Joelle sudah mengambil keputusan dan dia ingin bercerai.
Tidak ada gunanya mengulur waktu.
Setelah terdiam sejenak karena terkejut, Katherine tertawa terbahak-bahak. "Apa kamu akan mendapatkan setengah dari aset yang dimiliki Adrian? Astaga! Joelle, kamu akan menjadi miliarder!"
"Tidak, aku tidak akan mendapatkan kekayaannya." Joelle telah menandatangani perjanjian ketika dia dan Adrian menikah. Dia tidak akan mendapat apa-apa jika mereka bercerai.
"Lalu, kenapa kamu ingin bercerai? Sebaiknya kamu tetap menjadi istrinya!"
Joelle teringat sikap kasar Adrian pada malam sebelumnya dan penghinaan yang terjadi setelah itu.
Dulu dia terlalu naif dan percaya bahwa cintanya pada Adrian akan membantunya menghadapi semua kesulitan.
Namun, Joelle baru menyadari bahwa dirinya sangat bodoh.
'Apa menahan penderitaan akan membuat Adrian mencintaiku?' Joelle harus menerima kenyataan pahit bahwa suaminya tidak peduli.
Seorang pria yang benar-benar mencintai seorang wanita tidak akan pernah membiarkan wanita itu menderita.
Joelle tertawa mengejek pada dirinya sendiri dan mencoba mengubah topik pembicaraan. "Katherine, apa kamu ingat permintaanku beberapa saat yang lalu?"
"Tentu saja aku ingat. Aku baru saja ingin menyampaikan berita mengenai hal itu. Kamu memintaku untuk mencarikan pekerjaan dan aku telah menemukan pekerjaan yang cocok untukmu. Kamu akan memberikan kursus biola pada seorang siswa, tapi aku harus mengatakan bahwa kamu membuang-buang bakatmu dengan menjadi seorang guru."
"Tidak apa-apa," jawab Joelle sambil tersenyum kecil. "Aku tidak membuang-buang bakatku. Aku sudah menjadi ibu rumah tangga selama 3 tahun. Aku cukup senang jika ada orang yang bersedia memberiku pekerjaan."
"Mana mungkin tidak sia-sia? Kamu hampir saja menjadi bagian orkestra internasional! Seandainya saja kamu tidak menikah dengan bajingan itu ...." Katherine terdiam karena merasa marah pada Adrian.
Setelah menikah, Joelle tidak diizinkan untuk bekerja.
Sebagian besar keluarga kaya masih menganut peraturan yang sudah ketinggalan zaman.
Katherine merasa situasi ini sangat menggelikan.
Tiga tahun lalu, karier biola Joelle sedang menanjak dengan pesat. Namun, peraturan ketat di Keluarga Miller melarangnya tampil di depan umum.
Pada hari pertama pernikahan, ibu Adrian berpesan padanya, "Kamu tidak perlu bekerja. Adrian akan membiayai seluruh kebutuhanmu. Tugasmu adalah melahirkan bayi dan merawat suamimu."
Setelah mengakhiri panggilan telepon dengan sahabatnya, Joelle naik ke lantai atas dan mengambil biola yang telah lama disimpan di ruang kerjanya.
Biola ini merupakan hadiah istimewa dari ayahnya pada ulang tahunnya yang ke-18.
Namun, tidak lama setelah Joelle menerima biola ini, ayahnya terkena stroke dan mengalami koma.
Kakaknya mengambil alih tanggung jawab untuk menafkahi keluarga mereka. Kakaknya membiarkannya mengejar mimpinya untuk menjadi pemain biola terbaik.
Joelle mengenang masa lalu sambil menarik busur melintasi senar.
Bertahun-tahun yang lalu, sebuah kecelakaan telah melukai pergelangan tangannya dan dia tidak pernah lagi bermain biola sejak saat itu.
Sekarang, rasa sakit yang tajam menusuk pergelangan tangan Joelle setiap kali bermain biola, tapi dia tetap bertahan. Dia mengandalkan memori otot untuk memainkan sebuah lagu pendek.
Pada akhirnya, Joelle hanya bisa tertawa getir. Permainan biolanya terdengar mengerikan.
Tepat pada saat itu, dia mendengar suara terkejut bercampur bahagia Leah di dekat pintu.
"Tuan Adrian, Anda kembali!"
Leah diam-diam merasa lega ketika melihat Adrian. Kedatangan pria itu berarti dia masih peduli pada Joelle.
Mungkin, hubungan mereka akan membaik jika Joelle mengatakan hal positif.
Sementara itu, Joelle juga tampak terkejut. Adrian jarang pulang ke rumah pada siang hari.
Dia baru saja meletakkan biolanya ketika pintu ruangan dibuka dari luar.
Adrian berdiri di ambang pintu dan tubuhnya yang tinggi tampak menjulang. Dia mengamati Joelle dengan alis berkerut.
Dia teringat bahwa Joelle belajar bermain biola sejak kecil dan seorang guru terkenal pernah memuji bakatnya.
Namun, entah kenapa dia berhenti bermain.
Ketika mendengar permainan biola Joelle dari luar, dia merasa permainan biolanya biasa-biasa saja.
'Kenapa banyak orang memuji bakatnya?'
Joelle melirik Adrian, lalu menundukkan kepala untuk menyimpan biola ke dalam kotaknya. Kemudian, dia bertanya dengan sura rendah, "Kenapa kamu pulang di siang hari? Apa kamu membutuhkan sesuatu?"
"Aku datang untuk mengambil sesuatu dan mengingatkanmu bahwa kita harus mengunjungi Nenek besok," jawab Adrian dengan nada dingin.
Mengunjungi nenek Adrian sebulan sekali merupakan salah satu peraturan keluarga. Besok, mereka harus mengunjungi nenek Adrian. Joelle merasa Adrian tidak akan datang jika peraturan ini tidak ada.
Irene akan merasa kesal jika Joelle dan Adrian tidak datang bersama-sama.
Joelle tersenyum pahit ketika merenung. Dia lebih memahami semua peraturan Keluarga Miller dibandingkan Adrian dan selalu mematuhinya.
Bahkan, Irene yang menjunjung tinggi peraturan tidak dapat menemukan kesalahannya.
"Aku tidak lupa. Aku lega karena kamu juga tidak lupa," jawab Joelle. Nada bicaranya mengandung nada menuduh, sehingga membuat Adrian mencibir.
Untuk sesaat, api amarah berkobar di dalam hatinya. Pria itu segera menuju ke lemari pakaian tanpa berkata apa-apa.
Meski pria itu jarang pulang, Joelle tetap menata lemari pakaian Adrian dengan cermat, semua pakaian dicuci, disetrika, dan ditata dengan rapi.
Joelle merasa perannya terbatas pada mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang dapat dilakukan oleh Leah.
Mungkin, satu-satunya kelebihan yang dia miliki dari Leah adalah usia muda dan wajah cantik.
Mata Joelle mengikuti gerakan Adrian.
Jari manis pria itu kosong dan cincin pernikahan mereka tidak terlihat.
Rasa sakit yang tajam menusuk hati Joelle.
"Adrian, sebaiknya kita bercerai," ucap Joelle dengan suara ringan seperti angin yang berembus.
Perkataan itu seolah menguras seluruh tenaga Joelle, tapi anehnya dia merasa sangat lega.
Adrian berbalik dan menatap istrinya sambil tersenyum mengejek. "Joelle, pikirkan baik-baik sebelum membuat pernyataan. Situasi Keluarga Watson saat ini sangat buruk. Tanpa bantuanku, apa kamu berniat tidur di jalanan bersama kakakmu setelah kita bercerai?"
Sejak kejatuhan Keluarga Watson, status Joelle berubah dari seorang putri dari keluarga terpandang menjadi bahan tertawaan.
Keluarga Miller membenci Joelle dan memandang rendah dirinya, seolah-olah Joelle dan kakaknya merupakan lintah yang tidak dapat mereka singkirkan.
Joelle merasa dirinya lebih rendah dari seorang pelacur ketika berhubungan intim dengan Adrian. Setidaknya, seorang pelacur dapat memilih klien yang akan dia layani.
Joelle menggigit bibirnya dan berdiri dengan tegak. "Aku sudah menyewa sebuah apartemen kecil. Bahkan jika aku harus tidur di jalanan, setidaknya aku mengambil keputusan sendiri."
Saat ini, Joelle hanya ingin Adrian menghormati dirinya, tapi 3 tahun pernikahan mereka telah menghancurkan harga diri dan martabatnya.
"Dari mana kamu mendapatkan uang untuk menyewa apartemen? Jika kamu benar-benar ingin mandiri, seharusnya kamu tidak menggunakan uang Keluarga Miller."
Adrian membelakangi Joelle, dia menemukan cincin kawin yang terjatuh dan memegang cincin tersebut dengan erat di telapak tangannya. Joelle tidak menyadari tindakan suaminya.
Perkataan Adrian membuat Joelle terdiam dan menghancurkan rasa percaya dirinya.
Dia menggunakan tabungannya yang sedikit untuk menyewa apartemen tersebut. Tapi karena mereka sudah menikah, bukankah harta miliknya akan menjadi milik Adrian juga?
Selain itu, Adrian telah memberikan bantuan finansial yang besar pada Keluarga Watson selama beberapa tahun terakhir.
Joelle selalu membenci gagasan berutang pada Adrian, tapi dia malah berutang banyak pada pria itu.
Jika mereka bercerai, kemungkinan besar Adrian akan memutuskan semua bantuan finansial pada Keluarga Watson.
'Apa dia ingin aku meninggalkan pernikahan kami tanpa membawa apa-apa?'
Saat Adrian hendak pergi, Joelle memanggilnya dengan harga diri yang tersisa.
"Secara hukum, aku memiliki hak atas kekayaanmu karena kita berdua telah menikah. Tapi kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan meminta banyak. Kamu hanya perlu membantu Grup Watson melewati krisis ini."
Tubuh Adrian seolah membeku dan tatapannya terlihat tajam. Bibir pria itu membentuk garis tipis dan rahangnya terkatup rapat. Semua tanda ini menunjukkan bahwa dia benar-benar marah.
Meski Joelle telah menyiapkan diri secara mental, dia tidak dapat menahan intensitas amarah suaminya.
Dia menjadi semakin gelisah di bawah tatapan tajam Adrian.
Tepat pada saat itu, ponsel Adrian berdering. Adrian mengeluarkan ponsel dari dalam saku dan mulai berjalan pergi.
"Adrian!"
Rasa frustrasi memenuhi hati Adrian. "Jika kakakmu membutuhkan uang, minta dia pergi ke Grup Miller."
"Bukan itu maksudku!" balas Joelle.
Pria itu telah salah paham.
Joelle bergegas mengejar Adrian dan jantungnya berdetak kencang. "Adrian, aku ingin bercerai!"
Mendengar pernyataan tersebut, Adrian menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang dan ponsel di tangannya berhenti berdering.
Tinggi pria itu hampir 190 cm dan dia menjulang di atas Joelle.
Tatapannya sangat dingin dan suaranya dipenuhi ejekan ketika berbicara. "Joelle, apa kamu tidak bisa menggunakan taktik yang lebih bagus ketika ingin menarik perhatianku? Jika kamu serius ingin bercerai, kenapa kamu tidak menyampaikan maksudmu pada Nenek? Jika kamu tidak serius, jangan pernah mengucapkan perkataan itu dari mulutmu!"
Pintu dibanting hingga menutup dan suaranya menggema di udara. Joelle bersandar ke dinding, kedua kakinya terasa lemas sehingga terjatuh ke lantai.
Tawa pahit lolos dari bibirnya.
Pernikahan mereka diatur oleh Irene. Joelle mengetahui bahwa Adrian terpaksa menikah dengannya.
Jika benar-benar ingin bercerai, dia tahu berbicara dengan Irene merupakan cara paling efektif.
Tapi sebagian kecil dari dirinya yang bodoh masih berharap bahwa dia dan Adrian merupakan pasangan yang saling mencintai.
Dia memutuskan membicarakan topik ini dengan Adrian karena menganggap pria itu sebagai suaminya.
Namun, dia melupakan sebuah detail penting, Adrian tidak pernah berniat menikahinya.
Rasa enggan Adrian terlihat jelas sejak awal, meski Joelle berusaha mengabaikannya. Perkataan pria itu seolah ingin menekankan bahwa meski dirinya ingin bercerai, Irene tidak akan mendengarkan permintaannya. Jika dia serius, dia seharusnya pergi untuk menyampaikan niatnya pada Irene secara langsung.
Joelle pergi mandi, mengenakan pakaian bersih dan bersiap-siap untuk mengunjungi Irene.
Irene adalah sosok yang tegas, berwibawa, dan ditakuti oleh seluruh anggota keluarga. Dia memerintah dengan tangan besi dan tidak akan menolerir anggota keluarga yang melanggar peraturan. Namun, Joelle memiliki ikatan yang unik dengannya.
Salah satu alasan Joelle setuju menikahi Adrian adalah untuk memenuhi harapan Irene. Dia ingin merawat Adrian, membangun keluarga, dan memastikan Irene meninggalkan dunia ini tanpa penyesalan.
Akan tapi, Joelle merasa dia tidak dapat bertahan lebih lama lagi.
Melihat Adrian memberikan banyak perhatian pada wanita lain membuat hati Joelle dipenuhi rasa pahit dan cemburu.
Dia tahu Adrian tidak pernah mencintainya. Pria itu tidak akan pernah mencintainya!
Tepat ketika Joelle hendak pergi, ponselnya berdering. Dia melihat nama Shawn di layar ponsel.
"Kak Shawn? Ada apa?"
"Nona Joelle!"
Suara asisten Shawn terdengar panik dan Joelle belum pernah mendengarnya sepanik ini.
Darahnya seolah membeku dan dia mempererat cengkeramannya pada ponsel saat dia berdiri di tangga.
"Di mana Kak Shawn? Apa terjadi sesuatu padanya?"
"Semalam Pak Shawn menghadiri pertemuan bisnis dan dia dipaksa minum hingga mabuk. Dia seharusnya pulang, tapi Erick Lloyd bersikeras membawanya ke sebuah pemandian air panas.
Joelle membeku dan amarah memenuhi hatinya. "Apa Erick tidak menyadari bahwa tindakannya dapat membunuh kakakku?"
"Erick merupakan orang yang tidak bertanggung jawab! Dia bersikap arogan karena ayah dan kakaknya bekerja sebagai sopir Keluarga Miller. Nona Joelle, sebaknya Anda segera ke rumah sakit! Pak Shawn sedang menjalani operasi dan dokter telah mengeluarkan dua pemberitahuan kondisi kritis. Maaf Nona, saya terpaksa menelepon Anda!"
Suaranya bergetar karena hampir menangis. Joelle tahu asisten Shawn tidak akan menelepon jika dia tidak putus asa.
Shawn selalu melindungi Joelle dari berita negatif, tidak peduli seberapa buruk situasinya. Jika asistennya terdengar putus asa seperti sekarang, nyawa Shawn pasti sedang terancam!
Joelle terdiam dan dia merasa lehernya tercekik sehingga tidak dapat bersuara.
Dia berjalan sambil melamun sehingga terpeleset dan pergelangan kakinya terkilir. Rasa sakit yang tajam membuat Joelle tersadar dan air mata segera membasahi wajahnya.
"Astaga! Nyonya Joelle, kenapa Anda tidak berhati-hati?"
Leah bergegas mendekat dan membantu Joelle untuk berdiri.
Joelle mencengkeram lengan Leah dan pandangannya kabur karena air mata. Dia mencoba berbicara, tapi suaranya terputus-putus di antara isak tangisnya.
"Kakakku ... aku harus pergi ke rumah sakit untuk menemuinya!"
Leah segera bertindak ketika mendengar suara panik Joelle. "Baiklah, jangan khawatir Nyonya. Saya akan memanggil sopir untuk mengantar Anda!"
Leah adalah seorang asisten rumah tangga yang dapat diandalkan dan memiliki banyak pengalaman setelah melayani Keluarga Miller selama bertahun-tahun. Dalam waktu 5 menit, mobil sudah menunggu di depan vila.
Saat Joelle hendak masuk ke mobil, dia menoleh ke arah Leah. "Tolong, jangan beri tahu Nenek mengenai hal ini. Aku tidak ingin membuatnya khawatir."
Hati Leah melunak setelah mendengar permintaan Joelle.
Bahkan dalam keadaan panik dan penuh air mata, Joelle masih memikirkan kesehatan Irene.
'Nyonya Joelle adalah wanita baik yang sangat langka!'
"Jangan khawatir, Nyonya Joelle. Saya tidak akan memberi tahu Nyonya Irene. Silakan pergi untuk menemui kakak Anda."
Ketika Joelle tiba di rumah sakit, Shawn baru saja dibawa keluar dari ruang operasi.
Melihat Shawn terhubung dengan beberapa selang infus dan kabel alat medis, asistennya hampir jatuh ke lantai.
Saat Joelle mendekat, dia mendapati asisten Shawn sedang bersandar ke dinding dengan mata yang sudah memerah dan tatapan yang terlihat kosong.
Dia menahan keinginan untuk memarahi asisten tersebut karena tidak melindungi Shawn dengan baik. Dia memutuskan akan membicarakan topik itu di lain waktu.
Setelah kondisi Shawn stabil, Joelle meminta asisten itu keluar dari bangsal untuk berbicara.
"Ceritakan padaku, kenapa Kak Shawn tiba-tiba terluka?"
Asisten itu tampak ragu-ragu dan wajahnya terlihat khawatir. "Nona Joelle, Pak Shawn secara khusus meminta kami untuk tidak melibatkan Anda dalam urusan bisnis."
"Kita sedang menghadapi situasi hidup dan mati. Apa kamu berniat menyembunyikan informasi dariku?"
Kesabaran Joelle hampir habis dan dia berbalik untuk pergi.
"Nona Joelle, tidak ada gunanya kita membicarakan masalah ini." Suara asisten itu agak bergetar karena putus asa. "Sejak ayah Anda meninggal, Pak Shawn mengambil alih tanggung jawab atas Grup Watson. Dia telah berjuang keras untuk menegakkan martabat keluarga agar hidup Anda di Keluarga Miller akan lebih mudah."
Selama tiga tahun terakhir, Shawn berjuang keras untuk mempertahankan keluarganya. Akan tetapi, perusahaan mereka pasti sudah hancur sejak lama jika tidak mendapat bantuan finansial dari Adrian.
Shawn berharap Joelle hidup dengan nyaman bersama Adrian, tapi meski telah berusaha keras, dia tidak mampu membuat Adrian menghormati adiknya. Tidak peduli seberapa besar pengorbanan Shawn, Keluarga Miller tidak akan menghargai Joelle.
Amarah Joelle membara, tapi wanita itu menyadari bahwa dia tidak dapat mengubah realita yang ada.
Dia menarik napas dalam-dalam, lalu berkata, "Apa dia tidak menyebutkan hubunganku dengan Adrian?"
Awalnya, Joelle berharap dapat membantu Shawn dengan cara berpihak pada Keluarga Miller.
"Pak Shawn menolak untuk menyebutkan hubungan kalian. Dia takut keadaan Anda di Keluarga Miller akan semakin sulit."
Joelle tertawa pahit.
Sejak awal, dia tidak pernah bisa berdiri di posisi yang sejajar dengan Adrian.
Tidak heran Adrian membencinya, terkadang Joelle hampir tidak bisa menoleransi dirinya sendiri.
Sekitar satu jam yang lalu, dia telah memutuskan untuk meminta cerai. Namun, sekarang dia mencoba menggunakan nama Adrian karena ingin membuat hidup Shawn lebih mudah.
"Katakan pada Kak Shawn bahwa aku adalah istri Adrian yang dipilih oleh Nenek. Selama aku masih menjadi istri Adrian, aku memiliki posisi di Keluarga Miller!"
Tiba-tiba, Joelle mendengar suara langkah kaki di belakangnya.
Joelle berbalik dan bertatapan dengan mata dingin Adrian.
Di samping pria itu berdiri seorang gadis berwajah lemah, mata lebarnya terlihat polos dan dia sedang memeluk lengan Adrian dengan erat.
Adrian memberikan tatapan dingin dan menghina ke arah Joelle, seolah merasa kesal jika menatapnya lebih lama.
Pria itu seolah mendapat pencerahan, ternyata Joelle tidak ingin bercerai.
Wanita yang beberapa saat lalu berbicara dengan tegas mengenai perceraian, sekarang tampak memamerkan posisinya sebagai menantu Keluarga Miller.
Ancaman Joelle untuk meminta cerai, merupakan sebuah taktik pertengkaran antar pasangan yang terbukti sebagai ancaman kosong.
Wanita licik ini sengaja membiusnya agar mereka menikah. 'Dia menggunakan taktik curang untuk menjebakku, mana mungkin dia meminta cerai dengan mudah?' Pernikahan tersebut merupakan penyelamat bagi keluarga Joelle yang berada dalam kesulitan finansial.
Setiap tahun, Adrian memberikan uang sebesar 200 miliar pada Grup Watson. Joelle pasti bodoh jika dia mengambil risiko kehilangan uang sebanyak itu dengan meminta cerai.