Bab 1

"Rud, kamu sudah menghubungi istrimu?" tanya ibuku saat aku baru saja ingin menyesap kopi yang baru saja di buatkan oleh ibuku tercinta.

"Sudah, Bu. Tapi pesan Rudi belum ada satupun yang di tanggapi oleh Rani." Aku kembali melakukan aktivitas rutin pagi-ku dengan menikmati secangkir kopi dan tentunya di temani pisang goreng yang di buatkan oleh ibuku.

Aku sangat menikmati hari-hariku dengan bersantai ria di rumah. Kalaupun jenuh aku akan pergi ke pemancingan ikan yang ada di desa sebelah. Laki-laki normal pastinya membutuhkan hiburan terutama untukku yang sudah tiga tahun ini di tinggal istriku untuk pergi merantau mencari peruntungan di negri sebrang.

Siapa yang tidak enak. Uang datang sendiri tanpa harus bersusah payah banting tulang jika ada istri yang bisa kita manfaatkan. Toh dia juga mau sendiri dan mengerti kodratnya sebagai seorang istri yang harus patuh pada perintah dari suami. Hidupku saat ini sangatlah nyaman dan bukan aku saja yang merasakan terapi juga kakak, ibu, dan satu adikku kami semua menikmati hasil kerja dari Maharani yang setiap bulannya dia kirimkan ke nomer rekeningku. Tetap bagaimanapun juga aku orang yang berjasa padanya karena aku juga membantu untuk membiayainya ketika mendaftar di PJTKI tempat kami tinggal saat ini, walaupun sebagian besar Rani sendiri yang membiayainya dengan menjual kalung serta gelang pemberian dari orangtuanya di kampung dan aku membantu menyumbang untuk biaya transportasinya menuju tempat PJTKI itu.

Tak ada niatku untuk memaksanya mengantikan peran yang seharusnya itu aku yang menjalankannya. Iya, karena kondisi yang tidak memungkinkan di tambah juga keadaan ekonomi kami saat itu yang membuatnya harus mau bertukar peran dengan diriku.

"Kok tumben gak seperti biasa istrimu itu. Biasanya tiap awal bulan pasti uang masuk ke rekening kamu. Tapi kenapa hampir dua bulan ini istrimu itu sudah sekali untuk di hubungi." cerocos ibu yang dari tadi tidak ada hentinya. Tebal rasanya telinga ini dibuatnya.

"Kemaren Rani itu sempet bilang, Bu. Kalau keluarga majikannya sedang berduka. Jadi Rani juga tidak berani untuk meminta gajinya sedang kondisi di sana sedang dirundung duka. Kita sabar saja dulu, Bu. Nanti juga Rani pasti akan mengirimi uang untuk kita." ucap-ku mencoba untuk menenangkan ibuku. Tapi jujur sebenarnya hatiku juga tidak bisa tenang dengan belum di kirimkan-nya uang istriku itu ke rekening milikku. Sedangkan acara pernikahan ku dan Lasmi janda kembang dari desa sebelah sudah di depan mata.

"Ingat, pernikahan-mu dengan Lasmi juga sudah di depan mata. Mana lagi mahar yang mereka minta itu tidak tanggung-tanggung, lho. Uang setoran dari Zaki juga tidak bisa untuk menutupi kebutuhan hidup kita sehari-hari."

"Iya Bu, Rudi tahu. Makanya untuk beberapa waktu ini kita irit dulu pengeluaran kita. Kasihan Zaki juga, Bu. Sehari harus ikut dua orang yang berbeda."

"Kenapa? Kamu mulai gak tega gitu. Kalau bukan dari istri dan anakmu itu dari mana keluarga kita bisa makan kenyang dan hidup enak seperti ini. Toh, nanti juga kamu bakalan dapat anak yang lebih bagus dari Lasmi. Kan dari fisik si Lasmi jauh lebih bagus dan lebih cantik dari si Rani. Pasti nanti anakmu itu jauh lebih tampan dari si Zaki yang kurus, dekil, pokoknya gak karuan deh, malu ibu mengakui Zaki sebagai cucunya ibu." sungut ibuku yang tidak terima aku sedikit memberi perhatianku pada darah daging-ku sendiri.

kasihan sekali anak itu. Semenjak usianya baru tiga bulan harus berpisah dengan ibunya karena harus mengadu nasib di negri orang. Karena bagaimanapun kewajiban seorang istri adalah patuh kepada suami dan juga keluarganya. Termasuk memenuhi permintaanku juga ibu untuk menjadikannya seorang TKW di negri orang.

Sebenarnya, dulu aku juga bekerja dan aku merupakan salah satu pekerja proyek yang seringkali harus berpindah-pindah tempat di mana perusahaan kami memenangkan tender yang di ajukan-nya. Maka mau tidak mau aku harus mengikuti kemanapun proyek yang harus mandor-ku garap.

Setelah pernikahan-ku dengan gadis bernama Maharani dan satu tahun setelah pernikahan kami. Aku dan istriku ini di karuniai seorang putra. Namun peristiwa nahas yang tidak pernah kami duga sebelumnya, yaitu aku mengalami kecelakaan kerja di tempat proyek. Sebenarnya bukan kecelakaan besar dan parah. Melainkan diri ini harus beristirahat selama beberapa waktu karena kaki kiri-ku ini kejatuhan material berupa tumpukan batu bata.

Karena istirahat yang terlalu lama membuatku engan untuk kembali bekerja di tempat proyek yang lama. Karena terlalu sayang-nya ibu kepada anaknya ini. Akhirnya kami berdua pun bekerja sama untuk meminta Rani bekerja sebagai TKW sedangkan aku akan berpura-pura untuk lumpuh dan tidak kuat jika harus kembali bekerja seperti sebelumnya. Aku yakin jika Rani mau dengan usulan kami ini. Kami yakin hidupku dan keluargaku akan lebih sejahtera dan yang penting tanpa aku harus turun tangan dan banting tulang.

🌺🌺🌺

Ting...

Ting...

Ting...

Baru saja aku menyalakan gawai yang selama aku bekerja, aku harus bebas dari benda tersebut. Dan benar saja pesan beruntun masuk dari nama karena kontak yang sama. Nama milik Mas Rudi suamiku yang memenuhi kontak masuk perpesanan. Aku memang belum memberitahukan perihal gawai android canggih yang aku punya. Sepengetahuan dari suamiku hanya gawai jadul yang aku bawa saat pertama pergi ke tanah rantau ini yang aku punya.

Dari begitu banyak pesan yang masuk tak satupun ia menanyakan kabar dariku di sini. Hanya uang dan uang yang selalu ia tanyakan kapan aku akan mengirimnya.

Dari awal dan sebelum aku berangkat ke negri orang. Suamiku memintaku agar semua gaji yang kudapat harus ku kirimkan semua kepadanya. Dengan alasan agar aku tidak lupa diri juga alasan untuk memenuhi kebutuhan Zaki bayi kecil yang aku tinggal di usianya yang baru tiga bulan. Dan juga alasan untuk mengirim sebagian kepada orangtuaku yang berada di kampung. Tentu saja aku percaya dan mengikuti perintahnya. Namun aku bersyukur bekerja pada sepasang majikan yang bijak dan berhati baik. Mereka menyarankan agar semua gaji yang aku dapat tidak aku kirim ke tanah air. Dari 12 juta gaji yang aku dapat 8 juta yang aku kirimkan pada suamiku tiap bulannya.

Akhir pekan adalah kesempatanku untuk bisa berkomunikasi dengan keluargaku di tanah air. Seperti biasanya aku mulai mengotak-atik gawai yang menjadi hadiah sekaligus kenang-kenangan dari majikan-ku yang sebelumnya. Ia, aku merupakan seorang TKI yang bekerja dengan orang asing. Sebelumnya aku bekerja sebagai pengasuh seorang lansia di negara Hongkong. Namun itu hanya sampai dua tahun saja. Karena lansia, orangtua dari majikan-ku itu meninggal karena sakit yang di deritanya. Karena di keluarga tersebut hanya membutuhkan seorang penjaga lansia saja sedangkan orang yang aku jaga telah tiada. Maka keluarga itupun memberhentikan diri ini. Namun tidak begitu saja mereka menawarkan padaku untuk aku ikut bekerja bersama dengan sanak saudara mereka yang lain. Dan keluarga tersebut, mereka tinggal di negri dengan sebutan negri Paman Sam. Dan dari penuturan mereka. Jika aku bekerja bersama dengan saudaranya maka gaji yang aku dapat akan disesuaikan dengan gaji di sana dan itu jumlahnya jauh lebih besar dari yang aku dapat sebelumnya. Keluarga majikan-ku tersebut merupakan pasangan suami-istri yang kedua merupakan pekerja kantoran dan sedang mencari penjaga untuk bayi mereka.

Benar saja. Setelah aku berselancar di dunia maya di aplikasi biru yang ku miliki, masuk sebuah permintaan pertemanan dari seseorang. Yang setelah aku telusuri sosok pemilik akun tersebut ternyata dia adalah Mbak Yani, yang merupakan istri dari sepupu suamiku, Mas Rudi. nampak dari beranda akun biru miliknya. Mbak Yani sempat aktif beberapa menit yang lalu dan dia juga mengirim pesan untukku melalui pesan inbox.

Bab 2

[Bang, katanya mau beli seserahan buat nikahan nanti, kapan?]

Baru saja tangan ini meraih gawai yang sempat aku letakkan di atas meja rias yang ada di kamarku. Segera ku baca dari layar gawai dan ternyata pujaan hati yang mengirim pesan untukku. Pesan yang berisi tagihan. Karena aku sempat menjanjikan kepadanya untuk segera dan memilih sendiri seserahan serta mahar untuk acara pernikahan kami nanti. Sengaja aku tidak memberikan seserahan pada waktu aku dan keluargaku datang melamarnya. Karena aku juga tidak mau rugi keluar uang dua kali. Meski aku tidak ikut mencari uang. Tapi masalah untung rugi harus tetap aku perhatikan.

[Iya, Sayang. Abang pasti tidak lupa. Sabar ya, uang Abang belum di transfer.]

pesan balasan segera aku kirim.

Yang menjadi salah satu alasan kenapa Lasmi mau menerima pinangan-ku meski dia tahu aku sudah beristri adalah karena aku memiliki mesin ATM yang tidak akan pernah surut isinya yang akan bisa menyenangkannya. Dia dulu adalah pujaan hatiku namun cinta ini bertepuk sebelah tangan manakala keluarganya yang merupakan pemilik sekaligus juragan empang tempat biasa aku memancing menolak mentah-mentah lamaran-ku karena mereka beranggapan bahwa aku tidak akan sanggup untuk menghidupi anak gadis semata wayangnya. Aku sadar karena pada waktu itu aku juga masih luntang-lantung tidak jelas. Akhirnya aku memutuskan untuk ikut dengan temanku, Juki merantau ke kota lain yang akhirnya mempertemukan-ku dengan Maharani yang kini telah menjadi istriku.

[Terus kapan istri Abang transfer uangnya?]

[Adek, sudah gak sabar ingin belanja dan memilih perhiasan untuk mahar kita nanti.]

pesannya lagi dengan tidak lupa dibubui-nya dengan emoticon cemberut di belakangnya. Kalau sudah begini aku harus pandai-pandai merayunya lagi. Tidak ada cara lain kecuali aku harus segera menghubungi Rani dan mendesaknya agar segera mengirimkan uangnya kembali.

Jujur saja uang yang selama ini ia kirimkan telah habis tidak bersisa. Uang yang tiap bulan ia kirimkan tersebut aku bagi dengan ibu dan juga kedua saudaraku. Aku yakin Rani pun tidak akan keberatan bila uangnya aku pergunakan untuk bersedekah kepada keluargaku. Dari pada di sedekahkan pada orang lain. Mending juga untuk keluargaku sendiri yang juga sama butuhnya.

Sebelum keberangkatannya tiga tahun yang lalu. Sempat kedua mertuaku itu menjual sepetak sawahnya untuk kami membeli tanah yang berada tepat di samping rumah ibuku. Tanah kosong milik Wak haji Yusuf yang maksud kami akan kami beli dan akan di bangun sebuah istana impian kami. Namun hingga saat ini tanah tersebut belum juga terbeli oleh kami dan justru tanah tersebut telah terbeli oleh orang lain. Aku memang belum membayarnya uang yang di kirimkan oleh mertuaku tersebut dan Rani pun belum tahu akan hal itu. Uang tersebut sempat dipinjam oleh ibuku untuk biaya masuk kuliah adik bungsuku dan juga membelikan motor untuknya. Jangan di tanya sisanya kemana. Tentu saja sisa uang itu aku bagi rata untuk ibu, diriku sendiri dan juga untuk mbak Lestari kakak sulungku. Kami bertiga kompak sengaja membeli tiga unit motor matic dengan tipe yang sama hanya beda warna saja. Kalaupun Rani menanyakan hal itu. Aku dan keluargaku kompak menutupi itu darinya. Dan uang bulanan yang ia kirim untuk susu Zaki dan biaya membeli bahan bangunan telah aku gunakan seluruhnya untuk kebutuhanku sendiri beserta ibu dan kedua saudaraku. Zaki juga anak yang penurut di kasih air putih mentok juga air gula dia tidak akan rewel selama ia. Kalaupun dia agak rewel aku dan ibu, kami punya solusinya. Hanya dengan tablet kuning berukuran kecil yang akan aku haluskan di tambah sedikit air dan kemudian meminumkannya. Bayi kecilku itu akan segera tertidur.

[Iya, habis ini, Abang mau telpon istri Abang. Yang sabar ya. Abang janji Acara pernikahan kita akan kita gelar semeriah mungkin. Yang jelas orang-orang kampung pasti akan terkesan dengan pesta kita nanti.]

[Jangan ngambek dong. Nanti cantiknya di patok ayam loh.]

Segera ku balas pesan yang berisi rayuan agar wanitaku itu tidak lagi merajuk pada diri ini. Kalau bukan dia yang memuaskanku, siapa lagi. Selama ini Lasmi-lah yang mengantikan peran Rani di atas ranjang.

[Ya nanti kalau Abang sudah dapat transferan, segera Abang kasih tahu, Adek, ya. Nanti janji, adek bakalan bikin puas Abang.]

Balasan pesan darinya membuat gelorah ini semakin membuncah. Sudah tidak sabar rasanya ingin segera meneguk manisnya madu surga dunia bersamanya.

Segera ku cari kontak nomor Rani. Aku tahu istri lugu-ku itu tidak mempunyai gawai canggih seperti yang aku miliki ini. Karena sewaktu berangkat ke negeri sebrang tiga tahun yang lalu hanya Hp butut pemberian dari orangtuanya-lah yang ia bawa bersamanya.

Setelah ku temukan namanya segera ku kirim pesan SMS karena dia pasti tidak punya aplikasi hijau.

[Sayang kapan uangnya segera kamu transfer. Kasihan Zaki kalau sampai telat minum susunya.]

Tentu saja Zaki yang aku buat alasan. Kasihan sekali padahal anak itu tidak tahu apa-apa dan juga belum pernah merasakan uang yang ibunya kirimkan kepadaku.Toh dia masih kecil dan kebutuhannya tidak sebanyak seperti kami orang dewasa.

5 menit

10 menit

hingga satu jam lamanya belum juga pesanku mendapatkan respon darinya.

[Rani, balas pesan dari suamimu ini! Kenapa dari kemarin pesanku tidak ada yang kamu balas! Apa kamu lupa pada Zaki?]

Geram sekali rasanya karena pesan-pesan yang aku kirimkan tidak ada satupun yang ia balas. Aku coba kembali mengecek pesan yang aku kirim padanya. Dan benar saja pesanku tersebut ter- pending alias tidak terkirim. Aneh saja padahal ini adalah akhir pekan waktu untuknya bisa berkomunikasi dengan keluarga di tanah air dan biasanya dia dulu yang akan menghubungi-ku.

Sudah hampir satu bulan ini tidak ada kiriman uang yang masuk ke dalam rekeningku. Pasalnya aku juga menggunakan mobile banking yang mana bila ada uang masuk pasti akan mendapatkan pemberitahuan melalui aplikasi di layar gawaiku ini.

'Rani-Rani, kenapa kamu bikin suamimu ini kesal. Awas saja kalau Hp kamu sudah aktif. Bakal aku maki habis-habisan kamu karena sudah membuat suamimu ini kecewa.' gerutu-ku dalam hati.

Ting...

Ting...

Ting...

Terdengar suara notifikasi. Segera aku buka mungkin saja itu balasan pesan dari Rani.

[Rud, ini aku sama ibu lagi jalan-jalan.]

[Kita, lagi di toko Hp Gloria phone.]

[Mutia, nangis minta di belikan Hp baru. Uangku gak cukup. Tolong kamu cepat kesini, ya.]

[gak pake lama]

Ternyata pesan yang masuk itu dari kakak sulung-ku ternyata. Dan tentu saja pesan darinya semakin membuat darahku semakin mendidih.

Aku semakin di buat stres. Ini semua karena Rani. Awas saja kamu, Rani!

[Mbak, Rani belum kirim uang. Uangku juga menipis. Uang dari Zaki juga sudah habis untuk belanja sehari-hari]

Bagaimana bisa cukup uang sebesar 8 juta yang Rani kirimkan kepadaku. Harusnya dia tahu bahwa kebutuhan semakin lama semakin naik. Padahal uang itu sama sekali tidak pernah aku bagi dengan keluarganya di kampung. Toh, orangtua Rani juga tidak pernah menanyakan itu kepada-ku.

Aku mengacak rambutku sendiri. Frustasi, ini karena ulah Rani.

Bab 3

Bagaimana hati ini tidak hancur setelah apa yang aku korbankan hanyalah sia-sia saja. Ternyata aku hanya di manfaatkan oleh mereka.

Untung saja setelah mendapatkan gawai baru dari majikan lama-ku. Aku segera menginstal aplikasi biru dan juga aplikasi hijau. Aku sengaja membedakan nomer seluler yang biasanya aku pergunakan untuk menghubungi suami dengan nomer perpesanan dari aplikasi hijau. Aku tahu jika mas Rudi mengetahui aku memilih android canggih pasti dia akan marah karena aku menyisihkan uang hasil jerih payah-ku untuk kepentingan pribadiku. Nyatanya hampir tiga tahun ini aku yang telah di bodohi oleh mereka.

Untung saja Allah telah membukakan pintu petunjuknya dengan mengirimkan mbak Yani untuk membongkar kedok para benalu itu.

Satu bulan lebih aku sudah tidak lagi mengirimkan uang untuk mereka. Percuma, uang ku itu hanya mereka pergunakan untuk kesenangan mereka sendiri. Bagaimana dengan Zaki bayi kecilku. Yang sepat di di ceritakan oleh Mbak Yani. Bahwa ayah dan neneknya telah tega memperalat anakku untuk di jadikan pengemis. Iya, dengan sengaja Zaki merek sewakan kepada para pengemis yang membutuhkan anakku untuk mendapatkan belas kasihan dari orang lain. Apa tidak cukup uang yang tiap bulannya aku kirimkan kepada mereka itu. Dari penurunan mbak Yani juga, ternyata tanah yang sempat kami ingin beli dari Wak haji Yusuf yang uangnya adalah dari bapak ibu di kampung yang sudah menjual sepetak sawahnya untuk aku membeli tanah di samping ibu mertua. Ternyata telah menjadi milik orang lain. Dan memang dari pihak mas Rudi juga tidak membayarkan uang pemberian dari bapak-ku.

Mereka telah sangat melukai-ku. Akan aku buat mereka menyesal dan membayar semuanya. Anak yang sedari kecil aku tinggalkan demi mencari peruntungan untuk masa depan kami. Nyatanya mereka sia-siakan. Dan teganya mereka jadikan anakku sebagai pengemis. Lihat saja akan aku buat kejutan untuk kamu dan keluargamu, Mas. Kalian akan membayar mahal. Dan akan aku buat kalian merasakan dan menjadi seperti Zaki-ku saat ini. Maafkan ibu ini, Nak. Ibu janji, setelah ini ibu akan menjaga Zaki. Dan tidak akan ibu biarkan orang lain menyakiti kita lagi.

🌺🌺🌺

"Hua...Hua...Hua..." suara tangis Zaki sedari semalam belum juga reda.

"Aduh, itu si buluk kenapa lagi, si Rud!" omel ibu yang baru saja keluar dari kamarnya.

"Iya, tu si buluk bikin berisik saja!" Eni juga ikut menyalahkan aku.

"Makanya ibu bantuin Rudi buat nenangin si Zaki. Ini sedari tadi panasnya gak turun-turun makanya rewel!" ucapku tak kalah kesalahannya. "Uangnya aja kalian mau dan kalian habiskan. Giliran sakit, kalian gak ada yang peduli sama anak ini."

"Ogah, Bang. Nanti kulit perawatan-ku ini terkontaminasi sama buluk nya anak kamu itu." ucap Eni menghina bayi kecil yang tidak berdosa ini.

"Eni! Jaga itu mulut kamu!" bentak-ku. Aku sudah kecapekan dari tadi tak ada yang menggantikan menjaga si Zaki. Malah dia semakin memojokkan dan menghina anakku ini. "Awas saja, kalau aku sudah dapat kiriman uang dari si Rani. Gak bakalan aku bagi sepeserpun sama kalian. Biar kalian tahu rasa. Aku juga akan melarang Zaki untuk ikut mengemis lagi." ancam ku pada ibu dan adikku.

"Ya, gak bisa gitu dong, Bang."

"Iya, kamu itu, Rud. Kamu mau ngancem kita. Kalau anak kecil panas segera kasih minum obat. Beli obat warung saja gak usah yang mahal sayang uangnya. Palingan itu panas akibat kena panasan tadi siang." ucap ibu dan dia segera berlalu kembali ke kamarnya.

Dasar mereka, kalau masalah uang cepat sekali tanggapnya tanpa aku beritahu pun insting mereka sudah sangat kuat. Giliran anakku sakit mereka acuh. Padahal bayi ini yang menafkahi mereka selama ini selain kiriman uang dari ibunya.

Malam ini gagal acara kencanku bersama Lasmi. Padahal aku sudah tidak sabar ingin kembali memadu kasih. Tapi aku harus sabar beberapa Minggu lagi dia akan aku miliki seutuhnya.

Sudah tengah malam, tangis Zaki belum juga berhenti meski tak sekuat tadi. Namun kenapa seiring dengan melemahnya suara tangisnya panas di tubuhnya semakin tinggi dan juga bibirnya mulai berubah warna menjadi kebiru-biruan.

Sudah badan dan pikiran lelah gara-gara Rani yang tak kunjung membalas pesan dan juga tidak ada uangnya yang masuk ke dalam rekeningku. Datang lagi masalah dengan sakitnya si Zaki. Bagaimana mau kasih minum obat, uang hasil mengemis seharian sudah di ambil ibu semua. Niatan untuk membelikannya obat warung pun urung aku lakukan di tambah hujan semakin lebat di luar sana.

Aku berusaha memberikannya kompresan untuk sedikit menurunkan panasnya. Tak lupa segera aku seduhkan air gula untuk sedikit memberikan tenaga untuk Zaki-ku. Sedari kecil ibu memang melarang ku untuk memberikannya susu formula. Padahal ibu juga tahu yang seharusnya Zaki masih ASI harus rela di sapih karena ibunya harus pergi untuk membatu ekonomi keluarga kami. Alasan susu formula yang mahal harganya yang membuat ibuku tidak mengijinkanku membelikan susu untuk anakku sendiri. Sedangkan uang yang ibunya kirimkan jelas-jelas di pakai ibu dan juga kedua saudaraku untuk bersenang-senang sendiri. Bahkan uang pemberian dari bapak mertuaku untuk membeli tanah kosong pun mereka yang menghabiskannya. Alasannya lebih baik uang kiriman dari si Rani untuk merenovasi rumah ibuku sendiri dan untuk rumah ku sendiri. Rani bisa memperpanjang kontraknya untuk kembali mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED