Bab 1

Menjadi Idol bukanlah hal yang sangat mudah. Seperti yang dilakukan oleh Benard Djaya Aditya yang kini berprofesi sebagai Artis solo di agency MC Entertainment. Agency ini adalah salah satu perusahaan hiburan Seoul-Korea Selatan yang dibentuk oleh Robert Chan. Di sana terdapat beberapa artis solo dan grup, salah satunya adalah Benard yang lolos tanpa mengikuti audisi di beberapa kota. Itu semua tentunya membuat banyak yang mengaguminya.

Benard diambil Agency tersebut dari sekolahannya dikarenakan dia memiliki suara emas sejak kecil dan juga dirinya sering disorot di televisi sejak berusia 19 tahun. Maka dari itu, pihak Agency menyeret Benard untuk ikut debut.

Bukan hanya itu Benard juga mempunyai bakat, terutama tentang music. Wajahnya juga terlihat tampan dan mempunyai visual, alasan itu juga Agency menyukai pria tersebut.

Seiring berjalannya waktu, Benard dijuluki penggemarnya dengan Raja Beruang, yang diambil dari namanya Benard-Bear.

Tap Tap Tap

Suara derap langkah mereka terdengar nyaring di lobi bandara. Saking sepinya, sampai-sampai dia merasakan kalau dirinya ini sendirian saja di bandara ini. Padahal tidak, dia sekarang bersama dengan Asisten Pribadinya yang bernama Ronald.

Langkahnya terhenti ketika terdengar suara teriakan dari sebrang sana. Sontak membuat Benard menoleh ke belakang, ternyata dugaannya benar banyak penggemar dan wartawan di belakangnya. 

"Benard!"

"Astaga," gumamnya. Penyamarannya sepertinya tidak ada gunanya.

Jujur saja, dirinya ingin bebas sehari saja dari serbuan dari penggemar dan juga wartawan. But it's free,

"Sehari saja mau sendiri bisa tidak sih?" gumamnya, dirinya langsung berlari keluar dari area bandara tersebut.

Kadang, dirinya merasa tertekan karena ulah sasaeng yang menurutnya sangat berlebihan. Dari menguntit ke dormnya sampai mengikuti sampai kamar mandi bahkan ke rumahnya sendiri.

"H-hei! Benard! Kau gila!" pekik Ronald spontan, melihat Benard yang berlari terlebih dahulu.

Benard terus berlari tidak peduli apa yang dikatakan Ronald barusan, dia terus mencari celah untuk bersembunyi dari penggemarnya itu. 

***

Seorang gadis yang berparas cantik dan memiliki tubuh kecil serta berambut pendek itu melangkah keluar dari restoran setelah selesai membeli makanan buat Ibunya pada siang hari itu. 

Adara menghentikan langkahnya, ketika melihat seorang pria tampan di seberang sana dengan berpakaian tertutup berlarian dari serbuan orang di belakang sana. 

Mata gadis itu dipicingkan, pria itu ternyata sedang dikejar sama kerumunan wartawan dan beberapa perempuan.

Adara sempat mengerutkan kening dan mengumpat, dia berpikiran kalau semua perempuan itu adalah kekasih atau mantan pria itu. Pikiran yang tidak masuk akal. "Apa mereka kekasihnya semua?"

"Ah, apa yang kau pikirkan Adara!" Gadis itu menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan hal-hal yang jelek.

Adara tidak ingin berpikir panjang, menaikkan bahunya, karena itu juga bukan masalahnya juga. Segera ia melanjutkan perjalanan pulang. 

Ternyata pria itu menyebrang ke arah Adara. Dan masih berlarian karena menghindar dari wartawan yang berada di belakangnya. 

Pria itu tidak melihat di depannya ada gadis yang sedang berjalan. Matanya membulat ketika ia akan menabrak perempuan itu.

"Awas!" teriak seorang pria tersebut dengan suara nyaringnya.

Adara menoleh ke belakang, matanya membulat ketika pria itu sudah akan dekat dengannya. Bagaimana pria itu sudah di belakangnya?

Brukk!!

"Aww!" pekiknya.

Adara terpental ke bawah sembari meringis kecil, sambil mengusap pantatnya yang sudah mendarat bebas di tanah sana.

"Ugh! Kalau jalan pakai mata dong! Tidak tau apa ada orang besar di depannya!" omel Adara dengan nada cepat, sambil berdiri pelan. Padahal tadi dia sudah menghindar, tapi pria itu tetap saja menabraknya, sangat menyebalkan. 

"Apa kau tidak punya mata hah!?"

"Ah maaf, aku dikejar tadi. A-ku buru-buru."

"Tidak mau, kau harus bertanggung jawab!"

"Hah! Ta--" 

"Benard!!!"

Ucapan pria itu terpotong saat ada salah satu penggemarnya memanggil namanya. Sontak pria itu menoleh ke belakang. Tentunya membuat pria itu sangat shock.

"Sial! Mereka masih mengejarku," umpat pria tersebut, lalu menatap Adara yang kini menatap tajam seakan dia mau berbicara. 

Tanpa berkata apapun Benard menarik lengan Adara untuk bersembunyi dari serbuan wartawan dan penggemar-nya itu, alhasil gadis itu mengikutinya.

"A--ah! Mau bawa ke mana, lepaskan tidak!" Adara terus memberontak, namun nihil kekuatan pria itu lebih kuat darinya.

"Hei! Kau salah bawa orang!" lanjutnya, sesekali melirik ke belakang.

"Diam, cerewet banget sih!" katanya sambil berlari. Adara yang tadinya memberontak kini terdiam saat melihat ke arah belakang.

Ternyata mereka masih mengikuti pria ini. 

Terus, apa masalahnya denganku? batin Adara sambil melirik pria yang lari bersama dengannya dengan penuh tanda tanya.

Padahal dia tidak saling mengenal. Nama, alamat, ah sudahlah mungkin dia cuma modus saja dengannya.

Tidak menghabiskan waktu lama, akhirnya dia terhenti di tempat yang jauh dari sana. Nafas mereka tidak beraturan, terlihat sangat jelas wajah kelelahan apalagi Adara. Karingat juga mulai keluar dari keningnya, mereka seperti baru lari marathon.

"Gila, itu kekasihmu semua," ucap Adara spontan, menunduk sekilas dengan nada polosnya. Adara melirik tangannya yang kini masih dicekal oleh pria tersebut.

"Lepas?!" 

"Hei! Enak saja. Mereka bukan kekasihku." Napas pria tersebut tersenggal-senggal. Lalu, melepaskan tangan gadis itu. "Sorry."

"Hei! Dikira aku gadis murahan gitu? kamu cuma minta maaf begitu saja?" Adara asal bicara begitu saat saat mendengar permintaan maaf dari Benard. Lalu menatap pria tersebut dengan tajam. 

Benard memicingkan matanya heran.

"Ya, terus? Lagipula cuma dipegang saja kan? Tidak akan hamil juga kan? Untuk apa aku harus bertanggung jawab!?" Benard meringis kecil, lalu memutarkan bola matanya.

Adara memicingkan matanya dengan wajah geli.

Dengan cepat dia menarik masker yang menutup wajahnya, dan topi yang dikenakan. Karena menurut dia seperti orang yang sok misterius.

"E-ehh!" Benard sontak shock saat Adara membukanya. 

"Kau mau mati ditangan mereka hah!" ucap Benard dengan nada tinggi. Adara terdiam sepertinya dia pernah melihat wajah ini? Tetapi dimana. Sedari tadi dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia masih bertanya-tanya dibenaknya.

"Kau saja, aku tidak!?" ucapnya dengan nada tidak santai. 

"Hei!" Benard memukul kening Adara dengan keras.

"Aws!"

"Apa yang kau pikirkan sekarang?"

"Ah ya, pasti kau berpikiran kalau aku tampan? Atau kau juga salah satu penggemarku yang--" ucap Benard sambil menunjuk kening Adara dengan sangat percaya diri. "Mengikutiku diam-diam?" cicitnya.

Adara membulatkan matanya saat pria itu menunjuk kening mulusnya, lalu dia melirik tangannya yang berada di dahinya.

"Hah? Apa kau bilang coba? aku tidak mendengar perkataanmu tadi," ucap Adara sambil mendekatkan telinganya. 

Benard melihat tingkah Adara langsung menahan pipinya dengan jari telunjuknya dan mendorongnya dengan cepat.

"Kau tuli ya?"

Adera membulatkan matanya lagi, ketika Benard berbicara seperti itu. 

Sial, batin Adara, ia tidak terima ketika Pria itu berbicara seperti itu. 

Sesekali melirik kaki milik Benard, tanpa disadari dia mendekat kearah Benard dengan memasang wajah sok manis. 

Benard yang mengetahui gerak-gerik Adara, lalu bertanya. "Mau apa? Benar kan perkataanku?" tebak Benard dengan sangat percaya diri. Adara tidak merespon. 

Lalu~

"Argh! Bodoh! Kakiku! Damn!" sontak Benard menjerit kesakitan saat kaki gadis itu melayang di kakinya. 

"Mampus!"

"Bagaimana rasanya enak kan? Heum?" tanya Adara sambil menjejerkan gigi putihnya. 

Tangannya dilipat di depan dadanya. Dia menaikkan kepalanya-sombong.

Benard menatap Adara tajam, tersenyum masam-lalu melangkah mendekatinya. Dia sangat gemas dengan gadis ini, tidak biasanya gadis diluar sana bertingkah seperti ini padanya.

"Lebih enak lagi kalau ...." Benard mendekati Adara dengan wajah jail. Sontak membuat gadis itu membulatkan matanya ketika Benard mendekatkan wajahnya. Tangan Adara mengepal menaikan ke atas untuk bersiap-siap menonjok wajah tampan Benard.

"Mau apa kau, hah!" tanya Adara dengan nada tinggi. Dia shock melihat pria tersebut mendekatinya tanpa alasan. Namun, Benard hanya menyunggingkan senyuman jahilnya.

"Melangkah sekali lagi, aku akan menendang masa depanmu," ancam Adara, kali ini dia sangat panik dan juga bingung harus melakukan apa. Tubuhnya sudah terpojokan di tembok, dia melirik ke samping lalu menatap Benard dengan tatapan was-was. 

Adara menegukkan ludahnya, dia berpikir aneh-aneh dengan pria misterius ini. 

Tangan Benard kini sudah berada di samping kepalanya. Wajah Benard sudah terpampang jelas di depan mata Adara.

"Kau penggemarku bukan? Atau seseorang sasaeng yang menyamar?" Benard menaikkan sudut bibirnya miris.

Beberapa kali, Adara menegukkan ludahnya. Dia menggelengkan kepalanya dengan polos. Tidak hanya itu saja, dia juga menetralkan jantungnya saat Benard berada tepat di depannya.

"Are you serious? Jangan bercanda!" 

"Astaga, ini orang sudah gila ya?" batin Adara.

"Kau berpura-pura bodoh di depanku kan?" lanjutnya. 

"Aku tidak bercanda, aku ...."

"Aku bahkan tidak mengenalmu!"

"..."

"Eh, sebentar. Diam!"

"Kau mirip dengan--?" ucapan Adara menggantung, matanya dipincingkan, ia melihat wajah Benard dengan jelas. Ia masih ingat waktu pertama kali ia masuk ke kantor, dan kemungkinan Benard adalah orang yang sama.

"Ceo di perusahaan Satria Garuda bukan?! Kau sudah menolakku waktu itu."

Benard terdiam dia memikirkan apa yang dikatakan sama wanita ini. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Adara. Memang dia tidak mengerti apa yang dikatakannya.

Apa maksud dia? batin Benard.

"Tidak mau mengaku juga heum?!" Adara menunjuk-nunjuk wajah Benard, benard tidak merespon gadis itu lalu menepis tangan Adara.

"Aku tidak pernah melihatmu sebelum ini," ucap Benard dengan desisan, sesekali melirik ke sekitar untuk melihat keadaannya. 

"Aish, kau amnesia atau bagaimana hah?"

"Sepertinya kau salah orang," ujar Benard.

Benard membenarkan posisinya dengan berdiri dengan benar. Dia menghela nafasnya dengan lega, lalu memutarkan bola matanya dengan jengah. Bagaimana bisa dia bertemu dengan gadis bodoh seperti Adara. 

"Tidak, aku tidak salah orang! memang iya aku pernah bertemu denganmu sebelum ini." Adara tidak mau kalah, karena ia benar-benar pernah melihat pria ini di kantor yang pernah ia masuki, tapi ditolak karena penulisan Cv kurang tepat itu saja, kecewa sudah pasti tapi bagaimana lagi.

Benard mengepal tangannya dengan gemas. "Terserah kau, intinya aku tidak pernah bertemu denganmu," ucap Benard, diiringi dengan senyuman tipisnya lalu meninggalkannya gadis itu sendirian di sana. 

Adara berkedip polos, pipinya digembungkan seperti ikan.

"Sepertinya salah orang, tapi memang dia kemarin ih!" sorot mata Adara masih ke arah punggung Benard yang semakin lama semakin menghilang. 

"Siapa namanya?" gumamnya.

Saat Adara melangkah, tidak sengaja melihat dompet yang tergeletak tidak jauh dari tempat tadi, dia menautkan alisnya. Tidak apa apapun kecuali ATM dan juga kartu namanya.

"Dompet?" Adara memutuskan mengambil dan mengecek isi yang ada di dalam dompetnya. 

"Benard Djaya Aditya. Oh ... orang tadi. Eh hei! Kamu meninggalkan dom--" Adara mau berteriak. Namun nihil, pria sudah terlalu jauh. Adara berdecak pelan, lalu memutuskan untuk pulang dan mengembalikan dompet dilain waktu.

***

Sesampai di rumahnya, Adara terus memandangi Dompet tersebut. Bukan hanya ATM dan juga tanda pengenalnya, akan tetapi ada gambar waktu pria itu masih kecil. 

"Lucunya, apa ini kecilnya pria tadi? Hish, beda sekali dengan gambar di kartunya."

"Adara! Ayo kita makan!" teriak Ibunya dari luar, menata makanan yang sudah di belikan oleh Adara. 

"Iya, Bu! Adara keluar." Adara menyimpan dompet tersebut di laci kamarnya, lalu beranjak keluar dari kamarnya. 

"Kenapa lama sekali tadi? Ada masalah di jalanan heum?" tanya Ibu Lastri selaku Ibu angkat Adara, disela-sela makannya. 

Adara menoleh ke Ibunya itu, lalu menduduki kursi di samping Ibunya. "Tidak Ibu, Adara tadi menunggu pesanan. Ramai di sana, mau tidak mau ya harus menunggu," jawab Adara dengan kekehan kecilnya di sela makannya.

Ibu Lastri mengangguk kecil. "Terus, bagaimana dengan pekerjaanmu heum? Apa diterima di kantor yang kau maksud kemarin?"

Adara terdiam, lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak, Aku tidak diterima di sana," gumamnya sambil mencebikkan bibirnya. 

Ibu Lastri sempat terkekeh melihat tingkah Anak angkatnya ini. 

"Kau jangan lemas gini dong, semangat! Mungkin belum rezekinya juga."

Adara menganggukkan kepalanya. "Siap Bu Bos!"

Jujur saja Adara sangat beruntung mempunyai Ibu yang menyayanginya. Meskipun Ibu Lastri adalah bukan Ibu kandungnya. Senyuman Adara melebar, menatap Ibunya itu dengan dalam. 

Ibu selalu beri semangat aku, terimakasih Ibu. Panjang umur selalu, batinnya.

Bab 2

Secangkir kopi di meja menemani pria itu, sesekali ia menyesapnya. Tanpa rokok, dan minuman alkohol di depannya.

Artis yang baru saja naik daun itu mengambil sela-sela waktu luang unfik memainkan game drumnya yang berada di ponselnya sendiri supaya tidak merasa jenuh.

Tangannya merogoh ke saku, dia baru menyadari kalau dompetnya sudah tidak ada di saku miliknya.

"Dompetku dimana?" gumamnya meraba sakunya, matanya melihat ke kanan dan kiri untuk mencari barang berharga itu. Tidak ada di sekitarnya. Lantas, dompetnya sekarang di mana?

"Shit! Jangan-jangan?" ucapannya tergantung saat mengingat kalau dirinya tadi berlari-lari di jalanan. Bisa jadi dompetnya jatuh di sekitar sana.

"Aish!" Pria itu mengacak rambutnya sekilas, ia menelpon Asistennya untuk menyuruhnya mencari dompet yang hilang.

"Ronald, bisakah kau mencarikan dompetku?"

'Di mana? Biar aku carikan. Kebetulan aku masih di perjalanan kantor.'

"Di jalan Mawar, tadi aku sempat kepergok dengan penggemarku di sana."

'Lagian itu salahmu sendiri, aku akan mencarikan dompetmu,' ucap Ronald sebelum dirinya menutup ponselnya. Ronald ini adalah Asisten pribadinya, dia sangat setia menemani Benard dari nol sampai sekarang.

Benard menghela napasnya, tubuhnya di sandarkan di sofa. Matanya terpejam, tiba-tiba saja ia menguap pelan. Sepertinya, dia butuh istirahat sejenak sebelum melanjutkan kegiatannya nanti.

Selang 30 menit lebih, akhirnya Asisten yang di maksud tadi sampai di kantornya atau studio yang dibuat untuk latihan untuknya.

Ronald menatapnya tidak tega, ia meletakkan makanannya di meja yang berada di sana. 

"Benard!" Ronald menepuk pelan bahu Benard, sehingga membuat pria itu terlonjak kaget. 

"Ahh--shh, so--sorry aku ketiduran tad."

Benard menghela napasnya, wajahnya diusap sekilas untuk menyadarkan dirinya sendiri. Pria itu melirik makanan yang sudah berada di mejanya. 

"Dompetnya tidak ketemu, kau bawa  ke mana saja coba heum?" tanya Ronald menduduki sofa di samping Benard.

"Kalau aku tau pasti aku sudah mengambilnya," desis Benard pelan, kemudian membuka bingkisan yang diberikan oleh Ronald.

"Kau yang membelinya?" tanya Benard sesekali melirik Ronald. Pria yang disampingnya hanya mengangguk kecil, pertanda dirinya mengiyakannya.

"Lagipula kau juga pasti belum makan kan?"

Benard menganggukkan kepalanya dengan pelan, dugaan Ronald memang benar dirinya belum makan. 

"Setelah makan kita keluar dari sini, sesekali mencari angin. Daripada kau mengurung diri di kantor."

Benard memakan spagetinya dengan pelan, sesekali meminum jus jeruk yang sudah di belikan oleh Ronald tadi. 

"Aku sudah mencobanya tadi, tapi gagal," dengkusnya, sambil mengunyah makanannya. Sudut matanya melirik ke Asistennya itu. 

Ronald hanya mendecih pelan, sepertinya Benard sudah gila. Berlari dari serbuan wartawan penggemarnya dan pergi tanpa dirinya. 

"Kau sudah makan?"

Ronald mengerutkan keningnya. "Sudah."

"Yakin?"

Ronald menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Serius, aku sudah makan tadi sebelum pergi ke sini."

Benard hanya berdehem. Lalu melanjutkan makannya yang sempat tertunda. 

Tidak butuh waktu lama, akhirnya mereka memutuskan untuk keluar dari kantornya. Dengan memakai masker dan juga topi untuk menutupi wajah supaya tidak ada yang mengenalnya.

***

Pantai Hongdae-Pukul 15.00

Ronald membantu membuka pintu untuk Benard. Segera Benard keluar dari mobil tersebut setelah sampai di salah satu resort yang mempunyai fasilitas lengkap dan tentunya dekat dengan Pantai Hongdae. Mereka berjalan menelusuri lobi. Ternyata benar karyawan di sini sudah mengenalnya, dan untungnya resort ini sudah dibayar penuh oleh Ronald.

Pegawai di sana menyapanya dengan senyuman, dan mereka juga membalas dengan senyuman. Bukan hanya damai, tetapi di sini orangnya juga ramah. 

"Aku tidak yakin kalau mereka tidak mengenaliku di sini."

Ronald fokus dengan dengan ponselnya. "Aku sudah menyewa tempat ini untukmu, dan seratus persen aman buatmu. Jadi, kau tidak perlu khawatir lagi," ujar Ronald diselingi dengan senyumannya. 

"Kau serius?" tanya Benard meyakinkan dirinya sendiri. Ronald hanya mengangguk mantap. 

"Sebenarnya sih kau juga ada panggilan, buat dijadikan model di salah satu produk."

"Di mana? Sekarang?"

Ronald menggelengkan kepala nya. "Besok, di sini."

Benard menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu kita sekalian menginap saja di sini."

"Dua hari?" tanya Ronald, menjajarkan jalannya dengan pria itu. 

"Iya." Ronald menganggukkan kepalanya paham.

"Silahkan ke sini, Tuan Benard," kata salah satu karyawan  yang berada di sana. 

Benard melihat ke sekitar, menurutnya disini penginapan yang sangat unik. Dia memang sering menginap di mana-mana, tapi ini adalah tempat yang berbeda dengan penginapan lainnya. 

Di sana terdapat sarana yang sangat lengkap, terutama kolam renang, taman, dan juga tempat berbelanja. Di tambah dengan suasana pantai yang tidak jauh di sana. 

Benard terhenti di depan kamarnya, sekilas ia memberi senyuman kepada karyawan tadi yang sudah mengantarkannya. "Thankyou," ujarnya sebelum dia masuk ke dalam kamarnya.

"Iya, saya balik dulu. Tuan." Karyawan itu membungkukkan 90 derajat, sebelum dirinya pergi dari tempat itu. Benard hanya tersenyum lembut.

Di dalam kamarnya, ternyata bisa menatap pemandangan pantai tanpa keluar.

Kemeja yang dikenakannya di buka dan digantungkan di gantungan sana. Ronald, sudah sibuk di luar dengan karyawan. Entah apa yang mereka bicarakan, Benard tidak peduli. Yang ia inginkan sekarang hanyalah tidur. 

Matanya dipejamkan, dan menikmati AC di dalam sana. Dan lama kelamaan akhirnya pria itu tertidur dengan lelap.

***

Dilain sisi, Adara yang sedang membantu Ibunya membuat kue di rumah sederhana itu. Kue itu bukan di makan sendiri, melainkan di jual untuk orang-orang yang menginginkannya.

"Sudah selesai, Bu," ujar Adara sambil meletakkan kardus yang di dalamnya terdapat kue.

"Oh ya, kue itu kirim ke alamat ini, ya." Ibu Lastri memberi sebuah kertas yang bertulisan alamat restoran yang jauh dari tempatnya. 

Adara membaca alamatnya, tanpa menolak sedikitpun ia langsung pergi dengan motor kesayangannya, sebelum itu Adara pamitan dengan Ibunya.

"Alamatnya jauh sekali, huft …." Adara menghembuskan napasnya kasar. Gadis itu menambah kecepatan motornya supaya dirinya cepat sampai di tempatnya, tetapi setidaknya jualan Ibu Lastri bisa terkenal dan bisa cepat habis. Lebih baik seperti itu.

Beberapa jam kemudian~

Akhirnya gadis itu sampai di depan restoran tersebut. Wajahnya tercengo ketika melihat restoran yang begitu mewah. Jujur saja, dirinya baru sekali ini masuk ke dalam sini.

"Selamat pagi, Nona. Apa bisa saya bantu?" tanya salah satu resepsionis yang berada di tempat sana. Tentunya suara itu membuat gadis itu sedikit shock, lalu dia menganggukkan kepalanya. 

"I--ini. Saya mau mengantarkan kue yang sudah di pesan." Adara memperlihatkan kertas alamatnya. 

"Ohh-- Nona masuk saja. Cari kamar nomor 105. Tadi dia berpesan pada saya."

Adara mengangguk kecil, gadis itu melanjutkan jalannya ke lobi tersebut. 

"Kamar 105, di sini ya?" ujar Adara sambil celingak-celinguk ke sekitar supaya tidak salah kamar.  Tanpa basa-basi Adara mengetuk pintunya, tidak ada jawaban apapun.

"Ckk, jangan bilang orangnya keluar," gerutunya dengan nada pelan.

Tok! Tok!

"Permisi! Tuan!" teriak Adara dengan nada keras.  Lima menit, tidak ada yang membukanya bahkan tidak ada yang menjawabnya.

"Ke mana sih orangnya?" gumam Adara dengan nada kesalnya, sesekali ia melirik jam tangan yang menunjukkan pukul 16.30.

Adara menghela napasnya, dengan nada kesalnya ia duduk di depan pintu tersebut.

Setengah jam kemudian, gadis itu masih menunggu di depan pintu. Tiba-tiba saja ada seseorang yang membukanya, siapa lagi kalau bukan Benard. Sontak, membuat wanita itu shock, lalu dirinya cepat-cepat untuk berdiri.

"Tuan ini--" Belum saja gadis itu memberi bingkisannya, tetapi dia terdiam di tempat saat melihat pria yang berada di hadapannya kini telanjang dada.

"Aaaa!!!!" jerit Adara dengan keras begitupun pria itu. "Mau apa kau hah!" teriaknya sambil menutup wajahnya pakai sebelah tangan.

Tapi pria itu tidak meresponnya, tanpa basa-basi pria itu menutup pintunya.

Brakk!

"Sial, kenapa ada orang di sini, jangan bilang dia sasaeng?" gumam pria tersebut. Tanpa basa-basi pria itu mencari kaos di lemari dan memakainya. Setelah itu, dirinya keluar kembali untuk menemui Adara kembali.

"Kenapa balik lagi hah!" ucap Adara dengan nada tinggi, wajahnya masih tertutup dengan tangannya.

Pria itu mendengus pelan, lalu mengambil bingkisannya tadi. "Buka matamu."

Adara terdiam sejenak, lalu mengintip dari sela-sela jarinya. Ia melirik dari sudut matanya, ternyata pria itu sudah memakai baju.

"Lagian, kenapa kau tidak memakai baju hah! Takut kehabisan pakaian di sini! Atau bagaimana!" ucap Adara dengan nada tidak terima.

Benard mengerutkan keningnya, matanya dipicingkan menatap gadis yang berada di hadapannya ini, sedikit meringis kecil sembari bersedekap dada.

"Sebentar? Sepertinya wajahmu tidak asing?" ucap Benard dengan wajah polosnya. Sesekali ia melihat dari bawah ke atas.

Adara terdiam, melihat wajah Benard dengan seksama. Mulutnya seketika berbentuk huruf O. 

"K--kau?" ujar Adara sambil menunjuk ke wajah Benard. 

"Kenapa kau berada di sini!"

"Harusnya aku yang tanya kepadamu!?" ucap Benard tidak kalah keras daripada gadis itu.

"A--aku?" ujar Adara sambil menunjuk dirinya sendiri. Pandangannya ke mana-mana, sekilas ia melirik bingkisan tersebut. Kenapa gadis itu mulai linglung saat berada di depan pria ini.

"Mau-- mengantarkan kue itu! Mana kuenya!" Adara hendak mengambilnya, tetapi Benard menghindarkan bingkisan tersebut.

"Bingkisan ini sudah jadi milikku," ucap Benard dengan tersenyum lebar. 

"Hei! I--itu punya orang!" Benard memutarkan tubuh Adara, lalu mendorongnya supaya pergi dari tempat ini.

"Terima kasih!" teriak Benard, sebelum pintunya di tutup.

Brakk!

Matanya membulat, ia langsung balik badan lagi. Langsung saja ia menggedor pintu tersebut dengan keras.

"Hei! Kau belum membayarnya!" teriak Adara dengan keras. 

"Pria gila! Bagaimana bisa kau bisa mengambil makananku tanpa membayar!" lanjutnya, masih setia mengetuk pintu tersebut dengan keras. Demi apapun, cuma pria ini yang membuat gadis ini naik darah. 

"Hei! Buka pintunya!" teriak Adara dengan sangat keras.  Pintunya terbuka, pria itu langsung meletakkan uang 200 ke kening Adara.

"Sudah aku bayar, kan? Lebih baik kau kau pergi dari sini."

Adara terdiam, tangannya meraba ke kening untuk mengambil uang tersebut. Mata Adara di lebarkan, dengan wajah kesalnya ia melangkah pergi dari tempat itu. 

Sesekali gadis itu melirik ke belakang, sambil menjulurkan lidahnya ke belakang.

Tanpa Benard sadari, dirinya terkekeh kecil melihat tingkah Adara barusan. "Dasar, tidak punya urat malu," ujar Benard sambil menggelengkan kepalanya, sebelum dirinya masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya. 

Benard membuka kardus yang berisi kue tersebut, lalu mencicipi kue tersebut dengan hati-hati. 

"Ternyata enak juga, apa gadis itu yang membuatnya?" gumam Benard, sejenak menikmati kue yang dimakannya.

Bab 3

"Selamat malam, Tuan Benard," ucap wanita berparuh baya tersebut dengan sopan. Dia menjabat tangannya ke Benard, lalu pria itu membalas jabatanya.

"Selamat malam juga, Nyonya," ucap Benard dengan sangat lembut.

"Ternyata kau sangat ramah juga ya."

"Terima kasih sudah datang di ulang tahun putriku, dia sangat mengidolakanmu. Jadi, saya sebagai orang tuannya harus mengikuti permintaan dia," ucap Ayah dari Kitty.

"A--ah bisa saja." Benard sempat terkekeh kecil, mendengar pembicaraan dari mereka. Sebenarnya dia juga kaget karena acara mendadak pada malam hari ini juga, padahal dia juga barusan pulang dari liburannya. Seharusnya dirinya juga harus istirahat untuk kerja besok. Tapi bagaimana lagi, ini sudah jadwal dari menegernya.

"Sebentar lagi akan dimulai, apa bisa aku buka terlebih dahulu?" tanya Ronald kepada mereka.

"Ah ya ... silakan?" Ayahnya mempersilahkan Benard untuk naik ke atas panggung kecil yang sudah disediakan untuk menghibur orang-orang yang sudah di undangnya.

Hari semakin malam, pemotongan kue pun selesai. Semua fokus dengan kegiatan masing-masing. Ada yang memakan makanan yang berada di sana, mengambil gambar, dan juga tertawa bersama. Berbeda dengan gadis kecil yang berada di meja sambil memotret makanan tidak jelas.

"Kayaknya enak, tapi sayang Mama tidak pernah mau membelikan aku kue yang aku mau," ucap gadis tersebut sambil mengerucutkan bibirnya. Dia terus berjalan sembari memakan cupcakenya. Dia mendengar suara hp-nya berbunyi lalu mengambil untuk melihatnya.

Mata Adara terbelalak saat membaca email masuk dari kantor yang di masuki oleh Adara kemarin, bukan kantor yang menolaknya waktu itu, melainkan kantor lainnya.

"Uhuk! Apa ini serius?" Adara tidak percaya kalau dia akan diterima dikantor tersebut. Ia bersorak sambil meloncat kegirangan.

Semua terdiam, pandangan mereka tertuju ke Adara, sepertinya dirinya memang sudah gila berteriak di depan publick.

"Kakak! Bikin malu Kitty aja ih-" teriak Kitty sambil menarik tangan Adara kebelakang dengan cepat.

"Eh, Dik?" Adara mengikuti adiknya tersebut.

Dik?

Ya, Kitty adalah Adik Adara. Dia masih berumur 17 tahun selisih sedikit dengannya. Meskipun dia sudah tua, tetapi mereka seperti saudara yang sangat akur.

Gadis itu? Gumam Benard saat melihat Adara yang berada tidak jauh dari tempatnya.

"Siapa gadis tadi? Aku sepertinya pernah melihatnya," tanya Benard basa-basi ke Ronald dengan tatapan tanda tanya. Ronald menaikkan bahunya, seakan dia tidak tau. Ya, memang dia sebenarnya tidak tau sih.

"Eh maaf Tuan, tadi Anak saya yang paling tua. Mungkin dia kehabisan obatnya." Ayah Kitty mengelak. Benard menautkan alisnya lalu mengangguk paham.

"No problem."

Benard segera naik ke tempat yang sudah tersediakan dan melakukan perfom beberapa lagu untuk mereka yang masih berada di tempat tersebut. Alunan piano terdengar merdu di telinga mereka terutama Adara.

Suara itu terdengar sangat lembut, dan pastinya sangat menghayati.

"Kak, Kak Benard tampan sekali sumpah," ucap Kitty memandangi Benard dari bawah panggung.

Benard? Pria? ah-- pria kemarin itu? Gumam Adara sambil menatap ke arah panggung.

"Oh ya! Benar kenapa aku baru menyadarinya," umam Adara sambil meneguk salifanya. Wajahnya bersemu merah.

Kenapa dia berada di sini! Aduh, aku sangat malu kalau mengingat kejadian-- batin Adara, dia merngis kecil ketika mengingat waktu dirinya melihat tubuhnya tanpa sehelai kain di badannya. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, untuk mengusir ingatan tidak jelas itu.

I give you all, all of me

And you give me all, all of you

[Bruno Mars_All Off Me]

"Tapi, kalau dilihat dia sangat tampan juga. Suaranya juga bagus banget! Tapi-- sikapnya ahh-- tidak bisa tata krama," ucap Adara dalam hati kecilnya.

"Kak lihat deh dia udah lembut, tampan, mutitalent. Tau tidak? dia itu jago bermain alat musik apapun. Pokoknya Perfect! Apalagi ya, dia dari agensi yang terbilang sangat terkenal!" ucap Kitty sambil tersenyum tidak jelas menatap Benard yang berada di panggung sana.

Adara yang melihat Kitty hanya bergidik geli, sembali memutarkan bolamatanya. Rasanya bulu kuduk Adara ingin berdiri.

"Kamu sama aja gilanya seperti dia," ucapnya dengan cepat. Dia terus memandangi Benard yang masih berada diatas sana.

Adara diam-diam melangkah pergi dari samping Kitty.

"Eh, Kak! Mau ke mana?"

Adara tidak meresponnya. Dia berlari ke belakang. Diam-diam dia mengambil videonya serta gambar dari Benard.

"Bagus," gumam Adara.

"Huh akhirnya, acaranya sudah selesai hoamm ...." ucap Adara sambil diselingi dengan uapannya. Matanya sudah sangat berat, yang dia inginkan sekarang adalah tidur dikasur kesayangannya.

"Adara, bantu Mama tutup pintu yah kalau sudah sepi! Mama capek ingin tidur," teriak Mama Sherly, selaku Mama Adara.

"Ayah juga, selamat malam putri cantiknya Ayah." Ucapan Mama dan Ayahnya membuat langkah Adara terhenti. Mereka menuju kearah kamarnya masing-masing. Kitty? Dia masih bercengkrama dengan temannya.

"Ayah Mama!" rengek Adara, dia terlihat sangat kesal. Kakinya dihentakin sambil menggerutu tidak jelas.

Menyebalkan! Batin Adara, mukanya sangat kusut, bukan hanya mukanya pakaian yang dia kenakan juga sangat kusut. Dia melangkah kedepan teras rumahnya lalu menyender diambang pintu. Kenapa tidak menyuruh Kitty? Toh, dia juga masih ngobrol sama temannya.

Dia terus menguap, matanya hampir tertutup. "Sial banget," gerutunya.

"Mau apa kau di sini, hah?"

"Aku mau bertemu sama kamu, Benard. Aku merindukanmu." ucap wanita tersebut dengan rengekan manjanya.

"Bisa lepas!"

"Tidak!"

Suara bisingan itu membuat telinga Adar memanas. "Berisik sekali, siapa sih!"

Adara mencari sumber suara tersebut, meskipun matanya sudah berat untuknya.

Terdapat sepasang kekasih yang sedang bertemu disamping rumahnya. Nampaknya tidak asing, Adara memincingkan matanya, kenapa mereka masih di sini tidak mencari tempat lain, kenapa harus disini. Ia berdecak pelan.

Dia masih penasaran dengan pria gila tersebut. Pria itu terlihat mendekat kearah gadis tersebut.

Apa jangan-jangan dia mau cabul? Mata Adara membulat ketika jangka mereka terlalu dekat.

"Tidak bisa dibiarin, lihat aja," ucap Adara pelan.  Tanpa mereka sadari dia mengambil gambar mereka secara diam-diam.

Adara melangkahkan kakinya dengan sangat pelan sambil melihat hasil gambar mereka.

"Hei, kau tau Benard?" tanya Ronald tiba-tiba, membuat Adara terhenti melihat gambar di kamrea tersebut, lalu menatap pria yang sempat mengagetkannya tadi.

"Be--benard?" Adara menerjapkan matanya seolah-olah dia bodoh.

"Di- dia ...." Kepala Adara di gelengan dengan cepat dan menahan rasa gugupnya.

"Hei, maaf menunggu lama," ucap seseorang dari belakang Adara, siapa lagi bukan Benard. Tubuh Adara menegang ketika terdengar suara yang familiar di telingannya, sesekali menggerutu di dalam benaknya.

Aduh, kenapa pas banget, batin Adara.

"Kenapa kamu sama perempuan ini? Kekasihmu?" Benard mengerutkan keningnya, menatap Adara dengan wajah penasaran.

Adara berbalik arah, lalu menatap Benard dengan tampang tidak bersalah, tidak lupa dengan cengiran khasnya.

"Kau? Dari kapan kau di sini?!" mata Benard membulat ketika melihat Adara bersama dengan Asistennya. Benard manatap Ronald, dia ingin dijelaskan olehnya.

"Hai, Benard." Adara melambaikan tangannya, sebenarnya didalam hati kecilnya dia sangat muak bahkan ingin muntah ketika dirinya sok baik padanya.

Benard menyunggingkan senyumannya. Dia fokus ke tangan Adara. Menatap dengan penuh selidik.

"Hmmm." Benard berdehem dengan pelan. Lalu melirik wanita tadi yang sedari tadi membututi Benard, sekilas ia menghela napasnya dengan pelan.

"Ronald, bawa wanita itu pulang. Aku ada urusan sebentar." Benard menyuruh Ronald, tetapi wanita itu tidak terima atas perlakuannya, karena wanita itu ingin bertemu dengan Benard.

"T-tapi Benard!?" ujar wanita itu sesekali melirik Adara tidak suka.

"Eh hehe, sepertinya aku harus masuk. Hoam ... Lagian aku juga mengantuk. Dah ah--" Adara membalikkan badannya lalu berjalan layaknya seorang maling.

"Tunggu! Kau tetap di sini."

"Aduh! Pria gila ini. Mau ngapain, sih," gumam Adara membalikkan padanya lalu menyengir kuda.

"Aku tunggu di mobil, ayo Alexa." Ronald menuntun wanita tersebut.

"Eh Benard, aku be ..."

Ronald segera menarik wanita itu ke mobilnya. Sebenarnya wanita itu sempat memberontak karena ingin lepas dari Ronald. Namun nihil, kekuatan Ronald lebih besar dari wanita tersebut.

Benard terdiam sejenak lalu menatap Adara yang kini sedang terdiam.

"Di belakangmu itu apa?"

"Hah? Apa?" Adara menaikan kepalanya, lalu menatap Benard.

"Itu barang yang dibelakangmu. Coba biar ku lihat." Benard melangkah ke belakang Adara. Namun, Adara terus menghalanginnya.

"A--aniya. Cepat pergi!"

"Ani, sebelum aku lihat barangmu itu." Benard terhenti lalu menatap Adara dengan tatapan tajam.

"Apa hah! Tidak ada!" Adara bergegas untuk membalik badannya.

"Ehh!"

Ketika Adara berbalik arah, dia tidak menyadarinnya kalau dibelakangnya itu tembok bukan pintu masuk. Untungnya, Benard segera menahan keningnya dengan tangan supaya tidak terlalu sakit karena ulahnya sendiri.

Pria itu sempat meringis ketika Adara sempat melukai kepalanya sendiri.

"Teledor banget."

"Kurang baik apa aku sudah membantumu," lanjutnya.

Adara mencebikkan mulutnya dengan kesal, lalu menghela napas sekilas.

Dengan cepat dia membalik badannya, dia sempat ingin memukulnya. Dengan sigap, tangan Adara ditahan olehnya.

"Mau apa?"

Adara terdiam, dan juga sempat shock ketika muka Benard sudah berada asli didepannya.

Hening...

Mata mereka bertemu, dan napas saling bersautan. Tidak ada suara diantara keduannya. Kecuali, suara hembusan napas mereka.

"Deg! deg!"

"Kalau jalan itu harusnya pakai mata jangan pakai pake kaki. Dasar, apa kau buta heum?" ucap Benard menoyor kening Adara.

Mata Adara sempat membulat, ketika pria di depannya ini bilanh dirinya buta? Sekilas sambil mencebikkan bibirnya dengan kesal.

"Apa? Bilang terimakasih dulu sama aku."

"Tidak, aku tidak akan berterimakasih dengan maling kue." Adara melanjutkan jalannya dan tentunya dia tidak akan menabrak pintunya lagi. Sedangkan Benard hanya terkekeh kecil melihat tingkah gadis itu.

"Sakit," gumam Adara sambil mengusap keningnya dan melangkah untuk masuk kedalam rumahnya. Tidak lupa dia menutup pintunya sebelum itu.

Dia terus menguap, kali ini matanya tidak bisa dibuka lagi.

"Cklekk!" pintunya terbuka lagi, Adara menatap Kitty yang sudah di dalam.

"Kakak! Coba tebak..."

"Udah Kitty ah, besok Kakak harus kerja. Kakak ngantuk sekarang bye--" Adara memaksa Adiknya itu keluar, lalu mengunci pintunya.

Brakk!

Pintu kamarpun tertutup, lalu gadis itu menghempaskan tubuhnya untuk beristirahat untuk malam ini.

Adara membuka matanya kembali untuk mengecek hasil gambar tadi.

Blush! Lagi-lagi pipinya memerah kalau mengingat kejadian tadi. Bukan hanya sekali tapi dua kali dia menatap dekat wajah Benard. Ia menepis pikiran kotor yang ada diotaknya, semoga saja hari in hari terakhir bertemu dengan Benard.

Ia melihat kamera yang tadinya sempat mengambil gambar dari mereka.

"Siapa wanita ini?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED