Sebuah sedan SUV berhenti tepat di depan gerbang rumah Althea. Rumah dengan design minimalis modern dengan halaman yang cukup luas untuk ditanami aneka bunga dan bonsai. Althea tadinya diberikan sebidang tanah oleh Opanya, kemudian ia bangun sendiri dengan jerih payahnya selama menjadi Dokter. Perlahan-lahan sedikit demi sedikit, akhirnya rumah itu bisa ia tempati, baru beberapa minggu ini.
Masih ada sisa tanah, yang ia putuskan untuk dibangun sebuah Toko Kue, sekedar memenuhi hobby Mamanya. Jika ditanya kenapa ia tidak tinggal di rumah Opa? Sejak berkuliah ia memilih tinggal di kost, karena memang letak rumah sang Opa yang jauh dari lokasi kampusnya. Dengan padatnya jadwal kuliah kedokteran, Althea pikir akan lebih efisien jika ia tinggal di dekat kampus saja. Namun setiap akhir pekan ia akan pulang ke rumah Opa, menghabiskan waktu bersama Mamanya, karena memang dari rumahnya sekarang tidak terlalu jauh dengan rumah Opa.
Terdengar suara berat gerbang dibuka, bilah kayu kecoklatan itu bergeser. Nampak Althea keluar, berbalut dress simple navy selutut dan tas tangan putih. Kaki jenjangnya melangkah mendekati pintu samping penumpang yang terbuka.
Bersama dengan Tamara, Yolanda, dan Gania, tiga sahabat sekaligus koleganya yang juga sama-sama melayani di Klinik Sosial, mereka menuju Hotel tempat jamuan makan malam dengan mobil milik Yolanda. Mereka memutuskan untuk berangkat bersama, dengan maksud agar ada alasan jika mereka meninggalkan acara sebelum larut malam. Acara semacam ini biasanya memang berlangsung hingga larut malam, dan mereka berempat enggan untuk menghadiri hingga selesai.
Sesampainya di sana, Althea dikejutkan dengan banyaknya orang yang diundang datang. Gania mengajak ketiga sahabatnya untuk menemui sang pemilik acara, Dokter Diana. Di tengah ruang dengan meja makan bundar yang sudah tertata rapi, Dokter Diana menghampiri masing-masing meja kolega seniornya.
“Selamat malam Dokter Diana. Profinciat untuk promosinya. Semoga dengan promosi ini membawa manfaat untuk para pasien kedepannya, ya Dok”
Bergantian mereka menyalami Dokter senior mereka itu satu persatu dan saat tiba giliran Althea, tangannya dijabat lebih lama. Tiga sahabatnya sudah membaur bersama tamu-tamu yang lain. Tertinggal ia sendiri, berbicara sedikit serius dengan Dokter Diana.
“Al, aku mau mengenalkan kamu dengan beberapa Dokter Anak senior, siapa tahu mereka tertarik menjadi donatur atau relawan untuk Klinik Kesehatan kamu,” ucap Dokter Diana.
Althea tersenyum lebar, kedua lesung pipinya semakin mempermanis wajahnya yang hanya dipoles sederhana.
“Terimakasih banyak Dok, tahu saja kalau kami sangat membutuhkan tambahan Dokter Spesialis Anak. Beberapa waktu ini ada banyak kasus Diabetes Anak yang telat kami tangani karena prosedur rujukan pasien ke Rumah Sakit besar agak ribet. Kalau makin banyak yang bisa memberikan penanganan awal di Klinik setidaknya kondisi pasien nggak terlalu buruk sampai dengan mendapatan perawatan lebih lanjut di Rumah Sakit”
Dokter Diana tertawa. “Kamu juga jangan kapok-kapok ya kalau kami minta menjadi Dokter pengganti di Rumah Sakit, musim begini biasanya banyak pasien anak yang datang ke IGD. Kami juga kekurangan Dokter piket IGD.”
“Terimakasih banyak Dok. Aku pasti selalu siap menerima panggilan IGD. Lagian nih Dok, jomblo macam aku selain Klinik dan Rumah Sakit, bisanya hanya di rumah saja.”
Tawa renyah terdengar dari keduanya, memang bukan rahasia lagi jika Althea yang seorang jomblo memang lebih gemar berada di Klinik dan Rumah Sakit ketimbang di Mall atau Salon. Tidak seperti wanita-wanita berkelas lainnya, penampilan Althea sangat sederhana. Menghindari kemewahan dan hidup glamor.
“Kapan kalian berencana membawa pasangan untuk undangan jamuan seperti ini? Masa kemana-mana selalu jomblo” tanya Dokter Diana. Dia cukup mengenal Althea dan ketiga temannya mulai dari bangku kuliah, karena Dokter Diana memang Asisten Dosen dan senior mereka sejak di bangku kuliah
Althea menggeleng dengan cengiran khasnya, mencoba untuk mengelak dari modus-modus mak comblang yang biasanya dilakukan Dokter Diana.
“Nggak ada yang mau sama aku Dok”
“Kenapa? Kamu cantik banget, pintar dan berjiwa sosial.” Dokter Diana menatap Althea dari atas ke bawah yang malam ini terlihat sekali aura kecerdasannya.
“Itu mungkin karena tipeku agak aneh, Dok.”
“Maksudnya? Kamu masih ‘normal’ kan?” Dokter Diana mengerutkan keningnya sempurna.
“Aku hanya tertarik sama duda dan sekarang lagi nunggu duda kaya raya yang mau sama aku. Syukur-syukur sudah tua. Hahaha!” Tawa Althea setelah berhasil mengerjai seniornya itu.
“Hahaha. Althea kamu lucu! Baiklah aku sapa yang lain dulu tamu yang lain dulu.”
Althea mendengkus dalam hati, berjalan ke meja dimana ketiga temannya menunggu. Bukan pertama kalinya rekan sejawatnya menanyakan soal pacar atau status. Mereka mengira, karena kemana-mana selalu dengan ketiga sahabat wanitanya yang juga Dokter, jadi ia ‘belok’ dari orientasinya.
Tidak ada lagi suara riuh tawa para undangan setelah satu persatu hidangan dikeluarkan oleh para pelayan. Aneka macam menu, mulai dari hidangan pembuka, menu western yang mahal hingga kudapan dan dessert ludes seketika, dan masih ada wine premium yang turut dihidangkan malam itu. Musik klasik dari alunan piano klasik mengalun lembut mengiringi acara makan malam ini.
Althea, yang sejak siang tadi merasa kepalanya sedikit berat, sempat meminum beberapa pil obat sakit kepala. Bisa dikatakan, itu adalah upaya mengurangi rasa pening di kepalanya sejak kedatangan tante dan sepupunya. Namun ia lupa jika jamuan makan malam biasanya menghidangkan wine. Dan kini reaksinya mulai muncul, dirinya diserang rasa kantuk yang cukup mengganggu, ia tidak dapat berkonsentrasi pada topik pembicaraan koleganya.
“Althea, HP-mu berbunyi!”
“Hah!”
“Ada telepon, HP kamu bunyi terus!” Yolanda yang duduk di sebelahnya, menunjuk dengan dagu pada tas tangan Althea di pangkuannya, menyadarkan akan suara dering ponsel dari dalamnya.
Althea mengedip, matanya berusaha terlihat fokus. la berusaha menarik kesadarannya kembali. Meraih ponsel dari dalam tas kecil itu dan memohon ijin rekan-rekan semejanya untuk menerima telepon itu. la tidak melihat nomor atau nama si penelepon, tapi karena berbunyi tiada henti, ia berniat untuk mengangkatnya. Althea dengan rasa kantuknya, menerima telepon itu dengan berusaha menjaga nada suaranya.
‘Siapa ya yang menelepon jam segini? Semoga bukan panggilan IGD’ monolog Althea dalam hati sambil mengetuk layar ponselnya. Panggilan sempat mati sesaat, namun kembali ponselnya berdering. Ia mengangkat panggilan itu.
“Halo!”
“Mama...”
“Hah, halo?”
“Mama, kakak sakit.”
Althea mengerjapkan mata beberapa kali, untuk menghilangkan kantuk dan menarik seluruh kesadarannya. ‘Mama? Mulai kapan aku punya anak, sedangkan menikah saja belum? Nggak mungkin aku nggak ingat kalau sudah melahirkan.’
“Maaf, sepertinya salah sambung,” ucapnya dengan nada lembut.
Jeritan di ujung telepon membuatnya terdiam.
“Mama Althea, Lia sakit, Lio atuut, Mamaaa!”
‘Lia Lio?’ Perlahan-lahan, nama-nama itu masuk ke dalam otaknya. ‘Ah, mungkin maksudnya Adelia dan Adelio.’
Tersentak akan ingatannya, Althea membulatkan mata. Bergegas ia berdiri dari duduknya, meraih tas tangan yang ia tinggalkan di meja, dan menganggukan kepala tanda pamit kepada rekan-rekan di mejanya.
“Adelio, Sayaang. Jangan nangis, Mama pulang sekarang!”
Mematikan sambungan, ia berjalan cepat menuju meja Dokter Diana. Berpamitan singkat pada Dokter Diana, menggunakan alasan pasien emergency. Setengah berlari menuju keluar restoran itu, menekan tombol lift dan berdiri tak tenang menunggu lift itu naik hingga lantai 30.
“Althea! Kamu mau ke mana?”
“Pulaang!”
“Ada apa denganmu?” Yolanda mengusap bahunya. “Apa ada pasien gawat di Klinik?”
“Althea, ada apa.” Kali ini suara Gania yang terdengar.
Althea tidak peduli dengan panggilan teman-temannya. la bergegas masuk ke lift yang membawanya menuju lobby, masuk ke dalam taxi yang sudah standby di depan Hotel, dan mengatakan alamat tujuannya.
“Agak ngebut sedikt ya, Pak!” perintahnya. Hilang sudah kantuknya tadi, ia menyandarkan tubuh ke kursi. Tidak peduli pada taxi yang melaju gila-gilaan di jalan raya. Kekuatirannya akan bocah yang tinggal di sebelah rumah, mengalahkan ketakutannya.
Tidak sampai lima belas menit, ia sudah tiba di depan rumah berpagar tinggi berwarna hitam. Suasana yang sepi membuatnya bertanya-tanya, apa benar tadi yang meneleponnya adalah Adelio. Untuk memastikan, ia memencet bel. Tidak ada yang membuka pintu, ia kembali memencet bel, hingga pintu rumah terbuka dan Adelio berlari keluar dalam balutan baju tidur dan guling kecil di tangannya.
“Mamaa!” teriaknya.
Althea tersenyum. “Ssttt… Tenang sayang, Mama datang. Siapa yang sakit sayang?”
“Adelia, Ma. Lio takut Maaa”
“Kalau begitu, bisa Lio bukakan pagarnya? Mana kuncinya, sayang?”
Adelio menggeleng. “Lio nggak tahu, Mama. Lia sakit. Bibi bobok”
“lya, Lia sakit. Sabar ya, sayang.”
Althea menyumpah dalam hati, mendapati pagar terkunci sedangkan ia harus masuk. la mengedarkan pandangan pada sekeliling yang sepi dan gelap. Menyadari tidak akan ada yang akan membantunya masuk, ia memilih menaiki pagar setelah melepas sepatunya dan berharap tidak jatuh. Untung saja potongan gaun Althea malam ini agak lebar di bagian bawah, sehingga memudahkan langkanya saat memanjat pagar itu. la melompat turun dan terguling di tanah yang keras. Meringis saat lututnya perih dan kepalanya kembali berdenyut menyakitkan.
Adelio bergegas menghampiri dan meraih tangannya. “Mama nggak pa-pa?”
“Ayo, kita lihat Lia. Di mana Bi Marni dan pengasuhmu?”
Anak kecil dalam genggaman Althea menggeleng. Bukan salah anak itu, karena malam ini rumah memang terlihat sangat sepi.
Bergandengan tangan, mereka menuju salah satu kamar yang berada di lantai atas. Saat pintu membuka, Althea melongo, melihat betapa besarnya kamar itu. Tatapannya tertuju pada ranjang besar, seorang anak perempuan terbaring di atasnya. la melangkah mendekat, dan mendengar anak itu merintih.
“Mamaa .. Mama.”
la memegang dahinya dan berjengit karena panas. Sialnya ia tidak membawa peralatan Dokter-nya Menoleh pada Adelio ia bertanya lirih. “Sayang, di mana dapurnya?”
Dibimbing oleh Adelio, Althea menuju dapur di lantai satu. Membuka kulkas, namun ia tidak menemukan kompres yang dicari. Biasanya orang tua dengan anak-anak kecil menyimpan sejenis kompres instan, untuk berjaga-jaga bila si kecil demam.
Ia mengambil panci dengan gerakan cepat, mengucurkan air dan meletakkan di atas kompor lalu menyalakannya. la mencari wadah apapun, mengisi dengan air dingin. Setelah merasa air cukup panas, ia mencampur dengan air dingin.
“Lio, apa di kamar ada handuk kecil?”
Adelio mengangguk. “Ada Ma, di kamar Lia.”
Mereka kembali ke kamar di lantai atas, Adelio berlari masuk ke kamar mandi dan mengulurkan handuk pada Althea. Perlahan Althea mengompres Adelia. Anak perempuan itu terus merintih dan mengigau. Dia mulai tertidur dengan tenang saat panasnya mulai mereda.
Althea mengambil tisu, mengelap keringat anak perempuan itu. la tak habis pikir, saat ada anak kecil sakit dan ditinggal tanpa pengawasan. Ke mana perginya pengasuh mereka? Bukankah harusnya malam ada di rumah? Kenapa Adelio meneleponnya?
“Lio, ke mana Bi Marni? Dari tadi tidak kelihatan?”
Tidak ada jawaban dari bocah kecil itu. Althea menoleh dan mendapati Adelio tertidur di samping Adelia. Seulas senyum muncul dari bibirnya. Mendadak, rasa kantuk menguasainya. Althea membuka sepatu, berbaring di sebelah Adelio dan memeluk anak itu. Dalam hitungan menit, ia tertidur pulas.
°♡°♡°♡°
Pagi menjelang, sebentar lagi matahari akan muncul di ufuk Timur, mengusir embun dan udara sejuk pagi hari. Evander baru saja memarkirkan kendaraannya di carport, sedikit lelah untuk memarkirkannya ke dalam garasi. la meraih koper kecilnya di jok tengah lalu menyeretnya masuk. Pertemuan bisnisnya di kota Malang yang berjalan hingga larut-lah yang membuatnya memutuskan untuk pulang di pagi buta.
Rumah masih sangat sepi, belum ada penghuninya yang bangun. Cukup aneh karena biasanya Bi Marni sudah berkutat di dapur jam segini. Evander memutuskan akan memeriksa kondisi rumahnya yang tidak biasa ini.
Langkah Evander terhenti di ruang makan. Melepaskan jaket dan mengambil segelas air dari dispenser, lalu meneguknya. Beberapa hari ia tinggalkan, rumah dalam keadaan sama. Tidak ada yang berubah, juga tidak ada tanda-tanda kenakalan dua anaknya, yang biasa suka mengacak-acak.
“Kali ini, pengasuh mereka bekerja dengan benar. Anak-anak bisa dikendalikan,” gumam Evander dengan senang.
Selesai minum, ia mencuci gelas bekasnya di westafel. Mengernyit saat mendapati panci di atas kompor. Tidak biasanya begitu, Bi Marni selalu merapikan dapur setiap ia selesai memasak. Siapa yang baru selesai memasak?
Evander memutuskan untuk membersihkan diri dahulu, menarik koper menuju kamar, ia membuka pintu dan tertegun. Di ranjanganya, kedua anaknya sedang berbaring dengan seseorang yang tidak dikenal. la mengernyit, mendekati ranjang dan bingung dengan pemandangan yang dilihat.
Seorang wanita bergaun navy, berbaring memeluk Adelio. Ujung gaun wanita itu tertarik hingga nyaris ke pangkal paha dan menunjukkan kakinya yang jenjang dan mulus. Evander menghela napas panjang, memiringkan kepala. Tidak habis pikir ada seorang wanita asing, berbaring di ranjangnya bersama kedua anaknya.
“Siapa kamu? Kenapa ada di kamarku?”
Evander bergumam pelan, dan tidak ada jawaban. Samar-samar ia mendengar dengkur halus dari mulut wanita itu. Menghela napas panjang, Evander duduk di kursi, menatap kedua anaknya dan si wanita. Mau tidak mau, ia harus menunggu mereka bangun untuk mendapatkan jawabannya.
...
Billy merajuk dengan ibunya, ia menangis dan pergi dari rumah saat hujan. Berlari kencang tanpa memedulikan sekitar hingga terjatuh, kaki kecilnya terluka. Hampir saja sebuah motor menyerempetnya. Tangis Billy makin menjadi karena ketakut, wajah pengendara motor itupun terlihat tak ramah. Untunglah, ibunya segera datang, dengan membawa payung, menghampiri dan menggendongnya.
“Ssstttt... cup... cup..., anak tampan. Sudah... sudah... Jangan menangis, ada ibu di sini.”
Ibu Billy berbicara dengan pengendara motor yang galak, Billy merasa tenang karena ibunya ada bersamanya. Dia menyesal, sudah merajuk dan memilih pergi dari rumah. Padahal dirinya yang keras kepala dan ibunya selalu baik, selalu ada dan membelanya saat orang lain marah.
°♡°♡°♡°
Bi Marni menutup buku dongeng yang baru saja dibacakan untuk si kembar, entah kemana pengasuh mereka kali ini. la tersenyum saat kedua anak kembar itu menatapnya sambil mengernyit dan terlihat tidak puas. Sikap keduanya begitu menggemaskan, sayangnya kekurangan perhatian orangtua.
“Kenapa? Ada yang mau kalian tanyakan?”
Adelio menggeleng. “Bi, ibu itu apa? Apa sama dengan Mama?”
“Iya, Lio. Ibu itu sama dengan mama. Nama lainnya Mama ya Ibu.”
“Apa Mama ada kalo Lia nangis?”
“Iya, sayang.”
“Malahin olang yang jahat ke kita juga?” Tanya Lio
Bi Marni terdiam, memikirkan kata yang tepat untuk menjawabnya, lalu mengangguk. “Ibu marah demi membela anak.”
“Mama gendong Lia sama Lio juga?”
“lya, memangnya Lio kenapa minta digendong?”
“Kalau jatuh dan sakit.”
“Kalau gitu Mama kita dimana, Bi?”
Habis sudah kata-kata Bi Marni, tidak tahu harus menjawab apa. Ia sadar bahwa si kembar ini sangat merindukan kehadiran sosok Mama. Sejak mereka lahir kedunia, takdir telah merampas sang Mama dari keluarga kecil ini.
Wajah Adelio yang mungil menatap asisten rumah tangganya dengan pandangan bertanya-tanya. Ada banyak hal yang ingin ditanyakan tapi tidak tahu harus bicara seperti apa. Keduanya tidak akan mengerti tentang itu.
“Lio sama Lia, tunggu di sini. Jangan ke mana-mana, Bibik mau ke dapur sebentar ya,”
Adelio dan Adelia mengangguk, menatap kepergian Bi Marni. Tidak ada orang lain, dan langit mulai gerimis. Mereka berdua duduk bermain di teras, tiba-tiba terdengar suara khas penjual ice cream keliling. Adelio bangkit dari kursi, menyeberangi halaman luas dengan kaki kecilnya dan keluar dari rumah melalui pagar yang sedikit terbuka.
“Liooo... tungguin Lia!”
°♡°♡°♡°
Sepasang kaki jenjang beralaskan sandal jepit ungu melangkah cepat di bawah guyuran gerimis yang makin deras. Sambil menggerutu dan menggenggam erat payung ungu-nya, Althea merutuki dirinya sendiri. Tadinya ia pikir ke apotik depan komplek saja, tidak perlu membawa kendaraan, toh langit hanya mendung saja. Akhirnya ia tidak jadi mengeluarkan scuter-nya dari garasi, apalagi mobil, jalan kaki lebih sehat.
Jalanan mulai basah dan becek, nampak genangan air kotor mulai terbentuk. Beberapa sepeda motor yang melaju agak cepat, sesekali mencipratinya dengan air. Makin menggerutulah Althea, mendapati ujung celana rumahnya juga sendal kesayangannya kotor.
“Orang-orang sekarang bisa beli motor tapi nggak bisa beli otak. Sudah tahu lagi hujan malah naik motor kenceng-kenceng!” Althea menggerutu, sedikit menggulung ujung celananya ke atas agar tidak terkena air.
Althea baru pindah ke perumahan ini beberapa minggu yang lalu, dan dibuat bingung dengan jalanannya yang rusak. Padahal perumahan ini masuk dalam komplek yang terhitung ekslusif. Mungkin karena konsep perumahan ini adalah pembelian dalam bentuk tanah kavling, sehingga pemilik bebas mendesain sendiri rumahnya. Akhirnya jalanan utama komplek sering dilalui kendaraan proyek yang merusak paving jalan.
Awalnya, ia kaget saat tahu rumah yang akan ditinggali berada di kawasan elit dan mewah dengan jalan masuk ke perumahan ternyata becek dan hancur. Bukan hanya sekali ia menemui kondisi jalanan depan komplek yang seperti ini. Di Surabaya rata-rata begitu. Para pengembang hanya membangun jalan untuk komplek, tidak mau repot-repot dengan jalanan umum yang dianggap sebagai kewajiban pemerintah untuk memperbaiki.
Napas Althea tersengal karena berjalan jauh. Menyesal tidak membawa scuter-nya dan sekarang merasa kesulitan. Dua blok berhasil ia lewati dan saat di kelokan terakhir langkahnya terhenti. Seorang pengendara motor sedang memaki dua orang anak kecil yang menangis di pinggir jalan. Entah apa yang terjadi dan ia tidak menyukainya.
“Bocil, hujan-hujan, tuh, di rumah. Bukannya di jalanan dan bikin repot!”
Althea menyeberangi jalan, menghampiri anak-anak itu dan menutupi tubuh keduanya yang basah dengan payung dan berjongkok di hadapannya.
“Anak-anak manis, kalian tidak apa-apa?”
Kedua anak kembar itu mendongak, wajah mereka sudah dibasahi hujan dan air mata. Mendadak, kedua anak itu berteriak keras sambil memeluk Althea.
“Mamaaaa...!!”
“Wait... Mama? Siapa Mama?”
“Eh, tunggu. Kalian siapa?” tanyanya bingung.
Althea hampir terjengkang, saat dirinya dipeluk erat. Pikirannya kacau karena ada dua anak tak dikenal memanggilnya mama.
“Oh, ada mamanya. Bagaimana kerja kamu jadi orang tua, hah! Anak dibiarin hujan-hujan. Lihat, nih, aku hampir jatuh karena ngindarin anak itu!”
Althea tersadar, masih ada pria itu di belakangnya. Ia menarik napas, berdiri dengan susah payah sementara kecua anak kecil itu masih memegang erat kakinya. la berkacak pinggang, menatap pria yang sekarang sedang menatap sok galak. Althea adalah wanita yang lembut dan sangat penyabar, namun entah kenapa kalimat pria tadi mampu menaikkan tensinya.
“Tadi kamu bilang apa? Kamu hampir jatuh? Kamu yakin jatuh karena mereka dan bukan karena kamu yang nggak bisa bawa motor?”
“Heh! Mata kamu bisa lihat kan? Lihat ini tangan aku lecet-lecet!”
Althea menyipit, menatap tajam pada pria itu kemudia beralih pada motornya. Sambil mendekat, dengan mata jelinya ia bisa melihat kalau ban motor itu gundul bahkan ada beberapa bagian yang melembung seperti bisul. Tidak heran kalau motor itu tergelincir saat melewati genangan air.
“Ada anak kecil jatuh. Kamu bukannya bantu malah dimaki-maki. Sakit jiwa kamu, ya?”
“Eh, Mama gila kayak kamu, masih nyolot! Urus anak kamu yang bener.”
Althea yang kehilangan kesabaran, menutup payung. Membiarkan air membasahi tubuh dan bajunya. la menunjuk pria itu dengan ujung payung dan kembali berteriak.
“Jangan dikira, aku akan diam aja kamu aniaya anak ini. Sini kamu maju, aku gebok!” la mengayunkan payung dan berniat memukul pria itu, sebelum akhirnya mendengar starter dinyalakan.
“Wanita gila!”
Makian pria itu masih sempat terdengar sebelum sosoknya menghilang. Althea menghela napas panjang, menunduk dan menatap anak laki-laki yang masih memeluk kakinya. la tersenyum, mengusap rambut anak itu.
“Teman kecil, di mana rumahmu?”
Salah satu dari anak itu menunjuk ke arah yarng sama dengan rurmahnya. Althea mengamati keduanya dan menyadari kemiripan wajah mereka, sepertinya mereka anak kembar. Hujan mulai reda, Althea menutup payungnya.
“Ayo, tante antar kalian pulang.”
Anak itu mengangguk. “Mama …”
“Tante, aku ini tante bukan mama.”
“Tidak, kamu Mama.”
Althea menghela napas, menyadari tidak ada gunannya berdebat dengan anak kecil. Dengan perlahan, ia melepaskan pegangan anak itu di kakinya meraih tangan mungil mereka. Masing-masing tangannya menggandeng salah satu dari mereka.
“Ayo, tante antar pulang.”
Baru beberapa langkah, mereka terhenti. Althea menyadari kalau salah satu anak yang di gandengannya terluka, dan jalannya pincang. Ia memeriksa kaki dan mendapati ada banyak lecet di betis dan dengkul kanan. Menghela napas, ia berjongkok.
“Kakimu sakit?”
Si anak mengangguk. “lyaa.”
“Kasihan.” Althea mengambil selembar tisu dari dalam tas yang dibawa dan mengusap lecet-lecet di tubuh anak itu. “Sampai rumah langsung pakai obat.”
“Terima kasih, Mama.”
Althea tersenyum kecut. “Ayo, naik punggung tante. Kakimu luka.”
Wajah anak itu tersenyum cerah, mengalungkan lengannya yang mungil ke leher Althea dan membiarkan dirinya digendong.
“Hai cantik, di mana rumah kalian.”
“Di sana.” Anak itu menunjuk arah depan.
“Kebetulan, rumah tante di sana juga. Rumahmu nomor berapa?”
“Dua belas.”
“Hah, kita bertetangga dong. Rumah tante nomor tiga belas.”
Mendadak Althea teringat sesuatu dan menoleh. “Rumah kalian yang pagar hitam?”
Kedua bocah itu mengangguk kompak dengan wajah menggemaskan.
“Besar dan luas itu?”
Lagi-lagi keduanya mengangguk. Althea mengeluh dalam hati, bagaimana mungkin anak dari orang kaya bisa berkeliaran di jalanan saat hujan. Ke mana orang tuanya dan kenapa anak yang ada di punggungnya sekarang, memanggilnya mama. Kepalanya penuh dengan pertanyaan.
Dengan anak kecil di punggungnya, langkah Althea semakin melambat. Agak terengah dan satu tangan menggandeng bocah laki-laki. Tangan lain berada di pinggul si bocah perempuan, memastikan anak itu tidak jatuh. Di dekat rumah besar itu, ia melihat satu pria dan seorang wanita, berteriak di tengah hujan.
“Bibikkk!”
Saat mendengar teriakan kedua bocah itu, orang-orang di depan menghampiri Althea dan berucap histeris.
“Lio Lia, kalian kemana aja, sayang? Bibik tinggal sebentar malah hilang!”
Wanita tua menyambut mereka dan berniat menggendong anak kecil itu, sayangnya ditolak.
“Nggak mau, Lia mau sama mama.” la meringkuk di punggung Althea dan membuat orang-orang yang melihat tercengang.
“Kalian keluarga anak-anak ini?” tanya Althea. Wanita yang lebih tua mendekat.
“Maaf, Nona. Aku Marni. Penjaga rumah ini. Karena Adelia tidak mau turun, bisakah Nona mengantarnya ke dalam? Maaf, merepotkan.”
Mendengar permintaan sopan dari wanita itu, Althea mengangguk. Diikuti yang lain, ia masuk ke rumah besar dengan halaman cukup luas. Sesampainya di teras dengan sebuah sofa panjang dan beberapa kursi rotan, ia menurunkan anak dari punggungnya. Dibantu Marni, mendudukkan anak itu ke sofa.
Althea tersenyum, mengusap rambut anak itu. “Namamu siapa, Sayang?”
“Adelia. Dan ini kembaranku, Adelio”
“Adelia Adelio, anak baik, lain kali tidak boleh keluar lagi saat hujan atau juga sendirian, bahaya”
Keduanya mengangguk kompak dengan mata membola. “lya, Mama.”
Althea berucap sambil tersenyum. “Aku masih terlalu muda buat jadi mama. Daah, Adelio Adelia. Sampai ketemu lain kali. Rumah tante di samping, nomor 13.”
Althea membalikkan tubuh, melangkah ke halaman. Tugasnya sudah selesai. Namun, lengkingan dari belakang membuatnya menghela napas panjang.
“Mamaaa! Lio mau mama.”
“Mamaa, Lia ikut!”
Dua pasang tangan yang kecil kembali merangkul kakinya. Althea terdiam, menatap langit mendung dengan hujan yarng telah berhenti. Di belakangnya, terdengar banyak bujukan dari orang-orang pada si kembar, sayangnya anak-anak kecil itu tidak mau melepaskan kakinya. Akhirnya, ia mengalah. Mencoba berpikir realistis kalau melakukan semua ini demi kemanusiaan. Si kembar sedang membutuhkan bantuan dan ia tidak mungkin tinggal diam.
“Baiklah, tante antar kalian ke dalam. Lio, Lia, kalian harus mandi mandi dan ganti baju. Dan untuk si cantik ini, mari kita obati luka-lukanya.”
Althea meraih tubuh kedua anak itu dan menggandengnya masuk. Ia tidak menyangka kalau pertolongannya pada bocah yang hampir ditabrak motor, membawa banyak dampak dalam kehidupannya. Saat kakinya menginjak karpet ruang tamu, Althea tidak menyadari kalau nasib dan takdirnya sudah ditentukan.
Setelah hari itu, si kembar benar-benar menganggapnya seorang mama. Kedua bocah itu mendatangi rumahnya bersama si pengasuh, meminta nomor ponselnya dan setiap malam akan melakukan panggilan video. Althea tidak tahu siapa orang tua mereka. Ia hanya mendengar dari Marni kalau sang mama sudah meninggal, dan sang papa sedang bekerja di luar kota. Tidak peduli meski dilarang, keduanya terus mendatangi rumah Althea, dengan lantang memanggilnya mama.