Bab 1

"Om mau jadi pacar saya?!" tanya lantang seorang gadis yang mengejutkan semua pengunjung kafe, tak terkecuali dua pria asing di depannya.

"Uhuk uhuk… Apa?! Pacar!"

Pria yang tengah fokus menikmati makanannya sampai tersedak begitu mendengar kalimat aneh bin ajaib meluncur bebas dari mulut gadis belia yang tidak diketahui dari mana asalnya.

"Dek, kamu sehat?" tanya pria itu memastikan.

"Hmm." pria yang duduk bersama pria berambut gondrong hanya bisa menahan tawa melihat mimik wajah sahabatnya.

"Sehat om, sehat wal afiat.. Tidak kekurangan satu apapun malah." ucap gadis yang masih berdiri seraya mengaitkan kedua tangannya di depan perut dengan semangat.

Mendengar jawaban gadis aneh di sampingnya, pria berambut panjang hanya bisa menghela nafas kasar. Diperhatikannya gadis itu dari ujung kaki hingga kepala, dengan pandangan menelisik.

'Siapa gadis ini, apa tujuan dia memintaku menjadi kekasihnya? Jika dilihat dari penampilan, dia memang seperti orang waras. Apa mungkin depresi setelah menjadi korban rayuan buaya darat?'

Pria itu terus membatin dengan pandangan yang tak lepas dari gadis di sampingnya.

"Om gitu amat liatnya, nanti naksir loh." kelakar gadis itu dengan penuh percaya diri, yang justru membuat pria berambut gondrong bergidik ngeri.

"Om namanya siapa sih?" mendengar gadis aneh di sampingnya ingin tau nama pria berambut sebahu tersenyum smirk.

"Danu!" jawabnya ketus.

"Saya Zoya om," gadis itu menyaut dengan cepat.

"Om mau ya. jadi pacar Saya?" lanjut gadis bernama Zoya tanpa beban dan justru menampilkan barisan gigi putihnya.

Danu, pria berpenampilan unik era delapan puluhan, mengenakan setelan jas berwarna nyentrik lengkap dengan sapu tangan melingkar di leher. Dan jangan lupakan rambut lurus sebahu, klimis maksimal, mungkin jika ada seekor lalat yang hinggap akan langsung tergelincir dan jatuh kebawah. Mengingat begitu licinnya rambut pria itu. Namun walau begitu ketampanan Danu masih terpancar jelas, sehingga banyak wanita yang memandang dirinya merasa heran juga terpana. Tapi sekarang, kesialan apa yang tengah pria dewasa itu alami.

"Hahahaha… luar biasa, menakjubkan."

Pria yang bersama Danu, dan duduk di hadapannya merasa kagum melihat keberanian gadis yang masih berdiri penuh percaya diri di sampingnya, bahkan dengan mantap meminta seorang pria yang tidak dikenalnya menjadi kekasih. 'Sungguh luar

biasa gadis jaman sekarang.' pikir pria itu.

'Sial nih bocah, besar juga nyalinya..'

Garam Danu yang langsung membuang pandangan kearah lain.

"Bagaimana om, om mau ya jadi pacar saya?" ulang Zoya saat merasa dia belum mendapat jawaban.

"Tidak!" tegas Danu.

"Ayolah om.. Kita pacaran, yah?" sekali lagi Zoya memasang wajah mengiba berharap pria itu mau menerima tawarannya.

"Enggak!" sentak Danu tanpa melihat ke arah Zoya.

'Waduh gawat ini, kalau dia tetap menolak bisa bertambah hukuman aku, dan Vina gila itu pasti bakal kasih yang lebih berat.'

Lewat kaca yang tembus pandang, Zoya bisa melihat kedua sahabatnya tengah terbahak bersama, dan itu diyakini pasti sedang menertawakan dirinya.

'Besar juga nyali gadis ini, bahkan tanpa beban dan malu sedikitpun meminta Danu menjadi kekasihnya di tempat seramai ini.

Apa alasan dia sebenarnya?' pria yang bersama Danu terus memperhatikan Zoya yang masih menatap kearah Luar.

'Pasti ada sesuatu yang mendorongnya melakukan semua ini.' batinya.

Di sebuah kafe yang tengah ramai pengunjung, bertepatan dengan jam makan siang, telah terjadi kegaduhan begitu semua pengunjung dikejutkan dengan suara lantang seorang gadis meminta pria yang tengah duduk di depannya sebagai kekasih.

Tanpa tedeng aling-aling gadis itu mengutarakan niatnya didepan semua orang, tidak ada rasa canggung atau malu sedikitpun yang terlihat dari paras ayu itu. Dia justru dengan penuh percaya diri melakukan aksinya.

Danu, entah bermimpi buruk apa semalam sampai harus mengalami kejadian yang begitu memalukan saat siang hari. Dia hanya bisa membuang pandangan ke arah lain seraya menahan segala rasa yang bergemuruh di dalam dada. Meski rasa malu tidak lagi bisa dihindari namun demi menjaga wibawanya pria itu tetap berusaha tenang.

"Terima aja bang.. Kasian anak orang di anggurin, cantik ini.."

"Iya bang terima aja, jarang-jarang loh cewek nembak duluan."

Mendengar pengunjung lain ikut menyuarakan pendapat, Danu hanya menanggapinya dengan senyum canggung.

"Mau ya om.. Kita pacaran ya…" merasa mendapat dukungan Zoya semakin bersemangat, gadis itu kembali mengiba dengan menampilkan wajah baby eyes seraya mengedip-ngedipkan matanya.

"Sini dek duduk dulu, capek loh berdiri terus." pria yang bersama Danu membimbing Zoya untuk duduk diantara mereka.

"Makasih, om baik deh.." ucap Zoya seraya menampilkan senyum terbaiknya.

'Gila cantik banget! Kalau sampai Danu menolak, aku perlu memastikan kewarasannya. Yang bener aja bening begini ditolak.' Batin pria yang bersama Danu.

"Udah sih brother, terima aja.." celetuk pria itu yang justru mendapat tatapan tajam Danu.

"Om Danu belum beristri kan?" tanya Zoya memastikan setelah dia teringat sesuatu.

"Sudah,"

"Belum,"

Jawab Danu dan juga rekannya secara bersamaan.

"Ini yang benar mana, om ini sudah menikah atau belum!" Zoya menatap bingung pria di sampingnya secara bergantian.

"Dia masih lajang dek, tenang saja."

"Kau ingin mati Ton!" geram Danu penuh penekanan di setiap kalimatnya.

"Hoho.. Woles sob, aku hanya mengatakan yang sebenarnya." pria bernama Tony menjawab asal seraya tersenyum kearah Zoya.

"Yeess.." seru Zoya tiba-tiba.

"Berarti sekarang kita pacaran ya om, oke pacar." terangnya seraya mengedipkan satu mata.

"Tidak! Apa tujuanmu sebenarnya?" tegas Danu pada intinya, dia sudah merasa jenuh menghadapi sikap aneh gadis itu.

"Tujuan apa sih pacar, saya nggak lagi naik kendaraan loh ini. Tujuanku hanya hatimu." kelakarnya yang justru dia sendiri merasa geli begitu sadar kalimat manis itu meluncur bebas dari mulutnya.

"Cih…" Danu hanya mampu berdecak menanggapi ucapan Zoya.

"Kita pacaran ya.. Deal." Zoya menjabat tangan Danu, namun dengan cepat pria itu menepisnya kasar.

"Nggak, sekali gak ya enggak!" tegas Danu.

"Om.." rengeknya manja.

"Oh astaga! Gadis ini benar-benar membuatku gila!"

Danu hanya bisa menahan diri agar amarahnya tidak sampai meluap di tempat itu, dia yakin gadis di sampingnya itu pasti punya tujuan tertentu sehingga kekeh menjadikan dirinya kekasih.

Atau jangan-jangan karena penampilannya?

Sempat terbesit pikiran buruk jika tujuan gadis itu mendekati dirinya hanya karena UANG.

Yah, mungkin karena itu, bukankah sekarang sudah biasa. Menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang?

Danu melirik sinis gadis di sampingnya, setelah meyakini apa yang dia tafsirkan sendiri.

Sadar jika dirinya terus diperhatikan Zoya berusaha tetap acuh, dia hanya berharap pria itu mau berkata IYA, dan setelah itu terserah mau bagaimana kelanjutannya nanti, pikirnya. Bagi Zoya konsisten merupakan hak paling penting dalam hidup, saat tindakan sesuai dengan ucapan, bukankah itu sebuah pembuktian tidak hanya isapan jempol belaka. Dan itu juga yang tengah Zoya perjuangkan saat dia menerima tantangan dari kedua sahabatnya.

"Saya baik loh om, tidak sombong, murah senyum, dan pandai menabung. Pokoknya gak nyesel deh kalo kita pacaran." tidak pantang menyerah, Zoya masih berusaha mempromosikan diri.

"Kamu terlalu percaya diri untuk jadi pasangan saya nona!" lugas Danu pada akhirnya.

Tidak ingin menanggapi kegilaan Zoya lebih lama lagi, Danu memutuskan untuk pergi lebih dulu.

"Ayo kita pergi, waktuku terlalu berharga untuk menanggapi gadis aneh seperti dia!" tegas Danu beralih pada Tony yang langsung menganggukkan kepala.

"Tunggu dulu om! Jangan pergi dulu.. Auuw!"

Dan……

Bab 2

"Auuu!" pekik Zoya saat lututnya membentur meja ketika dirinya hendak berdiri.

"Jangan pergi dulu om, saya diterima atau tidak?" ucap Zoya seraya meringis menahan sakit.

"Kamu masih berharap jawaban saya!" tanya Danu penuh penekanan.

"Iyalah… itu memang yang saya tunggu dari tadi om gante—"

"Tidak!" tegas Danu.

"Berapa yang kamu butuhkan, jawab!" sentak Danu hingga membuat Zoya terjingkat karena terkejut.

"Berapa apanya?" Zoya bingung menanggapi pertanyaan Danu.

"Bukankah uang yang kamu inginkan, hah! Sampai rela merendahkan diri seperti ini!" sarkas Danu dengan sorot mata tajam saat amarah tidak lagi bisa dia tahan.

"Bu–bukan, bukan itu maksud saya. Saya han—"

"Hanya apa? Hanya Ingin mempermainkan saya karena penampilan saya, begitu!" sentak Danu sekali lagi sampai membuat Zoya kehilangan kata-katanya.

"Sial! Ayo kita pergi!" pungkas Danu belum akhirnya memutuskan pergi dari kafe itu meninggalkan Zoya yang berdiri termangu.

"Kenapa jadi begini.. Aku tidak bermaksud merendahkan dia." Zoya terduduk lemas di kursinya lagi, seraya menatap nanar punggung Danu yang menjauh.

"Aku, aku hanya…" tidak terasa bulir bening sudah meluncur membasahi pipi.

"Tidak Zo, ini memang salahmu." gumamnya berusaha menyakinkan diri seraya mengusap kasar kedua pipinya.

Beberapa saat berlalu setelah kesadarannya kembali, dengan gontai Zoya pergi meninggal kafe, membawa rasa sesak bercokol dalam hati, juga penyesalan tanpa arti atas apa yang sudah terjadi.

Seperti pepatah mengatakan 'bubur tidak mungkin kembali menjadi nasi' dan itulah yang berusaha gadis dua puluh tahun itu tanamkan dalam sanubarinya. Agar kesalahan yang baru saja dia lakukan tidak meninggalkan penyesalan tak bertepi.

Bukan uang atau ingin mempermalukan pria itu tujuan Zoya sebenarnya, dia hanya sedang menerima tantangan sebagai hukuman karena kalah bertaruh bersama kedua sahabatnya.

Gila memang..

Tapi itulah yang Zoya the geng sering lakukan, bertaruh demi sebuah kepuasan batin, guna menunjukkan siapa yang paling unggul diantara mereka. Dan sialnya ratu hoki yang biasanya selalu menjadi pemenang kini seolah merubah sejarah baru dalam hidupnya.

Setelah kembali ke tempat nongkrong mereka yang berada tepat di depan kafe, serta tidak mendapati kedua sahabatnya disana, Zoya meyakini jika mereka sudah pulang lebih dulu. Gadis itu menghela nafas kasar seraya duduk di kursi panjang yang menghadap ke arah kafe, menatap getir meja menghadap jendela dalam kafe yang menjadi saksi akan kegilaannya tadi.

"Seharusnya aku tidak melakukan ini, hah. Pasti dia sangat membenciku, semoga tidak ada lagi pertemuan selanjutnya dengannya." gumam Zoya yang kembali bangkit dan berjalan malas menuju tempat tinggalnya yang tidak jauh dari huru hara yang baru saja terjadi.

"Aku pul—" Zoya mematung saat berada diambang pintu begitu melihat ada sosok lain selain kedua sahabatya.

"Oneng, eh Zo kamu sudah pulang. Sini masuk ngapain berdiri disitu, mau ngecek PLN?" suara cempreng Melly menyapanya lebih dulu.

"Siapa?" bertanya lewat gerak bibir tanpa suara.

"Makanya sini masuk." jawab Melly dengan cara yang sama.

Kehadiran Zoya mengalihkan perhatian dua wanita berbeda generasi yang sebelumnya tengah berbincang serius diatas ranjang, mereka secara serentak menatap Zoya yang berjalan mendekat.

"Hallo cantik." wanita yang Zoya yakini tidak lagi muda namun masih terlihat cantik juga terawat menyapa dirinya yang masih berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi.

"I–iya tan." meski ragu Zoya tetap senyum saat menjawab sapaan ramah wanita itu.

"Zo, kenalin ini tante Lisa." melihat kebingungan di paras Zoya satu lagi sahabatnya Vina, langsung menjelaskan.

"Saya Zoya, tan." mengulurkan tangan seraya tersenyum manis.

"Wah.. Cantik sekali kamu sayang." Zoya tersenyum canggung menanggapi pujian Lisa.

"Sini duduk nak." lanjutnya seraya membimbing Zoya agar duduk bersisian dengannya.

Walaupun masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi, Zoya tetap menurut saat Lisa membawanya duduk diranjang bersama kedua sahabatnya. Setelah duduk Zoya melempar pandangan pada kedua sahabatnya meminta penjelasan, namun Melly hanya mengedikkan bahu sementara Vina diam dan langsung menundukkan pandangan.

'Ini pasti ada yang tidak beres.' pikir Zoya melihat Vina yang biasanya ceria kini terlihat murung.

"Begini sayang, langsung aja ibu katakan tujuan dan maksud ibu datang kemari. Yang pertama ibu ingin bersilaturahmi, juga ingin mengenal kalian lebih dekat. Dan yang kedua, ibu ingin mengutarakan niat ibu untuk melamarmu nak." jelas Lisa langsung pada intinya.

Deg

'Apa ini?' tubuh Zoya menegang seketika.

'Apakah ini karma instant,' Tanyanya lagi pada dirinya sendiri.

Zoya masih diam termangu, memikirkan permintaan Lisa yang menurutnya sangat aneh. Pikiran gadis itu kembali pada beberapa saat yang lalu ketika dia dengan lantang meminta pria asing untuk jadi kekasihnya.

'Apakah ini yang om Danu rasakan tadi, terkejut dan bingung. Astaga, karma itu memang benar-benar nyata.' Batin Zoya tersenyum getir menertawakan dirinya sendiri.

"Ini putra ibu." lanjut Lisa seraya mengulurkan selembar foto berukuran kecil, yang Zoya terima dengan posisi terbalik.

"Ibu tidak memaksamu menerima lamaran itu hari ini sayang, ibu akan memberimu waktu untuk berpikir." Zoya masih diam, bibirnya kelu untuk berucap, dan jawaban apa yang harus diberikan Zoya juga tidak tahu. Siapa wanita itu, dari mana asalnya, membuatnya semakin merutuki semua kebodohan yang pernah dia lakukan pada pria bernama Danu. Dan sekarang, Zoya bisa merasakan apa yang pria itu rasakan sampai akhirnya bisa berpikiran buruk tentang dirinya.

"Tante.." Dengan ragu Zoya memberanikan diri untuk bersuara.

"Ta–tapi kita tidak saling mengenal, bagaimana tante bisa meminta Zo menjadi menantu." gadis itu memberanikan diri untuk menyuarakan pendapat.

"Mungkin ini yang pertama bagimu, tapi tidak untuk ibu nak." jelas Lisa ambigu yang membuat ketika gadis itu serentak langsung tercengang.

"Sebenarnya, selain menginginkan kamu menjadi menantu, ibu juga berharap kalian berdua," beralih pada Vina juga Melly "Mau tinggal bersama ibu. Terkesan serakah memang, tapi tidak tahu kenapa begitu melihat kalian ibu langsung jatuh cinta. Macam cinta pada pandangan pertama begitu." Lisa terkekeh menyadari perasaannya yang tak biasa pada tiga gadis muda itu. Terlebih saat melihat Melly pertama kali, hati wanita berusia enam puluh tahun itu bergetar hebat serta ada rasa yang tidak bisa dijelaskan.

Semetara ketiga gadis muda itu hanya diam saling bertukar pandang mencerna permintaan Lisa yang terkesan mengejutkan mereka, tapi berbeda dengan Vina, gadis itu seolah menunjukkan raut penyesalan pada kedua sahabatnya, hingga membuat Zoya kembali bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.

"Baiklah kalau begitu, silahkan kalian pikirkan baik-baik permintaan ibu, khususnya kamu sayang." mengusap pelan pipi Zoya disertai senyuman hangat Lisa tunjukkan pada gadis yang tengah memaksakan senyum padanya..

"Ibu akan datang seminggu lagi dari sekarang, semoga ibu tidak mendapat jawaban yang mengecewakan dari kalian." lanjur Lisa penuh harap.

"Iya tan." jawab ketiga gadis itu bebarengan.

Bab 3

"Astagaaaa!" pekik Zoya seraya membelalakan mata dengan mulut terbuka.

Karena tidak ingin berlama-lama menahan rasa penasaran, begitu Lisa pergi, Zoya langsung membalik foto yang sedari tadi dia pegang guna melihat seperti apa bentuk putra dari wanita itu. Dan betapa terkejutnya Zoya saat tahu gambar di foto itu sangat mirip dengan pria yang beberapa saat lalu membuat dirinya menangis. Ralat, bukan lagi mirip, melainkan itu memang orang yang sama.

"Ada apa?" Vina yang tadinya masih merenungi permintaan Lisa, terkejut mendengar teriakan Zoya yang memengkakkan telinga. Terlebih Melly, gadis itu sampai terjingkat, karena posisinya tepat di samping Zoya.

"Bu—bukannya ini pacar, ups.. maksudku om Danu." ucap Zoya dengan lantang.

"Iya.. Tapi nggak usah teriak-teriak juga Oneng, kita belum budek." saut Melly seraya menggosok telinganya yang berdengung.

"Jadi kalian tau kalau tante Lisa emaknya Danu?" lanjut Zoya tanpa memperdulikan wajah jengah kedua sahabatnya.

"Iya.." seru mereka bersamaan.

"Kok bisa?"

"Jadi begini, monggo dijelaskan Tuyem." Vina yang di panggil langsung menolehkan pandangan.

"Kok aku?"

"Ya kan kamu yang diajak diskusi langsung sama tante Lisa tadi."

"Tunggu tunggu.. diskusi, diskusi apa? Ada yang kalian sembunyikan dariku?" tanya Zoya dengan pandangan menyelidik kedua sahabatnya.

"Sebelumnya aku minta maaf ya Zo, karena ide gila dariku kamu harus berurusan dengan mereka. Coba saja tadi aku tidak memintaku melakukan itu, pasti semua ini nggak bakalan terjadi. Maaf ya Zo, sumpah aku nyesel banget." Vina hanya mampu terisak seraya mengucap kata 'Maaf' berulang kali menyesali semua perbuatannya.

"Aku juga minta maaf Zo, kami memang salah." ucap Melly yang juga ikut terisak.

"Kalian memang salah, tapi aku juga salah.. Kita semua salah.." melihat kedua sahabatnya berderai air mata penyesalan, menguap sudah emosi yang tadi sempat menghinggapi dirinya.

"Mungkin ini teguran untuk kenakalan kita selama ini. Kedepannya, jangan lagi taruhan ya, itu hanya akan merugikan kita sendiri. Sini peluk, jangan pada nangis, aku jadi ikutan nangis kan." ketiganya berpelukan dan menangis bersama, menyesali semua yang sudah terjadi, dan menjadikan kesalahan sebagai pelajaran berharga dalam hidup mereka. Dari situ juga mereka menyadari satu hal, 'jangan pernah mencoba sesuatu jika itu hanya akan merugikan diri sendiri maupun orang lain.'

"Sekarang ceritakan dengan detail bagaimana tante Lisa bisa menemui kalian?" ucap Zoya setelah tangis mereka

mereda dan melepas pelukannya.

"Tadi waktu kamu masih di dalam kafe tante Lisa tiba-tiba mendekatiku dan Melly ditempat biasa kita nongkrong.." Vina dengan ragu mulai menjelaskan.

"Terus.."

"Awalnya kita gak tau kalau dia emaknya Danu, karena kita khawatir istrinya Danu itu datang terus neriakin kamu pelakor. Kita berdua sudah siap mau masuk, tapi tiba-tiba tante Lisa bilang…"

"Bilang apa?" tanya Zoya penasaran saat Vina menggantung kalimatnya.

"Danu masih lajang, dan itu emak-emak minta kita berdua bantuin dia buat mendekatkan kamu sama anaknya, kalau nggak dia akan menghukum kita semua, karena sudah jadiin putrinya bahan taruhan." kali ini yang menjelaskan Melly dengan menggebu.

"Wah nekat juga tuh emak." celetuk Zoya.

"Makanya kita cuma bisa nurut, waktu dia ngajak kita pulang duluan." lanjut Vina.

"Maaf ya Zo, kalau kamu marah, aku siap menerima kemarahanmu." ucap Viba lirih.

Zoya hanya diam dengan pikiran menerawang pada beberapa waktu sebelum dirinya bertemu Danu.

Siang itu Zoya the gang tengah menghabiskan waktu luangnya di bawah pohon rindang yang ada kursi panjang di bawahnya, pohon itu sendiri berada tepat di depan sebuah kafe yang cukup viral, hingga selalu ramai pengunjung apalagi di saat jam-jam makan siang.

Merasa bosan dengan apa yang mereka lakukan. Akhirnya tercetus ide konyol Vina untuk melakukan taruhan, seperti biasa yang mereka lakukan.

Yah, Zoya dan kedua sahabatnya memang gemar melakukan taruhan, apapun mereka jadikan bahan taruhan. Termasuk siang itu, ketiganya ingin bertaruh dengan tantangan yang lebih ekstrim dari biasanya, yaitu yang kalah mendapat hukuman, dan pemenangnya akan jadi ratu kost selama seminggu.

Naasnya disaat yang bersamaan mata tajam Vina melihat dua pria yang memiliki gaya penampilan berbeda jauh, yang satu jadul juga terkesan cupu, berbeda dengan yang mengenakan setelan jas hitam terlihat stylish dan kekinian. Hingga terlintas ide gila di benak Vina. Jika yang kalah harus meminta pria berpenampilan cupu itu untuk mau menjadi kekasihnya, dengan syarat harus diterima. Jika ditolak hukuman akan bertambah. Detik-detik dimulai saat serentak ketiganya berseru…

Batu gunting kertas

Permainan anak kecil yang cukup populer di masanya itu rupanya juga menjadi kegemaran mereka, sehingga timbul ide taruhan yang semakin candu ketiganya lakukan. Dan tanpa mereka sadari dari permainan itu juga menjadi cikal bakal suatu hubungan baru yang tidak pernah terduga sebelumnya.

Zoya si ratu kemenangan julukan yang disematkan untuk dirinya sendiri, hari itu harus menelan pil kecewa lantaran harus mengalami kekalahan.

"Haah seandainya kalian tahu apa yang terjadi padaku tadi, sungguh memalukan." desah Zoya seraya menunduk lesu mengingat kejadian beberapa waktu lalu.

"Tapi kalau dilihat dari fotonya pria itu lumayan juga." celetuk Melly.

"Ya.. kamu memang benar, dia lumayan menjengkelkan."

"Tampan Oneng?" sela Melly.

"Entahlah aku tidak terlalu memperhatikan itu."

"Lalu kamu diterima?" tanya Melly lagi, Zoya hanya menggeleng pelan.

"Dia malah menuduh aku ingin mempermalukan dia, dan semua yang aku lakukan hanya demi uang." jelas Zoya apa adanya.

"Maaf ya Zo, kamu harus mengalami semua ini.. Semua salahku." Vina kembali terisak saat mengingat ide konyolnya.

"Sudahlah Vin, semua juga sudah terjadi. Untuk apa menyesali sesuatu yang jelas tidak bisa terulang lagi, nikmati saja yang ada. Sudahlah, aku tidak apa-apa." Zoya mencoba menenangkan dengan mengusap pelan bahu sahabat itu.

Sungguh Vina sangat menyesali perbuatannya, andai waktu bisa diulang kembali dia tidak akan melakukan semua itu. Yang akhirnya berimbas pada sahabatnya sendiri. Vina semakin merasa bersalah ketika teringat jika dirinya juga menyanggupi permintaan Lisa untuk mendekatkan Zoya dengan Danu. Pria yang selalu berhasil menarik perhatian semua mata karena visualnya yang cupu.

"Lalu sekarang apa rencanamu Zo?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED