Bab 2

Farhana berjalan-jalan mengelilingi kampung menggunakan sepeda lipat milik salah satu abang kembarnya, Razaq. Ketika melewati warung Bu Romlah, Farhana melipir sejenak. Keringat mulai mengucur dari dahinya. Beberapa bagian hijabnya basah.

“Assalamu’alaikum, Bu Romlah,” sapa Farhanalembut. Yang dipanggil menoleh kemudian tersenyum sumringah.

“Neng Hana, dari kapan pulang?”

“Hana kan sudah lulus, Bu. Ini mau lanjut kuliah. Sudah tes, tinggal menunggu pengumuman.”

“Semoga lulus, ya, Neng. Oh iya, tumben pagi-pagi udah ke warung. Kalau mau seblak mah belom siap bahannya, Neng.” Bu Romlah tengah sibuk melayani seorang pemuda yang sepertinya memesan nasi uduk. “Minumnya apa, Rey? Teh manis atau kopi?” tanya bu Romlah pada pemuda yang dipanggilnya Rey.

Sekilas Farhana mengintip wajah pemuda yang terhalang tiang kayu. Namanya terasa tidak asing terdengar di telinga. Ketika dilihat sekilas, tiba-tiba gadis itu teringat salah satu aktor Hongkong yang sangat terkenal, Andy Lau. Pemuda bernama Rey itu sedikit mirip dengan aktor tampan itu. Hanya saja kulitnya terlihat lebih gelap. Andy Lau versi kearifan lokal.

“Teh tawar aja boleh, Mpok? Lagi ngurangin yang manis-manis soalnya. Khawatir diabetes,” jawab pemuda itu sambil menyuap suapan pertama.

Hari gini masih ada pemuda kampung yang peduli kesehatan, pikir Farhana saat itu. Dirinya merasa aneh. Apalagi mengingat kebiasaan kedua kak kembarnya yang sangat doyan makanan manis.

“Elu kenapa nunduk aja dari tadi? Tumben,” tegur Bu Romlah pada Rey yang bersikap tidak seperti biasanya. Farhana masih menyimak obrolan keduanya sambil memilah camilan yang berjajar di meja.

"Malu. Mpok. Ada Hana,” bisik Rey dengan suara dipelankan. Tapi tetap saja Farhana dapat mendengarnya. Gadis itu spontan menoleh.

“Emang kenapa kalau ada saya, Bang?” tanya Farhana tanpa basa-basi sambil menatap wajah Rey yang melongo.

“Neng Hana bisa dengar?” Rey terkaget, sebagian makanan masih tersimpan di dalam mulutnya.

“Emang abang pikir saya tuli?”

Melihat ekspresi wajah Rey yang terkaget sampai melongo seperti itu membuat hati Farhana tertawa terpingkal-pingkal. Namun dirinya harus menjaga imejnya sebagai gadis berhijab. Harus terlihat anggun apalagi di hadapan leaki asing yang lumayan tampan, pikirnya.

“Ma-maaf, Neng. Habisnya saya malu sama Neng Hana,” jawab Rey sambil terburu-buru ingin menghabiskan makanannya.

“Malu kenapa, Bang? Apa ada yang salah?”

“Eng ... enggak ada. Enggak apa-apa. Cuma malu aja,” jawab Rey dengan wajah memerah menahan malu.

“Naksir neng Hana kali elu, Rey,” ceplos Bu Romlah.

“Bisa jadi, Mpok. Eh,” jawab Rey sambil buru-buru menutup mulutnya. Sementara Farhana menahan tawanya mendengar jawaban yang begitu polos itu.

“Dasar preman cemen. Ngadepin perampok berani. Giliran ngadepin cewek cakep, eh, menciut,” sindir Bu Romlah. Lalu terdengar tawa terlepas dari mulutnya. Rey ikutan tertawa.

“Bu romlah, ini jadi berapa?” tanya Farhana tiba-tiba di sela keduanya yang masih tertawa.

“Ya?”

“Ini. Camilan yang Hana ambil.” Hana menunjuk beberapa camilan yang dipisahkan di atas meja.

“Itu semuanya tujuh ribu, Neng.”

Farhana merogoh saku celananya. Ia hanya menemukan ponsel di dalamnya. Lalu ia merogoh saku satunya, hanya mendapati lubang dalam saku yang begitu besar. Oh, ternyata uangnya hilang. Wajahnya mendadak pias, ia malu jika harus berutang pada warung kecil ini. Kasihan Bu Romlah, begit pikirnya.

“Bu, saya titip dulu, ya. Saya ambil uang dulu ke rumah. Sepertinya uangnya terjatuh di jalan. Kantongnya bolong ternyata.”

“Atuh nggak apa-apa bawa saja, Neng. Gampang bayar mah.”

“Udah biar aku yang bayarin Mpok. Ini, Mpok” Rey menawarkan diri. Pemuda itu menyodorkan selembar lima puluh ribuan pada Bu Romlah.

“Nggak usah, Bang,” Farhana menolak dengan halus saat pemuda itu memberikan uang pada Bu Romlah.

“Nggak apa-apa, Neng. Santai aja.”

“Emmm. ... Makasih deh kalau begitu. Hana pamit duluan, ya, Bang.” Farhana berpamitan pada Rey dan Bu Romlah. Ia berjalan menuju sepedanya yang terparkir di bawah pohon mangga. Sayup terdengar obrolan dari keduanya.

“Emang Saebah nggak masak, Rey?”

“Masak, Mpok. Tapi lagi kangen aja sama nasi uduknya mpok.”

Ada rasa aneh berdebar di dada Farhana. Hampir saja ia menaksir Rey. Ternyata pemuda itu telah beristri.

***

Siangnya Farhana kembali ke warung bu Romlah. Gadis itu sering memesan seblak bu Romlah yang terkenal di kampung ini.

“Eh, Neng Hana lagi. Pasti mau beli seblak, yah?”

“Ih, Bu Romlah udah hapal kebiasaan Hana ternyata.” Gadis itu tersenyum mendengar tebakan bu Romlah yang tepat sekali.

“Jangankan aye, si Rey aja hapal kalau Neng Hana suka beli seblak di sini.”

“Hah? Bang Rey yang tadi pagi itu? Kok bisa?”

“Kayaknya dia naksir sama Neng deh.” Bu Romlah terlihat mondar-mandir menyiapakan beberapa bahan seblak. Lalu ia sibuk memasak camilan berat yang sedang digandrungi masyarakat Indonesia ini. Harumnya bumbu menguar menggelitik penciuman.

“Ogah ah, Bu. Udah beristri.”

“Hah? Beristri dari Hongkong, Neng? Masih bujangan tulen dia mah.”

Tiba-tiba saja Farhana terbatuk-batuk. Entah karena kaget menddengar jawaban Bu Romlah atau karena bumbu yang menggelitik hidung.

“Tadi pagi Hana denger obrolan ibu sama bang Rey. Ada nama Saebahnya. Emang itu siapa?”

“Ohhh, itu mah bini muda babehnya Rey, Neng. Usianya Cuma beda beberapa tahun sama Rey. Katanya, sih, sampai sekarang Rey belum bisa menerima babehnya kawin lagi semenjak ibunya meninggal beberapa tahun lalu. Makanya sekarang Rey jadi urakan kayak preman gitu penampilannya. Dia juga sekarang kerja di pasar jadi keamanan pasar. Ngelindungin para pedagang dari preman-preman yang mau malak.”

“Ohhh, gitu. Terus kenapa bang Rey tahu kalau Hana suka beli seblak di sini?” tanya Farhana penasaran.

“Karena pos jaga tempat dia kerja kan di seberang itu,” Bu Romlah menunjuk sebuah pos jaga dekat parkiran pasar kampung di seberang jalan besar. Meski terhalang beberapa pepohonan, memang masih ada celah untuk melihat ke warung ini. Pantas saja pemuda itu tahu kebiasaan Farhana yang sering jajan seblak di warung Bu Romlah ini.

“Ini, Neng, seblaknya udah jadi.”

“Ini, Bu, uangnya. Oh iya, sekalian tolong buatin seblak spesial buat Bang Rey, yah. Titip makasih untuk traktirannya tadi pagi.” Farhana menyodorkan selembar dua puluh ribuan.

“Kayaknya ini bukan sekedar ucapan terima kasih, deh. Muka Neng Hana merah begitu. Pucuk dicinta ulam pun tiba, nih, kayaknya.” Bu Romlah malah meledek gadis yang sudah merah padam wajahnya karena tersipu malu.

“Neng naksir juga sama Rey, kan? Tenang aja. Meskipun kayak preman begitu, anaknya rajin salat, kok, Neng. Aye, sih, lebih milih Rey daripada Usman.”

“Usman? Anaknya pak Ustaz?” Mendengar nama seseorang yang dikenalnya disebut, kedua bola mata Farhana berbinar.

“Iya. Tapi aye sih kurang suka sama tabiatnya Usman.”

Pikiran Farhana menerawang ke masa silam, di mana dirinya dan Usman begitu akrab. Gadis itu terlarut dalam kenangan hingga ocehan Bu Romlah tak begitu jelas didengarnya.

Bab 3

Farhana baru saja tiba dari kajian di masjid. Di masjid tadi ia bertemu Usman, pemuda yang pernah dekat dengannya beberapa tahun lalu. Baru saja gadis itu duduk di kursi teras sambil mengipasi wajah dengan telapak tangannya, salah satu abang kembarnya nongol sambul membawa bingkisan.

“Nih, dari si preman kampung. Ada hubungan apa elu sama tuh orang?” tanya Razaq ketus sambil menyodorkan bingkisan tepat di depan wajah adiknya.

“Apaan, sih, Bang? Preman kampung yang mana?” Farhana meraih paperbag berisi dua box makanan bertuliskan MARTABAK BANGKA MANIS DAN ASIN BANG TAN. Penasaran dengan isinya, Farhana bergegas membuka box dan meletakkannya di atas meja. Kebetulan sekali saat itu ia merasa begitu lapar. Setelah membaca bismillah, suapan demi suapan masuk ke dalam mulutnya dengan lahap.

“Laper apa doyan?” Razaq menyindir sang adik yang terlihat begitu lahap macan orang dua hari belum makan.

“Enak, loh, Bang. Mau kagak?” Farhana menyodorkan kotak makanan itu kepada abangnya yang terlihat berminat. Razaq pun mengambil kesempatan ini. Ia menyomot satu potong martabak manis dan martabak asin. Rasanya begitu menggigit di lidah, pantas saja sang adik makan begitu lahapnya.

Belum habis martabak porsi besar itu muncullah abang kembar satunya, Raziq, dari dalam rumah. Ia baru saja bangun tidur selepas salat isya tadi.

“Eh, lagi pada mukbang nih. Bagi-bagi nape.” Tanpa diperintah, pemuda itu menyomot sepotong martabak asin dan mencelupkannya ke dalam kuah saus pedas. “Mantap jiwaaa ... Dari mana ini martabak? Siapa yang beli martabak mahal ini?” Lanjutnya kemudian sambil melirik box makanan dengan ikon wajah Bang Tan yang sudah terkenal di daerah mereka itu.

“Oh, ini mahal harganya, Bang?” tanya Farhana. Maklum, ia banyak menghabiskan waktu di pesantren dan jarang sekali pulang. Sekalinya pulang, ia isi dengan jalan-jalan bersama keluarga.

“Ini martabak paling maknyos lezatos dimari, Adikku sayang. Pelanggan selalu puas meskipun harus merogoh kocek lebih dalam,” jelas Razaq

“Eh, ini siapa yang beli?” tanya Raziq masih penasaran.

“Tuh, si preman kampung,” jawab Razaq sambil asyik mengunyah tanpa memedulikan Raziq yang terlihat kaget dan hampir tersedak.

“Si Reynold? Eh, Reyhan?” tanya Raziq lagi berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Anggukan kepala yang kuat dari Razaq membenarkan pertanyaan Raziq barusan.

“Dalam rangka apa dia kasih beginian?” Raziq menyombongkan wajahnya mendekati wajah abangnya.

“Kayaknya, sih, dia naksir sama Hana, Ziq,” Razaq berbisik di telinga Raziq.

“Ehm! Percuma bisik-bisik depan Hana. Kedengaran, kok, Bang.”

“Elu ada hubungan apa sama si Rey, Dek?” tanya Raziq penasaran. Farhana hanya menggelengkan kepalanya.

“Jangan bohong, Dek. Si Rey kayaknya demen sama elu deh.” Razaq mendesak adiknya supaya mau mengaku. Gadis itu hanya asyik menghabiskan sisa martabak dalam kotak. Tidak tersisa sedikit pun. Bapak dan ibunya kebetulan sedang menginap dari kemarin malam di rumah uwak mereka yang sedang sakit keras.

“Kalau dia naksir Hana emangnya kenapa, Bang? Masalah buat abang?” Farhana memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya yang masih penuh. Razaq dan Raziq keheranan melihat tingkah laku adiknya. Sempat terpikir dalam benak keduanya kalau-kalau adiknya diguna-guna oleh Rey melalui martabak kirimannya.

“Dek, nggak biasanya kamu makan kayak begini. Kesurupan apa gimana?” Razaq mencoba membacakan ayat kursi sambil menyentuh ubun-ubun Farhana.

“Apaan sih, Bang. Hana normal kok. Wajar Hana begini. Perut Hana kan lapar. Semenjak bapak sama ibu menginap nggak makan nasi.” Wajah Farhana terlihat merengut kesal.

“Iya deh, maaf. Abang khawatir kamu diguna-guna si Rey,” Razaq bersimpah di hadapan adiknya yang memasang wajah kesal. Sementara Raziq duduk di lengan kursi sambil merengkuh bahu adiknya. “Maaf, ya, Dek.”

“Lagian emangnya kenapa sih kalau Bang Rey suka sama Hana? Kayaknya dia pemuda baik dan nggak macam-macam.”

“Iya, sih. Tapi emangnya elu nggak merhatiin penampilan urakannya itu? Kayak preman kampung begitu. Nggak sepadan sama elu yang alim begini, Dek.” Raziq berpindah duduk ke tempatnya semula.

“Elu itu cocoknya sama Usman, Dek. Bukannya kalian dekat ya saat SMP?” Razaq meledek adiknya.

“Hah? Usman? Nggah deh! Dulu iya deket. Kalau sekarang mikir dua kali kayaknya buat dekat-dekat.” Farhana membuang pandangan ke sekitar. Rumah besar dengan halaman dan taman yang luas ini tampak begitu cantik karena beberapa lampu hias yang menyorot. Bisa serapi dan seindah ini pastinya hasil dekorasi sang ibu, pikirnya.

“Emang kenapa si Usman, Dek? Ustaz muda yang tampan dan mapan, banyak digandrungi gadis-gadis di sini. Kita aja kalah saing. Ya, nggak, Ziq?” Razaq menatap Raziq dengan alis yang dibuat naik-turun bergelombang.

“Sebenarnya, gue juga kurang suka Usman sih.” Di luar dugaan, Raziq justru menjawab demikian membuat Razaq terheran-heran.

“Nah. Bang Raziq sependapat kan sama Hana?” Kedua bola mata gadis itu berbinar. Dia merasa mendapatkan dukungan.

“Karena gue laki-laki. Masak jeruk makan jeruk?” Raziq terkekeh. Apalagi ketika melihat ekspresi sang adik yang langsung jengkel dan bete. Hana terlihat bersungut-sungut. Razaq juga spontan melepaskan tawa.

“Masalahnya, tadi saat kajian di majelis, Sintya curhat ke Hana, Bang. Soal Usman. Tiap malam mereka chattingan gitu. Hana juga ditunjukkin isi chatnya. Pas Hana baca, terkaget-kagetlah Hana ini, Bang. Nggak nyangka kalau si Usman semenjijikan itu. Iiih ....” Farhana bergidik, merasa jijik jika teringat isi dalam pesan WhatsApp Sintya, sahabat karibnya.

“Sintya gebetan elu kan, Bang?” Raziq menyelidik abangnya. Terlihat kemuraman terpancar di wajah Razaq.

“Emang isi chatnya apa?” tanya Razaq penasaran.

“Usman ngajakin Sintya begini, Bang.” Farhana lalu membuat gerakan jari-jemari tangan kanan dan kiri yang bersentuhan ujungnya. “Pake bibir, Bang, bukan jari!” tegasnya kemudian sambil ngeloyor masuk ke dalam rumah, meninggalkan kedua kakak kembarnya yang terperangah kaget. Razaq dan Raziq saling pandang, lalu bergidik ngeri.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED