Bab 1

“Bang, mau sampai kapan kita backstreet begini? Sebenarnya, abang serius ngga, sih?” Gadis berhijab mocca yang bila tersenyum menyembulkan lesung pipi di kedua pipinya itu menatap serius Reynold. Pemuda itu sibuk memilin ilalang di tangan kanannya. Kemudian ia merebahkan tubuh di atas hamparan rumput di tepian sawah dan sungai berarus kecil ini. Pandangannya menatap hamparan langit berwarna jingga. Lalu pemuda itu mengembuskan napasnya berat.

“Abang khawatir keluarga Hana nggak bisa menerima abang.” Reynold menoleh ke arah Farhana yang duduk menghadap ke arah sungai dangkal sambil memeluk lutut.

Sungai yang terbentang di tepian hamparan rumput dan sawah ini tidak begitu lebar. Airnya mengalir tenang dan begitu jernih, membuat siapa pun yang melihatnya berhasrat menyegarkan badan dan berendam di dalamnya. Bebatuan menyebar di segala penjuru. Beberapa ikan bersembunyi di sekitar bebatuan berukuran sedanag dan besar.

Hana menoleh dan memerhatikan wajah Reynold. Berusaha mencari keseriusan pada wajah bervwarna eksotis itu. Dirinya paling tidak suka dibohongi. Tapi tak ada kebohongan dari raut wajah pemuda yang sekilas terlihat mirip artis Hongkong, Andy Lau, dengan versi kearifan lokal.

“Masak preman kampung ciut menghadap calon mertua?” sindir Farhana. Gadis itu kembali menekuri pandangan ke arah sungai. Tak berapa lama suara azan berkumandang dan langit tiba-tiba berubah gelap. Hujan pun mengguyur tiba-tiba.

“Bangun! Kebiasaan elu kalo molor nggak inget bangun. Bangun, bujangan! Udah azan maghrib tuh. Kebiasaan molor di waktu asar.” Babeh Rojali terus mencipratkan air ke muka anak semata wayangnya yang tergagap sambil mengerjapkan mata.

Pemuda itu lantas bergegas bangun dan mengusap wajahnya. Ternyata adegan tadi hanyalah mimpi. Ingin rasanya ia melanjutkan mimpi indahnya tadi. Seandainya babehnya tidak membangunkannya mungkin adegannya tengah berpacaran dengan gadis impian masih berlanjut.

“Ah, babeh mah demen banget ngerusak mimpi indah Rey aje deh.” Meski enggan, Reynold alias Reyhan tetap melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Dengan langkah gontai yang terasa berat, pemuda yang terkenal sebagai preman kampung itu menuju kran untuk berwudu. Basuhan demi basuhan pada sebagian anggota tubuhnya itu membuatnya kembali merasa segar dan sadar akan kehidupan nyata.

Farhana itu hanya angan yang takkan bisa diraihnya. Terlalu berat ujian untuk mendapatkannya. Dua kakak kembarnya jago silat dan ibunya sangat selektif memilih calon menantu. Bukan sekali dua kali Rey mendengar kabar penolakan dari beberapa pemuda kampung bahkan pemuda kampung lain yang mencoba meminang gadis manis berhijab itu.

***

“Belum berangkat gawe, Rey?” Babeh Rojali melongok dari balik tirai yang menutup pintu kamar Rey. Selang berapa detik ibu sambungnya memanggil keduanya dari dapur untuk segera sarapan.

“Badan Rey kayaknya meriang, Beh.” Pemuda itu meringkuk di atas ranjang dengan berselimut sarung bermotif kotak-kotak. Selepas salat subuh ia melanjutkan tidur.

“Lagian elu semalam begadang sampe tengah malam. Bukannya istirahat tidur.” Babeh menghampiri anak kesayangan semata wayangnya. Pria itu duduk di tepi ranjang. Semenjak kepergian mendiang istri pertamanya, babeh Rojali menikah dengan gadis yang usianya terpaut tiga tahun lebih tua dari Reyhan. Namun hingga saat ini belum juga dikaruniai keturunan. Terus terang, masih besar harapan babeh Rojali bisa menambah keturunan lagi karena ia hanya memiliki Reyhan, satu-satunya generasi penerus keturunannya. Sekarang babeh Rojali dan Saebah, istri mudanya, sedang menekuni promil.

“Beh, tolong gantiin Rey bisa nggak?”

“Lah, gimana ceritanya babeh gantiin elu? Kayak babeh nggak ada gawe aja. Makanya, kata babeh juga mendingan elu punya usah di rumah sini. Ngewarung kek, apa kek. Bukan jadi jagoan pasar. Jangan sok pahlawan elu. Resikonya gede itu.” Babeh menasihati Reyhan yang tubuhnya semakin menggigil kedinginan. Jemarinya yang mulai terlihat keriput namun masih bertenaga dengan lihat memijit kaki dan tangan Rey. Pria itu juga memijit di beberapa titik syaraf yang ia pahami. Reyhan merasa sangat enakan dipijit babehnya saat itu.

“Beeeh .... Reeey .... Sarapan dulu yuk,” panggil Saebah dari arah dapur. Terdengar suara piring dan gelas juga beberapa peralatan makan tengah disiapkan. Babeh Rojali lalu menuntun anaknya yang terlihat lemas dan lunglai.

“Selepas sarapan, babeh bawa elu ke bidan Hayati,” ujar babeh sambil memapah Rey menuju dapur.

“Lah, ngapain ke bidan Hayati sih, Beh? Aye pan kagak hamil, Beh.” Reyhan terdengar protes. Kedua bibirnya merengut.

“Yang bilang elu hamil siape? Heh, bidan Hayati juga sering ngobatin orang sakit. Banyak pasien setiap hari datang ke rumahnya.” Babeh Rojali mendudukkan Rey di salah satu kursi makan. Lalu pria itu duduk di sebelah istrinya. Saebah langsung menyendok nasi dan menuangkannya ke atas piring suaminya.

“Ogah ah. Ke puskesmas aje. Jangan ke bidan Hayati. Nanti mata babeh jelalatan mandangin bidan Hayati yang kata orang aduhai ntuh.” Reyhan meneguk teh hangat manis lalu menyomot pisang goreng. Dari raut wajahnya bisa dipastikan jika pemuda itu tidak merasa nyaman dengan setiap kunyahan yang terasa pahit. Setelah diperhatikan, pantas saja pahit karena ternyata pisang goreng gosong yang diambilnya. Ia kira, lidahnya sudah mati rasa karena sakit.

“Ehm! Ngomongin ape, nih?” Saebah berdeham. Sorot matanya mengarah tajam ke arah suaminya yang terlihat mesem-mesem dan gelagapan. Telinganya sudah akrab mendengar perbincangan bapak-bapak di pos ronda soal kemolekan janda bidan belum beranak itu.

“Engga apa-apa. Babeh cuma mau nganter Rey berobat ke bidan Hayati.” Babeh buru-buru menyuap makanan ke dalam mulutnya hingga hampir tersedak. Kalau sudah membahas perempuan, ia tak mau berurusan lama-lama dengan sang istri. Bisa berabe dan runyam.

“Jangan berobat dulu. Tuh, Ebah udah buatin rebusan wedang jahe merah. Nanti diminum, ya, Rey. Siapa tahu ampuh buat ngobatin meriang elu. Kalau kondisi belum baik juga, baru deh berobat.”

Merasa diperhatikan ibu sambungnya, dinding pertahanan Rey mulai runtuh perlahan. Bertahun-tahun dirinya membenci Saebah hanya karena tidak setuju dengan pernikahan babeh dan perempuan muda itu. Babeh memang terkenal dengan kekayaannya di kampung ini. Tanah dan sawahnya luas di mana-mana. Punya ternak sapi dan kambing juga. Gadis mana yang tidak terpikat dengan kekayaannya yang tidak habis tujuh turunan? Reyhan berpikir, Saebah sama saja dengan para gadis di kampungnya yang silau akan harta dan jabatan. Sebagai bentuk protesnya, pemuda itu bertingkah urakan layaknya preman.

“Iye, Nyak. Nanti Rey minum. Makasih, Nyak.”

“Uhuk! Tolong .... Tolong ... Ambilin minum, Bah!” Babeh Rojali menunjuk-nunjuk ke arah gelas berisi teh tawar hangat. Saebah segera mengambilkan dan menyodorkan kepada sang suami yang tersedak. Reyhan menatap babehnya dengan rasa khawatir.

“Babeh nggak apa-apa?” tanya pemuda itu.

“Coba ulangi adegan tadi!”

“Adegan apaan, Beh? Adegan babeh keselek?”

Babeh Rojali menggelengkan kepalanya. “Yang barusan tadi tuh. Elu ngomong apa?”

“Apaan, sih? Kagak ngerti Rey, Beh.”

“Elu tadi manggil Saebah dengan sebutan enyak. Babeh seneng banget. Akhirnya elu mau ngakuin Ebah sebagai emaklu.” Babeh Rojali meraih sang istri ke dalam pelukannya. Sementara Saebah hanyak tersenyum melihat tingkah suaminya yang terlihat begitu bahagia.

“B aja kali, Beh. Nggak usah lebay dah.”

Sementara itu Reyhan dengan santai melahap isi piringnya hingga tandas.

***

Bab 2

Farhana berjalan-jalan mengelilingi kampung menggunakan sepeda lipat milik salah satu abang kembarnya, Razaq. Ketika melewati warung Bu Romlah, Farhana melipir sejenak. Keringat mulai mengucur dari dahinya. Beberapa bagian hijabnya basah.

“Assalamu’alaikum, Bu Romlah,” sapa Farhanalembut. Yang dipanggil menoleh kemudian tersenyum sumringah.

“Neng Hana, dari kapan pulang?”

“Hana kan sudah lulus, Bu. Ini mau lanjut kuliah. Sudah tes, tinggal menunggu pengumuman.”

“Semoga lulus, ya, Neng. Oh iya, tumben pagi-pagi udah ke warung. Kalau mau seblak mah belom siap bahannya, Neng.” Bu Romlah tengah sibuk melayani seorang pemuda yang sepertinya memesan nasi uduk. “Minumnya apa, Rey? Teh manis atau kopi?” tanya bu Romlah pada pemuda yang dipanggilnya Rey.

Sekilas Farhana mengintip wajah pemuda yang terhalang tiang kayu. Namanya terasa tidak asing terdengar di telinga. Ketika dilihat sekilas, tiba-tiba gadis itu teringat salah satu aktor Hongkong yang sangat terkenal, Andy Lau. Pemuda bernama Rey itu sedikit mirip dengan aktor tampan itu. Hanya saja kulitnya terlihat lebih gelap. Andy Lau versi kearifan lokal.

“Teh tawar aja boleh, Mpok? Lagi ngurangin yang manis-manis soalnya. Khawatir diabetes,” jawab pemuda itu sambil menyuap suapan pertama.

Hari gini masih ada pemuda kampung yang peduli kesehatan, pikir Farhana saat itu. Dirinya merasa aneh. Apalagi mengingat kebiasaan kedua kak kembarnya yang sangat doyan makanan manis.

“Elu kenapa nunduk aja dari tadi? Tumben,” tegur Bu Romlah pada Rey yang bersikap tidak seperti biasanya. Farhana masih menyimak obrolan keduanya sambil memilah camilan yang berjajar di meja.

"Malu. Mpok. Ada Hana,” bisik Rey dengan suara dipelankan. Tapi tetap saja Farhana dapat mendengarnya. Gadis itu spontan menoleh.

“Emang kenapa kalau ada saya, Bang?” tanya Farhana tanpa basa-basi sambil menatap wajah Rey yang melongo.

“Neng Hana bisa dengar?” Rey terkaget, sebagian makanan masih tersimpan di dalam mulutnya.

“Emang abang pikir saya tuli?”

Melihat ekspresi wajah Rey yang terkaget sampai melongo seperti itu membuat hati Farhana tertawa terpingkal-pingkal. Namun dirinya harus menjaga imejnya sebagai gadis berhijab. Harus terlihat anggun apalagi di hadapan leaki asing yang lumayan tampan, pikirnya.

“Ma-maaf, Neng. Habisnya saya malu sama Neng Hana,” jawab Rey sambil terburu-buru ingin menghabiskan makanannya.

“Malu kenapa, Bang? Apa ada yang salah?”

“Eng ... enggak ada. Enggak apa-apa. Cuma malu aja,” jawab Rey dengan wajah memerah menahan malu.

“Naksir neng Hana kali elu, Rey,” ceplos Bu Romlah.

“Bisa jadi, Mpok. Eh,” jawab Rey sambil buru-buru menutup mulutnya. Sementara Farhana menahan tawanya mendengar jawaban yang begitu polos itu.

“Dasar preman cemen. Ngadepin perampok berani. Giliran ngadepin cewek cakep, eh, menciut,” sindir Bu Romlah. Lalu terdengar tawa terlepas dari mulutnya. Rey ikutan tertawa.

“Bu romlah, ini jadi berapa?” tanya Farhana tiba-tiba di sela keduanya yang masih tertawa.

“Ya?”

“Ini. Camilan yang Hana ambil.” Hana menunjuk beberapa camilan yang dipisahkan di atas meja.

“Itu semuanya tujuh ribu, Neng.”

Farhana merogoh saku celananya. Ia hanya menemukan ponsel di dalamnya. Lalu ia merogoh saku satunya, hanya mendapati lubang dalam saku yang begitu besar. Oh, ternyata uangnya hilang. Wajahnya mendadak pias, ia malu jika harus berutang pada warung kecil ini. Kasihan Bu Romlah, begit pikirnya.

“Bu, saya titip dulu, ya. Saya ambil uang dulu ke rumah. Sepertinya uangnya terjatuh di jalan. Kantongnya bolong ternyata.”

“Atuh nggak apa-apa bawa saja, Neng. Gampang bayar mah.”

“Udah biar aku yang bayarin Mpok. Ini, Mpok” Rey menawarkan diri. Pemuda itu menyodorkan selembar lima puluh ribuan pada Bu Romlah.

“Nggak usah, Bang,” Farhana menolak dengan halus saat pemuda itu memberikan uang pada Bu Romlah.

“Nggak apa-apa, Neng. Santai aja.”

“Emmm. ... Makasih deh kalau begitu. Hana pamit duluan, ya, Bang.” Farhana berpamitan pada Rey dan Bu Romlah. Ia berjalan menuju sepedanya yang terparkir di bawah pohon mangga. Sayup terdengar obrolan dari keduanya.

“Emang Saebah nggak masak, Rey?”

“Masak, Mpok. Tapi lagi kangen aja sama nasi uduknya mpok.”

Ada rasa aneh berdebar di dada Farhana. Hampir saja ia menaksir Rey. Ternyata pemuda itu telah beristri.

***

Siangnya Farhana kembali ke warung bu Romlah. Gadis itu sering memesan seblak bu Romlah yang terkenal di kampung ini.

“Eh, Neng Hana lagi. Pasti mau beli seblak, yah?”

“Ih, Bu Romlah udah hapal kebiasaan Hana ternyata.” Gadis itu tersenyum mendengar tebakan bu Romlah yang tepat sekali.

“Jangankan aye, si Rey aja hapal kalau Neng Hana suka beli seblak di sini.”

“Hah? Bang Rey yang tadi pagi itu? Kok bisa?”

“Kayaknya dia naksir sama Neng deh.” Bu Romlah terlihat mondar-mandir menyiapakan beberapa bahan seblak. Lalu ia sibuk memasak camilan berat yang sedang digandrungi masyarakat Indonesia ini. Harumnya bumbu menguar menggelitik penciuman.

“Ogah ah, Bu. Udah beristri.”

“Hah? Beristri dari Hongkong, Neng? Masih bujangan tulen dia mah.”

Tiba-tiba saja Farhana terbatuk-batuk. Entah karena kaget menddengar jawaban Bu Romlah atau karena bumbu yang menggelitik hidung.

“Tadi pagi Hana denger obrolan ibu sama bang Rey. Ada nama Saebahnya. Emang itu siapa?”

“Ohhh, itu mah bini muda babehnya Rey, Neng. Usianya Cuma beda beberapa tahun sama Rey. Katanya, sih, sampai sekarang Rey belum bisa menerima babehnya kawin lagi semenjak ibunya meninggal beberapa tahun lalu. Makanya sekarang Rey jadi urakan kayak preman gitu penampilannya. Dia juga sekarang kerja di pasar jadi keamanan pasar. Ngelindungin para pedagang dari preman-preman yang mau malak.”

“Ohhh, gitu. Terus kenapa bang Rey tahu kalau Hana suka beli seblak di sini?” tanya Farhana penasaran.

“Karena pos jaga tempat dia kerja kan di seberang itu,” Bu Romlah menunjuk sebuah pos jaga dekat parkiran pasar kampung di seberang jalan besar. Meski terhalang beberapa pepohonan, memang masih ada celah untuk melihat ke warung ini. Pantas saja pemuda itu tahu kebiasaan Farhana yang sering jajan seblak di warung Bu Romlah ini.

“Ini, Neng, seblaknya udah jadi.”

“Ini, Bu, uangnya. Oh iya, sekalian tolong buatin seblak spesial buat Bang Rey, yah. Titip makasih untuk traktirannya tadi pagi.” Farhana menyodorkan selembar dua puluh ribuan.

“Kayaknya ini bukan sekedar ucapan terima kasih, deh. Muka Neng Hana merah begitu. Pucuk dicinta ulam pun tiba, nih, kayaknya.” Bu Romlah malah meledek gadis yang sudah merah padam wajahnya karena tersipu malu.

“Neng naksir juga sama Rey, kan? Tenang aja. Meskipun kayak preman begitu, anaknya rajin salat, kok, Neng. Aye, sih, lebih milih Rey daripada Usman.”

“Usman? Anaknya pak Ustaz?” Mendengar nama seseorang yang dikenalnya disebut, kedua bola mata Farhana berbinar.

“Iya. Tapi aye sih kurang suka sama tabiatnya Usman.”

Pikiran Farhana menerawang ke masa silam, di mana dirinya dan Usman begitu akrab. Gadis itu terlarut dalam kenangan hingga ocehan Bu Romlah tak begitu jelas didengarnya.

Bab 3

Farhana baru saja tiba dari kajian di masjid. Di masjid tadi ia bertemu Usman, pemuda yang pernah dekat dengannya beberapa tahun lalu. Baru saja gadis itu duduk di kursi teras sambil mengipasi wajah dengan telapak tangannya, salah satu abang kembarnya nongol sambul membawa bingkisan.

“Nih, dari si preman kampung. Ada hubungan apa elu sama tuh orang?” tanya Razaq ketus sambil menyodorkan bingkisan tepat di depan wajah adiknya.

“Apaan, sih, Bang? Preman kampung yang mana?” Farhana meraih paperbag berisi dua box makanan bertuliskan MARTABAK BANGKA MANIS DAN ASIN BANG TAN. Penasaran dengan isinya, Farhana bergegas membuka box dan meletakkannya di atas meja. Kebetulan sekali saat itu ia merasa begitu lapar. Setelah membaca bismillah, suapan demi suapan masuk ke dalam mulutnya dengan lahap.

“Laper apa doyan?” Razaq menyindir sang adik yang terlihat begitu lahap macan orang dua hari belum makan.

“Enak, loh, Bang. Mau kagak?” Farhana menyodorkan kotak makanan itu kepada abangnya yang terlihat berminat. Razaq pun mengambil kesempatan ini. Ia menyomot satu potong martabak manis dan martabak asin. Rasanya begitu menggigit di lidah, pantas saja sang adik makan begitu lahapnya.

Belum habis martabak porsi besar itu muncullah abang kembar satunya, Raziq, dari dalam rumah. Ia baru saja bangun tidur selepas salat isya tadi.

“Eh, lagi pada mukbang nih. Bagi-bagi nape.” Tanpa diperintah, pemuda itu menyomot sepotong martabak asin dan mencelupkannya ke dalam kuah saus pedas. “Mantap jiwaaa ... Dari mana ini martabak? Siapa yang beli martabak mahal ini?” Lanjutnya kemudian sambil melirik box makanan dengan ikon wajah Bang Tan yang sudah terkenal di daerah mereka itu.

“Oh, ini mahal harganya, Bang?” tanya Farhana. Maklum, ia banyak menghabiskan waktu di pesantren dan jarang sekali pulang. Sekalinya pulang, ia isi dengan jalan-jalan bersama keluarga.

“Ini martabak paling maknyos lezatos dimari, Adikku sayang. Pelanggan selalu puas meskipun harus merogoh kocek lebih dalam,” jelas Razaq

“Eh, ini siapa yang beli?” tanya Raziq masih penasaran.

“Tuh, si preman kampung,” jawab Razaq sambil asyik mengunyah tanpa memedulikan Raziq yang terlihat kaget dan hampir tersedak.

“Si Reynold? Eh, Reyhan?” tanya Raziq lagi berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Anggukan kepala yang kuat dari Razaq membenarkan pertanyaan Raziq barusan.

“Dalam rangka apa dia kasih beginian?” Raziq menyombongkan wajahnya mendekati wajah abangnya.

“Kayaknya, sih, dia naksir sama Hana, Ziq,” Razaq berbisik di telinga Raziq.

“Ehm! Percuma bisik-bisik depan Hana. Kedengaran, kok, Bang.”

“Elu ada hubungan apa sama si Rey, Dek?” tanya Raziq penasaran. Farhana hanya menggelengkan kepalanya.

“Jangan bohong, Dek. Si Rey kayaknya demen sama elu deh.” Razaq mendesak adiknya supaya mau mengaku. Gadis itu hanya asyik menghabiskan sisa martabak dalam kotak. Tidak tersisa sedikit pun. Bapak dan ibunya kebetulan sedang menginap dari kemarin malam di rumah uwak mereka yang sedang sakit keras.

“Kalau dia naksir Hana emangnya kenapa, Bang? Masalah buat abang?” Farhana memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya yang masih penuh. Razaq dan Raziq keheranan melihat tingkah laku adiknya. Sempat terpikir dalam benak keduanya kalau-kalau adiknya diguna-guna oleh Rey melalui martabak kirimannya.

“Dek, nggak biasanya kamu makan kayak begini. Kesurupan apa gimana?” Razaq mencoba membacakan ayat kursi sambil menyentuh ubun-ubun Farhana.

“Apaan sih, Bang. Hana normal kok. Wajar Hana begini. Perut Hana kan lapar. Semenjak bapak sama ibu menginap nggak makan nasi.” Wajah Farhana terlihat merengut kesal.

“Iya deh, maaf. Abang khawatir kamu diguna-guna si Rey,” Razaq bersimpah di hadapan adiknya yang memasang wajah kesal. Sementara Raziq duduk di lengan kursi sambil merengkuh bahu adiknya. “Maaf, ya, Dek.”

“Lagian emangnya kenapa sih kalau Bang Rey suka sama Hana? Kayaknya dia pemuda baik dan nggak macam-macam.”

“Iya, sih. Tapi emangnya elu nggak merhatiin penampilan urakannya itu? Kayak preman kampung begitu. Nggak sepadan sama elu yang alim begini, Dek.” Raziq berpindah duduk ke tempatnya semula.

“Elu itu cocoknya sama Usman, Dek. Bukannya kalian dekat ya saat SMP?” Razaq meledek adiknya.

“Hah? Usman? Nggah deh! Dulu iya deket. Kalau sekarang mikir dua kali kayaknya buat dekat-dekat.” Farhana membuang pandangan ke sekitar. Rumah besar dengan halaman dan taman yang luas ini tampak begitu cantik karena beberapa lampu hias yang menyorot. Bisa serapi dan seindah ini pastinya hasil dekorasi sang ibu, pikirnya.

“Emang kenapa si Usman, Dek? Ustaz muda yang tampan dan mapan, banyak digandrungi gadis-gadis di sini. Kita aja kalah saing. Ya, nggak, Ziq?” Razaq menatap Raziq dengan alis yang dibuat naik-turun bergelombang.

“Sebenarnya, gue juga kurang suka Usman sih.” Di luar dugaan, Raziq justru menjawab demikian membuat Razaq terheran-heran.

“Nah. Bang Raziq sependapat kan sama Hana?” Kedua bola mata gadis itu berbinar. Dia merasa mendapatkan dukungan.

“Karena gue laki-laki. Masak jeruk makan jeruk?” Raziq terkekeh. Apalagi ketika melihat ekspresi sang adik yang langsung jengkel dan bete. Hana terlihat bersungut-sungut. Razaq juga spontan melepaskan tawa.

“Masalahnya, tadi saat kajian di majelis, Sintya curhat ke Hana, Bang. Soal Usman. Tiap malam mereka chattingan gitu. Hana juga ditunjukkin isi chatnya. Pas Hana baca, terkaget-kagetlah Hana ini, Bang. Nggak nyangka kalau si Usman semenjijikan itu. Iiih ....” Farhana bergidik, merasa jijik jika teringat isi dalam pesan WhatsApp Sintya, sahabat karibnya.

“Sintya gebetan elu kan, Bang?” Raziq menyelidik abangnya. Terlihat kemuraman terpancar di wajah Razaq.

“Emang isi chatnya apa?” tanya Razaq penasaran.

“Usman ngajakin Sintya begini, Bang.” Farhana lalu membuat gerakan jari-jemari tangan kanan dan kiri yang bersentuhan ujungnya. “Pake bibir, Bang, bukan jari!” tegasnya kemudian sambil ngeloyor masuk ke dalam rumah, meninggalkan kedua kakak kembarnya yang terperangah kaget. Razaq dan Raziq saling pandang, lalu bergidik ngeri.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED