Bab 1

"Aku tak terima semua ini berakhir, Mbak!"

"Tapi memang begitu, Demian. Wanita itu mengambil alih semua warisan orang tuanya. Lebih tepatnya, ayah yang memindahkan hak kepemilikan padanya. Mau bilang apa, semua sudah menjadi bubur. Masih untung aku diberikan rumah reot ini," keluh Ratih memijit pelipisnya.

Carla bangkit dari sofa premium jebolan toko ternama di supermall.

"Ayah yang membesarkan semua bisnis itu, Mbak! Kok ujug-ujug jadi gini sih?!"

Tas brandednya diletakkan kasar oleh wanita paruh baya itu.

"Terus aku harus gimana? Kamu tak mengenal wanita itu. Dia bukan wanita biasa. Sampai sekarang aku masih trauma. Bagiku, dia bukan menantuku!"

Demian mondar-mandir sembari meremas pelan dagunya.

"Bagaimana kita bisa kehilangan suntikan dana dari keuntungan bisnis ayah dengan begitu saja?! Ini tidak bisa! Aku tak bisa hidup tanpa berjudi dan pesta!" garang laki-laki parlente itu.

"Apalagi aku, Mas! Bisa disisihkan aku dari geng sosialitaku kalau sampai aku tak mengganti tasku dengan keluaran terbaru setiap meet up!"

Ratih manatap tajam pada kedua adiknya.

"Diam! Aku tambah pusing kalian di sini! Kalian tak tahu, seberapa liarnya wanita itu sebenarnya. Aku tak tahu, ternyata sebenarnya adalah mafia kelas kakap. Lihat saja, tangan Nindi! Sampai tak bisa lurus sempurna karena dihajar. Menantu tak tahu diri!"

"Suruh Sayudha menceraikan dia, Mbak!"

"Ciiih ... dia sudah terkurung di ketiak istrinya. Makin benci aku, Carla! Aaarghh! Aku tak betah di sini. Uang bulananku benar-benar dipangkas habis oleh mereka. Bagaimana aku bisa cukup dengan 50 juta perbulan?!"

Demian menarik tangan kakaknya. Matanya menyala. Nafasnya tak beraturan.

"Kita singkirkan wanita itu, Mbak. Dia tak boleh menguasai bisnis dan aset yang telah ayah kelola sepanjang hidupnya."

Carla berbinar seperti bersemangat sekali.

"Aku setuju, Mbak. Kita buat dia menghilang dari permukaan bumi ini. Selamanya!" seringai Carla sehingga terlihat gigi taringnya.

Ratih mengusap wajahnya yang tampak kusut. Sejak dia tak lagi menjadi Nyonya Besar di rumah istana, wanita itu menjadi sangat tak terurus. Ambisinya untuk kembali merebut harta yang ia klaim milik ayahnya membuat jantungnya selalu berdegub kencang dan tidurnya tak pernah nyenyak.

"Bagaimana caranya? Aku pernah mencobanya dan gagal. Sampai sekarang aku sangat trauma meskipun dia bersikap wajar padaku. Kamu tak tahu, wanita itu psikopat berkedok hijab! Aku merasa tak punya harga diri di hadapannya."

"Jangan menyerah, Mbak. Pasti ada jalan. Kita pikirkan caranya. Bagaimanapun, kita harus kembali merebut yang menjadi milik kita! Meskipun yaaa ... ayah mengaku bekerja dan digaji Nyonya Zanna dan Tuan Luis, tapi kan mereka sudah jadi tulang belulang. Semua aset dan bisnis itu harus menjadi milik kita lagi walaupun harus menyingkirkan anak mereka selamanya," desis Carla di telinga Ratih. Sorot mata kedua wanita itu menunjukkan ambisi yang sangat kuat.

Ketiga anak Aderald itu seperti berpikir keras. Suara detik jam di dinding menjadi musik pengiring ketika ketiga manusia itu mendiskusikan sebuah rencana. Rencana yang menakutkan untuk dibayangkan, mengerikan untuk dilakukan.

POV 1 (YUDHA)

Sore ini sangat menyegarkan, menyesap teh hangat buatan istri jelitaku sembari menatap langit sore. Tampak burung-burung kecil sedang membentuk tranformasi beraneka macam. Aku menggenggam tangan Luna.

"Dek, kamu kok agak pucat ya?" tanyaku menatapnya yang lesu.

"Iya Mas, mungkin karena belum datang bulan sudah telat 2 minggu jadinya badmood," jawab Luna santai.

Sedetik kemudian, kami seketika saling pandang seperti menyadari sesuatu. Aku langsung meremas tangan Luna.

"Jangan-jangan?!" seruku berbinar.

Luna tersenyum.

"Bisa jadi," lirihnya.

"Ayo kita ke dokter sekarang, Dek!" ajakku antusias.

"Besok pagi ajalah, Mas. Aku benar-benar tak mood. Entahlah. Rasanya dadaku penuh. Seperti sebuah firasat akan terjadi sesuatu yang besar," ucap Luna dengan suara yang begitu pelan. Aku mengusap kepalanya.

"Kamu jangan mikir yang aneh-aneh. Kalau begitu, gimana kalau aku pergi beliin tespack?" tawarku.

Luna mengernyitkan dahi. Aku jadi kikuk.

"Kenapa? Tatapanmu itu, Dek! Bikin aku takut ish!"

"Naaah lo kamu Mas?! Tau tespack kamu, ya. Jago ya," sindirnya dengan mata genit.

Aku mengusap wajahnya kasar. Istriku ini menggemaskan.

"Aku beliin sekarang yah!" seruku bersemangat.

Luna menggeleng. Dia merenggangkan kedua tangannya.

"Kenapa sih? Biasanya kamu gak suka tunda-tunda," ucapku memeluknya.

"Entahlah. Aku hanya tak ingin berpisah darimu, Mas, " bisiknya pelan, menyandar di dadaku.

"Ya sudah, besok kita ke dokter ya sayang," ujarku pelan. Wanitaku mengangguk.

"Semoga kita diamanahi anak. Kalau perempuan pasti secantik kamu, kalau laki-laki pasti setampan aku, tak mungkin seperti babon," godaku yang disambut sebuah cubitan di pinggangku. Aku tersenyum lebar.

Keesokan harinya, aku pulang lebih awal. Luna sudah bersiap-siap. Saat kami akan berangkat, tampak mobil ibuku memasuki area parkir.

"Buat apa ya, Mama datang siang-siang begini?" tanyaku mematikan mesin mobil.

Aku lalu turun dan meminta Luna menunggu.

"Mau kemana Dha? Kamu gak ngantor?"

"Pulang cepat, Ma. Mau ke dokter kandungan. Luna sudah telat 2 minggu," ujarku menyalim tangan ibuku.

"Maaf ya, Ma. Luna tetap di mobil soalnya kondisinya lagi kurang fit," lanjutku dengan santun. Meskipun aku belum sepenuhnya memaafkan ibuku atas apa yang telah dia lakukan pada istriku, aku berkewajiban tetap baik padanya.

"Kebetulan dong! Mama juga mau ke RS mau medical cek up. Mama sama Nindi temanin kalian ya, Dha. Biar sekalian. Mama harap, Luna benar-benar hamil, jadi Mama bisa cepat dapat cucu," ujar ibuku dengan senyum merekah di mulutnya.

Aku mengangguk cepat. Tiba-tiba ponselku berdering.

"Serius Kom? Ada yang akan investasi sebesar itu? Oke. Oke. Aku segera datang!"

Hatiku menyeruak senang.

"Ma, sepertinya aku belum bisa ke rumah sakit sekarang soalnya ada investor kuat yang mau nanam modal. Aku tak ingin buat dia menunggu."

Ibuku tersenyum.

"Mama doain kamu makin sukses, Dha! Gak usah khawatir, biar Luna sama Mama perginya. Kamu fokus aja sama urusan kantor!"

Aku mengangguk. Terlihat Luna juga mengangguk di balik cadarnya. Kuantarkan istriku ke mobil ibuku.

"Nanti kalau lama dan aku dah kelar meeting sama investor, aku jemput ya sayang," ucapku.

Luna mencium tanganku. Dia duduk di samping Nindi yang menyetir. Adikku itu tersenyum. Aku lega dan percaya, rasa sakit karena peristiwa kemarin akan hilang oleh waktu. Aku percaya, ibu dan adikku sudah berubah.

Kulambaikan tanganku pada mobil yang meninggalkan halaman rumahku. Semoga nanti, mereka memberi kabar baik bahwa aku akan segera menjadi ayah.

Gruduuuuk!!!

Aku kaget. Seperti suara benda jatuh berkali-kali. Tapi suaranya dari belakang. Kucoba berlari ke belakang, mungkin Babon sedang makan ayamnya.

"Astagfirullah!" pekikku.

King kobra itu menggeliat-geliat seperti ingin menjebol kandang besinya. Tubuh besar mengkilap naik lalu turun dengan begitu cepat, melesat, mencari celah.

"Babon! Kenapa? Kamu yang tenang dong. Kan sudah tadi pagi dikasih makan! Biasanya kamu juga puasa seminggu. Aku ke kantor dulu. Buru-buru ini. Jangan nakal oke!"

Aku hanya mengelus kulit tubuhnya dari luar kandang. Ular itu menempel, gelisah seperti ingin keluar. Ia mendesis, berdiri membentuk payung. Tatapannya persis ketika saat pertarungan itu.

"Ada apa Babon? " lirihku pelan. Tiba-tiba saja jantungku berdebar kencang. Ya Allah, apa yang akan terjadi? Jangan lagi ...

Bab 2

"Gimana rasanya tinggal di rumah mewah seperti istana?" tanya Ratih pada menantunya.

"Maksud Mama?"

"Yaah ... kan Mama tahu, kalian mafia lebih senang tinggal di tempat tersembunyi biar kejahatan kalian tak mudah diendus. Bisa di hutan, di bawah tanah," ujar Ratih memojokkan Luna.

"Dah kayak tikus dong, Ma," cerocos Nindi.

Wanita bercadar itu menarik nafasnya kuat-kuat. Ia terus berbicara dalam hati bahwa kedua wanita ini adalah ibu dan adik suaminya. Ia hanya perlu tetap sabar.

"MANTAN ya, Ma. Setiap orang punya kesempatan untuk berubah menjadi orang baik. Apalagi buat yang berumur, harus lebih banyak ingat Tuhan," sindir Luna.

Ratih diam seketika. Wanita itu mencebik membuang pandangan.

"Sebenarnya aku sedang memohon pada Allah supaya dikasih kesabaran. Menahan diri agar tak merobek mulut nyinyir siapapun yang memojokkanku. Cukup aku sudah meremukkan tangan seorang gadis yang sudah pernah menuangkanku racun," jawab Luna santai yang disambut tatapan sinis Nindi.

"Tentang rumah itu ya, Ma. Sebenarnya aku bisa beli rumah yang seperti itu bahkan lebih mewah lagi. Tapi sayang duitnya, mending aku sedekahkan buat anak yatim. Aku sudah biasa tinggal di rumah mewah seperti itu, kok. Mama aja yang baru beberapa tahun jadinya susah move on," lanjut Luna menghantam harga diri mertuanya.

Ratih menahan gejolak di hatinya. Dirogohnya ponsel mahalnya sedang Nindy membelokkan mobil ke arah jalur yang sangat jauh dari rumah sakit.

"Kita mau kemana?" tanya Luna heran.

"Kita pilih jalan keliling aja Mba. Biar gak kena macet. Lagian, aku sama Mama lagi pengen lihat yang hijau-hijau dengan pemandangan hutan dan ...."

"Jurang," sanggah Luna.

Nindi tersenyum.

"Biarkan aku yang menyetir. Jangan sampai kita menghadapi bahaya karena kau belum stabil menyetir. Meskipun cenderung sepi, jalan di sana cukup curam dengan tikungan tajam," ujar Luna sedikit was-was.

Ratih mencoba menengahi. Diletakkan ponselnya dengan senyum sumringah.

"Mama ini makin tua dianjurkan untuk banyak melihat pemandangan yang hijau-hijau. Sekalian kita refershing. Kamu jangan khawatir, Nindi sudah biasa kok."

Luna hanya diam saja. Jemarinya meremas pelan. Ada rasa gundah menyelimuti hatinya.

Jalanan tanjakan dengan tikungan yang meliuk-meliuk membuat Luna awas. Matanya menyapu sekeliling pemandangan yang sedang mereka lalui. Nampak kiri adalah bukit dan kanan jalan adalah hutan berjurang.

"Hati-hati, Nin," lirih Luna memegangi perutnya.

Nindi hanya tersenyum. Ratih meraih botol minuman Luna yang tersimpan di cup holder mobil.

"Boleh Mama minum?"

Luna mengangguk.

Wanita tua itu menyeringai senang. Nindi melajukan mobil dengan perlahan.

Tak lama, Luna mengambil botol minumannya lalu menegaknya begitu cepat. Rasa cemasnya membuatnya kehausan.

Baru seteguk ia langsung menyemburkan air yang sudah dimulutnya. Luna berusaha memuntahkan apa yang telah ia minum.

"Apa yang Mama campurkan dalam minumanku?!"

Wanita bercadar itu melepas cadarnya lalu terus menunduk mencongkel kerongkongannya.

Huuuweeekk!!!

Berkali-kali Luna mencoba namun tak bisa mengeluarkan seluruh air yang ia telah teguk. Sejurus tangannya sudah mengepal bersiap memukul perutnya, namun seperti terdengar kembali suara suaminya.

'Semoga kita diamanahi anak. Kalau perempuan pasti secantik kamu, kalau laki-laki pasti setampan aku, tak mungkin seperti babon'

Luna meringis menggigit bibirnya. Ada tetesan bening diujung matanya. Mengapa mertua dan iparnya tak bisa benar-benar berubah?

Ratih dan Nindi terlihat panik. Mereka tak menyangka, Luna bisa menyadari air itu telah dicampur. Seharusnya obat bius itu tak terasa, tak tercium sehingga Luna bisa meminum lebih banyak lagi.

"Gimana ini, Ma?!"

"Mama juga gak tahu!"

"Biadap! Kalian benar-benar tak bisa diampuni," geram Luna menatap Nindi.

"Berhenti! Turunkan aku di sini!" teriak Luna mengusap mulutnya.

Nindi terus memacu mobilnya dan kali ini lebih kencang.

"Berhenti kataku atau kupatahkan lagi tanganmu itu, Nindi!"

Ratih mengeluarkan botol bius dari tasnya lalu menyapukan pada tisu. Wanita tua itu lalu meraih kepala menantunya dari belakang dan menggosok-gosokkan pada wajah Luna.

"Emmmm!!! Lepaskan, Ma!"

Luna berusaha melepaskan tangan Ratih. Mau tak mau, ia melayangkan tinjunya pada leher mertuanya itu.

Buuughhh!!!

Ratih tersungkur ke belakang meringis kesakitan.

"Menantu busuk!"

Luna mengusap wajahnya dengan hijabnya. Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu, zat kimia itu sedang menggerogotinya secara perlahan.

"Daripada kita bertiga mati sia-sia, berhenti kataku!"

Nindi tak memperdulikan teriakan Luna. Tak ayal, tangan Luna menarik rambut Nindi hingga terjungkal dan membuat gadis itu tak terkontrol. Luna menginjak tubuh Nindi dan meraih stir. Ia harus menemukan sebuah tempat yang aman untuk berlindung. Ia tahu, sebentar lagi, dia tak sadarkan diri.

Luna melajukan mobil itu dengan sangat kencang. Masih sangat jauh sekedar untuk menemukan sebuah rumah atau warung. Luna merasakan kepalanya makin berat.

"Ya Allah, tolong aku ... tolong aku," lirihnya di tengah umpatan Nindi di bawah kakinya.

"Lepaskan kakimu, setan!" Nindi memukul kaki Luna. Ia meronta kesakitan sebab tubuhnya terjepit.

"Diam! Atau kita semua mati sekarang!"

"Kau saja yang harusnya mati! Kau tak layak jadi menantuku! Kau perusak! Ayahku bukan budakmu! Kami bukan pelayanmu!"

Ratih meremas-remas lehernya yang sangat sulit ia tegakkan. Sakit sekali jika ia mencoba menegakkannya.

"Aku tak pernah mempermasalahkan apapun padamu, Ma. Kau saja yang terlalu rakus. Apa salahnya jika aku lebih memiliki banyak harta darimu? Bukankah aku selalu berusaha membahagiakanmu. Aku pun tak pernah menganggapmu budakku! Mengapa sangat sulit untukmu menerima sebuah kenyataan?"

Luna merasakan air matanya jatuh. Rencana apa di pikiran mertua dan iparnya jika dia sudah tak sadarkan diri. Dingin rasa tubuhnya. Sesak terasa di dada. Bius itu mulai bekerja. Luna menarik nafasnya kuat-kuat.

"Ciiih ... biarkan saja dia, Ma. Sebentar lagi, hanya tinggal sebentar lagi, kita akan ketemu mobil paman dan bibi," ujar Nindi meringkuk di bawah kaki Luna.

"Aaaarrrghhhh!!!" pekik Nindi kesakitan.

Luna menginjak kepala gadis itu dengan keras.

"Rencana apa yang akan kalian lakukan? Kalian manusia iblis! Kali ini, tak akan pernah kumaafkan lagi!"

Nindi tertawa girang meskipun darah mengucur dari sudut mulutnya.

Kreeeeeeet!

Luna mengerem mobilnya tiba-tiba sebab sebuah mobil menghadangnya. Lalu disusul dengan sebuah mobil hitam yang semakin menutupi jalan. Tampak Demian dan Carla muncul dari mobil itu.

"Allah ...," desis Luna pasrah.

Sekelompok laki-laki muncul dan mendekati mobil yang disetir Luna.

Ratih membuka pintu.

"Bereskan dia!" perintahnya masih memijat pelan lehernya.

Luna siap memindahkan tuas transmisi, berniat menabrak kedua mobil di depannya. Namun seperti terkuras semua tenaganya. Pandangannya sudah kunang-kunang. Tubuhnya sudah lebih dulu ditarik keluar oleh dua laki-laki besar.

"Pastikan wanita Dajjal ini tak pernah kembali! "

Nindi mengusap darah yang tak berhenti dari bibirnya yang pecah.

"Lepaskan aku!"

Luna menyiapkan kuda-kuda. Dengan sisa tenaganya, wanita bercadar itu menangkis serangan.

Buuughh!!!

Salah satu laki-laki itu memegang dadanya yang dihantam oleh tinju Luna.

"Lumayan juga," desisnya lalu kembali menyerang lebih brutal.

Wanita bercadar itu memutar tubuhnya lalu melayangkan tendangan pada kedua laki-laki itu. Namun nihil. Tendanganya kosong. Luna terhimpit. Kepalanya luar biasa berat dan matanya susah sekali untuk dibuka.

"Hahahahaha!"

Suara gelak tawa Demian terdengar jelas di telinga saat kedua tangannya diikat. Sebelum matanya benar-benar tertutup, Luna merekam wajah-wajah itu. Tampak mertuanya berbinar senang, iparnya meludah dengan tatapan kebencian dan Carla merekah senyumnya lebar.

"Kalian ... tunggulah aku. Aku akan kembali! Kalian manusia serakah. Laknatullah!"

"Meracau dia. Lakukan secepatnya! Sekarang!" teriak Demian.

Wussssh!!!

Sebuah korek api sudah dipatikkan tepat di depan wajah Demian. Api itu menyala seperti matanya yang memancarkan kebencian.

"Susullah kedua orang tuamu ke negeri akhirat, sayang," desisnya yang disambut senyum seringai kedua saudara dan keponakannya.

Bab 3

Aku mondar-mandir di dalam ruangan kantorku. Kokom masuk.

"Gimana, Kom? Mereka kok belum konfirmasi. Katanya sudah deal," ujarku merasa kesal.

Aku sudah menunggu kedatangan mereka namun tak ada satupun yang muncul. Sebelumnya, empat hari yang lalu mereka sendiri yang meminta perusahaanku mengirim flyer proposal kerjasama. Lalu hari ini menjanjikan pertemuan untuk menanam modal. Sekarang malah menghilang begitu saja.

"Kalau belum rezki ya sabar, Big Boss. Tumben banget mukanya kesal begitu," tegur Kokom.

"Aku gak kesal karena mereka cancel, Kom. Cuma hari ini aku bela-belain gak temani istriku cek kandungan gara-gara mereka itu. Ini moment penting buat aku lo. Mana dari tadi ponsel istriku juga tak bisa dihubungi, ponsel ibu dan adikku juga off. Gimana aku tak was-was," hentakku kesal.

Kokom mendekatiku, dan menyomot minuman isotonic di atas mejaku.

"Otewe ngidam aja dah njelimet begini, apalagi nanti nich beneran hamil Mbak Luna, hihihihi," goda Kokom.

"Udah akh. Aku pulang ajalah. Ntar kalau mereka datang, bilang saja, kalau jadi ya kita proses, kalau gak jadi, ya aku gak peduli," omelku lalu berjalan menuju pintu.

Tiba-tiba ponselku berdering. Mama.

"Iya, Ma? Dari tadi aku hubungi kalian lo," ucapku tergesa-gesa.

"Mohon maaf, Pak Yudha. Kami dari kepolisian, mengabarkan bahwa mobil yang ibu Anda kendarai mengalami kecelakaan tunggal. Terjerembab ke dalam jurang. Tim sedang mengevakuasi korban."

.

.

.

Aku membatu. Suara serak laki-laki dewasa barusan semakin kencang diiringi sirine ambulance. Apa yang telah terjadi? Luna? Mama? Nindi. Ooh Tuhan ... lemas rasa lututku.

"Big Boss!" seru Kokom menangkap tubuhku yang seketika merosot, mencari sofa.

Kokom mengambil alih ponselku dengan segera.

"Mohon maaf. Saya asisten Pak Yudha, bagaimana ya?"

"Baik, Pak. Baik. Kami akan segera ke sana," lanjut Kokom.

Wanita gendut itu memberiku air mineral dan memijit tengkukku.

"Kau harus tenang, Sayudha," lirihnya.

Aku menarik nafasku kuat-kuat, terasa sesak dadaku.

"Kita ke rumah sakit sekarang, ibu dan adikmu sedang dirawat," ujarnya lagi.

"Luna ... istriku, bagaimana?!"

Ia hanya menggeleng.

Aku langsung bangkit, menatap nanar pada sahabatku itu.

"Aku harus pergi! " seruku meyeimbangkan tubuh. Wanita itu mengikutiku dengan cepat.

"Biar aku yang menyetir, " ujarnya meraih kunci mobil di tanganku. Aku pasrah.

Sepanjang jalan, aku terus meracau, meminta Kokom untuk memacu mobil lebih cepat.

"Tenanglah, Yudha! Aku tak bisa konsentrasi!" teriaknya yang membuatku diam. Aku tak ingin menambah masalahku.

Setibaku di rumah sakit, aku langsung berlari menuju kamar perawatan. Tampak Om Demian dan tante Carla yang ditemani 2 pria berseragam polisi.

"Om ... gimana Mama? Nindi? Istriku?!!!" pekikku menghampiri dengan nafas terengah-engah.

Melihatku, tante Carla langsung histeris, luruh di tubuhku. Aku semakin gemetar.

"Yudha ... ibumu, Nak. Ibumu meregang nyawa di dalam. Adikmu Nindi, masih koma. Ya Tuhan!" pekiknya memelukku. Sekarang aku yang harus menegakkan kakiku untuk menopang tubuh orang lain.

Aku ingin masuk, namun kedua laki-laki berseragam polisi itu mencegahku.

"Sebaiknya bapak membantu kami, mengidentifikasi mayat perempuan yang sudah tak bisa dikenali lagi. Dia ditemukan terperangkap di dalam mobil," ujar salah satu laki-laki itu.

Rasanya seperti ribuan kilat menyambar tubuhku. Kalau yang dirawat itu ibuku dan Nindi, berarti perempuan yang dimaksud adalah ....

Aku memucat. Dingin rasa seluruh tubuhku. Istriku. Lunaku. Tak mungkin. Ini pasti sebuah kesalahan. Aku tak bisa mempercayai begitu saja. Aku tahu betul, istri bercadarku memiliki kemampuan menyelamatkan diri dengan sangat baik. Jangan lupakan peristiwa pertarungan dahsyat itu. Aku sangat mengenalnya. Dia tahu apa yang harus dia lakukan saat menghadapi bahaya.

"Mari, Pak!"

Aku hanya melangkah tanpa keseimbangan. Kokom yang sedari tadi berada di belakangku, maju menahan tubuhku

"Tenanglah Yudha. Tak ada yang abadi," bisiknya pelan di telingaku.

Setelah sampai di ruang jenazah, aku diarahkan untuk mendekati sebuah tubuh yang tertutupi kain putih.

"Silahkan, Pak. Mungkin ada bentuk fisik atau tanda-tanda yang membenarkan, itu istri Anda," ucap salah satu polisi itu.

Gemetar tanganku ketika menyentuh kain itu. Kokom menopang tanganku. Perlahan kuturunkan hingga tampak wajah gosong, dengan dibalut kain hijab yang lengket, menyatu dengan wajahnya. Aku menggeleng keras, melihat ke arah sahabatku.

"Ini bukan istriku, Kom! Dia bukan Lunaku. Istriku sangat cantik bahkan ketika dia menangis dan marahpun, dia sangat cantik," isakku melepaskan kain itu.

Kokom tak mengindahkanku. Ia terus membimbing tanganku agar terus menurunkan kain itu hingga dada mayat itu. Kini tampak kedua tangannya yang menelungkup. Membeliak mataku melihat di salah satu jari mayat itu.

Siapapun ... tolong aku! Katakan padaku, ini hanyalah mimpi terburukku. Dan sebentar lagi aku akan bangun dengan belaian tangan halus istri bercadarku.

"Apa kau mengenal cincin ini?" tanya Kokom.

Aku menangis histeris. Runtuh rasa duniaku. Hancur sudah. Cincin itu adalah cincin pernikahanku. Tak pernah lepas dari jari manis istriku. Bagaimana bisa ada di jari mayat itu?! Istri bercadarku masih hidup! Seseorang, beritahu aku! Lunaku masih hidup!

"Jadi bagaimana, Pak? Benarkah jenazah ini istri bapak?"

Aku tak bisa berbicara. Aku membelakangi mayat menyeramkan itu. Polisi mencoba menarikku. Kokom menghentikannya.

"Kami butuh waktu sebentar saja, Pak. Wajar dia shock. Korban adalah istrinya."

Polisi itu mengangguk.

"Kami akan tutup kasus ini jika tidak ada laporan lanjutan dari keluarga korban. Kasus akan kami anggap kecelakaan tunggal. Tak ada korban selain mobil keluarga bapak dan juga tak ada saksi mata saat kejadian tersebut. Kalau begitu, kami pamit."

"Tunggu, Pak!" seru Kokom.

"Bagaimana ibu dan adik korban bisa selamat?" tanya sahabatku itu.

"Kami belum mendapatkan keterangan yang lengkap. Setelah kedua korban siuman, kami akan melakukan penyelidikan," jawabnya lalu pergi.

Kokom mengernyitkan dahi namun ia segera menutup jenazah Luna dan membawaku keluar.

"Karmila, dia bukan Luna. Istriku pasti masih hidup," lirihku sesegukan lemah dalam tumpuannya.

POV 3 (AUTHOR)

Setelah punggung Yudha dan karyawannya tak terlihat, Demian mendengkus kesal.

"Semoga saja rencana kita berhasil. Sial. Bagaimana bisa mereka seceroboh itu! Tak becus!" umpatnya.

"Tak usahlah hiraukan, Mas. Yang penting sudah ada solusi. Lagipula aku yakin, tak akan menimbulkan masalah."

Demian mengangguk.

"Pastilah Yudha sekarang sedang shock sekali. Aku yakin, dia takkan sempat menengok ibu dan adiknya," tambah Carla.

"Yah, pastikan saja dia tak masuk. Akan sangat aneh, jika dia tahu Mba Ratih dan Nindi hanya luka ringan. Aku percayakan, skenario selanjutnya padamu. Jangan sampai dia menjadi batu penghalang. Kalau soal polisi, biar aku yang urus," ujar Demian pada adiknya itu.

Carla mengangguk dan tersenyum.

"Jangan ajarkan ikan berenang, Mas," seringainya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED