Pertama kali Diana menginjakkan kaki di pesantren ruqyah Karang Pandan. Bangunan nan megah di tengah kota Karang Pandan yang sering dilewatinya, tetapi belum pernah membuatnya benar-benar tertarik, sampai sekarang.
Sampai setelah dia sendirian dan dia merasa bahwa dia butuh pencerahan untuk kehidupannya. Saat Diana benar-benar butuh pegangan dan sandaran. Dan saat itulah Diana ingin belajar ilmu Al Quran dan Diana ingin langsung belajar pada ahlinya.
Diana sudah ditanya satpam dan diminta masuk ke dalam ruang tunggu, tetapi baru dia melangkah masuk, tiba-tiba Diana mendengar teriakan histeris beberapa orang dan kemudian beberapa orang berlari ke arah Diana.
Oh, orang-orang itu terlihat begitu besar bagi Diana. Mereka adalah lelaki-lelaki berambut panjang yang mengejar seorang lelaki yang bertubuh lebih besar lagi.
Diana membeliak tak percaya, ketika seorang lelaki yang rambutnya dikepang, menabrakkan diri pada pria yang mereka kejar. Mereka berdua terjatuh tepat di depan Diana, dengan suara yang cukup mengerikan. Sepertinya ada tulang yang patah.
"Hati-hati, Za! Dia putra Ustadz Harun!" teriak seorang pria sepuh --yang juga berambut panjang-- dari kejauhan.
Diana benar-benar shock dan bahkan napasnya tersengal. Pria berambut dikepang itu tersenyum malu pada Diana, dan dibantu dengan beberapa orang mereka mengangkat tubuh pria yang nampaknya pingsan itu ke dalam. Diana menelan ludah ketakutan. Dia merasa ragu untuk masuk ke dalam ruang tunggu.
"Tidak apa-apa, Mbak. Hal seperti itu biasa terjadi di sini. Jin yang ada pada pria itu takut melihat Ustadz Faza. Biasanya seperti itu."
Diana menoleh dan melihat seorang wanita berwajah lembut di belakangnya. Melihat baju dan jilbab wanita itu, sepertinya wanita itu memakai seragam ustadzah yang sudah dilihat Diana tadi. Diana tersipu malu.
"Mbaknya mau mendaftar jadi santri baru?" tanya wanita itu. Diana mengangguk sungkan.
"Perkenalkan saya Maya. Saya bekerja di sini. Yuk, saya antar ke bagian pendaftaran," kata Maya dengan ramah. Diana mengangguk. Dia mengikuti Maya berjalan menuju ke bagian dalam pesantren.
Dan kemudian mereka melewati ruang terapi ruqyah. Dan Diana mendengar teriakan-teriakan aneh dari ruangan itu.
"Aku mau menikah dengan Ustadz Faza saja!" teriak lelaki yang dikejar tadi. Rupanya pria itu sudah sadar. Pria itu memeluk pria dengan rambut dikepang yang dilihat Diana tadi. Semua orang tertawa termasuk Diana. Pria tadi nampak jijik dan berusaha mengibaskan dan mengusir pria tadi. Maya menoleh dan tersenyum pada Diana.
"Selalu begitu."
****
Pagi yang berembun. Awan membayang di angkasa dan teriakan-teriakan itu sudah terdengar membahana.
Ratna sangat terkejut dan bergegas berjalan keluar rumahnya setelah mendengar teriakan-teriakan itu. Dia menengokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, tetapi tidak ada satu pun orang yang keheranan seperti dirinya dan tidak ada satupun orang yang keluar dari rumah mereka. Komplek perumahan ustadz ustadzah di belakang ruang terapi ruqyah itu sepi. Ratna menelan ludah takut. Apa hanya hanya dia yang mendengar suara itu? Tiba-tiba Ratna merinding ketakutan. Ratna khawatir dia bisa mendengar dan melihat hal-hal aneh lagi.
"Mbak Ratna, Ustadzah Hasna ada?" Seseorang muncul dari balik pintu sambung. Ratna menjengit terkejut melihat orang itu dan juga berdebar kencang ketika mendengar teriakan-teriakan itu lagi. Teriakan-teriakan tak manusiawi yang membuat bulu kuduk meremang.
Ratna menggeleng.
"Kadose dereng kundur saking masjid, Ust, (Sepertinya belum pulang dari masjid, Ust,)" jawab Ratna agak bingung. Orang itu juga terlihat bingung. Dia nampak berbicara dengan orang yang ada di belakangnya.
Ratna nampak agak tidak enak hati karena tidak tahu harus bagaimana, jadi dia memilih untuk kembali masuk ke dalam rumah Hasna saja dan melanjutkan pekerjaannya sebelum berangkat bekerja. Ratna tersenyum. Dia suka dengan ritme di pesantren ini, karena semua benar-benar membuat Ratna berdebar tegang, menanti apa yang selanjutnya akan terjadi, selain tentu saja jadwal yang begitu ketat dengan target-target ibadah yang adalah hal baru bagi Ratna.
"Na! Ratna?"
Ratna buru-buru merapikan jilbabnya ketika namanya dipanggil oleh seseorang di depan. Ratna bergegas ke depan. Sepertinya dia tahu pemilik suara itu. Dan dugaan Ratna benar, pemilik suara itu adalah budhe dari suaminya yang bernama Yasna.
Yasna tersenyum pada Ratna dengan ramah. Wajah cantik Yasna nampak bersemu merah.
"Hasna ada?" tanya Yasna. Ratna menjengit, karena sudah sekian kali ada yang mencari Yasna pagi ini. Yasna menelengkan kepalanya.
"Kamu nggak tahu, ya? Aduh! Ke mana anak itu? Sukanya ngilang," kata Yasna tak jelas.
"Wau ummi dereng kundur saking masjid, Budhe, (Tadi ummi belum pulang dari masjid, Budhe)" jawab Ratna.
Yasna mengeluh.
"Dengan Faiz juga, kan?" tanya Yasna lagi.
Eh, Ratna baru tersadar, ternyata dia juga belum melihat suami dan ibu mertuanya sejak tadi. Ratna tertawa gugup.
"Sepertinya iya, Budhe. Saya malah baru sadar kalau Mas Faiz juga belum pulang," jawab Ratna. Yasna tertawa geli.
"Ya, sudah. Tidak apa-apa, Ndhuk. Nanti kalau Hasna pulang, tolong diberitahu kalau banyak yang cari, ya? Ditunggu di ruang terapi ruqyah," kata Yasna.
Ratna mengangguk dan mengiyakan perkataan Yasna.
"Sarapan di tempatku saja, Na. Kamu belum masak, kan?" tanya Yasna. Ratna kaget dan tertawa.
"Nggih, gampil mangkih, Budhe, (Ya, gampang nanti, Budhe)" jawab Ratna geli. Dia segera masuk ke dalam rumahnya dan melanjutkan pekerjaannya dengan damai.
Tetapi harapan Ratna untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan damai pagi itu sepertinya gagal, karena untuk kesekian kalinya ada orang yang masuk ke dalam rumah Hasna. Kali ini orang yang masuk itu dengan berlari terengah. Ratna sangat terkejut dan membuka tirai yang membatasi ruang tengah dengan dapur, dan Ratna melihat pria itu. Seorang pria tinggi besar, bertelanjang dada dan memakai celana hitam berdiri di depan Ratna dengan kikuk. Pria itu nampak kebingungan dan panik. Dia memandang Ratna dengan nyalang.
Ratna dilanda kepanikan.
"Endi dalane? (Mana jalannya?)" tanya pria itu dengan keras.
Ratna tidak tahu harus berbuat apa. Dia berdiri mematung di balik tirai pintu dapur. Kemudian terdengar suara-suara lain di luar sana.
"Ke mana larinya?"
"Berarti kita harus mencari ke semua rumah!"
Dan terciptalah keributan itu. Dan sekali lagi ada beberapa orang yang masuk ke dalam rumah Hasna, membuat Ratna dan pria di depan Ratna terkejut.
"Hei! Ternyata di sini!"
"Jangan lari lagi, ya, Pak! Ayo, kita ke ruang terapi ruqyah lagi."
Pria itu menggeleng liar. Dia memandang berkeliling dengan panik dan kemudian memandang ke arah Ratna.
Ratna membeliak panik. Dia ketakutan melihat pria yang memandangnya penuh kemarahan. Seharusnya dia berlari menghindar atau bersembunyi, tetapi Ratna hanya membeku di tempatnya.
"Jangan berbuat macam-macam, ya, Pak?" kata seseorang, tetapi perintah itu hanya menguap dalam ketegangan. Dan dengan kecepatan kilat, pria itu berlari ke arah Ratna dan menggendong Ratna dengan mudah dan menghilang.
Semua orang panik dan segera mengejar pria itu. Tetapi pria itu menghilang setelah menaiki tangga yang menuju ke tempat menjemur pakaian dan ... dan di sana tidak ada siapa-siapa. Kosong. Meninggalkan para peraqi kebingungan dan ketakutan setengah mati.
Mereka telah menyebabkan salah satu menantu cucu Ustadz Irfan menghilang.
****
"Pakdhe, tolong saya, Pakdhe," kata Faiz. Dia terlihat begitu tak berdaya.
Fadli mengangguk.
"Pasti akan kubantu, Iz. Kamu beristirahat dulu, ya?" Faiz menggeleng.
"Aku tidak bisa berdiam di sini. Aku akan ikut ...."
"Kamu di sini dengan Pakdhe, ya? Pakdhe tidak akan ke mana-mana," bisik Fadli. Dia duduk di samping tempat tidur Faiz. Faiz menggeleng lagi. Air mata mengalir di pipi Faiz, dalam kesenyapan. Oh, wajah pria muda itu nampak begitu sedih. Fadli tidak bisa menghiburnya. Fadli hanya mengembuskan napas panjang. Dia tersenyum.
"Apa yang bisa kulakukan agar kamu mau tetap di sini bersama ummimu?" tanya Fadli dengan pandangan yang tegas pada Faiz. Faiz masih menggeleng. Dia tidak bisa mengungkapkan isi hatinya saat ini. Dia merasa tidak ada yang akan mengerti perasaannya sekarang. Faiz tidak bisa menceritakan kepada Fadli bahwa dia sangat takut Ratna akan menjadi seperti dulu lagi, ketika hilang di kuburan Cina di Karang Legi.
Faiz memandang Fadli dengan pandangan yang dingin. Fadli mengenali pandangan itu. Pandangan kemarahan itu adalah milik Galang, bapak Faiz yang telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Dan pandangan itu adalah pandangan yang tidak main-main.
Fadli mengangkat bahu.
"Jadi menurutmu kami mau ke mana?" tanya Fadli pada Faiz.
Faiz mengangkat bahunya masa bodoh, dia nampak agak putus asa.
"Bersabarlah sebentar, Iz. Kita menunggu Faza atau Naim, yang sepertinya akan membawa kabar untuk kita," kata Fadli. Faiz terdiam. Pandangannya menerawang ke atas. Air matanya mengalir lagi. Masih dalam keheningan. Kesedihan terlihat nyata di wajahnya.
Fadli merasa tidak sabar sendiri. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk menghibur Faiz dan akhirnya Fadli memutuskan untuk meninggalkan Faiz sendiri. Fadli keluar dari kamar Faiz dan disambut oleh Faza dan Naim yang wajahnya juga nampak agak tidak menentu.
"Apa yang terjadi?" tanya Fadli.
Faza tersenyum, dia meminta Fadli untuk duduk dan menceritakan semuanya perlahan.
****
"Putra Ustadz Harun yang melarikan diri tadi adalah seorang penari. Sepertinya dia memiliki sesuatu di tubuhnya yang bereaksi sangat keras ketika diruqyah, Pak," kata Faza. Fadli memicingkan matanya mendengar cerita Faza.
"Penari apa, Za?" tanya Fadli keheranan.
Faza memandang Naim. Naim mengangguk.
"Warok, Pak," jawab Faza.
Mereka bertiga berpandangan. Fadli beristighfar lirih.
"Apa Ustadz Harun tahu hal ini, Za?" tanya Fadli. Dia memejamkan matanya. Faza mengangguk.
"Tahu, Pak. Ustadz Harun yang meminta putranya untuk berubah. Tetapi mungkin seperti apa yang kubilang tadi, Pak, ada sesuatu di dalam tubuh putra Ustadz Harun yang menolak untuk keluar," jawab Faza.
Fadli menganggukkan kepalanya. Dia tampak agak ragu.
"Kalian sudah menceritakan hal ini pada beliau?" tanya Fiki. Faza dan Naim mengangguk.
"Ustadz Harun ... sekarang ada di rumah sakit, Pak," bisik Naim.
Fadli memejamkan matanya. Dia nampak semakin sedih. Oh, masalah sudah berkembang dengan sangat pesat. Sangat pesat sekali dan sepertinya sudah tak terkendali lagi.
"Innalillahi! Sepertinya aku harus segera menemui Ustadz Harun dan memintanya untuk bersabar ... oh, ya, kalian sudah mencari tahu tentang apa yang kuminta tadi, kan?" tanya Fadli. Faza mengangguk lagi.
"Sudah, Pak. Kami sudah menanyakan di mana kira-kira putra Ustadz Harun itu sering menghabiskan waktunya. Dan dengan sedih tadi Ustadz Harun mengatakan bahwa putra beliau selalu pergi ke sebuah desa kecil bernama Papringan Ijo di daerah Karang Pandan bagian barat, Pak. Di sana dia belajar menjadi warok dan menjadi kekasih seorang warok tua."
Naim menunduk, dia takut bapaknya akan memarahinya karena menjabarkan informasi yang kurang pantas itu. Fadli diam saja. Dia memandang ke arah Naim.
"Siapa saja yang tahu informasi ini, Im?" tanya Fadli.
Naim mendongak.
"Aku, Faza, Bapak dan Ustadz Harun. Ustadzah Isti pun tidak tahu informasi ini," jawab Naim. Fadli mengangguk.
"Bagus. Jangan sampai ada orang lain yang tahu. Nanti sore antar aku ke rumah sakit untuk menjenguk Ustadz Harun," kata Fadli pada Naim dan Faza. Mereka berdua mengangguk takzim.
Fadli berdiri dan meninggalkan Faza dan Naim dengan wajah dan langkah yang sedih. Faza dan Naim berpandangan.
"Apa bapak merasa malu, Mas?" bisik Faza. Naim mengangkat bahu.
"Mungkin tidak malu, tetapi sedih. Sedih karena ikut merasakan betapa tak menentunya rasa Ustadz Harun saat ini. Ketika tahu anaknya menjadi kurang sholih dan bahkan sampai menculik istri orang seperti ini ...." Naim menoleh ke arah Faza.
"Putra Ustadz Harun hanya dua, Za. Yang satu sakit-sakitan dan yang satu yang menjadi warok itu," bisik Naim. Mereka berpandangan sedih. Oh, betapa besar cobaan yang harus dipikul Ustadz Harun.
"Siapa nama putra Ustadz Harun itu, Mas?" tanya Faza.
"Yang pertama bernama Budi Utomo. Yang kedua Heru Pratama. Yang melarikan Ratna adalah putra beliau yang kedua, yang kalau tidak salah sudah berganti nama menjadi Madani. Orang-orang sering memanggilnya Madan," jawab Naim.
Faza mengerutkan keningnya. Dia sepertinya belum pernah mendengar nama itu. Naim tersenyum mafhum.
"Kedua putra Ustadz Harun memang tidak ada yang di pesantren, Za. Mereka semua dibesarkan di luar pesantren. Aku dulu pernah satu kelas dengan Utomo, sehingga aku tahu sedikit tentang keluarga Ustadz Hasan," jelas Naim.
Faza mengangguk.
"Mas Budi Utomo sakit apa, Mas?" tanya Faza lagi.
"Kalau aku tidak keliru, waktu dulu masih SMA saja, Budi Utomo sudah divonis sakit TBC, tetapi kemudian sempat sembuh dan sehat kembali. Lalu kami berpisah, tetapi sepengetahuanku, dia masih sakit juga, kalau yang sekarang aku tidak tahu sakit apa. Sementara Madan, adiknya, dititipkan pada pakdhenya karena Ustadz Harun dan Ustadzah Isti fokus merawat Budi Utomo." Naim memandang Faza. Dia nampak khawatir.
"Atau karena dititipkan itu Madan jadi kecewa dan kemudian memilih dunia yang lain, ya, Za?" tanya Naim. Dia nampak merenung. Faza menimbang-nimbang perkataan Naim tadi. Bisa jadi memang Madan sakit hati dan kemudian memilih kehidupan yang berbeda.
"Aku tidak tahu, Mas. Aku hanya berharap Ratna segera ketemu dan Madan segera kembali kepada orang tuanya lagi," kata Faza dengan sedih.
Naim berdeham. Wajahnya tiba-tiba nampak risau.
"Emm ... sebenarnya aku ingin mengatakan ini lebih awal, tetapi pasti bapak akan murka dan sangat sedih, Za," bisik Naim. Faza memandang Naim tak percaya.
"Apa itu, Mas?" tanya Faza. Wajah Faza sangat penasaran.
"Sebenarnya setelah tahu kalau Madan membawa lari istri orang lain, Ustadz Harun langsung tak sadarkan diri dalam waktu yang cukup lama, dan sekarang beliau di rawat di ICU," kata Naim pelan.
"Astaghfirullah! Apakah Ustadz Harun baik-baik saja, Mas?"
Naim nampak sedih dan menggelengkan kepalanya.
"Ustadz Harun sudah tidak sadarkan diri, Za."
****
Diana mengikuti ritme pesantren dengan sukacita. Paling malam tidur jam sembilan. Hal itu tidak menjadi masalah bagi Diana. Dia sudah sering tidur lebih malam atau lebih awal lagi. Kemudian dia diminta bangun paling tidak jam tiga pagi. Diana sama sekali tidak keberatan. Dia sudah sering bangun lebih awal dan bahkan sering tidak tidur sama sekali dulu.
Diana tersenyum ketika harus mengantri kamar mandi dan sudah harus berada di masjid sebelum jam empat. Setelah semua ibadah pagi sampai subuh, Diana harus bersiap-siap untuk mandi dan memulai kelas pada jam delapan pagi. Mengesankan sekali. Diana sangat menyukai aktivitas barunya ini.
"Mbak Diana nggak pernah capek, ya, Mbak?" tanya Aura, salah seorang teman sekamar Diana. Diana tertawa.
"Iya, Dik. Aku dulu memiliki kehidupan yang lebih keras dibandingkan di sini," jawab Diana pendek.
Aura dan dua wanita muda yang sekamar dengan Diana berpandangan penasaran dan 'excited' sekali.
"Seperti apa, Mbak Diana?"
"Mbak Diana mau sharing ceritanya, kan?"
Diana tertawa. Dia mengangguk.
"Insya Allah, tentu saja aku mau cerita, dan semoga cerita ini bisa menjadi pelajaran untuk semua, ya?" kata Diana semua mengangguk.
Diana merenung. Setiap lantunan cerita membawanya kembali ke sebuah rumah kecil di pinggiran Karang Pandan. Rumah kumuh, kotor dan sangat sempit itu. Bau apak rumah itu terpampang jelas di depan Diana dan bau itu seakan kembali membebani pundak Diana dengan beribu luka.
Bau yang seakan tercium dengan jelas oleh Diana sekarang, membuat Diana membayangkan teriakan-teriakan yang akan terdengar kemudian.
"Di mana gadis pemalas itu? Di mana dia?"
Oh! Suara itu seakan menyayat hati Diana. Diana berhenti berjalan dan meringkuk di sudut ruangan sempit yang penuh sesak dengan barang-barang itu.
"Bara! Di mana Diana?"
Diana menutupi kepalanya dengan tangannya. Dia takut kejadian di masa lalunya itu akan benar-benar terulang lagi.
"Diana sedang mencuci baju, Buk. Ibuk minta apa?"
"Pampersku basah. Aku mau ganti pampers!"
"Tunggu sebentar, Buk. Bara panggilkan."
Tubuh Diana panas dingin membayangkan Bara akan mencarinya. Lalu ... lalu Bara akan memarahinya dan berteriak padanya dan kemudian hari itu akan menjadi hari yang sangat buruk bagi Diana. Membayangkan dan mengingatnya kembali membuat Diana merasa mual dan berkunang-kunang.
Dan kemudian bisikan itu datang kembali.
[Palu saja!]
Oh, menyenangkan sekali sepertinya mengayun benda tumpul itu kepada orang yang sangat kita benci. Membayangkan suara keretak palu beradu dengan tulang kepala rasanya lega sekali. Paling tidak semua ocehan-ocehan itu akan berhenti ....
"Mbak Diana! Mbak Diana!"
"Tolong!"
"Tolong!"
Diana membuka matanya. Dia terbaring di tengah kamarnya sendirian. Di mana teman-temannya tadi? Dan kenapa tadi dia mendengar suara teriakan-teriakan? Di mana orang-orang yang berteriak itu?
Diana bangun dan melihat semuanya. Dia melihat Aura terbaring di depannya. Diana menjerit ngeri ....
****
Fadli memijit keningnya. Kenapa ada begitu banyak kasus pada saat yang bersamaan seperti ini sejak Madan --putra Ustadz Harun-- diruqyah? Apa yang sebenarnya terjadi?
Yasna mendekati Fadli dengan senyum yang terkembang.
"Kurasa Mas Fadli tidak usah ikut-ikutan mereka sibuk ke sana ke mari," kata Yasna sambil meletakkan secangkir teh di depan Fadli, "biar saja mereka yang bingung, Mas. Mas Fadli beristirahat di sini, ya? Lagipula Hasna berpesan pada Mas Fadli untuk menemani Faiz, kan?"
Fadli mendengus. Dia sebenarnya merasa keberatan dengan tugas itu, karena Faiz bukan anak yang terlalu penurut menurut Fadli. Faiz anak yang terlalu ngeyel dan punya pendapat sendiri yang tidak bisa diintervensi oleh Fadli, seperti layaknya anak-anak Fadli. Tetapi, ya, mau bagaimana lagi. Faiz, kan memang bukan anak Fadli, jelasnya Faiz pasti juga menganggap Fadli orang yang tidak pada porsinya memberi nasihat yang berlebihan pada Faiz, kan?
Yasna tertawa.
"Kenapa Mas Fadli nampak kesal?"
Fadli melirik Yasna kesal.
"Tidak seharusnya kamu tertawa bahagia ketika istri saudaramu diculik orang yang kerasukan, Na. Kenapa kamu tidak membantu Hasna?" tanya Fadli ketus. Yasna tertawa makin keras.
"Astaghfirullah. Mas Fadli ini gimana, to? Ratna, kan sudah ditemukan tadi pagi."
Fadli memicingkan matanya.
"Ya Allah! Benarkah?"
"Nggih, Mas. Tadi Mas Fadli masih di kelas sepertinya. Orang-orang ramai ke rumah Hasna, tetapi Faiz malah pingsan dan harus di bawa ke rumah sakit ...." Yasna tersenyum.
"Faiz dan Ratna baik-baik saja, Mas Fadli. Insya Allah."
Fadli mengerjapkan mata beberapa kali pada Yasna. Dia benar-benar belum mendengar berita itu. Tetapi hari ini memang Fadli merasa agak lelah, dia mengisi kajian setelah Subuh dan mengajar sampai Dhuhur, setelah itu dia pulang dan tidur siang sampai sekarang. Fadli melirik jam dinding. Setengah tiga.
Yasna tersenyum paham. Dia memijat bahu Fadli.
"Mas Fadli nampaknya kurang sehat. Apa masuk angin?"
Fadli tersenyum.
"Capek. Aku sudah tua. Mengajar dua tiga jam saja sudah kelelahan."
"Makanya tidak usah ikut ekspedisi yang aneh-aneh lagi, ya, Mas? Pokoknya sekarang Mas Fadli hanya untuk Yasna," kata Yasna setengah menggoda Fadli, sambil memeluk tangan Fadli. Fadli tertawa. Ah, betapa lama dia menjadi peruqyah dan anggota bahkan ketua tim ekspedisi. Fadli menyadari dia sudah sangat lama meninggalkan Yasna dan anak-anaknya, hingga mereka semua sudah dewasa.
"Insya Allah. Bukankah dari dulu aku juga selalu jadi milikmu?" goda Fadli. Yasna mencebik.
"Cckk! Aku dulu selalu kalah dengan Pak Sapto. Masak sampai sekarang masih begitu?"
Fadli tertawa terbahak-bahak.
"Astaghfirullah. Masak dulu aku begitu, Na?" Yasna makin mencebik. Dia mencubit Fadli.
"Selalu saja pergi ke sana ke mari tanpa henti. Aku dan anak-anak selalu jadi nomor dua. Eh, waktu anak-anak sudah besar, Mas Fadli mengajak anak-anak kita ikut ekspedisi. Mas Fadli kira Na di rumah tenang-tenang saja minum teh sambil menunggu Mas Fadli pulang? Nggak, Mas. Na selalu khawatir, Na kadang memangis dan Na selalu berdoa agar Mas Fadli dan anak-anak dan semua tim ekspedisi selamat sampai tugas selesai. Na tidak pernah peduli apakah kasusnya terpecahkan atau tidak, yang penting Mas Fadli dan semuanya segera pulang dalam keadaan sehat dan selamat." Yasna memandang Fadli dengan pandangan yang tak terjabarkan, entah apa maksud Yasna. Dan pandangan itu membuat Fadli merasa bergidik dan amat sangat bersalah.
"Nah, coba Mas Fadli bayangkan kalau Mas Fadli memberitahu ada anak kita yang di rumah sakit atau ada anak kita yang terluka, hilang atau entah apa lagi. Astaghfirullah. Rasanya Na mau mati saja mendengar semua itu ...." Yasna menangis terisak. Dia memeluk Fadli erat.
"Mas Fadli jangan ikut ekspedisi lagi, ya? Mas Fadli di rumah saja, ya?"
Fadli sangat tersentuh dan sangat terharu mendengar cerita dan permintaan Yasna. Ah, hati Fadli seakan diremas mendengar itu semua. Dia memeluk Yasna erat.
Eh, tetapi pada saat yang bersamaan ada beberapa pertanyaan di kepala Fadli yang tiba-tiba muncul begitu saja. Membuat Fadli merasa makin bersalah pada kekasih hatinya itu. Dan entah kenapa pertanyaan itu terus mengusik hatinya.
Fadli berusaha tetap bersikap romantis dan bersikap biasa ketika memeluk Yasna, terutama ketika dia bertanya-tanya dalam hati tentang keadaan Madan. Apakah Madan baik-baik saja?
****
Diana melihat Aura terbaring di depannya. Darah mengalir dari telinga Aura. Diana bergidik. Dan entah kenapa tiba-tiba Diana melihat ada palu di tangannya. Palu yang cukup besar dan bernoda darah. Oh, pasti palu itu yang telah membuat Aura berdarah-darah.
Secara refleks Diana melemparkan palu itu hingga mengenai cermin yang ada di kamarnya. Cermin itu pecah berkeping-keping, menciptakan suara yang begitu keras dan bising. Diana menutupi kedua telinganya dengan tangannya. Tetapi kemudian Diana malah melihat pemandangan lain yang begitu mengerikan.
Diana melihat Aura terbangun dan menjerit marah.
"Siapa yang berisik?" teriak Aura.
Diana terpaku. Dia melihat darah Aura bercucuran dari telinga dan mulut Aura. Dan ketika Aura berbicara darah itu muncrat ke mana-mana. Diana tersengal.
"Siapa yang berisik?" teriak Aura lagi.
Diana diam. Dia tidak berani menjawab pertanyaan Aura.
Aura memandang berkeliling dan kemudian Aura menemukan Diana, yang duduk bersimpuh di depan Aura dengan wajah pucat pasi. Aura tertawa melihat rona ketakutan di wajah Diana. Dia mendengus.
"Akhirnya aku menemukanmu. Akhirnya aku menemukanmu." Aura mendesis, dia maju mendekati Diana dengan gerakan yang sangat aneh dan seperti menyakitkan. Aura berjalan terpincang. Sepertinya kakinya sakit, dan kemudian Diana menyadari kenapa Aura pincang, ketika melihat noda darah pada rok Aura, yang sepertinya terdapat lada bagian lututnya. Oh, sepertinya ada yang memukulkan palu pada lutut Aura.
Dan apakah dia yang melakukannya. Diana menggelengkan kepalanya. Dia merasa ngeri sendiri.
"Apakah aku memalumu? Apakah aku memukulmu dengan palu?"
Aura tertawa dan hal itu membuat darah membanjiri dadanya.
"Tentu saja, Gadis manis. Tentu saja. Terima kasih sudah mematuhiku," bisik Aura. Dia menyentuh tangan Diana.
Diana membelalak tak percaya. Rasa sakit seketika mengenai kepala Diana ketika tangan Aura menyentuh tangannya. Kepala Diana bagaikan dipalu dengan keras dan bertubi-tubi. Sakitnya tak terperi. Dan Diana bisa mendengar bunyi tulang yang retak, patah atau bahkan hancur ketika terkena palu itu. Dan lututnya juga. Oh, ternyata benar dugaannya. Dia atau mungkin entah siapa memalu lutut Aura.
Diana begitu takut, karena dia tahu bunyi itu berasal dari kepala dan lututnya sendiri. Diana berteriak keras dan kemudian pintu kamarnya terbuka.
"Diam! Ribut saja!"
Diana menjengit. Oh, bukankah itu suara Bara? Bukankah Bara sudah mati? Bukankah dia dulu sudah memukul kepala Bara dengan palu.
"Jangan tidur saja! Buatkan aku minum!" teriak Bara. Dia memandang penuh kebencian kepada Diana.
Diana mengangguk pasrah. Dia menyentuh kepala dan lututnya. Semuanya utuh dan tidak ada setetes pun darah di kepala atau pun lututnya. Diana memandang berkeliling dan dia sudah kembali ke sebuah rumah sempit di kawasan padat penduduk di pinggiran Karang Pandan.
Air mata Diana meleleh.
Oh, entah mana yang nyata, entah mana yang mimpi. Diana merasa begitu berat menanggung semua beban ini.
****
Fadli memandang Naim dengan murka. Naim menunduk dan sedikit mundur.
"Monggo, Ustadz," kata Ustadzah Isti dengan sopan dan takzim. Oh, kemarahan Fadli terpaksa harus menunggu dulu. Dia diminta masuk ke dalam ruang rawat Ustadz Harun di ICU.
Fadli mengangguk dan buru-buru mengikuti seorang perawat yang memintanya untuk melakukan beberapa prosedur sebelum masuk ke dalam ruang rawat.
"Apa yang terjadi pada Ustadz Hasan, Mas?" tanya Fadli.
Perawat itu tersenyum penuh makna. Dia diam sejenak.
"Kami tidak diperkenankan membicarakan kondisi pasien selain kepada keluarga pasien, Ust," jawab perawat itu diplomatis.
Fadli tersenyum mafhum. Dia mengangguk.
"Njih, Mas. Tidak apa. Kalau putranya Ustadz Harun apakah juga di rawat di rumah sakit ini?" tanya Fadli ini.
Perawat itu nampak agak bingung ketika memandang Fadli, tetapi kemudian dia menggelengkan kepalanya.
"Saya kurang paham. Kalau pun iya, berarti saya yang tidak tahu, Pak. Karena saya bertugas di bagian ICU saja," jawab perawat itu lagi.
Fadli tertawa dan beristighfar.
"Oalah, iya, ya, Mas. Maaf saya lupa," jawab Fadli dan dia buru-buru masuk ke dalam ruang ICU.
****
Ustadz Harun nampak begitu pucat. Dia tidak terlihat hidup, selain dadanya yang bergerak naik turun perlahan, seiring dengan desahan perlengkapan medis yang mengelilingi Ustadz Harun.
Oh, apakah Ustadz Harun sadar? Atau semua perlengkapan itu menunjukkan bahwa Ustaz Harun sudah di penghujung kehidupannya? Fadli segera beristighfar karena merasa memiliki pemikiran buruk seperti itu. Dia segera mendekati Ustadz Harun dan berbisik lirih di dekat tubuh Ustadz yang usianya jauh lebih muda dibandingkan Fadli itu.
"Ustadz Harun, ini Fadli," bisik Fadli pelan.
Fadli merasa ragu, apakah dia harus berkata dengan keras atau berbisik saja pada Ustadz Harun. Fadli memandang wajah nelangsa itu dengan iba. Wajah Ustadz Harun terlihat penuh beban dan bahkan dahinya pun mengkerut menahan semua rasa.
Fadli mengelus tangan Ustadz Harun dengan penuh kasih.
"Sabar, njih, Ust? Allah memberikan semua ujian ini karena tahu Ustadz Harun adalah seorang yang kuat dan mampu menanggung semua beban ini," bisik Fadli pelan.
Hening menyapa Fadli. Fadli tersenyum. Tentu saja. Apa yang akan diharapkan Fadli?
"Semoga dimudahkan dan diringankan oleh Allah, njih, Ust. Semoga Allah menguatkan Ustadz Harun dan keluarga," bisik Fadli lagi, "Fadli pamit dulu, njih, Ust?"
Fadli menepuk-menepuk tangan Ustadz Harun dan sebulir air mata mengalir dari netra Ustadz Harun yang tertutup rapat oleh perban yang melindungi matanya.
Ah, Fadli merasa iba sekali.
****
Diana berjalan perlahan menuju ke arah dapur. Ya, atau suatu tempat yang memang pantas disebut dapur, karena di sanalah Diana memasak. Diana segera mengambil gelas dan mengisi gelas itu dengan gula dan kopi.
Diana mengembuskan napas panjang. Gula dan kopi itu hampir habis semua. Dia harus segera mendapatkan uang untuk membeli semua bahan pangan di rumah itu, agar dia tidak dimarahi lagi, seperti biasanya.
Diana memeriksa termos yang masih penuh dengan air panas, dan segera menuangkan air panas itu ke dalam gelas berisi kopi tadi. Bau kopi yang begitu segar menguar ke ruangan sempit yang disebut dapur itu.
Diana segera membawa kopi itu ke ruang tengah dan meletakkan gelas itu di meja depan TV. Aneh, di mana Bara? Biasanya Bara duduk bermalas-malasan di depan TV, tetapi sekarang lelaki itu tidak kelihatan. Diana tidak peduli. Dia segera membereskan ruang tengah yang penuh dengan sampah dan berantakan sekali. Karena kalau Diana terlambat sebentar saja, maka Bara atau wanita tua itu akan meneriakinya. Dan Diana tidak ingin hal itu terjadi.
Diana menyapu bagian bawah kursi plastik dan meja kecil di ruang tengah itu dan dia menemukan untaian kuntum-kuntum bunga melati dan bunga kanthil yang menciptakan bau wangi lembut dan melenakan. Buku kuduk Diana seketika meremang. Dia bergidik dan segera menyelesaikan aktivitasnya menyapu dan membersihkan rumahnya.
Diana merasa agak sedikit janggal dengan bunga-bunga itu. Bukankah sejak tadi tidak ada bunga itu di lantai? Diana bergidik lagi dan memaksakan dirinya untuk tidak memedulikan hal itu lagi. Diana bergegas kembali ke dapur untuk memasak dan menyelesaikan pekerjaannya yang lain.
****
Diana yang sedang sibuk memasak sangat terkejut ketika mendengar suara hujan di luar, dia segera keluar untuk mengangkat jemuran. Dan pada saat itulah Diana menyadari sebuah kejanggalan.
Oh, ya. Oh, ya.
Ke mana orang-orang itu? Kenapa tidak ada seorang pun yang memanggilnya untuk melakukan ini itu? Bukankah dulu, tidak pernah ada jeda bagi Diana? Bukankah dulu Diana selalu bekerja tanpa henti?
Diana memicing, dia segera meletakkan jemuran di kamarnya --seperti biasa-- kemudian dia segera menuju ke kamar itu. Kamar yang sangat dibencinya, dan untuk menuju ke kamar itu, Diana melewati ruang tengah. Dan sekali lagi dia merasa sangat janggal dan terkejut ketika melihat kopi yang dibuatnya tadi masih utuh. Tak tersentuh sama sekali.
Jantung Diana berdebar keras. Di mana Bara? Ke mana Bara? Diana menelan ludah ketakutan. Dia tidak ingin memperpanjang masalah itu, masalah itu bisa menunggu nanti. Diana bergegas menuju ke sebuah pintu kamar yang ada di depannya. Dan pada saat itu lah dia mencium bau kembang melati dan kanthil lagi, seperti tadi ketika dia menyapu ruang tengah itu. Diana memerhatikan lantai ruang tengah itu dan ... oh, bunga itu ada lagi. Bukankah dia tadi sudah menyapu bersih ruang tengah itu?
Yang mana yang mimpi? Yang mana yang nyata? Tiba-tiba Diana merasa lelah. Air mata membayang di pelupuk mata Diana. Dia mengambil keputusan akan memikirkan hal itu nanti, sekarang dia bergegas melanjutkan perjalanan menuju ke kamar itu.
Dalam sekejap Diana sudah membuka pintu kamar yang sangat dibencinya itu. Diana mundur karena ... karena kamar itu sangat bau. Oh, baunya tak terkira. Bau amis, bau anyir dan bau busuk yang menusuk-nusuk hidungnya.
Diana maju lagi sedikit dan melihat kenapa kamar itu sangat bau. Mayat Bara dan wanita itu teronggok begitu saja di salah satu sudut ruangan itu. Dan bahkan dari jauh pun Diana bisa melihat kepala mereka mengeluarkan darah yang terus menetes-netes.
Kepala mereka seperti telah dipalu.
****
Fadli merenung. Dia merasa ada sesuatu yang hilang dari kepulangan Ratna. Bukannya dia tidak ikut senang dengan kepulangan Ratna, bukan, bukan itu. Tetapi Fadli merasa bahwa betapa janggalnya, ketika tidak ada seorang pun yang penasaran dengan nasib Madan.
Ya, memang Madan adalah orang jahat. Dia --secara tidak sengaja-- mengambil istri orang dan menculiknya. Tetapi ketika istri orang itu ditemukan dalam keadaan selamat, lalu kenapa tidak ada orang memedulikan nasib Madan, atau paling tidak menanyakan tentang keberadaan Madan? Atau ... atau kenapa tidak ada orang yang ingin menangkap Madan atau menghukum Madan? Bukankah hal itu sangat aneh? Menurut Fadli hal itu sangat aneh.
Fadli menembuskan napas panjang. Sepertinya Fadli harus menanyakan hal itu pada seseorang, tetapi siapa? Ah, dia harus menyembunyikan semua pertanyaan-pertanyaan itu dari Yasna. Yasna bisa marah, dan bahkan murka kalau tahu Fadli mulai bermain detektif-detektifan lagi.
Fadli tertawa. Dia tahu harus ke mana.
****