Bagaimana bisa, Tuhan menciptakan lelaki begitu sempurna sepertimu. -Alea-
Lea berlari cepat, dengan nafas ngos-ngosan, hari ini dia terlambat. Ini semua karena matanya yang memaksa bergadang untuk menonton drakor semalam.
"PAK TUNGGU DULU!" Lea berhenti sedikit membungkuk, nafasnya tersengal-sengal karena lelah berlari sejauh itu.
"Kamu terlambat!" ucap pak satpam itu tegas, Lea meneguk ludahnya susah payah, ketahuilah jika dia penakut.
"Ta-tapi pak, gimana caranya saya masuk kalau gerbangnya bapak tutup!" cicitnya, dia menatap takut pada bapak penjaga itu.
"Pulang saja sana! Sekolah ini tidak menerima murid bandel sepertimu!" ucapnya ketus.
"Ish! Bapak jahat banget sih. Lea itu nggak bandel! Lea itu rajin, bangun tidur langsung mandi, bersihin kamar, bantu mami masak terus baru berangkat!" jelasnya.
"Saya tidak peduli! Kamu tetep tidak saya ijinkan masuk!"
Satpam itu menatapnya tajam membuat Lea kesal, dia menghentakkan kakinya kesal dengan tangan berkacak pinggang.
"Saya cuma terlambat sekali pak! Masak langsung di suruh pulang. Saya mau masuk! emang bapak mau saya jadi bodoh! iya, kalau sampai cita-cita saya nggak ke gapai bapak yang saya salahkan."
Satpam itu nampak kesal melihatnya Lea pun tak kalah kesal. Kenapa dia harus di suruh pulang? sedangkan teman-temannya yang lain yang biasa terlambat masih bisa masuk.
"Bapak pilih kasih ya! teman Lea kemarin ada yang terlambat tapi kenapa dia bisa masuk! dan sekarang kenapa Lea nggak boleh masuk!" sungutnya.
"Kamu itu anak SMA apa anak TK sih! udah sana pulang." Satpam itu berdecak kesal. Lea semakin kesal dia menatap tajam pada bapak satpam itu.
"Dasar jelek! udah gendut, item, dekil, idup lagi! mati aja sana. Beban masyarakat tau gak!" teriaknya sebelum pergi dari sana.
"AWAS KAMU YA!" teriak satpam itu kesal, Lea sudah ketar-ketir sendiri dia menggigit jarinya merasa takut, sebenarnya tadi dia hanya sok berani saja.
Jika sampai satpam itu balas dendam kelar hidupnya. "Ah, ini gimana Lea masuknya! nyebelin banget pak satpam tadi. Kenapa nggak di jaga anak OSIS aja sih!"
Dia mondar mandir sendiri di samping sekolahan, Lea menatap tembok yang menjulang tinggi di hadapannya.
"Arka bilang dia waktu telat manjat tembok, apa ini tembok yang di maksud? tapi kan tinggi banget! kalau sampai Lea jatuh terus tulangnya patah dan parahnya lagi sampai diamputasi. Ih gak mau! buntung dong." Lea bergidik ngeri berbalik arah dengan wajah kesal, sampai .....
Bruk!
"Aduh! ini kenapa ada tembok di tengah jalan sih!" decaknya, dia mengusap dahinya yang terasa sakit.
Lea mendongak sampai matanya menatap sorot tajam milik seorang pria yang telah menabraknya ralat yang dia tabrak.
"Ah, pangeran Lea!" ucapnya girang, dia senyum-senyum sendiri menatap Kendra yang menatapnya datar.
"Ngapain lo di sini, bolos?" tanyanya, Lea bukannya menjawab malah senyum-senyum sendiri.
"Kalau temboknya kamu mah, bukan aku lepas malah aku peluk!" kekehnya. Dia mengedipkan satu matanya menatap genit ke arah Kendra.
Kendra bergidik ngeri mendorong pelan tubuh Lea agar menjauh darinya. "Lo ngapain di sini, Leak!" decaknya.
Gadis itu mengerucutkan bibirnya sebal, menatap kesal ke arah Kendra. "Nama aku Lea bukan Leak!" kesalnya.
"Bodo! gue gak perduli! minggir sana lo, halangin jalan gue aja." Lea tidak bergeming menatap Kendra dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ck, apa! lo mau nyusahin gue lagi. Udah minggir gue mau masuk!" ketusnya, mendengar ucapan Kendra membuat Lea tersenyum.
"Ken, mau masuk ya? Lea bareng dong. Lea juga mau masuk tapi sama pak satpam jelek gak dibolehin. Masuk lewat apa?"
"Lubang hidung lo tuh masukin!" kesalnya, kenapa juga dia harus bertemu dengan gadis menyebalkan itu.
"Ish, mana muat. Kalau bisa udah Lea masukin dari tadi. Masuk lewat mana aja terserah penting bisa masuk ke sekolahan!"
"Bego banget sih lo!" Dengan kesal Kendra mendorong dahi gadis itu pelan, entah lugu atau bodoh orang semacam Lea ini.
"Ken, Lea pinter tau. Orang kemarin waktu ulangan Lea dapat telur! pinter kan. Temen-temen Lea aja pada dapat nilai angka Lea dong pinter dapat telur dari pak guru!" Wajah Kendra berubah datar menatap gemas sekaligus kesal pada gadis itu.
"Kalau bunuh orang gak dosa udah gue bunuh lo, Leak!" geramnya, tanpa memperdulikan ocehan Lea dia segera memanjat tembok untuk masuk ke area sekolah.
"Ih, Ken kok manjat sih kamu mirip monyet tau manja-manjat gitu. Tapi kalau monyetnya kayak kamu mah, Lea ikhlas lahir batin nikah sama monyet!" ucapnya.
"Ngoceh sekali lagi gue sumpel pake sepatu mulut lo!" kesal Kendra, dia memang harus punya kesabaran ekstra untuk menghadapi orang seperti Lea.
"Ken, Lea gimana naiknya! Lea kan bukan monyet." Kendra menggeram kesal menatap tajam ke arah Lea.
"Lo pikir gue monyet!" Kesalnya.
"E-eh, e-enggak kok. Lea nggak bilang Ken monyet kok, Ken itu kembarannya monyet! makanya Ken bisa manjat!" girangnya.
"GUE BUNUH JUGA LAMA-LAMA LO, LEAK!"
****
"Lea, kok lo bisa telat sih? terus itu kenapa lo pakai senyum-senyum sendiri. Lo nggak gila kan? karena telat masuk sekolah?" ucap Elsa, bergidik.
"Apasih, Elsa. Mending sekarang kamu buatin es buat Lea, Lea lagi pingin main salju!" ucapnya ngawur.
"Mental depresot gue mah ngelawan lo!" kesal Elsa, Lea memang tidak pernah benar, mungkin otak gadis itu sedikit miring.
"Ish, Ken ganteng banget sih! Lea pingin cepet-cepet di halalin sama, Ken deh!" ucapnya dengan senyum-senyum tidak jelas.
"Fiks! lo bener-bener gila, Le. Mungkin lo kena penyakit HTT, lo harus segera periksa sebelum penyakit lo makin parah."
Lea melotot menatap ke arah Elsa, tangannya yang bebas memukul kesal lengan Elsa.
"Lea nggak sakit, ih! Elsa jangan ngaco. Elsa itu yang sakit, sakit jiwa!" balasnya.
Elsa menggeram kesal namun dia tetap tersenyum, senyum paksa dengan rasa ingin mencekik orang di depannya.
"Sabar gue mah! untung gue waras nangepin orang gila kayak lo!" kesalnya, saat Elsa akan pergi Lea menahannya.
"Ih, Elsa mau ke mana. Jangan tinggalin Lea dong! entar kalau Lea di culik gimana!" ucapnya berlebihan.
"Kabar bahagia banget kalau lo di culik, Le. Mental gue aman kalau nggak ada lo!" selorohnya.
Lea cemberut mengeplak lengan Elsa kembali. "Jahat banget, ih. Tapi kalau yang culik Ken sih Lea ikhlas lahir batin nggak di balikin ke mami juga ikhlas banget, sekalian aja entar pulang ke rumah bawa cucu buat mami! pasti mami seneng."
"LO EMANG STRES, LE! STRES!" ucap Elsa kesal, ingin sekali dia menenggelamkan sahabat lugunya ini ke pantai selatan, biar sekalian dibawa nyiroro kidul.
"Ish! Elsa jangan marah-marah dong. Cepat tua entar, Elsa mau mukanya keriput. Ih, entar nggak ada yang mau sama Elsa, kalau semua suka sama Lea gimana? kan Lea yang bingung kasihan juga Ken dia pasti cemburu!"
Nyebut, Sa nyebut!
Elsa menarik nafas dalam-dalam, untuk mencoba sabar menghadapi keluguan sahabatnya ini.
"Lo emang bener-bener punya sakit HTT ya, Le!" ucapnya sabar, dia mengusap berulang kali rasanya agar tak sampai meledak menghadapi Lea yang sangat menyebalkan ini.
"Em, emang HTT apa? Lea nggak ngerti!" ucapnya polos.
"HALU TINGKAT TINGGI! dahlah depresot gue nanggepin ucapan lo!" ucapnya berlalu pergi, Lea berdecak kesal.
"Padahal kan, Lea cuma tanya. Elsa kenapa marah-marah mulu sih. Udah Lea ditinggal, dasar nggak berperiketemanan." Lea menghentakkan kakinya kesal sebelum pergi dari sana.
Wajahnya yang tadinya kesal kini kembali tersenyum kala melihat rombongan Ken yang baru memasuki kantin, seolah memiliki baterai yang terisi penuh dia segera menghampiri Kendra.
"Ken, Lea di sini!" teriaknya, semua orang menatapnya tak terkecuali teman-teman Ken, namun tidak dengan Ken sendiri.
"Ish! kok Lea gak di respon sih." Kesalnya.
Dia menghampiri meja Kendra dan teman-temannya tanpa permisi dia langsung duduk di sebelah Kendra.
"Ken, marah ya sama Lea? Gara-gara tadi ya? Maaf ya Lea gak sengaja. Pantat Ken masih sakit?" tanyanya tanpa beban.
Ken menatapnya tajam, tak seperti teman-temannya yang kini tengah meledakkan tawanya. Lea seolah tak sadar akan ucapannya masih terus mengucapkan aib Kendra.
"Kolor Ken, si kembar botak nanti Lea ganti deh, kolor Ken tadi sobek kan?" tanya lagi. Kendra segera membekap mulut gadis itu dengan mata menyorot tajam.
Wajahnya merah merasa malu terlebih teman-temannya kini yang tengah menertawakan dirinya saat ini.
"Anjir, kolor si kembar botak!" kekeh Ronald, Kendra menatap tajam ke arah teman-temannya membuat mereka semua bungkam.
"Lo diem!" ucapnya pada Lea yang hanya mengerjab matanya. Kendra melepas bekapan tangannya mengajak Lea untuk pergi dari sana.
"Ish! apaan sih Ken. Tangan Ken bau banget tau! Ken habis cebok ya gak cuci tangan. Ish jorok!" dengusnya.
"Diem, anjing!" kesal Ken, dia berkali-kali lipat malu mendengar ocehan Lea yang tak ada habisnya itu. Membuat beberapa temannya tertawa mendengarnya.
Kendra pun mencium tangannya sendiri, dan itu tidak benar. Tangannya tidak seperti apa yang Lea katakan.
"Lo kibulin gue!" kesalnya.
Lea hanya diam menatap Kendra dengan tatapan tak berdosanya. "Ken masih marah ya?" tanyanya kembali mengingat insiden dia naik tembok tadi pagi.
*****
[Flashback]
"Ish, terus Lea gimana dong naiknya. Ken tega ninggalin Lea sendiri!" ucapnya sedih, matanya berkaca-kaca menatap Kendra yang sudah ada di atas.
"Ck, nyusahin banget sih lo!" Kendra memutar otak mencari cara untuk Lea bisa naik ke sini.
"Ya udah buruan naik! ribet amat lo jadi cewek." teriak Kendra dari atas.
"Ish, mana bisa. Lea kan pakai rok. Entar kalau kelihatan gimana!" teriaknya.
"Ck, nggak ada siapa-siapa Lea. Buruan! lagian siapa yang mau ngintip lo, lihat tubuh kerempeng lo aja semua orang pada gak selera!" ketusnya.
Lea mencebikkan bibirnya kesal, meski takut dia tetap mencoba untuk naik ke atas, dengan sangat hati-hati.
"Ck buruan! lelet amat sih lo!" kesal Kendra tak sabaran. Memang cara naik Lea saja yang lambat.
"Ish! jangan marah-marah dong. Lea kan lagi konsentrasi kalau sampai Lea jatuh gimana." Lea berucap kesal, sampai dia bisa menggapai tangan Kendra dan naik ke atas tembok itu.
"Terus? kita duduk di sini aja? Ken mau ajak Lea pacaran di atas sini?" tanya polos, seperti biasanya di saat dia berpikir matanya akan berkedip-kedip.
"Pacaran pala lo! buruan loncat." Lea melotot mendengarnya, apa katanya tadi? loncat? yang benar saja, tembok setinggi ini dia di suruh melompat.
"Nggak mau. Ken mau bunuh Lea, suruh Lea loncat dari atas sini. Kalau mau mati, mati aja sendiri gak usah ajak-ajak Lea!"
"Bacot banget anak Herman!" Lea melotot mencubit pinggang Kendra kesal, berani-beraninya dia mengejek nama papinya.
"Durhaka mainin nama orang tua! Ken mau masuk neraka? Ken mau tubuhnya di balik kayak jambu mente!"
"Lo bacot sekali lagi gue dorong dari sini!" Kendra menggeram kesal, Lea menatap ragu ke arah bawah.
"Ken duluan aja yang turun, Lea nggak berani. Kalau Ken udah di bawah cariin Lea tangga." Seperti ratu yang membabu pembantunya.
"Bunuh orang dosa gak sih, Le? gue bener-bener pingin cekek orang sekarang!". ucap Kendra datar.
"Bunuh orang itu dosa, Ken. Ken nanti bisa masuk penjara bisa masuk neraka jug---" Lea melotot saat Ken merangkul pinggangnya dan terjun ke bawah sana.
Bruk!
"Anjing!" Kendra meringis saat pantatnya mendarat ke tanah dengan sangat keras terlebih Lea yang malah terduduk pada perutnya.
"Bangun goblok! perut gue sakit!" kesalnya. Lea yang baru tersadar pun segera bangun dari tubuh Ken.
"K-ken gak papa?" tanyanya.
Kendra meringis memegang pantatnya yang terasa linu. Menatap tajam ke arah Lea tanpa perduli dengan gadis itu dia segera bangkit mengambil tasnya yang tak jauh darinya.
Sebenarnya tinggi tembok itu tidak seberapa, paskah untuk loncat-loncat seperti itu. Lea saja yang lebay.
"Ken!" teriak Lea kembali, gadis itu membekap mulutnya dengan wajah panik.
"Apa!"
"I-itu." Lea menunjuk padanya, membuat Kendra mengernyit apa maksud gadis itu.
"Apa sih! ngomong yang jelas dong. Gagu lo ngomong kayak gitu!" Kesalnya.
Lea menutup wajahnya namun membuka sedikit jari-jarinya menatap ke arah Kendra. "I-itu Ken, celana kamu sobek. Kolor si kembar botak kelihatan ikutan sobek!"
Astaghfirullah sabar!
Lea berjalan dengan riang menuju kelasnya, matanya terkunci pada temannya Angel. Teman kelasnya yang selalu membuatnya kesal, tengah berciuman dengan seorang pria di dekat kamar mandi.
"Ya Allah maafin Lea, mata Lea ternodai!" ucapnya lirih, dia menutup wajahnya dengan kedua tangan namun jari-jarinya terbuka mengintip perbuatan kotor mereka.
"Kayaknya kalau Lea Vidio bagus deh. Nanti kalau Angel macam-macam sama Lea, Lea bisa laporin!" ucapnya senang merasa idenya tersebut sangat brilian.
Dengan langkah hati-hati, Lea membuka ponselnya dan mengarahkan kamera itu pada mereka berdua yang masih asyik dengan kegiatannya tanpa sadar dengan Lea yang fokus merekam kegiatan mereka.
Lea tertawa kecil, segera memasukkan ponselnya ke dalam saku dan segera berlari sebelum Angel si nenek lampir itu melihatnya.
"Jijik banget sih, ih mereka bener-bener nodai mata Lea! kesel banget." Lea terus berduel sepanjang jalan, merutuki mereka berdua yang tidak tahu tempat.
"WOI, LEAK!" Lea berbalik menatap Kendra yang menatapnya kesal, Lea tersenyum dia menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dengan wajah tersipu malu.
"Kenapa, Ken? Ken kangen ya sama Lea!" godanya, dia menjawil dagu Ken pelan membuat lelaki itu bergidik.
"Jijik banget gue kangen sama cewek kayak lo! Nih, kerjain tugas gue. Lo udah janji mau kerjain tugas gue kan sebagai ganti rugi!" Kendra memberikan buku itu pada Lea.
"Ih, banyak banget sih! Lea kan cuma bilang satu tugas ini kenapa ada lima. Ken curang ih!" dumelnya.
"Ck, cerewet banget sih lo! tinggal kerjain aja apa susahnya sih. Ribet banget jadi cewek!" Lea mengerucutkan bibirnya sebal.
"Ck, ciriwit bingit sih li! tinggil kirjiin iji ipi sisihnyi sih. Ribit bingit jidi ciwik!" Lea menirukan ucapan Kendra dengan wajah kesal.
"Situ enak tinggal ngomong aja, aku yang kerjain capek lah! Lea nggak mau tahu, Lea nggak mau kerjain tugas Ken semua. Lea cuma kerjain satu aja!" Lea mengembalikan buku itu pada Kendra.
"Ck. Mulai berani lo sama gue!" ucap Kendra, dia melotot tajam ke arah Lea, gadis itu tak takut balik melototi Kendra dengan kesal.
"Emang sejak kapan Lea takut sama Ken! dasar! muka aja sangar tapi kolor si kembar botak, huuu!" ledek Lea dengan tertawa, Kendra segera membekap mulut gadis itu, suaranya yang keras membuat beberapa orang melihat ke arahnya.
"Mau gue cium lo, hah!" bisik Kendra tajam, mendengar kata cium membuat Lea melotot tiba-tiba dia teringat pada Angel yang dia rekam saat tengah berciuman dengan lelaki.
"Nggak mau!" Lea menutup bibirnya sendiri, mendorong Kendra agar menjauh darinya, dia melotot garang.
"Ken, jangan macem-macem ya! mau Lea laporin ke Kak Agam. Biar Ken masuk BK!" tantangnya.
"Gue gak takut, sini gue cium dulu baru gue masuk BK." Kendra berjalan mendekat ke arahnya dengan senyum menyeramkan, wajahnya terlihat seperti om-om pedofil.
"IH GAK MAU!" Lea segera berlari dari Kedra dengan wajah ketakutan, beda dengan Kendra yang malah tertawa puas mendengarnya. "Dasar bocil!"
*****
Elsa menatap jengah ke arah Lea yang tengah bermain ponsel sedari tadi, tanpa menghiraukan dirinya yang ada di sampingnya.
"Lea! udah napa sih, lo nggak ada attitude banget dah main hape mulu. Kalau ada temen itu, hape taruh dulu! nggak sopan tau."
Lea mengerucutkan bibirnya kesal, menatap ke arah Elsa. "Bentar ih! kan Lea lagi mandiin barbie, kasihan Barbie ya belum mandi dari kemarin. Kan bau!" ucapnya kesal.
Elsa menghela nafas panjang ternyata sedari tadi, Lea asyik sendiri bermain dengan barbienya?
"Gue tuh heran sama lo, Le. Lo itu sebenarnya anak SMA apa anak TK! gak habis pikir gue sama jalan otak lo yang cetak!"
"Elsa rabun ya? udah tahu Lea pakai baju SMA. Itu artinya Lea udah SMA kalau Lea pakai baju TK itu artinya Lea masih TK. Gitu aja gak tau! Elsa tuh yang Tk!" Elsa mengeram kesal, kenapa bocah ini selalu membuatnya kesal.
"Dahlah mental breakdown gue ladenin lo. Bisa-bisa sakit mental gue!" Elsa segera pergi dari hadapan Lea yang acuh, dia tengah fokus dengan barbienya.
"Lea." Gadis itu mendongak saat mendengar suara berat memanggilnya, dia tersenyum saat melihat lelaki itu duduk di hadapannya.
"Iya, kak. Kenapa?" Seperti biasa gadis yang selalu ceria itu, tersenyum menatap ramah pada kakak kelasnya yang bernama Agam sekaligus kakak kelas yang menjabat sebagai ketua OSIS.
"Entar sore, lo sibuk gak?" tanyanya, Lea terdiam sebentar berpikir sejenak.
"Em, enggak sih kak. Emang kenapa?" Agam tersenyum senang mendengar jawaban Lea.
"Ikut gue ke gramedia, cari buku buat persiapan ujian. Mau kan? entar gue beliin novel." Dengan cepat Lea mengangguk, lumayan kan dapat novel gratis.
"Ma---"
"Nggak! entar sore dia pergi sama gue." Mereka berdua menoleh pada Kendra yang tiba-tiba ada di belakang Agam.
"Eng--"
"Iya. Lo lupa sama janji lo!" Kendra melototinya membuat Lea kesal, memang dia janji apa.
"Bener, Le?" tanya Agam.
"Maaf, kak. Lain kali aja ya!" ucap Lea tak enak, Agam mengangguk meski dia sedikit kecewa.
"Yaudah gak papa, gimana kalau besok? lo besok gak sibuk kan? besok juga hari libur." Lea mengangguk namun lagi-lagi Kendra menyelanya.
"Besok dia juga ada acara sama gue. Udah lo ke gramedia sendiri kan bisa! gak usah manja. Gak usah ganggu Lea lagi, udah sana keluar lo! kelas lo bukan di sini!" ketus Kendra.
"Ck, kelas lo juga bukan di sini." Agam menatapnya kesal, mereka berdua sedari dulu memang tidak pernah akrab selalu ada saja yang mereka ributkan.
"Bacot!" Kendra menarik Agam dan mengusirnya keluar menatap laki-laki itu tajam. "Gak usah deketin Lea lagi!"
Kendra menutup pintu kelas itu dengan kasar, kembali ke arah Lea yang mengerucutkan bibirnya kesal.
"Emang Lea punya janji sama, Ken? Lea nggak pernah janji apa-apa sama, Ken! ngeselin banget sih, Lea jadi nggak dapat novel gratis." Lea berdumel kesal.
"Ck, gue beliin! lo mau berapa emang. Segramedia lo beli gue bayar!" kesal Ken, Lea berbinar mendengarnya.
"Serius? oke. Nanti pulang sekolah Ken beliin Lea novel segramedia ya!" ucapnya binar, Ken menatapnya datar.
"Bangkrut gue!"
"Ih, Ken udah janji. Nggak boleh ingkar! beliin Lea segramedia." Lea menatapnya kesal.
"Hm. Asal ginjal sama jantung lo kasih ke gue dulu, biar gue jual!" Lea mengerjab pelan, membuat Kendra gemas dia yakin jika gadis itu akan bertanya hal aneh kepadanya.
"Emang laku? kalau dijual dapat berapa? terus ambilnya gimana? kalau diambil Lea masih hidup nggak?" ucapnya beruntun.
"Lakulah, laku keras malahan. Kalau lo jual gue yakin langsung kaya dadakan lo! lo pingin tau caranya gimana? perut lo di sobek terus gue yang ambil jantung sama ginjal lo, gimana lo mau gak?"
"T-terus, Lea masih hidup gak?" ucapnya kembali, wajahnya menatap takut ke arah Kendra.
"YA MATILAH DONGO!"
*****
Lea tersenyum senang, melihat banyak buku yang dia bawa. Kendra tidak ingkar, dia membelikan banyak novel untuk Lea meski tidak segramedia.
"Nyengir lo!" kesal Kendra.
Lea tertawa kecil menatap ke arah Kendra dengan senang. "Makasih, Ken!" ucapnya tulus, senyum manis terbit di wajahnya.
"Hm." Kendra tidak kesal dengan uangnya yang keluar banyak dia hanya kesal karena Lea yang memilih buku itu lama, hampir tiga jam! gila kan.
"Ken, mau itu!" Lea menunjuk penjual eskrim di pinggir jalan. Wajahnya nampak binar, sebenarnya bisa saja dia beli sendiri tapi sialnya uang jajan Lea ketinggalan.
"Hm." Mereka berdua berjalan menghampiri penjual eskrim itu, membelikan dua varian rasa eskrim untuk Lea. Cokelat dan vanila.
Mereka berdua duduk di bangku taman, Ken fokus pada ponselnya sedangkan Lea fokus pada eskrimnya. Hanya Lea yang beli tidak untuk Ken.
"Ken, kenapa gak beli? uang Ken habis ya buat beliin Lea banyak buku?" tanyanya, gadis itu menatapnya polos dengan mata yang mengerjab lucu.
"Duit gue banyak!" balas Kendra sombong, dia mengusap kepala Lea gemas.
"Habisin! setelah ini ikut gue ke rumah, tugas gue numpuk lo harus kerjain!" Lea melongo mendengarnya.
"Gak mau!" tolaknya cepat.
"Lea capek. Mau pulang, mau tidur! Ken kerjain sendiri dong tugasnya masa suruh Lea. Terus apa gunanya Ken sekolah!" omelnya.
"CK, lo kan udah janji gue udah nepetin janji gue buat beliin lo buku masa lo gak nepetin janji lo buat ngerjain tugas gue. Gak adil lo ah, kesel gue!"
"Ih. Gak gitu, besok aja. Lea capek tau! besok aja Lea ke rumah Ken, eh enggak Lea nggak boleh sama mama ke rumah cowok, Ken aja yang ke rumah Lea. Ya!"
"Hm." Ken kembali fokus pada ponselnya. Lea menawarinya eskrim, Ken hanya menatapnya kilas.
"Ih, Ken marah ya sama Lea?" ucapnya sedih, matanya mengerjab pelan. Ken menghela nafas panjang.
"Gue gak marah!"
"Boong, Ken marah kan sama Lea." Lea menatapnya berkaca, tangannya menggoyangkan lengan Kendra pelan.
"Jangan marah, Lea minta maaf. Lea janji kok bakal nepatin janji Lea, tapi besok ya. Lea capek sekarang!" Ken mengganguk, tanyanya mengusap kepala Lea pelan.
"Iya, Leak!"
Lea tersenyum dia kembali menawari Ken eskrim. "Kalau gak marah coba makan, manis kok! Nggak pahit nggak asin juga!"
"Bego lo kumat! Mana ada eskrim asin." Kendra berdecak kesal. Lea terkekeh pelan, Ken memakan eskrim itu sedikit menatap Lea yang tersenyum ke arahnya.
"Manis kan?" tanyanya.
"Hm."
"Kok hm doang?" Lea kurang puas dengan jawaban Kendra. Dia terdiam kala Kendra menatapnya dalam dan tangan lelaki itu mengusap pelan bibirnya.
Ken mengecup jarinya yang terdapat sisa eskrim Lea. "Manis!" ucapnya dengan senyum miring.
"KEN!" Lea menutup wajahnya malu, wajahnya sudah merah seperti kepiting rebus.
Gak usah senyum, senyum
lo jelek! -Kendra-
Kendra terdiam menutup kencang pintu kamarnya, berjalan santai menuju balkon dengan sebotol wine ditangannya.
"KALAU MAMA BISA AJARIN KENDRA!! INI SEMUA NGGAK AKAN TERJADI, ANAK KESAYANGAN KAMU ITU NGGAK AKAN BERANDAL SEPERTI ITU!"
Kendra berusaha menutup rapat-rapat telinganya mendengar teriakan, bentakan, pertengkaran dari orang tuanya.
Asap mengepul dari mulutnya, dia berusaha menutup rapat telinganya berusaha untuk tidak mendengar pertengkaran itu.
Prank!
Kendra tetap diam mendengar keributan itu, suara pecahan kaca tidak sama sekali membuatnya turun untuk menghentikan semua itu, karena itu semua percuma!
Kendra meneguk wine itu dengan ugal-ugalan, tanpa sadar satu botol wine itu telah dia habiskan.
Sampai pertengkaran itu tak lagi terdengar dan dia mulai mendengar tangisan mamanya, hal itu sangat menyesakkan dadanya, namun dia hanya diam. Kendra terkekeh pelan.
"Sampai kapan? Gak ada habisnya mereka berantem. Dari gue kecil sampai gue sebesar ini, mereka bahkan nggak perduli gimana perasaan gue. Egois!"
Air matanya mengalir begitu saja, dia meremas rambutnya merasa lelah dengan semua ini, dia muak!
"Gue capek Tuhan, gue capek sama hidup gue. Gue cuma pingin mereka bisa ngertiin gue, gue pingin keluarga yang bahagia, gue pingin di sayang sama orang tua gue. Gue pingin kayak temen-temen gue, di semangati, di support, di banggain, dan diperhatiin."
"Mereka, selalu nuntut gue buat bisa dalam segala hal, tapi mereka nggak ada dalam proses itu, mereka nggak nemenin gue. Mereka cuma nyuruh gue, belajar dan terus belajar sampai kepala sakit. Dan di saat gue berhasil, gak ada satu kata pun kata bangga dari mereka, pujian atau semacamnya."
"Gue gak mau dipuji, gue cuma mau dihargai. Dan di saat gue gagal, yang seharusnya kebanyakan orang tua support kasih dukungan buat anaknya bangkit, tapi itu semua nggak berlaku buat orang tua gue. Orang tua gue pasti akan mukul gue, ambil motor gue, dan kurung gue di rumah selama sebulan."
"Bukannya gue semangat yang ada gue pingin cepet-cepet ketemu Tuhan!" Kendra mengusap kasar air matanya, dia bangkit mengambil kunci motornya dan keluar dari rumahnya.
"KENDRA, MAU KEMANA KAMU!" teriakan suara itu berasa dari mamanya yang tengah menangis di ruang tamu.
"Keluar." Kendra berucap acuh dan segera pergi tak perduli dengan makian, atau umpatan yang keluar dari bibir mamanya.
"ANAK NGGAK TAU DIRI, MASUK KAMAR SEKARANG KENDRA! HARUSNYA KAMU ITU BELAJAR BUKAN MALAH KELUYURAN NGGAK JELAS KAYAK GITU!" sentak Kiara, mama Kendra yang tentu saja dia dengar.
Namun Kendra acuh, dia tetep memilih pergi dari rumah itu. Kendra melajukan motornya dengan ugal-ugalan, dia seolah tak perduli dengan nyawanya yang kapan saja bisa melayang.
Kendra menghentikan motornya, di markas tongkrongannya dengan teman-teman. Dia keluar dengan wajah yang di bilang tidak baik-baik saja.
"Woi, akhirnya lo datang juga!" ucap salah satu teman Kendra, Evan.
"Kenapa muka lo?" tanyanya. Setelah melihat wajah Evan yang babak belur.
"Dikeroyok anak sebelah, gue tadi gak sengaja lewat depan tongkrongan mereka, gue dicegat dan dihajar sama mereka semua!" adunya.
"Shit! Pengecut!" umpat Kendra kesal, dia mengepalkan tangannya kuat tak terima dengan apa yang menimpa anggotanya.
"Dan tadi dia nantangin lo balapan. Katanya kalau lo kalah, kita semua akan mereka habisin!" ucapnya kembali.
Kendra tersenyum miring mendengarnya, dia menatap tajam ke arah Evan. "Di mana?" tanyanya.
"Di tempat biasa, kalau lo mau sekarang kita berangkat." Kendra mengangguk lantas bangkit, membuat teman-temannya tersenyum senang.
"Cabut!" Evan tersenyum senang melihatnya, dia mengusap pipinya yang terasa kebas akibat pukulan dari musuhnya, Kevin.
"Gue akan balas perbuatan lo semua!" ucapnya lirih.
"Ken!" ucap Evan membuat Kendra menatapnya dengan satu alis terangkat.
"Gue ada ide," ucapnya dengan senyum licik.
"Apa?"
"Kita rusakin motor Devian, dan buat taruhan kalau lo menang Maudy jadi milik lo, gimana? lo masih suka kan sama tuh cewek." Mendengar ucapan Evan membuat Kendra senang.
"Tapi gue gak mau pakai cara curang. Tanpa gue rusakin motor Devian, gue yakin kita akan menang!" ucapnya percaya diri.
"Kalau gue gak yakin! dari dulu, lo aja nggak pernah menang balapan sama dia. Udahlah, Ken ikuti saran gue. Kalau lo Maudy, anggap aja satu sama karena mereka udah main keroyokan sama gue tadi siang!"
"Oke."
*****
Evan segera melancarkan aksinya, saat Devian dan teman-temannya yang lain tengah beradu mulut dengan Kendra.
Dengan hati-hati dia mulai merusak motor Devian, dia yang memang pandai dalam urusan mesin tentu saja merasa mudah membuat motor Devian mati saat balapan nanti.
"Sip." Evan segera pergi dari tempat itu, sebelum anak-anak REVICKS ada yang melihatnya.
Evan tersenyum miring menatap menantang ke arah Devian dan teman-temannya.
"Selamat kalah!" ejeknya.
Devian tersenyum sinis menatap remeh ke arah Evan. "Gue kalah? nggak ada sejarahnya seorang Devian kalah dari para banci kayak lo!" ucap Devian remeh.
"Haha, lo udah nangis di ketek emak belum, Van? modal tameng ketua nggak usah sok keras!" ejek Angga.
"BANYAK BACOT! mending sekarang mulai balapannya, dan kalau sampai lo kalah. Bendahara kelas lo yang cantik itu akan jadi milik Kendra!"
"Haha, ngimpi! dan kalau sampai lo kalah. Siap-siap tubuh lo gur potong kecil-kecil buat santapan buaya di markas gue!" ucap Devian dengan tatapan mengarah ke arah Angga.
"Shit! Sialan lo. Kalau ngomong buaya gak usah ngadep gue!" kesalnya. Devian terkekeh pelan dia mulai menutup kaca helmnya dan menatap tajam ke arah Angga.
"Selamat kalah, Devian! malam ini gue pasti akan ngalahin lo. Dan inget kalau gue menang, Maudy jadi milik gue!" ucap Kendra dengan senyum miring di bibirnya.
"Kalau lo menang. Dan kenyataannya lo selalu kalah dari gue! jadi jangan berharap buat menang dari gue!"
"SIAP!?" Keduanya mengangguk, Seorang wanita dengan baju mini berdiri di tengah-tengah Devian juga Kendra, dengan bendera hitam putih di tangannya.
"TIGA ...."
"DUA ...."
"SA ... TU!"
Kedua motor itu melesat jauh, Kendra maupun Devian sama-sama tak ingin kalah, mereka berdua saling salip menyalip.
"KALAH LO, BITCH!" ejek Devian, motor lelaki itu melesat jauh meninggalkan Kendra di belakang.
"Anjing!" Kendra terus menambah kecepatan motornya berusaha untuk menyusul Devian, sampai matanya melihat motor Devian berhenti di depan sana.
Senyum miring terukir di bibirnya, sepertinya rencana Evan berjalan sempurna. Dengan santai dia melewati Devian begitu saja.
"Lo yang kalah, bitch!" ucapnya mengejek.
****
Setelah balapan semalam, tubuh Kendra terasa ngilu karena mereka semalam sempat adu jotos.
Selalu sama seperti sebelumnya, dia selalu kalah dengan Devian karena kekuatan lelaki itu jauh di atasnya.
"Sekarang gue emang kalah sama lo, tapi suatu saat gue pasti akan ngalahin lo. Maudy, dia akan jadi milik gue!" ucapnya.
Kendra mengambil ponselnya menatap foto gadis cantik yang dia jadikan wallpaper ponselnya.
"Sebentar lagi, gue akan milikin lo Maudy!" ucapnya.
Tring!
Leak!
Ken jadi ke rumah gak sih!! ini udah siang tau. Kalau nggak sekarang, Lea nggak mau ngerjain tugas Ken!!
"FUCK!" umpatnya kesal, kenapa gadis menyebalkan itu selalu merusak suasana hatinya.
Dengan malas Kendra berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, bahkan lukanya yang semalam belum dia obati.
Bagiamana dengan mamanya? kata sistem rumah tangga mamanya tadi pagi pergi ke Bandung untuk pekerjaan.
Selalu begitu, pulang dan pergi seenaknya tanpa perduli dengan Kendra yang berstatus sebagai anak.
Kendra sudah rapi dengan pakaiannya dengan satu buku di tangannya dia segera menancap gas motornya untuk ke rumah gadis menyebalkan itu.
Tidak sampai sepuluh menit Kendra sampai di rumah Lea. Dia mengetuk pintu rumahnya pelan, dia masih punya sopan santun. Karena Kendra yakin ada mama Lea di rumah.
Ceklek
Pintu terbuka menampilkan wanita paru baya yang masih terlihat sangat cantik yang dia yakini adalah mama Lea.
"Iya, cari siapa ya?" tanyanya lembut.
"Leanya ada Tante?" tanya Kendra sopan.
"Ada, ayo masuk dulu!" Kendra mengangguk, mengikuti langkah wanita itu untuk masuk ke dalam rumah.
"Lea, turun! ini ada temen kamu yang datang!" ucapnya, Kendra duduk di ruang tamu. Sedangkan mama Lea dia masuk ke dapur untuk mengambilkan minum dan camilan.
Lea tersenyum setelah melihat siapa tamu itu, akhirnya lelaki yang sedari tadi dia tunggu datang juga.
"Lama."
"Bacot! mending gue datang. Nih! buruan kerjain tugas gue." Dengan seenak jidat Kendra melempar buku itu ke arah Lea.
"Gue mau per---"
"EITS, ENAK AJA! kalau Ken mau pulang yaudah bawa sekalian bukunya pulang. Lea nggak mau ngerjain buku Ken kalau Ken pulang!" omelnya.
"Diem!" Kendra membekap mulut Lea yang berisik, dia hanya takut mama Lea mendengarnya.
"Ish, lepasin! tangan Ken bau." Kendra segera melepasnya dan dengan bodohnya dia menciumnya.
"G--- lo kibulin gue!" kesalnya. Lea tertawa kecil menanggapinya, dia mengambil buku Kendra dan melihat sepuluh soal biologi.
"Ah ini mah gampang, anak sma juga bisa ngerjainnya!" ucapnya bangga.
"Bego! ya iyalah orang ini pelajaran anak SMA. Emang lo anak kuliahan!" kesal Kendra.
"Ish, bercanda kali. Gitu aja marah! dasar emosian." Sekarang ganti Lea yang kesal, dua manusia ini jika dipertemukan memang tidak akan pernah bisa akur.
Pasti ada saja hal yang mereka ributkan, persis seperti anak kecil. "Buruan, gue mau kumpul sama temen-temen. Udahlah kerjain sendiri, gue mau pulang!"
"Gak! kalau Ken pulang, Lea nggak mau ngerjain tugas, Ken. Biarin kerjain aja sendiri!" ucapnya.
"Ck, yaudah buruan kerjain. Rempong amat lo jadi cewek!" Lea mencebikkan bibirnya kesal, mulai mengerjakan tugas Kendra dengan setengah hati.
Dalam waktu singkat senyum bibir gadis itu mengembang, setelah tugas yang dia kerjakan telah selesai.
"UDAH SELESAI!" ucapnya girang. Senyumnya terlihat begitu manis membuat Kendra salah fokus.
"Ken, udah selesai!" ucapnya sekali lagi.
"Hm." Kendra mengambil buku itu tanpa mengucap apapun membuat Lea kesal, namun gadis itu tak sama sekali melunturkan senyum di bibirnya.
"Udah kan? ngapain lo senyum-senyum, gak usah senyum. Senyum lo jelek!" ucapnya tanpa beban.
Buk!
"IH NYEBELIN!" Dengan kesal Lea memukul tubuh Ken dengan bantal sofa. Membuat lelaki itu mengadu sakit.
"Ck, apaan sih!" kesal Ken.
"Makasih kek, udah dibantu juga!" ucapnya cemberut.
"Hm, thanks." Lea menggembungkan pipinya kesal.
"Apa lagi!"
"Ajak jalan kek, kan sekarang Minggu. Banyak temen-temen Lea yang jalan sama pacarnya!" ucapnya.
"Tapi gue bukan pacar lo, kalau lo mau jalan yaudah tinggal jalan. Ribet amat! lo kan bukan bayi yang kemana-mana perlu digendong."
"Dasar gak peka!" kesal Lea lalu beranjak pergi dari sana.
"Ribet banget jadi cewek!" gerutu Kendra.
Kendra kembali menatap Lea dengan malas. "Yaudah ayo jalan, gue tunggu! buruan ganti."