Bab 2

Secangkir kopi di meja menemani pria itu, sesekali ia menyesapnya. Tanpa rokok, dan minuman alkohol di depannya.

Artis yang baru saja naik daun itu mengambil sela-sela waktu luang unfik memainkan game drumnya yang berada di ponselnya sendiri supaya tidak merasa jenuh.

Tangannya merogoh ke saku, dia baru menyadari kalau dompetnya sudah tidak ada di saku miliknya.

"Dompetku dimana?" gumamnya meraba sakunya, matanya melihat ke kanan dan kiri untuk mencari barang berharga itu. Tidak ada di sekitarnya. Lantas, dompetnya sekarang di mana?

"Shit! Jangan-jangan?" ucapannya tergantung saat mengingat kalau dirinya tadi berlari-lari di jalanan. Bisa jadi dompetnya jatuh di sekitar sana.

"Aish!" Pria itu mengacak rambutnya sekilas, ia menelpon Asistennya untuk menyuruhnya mencari dompet yang hilang.

"Ronald, bisakah kau mencarikan dompetku?"

'Di mana? Biar aku carikan. Kebetulan aku masih di perjalanan kantor.'

"Di jalan Mawar, tadi aku sempat kepergok dengan penggemarku di sana."

'Lagian itu salahmu sendiri, aku akan mencarikan dompetmu,' ucap Ronald sebelum dirinya menutup ponselnya. Ronald ini adalah Asisten pribadinya, dia sangat setia menemani Benard dari nol sampai sekarang.

Benard menghela napasnya, tubuhnya di sandarkan di sofa. Matanya terpejam, tiba-tiba saja ia menguap pelan. Sepertinya, dia butuh istirahat sejenak sebelum melanjutkan kegiatannya nanti.

Selang 30 menit lebih, akhirnya Asisten yang di maksud tadi sampai di kantornya atau studio yang dibuat untuk latihan untuknya.

Ronald menatapnya tidak tega, ia meletakkan makanannya di meja yang berada di sana. 

"Benard!" Ronald menepuk pelan bahu Benard, sehingga membuat pria itu terlonjak kaget. 

"Ahh--shh, so--sorry aku ketiduran tad."

Benard menghela napasnya, wajahnya diusap sekilas untuk menyadarkan dirinya sendiri. Pria itu melirik makanan yang sudah berada di mejanya. 

"Dompetnya tidak ketemu, kau bawa  ke mana saja coba heum?" tanya Ronald menduduki sofa di samping Benard.

"Kalau aku tau pasti aku sudah mengambilnya," desis Benard pelan, kemudian membuka bingkisan yang diberikan oleh Ronald.

"Kau yang membelinya?" tanya Benard sesekali melirik Ronald. Pria yang disampingnya hanya mengangguk kecil, pertanda dirinya mengiyakannya.

"Lagipula kau juga pasti belum makan kan?"

Benard menganggukkan kepalanya dengan pelan, dugaan Ronald memang benar dirinya belum makan. 

"Setelah makan kita keluar dari sini, sesekali mencari angin. Daripada kau mengurung diri di kantor."

Benard memakan spagetinya dengan pelan, sesekali meminum jus jeruk yang sudah di belikan oleh Ronald tadi. 

"Aku sudah mencobanya tadi, tapi gagal," dengkusnya, sambil mengunyah makanannya. Sudut matanya melirik ke Asistennya itu. 

Ronald hanya mendecih pelan, sepertinya Benard sudah gila. Berlari dari serbuan wartawan penggemarnya dan pergi tanpa dirinya. 

"Kau sudah makan?"

Ronald mengerutkan keningnya. "Sudah."

"Yakin?"

Ronald menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Serius, aku sudah makan tadi sebelum pergi ke sini."

Benard hanya berdehem. Lalu melanjutkan makannya yang sempat tertunda. 

Tidak butuh waktu lama, akhirnya mereka memutuskan untuk keluar dari kantornya. Dengan memakai masker dan juga topi untuk menutupi wajah supaya tidak ada yang mengenalnya.

***

Pantai Hongdae-Pukul 15.00

Ronald membantu membuka pintu untuk Benard. Segera Benard keluar dari mobil tersebut setelah sampai di salah satu resort yang mempunyai fasilitas lengkap dan tentunya dekat dengan Pantai Hongdae. Mereka berjalan menelusuri lobi. Ternyata benar karyawan di sini sudah mengenalnya, dan untungnya resort ini sudah dibayar penuh oleh Ronald.

Pegawai di sana menyapanya dengan senyuman, dan mereka juga membalas dengan senyuman. Bukan hanya damai, tetapi di sini orangnya juga ramah. 

"Aku tidak yakin kalau mereka tidak mengenaliku di sini."

Ronald fokus dengan dengan ponselnya. "Aku sudah menyewa tempat ini untukmu, dan seratus persen aman buatmu. Jadi, kau tidak perlu khawatir lagi," ujar Ronald diselingi dengan senyumannya. 

"Kau serius?" tanya Benard meyakinkan dirinya sendiri. Ronald hanya mengangguk mantap. 

"Sebenarnya sih kau juga ada panggilan, buat dijadikan model di salah satu produk."

"Di mana? Sekarang?"

Ronald menggelengkan kepala nya. "Besok, di sini."

Benard menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu kita sekalian menginap saja di sini."

"Dua hari?" tanya Ronald, menjajarkan jalannya dengan pria itu. 

"Iya." Ronald menganggukkan kepalanya paham.

"Silahkan ke sini, Tuan Benard," kata salah satu karyawan  yang berada di sana. 

Benard melihat ke sekitar, menurutnya disini penginapan yang sangat unik. Dia memang sering menginap di mana-mana, tapi ini adalah tempat yang berbeda dengan penginapan lainnya. 

Di sana terdapat sarana yang sangat lengkap, terutama kolam renang, taman, dan juga tempat berbelanja. Di tambah dengan suasana pantai yang tidak jauh di sana. 

Benard terhenti di depan kamarnya, sekilas ia memberi senyuman kepada karyawan tadi yang sudah mengantarkannya. "Thankyou," ujarnya sebelum dia masuk ke dalam kamarnya.

"Iya, saya balik dulu. Tuan." Karyawan itu membungkukkan 90 derajat, sebelum dirinya pergi dari tempat itu. Benard hanya tersenyum lembut.

Di dalam kamarnya, ternyata bisa menatap pemandangan pantai tanpa keluar.

Kemeja yang dikenakannya di buka dan digantungkan di gantungan sana. Ronald, sudah sibuk di luar dengan karyawan. Entah apa yang mereka bicarakan, Benard tidak peduli. Yang ia inginkan sekarang hanyalah tidur. 

Matanya dipejamkan, dan menikmati AC di dalam sana. Dan lama kelamaan akhirnya pria itu tertidur dengan lelap.

***

Dilain sisi, Adara yang sedang membantu Ibunya membuat kue di rumah sederhana itu. Kue itu bukan di makan sendiri, melainkan di jual untuk orang-orang yang menginginkannya.

"Sudah selesai, Bu," ujar Adara sambil meletakkan kardus yang di dalamnya terdapat kue.

"Oh ya, kue itu kirim ke alamat ini, ya." Ibu Lastri memberi sebuah kertas yang bertulisan alamat restoran yang jauh dari tempatnya. 

Adara membaca alamatnya, tanpa menolak sedikitpun ia langsung pergi dengan motor kesayangannya, sebelum itu Adara pamitan dengan Ibunya.

"Alamatnya jauh sekali, huft …." Adara menghembuskan napasnya kasar. Gadis itu menambah kecepatan motornya supaya dirinya cepat sampai di tempatnya, tetapi setidaknya jualan Ibu Lastri bisa terkenal dan bisa cepat habis. Lebih baik seperti itu.

Beberapa jam kemudian~

Akhirnya gadis itu sampai di depan restoran tersebut. Wajahnya tercengo ketika melihat restoran yang begitu mewah. Jujur saja, dirinya baru sekali ini masuk ke dalam sini.

"Selamat pagi, Nona. Apa bisa saya bantu?" tanya salah satu resepsionis yang berada di tempat sana. Tentunya suara itu membuat gadis itu sedikit shock, lalu dia menganggukkan kepalanya. 

"I--ini. Saya mau mengantarkan kue yang sudah di pesan." Adara memperlihatkan kertas alamatnya. 

"Ohh-- Nona masuk saja. Cari kamar nomor 105. Tadi dia berpesan pada saya."

Adara mengangguk kecil, gadis itu melanjutkan jalannya ke lobi tersebut. 

"Kamar 105, di sini ya?" ujar Adara sambil celingak-celinguk ke sekitar supaya tidak salah kamar.  Tanpa basa-basi Adara mengetuk pintunya, tidak ada jawaban apapun.

"Ckk, jangan bilang orangnya keluar," gerutunya dengan nada pelan.

Tok! Tok!

"Permisi! Tuan!" teriak Adara dengan nada keras.  Lima menit, tidak ada yang membukanya bahkan tidak ada yang menjawabnya.

"Ke mana sih orangnya?" gumam Adara dengan nada kesalnya, sesekali ia melirik jam tangan yang menunjukkan pukul 16.30.

Adara menghela napasnya, dengan nada kesalnya ia duduk di depan pintu tersebut.

Setengah jam kemudian, gadis itu masih menunggu di depan pintu. Tiba-tiba saja ada seseorang yang membukanya, siapa lagi kalau bukan Benard. Sontak, membuat wanita itu shock, lalu dirinya cepat-cepat untuk berdiri.

"Tuan ini--" Belum saja gadis itu memberi bingkisannya, tetapi dia terdiam di tempat saat melihat pria yang berada di hadapannya kini telanjang dada.

"Aaaa!!!!" jerit Adara dengan keras begitupun pria itu. "Mau apa kau hah!" teriaknya sambil menutup wajahnya pakai sebelah tangan.

Tapi pria itu tidak meresponnya, tanpa basa-basi pria itu menutup pintunya.

Brakk!

"Sial, kenapa ada orang di sini, jangan bilang dia sasaeng?" gumam pria tersebut. Tanpa basa-basi pria itu mencari kaos di lemari dan memakainya. Setelah itu, dirinya keluar kembali untuk menemui Adara kembali.

"Kenapa balik lagi hah!" ucap Adara dengan nada tinggi, wajahnya masih tertutup dengan tangannya.

Pria itu mendengus pelan, lalu mengambil bingkisannya tadi. "Buka matamu."

Adara terdiam sejenak, lalu mengintip dari sela-sela jarinya. Ia melirik dari sudut matanya, ternyata pria itu sudah memakai baju.

"Lagian, kenapa kau tidak memakai baju hah! Takut kehabisan pakaian di sini! Atau bagaimana!" ucap Adara dengan nada tidak terima.

Benard mengerutkan keningnya, matanya dipicingkan menatap gadis yang berada di hadapannya ini, sedikit meringis kecil sembari bersedekap dada.

"Sebentar? Sepertinya wajahmu tidak asing?" ucap Benard dengan wajah polosnya. Sesekali ia melihat dari bawah ke atas.

Adara terdiam, melihat wajah Benard dengan seksama. Mulutnya seketika berbentuk huruf O. 

"K--kau?" ujar Adara sambil menunjuk ke wajah Benard. 

"Kenapa kau berada di sini!"

"Harusnya aku yang tanya kepadamu!?" ucap Benard tidak kalah keras daripada gadis itu.

"A--aku?" ujar Adara sambil menunjuk dirinya sendiri. Pandangannya ke mana-mana, sekilas ia melirik bingkisan tersebut. Kenapa gadis itu mulai linglung saat berada di depan pria ini.

"Mau-- mengantarkan kue itu! Mana kuenya!" Adara hendak mengambilnya, tetapi Benard menghindarkan bingkisan tersebut.

"Bingkisan ini sudah jadi milikku," ucap Benard dengan tersenyum lebar. 

"Hei! I--itu punya orang!" Benard memutarkan tubuh Adara, lalu mendorongnya supaya pergi dari tempat ini.

"Terima kasih!" teriak Benard, sebelum pintunya di tutup.

Brakk!

Matanya membulat, ia langsung balik badan lagi. Langsung saja ia menggedor pintu tersebut dengan keras.

"Hei! Kau belum membayarnya!" teriak Adara dengan keras. 

"Pria gila! Bagaimana bisa kau bisa mengambil makananku tanpa membayar!" lanjutnya, masih setia mengetuk pintu tersebut dengan keras. Demi apapun, cuma pria ini yang membuat gadis ini naik darah. 

"Hei! Buka pintunya!" teriak Adara dengan sangat keras.  Pintunya terbuka, pria itu langsung meletakkan uang 200 ke kening Adara.

"Sudah aku bayar, kan? Lebih baik kau kau pergi dari sini."

Adara terdiam, tangannya meraba ke kening untuk mengambil uang tersebut. Mata Adara di lebarkan, dengan wajah kesalnya ia melangkah pergi dari tempat itu. 

Sesekali gadis itu melirik ke belakang, sambil menjulurkan lidahnya ke belakang.

Tanpa Benard sadari, dirinya terkekeh kecil melihat tingkah Adara barusan. "Dasar, tidak punya urat malu," ujar Benard sambil menggelengkan kepalanya, sebelum dirinya masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya. 

Benard membuka kardus yang berisi kue tersebut, lalu mencicipi kue tersebut dengan hati-hati. 

"Ternyata enak juga, apa gadis itu yang membuatnya?" gumam Benard, sejenak menikmati kue yang dimakannya.

Bab 3

"Selamat malam, Tuan Benard," ucap wanita berparuh baya tersebut dengan sopan. Dia menjabat tangannya ke Benard, lalu pria itu membalas jabatanya.

"Selamat malam juga, Nyonya," ucap Benard dengan sangat lembut.

"Ternyata kau sangat ramah juga ya."

"Terima kasih sudah datang di ulang tahun putriku, dia sangat mengidolakanmu. Jadi, saya sebagai orang tuannya harus mengikuti permintaan dia," ucap Ayah dari Kitty.

"A--ah bisa saja." Benard sempat terkekeh kecil, mendengar pembicaraan dari mereka. Sebenarnya dia juga kaget karena acara mendadak pada malam hari ini juga, padahal dia juga barusan pulang dari liburannya. Seharusnya dirinya juga harus istirahat untuk kerja besok. Tapi bagaimana lagi, ini sudah jadwal dari menegernya.

"Sebentar lagi akan dimulai, apa bisa aku buka terlebih dahulu?" tanya Ronald kepada mereka.

"Ah ya ... silakan?" Ayahnya mempersilahkan Benard untuk naik ke atas panggung kecil yang sudah disediakan untuk menghibur orang-orang yang sudah di undangnya.

Hari semakin malam, pemotongan kue pun selesai. Semua fokus dengan kegiatan masing-masing. Ada yang memakan makanan yang berada di sana, mengambil gambar, dan juga tertawa bersama. Berbeda dengan gadis kecil yang berada di meja sambil memotret makanan tidak jelas.

"Kayaknya enak, tapi sayang Mama tidak pernah mau membelikan aku kue yang aku mau," ucap gadis tersebut sambil mengerucutkan bibirnya. Dia terus berjalan sembari memakan cupcakenya. Dia mendengar suara hp-nya berbunyi lalu mengambil untuk melihatnya.

Mata Adara terbelalak saat membaca email masuk dari kantor yang di masuki oleh Adara kemarin, bukan kantor yang menolaknya waktu itu, melainkan kantor lainnya.

"Uhuk! Apa ini serius?" Adara tidak percaya kalau dia akan diterima dikantor tersebut. Ia bersorak sambil meloncat kegirangan.

Semua terdiam, pandangan mereka tertuju ke Adara, sepertinya dirinya memang sudah gila berteriak di depan publick.

"Kakak! Bikin malu Kitty aja ih-" teriak Kitty sambil menarik tangan Adara kebelakang dengan cepat.

"Eh, Dik?" Adara mengikuti adiknya tersebut.

Dik?

Ya, Kitty adalah Adik Adara. Dia masih berumur 17 tahun selisih sedikit dengannya. Meskipun dia sudah tua, tetapi mereka seperti saudara yang sangat akur.

Gadis itu? Gumam Benard saat melihat Adara yang berada tidak jauh dari tempatnya.

"Siapa gadis tadi? Aku sepertinya pernah melihatnya," tanya Benard basa-basi ke Ronald dengan tatapan tanda tanya. Ronald menaikkan bahunya, seakan dia tidak tau. Ya, memang dia sebenarnya tidak tau sih.

"Eh maaf Tuan, tadi Anak saya yang paling tua. Mungkin dia kehabisan obatnya." Ayah Kitty mengelak. Benard menautkan alisnya lalu mengangguk paham.

"No problem."

Benard segera naik ke tempat yang sudah tersediakan dan melakukan perfom beberapa lagu untuk mereka yang masih berada di tempat tersebut. Alunan piano terdengar merdu di telinga mereka terutama Adara.

Suara itu terdengar sangat lembut, dan pastinya sangat menghayati.

"Kak, Kak Benard tampan sekali sumpah," ucap Kitty memandangi Benard dari bawah panggung.

Benard? Pria? ah-- pria kemarin itu? Gumam Adara sambil menatap ke arah panggung.

"Oh ya! Benar kenapa aku baru menyadarinya," umam Adara sambil meneguk salifanya. Wajahnya bersemu merah.

Kenapa dia berada di sini! Aduh, aku sangat malu kalau mengingat kejadian-- batin Adara, dia merngis kecil ketika mengingat waktu dirinya melihat tubuhnya tanpa sehelai kain di badannya. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, untuk mengusir ingatan tidak jelas itu.

I give you all, all of me

And you give me all, all of you

[Bruno Mars_All Off Me]

"Tapi, kalau dilihat dia sangat tampan juga. Suaranya juga bagus banget! Tapi-- sikapnya ahh-- tidak bisa tata krama," ucap Adara dalam hati kecilnya.

"Kak lihat deh dia udah lembut, tampan, mutitalent. Tau tidak? dia itu jago bermain alat musik apapun. Pokoknya Perfect! Apalagi ya, dia dari agensi yang terbilang sangat terkenal!" ucap Kitty sambil tersenyum tidak jelas menatap Benard yang berada di panggung sana.

Adara yang melihat Kitty hanya bergidik geli, sembali memutarkan bolamatanya. Rasanya bulu kuduk Adara ingin berdiri.

"Kamu sama aja gilanya seperti dia," ucapnya dengan cepat. Dia terus memandangi Benard yang masih berada diatas sana.

Adara diam-diam melangkah pergi dari samping Kitty.

"Eh, Kak! Mau ke mana?"

Adara tidak meresponnya. Dia berlari ke belakang. Diam-diam dia mengambil videonya serta gambar dari Benard.

"Bagus," gumam Adara.

"Huh akhirnya, acaranya sudah selesai hoamm ...." ucap Adara sambil diselingi dengan uapannya. Matanya sudah sangat berat, yang dia inginkan sekarang adalah tidur dikasur kesayangannya.

"Adara, bantu Mama tutup pintu yah kalau sudah sepi! Mama capek ingin tidur," teriak Mama Sherly, selaku Mama Adara.

"Ayah juga, selamat malam putri cantiknya Ayah." Ucapan Mama dan Ayahnya membuat langkah Adara terhenti. Mereka menuju kearah kamarnya masing-masing. Kitty? Dia masih bercengkrama dengan temannya.

"Ayah Mama!" rengek Adara, dia terlihat sangat kesal. Kakinya dihentakin sambil menggerutu tidak jelas.

Menyebalkan! Batin Adara, mukanya sangat kusut, bukan hanya mukanya pakaian yang dia kenakan juga sangat kusut. Dia melangkah kedepan teras rumahnya lalu menyender diambang pintu. Kenapa tidak menyuruh Kitty? Toh, dia juga masih ngobrol sama temannya.

Dia terus menguap, matanya hampir tertutup. "Sial banget," gerutunya.

"Mau apa kau di sini, hah?"

"Aku mau bertemu sama kamu, Benard. Aku merindukanmu." ucap wanita tersebut dengan rengekan manjanya.

"Bisa lepas!"

"Tidak!"

Suara bisingan itu membuat telinga Adar memanas. "Berisik sekali, siapa sih!"

Adara mencari sumber suara tersebut, meskipun matanya sudah berat untuknya.

Terdapat sepasang kekasih yang sedang bertemu disamping rumahnya. Nampaknya tidak asing, Adara memincingkan matanya, kenapa mereka masih di sini tidak mencari tempat lain, kenapa harus disini. Ia berdecak pelan.

Dia masih penasaran dengan pria gila tersebut. Pria itu terlihat mendekat kearah gadis tersebut.

Apa jangan-jangan dia mau cabul? Mata Adara membulat ketika jangka mereka terlalu dekat.

"Tidak bisa dibiarin, lihat aja," ucap Adara pelan.  Tanpa mereka sadari dia mengambil gambar mereka secara diam-diam.

Adara melangkahkan kakinya dengan sangat pelan sambil melihat hasil gambar mereka.

"Hei, kau tau Benard?" tanya Ronald tiba-tiba, membuat Adara terhenti melihat gambar di kamrea tersebut, lalu menatap pria yang sempat mengagetkannya tadi.

"Be--benard?" Adara menerjapkan matanya seolah-olah dia bodoh.

"Di- dia ...." Kepala Adara di gelengan dengan cepat dan menahan rasa gugupnya.

"Hei, maaf menunggu lama," ucap seseorang dari belakang Adara, siapa lagi bukan Benard. Tubuh Adara menegang ketika terdengar suara yang familiar di telingannya, sesekali menggerutu di dalam benaknya.

Aduh, kenapa pas banget, batin Adara.

"Kenapa kamu sama perempuan ini? Kekasihmu?" Benard mengerutkan keningnya, menatap Adara dengan wajah penasaran.

Adara berbalik arah, lalu menatap Benard dengan tampang tidak bersalah, tidak lupa dengan cengiran khasnya.

"Kau? Dari kapan kau di sini?!" mata Benard membulat ketika melihat Adara bersama dengan Asistennya. Benard manatap Ronald, dia ingin dijelaskan olehnya.

"Hai, Benard." Adara melambaikan tangannya, sebenarnya didalam hati kecilnya dia sangat muak bahkan ingin muntah ketika dirinya sok baik padanya.

Benard menyunggingkan senyumannya. Dia fokus ke tangan Adara. Menatap dengan penuh selidik.

"Hmmm." Benard berdehem dengan pelan. Lalu melirik wanita tadi yang sedari tadi membututi Benard, sekilas ia menghela napasnya dengan pelan.

"Ronald, bawa wanita itu pulang. Aku ada urusan sebentar." Benard menyuruh Ronald, tetapi wanita itu tidak terima atas perlakuannya, karena wanita itu ingin bertemu dengan Benard.

"T-tapi Benard!?" ujar wanita itu sesekali melirik Adara tidak suka.

"Eh hehe, sepertinya aku harus masuk. Hoam ... Lagian aku juga mengantuk. Dah ah--" Adara membalikkan badannya lalu berjalan layaknya seorang maling.

"Tunggu! Kau tetap di sini."

"Aduh! Pria gila ini. Mau ngapain, sih," gumam Adara membalikkan padanya lalu menyengir kuda.

"Aku tunggu di mobil, ayo Alexa." Ronald menuntun wanita tersebut.

"Eh Benard, aku be ..."

Ronald segera menarik wanita itu ke mobilnya. Sebenarnya wanita itu sempat memberontak karena ingin lepas dari Ronald. Namun nihil, kekuatan Ronald lebih besar dari wanita tersebut.

Benard terdiam sejenak lalu menatap Adara yang kini sedang terdiam.

"Di belakangmu itu apa?"

"Hah? Apa?" Adara menaikan kepalanya, lalu menatap Benard.

"Itu barang yang dibelakangmu. Coba biar ku lihat." Benard melangkah ke belakang Adara. Namun, Adara terus menghalanginnya.

"A--aniya. Cepat pergi!"

"Ani, sebelum aku lihat barangmu itu." Benard terhenti lalu menatap Adara dengan tatapan tajam.

"Apa hah! Tidak ada!" Adara bergegas untuk membalik badannya.

"Ehh!"

Ketika Adara berbalik arah, dia tidak menyadarinnya kalau dibelakangnya itu tembok bukan pintu masuk. Untungnya, Benard segera menahan keningnya dengan tangan supaya tidak terlalu sakit karena ulahnya sendiri.

Pria itu sempat meringis ketika Adara sempat melukai kepalanya sendiri.

"Teledor banget."

"Kurang baik apa aku sudah membantumu," lanjutnya.

Adara mencebikkan mulutnya dengan kesal, lalu menghela napas sekilas.

Dengan cepat dia membalik badannya, dia sempat ingin memukulnya. Dengan sigap, tangan Adara ditahan olehnya.

"Mau apa?"

Adara terdiam, dan juga sempat shock ketika muka Benard sudah berada asli didepannya.

Hening...

Mata mereka bertemu, dan napas saling bersautan. Tidak ada suara diantara keduannya. Kecuali, suara hembusan napas mereka.

"Deg! deg!"

"Kalau jalan itu harusnya pakai mata jangan pakai pake kaki. Dasar, apa kau buta heum?" ucap Benard menoyor kening Adara.

Mata Adara sempat membulat, ketika pria di depannya ini bilanh dirinya buta? Sekilas sambil mencebikkan bibirnya dengan kesal.

"Apa? Bilang terimakasih dulu sama aku."

"Tidak, aku tidak akan berterimakasih dengan maling kue." Adara melanjutkan jalannya dan tentunya dia tidak akan menabrak pintunya lagi. Sedangkan Benard hanya terkekeh kecil melihat tingkah gadis itu.

"Sakit," gumam Adara sambil mengusap keningnya dan melangkah untuk masuk kedalam rumahnya. Tidak lupa dia menutup pintunya sebelum itu.

Dia terus menguap, kali ini matanya tidak bisa dibuka lagi.

"Cklekk!" pintunya terbuka lagi, Adara menatap Kitty yang sudah di dalam.

"Kakak! Coba tebak..."

"Udah Kitty ah, besok Kakak harus kerja. Kakak ngantuk sekarang bye--" Adara memaksa Adiknya itu keluar, lalu mengunci pintunya.

Brakk!

Pintu kamarpun tertutup, lalu gadis itu menghempaskan tubuhnya untuk beristirahat untuk malam ini.

Adara membuka matanya kembali untuk mengecek hasil gambar tadi.

Blush! Lagi-lagi pipinya memerah kalau mengingat kejadian tadi. Bukan hanya sekali tapi dua kali dia menatap dekat wajah Benard. Ia menepis pikiran kotor yang ada diotaknya, semoga saja hari in hari terakhir bertemu dengan Benard.

Ia melihat kamera yang tadinya sempat mengambil gambar dari mereka.

"Siapa wanita ini?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED