Bab 2

“Salma, ini adalah akhir dari hubungan kita. Aku tidak bisa melakukan ini lagi.” Jeremy duduk di ujung kasur, bertelanjang dada, hanya memakai boxer pendek.

Salma yang terbaring di belakang mulai terduduk setelah mendengar kalimat Jeremy.

“Jer, kita berdua tahu kalau hubungan ini tidak pernah terjadi, tapi sayangnya, kau yang meminta hubungan ini terjadi.” Salma terkekeh, dadanya terekspos, tidak ditutup oleh satu helai benang. Besar dan menonjol, apalagi kulitnya yang eksotis, membuat dua bola itu terlihat menawan.

“Itu dulu, Sal, aku baru saja melamar Dara dan kami akan segera menikah.” Jeremy berbalik badan, menatap Salma yang telanjang dada sedang bersender di kepala kasur. menelan ludahnya, dua gunung indah itu membuat ‘jhoni’ nya sedikit bangkit.

“Ah… Dara sang bidadari. Aku ingat sekali kalau aku yang memperkenalkan kalian berdua. Di McDonalds kalian saling mengenal, tertawa pulas, aku bagaikan obat nyamuk di meja makan itu. semakin lama semakin hilang.” Salma terkekeh.

“Iya, aku berterima kasih padamu karena telah mempertemukan kami. Itu adalah momen paling indah dalam hidupku. Bisa menatap wajah cantik Dara, tidak terbayangkan.” Jeremy senyam-senyum sendiri.

“Sama-sama, Jer.” Salma merangkak menuju Jeremy, dua gundulan itu bergoyang-goyang. “Itulah kenapa, malam ini ayo kita lakukan untuk yang terakhir kalinya. sepuasnya.” Tangan Salma sudah memegang ‘jhoni’ Jeremy yang mulai bangun kembali.

Jeremy menahan nafas. Tangan Salma menyentuh lembut rudalnya, dadanya besar itu juga menempel di punggunya.

“Ingat, Jer. Kau tidak akan pernah merasakan ini lagi dari Dara, dia itu terlalu patuh. Aku yakin kau akan rindu hubungan kasur yang liar seperti yang akan kita lakukan malam ini.”

Salma langsung melumat bibir Jeremy, beradu mulut, saling berganti saliva. Jeremy menyambut mulut seksi tersebut, menggigit lembut bibir Salma. Salma adalah wanita keturunan campuran meksiko, jadi kulitnya sangat eksotis. Dipadu lagi dengan tubuhnya yang bahenol, dada dan bokongnya sama-sama besar, impian segala lelaki.

Mulut Salma kemudian menjalar menuju badan sixpax Jeremy hingga ke jamur yang tumbuh di selangkangannya. Rudal itu sudah berdiri tegak, padahal beberapa menit lalu baru saja ronde satu. Salma membuka mulutnya lebar-lebar, memasukkan ‘jamur’ besar itu, tangannya mengocok batang rudal, juga meremas lembut dua telur di bawahnya.

“Ahh… nikmat sekali,” lenguh Jeremy, nafasnya tertahan.

Salma terus memasukkan mulutnya, semakin dalam, lantas kembali mengeluarkannya. Terkadang juga dia memasukkan dan mengeluarkan dalam tempo cepat, membuat Jeremy memukul-mukul kasur, merasakan kenikmatan tiada tara.

“Ahh….” Salma melepas hisapannya. “Sekarang, giliranmu, Jer.” Salma membuka pahanya lebar-lebar. Jeremy bisa melihat liang terlarang itu yang basah, beberapa menita lalu, liang itu sudah dipenuhi oleh lavanya.

Wajah Jeremy bagaikan ditarik oleh magnet, langsung menempel. Lidahnya keluar, menjilat lembut klitori Salma.

“Ahhh… emmm…” Salma menggigit bibirnya, gantian merasa nikmat.

Tidak puas dengan mulut, Jeremy memasukkan kedua jarinya ke dalam lubang tersebut. mengocoknya perlahan hingga tempo itu semaki cepat.

“Aaaa… emmm…. Aaa…” Salma melenguh tak beraturan, tubuhnya bergetar dan dalam beberapa detik kemudian, dia menggenggam sprei dan berteriak kencing. “I’m coming….”

Mendengar itu Jeremy langsung menenggelamkan kepalanya, di antara dua paha itu. menyambut kedatangan cairan cinta dari lubang terlarang Salma.

Salma terengah-engah, entah sudah berapa kali dia ‘keluar’ malam itu.

Tidak menunggu lama, apalagi teman Jeremy di bawah sana tidak sabaran. Jeremy langsung memasukkan rudalnya yang sudah gagah perkasa ke dalam lubang yang mulai basah itu.

“Emm…” lenguh Salma.

Jeremy langsung menggenjot pinggulnya, Salma yang masih terengah-engah kembali masuk ke dalam lapangan pergumulan. Dia hanya terbaring di kasur sedangkan Jeremy di atasnya terus menggoyang pinggul. Keluar masuk, keluar masuk, menyentuh bagian terdalam dari lubang.

Desahan Salma semakin besar ketika Jeremy menaikkan tempo. Lantas berhenti ketika dia lelah dan merasakan getaran di rudalnya. Nafasnya juga mengap-mengap.

Salma yang sudah kembali energinya tidak mau menunggu lama, langsung mendorong badan tubuh Jeremy di atas kasur. lantas duduk di atas tubuh kekarnya tersebut.

“Kau akan selalu meningat ini, Jer,” ucap Salma. Kemudian memasukkan rudal Jeremy ke dalam liang. Menggoyangkan pelan pinggulnya.

“Ahhhh… itu tepat menyentuh G spot ku.” Salma menggigit bibir.

Gaya cowgirl itu membuah gairah Jeremy naik, dia hendak kembali duduk tapi Salma langsung mendorong.

“Kau istirahat dulu, biar aku yang bekerja kali ini.”

Salma mulai menggoyangkan pinggulnya, dibantu dengan dua tangan Jeremy yang memegang bokong lembutnya.

Plak… plak… plak… sentakan bokong empuk itu terdengar berirama. Sembari menggoyangkan pinggulnya, Salma memberikan dua gunungnya tepat di depan wajah Jeremy.

“Tolong, isap dua gunungku. Buat aku melayang,” ucap Salma memohon.

Melihat putting coklat itu mulut Jeremy langsung melakukan pekejerjaannya. Menggigit lembut puting yang menyembul, bergantian dari kanan ke kiri.

“Aahhh…. Ohhh….” Salma kembali melenguh. Mendesau kencang. “I’m coming, again.” Tubuh Salma bergetar hebar, ‘jhoni’ Jeremy terasa tersedot ke dalam lubang terlarang tersebut. kemudian dilumuri cairan cinta hangat. Tubuh Salma langsung terjatuh ke atas Jeremy, pinggulnya sedikit bergetar, nafasnya kempas-kempis.

“Are you good?” tanya Jeremy memastikan.

“Tunggu sebentar, biarkan aku isitirahat,” balas Salma.

“Kau tahu apa itu keadilan, Sal?” tiba-tiba Jeremy bertanya pertanyaan yang masuk akal.

“Apa maksudmu?” dahi Salma mengernyit.

“Keadilan itu kalau kedua belah pihak mendapatkan porsi yang sama.”

Jeremy langsung menyentakkan pinggulnya, membuat rudalnya keluar masuk, menghamtam kencang ‘gua’ Salma.

“Aaahhh….” Salma mendesah kencang. “Tunggu, dulu, Jer. Aku masih sensit—”

Belum habis kalimatnya Jeremy langsung kembali menggoyangkan punggungnya. Gaya cowgirl itu adalah posisi favoritnya, dari sana dia bisa melihat dengan jelas dua gunung dan wajah erotis Salma. Membuat gairahnya naik.

Plak… plak…

“Kan sudah kubilang, Sal. Kita itu belum adil.” Jeremy terus menggoyangkan pinggulnya, Salma mendesah tak karuan. “Kau sudah keluar dua kali, dan aku belum sekali pun,” sambung Jeremy.

“Ahhh… maafkan aku, Jer. La-in ka-li a-ku ak-an ber-sikap ad-il.” Suara Salma terbata-bata karena tusukan rudal.

“Baiklah kalau begitu, Salma, Sayang, kau mau aku keluar dimana, heh?” Jeremy berseru kencang.

“Penuhi aku, penuhi lubangku dengan lava panasmu, aaa…” seru Salma.

“Apa? aku tidak dengar.” Jeremy balas berseru.

“PEUHI LUBANGKU DENGAN LAVAMU, BABY.” Salma berteriak kencang.

Menengar itu Jeremy langsung menuju puncaknya, badannya begetar hebat, rudalnya juga sudah mencapai batasnya.

“Aaahh… I’m coming.” Lava panas itu menyembur keras, membasahi setiap sudut ‘gua’ gelap nan indah tersebut. beberapa tetes ada yang mengalir keluar, tapi nafas mereka berdua sudah kempas kempis. Saling berpelukan.

“Kau yakin akan menikah akhir bulan ini?” tanya Salma.

“Sudah kubilang, Sal. Ini adalah yang terakhir.” Jeremy menjawab tegas.

Bab 3

Musik-musik terdengar merdu, lantunan irama terdengar syahdu. Berbondong-bondong manusia masuk ke dalam ruangan besar yang menampung lebih dari saribu orang. Di atas podium tepat di ujung ruangan, sepasang kekasih dengan dandanan paling tampan dan cantik berdiri. Menyalami setiap tamu yang mengantre.

“Congrat, Dar. Selamat senang seumur hidup.”

“Makasih.”

“Selamat, Dar.”

“Samawa, Dar.”

“Selamat, Jer.”

Satu persatu mengucapkan selamat, dengan senyum lebar-lebar, apalagi sudah tercium bau gulai kambing di meja prasmanan, makin menggoda untuk senyum lebar-lebar.

Pernikahan itu langsung dilaksanakan seminggu setelah lamaran, tidak menunggu waktu lama. Apalagi uang yang dimiliki Jeremy bisa dibilang sedang banyak-banyaknya, jadi acara dibuat semeriah mungkin. Semua biaya, Jeremy yang tanggung, tidak keluar sedikit pun dari kantong Dara.

“Kak, pasti pegal tangannya, kan?” bisik Dira yang berdiri di samping Dara.

“Iya, Dir. Dari tadi salam mulu, malah ada yang kenal lagi.” balas Dara, tangannya terus bersalaman.

“Bisa jadi itu ada gelandangan yang diluar lalu masuk ke dalam, Kak. Mau makan enak aja.” Mereka berdua tertawa tipis hingga akhirnya muncul perempuan yang mempertemukan takdir mereka.

“Selamat, Dara dan Jeremy.” Salma dengan gaun panjang berwarna ungu berdiri anggun di depan mereka. dia bahkan hampir sama cantiknya degan pengantin wanita yang memakai gaun putih, juga dari kembarannya yang memakai gaun krem.

“Salma, hai,” Dara langsung memeluk Salma.

“Maaf, Dar, tidak sempat pergi ke acara lamaranmu. Malam itu aku harus lembur. Kudengar itu sangat romantis.” Salma menatap Jeremy yang sudah wanti-wanti.

“Tidak apa-apa, Sal. Yang penting kau datang hari ini, aku takut juga kalau kau tidak datang. Tidak mungkin aku tidak berterima kasih sama orang yang telah mempertemukanku dengan suamiku yang tampan ini.” Dara melingkari tangan suaminya, Jeremy.

Jeremy tersenyum kaku menatap tatapan sinis Salma.

“Iya, kuharap kehidupan kalian berjalan lancar,” ucap Salma. “Dan Dara, tunjukkan kekuatan terbaikmu di kasur,” sambung Dara seraya berbisik di telinga Dara. Wajah Dara langsung merah malu.

Sejenak, Salma melewati mereka berdua tanpa menyalami Jeremy.

“Kak, apa yang dia bisik tadi?” tanya Dira penasaran.

“Adalah, Dir. Kau pasti tidak mau tahu.” Dara tersenyum lebar.

Selama lima jam lebih acara berlalu. Zidan tidak hadir, semalam dia sudah menelpon Dara kalau sekarang di kantor DPR sedang banyak permasalahan keuangan, jadinya zidan harus turun tangan. Memang Dara kecewa, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan. tapi zidan janji akan mengirim hadiah, itu sudah cukup membuat Dara tenang.

“Lelah sekali,” Dara menghempaskan punggung di kursi panjang di atas panggung, beberapa tamu ada yang masih menetap, melahap apa yang ada di meja prasmanan. Jeremy bertemu dengan petinggi-petinggi perusahaannya di ujung panggung.

“Ternyata secapek ini, ya, menikah. Pantesan duit yang dihabiskan banyak.” Dira juga ikutan duduk, sama sifatnya seperti kakaknya.

Sejenak, lengang.

“Dir, Rindra tak kamu ajak?” tanya Dara, basa-basi. rindra adalah mantan menuju tunangan Dira.

“Enggak. Males, lagipula kami sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi.” Dira menjawab ketus, masih kesal dengan patah hatinya.

“Eleh, kan bukan berarti kalian tidak berteman, Dir.” Dara tertawa tipis.

Dira menatap wajah cantik kakaknya—dia juga sama cantiknya.

“Padahal waktu kecil dulu kita membuat janji akan mencintai satu pria hingga kita menikah dengan pria itu. dan sekarang, yang memenuhi janji itu cuma Kak Dara. Sedangkan aku gagal, pilihan kakak selalu tepat.” Dira menatap kakaknya hangat.

“Tak masalah, Dir. Itu hanya janji-janji konyol masa kecil. Tak usah dipedulikan begitu. Lagi pula putus cinta itu tidak harus direnungi tiap hari. Nanti-nanti juga kamu akan dapat yang baru lagi.” Dara berusaha menenangkan adiknya.

Tapi tidak dengan Dira, dia iri sekali dengan kakaknya. Hari itu berpakaian anggun, bahkan dia merasakan, kali ini adalah awal mula perbedaan mereka terlihat.

Dira merasakan ada yang berbeda dari setiap kelakuan Dara sepanjang seminggu ini. Dara semakin anggun saja, entah apakah karena Dira yang jarang tidur, atau Dara yang selalu beraura positif. Kekonyolan-kekonyolan mereka bersama terasa memudar, tidak ada lagi candaan-candaan yang keluar dari mulut Dara, hanya tinggal Dira sendiri.

“Dir, Dir…”

Panggilan itu memecah lamunan Dira. Lantas tersenyum.

“Acara sudah mau selesai, bukannya kau mau ke rumah hari ini untuk ambil barang?” tanya Dara.

“Iya, iya.” Dira langsung berdiri dan melangkah.

Jeremy dan Dara memutuskan untuk tinggal sementara di rumah Dara dan Dira, dulunya. Sedangkan rumah baru mereka sedang dalam tahap finishing. Dira sebagai adik mengalah, mempersilakan pasangan baru suami istri itu menginap disana selama beberapa hari, kemudian lanjut honeymoon entah dimana.

***

Dira balik ke rumah—dulu— mengambil beberapa barang penting. Kamarnya di lantai dua, dan kamar sebelah di lantai tersebut sudah disulap menjadi kamar pengantin dengan kasur dan ranjang baru. Padahal dulunya itu adalah kumpulan barang-barang berharga milik si kembar. Dira menatapi ruangan yang telah berubah itu, tersenyum tipis. Dia masih tidak percaya kalau mulai kedepan dia dan kakaknya akan tinggal di rumah yang berbeda setelah bertahun-tahun bersama.

Dira turun dari tangga, pergi ke dapur, membuka kulkas. Di dalam kulkas dulunya hanya ada kotak jus jeruk kini ada tambahan baru, jus mangga, kesukaan Jeremy. Berbeda sekali rasanya.

Entah apakah Dira akan memutuskan untuk tinggal disana setelah kakaknya bulan madu, dia masih tidak tahu.

Pandangan Dira terhenti di wastafel dapur yang dipenuhi piring kotor, menghembus nafas pelan. dia dan kakaknya adalah orang yang suka bebersih, setiap ada piring kotor pasti ada kesaDaran dari mereka berdua untuk membersihkannya.

Lantas Dira menaruh tas besar berisi baju, menyingsingkan lengan gaun panjangnya, mengikat ujung gaun yang menjuntai, dan mengambil saru tangan cuci piring. Menghidupkan musik—kebiasaan si kembar ketika mengerjakan pekerjaan rumah, tangan Dira mengikuti irama lagu.

Ruangan itu dipenuhi dengan suara musik, dia sama sekali tidak sadar ketika tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.

“Istriku rajin sekali. Padahal tadi sudah lelah berdiri, sekarang malah cuci piring.” Adalah Jeremy yang memeluk Dira, kemudian mencium lehernya yang jenjang.

“Bukankah ada yang lebih penting dari mencuci piring sekarang? kasur di atas menunggu, kita bisa melakukannya sampai nanti malam, loh.” Jeremy berbisik di telinga Dira, yang membuatnya sedikit terangsang.

Jeremy melepaskan sarung tangan cuci piring dari tangan Dira. Membalikkan badannya, tersenyum lebar. Lantas sejenak kemudian langsung mencium bibir Dira tanpa pikir panjang.

Mata Dira melotot ketika menerima ciuman dari Jeremy. Lidah Jeremy memaksa masuk ke dalam mulut Dira. Tangan Jeremy sudah memegang dua gunung standar milik Dira, meremasnya lembut.

Jantung Dira berdegup kencang.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED