"Ibu bilang, siapa pun yang menanyakan namanya, kami hanya boleh memberi tahu mereka bahwa nama ibu adalah Ibunda Ratu," ujar Jessie sambil tertawa terkikik-kikik.
"Pfftt ...." Darlene juga tidak kuasa menahan tawanya, tetapi dia segera menghentikannya.
Hahaha! Lucu sekali kedua anak ini! Siapa sebenarnya ibu mereka?
Tatapan Javier bergetar melihat Jody yang matanya mirip dengan dirinya.
Jika bukan karena dia hanya pernah berhubungan badan dengan Kayla, Javier bahkan mencurigai bahwa kedua anak ini adalah miliknya.
Jessie melirik jam tangannya sekilas, lalu berkata, "Paman Tampan, kami sudah mau pulang. Kalau nggak, nanti Ibunda Ratu khawatir."
Javier menurunkan Jessie, lalu berpesan pada Roger, "Antar dua anak ini pulang."
Roger mengangguk dan menjawab, "Baik."
"Paman Tampan, sampai jumpa!" Jessie melambaikan tangannya, lalu menggandeng kakaknya untuk mengikuti Roger.
Ketika keluar dari pintu, dia langsung memamerkan sehelai rambut kepada Jody dengan bangga.
Begitu keluar dari gerbang perusahaan, Jessie kembali menarik pakaian Roger dan berkata, "Paman, Ibu kami sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Apa Paman bisa mengantarkan kami ke rumah sakit?"
Roger terdiam, dalam hatinya merasa kagum kepada kedua anak yang pengertian ini.
"Baiklah, ayo naik ke mobil."
Di Vila Kandara.
Sesampainya di rumah, Claire hanya melihat Jerry yang sedang berlatih piano. Dia melihat ke sekeliling, lalu bertanya, "Di mana Jessie dan Jody?"
Jerry menjawab, "Mereka sedang wawancara untuk menjadi model pakaian anak-anak. Bu Candice yang mengantarkan mereka."
Claire meletakkan tasnya di atas sofa, dia terkejut mendengar ucapan Jerry. "Wawancara model?"
"Iya, katanya Ibu terlalu lelah bekerja keras sendirian. Jadi, mereka mau membantu untuk meringankan beban Ibu."
Claire berjalan ke sisi Jerry dan mengelus kepalanya. Jerry mengeluh, "Ibu, jangan mengacaukan model rambutku."
"Wah, si genius musik marah ya?"
"Huh!" Jerry menggembungkan kedua pipinya.
"Jerry, kalian nggak perlu membantu Ibu. Ibu juga bukannya nggak sanggup menghidupi kalian." Melihat anak-anaknya yang begitu pengertian, Claire justru merasa bersalah.
"Nggak bisa, Ibu sudah susah payah, kami juga nggak mungkin membiarkannya. Oh ya, Ibu, aku diterima di Akademi Royal Musik di Negara Makronesia. Ibu nggak perlu mengkhawatirkan masalah uang sekolahnya, aku punya uang."
"Setelah dapat beasiswa nanti, aku akan menyekolahkan Kakak dan Adik ke sekolah bangsawan. Ibu lakukan saja hal yang ingin Ibu lakukan."
Claire terharu hingga berlinang air mata. "Beethoven-ku ini hebat sekali ya. Bahkan bisa menyekolahkan kakak dan adiknya."
Claire baru-baru ini tahu bahwa ternyata Jerry memiliki bakat dalam bidang musik. Dia diterima di Akademi Musik Naver di Negara Sahara. Namun, karena usianya masih terlalu muda, Claire tidak membiarkannya pergi sendirian.
Sekarang, Jerry telah berusia 5 tahun. Awalnya, Claire berencana untuk mengirimkannya ke akademi ketika dia berusia 6 tahun. Namun, melihat Jerry begitu menyukai musik dan nilainya juga selalu bagus, Claire tidak mungkin mematahkan cita-cita anaknya.
"Ibu, Ibunda Ratu, kami pulang!"
Begitu sampai di rumah, Jessie dan Jody langsung berlari ke pelukan Claire. Claire bertanya, "Jerry bilang, kalian pergi wawancara model?"
"Iya! Kami terpilih! Hebat, bukan?!" seru Jessie seraya mengedipkan matanya.
Claire mengecup pipi keduanya dan memuji, "Kalian memang hebat! Ibu buatkan makanan untuk kalian dulu ya, tunggu sebentar."
Seburuk apa pun suasana hati Claire, emosinya langsung mereda ketika berhadapan dengan ketiga anaknya ini.
Ketika Claire berjalan masuk ke dapur, ketiga anak itu langsung berkumpul. Jerry berbisik-bisik bertanya, "Gimana?"
Jody menjawab, "Tenang saja, sudah dibawa untuk dites di rumah sakit. Dua hari lagi baru ada hasilnya."
Jessie menepuk dadanya dengan bangga sambil berkata, "Dijamin nggak akan gagal kalau aku yang turun tangan!"
Di Keluarga Adhitama.
"Apa kamu bilang? Si berengsek Claire itu adalah Zora?" Mendengar keluhan putrinya, raut wajah Imelda langsung berubah.
Si berengsek itu bukan hanya sudah pulang, dia bahkan adalah Zora yang terkenal di seluruh negeri. Ditambah lagi, Zora adalah orang yang direkrut langsung oleh Javier dari luar negeri untuk menyelamatkan Perusahaan Vienna.
Saat itu, putrinya menggantikan Claire mengaku-ngaku telah bermalam dengan Javier. Kalau Claire sampai tahu pria dari 6 tahun lalu itu adalah Javier, bukankah wanita itu akan berebutan dengan putrinya?
"Ibu, bagaimana ini?" tanya Kayla dengan cemas.
Imelda menyunggingkan sudut bibirnya dan berkata, "Lalu kenapa kalau dia itu Zora? Jangan lupa kamu masih punya Javier sebagai pendukungmu. Selama ada Javier, dia nggak akan berani membuat masalah."
"Oh ya, karena si berengsek itu sudah pulang, hubunganmu dan Javier juga harus ada perkembangan. Lebih baik lagi kalau bisa sampai hamil. Kalau ada anak, kamu juga bisa menjadi Nyonya Fernando."
Mengungkit masalah anak, Kayla menundukkan pandangannya. "Tapi, selama 6 tahun ini, Javier nggak pernah menyentuhku sama sekali."
Tentu saja Kayla juga menginginkan hal itu, tetapi tetap saja harus menunggu Javier menidurinya.
Melihat kepolosan anaknya, Imelda berkata dengan cemas, "Kamu bodoh, ya. Kalau mau menunggu dia yang menidurimu, kamu mau menunggu sampai kapan? Kamu juga harus inisiatif, mana ada pria di dunia ini yang bisa menahan godaan?"
Begitu diingatkan oleh ibunya, Kayla langsung tersadar. Selama 6 tahun ini, dia juga tidak berani bersikap semena-mena karena Javier tidak menyentuhnya sama sekali. Namun, perkataan ibunya memang benar, dia harus mengambil inisiatif.
Dengan malu-malu, Kayla tersenyum sambil berkata, "Aku mengerti, Ibu."
Keesokan harinya di Perusahaan Perhiasan Vienna.
Claire duduk di ruangannya sambil melihat-lihat desain perhiasan Vienna selama beberapa tahun ini. Kemudian, dia melemparkan dokumennya ke atas meja.
"Nggak kreatif! Bahkan esensi desain saja nggak ngerti! Perhiasan yang dirancang Vienna selama beberapa tahun ini cuma asal-asalan saja, ya?"
Ekspresi staf yang berada di dalam ruangannya tampak canggung. Dia berkata, "Nona Zora, Direktur Kayla yang bilang bahwa gaya desain Vienna cukup mengikuti gaya selama ini saja."
Claire melingkarkan kedua tangannya di depan dada dan bersandar di kursi. Dia tertawa kecil dan berkata, "Memangnya gaya selama ini itu gaya yang bagaimana?"
Dia mengangkat perhiasan yang ada dalam berkas itu dan berkata, "Semua ini hanya tumpukan sampah yang nggak menarik di dunia mode perhiasan. Hebat sekali direktur kalian itu. Setelah naik jabatan, dia langsung memecat semua elite perusahaan. Sekarang Vienna bahkan nggak bisa menciptakan produk sendiri dan hanya bisa menjual sisa-sisa orang lain. Mau rugi juga bukan begini caranya!"
Staf itu langsung terdiam.
Claire berdiri, lalu memerintahkan, "Bawa aku ke gudang material."
"Baik," ucap staf itu sembari mengangguk.
Dalam perjalanannya menuju gudang material, Claire kebetulan bertemu dengan pria yang paling tidak ingin ditemuinya di pintu lift.
Melihat Claire mengabaikannya, Javier langsung berbalik dan berkata dengan tatapan muram, "Nggak bisa nyapa ya?"
Mengingat orang ini yang membayar 2 triliun kepadanya, Claire menghentikan langkahnya. Sambil menggertakkan gigi, dia berbalik sambil tersenyum. "Halo, Bos Javier."
"Nona Claire Adhitama mau ke mana?"
Claire tertegun. Pria ini tahu dirinya adalah anggota Keluarga Adhitama?
Javier berjalan ke hadapannya dan bertanya sekali lagi, "Kamu mau ke mana?"
Javier mengira wanita ini sangat senggang.
Claire tersenyum, lalu menjawab, "Apa aku perlu minta izin lagi kepada Tuan Javier untuk mengecek gudang material?"
Pacar Kayla ini sepertinya terlalu banyak ikut campur?
"Kebetulan sekali, aku juga ingin tahu apa yang bisa kamu temukan di Gudang material."
Claire kehabisan kata-kata mendengar ucapannya.
Gudang material adalah tempat untuk menyimpan batu mentah dan bahan baku lainnya yang digunakan untuk membuat perhiasan. Ketika staf wanita itu menyalakan lampu, gudang yang luas itu dipenuhi dengan tumpukan kotak di sudut-sudutnya. Sementara itu, rak-rak di atas meja diisi dengan batu berlian mentah yang belum dipotong dan dipoles.
Ada alat potong di atas meja dan semua bahan yang diperlukan juga lengkap tersedia. Claire mendekati rak dan mengambil satu potong batu mentah untuk diperiksa. Kemudian, dia membawa batu mentah tersebut ke mesin potong.
Staf wanita itu kebingungan dan bertanya, "Nona Zora, apa yang Anda lakukan?"
Claire tidak menjawabnya, melainkan mulai memotong batu mentah itu dengan mesin potong. Ketika baru saja memotong satu bagian, Claire telah menemukan ada yang tidak beres.
"Hebat sekali ya, Vienna sekarang sudah bisa memalsukan barang ya?" Claire mengambil batu mentah yang dipotong it uke hadapan staf wanita dan bertanya, "Siapa yang bertanggung jawab atas gudang material ini?"
Staf wanita itu menjawab dengan gugup, "Pak Chairul."
Ekspresi Claire menjadi muram, dia memerintahkan, "Suruh Pak Chairul segera menemuiku."
Javier berjalan ke depan batu yang telah dipotong dan menggunakan jari telunjuknya yang memakai cincin penyangga untuk menggores berlian tersebut. Gerakannya itu meninggalkan bekas goresan yang sangat jelas.
Claire mendekat ke sisinya dengan melipatkan kedua tangannya, lalu dia mengangkat alis sambil tersenyum. "Tuan Javier, bagaimanapun ini adalah perusahaan pacar Anda. Anda tidak peduli ada batu permata palsu yang muncul di sini?"
Javier mengerutkan alisnya, lalu berbalik menatap Claire. "Bukankah ini juga perusahaan ibumu?"
Mengungkit hal ini, senyuman di bibir Claire sontak menjadi kaku.
"Nggak ada untungnya juga bagimu kalau hal ini sampai tersebar. Selesaikan secara pribadi saja," ujar pria itu dengan tenang.
Selesaikan secara pribadi?
Huh, semua batu mentah ini pasti sudah disetujui oleh Kayla. Menurut harga pasar, modal untuk batu mentah berkualitas tinggi sangatlah mahal. Namun, jika batu ini sudah tercampur dengan benda palsu, harganya juga pasti akan jauh lebih murah.
Jika Kayla memang tidak mengerti, Claire masih bisa maklum. Namun, jika Kayla memang sengaja menggunakan batu campuran palsu ini karena modal untuk batu asli terlalu tinggi, Claire tidak akan diam begitu saja.
"Kalau Kayla benar-benar ...."
"Dia nggak mengerti soal perhiasan, wajar kalau ditipu." Javier menoleh dan menatap Claire, kemudian berkata dengan nada dingin, "Jangan sembarangan menarik kesimpulan kalau belum punya bukti."
Claire mencibir dalam hati.
Sifat protektif ini agak mirip dengan Jody ....
Tunggu, apa yang sedang dipikirkannya?
"Pak Chairul sudah datang."
Staf wanita itu membawa Chairul masuk ke dalam ruangan. Awalnya, Chairul masih berani berdalih dengan staf wanita itu. Namun, begitu melihat kehadiran Javier, raut wajahnya langsung berubah.
"Tuan ... Tuan Javier, kenapa Anda ada di sini?" tanya Chairul dengan wajah yang pucat pasi.
Javier berjalan ke hadapannya dan bertanya, "Kenapa batu mentah ini tercampur dengan batu palsu?"
Chairul berkeringat dingin. Gawat, semua batu mentah ini sesuai permintaan Direktur Kayla, kalau sampai ketahuan ....
Kalaupun dia mengatakan ini adalah instruksi Direktur Kayla, tetap saja dia yang akan terkena getahnya karena Kayla adalah pacar Tuan Javier!
"Ini ... batu mentah ini sebenarnya bukan tanggung jawab saya. Awalnya, Pak Sofyan, kepala bagian yang sudah mengundurkan diri itu yang bertanggung jawab atas semua batu mentah ini. Saya juga tidak tahu kenapa batu mentah ini bisa tercampur dengan batu palsu."
Lagi pula, orangnya juga sudah mengundurkan diri. Chairul terpaksa menggunakan namanya sebagai kambing hitam.
"Kamu bohong."
Claire mempertanyakan dengan tegas, "Selama Pak Sofyan bekerja, tidak pernah ada muncul kejadian batu mentah yang tercampur dengan batu palsu. Dia sudah bekerja di Vienna selama 15 tahun. Kalau memang melakukan kesalahan seperti ini, sedari awal dia pasti sudah dipecat. Mana mungkin perlu menunggu sampai sekarang?"
Chairul tercengang mendengarnya. Kenapa Zora bisa tahu kalau Sofyan pernah bekerja di Vienna selama itu?
"Saya ... benar-benar tidak tahu."
"Kamu sedang mencoba menutupi kesalahan seseorang, bukan?" desak Claire seraya menatapnya dengan tajam.
Javier hanya meliriknya sekilas tanpa mengatakan apa-apa.
Pada saat ini, Kayla muncul di depan pintu.
Mendengar bahwa Javier dan Claire mendatangi gudang material, bahkan Pak Chairul juga telah dipanggil ke sana, Kayla sangat khawatir rahasianya akan terbongkar. Oleh karena itu, dia juga bergegas ke ruangan tersebut.
Sambil berusaha menenangkan diri, Kayla berpura-pura tidak tahu apa-apa dan bertanya, "Apa yang terjadi? Javier, kenapa kamu ada di sini?"
Sialan, si berengsek Claire ini pasti pulang hanya untuk mempersulitnya. Dia bahkan mencari sampai ke gudang material!
Pada saat itu, demi menghemat uang, dia meminta seseorang membawa sejumlah bahan baku yang kurang baik. Dia tidak pernah mengira wanita sialan ini sengaja mencari masalah begitu kembali!
Javier menatapnya, lalu bertanya dengan acuh tak acuh, "Kenapa batu mentah ini bisa tercampur dengan batu palsu?"
Kayla mengepal tangannya dengan erat. Namun, dia menunjukkan wajah tak bersalah ketika berkata, "Aku nggak tahu. Kamu juga tahu kan, aku memang nggak mengerti soal batu mentah. Selama beberapa tahun ini, memang aku yang melakukan pengadaan batu mentah, tapi aku kira semuanya masih seperti sebelumnya."
Faktanya, dia memang tidak mengerti tentang batu mentah. Hal ini menjadi keuntungan baginya.
Claire malah tertawa, lalu berkata, "Hebat sekali Ayah bisa menyerahkan perusahaan kepada orang yang nggak tahu apa-apa. Memangnya dia nggak takut perusahaan akan bangkrut?"
"Aku ... benar-benar nggak tahu." Kayla merasa tidak berdaya, dia hanya bisa menatap Javier dan meyakinkannya, "Javier, kamu harus percaya padaku."
Wanita sialan, suatu hari, dia pasti akan mengusir wanita ini!
Javier bukannya tidak percaya dengan keraguan Claire. Selama beberapa tahun ini, jika ada hal tentang perhiasan yang tidak dimengerti Kayla, dia akan selalu menanyakannya kepada Javier dengan rendah hati. Javier paling jelas bahwa Kayla bukanlah orang yang suka berpura-pura.
Javier menoleh ke arah Chairul dan berkata, "Kamu dipecat."
Chairul tercengang sesaat, tetapi dia menerimanya dengan Ikhlas. Sebab, Javier bukanlah orang yang bisa disinggungnya.
Melihat Chairul dipecat, Kayla menggigit bibirnya dan membatin, 'Untung saja Javier percaya denganku.'
Javier berbalik kepada Claire, lalu berkata, "Kelak, kamu yang bertugas melakukan pengadaan batu mentah."
Usai berbicara, dia pun langsung meninggalkan gudang material tersebut.
Sesampainya di ruangan Claire, Kayla menarik tangan Claire dan menuduhnya, "Claire, kamu sengaja, 'kan?"
Claire merasa lucu, lantas dia membalasnya, "Sengaja apanya?"
"Kamu ... sengaja mendekati Javier, 'kan? Kamu bahkan memancingnya ke gudang material? Huh, kamu kira Javier akan percaya denganmu?
Terlintas rasa bangga di mata Kayla ketika berkata, "Kamu sudah lihat, 'kan? Orang yang dipercaya Javier itu aku, kamu nggak usah susah payah lagi."
"Oh, maksudmu, aku membawanya ke gudang material karena ingin merusak hubungan kalian? Aku memberitahukannya batu mentah itu tercampur dengan batu palsu karena ingin membuatnya curiga padamu?"
Melihat ekspresi Kayla yang kesal, Claire melipat kedua tangannya dan mencibir, "Memangnya aku senggang sekali ya ikut campur hubungan kalian berdua? Dia sendiri yang mau ikut aku ke gudang material, apa hubungannya denganku?"
"Claire, jangan kira aku akan percaya dengan ucapanmu."
"Kalau nggak mau percaya, ya sudah. Untuk apa bicara panjang lebar?"
Claire tidak bisa bersabar lagi, dia kembali menambahkan, "Masalah memalsukan batu mentah itu nggak akan kubiarkan begitu saja. Kalau bukan karena Vienna adalah jerih payah ibuku dan aku nggak tega menyebarkan hal ini, mana aku peduli ada berapa banyak Javier di belakangmu?"
Javier memang sangat berkuasa, tetapi Claire juga bukan orang yang bisa ditindas dengan sesuka hati.
Ketika baru saja hendak pergi, Kayla kembali menarik tangannya. "Claire, jangan kira kamu bisa berbuat semena-mena setelah kembali ke sini. Jangan lupa, videomu ...."
Claire tidak bisa bersabar lagi, dia berbalik dan merebut ponsel Kayla.
"Apa yang kamu lakukan?!"
Kayla ingin merebutnya, tetapi Claire malah berhasil menghindar darinya.
Melihat tampang Kayla yang ketakutan, Claire tertawa dan berkata, "Kamu suka mengancamku dengan video, 'kan?"
Dia berjalan ke jendela di ruang koridor, lalu membuang ponsel Kayla keluar jendela.
Kayla melihat ponselnya dijatuhkan dari lantai 19 dengan mata dan kepalanya sendiri. Sudah pasti ponselnya itu akan hancur berkeping-keping.
"Kamu ...."
"Bukankah kamu suka sekali mengancamku dengan video? Sekarang nggak ada video lagi, mau gimana lagi kamu mengancamku?"
Usai berbicara, Claire langsung masuk ke ruangannya kembali tanpa menoleh sama sekali.
Kayla merasa kesal setengah mati melihat videonya dihancurkan. Namun, hatinya malah merasa sedikit lega.
Dengan begitu, Javier tidak akan pernah tahu siapa wanita di malam itu selamanya.
Kejadian hari ini sepertinya akan membuat Javier merasa kecewa terhadapnya. Oleh karena itu, Kayla tidak bisa lagi terus menunggu.
Asalkan malam ini dia bisa menaklukkan Javier, Kayla akan menjadi miliknya secara resmi!
Malam pun tiba.
Di ruang kerja Kediaman Keluarga Fernando.
"Tuan Javier, saya sudah mendapatkan informasinya. Claire adalah anak Rendy dengan istri pertamanya, dia adalah Nona Besar Keluarga Adhitama. Ibu Claire adalah desainer perhiasan."
"Perusahaan Perhiasan Vienna dirintis oleh ibunya dan Rendy. Setelah ibunya meninggal, semua sahamnya dialihkan ke tangan Rendy. Entah apa alasannya, enam tahun yang lalu Claire pergi ke luar negeri."
Suara Roger terdengar dari ponsel yang diletakkan di sampingnya.
Sambil Javier memegang dokumen Zora di tangannya, tatapan Javier meredup ketika mendengar penjelasan Roger.
Apakah dia sengaja menentang Kayla karena merasa tidak rela perusahaan ini diserahkan kepada Kayla?
Akan tetapi, jika dia memang merupakan anggota Keluarga Adhitama, lantas mengapa Kayla tidak mau mengakuinya sedari awal?
Waktu sudah larut, Javier menyingkirkan semua masalah dan kembali ke kamarnya. Ketika menyadari ada seseorang di atas tempat tidur, dia menyalakan lampu dan melihat Kayla yang sedang duduk di atas tempat tidur mengenakan piama yang tipis.
Dengan sorot mata yang dingin, dia bertanya, "Kenapa kamu ada di kamarku?"
Javier memang membiarkannya tinggal di Kediaman Keluarga Fernando, tetapi dia tidak mengizinkan Kayla tidur di kamarnya.
Padahal, Kayla sudah sengaja mengenakan baju seperti itu dan memberi kode padanya dengan jelas. Akan tetapi, Javier kelihatannya tidak terlalu senang.
Kayla menggigit bibirnya dan memprotes, "Javier, setelah terakhir kali kita tidur bersama 6 tahun yang lalu, kamu nggak pernah membiarkanku mendekatimu lagi. Apakah aku melakukan kesalahan?"
Ekspresi Kayla tampak polos dan tidak berdaya.
Bagaimanapun, Javier adalah pria normal. Bohong jika mengatakan bahwa dia tidak merasakan apa pun.
Melihatnya tidak bersuara lagi, Kayla mengambil inisiatif untuk turun dari ranjang dan memeluk pria itu. Kedua tangannya melingkari leher Javier, lalu dia menjinjit dan hendak menciumnya.
Saat bibir mereka hampir bersentuhan, dalam benak Javier malah terlintas wajah Claire. Seketika, dia mendorong Kayla dan tatapannya tampak kesal.
"Javier ...."
Kayla yang didorongnya merasa kebingungan. "Javier ... apa kamu sebenci itu padaku?"
Kenapa? Kenapa dia bisa tidur dengan Claire 6 tahun yang lalu, tetapi sekarang malah tidak bisa melakukannya dengan Kayla?
"Enam tahun yang lalu itu hanyalah sebuah kecelakaan. Aku bisa membiarkanmu tetap di sisiku dan memberikan apa pun kepadamu sebagai kompensasi, tapi masalah malam ini nggak boleh terjadi lagi."
Ketika Javier berbalik, dia tiba-tiba teringat dengan sesuatu. Kemudian, dia bertanya kepada Kayla, "Claire adalah anggota Keluarga Adhitama, bukan?"
Kayla terdiam sejenak. Kenapa dia malah mengungkit Claire? Jangan-jangan, dia mengetahui sesuatu?
"Dia adikku ...."
"Lalu, waktu pertama kali dia ke perusahaan, kenapa kamu nggak mengakuinya dan malah memukulnya?" Awalnya, Javier mengira bahwa Claire yang duluan memprovokasi Kayla, makanya Kayla memukulnya.
Namun, setelah menyelidiki identitas wanita itu, Javier baru tahu bahwa ternyata dia adalah anggota Keluarga Adhitama. Perusahaan Vienna bahkan dirintis dengan menggunakan nama ibu wanita itu. Rendy hanyalah pemilik saham perusahaan itu.
Kayla menggigit bibirnya dengan perlahan dan mengepalkan tangannya. Namun, wajahnya malah memasang ekspresi tak bersalah. "Sebenarnya, aku punya masalah dengan adikku dulu."
"Masalah apa?"
Kayla tiba-tiba mendapat ide, lalu dia bercerita dengan mata berkaca-kaca, "Enam tahun yang lalu, malam itu dia menaruh obat dalam minumanku. Aku tahu, dia tidak suka dengan statusku sebagai anak haram. Sejak aku dan ibuku tiba di Keluarga Adhitama, Claire selalu menentang kami."
"Awalnya, Perusahaan Vienna ini akan diwariskan kepadanya. Namun, karena insiden itu, Ayah sangat marah dan mengusirnya keluar dari rumah."
Wajah Javier menjadi murung. Ternyata, 6 tahun yang lalu dia juga dijebak orang?
Wanita itu benar-benar melakukan hal seperti itu kepada Kayla? Dengan sikapnya yang sombong, sepertinya tidak heran kalau dia melakukan hal seperti itu.
Namun, entah mengapa, Javier malah merasa gusar karena hal ini.
"Kamu tidur saja dulu," ujar Javier. Kemudian, dia pun keluar dari kamar dengan acuh tak acuh.
Melihat pintu kamar yang tertutup, tatapan Kayla berubah menjadi bengis. Claire, Claire, lagi-lagi Claire! Keberadaan Claire memang sebuah ancaman baginya.
Dia tidak akan pernah membiarkan Claire terus tinggal di Vienna!