Bab 1

"Kenalan lagi dong, Ca. Biar lebih akrab."

Usai drama di selokan, kini mereka berdua bersih-bersih di sungai dekat rumah kosong. Agak lumayan jauh dari rumah Cica.

"Sabar. Yang cuekin gue semoga jodohnya gue," imbuhnya lagi.

Cica menyipratkan air langsung ke wajahnya Soleh, "Berisik. Sadar, ini masih sore. Nggak usah kebanyakan halu,"

"Zaman sekarang banyakin halu, Ca. Supaya jadi kenyataan,"

"Btw, nomor WhatsApp gue dibuka dong blokirannya," Cica mengabaikan ocehan Soleh.

Selesai membersihkan celana tidurnya, dia bergegas berdiri ingin segera hengkang meninggalkan Soleh. Bukan hatinya cenat-cenut lagi sehingga menimbulkan getaran cinta. Perempuan itu belum membeli pesanan Bapaknya yakni kopi juga rokok di warung.

"Ca? Demen amat cuekin gue?" Soleh tidak menyerah. Dia ikut menyusul Cica dan ... hap.

Kena sasaran.

Soleh membalikkan tubuh Cica agar menghadap ke dirinya, "Rumah onoh kosong lho, Ca,"

Cica mengangguk singkat, "Tau kok,"

"Cica dulu sama sekarang beda. Gue gak takut setan, karena elo udah jadi setan menurut gue?!"

Sakit banget loh. Sampe tembus empedu, batin Soleh.

"Ada buaya, Ca, awas," seru Soleh sambil modus memeluk erat tubuh Cica.

Nyaman.

Satu kata terucap dalam benak lelaki itu.

Kapan ya, terakhir dirinya memeluk Cica yang pelukable?

***

"Ke warung, Ca? Beli apaan dah? Roti Jepang?" Soleh bertanya secara beruntun.

"Bang Soleh??" pekik anak penjaga warung. Bocah bernama Yuna menghamburkan tubuhnya ke pelukan Soleh.

Fyi, Soleh amatlah terkenal di daerahnya Cica. Mungkin keseringan apel kali, ya, dulunya? Ada lah seminggu tiga kali. Kesayangannya bocah plus idaman emak-emak. Yah, Cica mengakui bahwasanya Soleh semacam kembar identik dengan Lee Min Hoo. Kulit putih bersih, hidung mancung macem perosotan anak TK, alis tebal, bulu mata lentik, serta mempunyai postur tubuh tinggi dan punya ABS alias six pack. Serius. Cica tidak mengada-ngada. Apalagi soal roti sobeknya. Gak sengaja dia liat perut kotak nya Soleh itu ketika cowok tersebut tengah ganti baju di dalam kelas. Nah, dia mengira tidak ada siapa-siapa. Lah dalah, rupanya Soleh sedang berganti dari baju osis ke kaus olahraga.

"Hey, kids. How are you?"

Cuih, sok Inggris. Cica mendengkus kasar, lebih baik dirinya masuk warung setelah mengucapkan salam.

Soleh udah pulang?

Alhamdulillah sih. Jadinya Cica gak darah tinggi karena sikap lelaki itu berubah. Pas dulu emang friendly, tetapi sekarang murah senyum. Tebar pesona sama murah senyum beda gak sih?

"Heiii, melamun mulu dah kerjaan elu, Ca?"

Waduh, Cica tidak sadar udah di depan pagar rumahnya. Efek memikirkan mantan jadinya ya ... wait? Suara tadi kok tidak asing ya di telinga perempuan itu?

Mendongakan kepala, dirinya hampir terpesona seketika kala Soleh membuka pintu pagar seraya tersenyum lembut.

Alamak, Pak. Tolonglah anakmu ini supaya enggak terjerat kembali oleh pesona sang mantan. Bahaya. Harus warning.

"Iya, gue ganteng, Ca. Segitu terpesona ya lo dengan wajah bak oppa Korea ... aduh,"

Soleh mengaduh kesakitan karena Cica mencubit perut six pack nya. Sakit sih tapi, nikmat dalam waktu bersamaan kalau Cica yang melakukan hal tersebut.

"Ngapain lu ke sini lagi, Soleh?!" geramnya.

"Slow, Ca. Gue mau silaturahmi sama calon mertua. Gak aneh-aneh,"

"Oh satu lagi. Bapak lo batuk-batuk terus sewaktu gue ngucap salam--- "

"Lah, gue ditinggal masa," gumam Soleh.

Apa Bapak kambuh lagi sakitnya? Batin Cica sambil berjalan cepat menuju rumah.

Bab 2

"Berobat aja yuk, Pak? Udah dua hari lho Bapak batuk enggak sembuh-sembuh,"

Cica duduk lesehan di atas karpet sementara Iif--Bapaknya tengah rebahan di atas sofa. Bermodal obat warung, padahal dirinya ada biaya buat ke rumah sakit tetapi, apalah daya beliau susah dibujuknya.

"BPJS masih aktif enggak, Pak? Cica mau ngisiin punyanya Bapak.

Dulu, udah lama sih. Sewaktu Cica masih SMA, Bapak selalu berobat ke rumah sakit menggunakan BPJS ketika sakit. Bukan dari pemerintah melainkan kita yang bayar setiap bulannya.

Bapak membuka kedua matanya. Nampak jelas garis hitam menghiasi kantung mata beliau. Cica tidak tega. Hatinya lemah, dan dia cengeng. Mulai terisak sembari menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.

"Jangan menangis, Nak. Bapak agak mendingan kok,"

Mendingan apanya? Suara beliau serak akibat batuk setiap dua menit sekali, pernafasannya juga terlihat sesak ketika mau menghirup udara.

"Cica udah bilang loh untuk berhenti merokok," isak tangis Cica semakin keras. Memilih menelungkupkan wajahnya di lengan sang Bapak.

Bapak emang pecandu rokok juga kopi. Sempat berhenti tapi hanya sebentar. Katanya susah kalau tidak merokok. Rasanya lemes, serta hidup tidak bergairah.

Bapak menghela nafasnya. Di usapnya rambut anak semata wayangnya penuh sayang, "In Sya Allah, Bapak mau berhenti merokok ... uhuk,"

"Tuh 'kan," racau Cica. Mendongakan kepalanya guna melihat kondisi Bapak. Batuk-batuk seraya memegang dada sebelah kiri.

"Cica siap-siap dulu. Kita ke rumah sakit sekarang juga," kekehnya usai mengusap air matanya dengan kasar.

Beliau mencegahnya. Cinta pertamanya Cica mencekal erat pergelangan tangannya, "Sudah malam. Rumah sakit pada tutup, Nak,"

Cica menggeleng cepat, "Rumah sakit buka 24 jam. Jangan bingung soal biaya. Cica masih ada tabungan. Banyak banget malah,"

"Sombong kali kamu, Nak," ujar Bapak terkikik geli mendengar gurauan anaknya.

"Biar Bapak senyum lagi. Enggak sedih terus," Cia menyempatkan mencium pipi kanan Bapaknya, "sayang Bapak Iif banyak-banyak. Love sekebun pokoknya,"

***

Cica mengeluarkan motor miliknya menuju halaman rumah. Tidak punya bagasi, ruang tamu pun jadi. Hanya motor matic yang dibelinya tahun kemarin. Iya, masih baru. Itu hasil jeri payahnya menabung selama setahun.

Jam sepuluh malam. Cica yakin rumah sakit masih pada buka. Ada keraguan sih tapi, tetap yakin. Demi kesembuhan Bapak.

"Mau ke mana, Ca?" baru Cica mau mengecek ada atau enggaknya jas hujan di jok motor. Suara tidak asing kini menyapu indera pendengarannya.

"Mau anter Bapak,"

"Ke mana?"

"Ish, kepo kali," ketusnya yang kemudian mengabaikan Soleh.

"Cica?!" geram Soleh. Lelaki itu bertanya lho. Masa dibilang kepo?

"Sayangnya Soleh. Jawab dong pertanyaan gue," godanya sambil mengusap poni milik sang mantan.

Sontak saja Cica menepis tangan Soleh, "Sayang ... sayang pala lu peyang, hah?!"

Soleh tak menghindar. Dia cekikikan ketika tangannya disentuh sama Cica. Ada getaran yang menggebu dari jantungnya. Masih sama rupanya. Semenjak pacaran hingga menjadi mantan efeknya seluar biasa ini. Perut seakan ada ribuan kupu-kupu yang mampu menggelitikkan sampai lupa rasanya bernafas lewat hidung.

"Soleh?"

Cica mendengkus kesal. Bapak kelamaan di kamar mandinya. Jadinya  ... si mantan sok basa-basi mengobrol dengannya.

"Iya, Pak. Bapak sehat?"

"Kalau enggak sehat, kagak deh sekarang gue ke rumah sakit," gumam Cica sembari merapatkan jaketnya. Eh, dia lupa ngambil helm.

"Pakai mobil saya aja, Pak,"

Entah apa yang mereka omongin selama Cica sibuk dengan lamunannya.

"Enggak usah, Nak Soleh, ngerepotin," tolak Bapak halus.

"Ada apa nih?" Cica bertanya setelah turun lagi dari atas motor.

"Malah saya seneng, Pak. Bisa berduaan ... eh, maksudnya biar Bapak enggak kehujanan kalau naik mobil," Soleh merutuki mulutnya yang ember tidak kenal tempat dan situasi.

"Gue bawa jas hujan," potong Cica.

Tanpa berlama-lama, Soleh memasukkan kembali motor Cica ke dalam rumah. Untungnya Bapak belum mengunci pintu tersebut.

"Loh ... loh," panik Cica tuh. Ngapain pula Soleh mengembalikkan motornya ke tempat semula yakni ruang tamu.

"Kuncinya mana, Pak? Biar saya tak kunciin pintunya,"

"Hah, eh ... ini kuncinya, Nak Soleh,"

Dengan polosnya Bapak memberikan begitu saja kunci rumahnya. Cica menepuk keningnya, Soleh tersenyum misterius sambil mengedipkan satu matanya ke arah Cica.

Bab 3

"Gue itu orangnya mudah ketawa... "

"G*la dong?" sela Cica.

"Bukan sayang. Ada kelanjutannya, jangan di jeda makanya. Gak enak tau kalau gak dilanjutin," idih, maunya situ kali ah, batin Cica.

Soleh ... Soleh. Kenapa perkataannya terdengar ambigu di telinga Cica?

"Mudah ketawa, mudah sedih, mudah seneng, ngambek, marah dan mudah-mudahan satu Bapak sama elu, Ca,"

"Dih?!" Cica melirik sinis mantannya, "mau jadi Abang tiri gue? Ogah gue. Sana ah minggat, gue mau lanjut kerja,"

Tadinya Cica mau ajuin cuti tidak kerja selama tiga hari. Pengin temenin Bapak di rumah. Di cancel deh, soalnya beliau kukuh bisa makan juga minum obat sendiri. Kalau sudah begitu Cica bisa apa?

"Silahkan aja. Gue 'kan di sini sebagai pengunjung kalau elu lupa," wajah tengilnya itu loh. Ingin Caci remas-remas sampai gantengnya hilang, eh?

Sialan.

Soleh mampu membuat Cica mati kutu alias skakmat.

"Cepetan mau pesen apa?!"

"Tidak ramah. Gue kasih bintang satu," lelaki itu tersenyum miring seolah mukanya ingin di pukul dengan kepalan tangan punya Cica.

"Soleh?!" gregetnya tak sadar mencengkeram note book miliknya.

"Yes, darling," genit Soleh.

Idih, namanya aja yang Soleh tetapi kelakuannya ... bikin geleng-geleng kepala.

"Ca?"

Cica mengubah raut wajahnya secepat mungkin. Tadinya asem kek jeruk nipis kini menunjukkan senyum manisnya. Iya, soalnya Ibu bos yang manggil Cica.

"Ibu dengar Bapak kamu sakit, ya?" Teri--pemilik rumah makan tempat Cica bekerja.

Beliau terkenal ramah, baik, dan tidak segan memberi bonus untuk Cica ketika lembur. THR menjelang lebaran yang jumlahnya tidak terkira itu. Katanya sih apresiasi untuk dirinya sudah bertahan selama tiga tahun.

***

"Namamu itu seperti Ghunnah, selalu mendengung di hati gue," mulai lagi gombalan receh ala Soleh Nur Kholik.

Usai diberi izin pulang cepat oleh Teri, Cica pun pamitan. Sudah adzan dzuhur. Waktunya Bapak makan siang serta minum obat.

"Motor elo simpan aja di sini. Kita pulangnya bareng pake mobil gue,"

Soleh menelungkupkan topi Cica sampai menutupi seluruh wajah gadis itu.

"Ish, jail banget sih lu?" cetus Cica sembari menepis tangan Soleh.

"Jangan bikin gue khilaf sama elo, Ca," Soleh menatap lekat gadis di hadapannya.

"Ap--- "

"... Paan sih lo?" Soleh tertawa renyah, "gak ada kosa kata lain kah selain itu?"

"Minta di cip*k. Gemesnya di luar nurul," lirih Soleh masih menatap lekat Cica. Atau gagal fokus pada bibirnya yang berwarna pink itu?

Sedangkan si empu mulai risih. Ia masih mendengar jelas suara gumaman Soleh.

Plak

Cica menabok lengan Soleh, "Dasar mes*m,"

"Aw, sakit cintaku," rintih Soleh.

Deg. Jantung Cica berdetak dua kali lebih cepat. Sudah bodo amat ketika Soleh memanggil dirinya cinta, sayang. Ini di tambah tatapannya yang ... lembut, teduh, rambut depan sengaja di acak-acak, bicaranya apalagi. Walah, bisa-bisa Cica pingsan efek tatapan yang dilayangkan Soleh kepadanya.

"Minggir. Gue mau balik,"

Jalan menuju parkiran di halangin loh sama Soleh. Cica ke kiri dia ikutan. Geser ke kanan, ikut juga membuat kesabaran Cica yang setipis kertas mau meledak, meluapkan emosinya.

Nyebelin. Cica padahal mau beli sesuatu. Takutnya toko tersebut keburu tutup karena pembelinya dimana-mana.

Srek

Gerakan cepat, Soleh merampas kunci motor yang di genggam oleh Cica. Dia bersiul seraya berjalan meninggalkan Cica masih nge-lag.

"Kita pulang bareng. Motor elo biar anak buah gue yang urus,"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED