Pagi itu desa Sukorejo kedatangan para mahasiswa dari kota untuk melakukan KKN di desa itu selama enam bulan.
Mereka ditempatkan di beberapa rumah penduduk yang ditunjuk oleh kepala desa. Mereka selama berada di desa itu hidup membaur dengan warga desa setempat untuk dapat beradaptasi, sehingga bisa melaksanakan program KKN mereka dengan baik.
Ario Saputra salah seorang rombongan mahasiswa, ditempatkan di salah satu rumah penduduk yang bernama ibu Sulastri, yang memiliki seorang anak gadis yang cantik bernama Lasmini.
Lasmini seorang gadis berusia 17 tahun dan saat ini duduk di bangku SMA kelas 2. Dia gadis yang sangat cantik bahkan bisa dibilang paling cantik di desa itu, dia memiliki hidung mancung, alis tebal dan bibir merah alami serta kulit yang putih bersih, begitu juga dengan tubuhnya, dia memiliki bentuk tubuh yang proporsional sehingga banyak pria menginginkan dirinya.
Dan saat ini dia sangat senang ada seorang mahasiswa tinggal di rumahnya, sehingga dia bisa konsultasi pelajaran sekolah. Hubungan Ario dan Lasmini seperti kakak dan adik karena usia mereka terpaut lima tahun, Ario dengan senang hati mengajari Lasmini memecahkan soal-soal sekolah yang kurang dia mengerti. Semakin lama hubungan mereka semakin akrab dan itu tidak lepas dari pengamatan Sulastri.
"Mini kamu jangan terlalu dekat dengan Nak Ario, ya!" Sulastri menegur anaknya suatu malam di kamar nya.
"Kenapa Bu? Mas Ario baik kok dia suka ngajarin aku kalau ada soal-soal sekolah yang tidak aku mengerti," Lasmini mencoba membela diri.
"Tapi banyak perbedaan kita sama dia, Nak,” Sulastri tetap Keukeh pada pendiriannya..
Lasmini terdiam tidak bisa berkata apa-apa lagi kalau ibu nya sudah bicara mengenai status sosial mereka.
"Terus aku harus gimana Bu masak aku diam dan menghindari mas Ario, sedangkan dia tinggal di rumah kita."
"Ya tidak harus diam juga, tapi kamu membatasi diri jangan terlalu dekat sama dia, mengerti!" tegas sulastri.
Lasmini menganggukkan kepalanya
Sementara itu di ruangan lain, Ario tidak bisa memejamkan matanya walaupun dia sudah berusaha, tapi tetap bayangan Lasmini yang ada di pikirannya yang membuat dia kesulitan untuk tidur.
Dia teringat saat siang tadi dia ada di balai desa dan dia melihat Lasmini pulang sekolah berjalan perlahan, dia mengenakan seragam sekolah yang sedikit sempit sehingga memperlihatkan bentuk tubuhnya yang indah, dan seketika Ario menelan saliva nya melihat pemandangan yang indah di depan mata.
Dia ingin berusaha mengenal lebih dekat lagi dengan gadis itu, yang sejak awal pertemuan mereka sosoknya telah mengganggu pikirannya.
Baru sekitar pukul satu dini hari Ario baru bisa memejamkan mata.
***
Esok pagi saat akan berangkat ke sekolah, Lasmini belum melihat Ario keluar kamar nya sehingga dia memberanikan diri mengetuk pintu kamar laki-laki itu.
Tok...tok...tok
Karena tidak ada Jawaban, Lasmini memberanikan diri membuka kamar pemuda itu dan benar saja kalau saat ini Ario masih tertidur pulas di ranjang nya.
Lasmini membuka jendela kamar laki-laki itu dengan harapan sinar matahari dapat membangunkan tidur Ario.
Dan benar saja saat sinar matahari menerobos masuk dari celah jendela, Ario membuka matanya saat sinar terang itu menerpa wajahnya.
"Selamat pagi, Mas," sapa Lasmini ramah.
"Eh Mini, selamat pagi maaf aku kesiangan," sahut Ario gugup karena gadis yang membuat dia tidak bisa tidur semalam pagi ini ada di depannya.
"Ibu sudah siapkan sarapan Mas, kalau Mas Ario mau sarapan bisa langsung ambil makanan di meja ya, aku mau berangkat ke sekolah."
"Bareng saja berangkatnya aku juga mau ke balai desa pagi ini." Ario berusaha menahan Lasmini agar jangan pergi dulu.
"Tapi kalau nunggu Mas Ario nanti aku kesiangan, aku duluan aja ya mas," ucap Lasmini sambil berlalu dari hadapan Ario.
Sebenarnya Lasmini bisa saja menunggu Ario untuk berangkat bareng, karena jalan ke balai desa dan sekolahnya searah dan waktu masuk sekolah masih sekitar empat puluh menit lagi, tapi karena ibunya meminta dia untuk tidak terlalu dekat dengan Ario maka dia beralasan kalau dia sudah kesiangan.
Ario menatap punggung gadis itu tanpa semangat, karena dia berharap bisa berjalan berdua dengan Lasmini pagi ini tapi ternyata harapan itu tidak kesampaian.
Sementara di jalan Lasmini pun merasakan hal yang sama dengan Ario, dia menundukkan kepalanya untuk menutupi kesedihannya, karena dia di suruh ibunya untuk tidak terlalu dekat dengan Ario sehingga dia menghindar dari ajakan pemuda itu.
"Kok jalan nya menunduk saja sih," tegur seseorang tiba-tiba yang membuat Lasmini seketika mendongak.
"Eh mas Parman," sahut Lasmini tersenyum menanggapi sapaan Suparman sang anak Kepala desa.
"Mau berangkat sekolah? Yuk aku antar," tawar Suparman.
" Terima kasih Mas sudah dekat kok," sahut Lasmini mempercepat langkahnya.
'Kenapa kamu susah sekali aku dekati Lasmini' batin Suparman
Suparman putra kepala desa sejak setahun lalu jatuh cinta pada Lasmini, tetapi Lasmini tidak menanggapi karena Suparman sudah memiliki istri tapi masih suka mendekati perempuan lain sehingga membuat Lasmini takut didekati olehnya.
***
Siang itu setelah para mahasiswa memberikan penyuluhan kepada warga desa, Bima sang ketua kelompok KKN mahasiswa mengumpulkan rombongan nya, "teman-teman hari ini saya sudah mendapat rumah kontrakan untuk kita jadikan tempat tinggal selama disini, sehingga akan memudahkan kita untuk kerja kelompok daripada kita tinggal terpisah dan kita bisa mulai menempati rumah itu sore ini juga," ucapnya sambil menatap temannya satu per satu.
"Apa ada yang ingin ditanyakan?" Tanya Bima.
"Tidak Bim cukup jelas jadi nanti aku tinggal pamit sama ibu Sulastri," Ario menjawab mewakili teman-teman nya.
"Ok kalau begitu kita pulang sekarang sekaligus kita pamit pada tuan rumah tempat kita tinggal selama ini, kemudian kita ketemu di rumah kontrakan kita ya," ucap Bima yang diangguki oleh teman-temannya.
Sesampainya di rumah ibu Sulastri, Ario langsung membenahi pakaiannya dan pamit untuk pindah dari rumah itu.
"Bu Sulastri terima kasih banyak sudah bersedia menampung saya selama disini, dan hari ini saya akan pindah ke rumah kontrakan bersama teman-teman saya agar bisa mempermudah kami untuk kerja sama melaksanakan KKN di sini," ucap Ario yang kemudian memberikan amplop berisi sejumlah uang kepada Sulastri.
"Nak Ario apa ini?" tanya Sulastri.
"Ini ada sejumlah uang untuk ibu sebagai ganti biaya selama saya tinggal disini, mungkin uang ini tidak bisa membayar apa yang sudah ibu berikan kepada saya dengan tulus tapi saya mohon terima uang ini ya bu," ujar Ario meraih tangan Sulastri untuk menyerahkan amplop itu.
"Terima kasih banyak nak, sebenarnya tidak usah di bayar juga tidak apa-apa ibu ikhlas," ucap Sulastri terharu.
"Saya juga ikhlas kok memberikan amplop ini ke ibu," balas Ario sambil tersenyum.
Lasmini yang mengetahui kalau Ario akan pindah sore ini merasa sedih dan tiba-tiba hatinya merasa kehilangan.
Sudah tiga hari Ario pindah dari rumah Sulastri, kini Lasmini merasa hatinya kosong. Dia merasa kesepian yang membuatnya sering melamun dan tidak fokus belajar.
Biasanya setelah dia selesai belajar, hal yang di lakukannya sebelum dia tidur adalah mengobrol dengan Ario di teras rumah. Tapi kini tidak ada lagi orang yang diajaknya bercerita dan bertukar pikiran, Lasmini merasa hidupnya membosankan dan dia jadi malas untuk belajar.
Sama seperti halnya dengan Lasmini, di rumah kontrakannya Ario merasa ada yang hilang dari hidupnya, walaupun ada beberapa temannya di rumah kontrakan itu tapi dia merasa kesepian. Bayangan gadis itu selalu memenuhi kepalanya.
"Apa ini yang dinamakan rindu? besok aku akan menemuinya," gumamnya bermonolog.
***
Besok sore, Ario pergi ke rumah Sulastri untuk menemui Lasmini yang selama tiga hari ini sosoknya memenuhi pikirannya.
Senyumnya merekah saat mendapati gadis pujaannya ada di teras rumah. Lasmini tersenyum lebar saat Ario telah berdiri di hadapannya.
"Apa kabar, Mini?" sapa Ario saat telah duduk di samping gadis itu.
"Baik, Mas Ario sendiri baik juga kan." balasnya dengan tersenyum manis.
Senyuman Lasmini itu membuat jantung Ario bertalu-talu.
"Kamu sedang sibuk sore ini?" tanyanya.
"Tidak," ucap Lasmini malu-malu.
"Kalau tidak sibuk kita jalan-jalan, yuk!" ajak Ario.
"Yuk." Lasmini menyetujui ajakan Ario untuk jalan-jalan dan tanpa pamit dengan ibu nya dia menerima tangan Ario.
Mereka berjalan bergandengan tangan ke arah perkebunan teh yang terhampar luas, dan disana Ario tidak tahan untuk mengutarakan isi hatinya yang dia rasakan selama ini pada Lasmini.
"Mini..." Ario menjeda ucapannya.
"Iya, Mas." Lasmini menengok ke arah Ario yang sepertinya sedang berpikir untuk mencari kata-kata yang tepat yang akan disampaikan pada Lasmini.
"Aku...aku jatuh cinta sama kamu, Lasmini." Ario merasakan hatinya plong setelah mengutarakannya.
Lasmini tersipu mendengar ucapan pria yang ada disampingnya saat ini, dan menggenggam tangannya dengan erat. Dia tidak bisa berkata apa-apa karena jantung nya berdegup kencang, karena rasa yang selama ini ada di hatinya dan sepertinya itu adalah cinta yang mulai bersemi dihatinya.
"Kamu mau jadi kekasih aku, Mini?" Ario bertanya tanpa melepaskan genggaman tangan mereka.
Lasmini mengangguk sambil tersenyum dan tersipu, membuat wajah cantiknya bersemu merah dan itu membuat Ario menggigit bibirnya sendiri untuk menahan gejolak hatinya.
Tanpa aba-aba Ario merengkuh tubuh Lasmini kedalam pelukannya. Dielusnya punggung Lasmini naik turun selama beberapa saat, lalu ditatapnya wajah cantik itu dengan tatapan memuja. Wajah Lasmini terasa menghangat kala ditatap oleh seorang pria dengan tatapan yang memuja yang sebelumnya belum pernah dia rasakan.
Ario menyentuh bibir merah alami yang terasa lembab, ingin rasanya dia merasakan manisnya bibir itu tapi dia masih menimbang antara ingin menciumnya sekarang atau menundanya di lain waktu.
Akal sehatnya mengatakan agar menunda keinginan untuk mencium Lasmini, akan tetapi hasratnya mengatakan bahwa sekarang saatnya yang tepat untuk menikmati manisnya bibir itu, karena saat ini Lasmini sudah menjadi kekasihnya dan juga dia sangat merindukan gadis ini.
Maka tanpa berpikir panjang lagi Ario langsung menyambar bibir indah Lasmini dan merangkumnya dengan lembut. Bibir Ario bergerak perlahan dan memancing Lasmini untuk membuka mulutnya.
Akhirnya Lasmini membuka mulutnya dan mempersilahkan lidah Ario untuk menjelajahi apa yang ada didalam sana. Lidah Ario bergerak lincah begitu juga dengan bibirnya yang mencecap rasa manis bibir merah gadis polos itu.
Lasmini merasakan tubuhnya lemas menghadapi serangan demi serangan dari Ario, dia pasrah saat Ario membawa nya ke pangkuan. Bibir Ario mulai bergerak kemana-mana membuat gadis itu mulai merintih nikmat. Tidak hanya sampai disitu, tangan Ario mulai bergerilya di dada Lasmini yang membuat gadis itu mendesah.
"Mas, ahhh." desahan Lasmini semakin membuat Ario bersemangat, dan dengan lincah tangannya mulai menelusuri seluruh tubuh Lasmini yang membuat gadis itu bergerak gelisah.
Keadaan Lasmini sekarang terlihat sudah kacau balau. Tubuh bagian depannya yang mulus, terpampang bebas membiarkan Ario menjelajah sesuka hati. Ario meninggalkan beberapa tanda di dada Lasmini dan seketika dada mulus nan putih itu dipenuhi oleh tanda yang Ario ciptakan.
Lasmini memejamkan mata merasakan nikmat yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Ario masih bermain dan memanjakan dirinya di dada Lasmini, rasanya dia enggan meninggalkan benda yang kini menjadi favoritnya. Ario sudah tidak bisa mengendalikan dirinya saat ini.
Gadis itu pasrah akan ulah Ario, sama halnya dengan bibirnya, kini tangan Ario mulai merambat kemana-mana yang membuat gadis itu semakin bergerak gelisah dan merintih dibuatnya.
Ario merasakan tubuhnya yang mulai menegang, dan gemuruh didadanya mulai tidak terkendali karena gairah yang mulai menyelimutinya. Dia melihat kearah Lasmini yang wajahnya tampak sayu dan keadaan tubuhnya yang porak-poranda akibat ulahnya, dia tersenyum sambil mengecup bibir gadis itu yang terbuka karena terengah-engah.
"Sayang, boleh ya Mas cobain," rayu Ario sambil membelai pipi Lasmini yang merah merona.
Lasmini hanya mengangguk karena dia sendiri merasakan hal yang sepertinya sama dengan Ario, ingin merasakan sesuatu yang lebih.
Ario tersenyum puas mendapatkan ijin dari gadis itu. Dilepaskannya jaket miliknya untuk menjadi alas tubuh Lasmini, tangan nya bergerak lincah melepas kain penutup inti tubuh Lasmini. Dikecupnya bibir gadis itu agar merasa nyaman, dan di bawah sana Ario mulai lagi dengan serangan nya yang kini berhasil menerobos dinding pertahanan Lasmini. Udara sejuk sore itu seketika menjadi panas dengan aktivitas mereka. Dan tak lama mereka sama-sama meneriakkan nama masing-masing, kala gelombang kenikmatan menggulung mereka.
Senyum merekah terbit dibibir Ario saat ini, karena dia menjadi yang pertama dalam hidup Lasmini, sang ‘Kembang Desa’.
"Terima kasih, sayang," ucap Ario setelah aktivitas panas yang mereka lakukan dan dikecupnya kening Lasmini dengan lembut.
"Mas, aku takut akibat dari perbuatan yang baru saja kita lakukan." Lasmini menggigit bibirnya, dia baru menyadari akibat yang mungkin akan terjadi setelah ini. Dia bangkit sambil merapikan pakaian dan rambutnya yang acak-acakan.
"Tenang, aku akan bertanggung jawab dan setelah ini aku akan menemui ibumu untuk melamar kamu," ucap Ario mantap dan berdiri sambil merapikan pakaiannya.
“Tapi aku masih sekolah mas, ibuku pasti tidak akan setuju, beliau juga pasti akan bertanya kenapa tiba-tiba mas Ario mau menikahiku?” ujar Lasmini yang seketika menyesali perbuatannya yang baru saja dia lakukan.
“Memang aku akan berterus terang pada ibumu agar kita segera menikah,” ucap Ario santai.
Lasmini membelalakkan matanya seolah tak percaya kalau Ario akan berterus terang pada ibunya.
Ario tersenyum sambil menggandeng tangan Lasmini dan meninggalkan perkebunan teh yang menjadi saksi bisu perbuatan mereka.
Sementara itu dirumahnya, Sulastri tampak cemas mencari Lasmini yang tadi duduk di teras rumah tapi tiba-tiba tidak ada sedangkan hari sudah semakin sore.
Setelah dia mencari ke beberapa tetangga, akhirnya dari kejauhan tampak Lasmini datang bersama sosok yang sudah dia kenal, Ario.
“Kalian darimana saja? tidak tahu apa kalau ini sudah sore?” tanya Sulastri dengan tatapan tajam pada keduanya.
Lasmini menatap wajah ibunya dengan takut, sedangkan Ario bersikap tenang menghadapi Sulastri yang sepertinya akan meluapkan kemarahannya sekarang.
“Bisa kita bicara di dalam, Bu?” tanya Ario.
Sulastri menganggukkan kepala sambil mempersilahkan Ario masuk ke dalam rumahnya.
Setelah mereka duduk, Ario berniat akan mengutarakan maksud hatinya akan tetapi dering telepon genggamnya seketika membuatnya mengalihkan perhatian, lalu dia minta ijin sebentar pada Sulastri untuk menerima telepon yang ternyata dari Ibunya.
“Halo, ada apa, Bu?” tanya Ario.
“...”
“Apa! Baik Bu aku akan pulang sekarang juga,” ucap Ario yang kemudian menutup teleponnya.
Ario kembali duduk dihadapan Lasmini dan Sulastri, tapi kali ini dia meminta ijin untuk pergi.
“Bu Sulastri, maaf pembicaraan kita mungkin akan kita lanjutkan lagi dikemudian hari karena hari ini saya akan kembali ke kota, kakek saya meninggal sore tadi,” ucap Ario dengan tatapan memohon pengertian dari Sulastri.
“Innalillahi wa Innailaihi Rojiun,” ucap Sulastri dan Lasmini bersamaan.
“Tidak apa-apa nak, kita bisa melanjutkan pembicaraan kita nanti, sekarang cepat lah kembali ke rumah keluargamu menunggumu,” ucap Sulastri tersenyum bijak.
“Terima kasih bu atas pengertiannya, saya pamit dulu,” ucap Ario yang langsung berdiri dan berjalan keluar rumah di ikuti oleh Lasmini.
“Tunggu, ya! Mas akan segera kembali,” ucap Ario sambil menggenggam erat tangan Lasmini.
“Janji ya, Mas,” sahut Lasmini penuh harap.
“Iya, aku janji,” ucap Ario yang setelah mengucapkan itu segera berlalu dari hadapan Lasmini.
Sesampainya di rumah kontrakan para mahasiswa, Ario segera menyiapkan keperluannya untuk pulang malam itu juga.
***
Setibanya di rumah, Ario mendapati seluruh keluarganya sudah berkumpul disana. Ibunya segera menghampirinya untuk mengajaknya masuk dan menyuruhnya membersihkan diri sebelum bergabung bersama keluarga lainnya untuk melantunkan doa bagi sang kakek.
Esok harinya setelah penguburan kakeknya, Ario diajak kedua orangtuanya untuk berbicara di ruang keluarga.
Ario bertanya-tanya dalam hati mengenai maksud kedua orangtuanya itu, karena tidak biasanya mereka bersikap seperti ini.
“Duduk Nak, kami akan bicara sesuatu yang penting sama kamu,” ucap Ibunya sambil menepuk sofa disampingnya.
Ario menuruti apa kata ibunya itu.
“Begini Ario, ayah dan ibu hendak menyampaikan apa yang di pesankan oleh kakek kamu terakhir kali sebelum beliau meninggal,” ucap ayahnya setelah Ario duduk.
“Iya ayah, aku akan dengarkan,” ucap Ario serius.
“Kakekmu berpesan pada kami, kalau kamu akan dinikahkan dengan Rosalia, cucu dari sahabatnya,” ucap ayahnya mantap.
“Dan kami menyetujuinya nak,” sahut ibunya kemudian.
Ario terkejut mendengarnya, dia seketika teringat pada Lasmini yang sedang menunggunya di desa.
“Tidak bisa begitu dong, ini kan hidupku masak di atur-atur seperti ini, aku akan menikah dengan orang yang aku cintai,” tolak Ario.
“Ario dengar dulu, kami dulu juga menikah tanpa cinta tapi kami bisa saling mencintai setelah kami menjalani hidup berumah tangga, dan kamu lihat sendiri kan kalau kehidupan rumah tangga orangtua kamu ini harmonis sampai saat ini,” ucap ayahnya panjang lebar.
“Iya Nak, lagipula kakekmu itu tidak akan menjerumuskan kamu, kan kamu cucu kesayangannya,” sahut ibunya.
“Rosalia anak yang baik, Ayah yakin kamu akan bahagia menikah dengannya nanti,” ayahnya meyakinkan Ario.
“Bukan masalah baik atau tidak baik, Ayah, tapi aku sudah punya kekasih,” jelas Ario.
“Kan baru kekasih, bisa kamu putuskan dia lagipula banyak juga kalau pacaran tidak sampai menikah kok,” sanggah ayahnya.
Ario memejamkan matanya, memikirkan bagaimana caranya untuk menolak perjodohan ini karena sepertinya orangtuanya tidak terima sanggahan Ario.
“Kami berencana akan menikahkan kamu dengan Rosalia dua bulan lagi, minggu depan kita akan ke rumah Rosalia untuk melamarnya!” tegas ayahnya.
Ario membelalakkan matanya, ”apa!”
“Iya Nak, kami sudah sepakat sebelum kakekmu menutup mata,” sahut ibunya lagi.
Ario terdiam seribu bahasa, tangannya terkepal menahan amarah yang mulai menyelimutinya. Dia bingung bagaimana menyampaikan hal ini pada Sulastri dan Lasmini, bukan dia tidak ingin bertanggung jawab atas perbuatannya, tapi keluarganya sudah memutuskan dan mengatur semua tanpa sepengetahuan dirinya.
“Tapi aku belum lulus kuliah,” ucap Ario masih berusaha bernegosiasi pada orangtuanya.
“Tidak masalah, Rosalia juga masih kuliah kok, lagipula kamu kan tinggal skripsi saja sebentar lagi juga selesai,” ucap Ibunya yang diangguki oleh ayahnya.
Ario menghela napas panjang karena segala upayanya untuk mencoba menolak perjodohan itu tidak membuahkan hasil. Sekarang dia menyesal karena akibat dari nafsunya telah membuat masa depan Lasmini hancur.
***
Satu minggu kemudian.
Sudah seminggu lamanya Lasmini menunggu kedatangan Ario, tapi sampai hari ini Ario tidak kunjung datang bahkan sampai para mahasiswa sudah kembali lagi ke kota karena KKN mereka sudah selesai.
Kegiatan Lasmini sekarang hanyalah duduk di teras rumahnya apabila pekerjaan rumah sudah selesai dia kerjakan.
Begitu juga saat pulang sekolah, dia selalu menyempatkan diri untuk duduk dahulu di teras rumahnya barangkali Ario akan datang saat itu juga.
Semua yang dilakukan Lasmini tak lepas dari pengamatan Sulastri yang mulai menerka-nerka tentang hubungan anaknya dan Ario.
“Kamu menunggu Ario?” tanya Sulastri yang tiba-tiba ada dibelakang Lasmini.
“I-iya bu,” sahut Lasmini tergagap.
“Sudahlah tidak usah ditunggu kalau dia niat datang nanti juga datang, memangnya hubungan kamu sama Ario bagaimana sih? Kok sampai kamu begitu berharap dia akan datang?” tanya Sulastri tepat sasaran.
Awalnya Lasmini ragu akan menjawab pertanyaan ibunya, tapi sepertinya rasa yang saat ini ada di hatinya tidak bisa dia tutupi lagi.
“Aku dan Mas Ario mempunyai hubungan khusus bu, lebih dari sekedar teman,” jawab Lasmini.
“Sejauh mana?” tanya nya mulai curiga karena gelagat Lasmini yang takut kehilangan Ario.
“Sudah cukup jauh bu,” ucap Lasmini sambil menangis dan memeluk ibunya.
Sulastri yang paham akan ucapan anaknya pun hanya bisa terdiam. Dia ingin marah tapi percuma semua sudah terjadi, walaupun dia marah Ario juga tidak ada disini dan itu tidak akan mengembalikan kondisi anaknya seperti semula. Mereka hanya bisa menangis bersama dan pasrah akan nasib yang akan Lasmini alami seandainya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada diri Lasmini.
“Sekarang kamu fokus belajar saja biar dapat menyelesaikan sekolah dengan baik, soal Ario akan datang atau tidak kita serahkan pada yang Kuasa, seandainya dia jodoh kamu maka dia akan datang dan mempertanggung jawabkan perbuatannya," ucap Sulastri. Dia membawa anaknya masuk ke dalam rumah.
Kini baik Lasmini maupun Sulastri, hanya bisa berharap Ario akan datang dan sesuai dengan janjinya pada Lasmini, akan bertanggung jawab atas perbuatannya.