Bab 2

"Jangan terus ngelamun, lebih baik banyak berdoa saat hujan."

"Oke, gue bakalan berdoa," ujar Khafa, menengadahkan tangannya.

"Allahumma shoyyiban nafi'an."

Khafa memilih bersantai di kasur, menatap langit-langit kamar, ditemani Khafi di sampingnya.

"Seberapa penting brengsek itu sampai lo mau ketemu lagi?" tanya Khafi, menatap sang kakak.

"Gue cuma mau tahu alasan dia, Fi. Gue juga mau tegasin kalau hubungan kami benar-benar usai."

"Oke, kalau gitu gue ikut!"

"Enggak bisa, Khafi. Biarin gue selesaikan sendiri."

"Oke, kalau itu mau lo. Tapi tolong, kalau lo nggak sanggup, berbagilah sama gue, Fa. Gue sayang sama lo lebih dari apapun."

Khafa memandang adiknya dengan senyuman tulus, hatinya tersentuh mendengar cerita Khafi, menunjukkan kasih sayang yang mendalam.

"Makasih udah percaya sama gue. Gue nggak bakal lupa kalau lo sayang sama gue. Sama halnya gue yang sayang banget sama lo, Fi," ucap Khafa membuat Khafi tersenyum.

"Peluk, Fa," rengek Khafi.

"Kak Khafa," ralat Khafa.

"Cuma beda 5 menit doang. Peluk dong, kangen berat sama pelukan lo," ujar Khafi manja.

"Sini-sini."

Khafi merentangkan tangannya, Khafi langsung memeluknya. Mereka merasakan kehangatan dalam pelukan itu.

"Gue janji bakal membahagiakan lo, Fa," batin Khafi.

"Hujannya udah reda, Fi! Akhirnya, gue bisa pergi juga," pekik Khafa sambil berlari heboh ke depan jendela.

Khafi memayunkan bibirnya. Khafi beneran kesal kepada kakaknya itu dikarenakan ia hampir menyelami mimpi malah Khafa berteriak dengan suara cempreng, membuat Khafi gagal untuk tidur.

"Khafi gue pergi, ya!"

Khafa sudah siap dengan tas yang disampirkan di bahunya. Lelaki itu mengucek mata untuk melihat jelas wajah sumringah Khafa.

"Yuk, gue antar," kata Khafi sambil turun dari kasur.

"Eh, nggak usah deh. Lo itu ngantuk mana bisa fokus ntar bawa motornya. Udah, nggak pa-pa gue pergi sendiri. Bye, Adik Ganteng!"

Setelah mengatakan kalimat tersebut, Khafa segera berlari secepat mungkin, meninggalkan Khafi yang sudah berdecak sebal.

***

Selama perjalanan menuju kafe untuk pertemuan dengan sang mantan, kenangan pahit tentang kegagalan pernikahan mereka memenuhi pikirannya. Ia menyandarkan  kepala di jendela mobil, mencoba menahan tangisnya.

"Lo nggak boleh tenggelam lagi dengan masa lalu tersebut, Fa," lirihnya.

"Neng, sudah sampai."

Khafa tenggelam dalam lamunan yang begitu dalam sehingga tak menyadari waktu berlalu. Dengan senyuman ramah, ia kemudian menyerahkan ongkos kepada bapak tersebut sebelum turun dari mobil, melangkahkan kakinya menuju pintu masuk kafe.

"Khafa," panggil seseorang sambil melambaikan tangan.

Khafa terdiam sejenak, kemudian mulai menghela napas perlahan. Ia sedang mempersiapkan diri secara mental untuk menghadapi lelaki yang meruntuhkan hatinya dengan begitu kejam.

"Udah lama nunggu?" tanya Khafa yang sudah sampai ke meja bernomor 07 itu.

"Belum kok, Fa. Ayo, duduk dulu," ujar Fathan dengan sopan.

Khafa tersenyum tipis lalu mengangguk dan duduk di hadapan lelaki tersebut.

"Bagaimana kabarmu, Fa?" tanya Fathan sambil menatap Khafa dengan hangat.

"Alhamdulillah lebih baik, Bang."

"Maafkan kesalahanku dua tahun lalu, Fa."

"Bang, bisa nggak jangan bahas masa lalu? Waktu itu, Abang udah minta maafkan? Jadi, jangan buat Khafa terpaku dengan masa lalu yang menyakitkan itu," tegas Khafa membuat Fathan bungkam.

"Jadi, kamu ingin bicara apa? Hal sepenting apalagi yang menginginkanmu bertemu denganku? Jika hanya bertanya tentang hubungan kita. Aku tegasin ke Abang kalau hubungan kita benar-benar udah selesai." Tegas Khafa.

"Aku udah bercerai dengan Vayka, Fa," ujar Fathan dengan sendu.

"Jika kamu bercerai dengan Vayka. Lalu apa urusannya denganku?" tanya Khafa dengan alis terangkat satu.

"Kamu mau tidak menjadi Ibu sambung bagi Dito? Percayalah, abang masih sangat mencintaimu."

"Jadi ini alasanmu mengajakku bertemu. Kau hanya ingin enaknya saja, Bang! Kau pikir aku juga akan mau mengulangi hal yang sama? Maaf, aku tidak selugu dahulu yang bebas kamu bohongi."

"Khafa, kamu sendiri yang mengatakan kalau kamu telah memaafkan aku? Mengapa malah mengungkit masa lalu lagi?"

"Aku memang sudah memaafkanmu. Namun, aku tak akan pernah melupakan kelakuanmu!"

"Jujur aku tidak terima, kau membuat keluargaku malu di saat acara pernikahan kita, kau malah kabur bersama Vayka! Sekarang, kau jangan pernah meminta hal konyol apapun kepadaku lagi! Termasuk menikah denganmu!"

Khafa bangkit dari kursinya dan meninggalkan kafe dengan mata yang berembun. Fathan tetap diam, tidak berniat untuk mengejar Khafa. Di seberang meja, Khafi menggerutu kesal mendengarkan obrolan mereka. Jika tidak ingat pesan dari kakaknya, pasti Fathan hanyalah nama yang tersisa.

"Jangan nangis karena lelaki seperti Fathan! Air mata lo gak berhak nangisin si brengsek itu!"

Khafa memalingkan wajahnya ke arah kiri dan ia melihat senyuman lebar yang terpancar dari Khafi sambil merentangkan kedua tangannya. Tanpa ragu, Khafa memeluk tubuh jangkung adiknya, Khafi mengusap kepala kakaknya dengan lembut.

"Udah jangan cengeng! Hilang udah predikat guru killer kakak gue nih," ucap Khafi dengan terkekeh kecil.

"Coba senyum."

Khafi menangkup kedua pipi kembarannya. Khafa yang mendengar itu segera menyunggingkan senyum. Lelaki itu dengan lembut mengelus kepala kakaknya yang terbalut hijab.

"Jangan nangis karena dia lagi. Dia nggak pantes ditangisin."

"Iya, lo bener."

"Oh iya, gue tadi lihat anak murid lo, Fa. Gue yakin dia liat lo nangis begini," ujar Khafi membuat mata Khafa terbelalak.

"Serius lo?"

"Iya, serius!"

"Ayo pulang, firasat gue nggak enak nih!"

"Loh, Bu Khafa kenapa buru-buru sih? Padahal, saya baru aja beliin Ibu minuman," ucap seseorang yang berhasil menghentikkan langkah keduanya.

Saudara kembar itu berbalik dan melihat pria berhidung mancung tersenyum sambil mengangkat botol minuman. Khafa menghela napas, merasa firasatnya tepat.

Lelaki yang tersenyum lebar itu adalah Rafa Dwindra Athaya, seorang siswa dari Khafa sendiri. Selama setahun terakhir, Rafa sangat gigih mendekati gurunya. Cinta lelaki itu pada Khafa bermula sejak pandangan pertama, tetapi Khafa selalu menolak karena perbedaan usia dan status di antara keduanya.

"Bang Khafi, gebetan gue kenapa nangis gitu sih?"

"Biasalah, Raf, habis ketemu mantan," jawab Khafi dengan entengnya.

"Ibu jangan nangis lagi dong, 'kan masih ada saya yang mencintai Ibu segenap jiwa dan raga."

Mendengar ucapan Rafa membuat Khafi tertawa renyah sedangkan Khafa langsung memutar bola mata malas.

"Kamu yang sopan sama guru sendiri," ketus Khafa menatap tajam Rafa.

"Sekarang kita tidak berada di sekolah, Bu," sanggah Rafa.

"Walaupun tidak di lingkungan sekolah, kamu tetap harus menghormati saya sebagai gurumu."

"Oke, kalau sekarang saya menghormati Bu Khafa sebagai guru saya. Ibu harus percaya suatu saat nanti, Ibu lah yang akan menghormati saya juga sebagai suami Ibu." ucap Rafa dengan percaya diri.

"Jangan kebanyakan halu! Belajar yang benar. Kamu itu sudah kelas 12 'kan? Jangan menggoda guru sendiri kerjanya!"

"Ya Allah, Bu Khafa kita hanya beda 5 tahun kali, Bu. Jadi, nggak pa-pa dong saya godain Ibu. Hehehe," ucap Rafa sambil mengedipkan sebelah matanya yang membuat Khafa ingin muntah.

"Udah deh, lo jangan gangguin kembaran gue. Kalau serius datang aja ke rumah, Raf bawa sekalian keluarga," ujar Khafi dengan entengnya.

"Aman, Bang!" Rafa menyahut sembari terkekeh dengan geli.

"Gue mau pulang!" ketus Khafa kepada Khafi kemudian berjalan cepat ke arah parkiran.

"Hahaha, lo yakin mau dapatin kakak gue?" tanya Khafi ketika Khafa sudah menghilang dari pandangannya.

"Yakin dong," balas Rafa sambil mengangguk mantap.

"Oke, gue pasti dukung lo! Asal, lo jangan nyakitin kembaran gue aja."

Khafi menepuk bahu Rafa kemudian pamit untuk pergi. Ketika lelaki itu sduah tiba di parkiran. Khafa langsung menatap adiknya dengan tajam.

"Kok nggak pamit dulu sih sama Rafa?"

"Lo gausah dukung Rafa! Lo nyadar nggak sih dia itu murid gue?" tanya Khafa dengan ketus.

"Gue nyadar, kok! Ya, kalau Rafa bisa bikin lo bahagia kenapa nggak?"

Bab 3

Rafa menatap puas kamarnya yang telah berubah warna menjadi biru langit. Bibir lelaki itu membentuk senyuman, warna ini merupakan warna favorite sang pujaan hati. Apa pun yang di sukai oleh gadis itu, pasti Rafa juga akan belajar menyukainya. Ya, Rafa sebucin itu, memang.

"Wah, kesambet apaan lo, Bang? Sejak zaman apa lo suka warna biru langit begini?"

"Sejak zaman Megalitikum," jawab Rafa asal.

"Ngelawak lo? Kok garing amat kek hidup lo."

Tawa puas itu lolos dari bibir lelaki yang sudah duduk di sebelah Rafa. Rafa mendelik mendengar ucapan adik laknatnya itu. Revan Putra Abintara, merupakan adik lelaki Rafa yang merupakan anak dari ayah sambungnya, Abintara Mahesa.

"Gimana kamar gue sekarang, Van?"

"Biasa aja."

"Ucapan lo bisa nggak sekali aja bikin gue bahagia gitu, Van?"

"Lah, ucapan lo juga sering pedes ke gue, Bang."

"Pergi deh lo dari kamar gue! Males gue liat tampang gak seberapa lo itu," cibir Rafa sambil mengibas-ngibaskan tangannya.

Mata Revan langsung melotot mendengar ucapan pedas dari sang kakak.

"HEH! Lo bilang tampang gue gak seberapa? Nyadar oii, gue ini termasuk jajaran cowok tampan di sekolah!"

"Oh, gitu? Terus kenapa bisa di selingkuhi sebanyak tiga kali? Itu menandakan cewek-cewek males liat muka lo."

Rafa menghina adiknya dengan pedas mencapai 10 level membuat Revan meradang. Dengan gerakan cepat, Revan sudah memukul kepala Rafa.

"Ya Allah, punya Abang kok gini amat sih? Bisa retur Abang nggak sih?" gumam Revan sambil mengelus dadanya sabar.

"Mulut lo, Bang! Makin hari makin pedes aja tuh ucapan. Lo tiap hari makan cabe, yak?"

"Kepo amat lo! Udah sana pergi!" usir Rafa dengan sadisnya.

Revan mendengkus sebal mendapat usiran lagi dari Rafa. Revan menyesal memasuki kamar lelaki yang bermulut sambal itu. Dengan perasaan kesal, Revan melangkah pergi meninggalkan kamar Rafa seraya menutup pintu dengan keras.

***

Sudah dua hari Khafi dicuekin oleh kembarannya sendiri karena masalah lelaki itu menyusul Khafa di cafe. Khafa hanya menatap sekilas kembarannya yang terus saja mengoceh. Khafi yang melihat hal tersebut menghela napas panjang.

"Jangan diem aja dong, Fa! Gue 'kan kemarin udah minta maaf dan lo juga udah maafin gue. Terus, kenapa masih nyuekin gue?"

"Ayolah, nggak baik loh marah-marah begini. Nanti pahala Khafa berkurang gimana? Kalau pahala Khafa berkurang, Khafi nggak mau, ya, ganti rugi," lanjut Khafi dengan wajah lesu.

"Sakit woi, pipi gue!"

Khafa menyentak sambil menghempaskan tangan Khafi yang sibuk menguyel-nguyel pipinya.

"Alhamdulillah, akhirnya Khafa terbebas dari bisu sementara."

Ucapan Khafi barusan, sukses membuat Khafa semakin dongkol. Khafi hanya menyengir kuda melihat raut wajah kembarannya tersebut.

"Jangan marah lagi dong! Baikan, ya," ajak Khafi seraya mengacungkan jari kelingkingnya.

"Ayo dong, masa gak mau baikan sih?"

Dengan malas, Khafa menautkan kelingkingnya ke jari kelingking adiknya. Khafi tersenyum lebar melihat kelingking mereka bertautan.

"YES, BAIKAN!"

"Biasa aja kali, gausah pakai teriak."

"Ih, lo kok gak bahagia sih kita baikan? Jangan bilang, kalau lo terpaksa ya, Fa. Gue nggak suka pokoknya," ujar Khafi yang sudah berdrama.

"Gausah alay deh! Gue ikhlas baikan sama lo. Udah, ya, gausah pake drama."

Khafi mengerjap dengan lucu. "Beneran ikhlas 'kan, Fa?" tanya Khafi untuk meyakinkan dirinya sendiri.

"Ish, jadi orang kagak percayaan amat. Iya, Khafi, iya ... gue ikhlas."

Senyuman Khafi pun mengembang. "Yes! Berarti lo bisa dong nemenin gue kondangan malam ahad besok!" seru Khafi sembari bertepuk tangan girang.

"Eh? Gue belum ada bilang setuju, ya," protes Khafa tak terima.

"Udahlah, lagian kita udah baikan 'kan."

"Ish, cepetan nikah deh lo. Biar ada gandengan yang bisa diajak kondangan."

"Khafa, selagi masih ada lo, ya, gue manfaatin lah," ujar Khafi enteng tanpa beban.

"APA LO BILANG!"

Khafa berteriak kesal. Dengan gerakan cepat Khafi lari terbirit-birit setelah mendengar teriakan maha dahsyat itu.

***

Bola mata Rafa berbinar kala melihat gadis cantik bergamis maroon memasuki gramedia. Tanpa izin ke Revan, ia melenggang pergi menuju sang pujaan hati. Katakan lah, Rafa rindu dengan perempuan tersebut.

"Khafa!" seru Rafa girang membuat sang empu terkejut.

Gadis itu masih syok dengan kehadiran Rafa yang tiba-tiba begini ditambah muridnya itu tak memiliki sopan-santun asal menyebut nama saja.

"Kamu yang sopan sama saya!"

"Saya bukan anak kamu. Jadi, ngapain harus manggil Ibu?" tanya Rafa dengan menyengir kuda.

"Kamu murid saya, Rafa. Otomatis kamu anak didik saya, jadi bersikaplah sopan." Tegas Khafa lengkap dengan tatapan tajam.

"Iya-iya, Ibu Khafa yang terhormat," ucap Rafa dengan senyuman.

"Ibu ngapain di sini?" tanya Rafa berbasa-basi.

Khafa enggan menjawab pertanyaan tak penting dari Rafa karena sudah jelas ini gramedia tentu saja beli buku. Mana mungkin di gramedia membeli bawang, itulah pikirnya.

"Bu Khafa, kita makan siang bersama, yuk. Mumpung weekend loh ini."

Khafa tetap diam dan fokus memilih buku di deretan rak. Khafa sama sekali tidak menganggap keberadaan Rafa yang sedari tadi mengoceh.

"Bu Khafa kok diam aja? Ibu taukan arti diam perempuan itu adalah iya."

Khafa masih tidak menggubris ucapan Rafa, ia malah melenggang pergi dan Rafa turut mengekori gurunya tersebut.

"Ibu mau menikah dengan saya?" tanya Rafa yang di balas diam juga oleh Khafa.

"Oke, fiks! Saya besok kerumah Ibu untuk mengkhitbah Ibu!" serunya girang membuat mata Khafa terbelalak.

"Emangnya saya ada bilang iya? HAH!" pekik Khafa dengan kesal.

"Loh, 'kan sudah saya bilang, Bu diamnya perempuan itu berarti iya. Jadi, itu artinya Ibu mau menikah dengan saya," ucap Rafa dengan percaya diri tinggi.

"Tertolak!" jawab Khafa dengan netra menatap tajam Rafa.

"Ibu jangan terus menolak saya dong. Kalau semesta menginginkan kita bersama gimana? Ibu mana mungkin bisa menentang semesta," terang Rafa dengan cengiran khasnya.

"Saya minta kepada semesta agar tak berjodoh denganmu!"

"Oh, gitu? Oke, deh kita liat saja nanti doa siapa yang dikabulkan oleh Allah dan diridhoi semesta," ucap Rafa dengan sungguh-sungguh.

"Apakah Rafa memang tulus sama gue atau hanya modus ala anak SMA?" batin Khafa bertanya-tanya.

"Sudah bicaranya, Rafa?" tanya Khafa dengan datar.

"Sudah, Bu! Gimana, Ibu terharu nggak saya ngomong gitu?"

Mendengar hal tersebut membuat Khafa berdecak sebal. "Mending kamu jangan ikutin saya dan jangan masuk terlalu dalam ke hidup saya, Rafa," ucap Khafa dengan tegasnya.

"Hah? Mana mungkin saya tidak masuk ke dalam hidup Ibu sedangkan separuh hidup saya Ibu yang menggenggamnya."

"Rafa, saya tidak ABG lagi yang mendengar gombalan mu itu langsung luluh, ya!"

"Idih, sombong amat sih, Bu. Umur Bu Khafa aja masih 23 tahun, gegayaan bilang tidak ABG lagi, huuh."

"Kamu tahu definisi ABG tidak sih, Rafa?" tanya Khafa yang semakin kesal.

"Taulah! Emang saya bodoh banget gitu ya di mata, Ibu?" Rafa bertanya dengan cemberut.

"Sudahlah, saya malas berdebat denganmu. Mending saya pulang daripada berurusan dengan bocah kayak kamu."

Khafa mengerenyit heran menatap Rafa yang malah senyam-senyum dengan sendirinya membuat gadis itu bergidik ngeri.

"Ibu cepat-cepat mau pulang karena tidak tahan dengan pesona saya? Takut jatuh cinta gitu, ya? Bu, jangan jatuh cinta gimana kalau kita bangun cinta?"

Mata bulat Khafa melebar mendengar ucapan muridnya yang kelewatan percaya diri itu.

Malas mengucapkan kata-kata, Khafa segera beranjak pergi menuju kasir. Mood-nya sudah terjun bebas ke jurang karena bertemu dengan Rafa yang sialnya terlihat tampan hari ini. Wajah Rafa memang tampan paripurna, tetapi bagi Khafa akhlak Rafa nol besar.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED