kamu sudah dewasa."
Bersumpah menjadi saudara?
Di dalam ingatan Violet, kakeknya adalah orang yang riang dan tidak pernah bertanya tentang masalah keluarga. Kakeknya juga sudah lama meninggal. Jadi, dia tidak pernah mendengar kakeknya mengenal Pak Thomas.
Saat Violet tidak tahu bagaimana cara menjawabnya, Pak Thomas bertanya lagi, "Apa kamu sudah menikah?"
Violet menganggukkan kepalanya. "Sudah."
"Dengan siapa kamu menikah?"
Violet melirik Romeo.
Ketika Pak Thomas melihat Romeo, ekspresinya langsung menjadi masam.
"Apa yang bagus dari cucu Edgar Fernandez?!"
Ketika mendengar kata-kata Pak Thomas, Romeo juga hanya tersenyum. "Saat Kakek masih hidup, dia sering mengungkit Pak Thomas. Sepertinya dulu hubungan kalian dekat."
"Siapa yang dekat dengannya?!"
Mereka saling mengobrol dengan lancar dan hanya Evelyn yang berdiri di samping dengan canggung. Dia seolah-olah menjadi angin yang tidak dianggap.
Setelah Pak Thomas pergi, Evelyn menarik lengan baju Romeo dan berkata, "Tuan Romeo, aku mau pergi."
Romeo melihat langit gelap di luar, lalu berkata, "Aku akan mengantarmu."
Evelyn bertanya, "Bagaimana dengan Kak Violet?"
Romeo menoleh ke Violet yang sedang berbicara dengan ceria bersama Pak Thomas tak jauh darinya, lalu berkata dengan sinis, "Dia bisa pulang sendiri."
Evelyn melihat Violet dengan iri.
Kenapa Violet bisa memenangkan hati orang tua itu? Ini sama sekali tidak adil.
Violet melihat Romeo meninggalkan klub bersama Evelyn.
Levi menghampirinya, kemudian berbisik, "Tuan Romeo mengantar Nona Evelyn pulang ke asrama."
"Aku tahu."
Levi mengira Violet akan menangis ketika mendengar kabar ini, tapi ternyata reaksi Violet sangat tenang.
Charles yang berdiri di sebelah berkata, "Romeo pergi mengantar pulang gadis itu, ya?"
Violet juga tidak merasa malu. "Bukankah itu sudah jelas sekali?"
Bukan hanya dia yang melihatnya, tapi semua orang.
Romeo sudah berulang kali tidak menghiraukan Violet yang merupakan istrinya. Dia bahkan pergi mengantar pulang wanita lain secara terang-terangan dan malah meninggalkan istrinya di pesta sendirian.
Entah rumor seperti apa yang akan beredar di kalangan istri orang kaya besok.
"Kamu nggak marah?"
"Nggak."
Di kehidupan lampaunya, dia sudah cukup peduli pada Romeo. Sekarang dia tidak akan membiarkan dirinya melakukan kesalahan yang sama.
Charles menatap sisi wajah Violet. Meskipun Violet terlihat tidak peduli, Charles masih bisa melihat tatapan Violet tampak sedikit kesepian.
"Nona Violet, apa aku boleh mengantarmu pulang?"
Langit sudah gelap dan Violet sudah menetap cukup lama di tempat ini.
Levi yang berdiri di samping berkata, "Tuan Charles, lebih baik saya yang mengantar Nyonya pulang."
Charles tidak menghiraukan Levi, tapi menunggu jawaban Violet.
Violet berdiri. "Terima kasih, Tuan Charles."
Charles seperti seorang gentleman dan berdiri di sebelah Violet. Mereka meninggalkan Levi berdiri sendirian di kerumunan.
Bagaimana Levi menjelaskan ini kepada Romeo?
Violet masuk ke dalam mobil bersama Charles. Yang menyetir mobil adalah William.
Hanya Charles seorang yang bisa membuat Tuan Muda Keluarga Airlangga menjadi sopir.
"Kak, aku sudah menunggumu di luar berjam-jam. Ternyata, kamu merayu wanita di dalam?"
Violet bisa melihat William benar-benar tercengang dari cerminan kaca jendela.
Charles berkata dengan tenang, "Antar Nona Violet pulang ke rumahnya."
"Woi, nanti kita mau pergi ke ...."
Sebelum William sempat menyelesaikan kalimatnya, Charles menendang bagian belakang kursi pengemudi.
William menangkap tatapan peringatan Charles dari cerminan kaca, jadi dia langsung membungkam mulutnya.
"Apa nanti kalian punya urusan yang perlu ditangani?"
"Itu nggak begitu penting."
"Sebenarnya kamu nggak usah mengantarku. Aku bisa pulang sendiri."
"Kota Poseidon kelihatan tenang, tapi sangat berbahaya. Terutama kamu adalah istrinya Romeo."
Violet mengangkat alisnya sambil berkata, "Tuan Charles, kamu dan Romeo berbeda. Dia adalah pengusaha yang jujur."
Charles membalas dengan datar, "Kota ini ada bermacam-macam orang. Romeo mungkin nggak sebersih yang kamu kira."
Violet tidak bisa membalas ucapan Charles.
Di kehidupan sebelumnya, dia telah menikah dengan Romeo selama bertahun-tahun. Namun, Romeo tidak pernah mengizinkannya bertanya tentang urusan Keluarga Fernandez.
Meskipun di permukaan Romeo terlihat seperti pengusaha yang jujur, bagaimana mungkin seorang pria yang sangat berkuasa di Kota Poseidon itu bersih?
Romeo hanya menyembunyikannya lebih dalam.
Sebaliknya, Charles tidak repot-repot menyembunyikannya. Lagi pula, dengar-dengar Charles tidak punya kelemahan.
"Nona Violet, kita sudah sampai."
William menghentikan mobil di depan gerbang Kediaman Fernandez.
Lampu-lampu di Kediaman Fernandez masih padam. Itu berarti pada saat ini Romeo belum pulang.
"Terima kasih Tuan Charles. Terima kasih Tuan William."
Lalu, Violet turun dari mobil.
Setelah Charles melihat Violet masuk ke dalam Kediaman Fernandez, dia baru menurunkan kaca jendela dan berkata kepada William, "Ayo pergi."
"Kamu masih tahu kita harus pergi, ya. Apa kamu lupa kita ada janji dengan Jeffry pada jam 12?"
William melihat waktu, kemudian berkata, "Kita sudah terlambat!"
"Biarkan dia menunggu." Charles berkata dengan sinis, "Kalau anak berengsek itu gagal mengeluarkan barang, aku akan memotong tangannya."
Violet baru membuka pintu dan dia sudah merasakan ada yang tidak beres.
Bu Martha tahu kalau Violet takut gelap, jadi Bu Martha akan menyalakan lampu ruang tamu untuk Violet. Namun, pada saat ini, ruang tamu malah gelap gulita.
"Romeo? Apa kamu sudah pulang?"
Violet menunggu, tapi tidak ada yang menyahutnya.
Violet menyadari ada yang aneh, jadi dia bersiap-siap untuk pergi. Tiba-tiba, sebuah tangan menutup mulutnya dari belakang.
"Dasar wanita jalang! Ini gara-gara kamu! Aku jadi nggak punya uang!"
Violet ingin meronta, tapi lawannya terlalu kuat.
Violet meronta sambil mengeluarkan korek api dari tasnya, kemudian dia membakar pergelangan tangan pria itu.
Pria itu menjerit kesakitan, setelah itu dia mundur beberapa langkah. Violet pun bergegas berlari ke luar.
Romeo! Romeo!
Di dalam hati, Violet terus-menerus memanggil nama itu.
Dia berlari sambil mengambil ponselnya, kemudian dia menelepon Romeo.
"Halo?"
"Romeo! Di mana kamu? Cepat pulang! Di rumah ada ...."
Sebelum Violet sempat menyelesaikan kalimatnya, ponselnya jatuh.
Sebuah mobil hitam berhenti di depan Violet. Lampu mobil menyilaukan mata Violet sehingga dia tidak bisa membuka mata.
Romeo yang berada di ujung telepon mengernyit. "Violet?"
"Kalau kamu ingin menyelamatkan istrimu, serahkan 20 triliun sebagai imbalan!"
Mata Romeo langsung menjadi menyeramkan dan teleponnya sudah dimatikan.
"Tuan Romeo, apa yang terjadi?"
Evelyn yang berada di sebelah menyadari ada yang aneh dengan tatapan mata Romeo.
Romeo menggertakkan giginya dan berkata, "Pulang ke rumah."
Sopir tercengang. "Tapi, Tuan Romeo, kita hampir sampai di gedung asrama."
"Aku menyuruhmu pulang!"
"Baik, Tuan Romeo!"
Evelyn tidak pernah melihat Romeo sepanik ini.
"Sesuatu telah terjadi pada Violet."
"Kak Violet? Apa yang terjadi dengan Kak Violet?"
Romeo tidak punya waktu untuk menghiraukan Evelyn. Tadi dia merasa suara itu terdengar familier, tapi dia tidak bisa mengingat di mana dia pernah mendengar suara itu.
Di tengah malam yang gelap, William sudah memarkir mobilnya di luar pabrik mobil yang terlantar.
Charles turun dari mobil, tapi dia melihat Jeffry Julius dan yang lainnya belum sampai.
William menggerutu, "Sialan. Berani-beraninya Jeffry datang lebih telat daripada kita. Sepertinya dia sudah bosan hidup."
Charles menyalakan sebatang rokok. Kemudian, sebuah mobil van muncul dari kejauhan.
Jeffry bahkan merangkak keluar dari mobil.
"Tuan Charles! Tuan William! Ta ... Tadi saya ada urusan, jadi saya terlambat."
Senyuman Jeffry bergetar.
"Di mana uangku?" tanya William.
"Tuan William, Tuan Charles, biarkan saya menjelaskan. Ini semua gara-gara seorang wanita jalang! Tadi saya sudah mengutus orang untuk pergi menculiknya, makanya aku telat. Tuan Charles ...."
William berkata dengan kesal, "Tunggu, tunggu. Siapa yang bertanya? Aku hanya ingin barang kami."
"Ba ... barang itu telah dibeli seorang wanita jalang! Tapi, nggak apa-apa. Suaminya kaya. Saya sudah menyuruh orang menelepon suaminya dan meminta 20 triliun kalau dia mau menyelamatkan istrinya. Uang itu jauh lebih berharga daripada tanah itu!"
Charles berkata dengan sinis, "Kalau begitu, cepat. Waktuku berharga."
"Anda tenang saja! Saya sudah bilang kepada Romeo Fernandez kalau dalam satu jam dia nggak memberikan saya 20 triliun, saya akan membunuh istrinya!"
Charles langsung membelalakkan matanya. Dia melangkah maju, kemudian menarik kerah baju Jeffry. Suaranya sangat mengerikan ketika dia berkata, "Siapa katamu?"
"Ro ... Romeo Fernandez ...."
Jeffry gemetar ketakutan karena Charles.
Suara Charles menjadi makin sinis. "Siapa yang telah kamu culik?"
"Nona Muda Keluarga Gloria, Violet Gloria! Dia adalah istrinya Romeo Fernandez! Ini gara-gara dia merampas tanah yang harga awalnya baru beberapa triliun, makanya aku ...."
Tanpa menunggu Jeffry selesai bicara, Charles menendang dada Jeffry sehingga Jeffry terhempas ke belakang.
Nada Charles terdengar sangat berbahaya saat dia bertanya, "Di mana dia?"
William mengendarai mobilnya ke sebuah gedung yang belum selesai dibangun tidak jauh dari tempat awal mereka.
"Sialan. Bagaimana si Jeffry berengsek itu bisa kepikiran mengurung orang di tempat mengerikan seperti ini?"
William melihat sekeliling. Tempat ini gelap gulita dan dia tidak bisa mendengar suara lain. Hanya ada gema dari kata-kata yang barusan dia katakan.
Charles menyeret Jeffry turun dari mobil. Jeffry tersandung beberapa kali sebelum dia bisa berdiri.
William menendang Jeffry sembari berkata, "Katakan! Di mana orangnya!"
"Me ... mereka yang menyembunyikannya. Awalnya kami ingin memberi pelajaran kepada wanita ja ... Nona Violet. Kami berencana setelah kami menerima uang, kami mau meledakkan gedung ini. Selain Romeo mati, kami bahkan mendapat jumlah uang yang besar. Kami merasa itu akan membantu Tuan Charles. Saya benar-benar nggak menyangka ternyata Nona Violet dan Tuan Charles adalah teman ...."
"Apa? Kamu mau meledakkan gedung ini?" William membelalakkan matanya dan bertanya, "Apa kalian memasang bom waktu?"
Jeffry mengangguk ketakutan. Sekujur tubuhnya gemetar dengan hebat.
Mata Charles seperti laser. Saat Jeffry melihat sepasang mata itu, dia menelan ludah.
"William, ikat dia baik-baik. Kalau gedung ini meledak, aku mau dia mati duluan."
Jeffry segera berlutut dan memohon. Pada akhirnya, dia tetap diikat oleh William.
Gedung yang belum selesai ini terlihat sangat berantakan. Sekarang Charles sudah memastikan kalau Violet baik-baik saja. Yang paling penting saat ini adalah membongkar bom yang ditanam di gedung ini.
Pada saat ini, sebuah mobil Bentley hitam muncul.
Charles langsung tahu kalau pemilik mobil itu adalah Romeo.
"Tuan Romeo, di mana ini? Aku takut ...."
Evelyn yang ketakutan memeluk lengan Romeo.
Romeo menepuk punggung tangan Evelyn dan berkata, "Kamu tinggal di dalam mobil saja. Jangan keluar."
Evelyn menganggukkan kepalanya.
William melihat Romeo turun dari mobil, kemudian dia mendengus. "Istrimu sudah diculik, tapi kamu masih punya waktu untuk bermesraan dengan kekasihmu?"
"Sebenarnya siapa yang menculik Violet?" Romeo mengalihkan pandangannya ke Charles, kemudian berkata, "Kalau aku nggak salah ingat, Jeffry Julius adalah bawahanmu."
Charles berkata dengan sinis, "Dia bertindak sendiri."
William terlihat sangat gelisah. "Tuan-Tuan, kenapa kalian masih berbicara? Kalian nggak mau menghentikan bom?"
"Bom?"
Romeo langsung menjadi gugup.
"Sebuah bom telah dipasang di gedung ini. Aku dan William akan pergi mencari bom, sedangkan kamu pergi mencari Violet. Setelah kamu menemukan Violet, segera pergi."
Setelah mendengar perkataan Charles, Jeffry yang telah diikat berkata dengan suara gemetar, "I ... itu nggak berguna. Saya meminta mereka untuk membunuh orang tanpa meninggalkan bukti apa pun. Jadi, tiga bom telah dipasang di gedung ini. Dan bomnya akan meledak dalam 15 menit ...."
"Apa katamu?! Kenapa sekarang kamu baru memberi tahu kami hal yang begitu penting ini?!"
William menarik kerah baju Jeffry. Dia ingin sekali membunuh berengsek ini sekarang juga.
Jeffry yang sudah dihajar dua kali tidak berani mengangkat kepalanya.
"Sudah nggak sempat menghentikan bomnya. Kita harus segera menemukan Violet!"
Setelah Charles mengatakan itu, dia berlari masuk ke dalam gedung belum selesai itu bersama William.
Romeo berkata kepada sopirnya, "Bawa Evelyn pergi dari sini. Tunggu kabar dariku!"
"Baik, Tuan Romeo!"
Sopir mengendarai mobil keluar dari gedung belum selesai itu.
Evelyn bertanya, "Apa sekarang Kak Violet dalam bahaya?"
"Ya. Nona Evelyn, Anda jangan berlari ke mana-mana. Di dalam ada bom waktu."
Evelyn menganggukkan kepalanya.
Dia menoleh ke arah gedung belum selesai itu. Sebuah pikiran jahat mendadak muncul di dalam benaknya.
Lebih baik Violet mati saja!
"Violet! Violet! Jawablah kalau kamu mendengarku!"
Di dalam gedung belum selesai, Violet perlahan-lahan membuka matanya. Sepertinya itu suara Romeo.
Dia menggelengkan kepalanya.
Bagaimana mungkin Romeo datang?
Sepertinya saat ini dia sedang bermesraan dengan Evelyn.
"Violet!"
Awalnya Violet merasa kepalanya sangat berat. Setelah dia mendengar suara Charles, dia segera membuka matanya.
Charles?
Saat dia mendengar dengan saksama, di sekitar juga ada suara William dan Romeo.
Jangan-jangan Romeo benar-benar telah datang?
Violet melihat sekeliling dengan saksama. Dia menyadari dia telah dikurung di sebuah kamar yang gelap. Di luar hanya ada cahaya rembulan lemah yang masuk.
Dia bisa melihat keseluruhan bagian luar dengan jelas.
Ini adalah sebuah gedung yang belum selesai dibangun!
"Mm! Mmm!"
Violet ingin berteriak, tapi mulutnya ditutup solasiban.
Sialan!
Sebenarnya siapa yang menculiknya?
Violet berusaha melepaskan ikatan talinya, tapi ini tali nilon. Dia tidak bisa melepaskannya sama sekali.
'Nggak bisa. Violet, kamu harus tenang.'
Violet menarik napas dalam-dalam, lalu dia melihat sekeliling dengan teliti. Dari tadi dia sudah mendengar suara tik ... tik ....
Tiba-tiba, sebuah alarm berbunyi di dalam kepala Violet.
Itu bom!
Violet segera menjatuhkan tubuhnya, kemudian dia merangkak ke luar.
Ketika dia berhasil merangkak keluar dari ruangan berlubang ini, sebuah koridor menyambutnya.
Sepertinya tempat ini berjarak lebih dari sepuluh lantai dari bawah.
Violet membenturkan kepalanya ke tiang di sebelahnya. Dia berharap Romeo dan yang lainnya dapat mendengar suara ini.
Beberapa saat kemudian, Violet mendengar suara langkah kaki.
Suara itu membuat Violet tercengang.
Sepertinya itu bukan suara sepatu kulit laki-laki, tapi sepatu hak tinggi.
Violet mendongak dan melihat Evelyn sedang berjalan menghampirinya.
Wajah Evelyn tampak agak masam. Dia baru turun dari mobil dan masuk ke dalam gedung belum selesai ini. Dia melihat Violet berada di lantai atas.
Selama Violet mati, posisi Nyonya Fernandez menjadi kosong.
Selama Violet mati, tidak ada lagi yang menghalangi hubungannya dengan Romeo.
Evelyn menghampiri Violet, lalu dia seolah-olah ingin mendorong Violet.
Violet menyadari ada yang janggal, tapi dia tidak tahu apa itu.
Di kejauhan, Romeo juga sudah menemukannya. "Violet!"
Ketika mendengar suara Romeo, Evelyn segera berjongkok. Dia melepaskan lakban di mulut Violet, kemudian berkata, "Kak Violet, apa kamu baik-baik saja? Aku akan melepaskanmu."
Violet memperhatikan ekspresi khawatir Evelyn dengan curiga.
Namun, sepertinya tadi dia telah salah sangka.
"Kenapa kamu naik?"
Romeo mengernyit ketika melihat Evelyn juga telah ikut naik. "Bukankah aku menyuruhmu tunggu di mobil?"
"Aku juga mengkhawatirkan Kak Violet, jadi aku ingin mencarinya bersamamu."
Evelyn tampak agak murung.
Violet berkata, "Ada bom di sini. Di mana Charles dan William? Suruh mereka cepat keluar!"
"Ayo."
Romeo menggendong Violet, kemudian dia berteriak kepada Charles dan William yang masih mencari Violet. "Aku sudah menemukan Violet! Cepat pergi dari sini!"
Charles dan William mendengar suara Romeo. Mereka berdua saling bertatapan sebelum mereka segera turun ke bawah.
William bertanya, "Bagaimana dengan Jeffry?"
Charles berkata dengan sinis, "Tinggalkan dia."
William menggeleng-geleng kepalanya.
Siapa yang menyuruh Jeffry menyinggung Charles?
Evelyn mengikuti di belakang Romeo. Evelyn merasa cemburu ketika dia melihat Romeo menggendong Violet.
"Ah!"
Evelyn tiba-tiba berteriak. Romeo menoleh dan melihat sepatu hak tinggi Evelyn patah.
"Tuan Romeo, maaf .... Sepertinya kakiku terkilir."
Melihat itu, Violet pun berkata dengan datar, "Turunkan aku. Aku baik-baik saja."
"Kamu yakin?"
"Ya."
Setelah mendengar jawaban Violet, Romeo baru menurunkan Violet. Kemudian, dia berbalik untuk menggendong Evelyn.
Charles yang sudah tiba di lantai yang sama melihat pemandangan itu. Dia langsung menyadari kalau kaki Violet terluka.
Seharusnya itu karena tadi Violet berusaha melepaskan tali nilon yang mengikatnya.
Tanpa basa-basi, Charles menggendong Violet.
Violet terkejut. "Ngapain kamu?"
Charles berjalan sambil berkata, "Kakimu juga terluka. Kenapa kamu nggak berkata apa-apa?"
"Lukaku nggak serius." Violet diam sejenak sebelum dia lanjut berkata, "Lagi pula, dia lebih peduli pada Evelyn."
Siapa pun bisa melihat kalau perlakuan Romeo terhadap Evelyn sudah melewati batas.
Violet juga tidak boleh tidak tahu diri.
"Dasar bodoh." Charles mengangkat Violet dan berkata, "Peluk dengan erat."
Violet tidak berkata apa-apa, tapi dia memeluk Charles dengan lebih erat.
"Cepat! Bomnya sudah mau meledak!"
Setelah mendengar teriakan William, Charles mengencangkan pelukannya pada Violet sebelum dia berlari keluar dari gedung belum selesai ini.
Tak lama kemudian, terdengar suara ledakan yang kuat. Gedung yang belum selesai itu pun hancur.
"Naik mobil!"
Setelah Romeo memasukkan Evelyn ke dalam mobil, dia berbalik untuk menjemput Violet. Namun, dia melihat Violet telah masuk ke dalam mobil Charles.
"Tuan Romeo, ayo kita cepat pergi .... Aku takut."
Karena Evelyn terlihat gugup, Romeo hanya bisa masuk ke dalam mobil.
Violet melihat Romeo dan Evelyn duduk bersama di kursi belakang. Dia tidak menunjukkan ekspresi apa pun dan seolah-olah sudah terbiasa.
Sepanjang jalan, Violet diam saja.
William bertanya, "Apa kamu nggak mau tahu siapa yang menculikmu?"
"Jeffry Julius, 'kan?" jawab Violet.
"Bagaimana kamu tahu?"
William terkejut.
"Aku menebaknya."
Violet tidak heran.
Sebenarnya Violet barusan menebak Jeffry.
Violet tahu dia tidak punya banyak kenalan, jadi dia tidak mungkin bisa menyinggung siapa-siapa. Akhir-akhir ini hal terbesar yang dia lakukan adalah membeli tanah yang senilai 20 triliun itu.
Kalau dia tidak salah ingat, di kehidupan sebelumnya yang membeli tanah itu adalah Jeffry.
Jelas sekali kalau dia telah menghalangi jalan kekayaan Jeffry. Namun, seharusnya Jeffry tidak tahu betapa berharganya tanah itu di masa depan. Dia menginginkan tanah itu pasti karena dia punya motif tersembunyi.
Terlebih lagi, Jeffry adalah bawahan Charles.
Maka itu, Charles datang tepat waktu.
Violet mengambil kesempatan ini dan berkata, "Charles, bawahanmu yang sudah menculikku. Bagaimana kamu akan menebus kesalahan ini?"
"Aku berutang dulu," ucap Charles dengan datar.
William melirik cerminan Charles. Dia benar-benar tidak mengerti apa isi pikiran sahabatnya.
Perbuatan Jeffry jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan Charles, tapi dia masih menerjang bahaya untuk menyelamatkan Violet. Kenapa ini menjadi sebuah utang?
Setelah mobil tiba di depan pintu Kediaman Fernandez, William buru-buru menghentikan mobil.
Di luar pintu Kediaman Fernandez, Romeo sedang menggendong Evelyn keluar dari mobil, kemudian mereka masuk ke dalam rumah. Romeo seakan-akan tidak peduli dengan Violet sama sekali.
"Aku pergi dulu. Terima kasih kepada kalian berdua."
Violet membuka pintu mobil, kemudian masuk ke Kediaman Fernandez sendirian.
William berkata, "Aku kira kamu akan membantunya."
"Dia nggak selemah itu."
Charles memejamkan matanya, lalu berkata, "Ayo pergi."
Di Kediaman Fernandez, Romeo sedang mengoleskan obat untuk Evelyn yang sedang duduk di sofa.
Setelah Violet masuk, Evelyn segera berdiri. "Kak Violet, Tuan Romeo melihatku terluka, jadi dia mengoleskan obat ...."
Sebelum dia bisa selesai bicara, Romeo menyelanya dengan sinis, "Kamu nggak usah menjelaskan padanya."