Saat pria itu menoleh sedikit karena mendengar suara langkah kaki, Cinta langsung merasa lututnya lemas.
Ini bukan "lumayan oke" seperti yang diceritakan Bulan. Ini level dewa Yunani. Dan jauh dari kesan "kaku" yang dibilang Bulan. Ia tampak santai, namun matanya tajam dan penuh perhitungan.
Cinta memberanikan diri mendekat. Pria itu kini menatapnya sepenuhnya, dan Cinta harus mengakui, jantungnya berdetak tidak normal. Senyumnya formal, tapi matanya memancarkan rasa ingin tahu yang dalam.
"Tuan Dio?" tanya Cinta, mencoba meniru suara Bulan yang lebih profesional.
Pria itu tersenyum tipis, senyum yang sayangnya hanya membuat ketampanannya makin tak tertahankan. Ia berdiri, tingginya menjulang. "Silakan duduk. Tapi, Anda salah orang, Nona."
Cinta mengerutkan dahi. "Salah orang?"
"Ya. Dio ada di sebelah sana." Pria itu menunjuk ke arah meja di sebelahnya, di mana duduk seorang pria lain dengan kemeja kotak-kotak dan wajah yang tampak memang kaku.
Astaga. Cinta merasa wajahnya memanas. Dia sudah sok keren berjalan ke arah pria tampan ini, padahal Dio yang sebenarnya hanya berjarak satu meja.
"Oh, maafkan saya, Tuan. Saya tidak melihat-"
"Tidak masalah," potong pria tampan itu, suaranya dalam dan berwibawa. "Tapi, sepertinya Anda datang untuk kencan buta juga, bukan?"
Cinta terdiam. Seharusnya dia segera pindah ke meja Dio, tapi entah kenapa, ia tidak bisa menggerakkan kakinya. Aura pria di depannya terlalu menarik, terlalu mengintimidasi.
"Saya... saya menggantikan teman saya," ujar Cinta jujur, sedikit terlalu jujur untuk ukuran blind date palsu.
Pria itu mengangkat alisnya, tampak terhibur. "Menarik. Saya juga menggantikan teman saya. Jadi, kita sama-sama 'korban' di sini?"
Cinta tertawa kecil, suara tawa yang sudah lama tidak ia dengar. Tawa tulus, bukan tawa palsu di depan Raka. "Mungkin. Tapi, sepertinya kita benar-benar salah alamat."
"Saya Kenan Pramudita," katanya, mengulurkan tangan.
Cinta menyambut uluran tangannya. Telapak tangan Kenan terasa hangat, kulitnya halus, dan cengkeramannya kuat. Getaran listrik kecil menjalar di lengan Cinta.
"Saya... Bulan," kata Cinta, berbohong sekali lagi. Demi reputasi agensi, Cin.
Kenan mengangguk. "Bulan. Nama yang cantik. Jadi, Bulan, Anda datang ke sini untuk kencan buta dengan siapa? Dan saya, aslinya, seharusnya bertemu dengan Rania. Teman saya, si bodoh itu, tiba-tiba sakit perut mendadak karena kebanyakan makan sushi pedas."
Cinta mendengarkan. Kenan bercerita dengan gaya yang santai, membuat Cinta merasa nyaman. Ternyata, dia tidak sekaku penampilannya.
"Saya seharusnya bertemu dengan Dio. Dia client perusahaan teman saya," jelas Cinta, memilih kata-kata yang aman. "Teman saya tiba-tiba harus ke rumah sakit menemani ibunya."
Kenan menyandarkan punggungnya di kursi. Matanya menatap Cinta lurus-lurus. "Kalau begitu, bukankah aneh kalau kita berdua sama-sama salah pasangan, tapi di satu meja yang sama?"
Cinta tersenyum, kali ini senyum yang benar-benar cerah, bukan senyum patah hati. "Mungkin ini takdir, Tuan Kenan. Takdir untuk bertemu orang yang sama-sama nggak beruntung malam ini."
"Atau, takdir untuk menemukan jalan yang benar." Kenan mengambil sparkling water dari depannya dan menyesapnya pelan. "Dio dan Rania bisa menunggu. Mereka kencan buta sungguhan. Kita di sini, hanya dua orang yang salah alamat, tapi entah kenapa, obrolannya terasa lebih menarik."
Cinta merasa tersanjung. Ia memandang ke meja sebelah. Dio, si pasangan kencan buta Bulan yang asli, terlihat sedang sibuk mengutak-atik ponselnya, sesekali melihat jam tangan. Kaku, banget.
"Sepertinya Dio tidak akan menyadari kalau saya tidak ada di mejanya," kata Cinta sambil terkekeh.
"Bagaimana kalau kita ubah ini? Bukan lagi kencan buta, tapi 'Obrolan Dua Orang Salah Alamat'. Anggap saja kita sedang mencoba melepaskan beban pikiran. Saya yakin Anda punya banyak beban pikiran." Kenan menatap mata Cinta, seolah ia bisa membaca semua kesedihan yang baru saja berusaha ia sembunyikan dengan make up tipis.
Cinta tertegun. Tujuh tahun memendam rasa, seminggu penuh menangisi Raka, dan sekarang, seorang asing yang baru ditemuinya lima menit bisa langsung tahu bahwa ia sedang membawa "beban pikiran."
"Anda... peramal?" tanya Cinta, mencoba melucu.
Kenan tersenyum lembut. "Saya pengamat. Mata Anda tidak bisa berbohong, Bulan. Terlihat sekali Anda sedang patah hati, dan mencoba lari dari kenyataan dengan kencan buta yang salah ini."
Cinta langsung merasa pipinya memerah. Ia menyesal tidak memakai kacamata hitam.
"Anda benar," aku Cinta, suaranya nyaris berbisik. "Saya baru saja... dipatahkan."
"Oleh si bodoh yang tidak menyadari betapa berharganya Anda?"
"Dia sahabat terbaik saya. Tujuh tahun. Dan dia memilih yang lain." Cinta menceritakan dengan singkat, tanpa detail, tapi Kenan mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Tujuh tahun? Itu bukan persahabatan, itu penantian," komentar Kenan. "Dan penantian yang tidak dihargai, harus diakhiri. Jangan buang air mata untuk orang yang tidak punya mata untuk melihat Anda."
Goblok"Lalu, bagaimana dengan Anda?" tanya Cinta, mengalihkan topik. "Kenapa Anda yang harus menggantikan teman Anda?"
Kenan menghela napas, gestur yang sangat manusiawi, jauh dari aura CEO yang Cinta bayangkan. "Saya bosnya. Dia bilang, jika dia cancel, Rania, si gadis kencan butanya, akan merajuk dan mungkin saja tidak mau bekerja sama dengan perusahaan kami lagi. Jadi, saya diminta untuk datang, say hi, dan pastikan semuanya baik-baik saja."
"Bos?" Cinta membelalakkan mata. "Anda CEO?"
"Hanya pemilik. Atau sebut saja, Direktur Utama," koreksi Kenan, merendah. "Perusahaan properti dan investasi kecil-kecilan. Bima Sena Group."
Cinta mengangguk, mulutnya sedikit terbuka. "Oh. Pantas saja."
Pantas saja Kenan terlihat begitu berwibawa. Pantas saja setelan jasnya tampak seperti dijahit oleh dewa.
Obrolan mereka mengalir lancar. Kenan memesan sebotol anggur merah, yang mereka bagi sambil menikmati pemandangan kota. Cinta, yang awalnya kaku, kini sudah tertawa lepas. Kenan ternyata punya selera humor yang gelap tapi cerdas. Mereka membahas banyak hal-dari politik, film-film lama, hingga teori konspirasi paling aneh.
Cinta benar-benar lupa dengan Raka. Ia lupa dengan Bulan dan Dio di meja sebelah. Ia merasa ringan, seolah beban patah hati yang selama ini ia pikul sudah dilepaskan.
"Jadi, Bulan," Kenan memanggil namanya. "Anda sendiri bekerja di bidang apa?"
Celaka. Cinta hampir lupa dia sedang berpura-pura menjadi Bulan.
"Saya... saya bekerja di bidang kreatif," jawab Cinta, mencoba terdengar meyakinkan. "Di agensi iklan kecil. Kami fokus di branding dan strategi digital."
"Menarik," Kenan mengangguk. "Agensi apa namanya?"
"Nama agensinya... CreativeSpark," jawab Cinta cepat, menyebutkan nama agensi Bulan (yang memang adalah CreativeSpark).
"Oh, CreativeSpark," Kenan mengulang, nadanya datar, tapi Cinta merasa ada sesuatu yang aneh.
"Anda kenal?"
"Tentu saja. Kami sedang mencari agensi baru untuk proyek pembangunan resor terbaru kami di Bali. Kami sudah mengundang beberapa agensi, dan CreativeSpark adalah salah satunya. Saya tahu direkturnya. Seorang wanita bernama Bulan. Yang sepertinya sekarang sedang berada di rumah sakit."
Cinta langsung kaku. Dia tahu. Dia tahu aku berbohong.
Kenan tersenyum, tapi senyumnya kali ini terasa mengintimidasi. "Jangan khawatir, Bulan palsu. Saya mengerti situasinya. Teman Anda, Bulan, sangat profesional. Dia pasti berpikir, 'lebih baik mengirim pengganti daripada tidak sama sekali'."
"Saya minta maaf, Tuan Kenan. Saya tidak bermaksud berbohong," kata Cinta, merasa sangat malu. Ia ingin lari dan bersembunyi di balik sofa.
"Lalu, nama Anda yang sebenarnya siapa?" tanya Kenan, nadanya berubah serius.
Cinta menelan ludah. "Nama saya... Cinta. Cinta Adelia."
Kenan memiringkan kepalanya sedikit. "Cinta. Jauh lebih cocok daripada Bulan. Jadi, Nona Cinta, apa Anda juga bekerja di CreativeSpark?"
"Tidak. Saya... baru saja lulus S2 dan sedang mencari pekerjaan baru. Saya sedang melamar di beberapa tempat, salah satunya Bima Sena Group," Cinta mengaku. Ia merasa tidak ada gunanya lagi berbohong.
Ekspresi Kenan berubah lagi. Kali ini, ia tampak terkejut. "Anda melamar di tempat saya? Posisi apa?"
"Spesialis Komunikasi Korporat. Saya submit lamaran dua minggu lalu. Sebenarnya, alasan kenapa saya cepat-cepat menerima tawaran Bulan adalah agar saya bisa ganti baju dan make up untuk wawancara kerja yang seharusnya saya lakukan besok pagi," jelas Cinta, kini ia merasa lemas.
Kenan tertawa, tawa yang benar-benar lepas dan mengisi ruangan. "Ini semakin menarik. Nona Cinta, Anda datang untuk menggantikan kencan buta teman Anda, dan Anda berakhir kencan buta... dengan calon bos yang akan menginterview Anda besok."
Cinta menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Oh, astaga! Saya merusak semuanya! Saya minta maaf, Tuan Kenan. Lupakan saja yang tadi. Saya akan pergi sekarang, dan besok saya akan bersikap seolah kita tidak pernah bertemu."
"Tidak semudah itu, Cinta," Kenan berkata, nadanya kini lembut, tapi penuh bobot.
Kenan menarik tangan Cinta dari wajahnya, matanya menatap Cinta dalam-dalam. "Anda merusak apa? Anda sudah membuat saya tertawa malam ini, sesuatu yang tidak pernah saya lakukan selama sebulan terakhir. Anda berhasil membuat saya lupa bahwa saya seharusnya berada di rumah, mengerjakan tumpukan laporan. Dan Anda berani mengakui patah hati Anda di depan orang asing."
Kenan menjeda, lalu senyumnya kembali-senyum yang membuat lutut Cinta lemas.
"Saya tidak perlu interview lagi untuk posisi Komunikasi Korporat. Saya sudah melihat kemampuan komunikasi Anda. Dan saya suka kejujuran Anda. Saya juga suka bahwa Anda tidak kabur saat menyadari saya adalah atasan Anda."
"Jadi... apakah ini artinya saya diterima?" tanya Cinta, tidak percaya.
"Anggap saja, Anda mendapatkan babak kedua," ujar Kenan misterius.
Ia mengambil teleponnya dan mengetikkan sesuatu. Beberapa detik kemudian, ponsel Cinta bergetar. Sebuah notifikasi WhatsApp dari nomor tak dikenal.
"Ini nomor saya. Besok pagi jam 9, datang ke kantor saya, bukan untuk wawancara, tapi untuk kontrak kerja. Dan jangan pakai kacamata itu. Anda jauh lebih cantik tanpa penyamaran." – Kenan Pramudita.
Cinta menatap Kenan, lalu menatap pesan itu. Senyum lebar tak tertahankan merekah di wajahnya.
"Tapi, Tuan Kenan... bukankah saya merusak kencan buta teman Anda?"
Kenan melihat ke meja Dio lagi. Dio kini terlihat seperti baru sadar bahwa ada seseorang yang duduk di meja sebelahnya.
"Mungkin, Cinta. Tapi, saya pikir, tulang rusuk memang punya cara yang aneh untuk menemukan pemiliknya."
Ia mengangkat gelas anggur. "Untuk blind date yang salah alamat, dan awal yang baru. Ayo bersulang."
Cinta mengangkat gelasnya, hatinya berdebar kencang, bukan karena Raka, tapi karena pria yang ada di depannya. Pria yang baru ia temui, yang seharusnya menjadi pasangan kencan buta temannya, yang kini menjadi calon bosnya.
Patah hati karena Raka ternyata mengantarkannya pada takdir yang sama sekali tidak ia duga.
Pagi itu, Jakarta terasa lebih bising dari biasanya. Atau mungkin itu hanya suara debar jantung Cinta yang berdetak tak karuan, bersaing dengan raungan klakson di jalan raya.
Cinta menatap pantulan dirinya di kaca taksi, memastikan blazer krem dan rok pensil hitamnya sudah sempurna. Rambutnya diikat rapi, make up minimalis, dan yang paling penting: kacamata tebal Bulan sudah tersimpan aman di laci kamar. Kenan Pramudita sudah memperingatkan, bukan? "Jangan pakai kacamata itu. Anda jauh lebih cantik tanpa penyamaran."
Mengingat pesan WhatsApp itu membuat pipi Cinta memanas. Pesan itu ia baca ulang setidaknya dua puluh kali sejak semalam, bergantian dengan pesan-pesan grup WhatsApp dari Bulan yang menanyakan kabar ibunya (yang alhamdulillah sudah stabil) dan kabar Dio (yang ternyata memang cancel karena ada urusan mendadak-jadi, chaos-nya Dio di meja sebelah itu cuma drama pribadi si cowok kaku).
Intinya: kencan buta itu adalah bencana yang diselamatkan oleh takdir.
Sekarang, takdir itu membawanya ke depan lobi Bima Sena Tower. Sebuah gedung pencakar langit dengan fasad kaca gelap yang menjulang angkuh, seolah menatap rendah semua bangunan di bawahnya. Gedung itu memancarkan aura kekayaan yang tak terjangkau.
Cinta merasa kakinya gemetar saat melangkah keluar dari taksi. Ini bukan cuma kantor, ini markas besar calon suaminya (eh, tunggu, calon bos-nya!).
"Semangat, Cin! Ini rezeki anak baik!" bisiknya pada diri sendiri. Ini adalah kesempatan yang ia dapatkan bukan karena link atau koneksi, melainkan karena... salah alamat di kencan buta. Realitas memang lebih aneh dari fiksi.
Cinta melangkah masuk. Interior lobinya didominasi marmer putih bersih dan ukiran kayu jati gelap. Di tengah lobi, terukir logo Bima Sena Group: dua sayap yang saling berhadapan, gagah dan elegan.
Ia segera menuju resepsionis. "Selamat pagi. Saya Cinta Adelia. Saya ada janji dengan Bapak Kenan Pramudita pukul sembilan untuk penandatanganan kontrak."
Resepsionis itu, seorang wanita muda dengan seragam abu-abu perak yang super chic, tersenyum sopan. "Ah, Nona Cinta. Tentu saja. Silakan duduk sebentar. Saya akan menghubungi Sekretaris Tuan Kenan."
Beberapa menit kemudian, seorang pria paruh baya dengan vest dan dasi kupu-kupu menghampiri Cinta. Dia memperkenalkan diri sebagai Pak Hadi, Kepala HRD.
"Selamat pagi, Nona Cinta. Mari ikut saya. Semua sudah disiapkan. Tuan Kenan meminta agar proses Anda dipercepat dan langsung ditangani oleh saya," ujar Pak Hadi dengan nada sangat profesional, namun matanya memancarkan kebingungan yang samar-samar. Jelas, Pak Hadi pasti bertanya-tanya, siapa gadis ini yang tiba-tiba muncul tanpa melewati interview berdarah-darah.
Cinta hanya tersenyum gugup dan mengikuti Pak Hadi menuju lift privat yang hanya digunakan untuk lantai eksekutif.
Di lantai 35, kantor Bima Sena Group terasa hening dan efisien. Tidak ada obrolan receh atau suara telepon berisik. Semua orang tampak fokus pada layar mereka, seolah waktu di sana bergerak lebih cepat dan berharga.
Mereka tiba di ruang HRD. Dalam waktu kurang dari satu jam, Cinta sudah menandatangani belasan lembar dokumen. Kontrak kerja, kerahasiaan, kode etik, dan tetek bengek lainnya. Gajinya? Jauh lebih tinggi dari yang ia bayangkan. Blind date nyasar ini benar-benar rezeki nomplok.
Saat proses administrasi selesai, Pak Hadi menjelaskan, "Nona Cinta, Anda akan ditempatkan di Divisi Komunikasi Korporat, langsung di bawah pengawasan Ibu Winda, Vice President kami. Ruangan Anda ada di sebelah kanan, di antara tim Public Relations."
"Baik, Pak Hadi. Terima kasih banyak," kata Cinta, merasa lega. Setidaknya, ia tidak akan berhadapan langsung dengan Kenan setiap menit.
Pak Hadi mengantar Cinta ke divisinya. Ia memperkenalkan Cinta pada Ibu Winda, seorang wanita berusia awal empat puluhan yang terlihat tegas, cerdas, dan langsung to-the-point.
"Selamat datang, Cinta. Saya Winda. Jangan canggung, tim kita ramah, tapi saya minta kamu harus cepat beradaptasi. Jabatan kamu strategis, jadi saya harap kamu bisa bekerja secara mandiri," ujar Ibu Winda, menjabat tangan Cinta dengan erat.
Cinta diperkenalkan pada timnya: Mira, si social media specialist yang langsung memberinya senyum paling ramah (dan paling penasaran), dan Dion, si content writer yang terlihat lebih fokus pada monitornya daripada pada Cinta.
Mira langsung menarik Cinta ke meja kerjanya. Meja itu bersih, modern, dan dilengkapi pemandangan kota yang menakjubkan.
"Gila! Pemandangannya keren banget, Cin!" bisik Mira, matanya berbinar. "Aku nggak nyangka kamu langsung dapat posisi ini. Biasanya, seleksi di sini itu kayak Hunger Games. Kamu kenal orang dalam, ya?"
Cinta panik. Haruskah aku bilang aku kencan buta sama bos besar? Tentu saja tidak!
"Nggak, kok. Mungkin aku beruntung aja, Mira. Aku lulusan Komunikasi dan magang di startup besar selama setahun," jawab Cinta, berusaha tenang.
"Oh ya? Tapi ini super cepat. Bahkan surat lamaranmu baru masuk dua minggu. Ah, sudahlah. Anyway, selamat datang! Kalau ada apa-apa, tanya aku aja. Aku di sini udah tiga tahun, tahu semua gosip!" Mira menyenggol lengan Cinta, ekspresinya penuh rahasia.
Cinta tersenyum, berterima kasih dalam hati karena Mira cukup terbuka. Setidaknya, ada satu orang yang bisa ia ajak bicara.
Saat Cinta mulai menyusun alat tulis di mejanya dan mencoba memahami sistem server kantor, tiba-tiba interkom berbunyi di meja Mira.
"Mbak Mira, tolong beritahu Nona Cinta Adelia. Tuan Kenan minta dia segera menghadap di kantor beliau. Sekarang," kata suara wanita, yang Cinta yakini adalah Sekretaris Kenan.
Wajah Mira langsung berubah. Dari ceria menjadi tercengang, lalu sedikit ketakutan. Dion yang dari tadi diam langsung menoleh. Ibu Winda yang sedang menelepon pun mengangkat alisnya.
Kantor yang tadinya sunyi mendadak terasa tegang.
Mira membisik, "Tuan Kenan? Ini hari pertamamu, Cin. Kenapa dia langsung minta kamu menghadap? Ini... ini aneh. Biasanya Direktur Utama baru mau ketemu karyawan baru setelah tiga bulan."
Cinta merasakan semua darah mengalir dari wajahnya. Jantungnya kini berdetak bukan hanya karena bising Jakarta, tapi karena nervous yang tak tertahankan.
"Aku nggak tahu," jawab Cinta, suaranya tercekat. Ia meraih tasnya dan berjalan menuju area lift eksekutif.
Perjalanan ke lantai 38 terasa seperti berjalan di atas tali.
Ini dia. Babak kedua. Kenan Pramudita, si Direktur Utama yang mengintimidasi, dalam mode profesional.
Cinta melangkah keluar dari lift. Koridor lantai 38 sunyi senyap, karpet tebal meredam setiap bunyi. Tiba di depan pintu ganda kayu mahoni yang besar, ia disambut oleh Sekretaris Kenan, seorang wanita anggun bernama Dinda.
"Silakan masuk, Nona Cinta. Tuan Kenan sudah menunggu," kata Dinda, senyumnya ramah tapi tetap formal.
Cinta menarik napas dalam-dalam, mengencangkan cengkeramannya pada clutch kecilnya, dan melangkah masuk.
Kantor Kenan benar-benar mencerminkan kekuasaannya. Jendela kaca dari lantai ke langit-langit menyuguhkan pemandangan 360 derajat kota Jakarta yang menakjubkan. Meja kerjanya terbuat dari kayu solid, sangat minimalis, tanpa ada tumpukan kertas, hanya sebuah laptop dan notepad kulit yang mewah.
Dan di tengah ruangan, berdiri menghadap pemandangan, adalah Kenan Pramudita.
Dia masih memakai setelan jas, tapi kali ini berwarna biru tua, yang membuat auranya semakin tajam dan dominan. Postur tubuhnya tegak, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.
Saat Kenan berbalik, Cinta langsung terpaku. Tatapannya sama tajamnya dengan malam sebelumnya, tapi kini ada lapisan profesionalitas yang kaku, seolah malam di Il Cielo tidak pernah terjadi.
"Selamat pagi, Tuan Kenan," sapa Cinta, mencoba menjaga suaranya tetap stabil dan formal.
"Selamat pagi, Cinta," balas Kenan. Ia tidak tersenyum. Nada suaranya datar, resmi, dan terdengar dingin. "Silakan duduk."
Cinta duduk di sofa kulit di depan Kenan, yang kini juga duduk di kursi tunggal di seberangnya. Ada meja kopi bundar di antara mereka. Jarak itu terasa jauh sekali. Jauh dari keintiman palsu yang mereka ciptakan semalam.
"Saya meminta Anda datang ke sini bukan untuk hal personal, melainkan untuk membahas beberapa hal krusial terkait posisi Anda," Kenan memulai, suaranya berat dan serius.
Cinta mengangguk. "Tentu, Tuan Kenan."
"Pertama, selamat datang di Bima Sena Group. Saya telah membaca riwayat karier dan latar belakang pendidikan Anda. Meskipun proses interview Anda tidak konvensional, saya yakin dengan penilaian saya bahwa Anda adalah orang yang tepat untuk posisi Spesialis Komunikasi Korporat."
Kenan menjeda, mengambil napas. Matanya menatap tepat ke mata Cinta.
"Posisi ini sangat sensitif. Anda akan menjadi penghubung antara perusahaan, media, dan para investor. Jadi, ada satu hal yang harus Anda pahami, Cinta."
Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Saya adalah atasan Anda. Anda adalah karyawan saya. Malam di Il Cielo adalah insiden yang sudah lewat, sebuah kesalahan teknis. Mulai hari ini, hanya ada hubungan profesional di antara kita. Tidak ada blind date, tidak ada obrolan patah hati, dan tidak ada lelucon tentang takdir."
Cinta merasakan darahnya berdesir. Kata-kata Kenan terasa dingin, seolah menamparnya kembali ke realitas. Dia benar. Ini kantor.
"Saya mengerti, Tuan Kenan. Saya jamin saya akan menjaga profesionalitas. Malam itu hanyalah kebetulan," jawab Cinta, berusaha terdengar seyakinkan mungkin.
"Bagus. Saya menghargai itu. Karena di lingkungan kantor, gosip bergerak lebih cepat daripada kontrak properti. Saya tidak mau ada rumor tidak benar yang bisa mengganggu kinerja Anda, apalagi reputasi saya," Kenan menambahkan.
Cinta merasa sedikit sakit hati dengan penekanan Kenan. Apakah dia takut reputasinya tercemar karena berinteraksi dengan karyawan baru seperti dirinya?
"Saya akan pastikan itu tidak terjadi, Tuan Kenan," kata Cinta, nadanya kini tegas.
Kenan mengangguk, puas. "Baiklah. Sekarang, mari kita bahas pekerjaan Anda. Proyek utama Anda dalam tiga bulan ke depan adalah mengelola citra publik kami untuk proyek resor di Bali. Bulan dari CreativeSpark akan datang minggu depan untuk presentasi desain. Saat itu, Anda akan bertugas sebagai perwakilan Komunikasi Korporat kami. Saya harap Anda dan Bulan-teman Anda yang asli-bisa bekerja sama dengan baik."
Mendengar nama Bulan, Cinta merasa sedikit lega. Setidaknya, ada satu rahasia lagi yang harus ia jaga di kantor ini.
"Saya sudah tahu detailnya dari Bulan. Kami akan bersikap profesional," ujar Cinta.
Kenan mengambil notepad kulitnya. "Cinta, ada satu hal lagi. Ini adalah kode etik pribadi saya."
Ia menuliskan sesuatu di notepad itu.
"Jika Anda punya masalah dengan pekerjaan atau butuh panduan, Anda harus menghubungi Ibu Winda terlebih dahulu. Jika Ibu Winda tidak bisa menyelesaikannya, baru Anda boleh menghubungi saya."
Kenan merobek selembar kertas dari notepad itu, lalu mendorongnya perlahan di atas meja kopi.
Di kertas itu tertulis dua nomor:
Ibu Winda (0812-XXXX-XXXX)
Tuan Kenan (0811-XXXX-XXXX)
Di bawah nomornya sendiri, Kenan menambahkan sebuah catatan kecil dengan tulisan tangan miring, yang membuat jantung Cinta langsung berdetak kencang:
Khusus darurat, atau jika Anda butuh seseorang untuk mengingatkan Anda bahwa Anda terlalu berharga untuk ditangisi.
Cinta menatap tulisan itu. Dingin Kenan barusan, ketegasan Kenan yang resmi, semuanya luruh hanya dengan satu kalimat itu. Itu adalah sentuhan pribadi yang ia kenal dari malam sebelumnya. Sebuah pengakuan bahwa, di balik setelan jas mahal dan jabatan Direktur Utama, Kenan masih ingat percakapan mereka.
Ia mendongak. Kenan hanya menatapnya dengan ekspresi netral. "Itu adalah telepon kantor saya. Silakan simpan," ujarnya, seolah kalimat manis di bawahnya hanyalah instruksi standar.
"Terima kasih, Tuan Kenan," kata Cinta, suaranya sedikit bergetar. Ia melipat kertas itu dengan hati-hati dan menyimpannya di dalam clutch.
Kenan berdiri, mengakhiri pertemuan. "Baik. Anda bisa kembali ke meja Anda. Dan pastikan jam kerja Anda efektif. Selamat bekerja, Cinta."
"Selamat bekerja, Tuan Kenan," balas Cinta, berdiri dan membungkuk sedikit sebelum keluar dari kantor itu.
Saat pintu ditutup di belakangnya, Cinta bersandar pada dinding koridor yang dingin. Ia bisa merasakan degup jantungnya sendiri. Dia telah lolos. Dia mendapat pekerjaan ini, dan dia berhasil menjaga profesionalitas (setidaknya di mulut).
Tapi, di dalam tasnya, ada secarik kertas dengan tulisan tangan Kenan, pengingat bahwa di antara semua formalitas dan kode etik, ada koneksi tak terduga yang mereka bagi.
Cinta kembali ke mejanya di lantai 35. Suasana di sana langsung berubah. Mira dan Dion pura-pura sibuk, tapi mata mereka jelas-jelas menunggu.
Saat Cinta duduk, Mira langsung menyerbu.
"Gimana? Gimana? Kamu diomelin? Kenapa Direktur Utama manggil kamu? Ada apa, Cin?" bisik Mira, matanya penasaran setengah mati.
Cinta menatap Mira. Ia punya dua pilihan: berbohong total, atau memanipulasi kebenaran.
"Nggak diomelin, kok," kata Cinta santai, sambil menyalakan komputernya. "Tuan Kenan cuma mau memastikan aku cepat beradaptasi karena proyek resor Bali itu mendesak. Aku harus jadi kontak utama untuk komunikasi dengan agensi iklan. Beliau sangat fokus pada efisiensi."
"Oh, cuma itu?" Mira tampak kecewa. "Aku kira dia mau personal training kamu gitu. Dia kan terkenal dingin dan sulit ditemui. Kamu hebat, Cin, hari pertama langsung ketemu! Kamu pasti anak emas, deh."
Anak emas? Cinta hampir tertawa. Anak emas karena dia adalah 'korban salah alamat' paling beruntung di Jakarta.
Sisa hari itu dihabiskan Cinta untuk membaca berkas-berkas lama perusahaan dan memahami guidelines komunikasi mereka. Meskipun otaknya bekerja keras, hatinya masih sibuk memproses Kenan.
Kenan yang dingin, resmi, dan dikelilingi kekuasaan.
Kenan yang hangat, jenaka, dan ingat bahwa dia sedang patah hati.
Bagaimana mungkin dua versi pria itu bisa eksis dalam satu tubuh?
Saat jam kantor berakhir, Cinta segera berkemas. Dia ingin keluar dari gedung itu sebelum bertemu Kenan lagi.
Tepat saat ia menekan tombol lift, ponselnya bergetar. Pesan dari nomor tak dikenal.
[Nomor Baru]: Jangan lupakan kode etik.
Cinta menautkan alisnya. Itu pasti Kenan.
Ia mengetik balasan:
Cinta: Tentu, Tuan Kenan. Saya ingat semua instruksinya.
Balasan datang hampir instan:
[Nomor Baru]: Bagus. Tapi, sekarang jam 18.00. Di luar jam kerja, Anda tidak perlu memanggil saya 'Tuan Kenan'. Panggil saja... Raka.
Cinta terdiam. Tangannya nyaris menjatuhkan ponsel. Raka? Kenan tahu nama sahabat yang mematahkannya itu. Itu adalah bagian dari obrolan personal mereka semalam.
Ia mengetik, bingung:
Cinta: Maksud Anda?
[Nomor Baru]: Itu hanya lelucon. Tapi, begini. Mulai besok, jam kerja, Anda panggil saya Tuan Kenan. Di luar jam kerja, Anda boleh panggil saya Kenan. Saya tidak mau insiden malam itu membuat Anda canggung atau takut untuk bekerja. Kita mulai dari nol. Sebagai bos dan karyawan. Tapi, di luar itu... anggap saja kita pernah minum anggur bersama. Saya akan antar Anda pulang. Tunggu di lobi.
Cinta membaca pesan itu tiga kali. Dia mau mengantar aku pulang? Ini jelas melanggar kode etik profesional yang baru dia tetapkan lima menit yang lalu. Tapi, godaannya terlalu kuat.
Ia tahu harus menolak. Ini bahaya. Ini bisa jadi awal dari gosip, awal dari keambiguan yang tidak perlu. Tapi, setelah sebulan terpuruk karena Raka, tiba-tiba ada pria yang berkuasa, misterius, dan sedikit tertarik padanya.
Ia menarik napas panjang. Sial. Aku butuh tumpangan, dan aku butuh distraksi.
Cinta: Tuan Kenan... maksud saya, Kenan. Itu tidak perlu. Saya bisa naik taksi.
Kenan: Tidak ada penolakan, Cinta. Itu adalah perintah. Anggap saja ini bagian dari kode etik saya yang baru: Karyawan baru harus dijamin keselamatannya setelah bekerja di hari pertama. Lima menit.
Kenan Pramudita. Pria itu tahu persis bagaimana cara mencampurkan otoritas dengan pesona.
Cinta tersenyum, senyum yang sangat jarang ia tunjukkan sejak Raka memperkenalkan Luna. Patah hati memang mengajarkannya untuk berhati-hati, tapi juga mengajarkannya untuk berani mengambil risiko.
Lima menit kemudian, sebuah mobil sedan hitam panjang, super mewah, berhenti di depan lobi. Jendela mobil terbuka, dan wajah Kenan muncul, matanya memancarkan sedikit senyum yang ia tahan.
"Ayo, Cinta. Jangan sampai saya harus melanggar kode etik saya sendiri dengan turun dan menjemput Anda," katanya.
Cinta tersenyum lebar, mengangkat bahu, dan melangkah menuju mobil. Aku tidak tahu apa yang aku lakukan. Tapi, ini jauh lebih menarik daripada menangisi Raka.