Pesta pernikahan antara Khafa Aseanda Zayn dan Fathan Shaquille akan diselenggarakan di kediaman mempelai perempuan. Rumah Khafa telah dihias dengan indah, menciptakan suasana yang benar-benar berbeda. Tidak hanya dekorasinya yang menarik perhatian, tetapi beragam hidangan prasmanan juga mengundang selera.
Meski begitu, di balik gemerlapnya acara, Khafa yang sudah menyelesaikan persiapannya sejak lima belas menit yang lalu tampak gelisah karena Fathan belum menunjukkan tanda-tanda kehadiran. Melza, ibu Khafa, juga merasakan kegelisahan yang sama karena tidak dapat menghubungi pihak keluarga mempelai lelaki.
"Ke mana Fathan, Fa?" tanya Melza dengan ekspresi kesal.
"Khafa juga tidak tahu, Bu," ucap Khafa gelisah.
"Tamu sudah mulai berdatangan, Khafa, tapi sampai detik ini Fathan beserta keluarganya belum memberikan kabar."
Khafa yang mendengar itu semakin cemas. Bahkan, perempuan itu mulai merenungkan hal-hal negatif tentang calon suami dan keluarganya.
"Semoga Bang Fathan dan keluarganya terhindar dari kejadian buruk," batin Khafa dengan penuh harap.
Tak lama, pintu ruangan itu terbuka, memperlihatkan Khafi dan Zayno bersama orang tua Fathan. Dua perempuan itu merasa lega melihat kedatangan mereka.
"Apa akad segera mulai? Tapi, kenapa Bapak malah di sini?"
"Apakah ada sesuatu yang kurang, Pak?" tanya Melza lagi.
Zayno mendapat pertanyaan itu dan hanya memilih untuk tetap diam. Ia bingung menentukan jawaban karena yang hadir hanya Gizka dan Rizky, tanpa kehadiran Fathan.
"Maafkan kami, Melza. Fathan tidak dapat hadir," ucap Gizka, ibu Fathan.
"Maksudmu apa, Gizka? Jika ingin menikah, tentu harus ada mempelai lelaki!"
"Tante bicara dengan jelas!" seru Khafi.
Gizka tidak sanggup bicara lagi karena wanita itu telah menangis, sehingga Rizky mengambil inisiatif untuk berbicara, sambil menatap keluarga tersebut dengan rasa penyesalan.
"Mohon maaf, Fathan tidak dapat menikahi Khafa karena ia telah pergi bersama Vayka, yang saat ini sedang mengandung anak mereka," ujar Rizky dengan berat hati pada akhir kalimat.
Khafa yang mendengar berita itu, menangis sambil menggeleng kuat. Ia tidak dapat mempercayai perkataan Rizky dan yakin bahwa Fathan tetap setia kepadanya.
"Om, jangan bohong!"
"Maafin, Om dan Tante, Khafa. Semua ini terjadi di luar dugaan kami."
"Sialan kalian!" teriak Melza.
"Bagaimana mungkin Fathan kabur saat pernikahan tinggal sebentar lagi? Kalian membuat kami merasa malu!"
Melza berteriak, membuat Gizka mendekatinya sembari mengucapkan permintaan maaf.
"Maaf tidak akan merubah segalanya, Gizka!" geram Melza.
"Kalian sungguh tidak punya hati," ujar Zayno, mata tajamnya menatap mereka.
"Tidak hanya putriku yang merasakan sakit, tetapi kami juga turut merasakannya. Gimana tanggapan orang-orang terhadap batalnya pernikahan ini?" Melza menatap keduanya dengan sinis.
"Kami mohon maaf."
Zayno melangkah maju dan tiba-tiba menghantam Rizky, membuat Gizka terkejut dengan insiden yang tiba-tiba terjadi.
"Zayno, tolong jangan pukul suamiku lagi!" seru Gizka tegas setelah Zayno menghantam pipi Rizky dua kali.
"Sakit itu tidak sebanding dengan rasa sakit yang kami rasakan!" ujar Zayno dengan pandangan tajam.
"Tidak apa, Zayno. Jika kamu ingin memukulku lagi, aku ikhlas. Ini adalah konsekuensi yang harus kuterima," kata Rizky sambil merangkul istrinya.
Zayno tak melanjutkan kekerasan, malah mengusap kasar wajah Rizky sambil menghela nafas panjang.
"Om, Tante, tunjukkan di mana Fathan berada!"
"Kami benar-benar tidak mengetahui keberadaan Fathan, Khafi," jawab Rizky.
"Orang tua seperti apa kalian yang tidak mengetahui keberadaan putranya saat akan menikah, sialan!" seru Zayno dengan kesal.
"Ya, kami mengakui kesalahan kami sebagai orang tua."
"Kalian harus bertanggungjawab menjelaskan ini semua dengan para tamu undangan! Jelaskan ke mereka kalau anak kalian yang salah," ucap Melza.
"Kami akan bertanggung jawab atas tindakan anak kami, Melza," ucap Gizka dengan rasa bersalah.
"Tentu, karena pihak kami yang mengalami kerugian.
Khafa terdiam, tak mampu lagi mengucapkan sepatah kata. Fakta itu seolah mematikan setiap rangsang di syarafnya. Rasa sakit hati dan malu menyelubungi Khafa serentak, merusak tidak hanya harga dirinya, melainkan juga kehormatan keluarganya. Ia seakan tuli terhadap kegaduhan di sekitarnya.
"Bang, kenapa kamu tega sama Khafa?" Khafa menangis tersedu-sedu, menyembunyikan wajah di antara kedua lututnya.
"Sebenarnya, aku berharap hari ini menjadi momen penuh kebahagiaan saat aku resmi menjadi istri dari lelaki yang kucintai."
"Namun, takdir tidak mengijinkan kami bersama, tapi mengapa takdir memisahkan kami dengan cara yang begitu menyakitkan?"
Pikiran Khafa semakin terombang-ambing, dan hatinya terasa begitu terpukul. Rasanya, Khafa ingin menjauh dari dunia ini karena tak mampu lagi bertemu dengan orang-orang di masa depan.
"Sakit ...."
Khafa tak yakin sejak kapan kamarnya hanya dihuni oleh dirinya dan Khafi. Bahkan kedua orangtuanya dan orangtua Fathan sudah tiada. Pandangan terluka dari Khafa membuat Khafi merasakan kepedihan yang mendalam.
"Apakah harus begini, Fi? Dia telah berjanji bikin gue bahagia, tapi kenyataannya dia malah ninggalin luka yang begitu mendalam."
"Gue hancur, Fi. Gue gagal nikah. Apa yang salah sama gue sampai dia pergi dengan wanita lain? Jika dia tidak mencintai gue, seharusnya nggak begini caranya. Ini sungguh menyakitkan, Fi," ujar Khafa.
Dengan berlinang air mata, Khafi memeluk erat tubuh saudari kembarnya.
"Gue salah apa sama dia, Fi? Kenapa dia tega menyakiti sekaligus merendahkan gue dan keluarga kita."
"Khafa, tenang ...."
"Gue nggak bisa tenang, Fi. Gue udah membuat ibu sama bapak merasa malu."
Khafi menangkup kedua wajah Khafa. Tak lupa, ia mengusap air mata Khafa yang tak kunjung berhenti mengalir sejak tadi.
"Lo nggak salah yang salah Fathan, Fa."
"Fi, rasanya sakit banget. Sebelumnya, gue belum pernah ngerasain sakit sehebat ini. Rasanya, dunia gue hancur," ungkap Khafa sambil terisak-isak.
Khafi tidak merespons kata-kata Khafa. Ia hanya mengelus bahu Khafa dengan lembut, ingin memberikan ketenangan.
"Apa yang kurang dari gue, Fi?" Khafa bertanya sembari menatap Khafi.
"Enggak ada yang kurang dari lo, Khafa. Cuma laki-laki brengsek itu yang nggak bersyukur."
"Sakit banget, Khafi," lirihnya.
"Gue tahu apa yang lo rasain sekarang, Fa. Kita hadapi bareng-bareng, ya."
"Jangan tinggalin gue, Fi."
"Gue nggak bakalan ninggalin lo, Fa," ucap Khafi sambil kembali memeluk Khafa.
Khafi berusaha menenangkan Khafa sambil meredam amarah di dalam hatinya yang membara, ingin mencari Fathan dan memberikan pelajaran pada lelaki yang telah menyakiti hati sang kakak. Khafi, yang selalu membahagiakan Khafa, tentu merasa tidak tahan melihat perempuan yang selalu ia sayangi dan jaga mengalami luka begitu mendalam seperti ini.
"Gue bakalan buat lo bahagia, Fa. Jangan nangis lagi, itu menyakiti hati gue," tutur Khafi.
Malam itu, Khafa dan Khafi merangkul satu sama lain di tengah malam yang sunyi. Meskipun luka yang dalam masih terasa, namun setidaknya, Khafi berhasil menenangkan hati Khafa dengan janjinya untuk terus bersama perempuan itu.
Perjalanan menuju kesembuhan tidaklah mudah. Bersama-sama, mereka melalui hari-hari yang sulit dan berbagi beban kesedihan. Namun, seiring waktu, Khafa mulai melihat cahaya di ujung terowongan. Khafi, saudara kembarnya, tetap menjadi pendukung yang teguh, menunjukkan bahwa cinta sejati bukanlah tentang kesempurnaan, melainkan tentang kekuatan untuk saling mendukung dalam keadaan baik maupun buruk.
"Jangan terus ngelamun, lebih baik banyak berdoa saat hujan."
"Oke, gue bakalan berdoa," ujar Khafa, menengadahkan tangannya.
"Allahumma shoyyiban nafi'an."
Khafa memilih bersantai di kasur, menatap langit-langit kamar, ditemani Khafi di sampingnya.
"Seberapa penting brengsek itu sampai lo mau ketemu lagi?" tanya Khafi, menatap sang kakak.
"Gue cuma mau tahu alasan dia, Fi. Gue juga mau tegasin kalau hubungan kami benar-benar usai."
"Oke, kalau gitu gue ikut!"
"Enggak bisa, Khafi. Biarin gue selesaikan sendiri."
"Oke, kalau itu mau lo. Tapi tolong, kalau lo nggak sanggup, berbagilah sama gue, Fa. Gue sayang sama lo lebih dari apapun."
Khafa memandang adiknya dengan senyuman tulus, hatinya tersentuh mendengar cerita Khafi, menunjukkan kasih sayang yang mendalam.
"Makasih udah percaya sama gue. Gue nggak bakal lupa kalau lo sayang sama gue. Sama halnya gue yang sayang banget sama lo, Fi," ucap Khafa membuat Khafi tersenyum.
"Peluk, Fa," rengek Khafi.
"Kak Khafa," ralat Khafa.
"Cuma beda 5 menit doang. Peluk dong, kangen berat sama pelukan lo," ujar Khafi manja.
"Sini-sini."
Khafi merentangkan tangannya, Khafi langsung memeluknya. Mereka merasakan kehangatan dalam pelukan itu.
"Gue janji bakal membahagiakan lo, Fa," batin Khafi.
"Hujannya udah reda, Fi! Akhirnya, gue bisa pergi juga," pekik Khafa sambil berlari heboh ke depan jendela.
Khafi memayunkan bibirnya. Khafi beneran kesal kepada kakaknya itu dikarenakan ia hampir menyelami mimpi malah Khafa berteriak dengan suara cempreng, membuat Khafi gagal untuk tidur.
"Khafi gue pergi, ya!"
Khafa sudah siap dengan tas yang disampirkan di bahunya. Lelaki itu mengucek mata untuk melihat jelas wajah sumringah Khafa.
"Yuk, gue antar," kata Khafi sambil turun dari kasur.
"Eh, nggak usah deh. Lo itu ngantuk mana bisa fokus ntar bawa motornya. Udah, nggak pa-pa gue pergi sendiri. Bye, Adik Ganteng!"
Setelah mengatakan kalimat tersebut, Khafa segera berlari secepat mungkin, meninggalkan Khafi yang sudah berdecak sebal.
***
Selama perjalanan menuju kafe untuk pertemuan dengan sang mantan, kenangan pahit tentang kegagalan pernikahan mereka memenuhi pikirannya. Ia menyandarkan kepala di jendela mobil, mencoba menahan tangisnya.
"Lo nggak boleh tenggelam lagi dengan masa lalu tersebut, Fa," lirihnya.
"Neng, sudah sampai."
Khafa tenggelam dalam lamunan yang begitu dalam sehingga tak menyadari waktu berlalu. Dengan senyuman ramah, ia kemudian menyerahkan ongkos kepada bapak tersebut sebelum turun dari mobil, melangkahkan kakinya menuju pintu masuk kafe.
"Khafa," panggil seseorang sambil melambaikan tangan.
Khafa terdiam sejenak, kemudian mulai menghela napas perlahan. Ia sedang mempersiapkan diri secara mental untuk menghadapi lelaki yang meruntuhkan hatinya dengan begitu kejam.
"Udah lama nunggu?" tanya Khafa yang sudah sampai ke meja bernomor 07 itu.
"Belum kok, Fa. Ayo, duduk dulu," ujar Fathan dengan sopan.
Khafa tersenyum tipis lalu mengangguk dan duduk di hadapan lelaki tersebut.
"Bagaimana kabarmu, Fa?" tanya Fathan sambil menatap Khafa dengan hangat.
"Alhamdulillah lebih baik, Bang."
"Maafkan kesalahanku dua tahun lalu, Fa."
"Bang, bisa nggak jangan bahas masa lalu? Waktu itu, Abang udah minta maafkan? Jadi, jangan buat Khafa terpaku dengan masa lalu yang menyakitkan itu," tegas Khafa membuat Fathan bungkam.
"Jadi, kamu ingin bicara apa? Hal sepenting apalagi yang menginginkanmu bertemu denganku? Jika hanya bertanya tentang hubungan kita. Aku tegasin ke Abang kalau hubungan kita benar-benar udah selesai." Tegas Khafa.
"Aku udah bercerai dengan Vayka, Fa," ujar Fathan dengan sendu.
"Jika kamu bercerai dengan Vayka. Lalu apa urusannya denganku?" tanya Khafa dengan alis terangkat satu.
"Kamu mau tidak menjadi Ibu sambung bagi Dito? Percayalah, abang masih sangat mencintaimu."
"Jadi ini alasanmu mengajakku bertemu. Kau hanya ingin enaknya saja, Bang! Kau pikir aku juga akan mau mengulangi hal yang sama? Maaf, aku tidak selugu dahulu yang bebas kamu bohongi."
"Khafa, kamu sendiri yang mengatakan kalau kamu telah memaafkan aku? Mengapa malah mengungkit masa lalu lagi?"
"Aku memang sudah memaafkanmu. Namun, aku tak akan pernah melupakan kelakuanmu!"
"Jujur aku tidak terima, kau membuat keluargaku malu di saat acara pernikahan kita, kau malah kabur bersama Vayka! Sekarang, kau jangan pernah meminta hal konyol apapun kepadaku lagi! Termasuk menikah denganmu!"
Khafa bangkit dari kursinya dan meninggalkan kafe dengan mata yang berembun. Fathan tetap diam, tidak berniat untuk mengejar Khafa. Di seberang meja, Khafi menggerutu kesal mendengarkan obrolan mereka. Jika tidak ingat pesan dari kakaknya, pasti Fathan hanyalah nama yang tersisa.
"Jangan nangis karena lelaki seperti Fathan! Air mata lo gak berhak nangisin si brengsek itu!"
Khafa memalingkan wajahnya ke arah kiri dan ia melihat senyuman lebar yang terpancar dari Khafi sambil merentangkan kedua tangannya. Tanpa ragu, Khafa memeluk tubuh jangkung adiknya, Khafi mengusap kepala kakaknya dengan lembut.
"Udah jangan cengeng! Hilang udah predikat guru killer kakak gue nih," ucap Khafi dengan terkekeh kecil.
"Coba senyum."
Khafi menangkup kedua pipi kembarannya. Khafa yang mendengar itu segera menyunggingkan senyum. Lelaki itu dengan lembut mengelus kepala kakaknya yang terbalut hijab.
"Jangan nangis karena dia lagi. Dia nggak pantes ditangisin."
"Iya, lo bener."
"Oh iya, gue tadi lihat anak murid lo, Fa. Gue yakin dia liat lo nangis begini," ujar Khafi membuat mata Khafa terbelalak.
"Serius lo?"
"Iya, serius!"
"Ayo pulang, firasat gue nggak enak nih!"
"Loh, Bu Khafa kenapa buru-buru sih? Padahal, saya baru aja beliin Ibu minuman," ucap seseorang yang berhasil menghentikkan langkah keduanya.
Saudara kembar itu berbalik dan melihat pria berhidung mancung tersenyum sambil mengangkat botol minuman. Khafa menghela napas, merasa firasatnya tepat.
Lelaki yang tersenyum lebar itu adalah Rafa Dwindra Athaya, seorang siswa dari Khafa sendiri. Selama setahun terakhir, Rafa sangat gigih mendekati gurunya. Cinta lelaki itu pada Khafa bermula sejak pandangan pertama, tetapi Khafa selalu menolak karena perbedaan usia dan status di antara keduanya.
"Bang Khafi, gebetan gue kenapa nangis gitu sih?"
"Biasalah, Raf, habis ketemu mantan," jawab Khafi dengan entengnya.
"Ibu jangan nangis lagi dong, 'kan masih ada saya yang mencintai Ibu segenap jiwa dan raga."
Mendengar ucapan Rafa membuat Khafi tertawa renyah sedangkan Khafa langsung memutar bola mata malas.
"Kamu yang sopan sama guru sendiri," ketus Khafa menatap tajam Rafa.
"Sekarang kita tidak berada di sekolah, Bu," sanggah Rafa.
"Walaupun tidak di lingkungan sekolah, kamu tetap harus menghormati saya sebagai gurumu."
"Oke, kalau sekarang saya menghormati Bu Khafa sebagai guru saya. Ibu harus percaya suatu saat nanti, Ibu lah yang akan menghormati saya juga sebagai suami Ibu." ucap Rafa dengan percaya diri.
"Jangan kebanyakan halu! Belajar yang benar. Kamu itu sudah kelas 12 'kan? Jangan menggoda guru sendiri kerjanya!"
"Ya Allah, Bu Khafa kita hanya beda 5 tahun kali, Bu. Jadi, nggak pa-pa dong saya godain Ibu. Hehehe," ucap Rafa sambil mengedipkan sebelah matanya yang membuat Khafa ingin muntah.
"Udah deh, lo jangan gangguin kembaran gue. Kalau serius datang aja ke rumah, Raf bawa sekalian keluarga," ujar Khafi dengan entengnya.
"Aman, Bang!" Rafa menyahut sembari terkekeh dengan geli.
"Gue mau pulang!" ketus Khafa kepada Khafi kemudian berjalan cepat ke arah parkiran.
"Hahaha, lo yakin mau dapatin kakak gue?" tanya Khafi ketika Khafa sudah menghilang dari pandangannya.
"Yakin dong," balas Rafa sambil mengangguk mantap.
"Oke, gue pasti dukung lo! Asal, lo jangan nyakitin kembaran gue aja."
Khafi menepuk bahu Rafa kemudian pamit untuk pergi. Ketika lelaki itu sduah tiba di parkiran. Khafa langsung menatap adiknya dengan tajam.
"Kok nggak pamit dulu sih sama Rafa?"
"Lo gausah dukung Rafa! Lo nyadar nggak sih dia itu murid gue?" tanya Khafa dengan ketus.
"Gue nyadar, kok! Ya, kalau Rafa bisa bikin lo bahagia kenapa nggak?"
Rafa menatap puas kamarnya yang telah berubah warna menjadi biru langit. Bibir lelaki itu membentuk senyuman, warna ini merupakan warna favorite sang pujaan hati. Apa pun yang di sukai oleh gadis itu, pasti Rafa juga akan belajar menyukainya. Ya, Rafa sebucin itu, memang.
"Wah, kesambet apaan lo, Bang? Sejak zaman apa lo suka warna biru langit begini?"
"Sejak zaman Megalitikum," jawab Rafa asal.
"Ngelawak lo? Kok garing amat kek hidup lo."
Tawa puas itu lolos dari bibir lelaki yang sudah duduk di sebelah Rafa. Rafa mendelik mendengar ucapan adik laknatnya itu. Revan Putra Abintara, merupakan adik lelaki Rafa yang merupakan anak dari ayah sambungnya, Abintara Mahesa.
"Gimana kamar gue sekarang, Van?"
"Biasa aja."
"Ucapan lo bisa nggak sekali aja bikin gue bahagia gitu, Van?"
"Lah, ucapan lo juga sering pedes ke gue, Bang."
"Pergi deh lo dari kamar gue! Males gue liat tampang gak seberapa lo itu," cibir Rafa sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
Mata Revan langsung melotot mendengar ucapan pedas dari sang kakak.
"HEH! Lo bilang tampang gue gak seberapa? Nyadar oii, gue ini termasuk jajaran cowok tampan di sekolah!"
"Oh, gitu? Terus kenapa bisa di selingkuhi sebanyak tiga kali? Itu menandakan cewek-cewek males liat muka lo."
Rafa menghina adiknya dengan pedas mencapai 10 level membuat Revan meradang. Dengan gerakan cepat, Revan sudah memukul kepala Rafa.
"Ya Allah, punya Abang kok gini amat sih? Bisa retur Abang nggak sih?" gumam Revan sambil mengelus dadanya sabar.
"Mulut lo, Bang! Makin hari makin pedes aja tuh ucapan. Lo tiap hari makan cabe, yak?"
"Kepo amat lo! Udah sana pergi!" usir Rafa dengan sadisnya.
Revan mendengkus sebal mendapat usiran lagi dari Rafa. Revan menyesal memasuki kamar lelaki yang bermulut sambal itu. Dengan perasaan kesal, Revan melangkah pergi meninggalkan kamar Rafa seraya menutup pintu dengan keras.
***
Sudah dua hari Khafi dicuekin oleh kembarannya sendiri karena masalah lelaki itu menyusul Khafa di cafe. Khafa hanya menatap sekilas kembarannya yang terus saja mengoceh. Khafi yang melihat hal tersebut menghela napas panjang.
"Jangan diem aja dong, Fa! Gue 'kan kemarin udah minta maaf dan lo juga udah maafin gue. Terus, kenapa masih nyuekin gue?"
"Ayolah, nggak baik loh marah-marah begini. Nanti pahala Khafa berkurang gimana? Kalau pahala Khafa berkurang, Khafi nggak mau, ya, ganti rugi," lanjut Khafi dengan wajah lesu.
"Sakit woi, pipi gue!"
Khafa menyentak sambil menghempaskan tangan Khafi yang sibuk menguyel-nguyel pipinya.
"Alhamdulillah, akhirnya Khafa terbebas dari bisu sementara."
Ucapan Khafi barusan, sukses membuat Khafa semakin dongkol. Khafi hanya menyengir kuda melihat raut wajah kembarannya tersebut.
"Jangan marah lagi dong! Baikan, ya," ajak Khafi seraya mengacungkan jari kelingkingnya.
"Ayo dong, masa gak mau baikan sih?"
Dengan malas, Khafa menautkan kelingkingnya ke jari kelingking adiknya. Khafi tersenyum lebar melihat kelingking mereka bertautan.
"YES, BAIKAN!"
"Biasa aja kali, gausah pakai teriak."
"Ih, lo kok gak bahagia sih kita baikan? Jangan bilang, kalau lo terpaksa ya, Fa. Gue nggak suka pokoknya," ujar Khafi yang sudah berdrama.
"Gausah alay deh! Gue ikhlas baikan sama lo. Udah, ya, gausah pake drama."
Khafi mengerjap dengan lucu. "Beneran ikhlas 'kan, Fa?" tanya Khafi untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Ish, jadi orang kagak percayaan amat. Iya, Khafi, iya ... gue ikhlas."
Senyuman Khafi pun mengembang. "Yes! Berarti lo bisa dong nemenin gue kondangan malam ahad besok!" seru Khafi sembari bertepuk tangan girang.
"Eh? Gue belum ada bilang setuju, ya," protes Khafa tak terima.
"Udahlah, lagian kita udah baikan 'kan."
"Ish, cepetan nikah deh lo. Biar ada gandengan yang bisa diajak kondangan."
"Khafa, selagi masih ada lo, ya, gue manfaatin lah," ujar Khafi enteng tanpa beban.
"APA LO BILANG!"
Khafa berteriak kesal. Dengan gerakan cepat Khafi lari terbirit-birit setelah mendengar teriakan maha dahsyat itu.
***
Bola mata Rafa berbinar kala melihat gadis cantik bergamis maroon memasuki gramedia. Tanpa izin ke Revan, ia melenggang pergi menuju sang pujaan hati. Katakan lah, Rafa rindu dengan perempuan tersebut.
"Khafa!" seru Rafa girang membuat sang empu terkejut.
Gadis itu masih syok dengan kehadiran Rafa yang tiba-tiba begini ditambah muridnya itu tak memiliki sopan-santun asal menyebut nama saja.
"Kamu yang sopan sama saya!"
"Saya bukan anak kamu. Jadi, ngapain harus manggil Ibu?" tanya Rafa dengan menyengir kuda.
"Kamu murid saya, Rafa. Otomatis kamu anak didik saya, jadi bersikaplah sopan." Tegas Khafa lengkap dengan tatapan tajam.
"Iya-iya, Ibu Khafa yang terhormat," ucap Rafa dengan senyuman.
"Ibu ngapain di sini?" tanya Rafa berbasa-basi.
Khafa enggan menjawab pertanyaan tak penting dari Rafa karena sudah jelas ini gramedia tentu saja beli buku. Mana mungkin di gramedia membeli bawang, itulah pikirnya.
"Bu Khafa, kita makan siang bersama, yuk. Mumpung weekend loh ini."
Khafa tetap diam dan fokus memilih buku di deretan rak. Khafa sama sekali tidak menganggap keberadaan Rafa yang sedari tadi mengoceh.
"Bu Khafa kok diam aja? Ibu taukan arti diam perempuan itu adalah iya."
Khafa masih tidak menggubris ucapan Rafa, ia malah melenggang pergi dan Rafa turut mengekori gurunya tersebut.
"Ibu mau menikah dengan saya?" tanya Rafa yang di balas diam juga oleh Khafa.
"Oke, fiks! Saya besok kerumah Ibu untuk mengkhitbah Ibu!" serunya girang membuat mata Khafa terbelalak.
"Emangnya saya ada bilang iya? HAH!" pekik Khafa dengan kesal.
"Loh, 'kan sudah saya bilang, Bu diamnya perempuan itu berarti iya. Jadi, itu artinya Ibu mau menikah dengan saya," ucap Rafa dengan percaya diri tinggi.
"Tertolak!" jawab Khafa dengan netra menatap tajam Rafa.
"Ibu jangan terus menolak saya dong. Kalau semesta menginginkan kita bersama gimana? Ibu mana mungkin bisa menentang semesta," terang Rafa dengan cengiran khasnya.
"Saya minta kepada semesta agar tak berjodoh denganmu!"
"Oh, gitu? Oke, deh kita liat saja nanti doa siapa yang dikabulkan oleh Allah dan diridhoi semesta," ucap Rafa dengan sungguh-sungguh.
"Apakah Rafa memang tulus sama gue atau hanya modus ala anak SMA?" batin Khafa bertanya-tanya.
"Sudah bicaranya, Rafa?" tanya Khafa dengan datar.
"Sudah, Bu! Gimana, Ibu terharu nggak saya ngomong gitu?"
Mendengar hal tersebut membuat Khafa berdecak sebal. "Mending kamu jangan ikutin saya dan jangan masuk terlalu dalam ke hidup saya, Rafa," ucap Khafa dengan tegasnya.
"Hah? Mana mungkin saya tidak masuk ke dalam hidup Ibu sedangkan separuh hidup saya Ibu yang menggenggamnya."
"Rafa, saya tidak ABG lagi yang mendengar gombalan mu itu langsung luluh, ya!"
"Idih, sombong amat sih, Bu. Umur Bu Khafa aja masih 23 tahun, gegayaan bilang tidak ABG lagi, huuh."
"Kamu tahu definisi ABG tidak sih, Rafa?" tanya Khafa yang semakin kesal.
"Taulah! Emang saya bodoh banget gitu ya di mata, Ibu?" Rafa bertanya dengan cemberut.
"Sudahlah, saya malas berdebat denganmu. Mending saya pulang daripada berurusan dengan bocah kayak kamu."
Khafa mengerenyit heran menatap Rafa yang malah senyam-senyum dengan sendirinya membuat gadis itu bergidik ngeri.
"Ibu cepat-cepat mau pulang karena tidak tahan dengan pesona saya? Takut jatuh cinta gitu, ya? Bu, jangan jatuh cinta gimana kalau kita bangun cinta?"
Mata bulat Khafa melebar mendengar ucapan muridnya yang kelewatan percaya diri itu.
Malas mengucapkan kata-kata, Khafa segera beranjak pergi menuju kasir. Mood-nya sudah terjun bebas ke jurang karena bertemu dengan Rafa yang sialnya terlihat tampan hari ini. Wajah Rafa memang tampan paripurna, tetapi bagi Khafa akhlak Rafa nol besar.