Bab 2

Sudah tiga hari Ario pindah dari rumah Sulastri, kini Lasmini merasa hatinya kosong. Dia merasa kesepian yang membuatnya sering melamun dan tidak fokus belajar.

Biasanya setelah dia selesai belajar, hal yang di lakukannya sebelum dia tidur adalah mengobrol dengan Ario di teras rumah. Tapi kini tidak ada lagi orang yang diajaknya bercerita dan bertukar pikiran, Lasmini merasa hidupnya membosankan dan dia jadi malas untuk belajar.

Sama seperti halnya dengan Lasmini, di rumah kontrakannya Ario merasa ada yang hilang dari hidupnya, walaupun ada beberapa temannya di rumah kontrakan itu tapi dia merasa kesepian. Bayangan gadis itu selalu memenuhi kepalanya.

"Apa ini yang dinamakan rindu? besok aku akan menemuinya," gumamnya bermonolog.

***

Besok sore, Ario pergi ke rumah Sulastri untuk menemui Lasmini yang selama tiga hari ini sosoknya memenuhi pikirannya.

Senyumnya merekah saat mendapati gadis pujaannya ada di teras rumah. Lasmini tersenyum lebar saat Ario telah berdiri di hadapannya.

"Apa kabar, Mini?" sapa Ario saat telah duduk di samping gadis itu.

"Baik, Mas Ario sendiri baik juga kan." balasnya dengan tersenyum manis.

Senyuman Lasmini itu membuat jantung Ario bertalu-talu.

"Kamu sedang sibuk sore ini?" tanyanya.

"Tidak," ucap Lasmini malu-malu.

"Kalau tidak sibuk kita jalan-jalan, yuk!" ajak Ario.

"Yuk." Lasmini menyetujui ajakan Ario untuk jalan-jalan dan tanpa pamit dengan ibu nya dia menerima tangan Ario.

Mereka berjalan bergandengan tangan ke arah perkebunan teh yang terhampar luas, dan disana Ario tidak tahan untuk mengutarakan isi hatinya yang dia rasakan selama ini pada Lasmini.

"Mini..." Ario menjeda ucapannya.

"Iya, Mas." Lasmini menengok ke arah Ario yang sepertinya sedang berpikir untuk mencari kata-kata yang tepat yang akan disampaikan pada Lasmini.

"Aku...aku jatuh cinta sama kamu, Lasmini." Ario merasakan hatinya plong setelah mengutarakannya.

Lasmini tersipu mendengar ucapan pria yang ada disampingnya saat ini, dan menggenggam tangannya dengan erat. Dia tidak bisa berkata apa-apa karena jantung nya berdegup kencang, karena rasa yang selama ini ada di hatinya dan sepertinya itu adalah cinta yang mulai bersemi dihatinya.

"Kamu mau jadi kekasih aku, Mini?" Ario bertanya tanpa melepaskan genggaman tangan mereka.

Lasmini mengangguk sambil tersenyum dan tersipu, membuat wajah cantiknya bersemu merah dan itu membuat Ario menggigit bibirnya sendiri untuk menahan gejolak hatinya.

Tanpa aba-aba Ario merengkuh tubuh Lasmini kedalam pelukannya. Dielusnya punggung Lasmini naik turun selama beberapa saat, lalu ditatapnya wajah cantik itu dengan tatapan memuja. Wajah Lasmini terasa menghangat kala ditatap oleh seorang pria dengan tatapan yang memuja yang sebelumnya belum pernah dia rasakan.

Ario menyentuh bibir merah alami yang terasa lembab, ingin rasanya dia merasakan manisnya bibir itu tapi dia masih menimbang antara ingin menciumnya sekarang atau menundanya di lain waktu.

Akal sehatnya mengatakan agar menunda keinginan untuk mencium Lasmini, akan tetapi hasratnya mengatakan bahwa sekarang saatnya yang tepat untuk menikmati manisnya bibir itu, karena saat ini Lasmini sudah menjadi kekasihnya dan juga dia sangat merindukan gadis ini.

Maka tanpa berpikir panjang lagi Ario langsung menyambar bibir indah Lasmini dan merangkumnya dengan lembut. Bibir Ario bergerak perlahan dan memancing Lasmini untuk membuka mulutnya.

Akhirnya Lasmini membuka mulutnya dan mempersilahkan lidah Ario untuk menjelajahi apa yang ada didalam sana. Lidah Ario bergerak lincah begitu juga dengan bibirnya yang mencecap rasa manis bibir merah gadis polos itu.

Lasmini merasakan tubuhnya lemas menghadapi serangan demi serangan dari Ario, dia pasrah saat Ario membawa nya ke pangkuan. Bibir Ario mulai bergerak kemana-mana membuat gadis itu mulai merintih nikmat. Tidak hanya sampai disitu, tangan Ario mulai bergerilya di dada Lasmini yang membuat gadis itu mendesah.

"Mas, ahhh." desahan Lasmini semakin membuat Ario bersemangat, dan dengan lincah tangannya mulai menelusuri seluruh tubuh Lasmini yang membuat gadis itu bergerak gelisah.

Keadaan Lasmini sekarang terlihat sudah kacau balau. Tubuh bagian depannya yang mulus, terpampang bebas membiarkan Ario menjelajah sesuka hati. Ario meninggalkan beberapa tanda di dada Lasmini dan seketika dada mulus nan putih itu dipenuhi oleh tanda yang Ario ciptakan.

Lasmini memejamkan mata merasakan nikmat yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Ario masih bermain dan memanjakan dirinya di dada Lasmini, rasanya dia enggan meninggalkan benda yang kini menjadi favoritnya. Ario sudah tidak bisa mengendalikan dirinya saat ini.

Gadis itu pasrah akan ulah Ario, sama halnya dengan bibirnya, kini tangan Ario mulai merambat kemana-mana yang membuat gadis itu semakin bergerak gelisah dan merintih dibuatnya.

Ario merasakan tubuhnya yang mulai menegang, dan gemuruh didadanya mulai tidak terkendali karena gairah yang mulai menyelimutinya. Dia melihat kearah Lasmini yang wajahnya tampak sayu dan keadaan tubuhnya yang porak-poranda akibat ulahnya, dia tersenyum sambil mengecup bibir gadis itu yang terbuka karena terengah-engah.

"Sayang, boleh ya Mas cobain," rayu Ario sambil membelai pipi Lasmini yang merah merona.

Lasmini hanya mengangguk karena dia sendiri merasakan hal yang sepertinya sama dengan Ario, ingin merasakan sesuatu yang lebih.

Ario tersenyum puas mendapatkan ijin dari gadis itu. Dilepaskannya jaket miliknya untuk menjadi alas tubuh Lasmini, tangan nya bergerak lincah melepas kain penutup inti tubuh Lasmini. Dikecupnya bibir gadis itu agar merasa nyaman, dan di bawah sana Ario mulai lagi dengan serangan nya yang kini berhasil menerobos dinding pertahanan Lasmini. Udara sejuk sore itu seketika menjadi panas dengan aktivitas mereka. Dan tak lama mereka sama-sama meneriakkan nama masing-masing, kala gelombang kenikmatan menggulung mereka.

Senyum merekah terbit dibibir Ario saat ini, karena dia menjadi yang pertama dalam hidup Lasmini, sang ‘Kembang Desa’.

"Terima kasih, sayang," ucap Ario setelah aktivitas panas yang mereka lakukan dan dikecupnya kening Lasmini dengan lembut.

"Mas, aku takut akibat dari perbuatan yang baru saja kita lakukan." Lasmini menggigit bibirnya, dia baru menyadari akibat yang mungkin akan terjadi setelah ini. Dia bangkit sambil merapikan pakaian dan rambutnya yang acak-acakan.

"Tenang, aku akan bertanggung jawab dan setelah ini aku akan menemui ibumu untuk melamar kamu," ucap Ario mantap dan berdiri sambil merapikan pakaiannya.

“Tapi aku masih sekolah mas, ibuku pasti tidak akan setuju, beliau juga pasti akan bertanya kenapa tiba-tiba mas Ario mau menikahiku?” ujar Lasmini yang seketika menyesali perbuatannya yang baru saja dia lakukan.

“Memang aku akan berterus terang pada ibumu agar kita segera menikah,” ucap Ario santai.

Lasmini membelalakkan matanya seolah tak percaya kalau Ario akan berterus terang pada ibunya.

Ario tersenyum sambil menggandeng tangan Lasmini dan meninggalkan perkebunan teh yang menjadi saksi bisu perbuatan mereka.

Bab 3

Sementara itu dirumahnya, Sulastri tampak cemas mencari Lasmini yang tadi duduk di teras rumah tapi tiba-tiba tidak ada sedangkan hari sudah semakin sore.

Setelah dia mencari ke beberapa tetangga, akhirnya dari kejauhan tampak Lasmini datang bersama sosok yang sudah dia kenal, Ario.

“Kalian darimana saja? tidak tahu apa kalau ini sudah sore?” tanya Sulastri dengan tatapan tajam pada keduanya.

Lasmini menatap wajah ibunya dengan takut, sedangkan Ario bersikap tenang menghadapi Sulastri yang sepertinya akan meluapkan kemarahannya sekarang.

“Bisa kita bicara di dalam, Bu?” tanya Ario.

Sulastri menganggukkan kepala sambil mempersilahkan Ario masuk ke dalam rumahnya.

Setelah mereka duduk, Ario berniat akan mengutarakan maksud hatinya akan tetapi dering telepon genggamnya seketika membuatnya mengalihkan perhatian, lalu dia minta ijin sebentar pada Sulastri untuk menerima telepon yang ternyata dari Ibunya.

“Halo, ada apa, Bu?” tanya Ario.

“...”

“Apa! Baik Bu aku akan pulang sekarang juga,” ucap Ario yang kemudian menutup teleponnya.

Ario kembali duduk dihadapan Lasmini dan Sulastri, tapi kali ini dia meminta ijin untuk pergi.

“Bu Sulastri, maaf pembicaraan kita mungkin akan kita lanjutkan lagi dikemudian hari karena hari ini saya akan kembali ke kota, kakek saya meninggal sore tadi,” ucap Ario dengan tatapan memohon pengertian dari Sulastri.

“Innalillahi wa Innailaihi Rojiun,” ucap Sulastri dan Lasmini bersamaan.

“Tidak apa-apa nak, kita bisa melanjutkan pembicaraan kita nanti, sekarang cepat lah kembali ke rumah keluargamu menunggumu,” ucap Sulastri tersenyum bijak.

“Terima kasih bu atas pengertiannya, saya pamit dulu,” ucap Ario yang langsung berdiri dan berjalan keluar rumah di ikuti oleh Lasmini.

“Tunggu, ya! Mas akan segera kembali,” ucap Ario sambil menggenggam erat tangan Lasmini.

“Janji ya, Mas,” sahut Lasmini penuh harap.

“Iya, aku janji,” ucap Ario yang setelah mengucapkan itu segera berlalu dari hadapan Lasmini.

Sesampainya di rumah kontrakan para mahasiswa, Ario segera menyiapkan keperluannya untuk pulang malam itu juga.

***

Setibanya di rumah, Ario mendapati seluruh keluarganya sudah berkumpul disana. Ibunya segera menghampirinya untuk mengajaknya masuk dan menyuruhnya membersihkan diri sebelum bergabung bersama keluarga lainnya untuk melantunkan doa bagi sang kakek.

Esok harinya setelah penguburan kakeknya, Ario diajak kedua orangtuanya untuk berbicara di ruang keluarga.

Ario bertanya-tanya dalam hati mengenai maksud kedua orangtuanya itu, karena tidak biasanya mereka bersikap seperti ini.

“Duduk Nak, kami akan bicara sesuatu yang penting sama kamu,” ucap Ibunya sambil menepuk sofa disampingnya.

Ario menuruti apa kata ibunya itu.

“Begini Ario, ayah dan ibu hendak menyampaikan apa yang di pesankan oleh kakek kamu terakhir kali sebelum beliau meninggal,” ucap ayahnya setelah Ario duduk.

“Iya ayah, aku akan dengarkan,” ucap Ario serius.

“Kakekmu berpesan pada kami, kalau kamu akan dinikahkan dengan Rosalia, cucu dari sahabatnya,” ucap ayahnya mantap.

“Dan kami menyetujuinya nak,” sahut ibunya kemudian.

Ario terkejut mendengarnya, dia seketika teringat pada Lasmini yang sedang menunggunya di desa.

“Tidak bisa begitu dong, ini kan hidupku masak di atur-atur seperti ini, aku akan menikah dengan orang yang aku cintai,” tolak Ario.

“Ario dengar dulu, kami dulu juga menikah tanpa cinta tapi kami bisa saling mencintai setelah kami menjalani hidup berumah tangga, dan kamu lihat sendiri kan kalau kehidupan rumah tangga orangtua kamu ini harmonis sampai saat ini,” ucap ayahnya panjang lebar.

“Iya Nak, lagipula kakekmu itu tidak akan menjerumuskan kamu, kan kamu cucu kesayangannya,” sahut ibunya.

“Rosalia anak yang baik, Ayah yakin kamu akan bahagia menikah dengannya nanti,” ayahnya meyakinkan Ario.

“Bukan masalah baik atau tidak baik, Ayah, tapi aku sudah punya kekasih,” jelas Ario.

“Kan baru kekasih, bisa kamu putuskan dia lagipula banyak juga kalau pacaran tidak sampai menikah kok,” sanggah ayahnya.

Ario memejamkan matanya, memikirkan bagaimana caranya untuk menolak perjodohan ini karena sepertinya orangtuanya tidak terima sanggahan Ario.

“Kami berencana akan menikahkan kamu dengan Rosalia dua bulan lagi, minggu depan kita akan ke rumah Rosalia untuk melamarnya!” tegas ayahnya.

Ario membelalakkan matanya, ”apa!”

“Iya Nak, kami sudah sepakat sebelum kakekmu menutup mata,” sahut ibunya lagi.

Ario terdiam seribu bahasa, tangannya terkepal menahan amarah yang mulai menyelimutinya. Dia bingung bagaimana menyampaikan hal ini pada Sulastri dan Lasmini, bukan dia tidak ingin bertanggung jawab atas perbuatannya, tapi keluarganya sudah memutuskan dan mengatur semua tanpa sepengetahuan dirinya.

“Tapi aku belum lulus kuliah,” ucap Ario masih berusaha bernegosiasi pada orangtuanya.

“Tidak masalah, Rosalia juga masih kuliah kok, lagipula kamu kan tinggal skripsi saja sebentar lagi juga selesai,” ucap Ibunya yang diangguki oleh ayahnya.

Ario menghela napas panjang karena segala upayanya untuk mencoba menolak perjodohan itu tidak membuahkan hasil. Sekarang dia menyesal karena akibat dari nafsunya telah membuat masa depan Lasmini hancur.

***

Satu minggu kemudian.

Sudah seminggu lamanya Lasmini menunggu kedatangan Ario, tapi sampai hari ini Ario tidak kunjung datang bahkan sampai para mahasiswa sudah kembali lagi ke kota karena KKN mereka sudah selesai.

Kegiatan Lasmini sekarang hanyalah duduk di teras rumahnya apabila pekerjaan rumah sudah selesai dia kerjakan.

Begitu juga saat pulang sekolah, dia selalu menyempatkan diri untuk duduk dahulu di teras rumahnya barangkali Ario akan datang saat itu juga.

Semua yang dilakukan Lasmini tak lepas dari pengamatan Sulastri yang mulai menerka-nerka tentang hubungan anaknya dan Ario.

“Kamu menunggu Ario?” tanya Sulastri yang tiba-tiba ada dibelakang Lasmini.

“I-iya bu,” sahut Lasmini tergagap.

“Sudahlah tidak usah ditunggu kalau dia niat datang nanti juga datang, memangnya hubungan kamu sama Ario bagaimana sih? Kok sampai kamu begitu berharap dia akan datang?” tanya Sulastri tepat sasaran.

Awalnya Lasmini ragu akan menjawab pertanyaan ibunya, tapi sepertinya rasa yang saat ini ada di hatinya tidak bisa dia tutupi lagi.

“Aku dan Mas Ario mempunyai hubungan khusus bu, lebih dari sekedar teman,” jawab Lasmini.

“Sejauh mana?” tanya nya mulai curiga karena gelagat Lasmini yang takut kehilangan Ario.

“Sudah cukup jauh bu,” ucap Lasmini sambil menangis dan memeluk ibunya.

Sulastri yang paham akan ucapan anaknya pun hanya bisa terdiam. Dia ingin marah tapi percuma semua sudah terjadi, walaupun dia marah Ario juga tidak ada disini dan itu tidak akan mengembalikan kondisi anaknya seperti semula. Mereka hanya bisa menangis bersama dan pasrah akan nasib yang akan Lasmini alami seandainya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada diri Lasmini.

“Sekarang kamu fokus belajar saja biar dapat menyelesaikan sekolah dengan baik, soal Ario akan datang atau tidak kita serahkan pada yang Kuasa, seandainya dia jodoh kamu maka dia akan datang dan mempertanggung jawabkan perbuatannya," ucap Sulastri. Dia membawa anaknya masuk ke dalam rumah.

Kini baik Lasmini maupun Sulastri, hanya bisa berharap Ario akan datang dan sesuai dengan janjinya pada Lasmini, akan bertanggung jawab atas perbuatannya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED