Bab 1

Joelle Watson meneliti feed Twitter milik Rebecca Lloyd dan mempelajari setiap video dengan saksama.

"Apa kalian melihatnya? Dia sengaja menyimpan potongan semangka yang paling manis untukku."

"Ketika pulang larut malam, dia tidak pernah lupa membawakan hadiah kecil."

"Coba lihat ini ... kejutan! Dia meminta pastor untuk memberkati rosario ini."

Di dalam video, Rebecca memancarkan aura lembut dan rapuh dalam gaun putihnya yang terlihat sederhana. Wajahnya tidak terlalu cantik, tapi dia tampak polos dan senyumnya sangat menawan.

Joelle mengamati layar seperti seorang mata-mata yang ingin melihat wajah pacar Rebecca.

Kisah Rebecca yang sangat bahagia dan potongan-potongan kehidupan santai wanita itu bersama kekasihnya membuat Joelle merasa sedih.

Dia menyadari bahwa pada hari-hari penting seperti malam Natal, hari Valentine, dan bahkan ulang tahunnya sendiri, Rebecca menghabiskan waktu bersama Adrian Miller, pria yang telah menjadi suaminya selama tiga tahun terakhir, tapi jarang pulang ke rumah.

Nama pengguna pada akun tersebut adalah "Countdown To Death". Akun itu merupakan satu-satunya akun yang diikuti Joelle.

Ketika dia hendak merenungkan nama yang tidak menyenangkan itu, pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka.

Di dalam ruangan yang remang-remang, Adrian berjalan mendekati Joelle. Bahunya tampak lebar dan handuk putih melilit pinggangnya yang ramping. Butiran air menetes dari rambutnya.

Meski pencahayaan ruangan agak redup, wajah pria itu terlihat sangat tampan.

Joelle secara naluriah mematikan ponsel dan menatap wajah Adrian sambil tenggelam dalam pikirannya. Dia tidak dapat mengingat kapan terakhir kali melihat suaminya.

Malam ini, Adrian datang menemui Joelle bukan karena pilihannya sendiri.

Nenek Adrian yang bernama Irene sedang sakit dan menginginkan seorang cicit, sehingga pria itu terpaksa datang. Jika Irene tidak memberi perintah, mungkin Adrian tidak akan pernah pulang ke rumah.

Selama tiga tahun pernikahan mereka, Adrian jarang pulang ke rumah dan dia menghabiskan sebagian besar waktunya di Vila Oak.

Semua orang mengetahui bahwa dia tidak mencintai Joelle.

Wanita itu merasa terjebak dalam pernikahan ini dan mengetahui bahwa Adrian tidak pernah mencintainya.

"Aku akan memberimu satu kesempatan. Biarkan takdir yang menentukan apa kamu hamil atau tidak," ucap Adrian dengan suaranya yang berat.

'Apa maksud perkataannya?'

Sebelum Joelle dapat berpikir lebih jauh, Adrian mencengkeram pergelangan kaki Joelle dan menariknya mendekat sehingga tubuh pria itu menjulang di atas tubuh mungilnya.

Tiba-tiba Adrian menyingkirkan handuk yang melingkari pinggangnya dan membuka kedua kaki gadis itu menggunakan lututnya.

Suara kain robek memenuhi ruangan.

Dia dengan mudah merobek gaun Joelle, tubuh telanjangnya terekspos dengan cara yang sangat merendahkan martabat.

Wajah Joelle berubah menjadi pucat saat menghadapi perlakuan kejam Adrian dan tubuhnya seolah membeku karena ketakutan.

"Adrian! Berhenti, aku tidak menginginkannya ...."

Joelle tidak dapat melanjutkan perkataannya karena dia sibuk meronta. Meski sangat mencintai Adrian, dia tidak ingin berhubungan intim dengan pria yang membuatnya ketakutan dan merasa dipermalukan.

Senyum sinis menghiasi wajah tampan Adrian. "Pada waktu itu, kamu berani membiusku, seharusnya kamu menyadari bahwa hari ini akan datang. Jangan berteriak, tahan rasa sakit itu."

Mata Joelle berkaca-kaca ketika mendengar perkataan kasar tersebut dan bulu matanya bergerak seperti sayap kupu-kupu yang terluka. Dia mendongak untuk menatap wajah tegas Adrian dan suaranya agak bergetar. "Waktu itu aku mabuk, aku sama sekali tidak bermaksud untuk ... ahh!"

Protesnya disela oleh teriakan tajam. Dia mencengkeram seprai dengan erat dan wajahnya terlihat sangat ketakutan.

Adrian menjepit pergelangan tangan Joelle di atas kepalanya, raut wajah pria itu tampak kosong saat menindih istrinya.

Dia bergerak secara tiba-tiba, lalu dorongan kasar dan dalam membuat Joelle meringis kesakitan.

Rasa sakit yang tidak tertahankan menguasai Joelle dan dia perlahan-lahan berhenti meronta karena merasa putus asa. Dia berbaring di atas ranjang dan berpikir lebih baik mati daripada dipermalukan oleh pria yang sangat dia cintai.

Setelah memuaskan hasratnya, Adrian bangkit sambil terengah-engah. Dia mengambil handuk dari lantai dan melilitkan handuk tersebut ke pinggangnya. "Sepertinya kamu sudah belajar banyak, bersikap jual mahal lebih menarik daripada berbaring seperti ikan mati," kata Adrian dengan suara penuh kebencian.

Setelah mandi, dia pergi tanpa menoleh ke belakang, seolah sudah tidak sabar ingin meninggalkan rumah itu.

Adrian selalu mandi sebelum dan sesudah mereka berhubungan intim, sehingga membuat Joelle merasa dirinya kotor.

Joelle berusaha keras untuk memahami perannya dalam kehidupan Adrian. 'Apa dia menganggapku sebagai mainannya? Apa dia menganggapku sebagai pion untuk memenuhi harapan keluarganya dengan melahirkan seorang ahli waris?'

Jendela kamar terbuka lebar, sehingga angin yang menusuk tulang menerpa Joelle.

Joelle gemetar, lalu menarik selimut lebih erat untuk menutupi tubuhnya.

Bukan hanya udara dingin yang membuat tubuh Joelle gemetar. Hatinya seolah terkoyak dan angin dingin dari luar menerpa hatinya yang terluka.

Pria yang dia cintai selama hampir 8 tahun, sekarang berubah menjadi orang asing.

Tiga tahun sebelumnya, Joelle terlalu banyak minum alkohol ketika menghadiri pesta mewah yang diselenggarakan oleh Keluarga Miller. Ketika terbangun, dia mendapati dirinya telanjang di atas tempat tidur bersama Adrian.

Sebelum Joelle mendapat kesempatan untuk mencerna apa yang sedang terjadi, kakaknya dan beberapa anggota Keluarga Miller telah menyerbu ke dalam kamar.

Pada waktu itu, nasi telah menjadi bubur. Nenek Adrian segera mengambil alih kendali dan mengatur pernikahan mereka.

Selama ini, Adrian yakin bahwa Joelle telah menggunakan obat bius untuk menjebaknya.

Meski Joelle mengetahui bahwa Adrian berpikir dia sengaja membiusnya, dia bingung dengan sikap permusuhan yang ditunjukkan Adrian padanya. Bukankah mereka berdua tumbuh bersama?

Namun, sekarang dia mengerti. Di mata Adrian, dia hanyalah wanita jahat yang merusak hubungannya dengan Rebecca.

Dia sering sekali merenungkan sikap Adrian yang lemah lembut dan penuh perhatian dalam video-video Rebecca. Tiba-tiba, dia menyadari bahwa Adrian tidak mungkin menunjukkan perhatian yang sama padanya.

Joelle tidak yakin berapa lama dia berbaring sambil menatap kosong ke arah langit-langit, sebelum menyingkirkan selimutnya perlahan, lalu turun dari tempat tidur dan menyeret tubuhnya yang sakit ke kamar mandi.

Ketika berdiri di bawah pancuran, dia menggigil saat air dingin membasahi tubuhnya.

Joelle menatap bayangan dirinya di cermin, lalu menyadari bahwa wajahnya terlihat pucat dan tubuhnya penuh memar.

Akhirnya, Joelle tidak dapat menahan air matanya dan menangis tersedu-sedu.

Malam itu, tidurnya tidak nyenyak dan terganggu.

Selama beberapa jam berikutnya, dia bermimpi tentang hari-hari ketika hubungannya dengan Adrian sangat baik.

Karena tidurnya gelisah, Joelle bangun lebih pagi dari biasanya.

Setelah selesai mandi, dia mengenakan pakaian santai dan berjalan turun ke lantai bawah.

Leah Jenkins memperhatikan Joelle turun dan segera menyiapkan sarapan di meja. Wanita paruh baya ini sudah lama bekerja untuk Keluarga Miller, sehingga mengetahui preferensi makanan Joelle.

Joelle duduk di kursi, lalu menikmati sarapan dengan perlahan.

"Nyonya, kenapa Anda tidak meminta Tuan Adrian untuk menginap tadi malam? Dia jarang pulang ke rumah," komentar Leah dengan penuh simpati.

Leah telah menjadi pelayan Keluarga Miller selama bertahun-tahun dan dia menyaksikan Joelle tumbuh bersama Adrian. Dia tidak paham kenapa hubungan pasangan itu berubah menjadi seperti musuh.

Rasa tidak nyaman terlihat di wajah Joelle, sebelum dia menutupinya dengan senyum tenang.

"Aku sudah mencoba, tapi dia menolak untuk tinggal," katanya.

Meski dia bisa menahan Adrian secara fisik, tapi hati pria itu berada di tempat lain.

Hati pria itu tertambat di Vila Oak, tempat di mana wanita yang dia cintai tinggal.

Leah tampak ragu-ragu sebelum berbicara dan suaranya terdengar hati-hati. "Mungkin, Tuan Adrian sangat sibuk dengan pekerjaan di kantor. Menjalankan bisnis keluarga sebesar itu pasti menyita banyak waktu."

Tiga tahun yang lalu, Leah ditugaskan untuk merawat Joelle dan dia sangat memahami dinamika pernikahan pasangan ini.

Dia merasa kasihan serta simpati pada Joelle.

Bulu mata Joelle bergetar saat dia menggigit roti panggang dan matanya berkaca-kaca karena menahan emosi.

Adrian memang sibuk, tapi dia selalu meluangkan waktu untuk Rebecca. Pria itu pergi ke Gereja Redemption karena ingin meminta berkat untuk rosario yang dia berikan pada Rebecca.

Meski jadwal Adrian cukup padat, dia tidak pernah melewatkan liburan bersama Rebecca.

Pada saat itu, suara dering ponsel Joelle memecah kesunyian.

Setelah Leah meninggalkan ruang makan, Joelle mengangkat panggilan telepon dari sahabatnya, Katherine Nash.

"Katherine, aku ingin bercerai dari Adrian," ucap Joelle dengan suara serak.

Bab 2

Joelle sudah mengambil keputusan dan dia ingin bercerai.

Tidak ada gunanya mengulur waktu.

Setelah terdiam sejenak karena terkejut, Katherine tertawa terbahak-bahak. "Apa kamu akan mendapatkan setengah dari aset yang dimiliki Adrian? Astaga! Joelle, kamu akan menjadi miliarder!"

"Tidak, aku tidak akan mendapatkan kekayaannya." Joelle telah menandatangani perjanjian ketika dia dan Adrian menikah. Dia tidak akan mendapat apa-apa jika mereka bercerai.

"Lalu, kenapa kamu ingin bercerai? Sebaiknya kamu tetap menjadi istrinya!"

Joelle teringat sikap kasar Adrian pada malam sebelumnya dan penghinaan yang terjadi setelah itu.

Dulu dia terlalu naif dan percaya bahwa cintanya pada Adrian akan membantunya menghadapi semua kesulitan.

Namun, Joelle baru menyadari bahwa dirinya sangat bodoh.

'Apa menahan penderitaan akan membuat Adrian mencintaiku?' Joelle harus menerima kenyataan pahit bahwa suaminya tidak peduli.

Seorang pria yang benar-benar mencintai seorang wanita tidak akan pernah membiarkan wanita itu menderita.

Joelle tertawa mengejek pada dirinya sendiri dan mencoba mengubah topik pembicaraan. "Katherine, apa kamu ingat permintaanku beberapa saat yang lalu?"

"Tentu saja aku ingat. Aku baru saja ingin menyampaikan berita mengenai hal itu. Kamu memintaku untuk mencarikan pekerjaan dan aku telah menemukan pekerjaan yang cocok untukmu. Kamu akan memberikan kursus biola pada seorang siswa, tapi aku harus mengatakan bahwa kamu membuang-buang bakatmu dengan menjadi seorang guru."

"Tidak apa-apa," jawab Joelle sambil tersenyum kecil. "Aku tidak membuang-buang bakatku. Aku sudah menjadi ibu rumah tangga selama 3 tahun. Aku cukup senang jika ada orang yang bersedia memberiku pekerjaan."

"Mana mungkin tidak sia-sia? Kamu hampir saja menjadi bagian orkestra internasional! Seandainya saja kamu tidak menikah dengan bajingan itu ...." Katherine terdiam karena merasa marah pada Adrian.

Setelah menikah, Joelle tidak diizinkan untuk bekerja.

Sebagian besar keluarga kaya masih menganut peraturan yang sudah ketinggalan zaman.

Katherine merasa situasi ini sangat menggelikan.

Tiga tahun lalu, karier biola Joelle sedang menanjak dengan pesat. Namun, peraturan ketat di Keluarga Miller melarangnya tampil di depan umum.

Pada hari pertama pernikahan, ibu Adrian berpesan padanya, "Kamu tidak perlu bekerja. Adrian akan membiayai seluruh kebutuhanmu. Tugasmu adalah melahirkan bayi dan merawat suamimu."

Setelah mengakhiri panggilan telepon dengan sahabatnya, Joelle naik ke lantai atas dan mengambil biola yang telah lama disimpan di ruang kerjanya.

Biola ini merupakan hadiah istimewa dari ayahnya pada ulang tahunnya yang ke-18.

Namun, tidak lama setelah Joelle menerima biola ini, ayahnya terkena stroke dan mengalami koma.

Kakaknya mengambil alih tanggung jawab untuk menafkahi keluarga mereka. Kakaknya membiarkannya mengejar mimpinya untuk menjadi pemain biola terbaik.

Joelle mengenang masa lalu sambil menarik busur melintasi senar.

Bertahun-tahun yang lalu, sebuah kecelakaan telah melukai pergelangan tangannya dan dia tidak pernah lagi bermain biola sejak saat itu.

Sekarang, rasa sakit yang tajam menusuk pergelangan tangan Joelle setiap kali bermain biola, tapi dia tetap bertahan. Dia mengandalkan memori otot untuk memainkan sebuah lagu pendek.

Pada akhirnya, Joelle hanya bisa tertawa getir. Permainan biolanya terdengar mengerikan.

Tepat pada saat itu, dia mendengar suara terkejut bercampur bahagia Leah di dekat pintu.

"Tuan Adrian, Anda kembali!"

Leah diam-diam merasa lega ketika melihat Adrian. Kedatangan pria itu berarti dia masih peduli pada Joelle.

Mungkin, hubungan mereka akan membaik jika Joelle mengatakan hal positif.

Sementara itu, Joelle juga tampak terkejut. Adrian jarang pulang ke rumah pada siang hari.

Dia baru saja meletakkan biolanya ketika pintu ruangan dibuka dari luar.

Adrian berdiri di ambang pintu dan tubuhnya yang tinggi tampak menjulang. Dia mengamati Joelle dengan alis berkerut.

Dia teringat bahwa Joelle belajar bermain biola sejak kecil dan seorang guru terkenal pernah memuji bakatnya.

Namun, entah kenapa dia berhenti bermain.

Ketika mendengar permainan biola Joelle dari luar, dia merasa permainan biolanya biasa-biasa saja.

'Kenapa banyak orang memuji bakatnya?'

Joelle melirik Adrian, lalu menundukkan kepala untuk menyimpan biola ke dalam kotaknya. Kemudian, dia bertanya dengan sura rendah, "Kenapa kamu pulang di siang hari? Apa kamu membutuhkan sesuatu?"

"Aku datang untuk mengambil sesuatu dan mengingatkanmu bahwa kita harus mengunjungi Nenek besok," jawab Adrian dengan nada dingin.

Mengunjungi nenek Adrian sebulan sekali merupakan salah satu peraturan keluarga. Besok, mereka harus mengunjungi nenek Adrian. Joelle merasa Adrian tidak akan datang jika peraturan ini tidak ada.

Irene akan merasa kesal jika Joelle dan Adrian tidak datang bersama-sama.

Joelle tersenyum pahit ketika merenung. Dia lebih memahami semua peraturan Keluarga Miller dibandingkan Adrian dan selalu mematuhinya.

Bahkan, Irene yang menjunjung tinggi peraturan tidak dapat menemukan kesalahannya.

"Aku tidak lupa. Aku lega karena kamu juga tidak lupa," jawab Joelle. Nada bicaranya mengandung nada menuduh, sehingga membuat Adrian mencibir.

Untuk sesaat, api amarah berkobar di dalam hatinya. Pria itu segera menuju ke lemari pakaian tanpa berkata apa-apa.

Meski pria itu jarang pulang, Joelle tetap menata lemari pakaian Adrian dengan cermat, semua pakaian dicuci, disetrika, dan ditata dengan rapi.

Joelle merasa perannya terbatas pada mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang dapat dilakukan oleh Leah.

Mungkin, satu-satunya kelebihan yang dia miliki dari Leah adalah usia muda dan wajah cantik.

Mata Joelle mengikuti gerakan Adrian.

Jari manis pria itu kosong dan cincin pernikahan mereka tidak terlihat.

Rasa sakit yang tajam menusuk hati Joelle.

"Adrian, sebaiknya kita bercerai," ucap Joelle dengan suara ringan seperti angin yang berembus.

Perkataan itu seolah menguras seluruh tenaga Joelle, tapi anehnya dia merasa sangat lega.

Adrian berbalik dan menatap istrinya sambil tersenyum mengejek. "Joelle, pikirkan baik-baik sebelum membuat pernyataan. Situasi Keluarga Watson saat ini sangat buruk. Tanpa bantuanku, apa kamu berniat tidur di jalanan bersama kakakmu setelah kita bercerai?"

Sejak kejatuhan Keluarga Watson, status Joelle berubah dari seorang putri dari keluarga terpandang menjadi bahan tertawaan.

Keluarga Miller membenci Joelle dan memandang rendah dirinya, seolah-olah Joelle dan kakaknya merupakan lintah yang tidak dapat mereka singkirkan.

Joelle merasa dirinya lebih rendah dari seorang pelacur ketika berhubungan intim dengan Adrian. Setidaknya, seorang pelacur dapat memilih klien yang akan dia layani.

Joelle menggigit bibirnya dan berdiri dengan tegak. "Aku sudah menyewa sebuah apartemen kecil. Bahkan jika aku harus tidur di jalanan, setidaknya aku mengambil keputusan sendiri."

Saat ini, Joelle hanya ingin Adrian menghormati dirinya, tapi 3 tahun pernikahan mereka telah menghancurkan harga diri dan martabatnya.

"Dari mana kamu mendapatkan uang untuk menyewa apartemen? Jika kamu benar-benar ingin mandiri, seharusnya kamu tidak menggunakan uang Keluarga Miller."

Adrian membelakangi Joelle, dia menemukan cincin kawin yang terjatuh dan memegang cincin tersebut dengan erat di telapak tangannya. Joelle tidak menyadari tindakan suaminya.

Perkataan Adrian membuat Joelle terdiam dan menghancurkan rasa percaya dirinya.

Dia menggunakan tabungannya yang sedikit untuk menyewa apartemen tersebut. Tapi karena mereka sudah menikah, bukankah harta miliknya akan menjadi milik Adrian juga?

Selain itu, Adrian telah memberikan bantuan finansial yang besar pada Keluarga Watson selama beberapa tahun terakhir.

Joelle selalu membenci gagasan berutang pada Adrian, tapi dia malah berutang banyak pada pria itu.

Jika mereka bercerai, kemungkinan besar Adrian akan memutuskan semua bantuan finansial pada Keluarga Watson.

'Apa dia ingin aku meninggalkan pernikahan kami tanpa membawa apa-apa?'

Saat Adrian hendak pergi, Joelle memanggilnya dengan harga diri yang tersisa.

"Secara hukum, aku memiliki hak atas kekayaanmu karena kita berdua telah menikah. Tapi kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan meminta banyak. Kamu hanya perlu membantu Grup Watson melewati krisis ini."

Tubuh Adrian seolah membeku dan tatapannya terlihat tajam. Bibir pria itu membentuk garis tipis dan rahangnya terkatup rapat. Semua tanda ini menunjukkan bahwa dia benar-benar marah.

Meski Joelle telah menyiapkan diri secara mental, dia tidak dapat menahan intensitas amarah suaminya.

Dia menjadi semakin gelisah di bawah tatapan tajam Adrian.

Tepat pada saat itu, ponsel Adrian berdering. Adrian mengeluarkan ponsel dari dalam saku dan mulai berjalan pergi.

"Adrian!"

Bab 3

Rasa frustrasi memenuhi hati Adrian. "Jika kakakmu membutuhkan uang, minta dia pergi ke Grup Miller."

"Bukan itu maksudku!" balas Joelle.

Pria itu telah salah paham.

Joelle bergegas mengejar Adrian dan jantungnya berdetak kencang. "Adrian, aku ingin bercerai!"

Mendengar pernyataan tersebut, Adrian menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang dan ponsel di tangannya berhenti berdering.

Tinggi pria itu hampir 190 cm dan dia menjulang di atas Joelle.

Tatapannya sangat dingin dan suaranya dipenuhi ejekan ketika berbicara. "Joelle, apa kamu tidak bisa menggunakan taktik yang lebih bagus ketika ingin menarik perhatianku? Jika kamu serius ingin bercerai, kenapa kamu tidak menyampaikan maksudmu pada Nenek? Jika kamu tidak serius, jangan pernah mengucapkan perkataan itu dari mulutmu!"

Pintu dibanting hingga menutup dan suaranya menggema di udara. Joelle bersandar ke dinding, kedua kakinya terasa lemas sehingga terjatuh ke lantai.

Tawa pahit lolos dari bibirnya.

Pernikahan mereka diatur oleh Irene. Joelle mengetahui bahwa Adrian terpaksa menikah dengannya.

Jika benar-benar ingin bercerai, dia tahu berbicara dengan Irene merupakan cara paling efektif.

Tapi sebagian kecil dari dirinya yang bodoh masih berharap bahwa dia dan Adrian merupakan pasangan yang saling mencintai.

Dia memutuskan membicarakan topik ini dengan Adrian karena menganggap pria itu sebagai suaminya.

Namun, dia melupakan sebuah detail penting, Adrian tidak pernah berniat menikahinya.

Rasa enggan Adrian terlihat jelas sejak awal, meski Joelle berusaha mengabaikannya. Perkataan pria itu seolah ingin menekankan bahwa meski dirinya ingin bercerai, Irene tidak akan mendengarkan permintaannya. Jika dia serius, dia seharusnya pergi untuk menyampaikan niatnya pada Irene secara langsung.

Joelle pergi mandi, mengenakan pakaian bersih dan bersiap-siap untuk mengunjungi Irene.

Irene adalah sosok yang tegas, berwibawa, dan ditakuti oleh seluruh anggota keluarga. Dia memerintah dengan tangan besi dan tidak akan menolerir anggota keluarga yang melanggar peraturan. Namun, Joelle memiliki ikatan yang unik dengannya.

Salah satu alasan Joelle setuju menikahi Adrian adalah untuk memenuhi harapan Irene. Dia ingin merawat Adrian, membangun keluarga, dan memastikan Irene meninggalkan dunia ini tanpa penyesalan.

Akan tapi, Joelle merasa dia tidak dapat bertahan lebih lama lagi.

Melihat Adrian memberikan banyak perhatian pada wanita lain membuat hati Joelle dipenuhi rasa pahit dan cemburu.

Dia tahu Adrian tidak pernah mencintainya. Pria itu tidak akan pernah mencintainya!

Tepat ketika Joelle hendak pergi, ponselnya berdering. Dia melihat nama Shawn di layar ponsel.

"Kak Shawn? Ada apa?"

"Nona Joelle!"

Suara asisten Shawn terdengar panik dan Joelle belum pernah mendengarnya sepanik ini.

Darahnya seolah membeku dan dia mempererat cengkeramannya pada ponsel saat dia berdiri di tangga.

"Di mana Kak Shawn? Apa terjadi sesuatu padanya?"

"Semalam Pak Shawn menghadiri pertemuan bisnis dan dia dipaksa minum hingga mabuk. Dia seharusnya pulang, tapi Erick Lloyd bersikeras membawanya ke sebuah pemandian air panas.

Joelle membeku dan amarah memenuhi hatinya. "Apa Erick tidak menyadari bahwa tindakannya dapat membunuh kakakku?"

"Erick merupakan orang yang tidak bertanggung jawab! Dia bersikap arogan karena ayah dan kakaknya bekerja sebagai sopir Keluarga Miller. Nona Joelle, sebaknya Anda segera ke rumah sakit! Pak Shawn sedang menjalani operasi dan dokter telah mengeluarkan dua pemberitahuan kondisi kritis. Maaf Nona, saya terpaksa menelepon Anda!"

Suaranya bergetar karena hampir menangis. Joelle tahu asisten Shawn tidak akan menelepon jika dia tidak putus asa.

Shawn selalu melindungi Joelle dari berita negatif, tidak peduli seberapa buruk situasinya. Jika asistennya terdengar putus asa seperti sekarang, nyawa Shawn pasti sedang terancam!

Joelle terdiam dan dia merasa lehernya tercekik sehingga tidak dapat bersuara.

Dia berjalan sambil melamun sehingga terpeleset dan pergelangan kakinya terkilir. Rasa sakit yang tajam membuat Joelle tersadar dan air mata segera membasahi wajahnya.

"Astaga! Nyonya Joelle, kenapa Anda tidak berhati-hati?"

Leah bergegas mendekat dan membantu Joelle untuk berdiri.

Joelle mencengkeram lengan Leah dan pandangannya kabur karena air mata. Dia mencoba berbicara, tapi suaranya terputus-putus di antara isak tangisnya.

"Kakakku ... aku harus pergi ke rumah sakit untuk menemuinya!"

Leah segera bertindak ketika mendengar suara panik Joelle. "Baiklah, jangan khawatir Nyonya. Saya akan memanggil sopir untuk mengantar Anda!"

Leah adalah seorang asisten rumah tangga yang dapat diandalkan dan memiliki banyak pengalaman setelah melayani Keluarga Miller selama bertahun-tahun. Dalam waktu 5 menit, mobil sudah menunggu di depan vila.

Saat Joelle hendak masuk ke mobil, dia menoleh ke arah Leah. "Tolong, jangan beri tahu Nenek mengenai hal ini. Aku tidak ingin membuatnya khawatir."

Hati Leah melunak setelah mendengar permintaan Joelle.

Bahkan dalam keadaan panik dan penuh air mata, Joelle masih memikirkan kesehatan Irene.

'Nyonya Joelle adalah wanita baik yang sangat langka!'

"Jangan khawatir, Nyonya Joelle. Saya tidak akan memberi tahu Nyonya Irene. Silakan pergi untuk menemui kakak Anda."

Ketika Joelle tiba di rumah sakit, Shawn baru saja dibawa keluar dari ruang operasi.

Melihat Shawn terhubung dengan beberapa selang infus dan kabel alat medis, asistennya hampir jatuh ke lantai.

Saat Joelle mendekat, dia mendapati asisten Shawn sedang bersandar ke dinding dengan mata yang sudah memerah dan tatapan yang terlihat kosong.

Dia menahan keinginan untuk memarahi asisten tersebut karena tidak melindungi Shawn dengan baik. Dia memutuskan akan membicarakan topik itu di lain waktu.

Setelah kondisi Shawn stabil, Joelle meminta asisten itu keluar dari bangsal untuk berbicara.

"Ceritakan padaku, kenapa Kak Shawn tiba-tiba terluka?"

Asisten itu tampak ragu-ragu dan wajahnya terlihat khawatir. "Nona Joelle, Pak Shawn secara khusus meminta kami untuk tidak melibatkan Anda dalam urusan bisnis."

"Kita sedang menghadapi situasi hidup dan mati. Apa kamu berniat menyembunyikan informasi dariku?"

Kesabaran Joelle hampir habis dan dia berbalik untuk pergi.

"Nona Joelle, tidak ada gunanya kita membicarakan masalah ini." Suara asisten itu agak bergetar karena putus asa. "Sejak ayah Anda meninggal, Pak Shawn mengambil alih tanggung jawab atas Grup Watson. Dia telah berjuang keras untuk menegakkan martabat keluarga agar hidup Anda di Keluarga Miller akan lebih mudah."

Selama tiga tahun terakhir, Shawn berjuang keras untuk mempertahankan keluarganya. Akan tetapi, perusahaan mereka pasti sudah hancur sejak lama jika tidak mendapat bantuan finansial dari Adrian.

Shawn berharap Joelle hidup dengan nyaman bersama Adrian, tapi meski telah berusaha keras, dia tidak mampu membuat Adrian menghormati adiknya. Tidak peduli seberapa besar pengorbanan Shawn, Keluarga Miller tidak akan menghargai Joelle.

Amarah Joelle membara, tapi wanita itu menyadari bahwa dia tidak dapat mengubah realita yang ada.

Dia menarik napas dalam-dalam, lalu berkata, "Apa dia tidak menyebutkan hubunganku dengan Adrian?"

Awalnya, Joelle berharap dapat membantu Shawn dengan cara berpihak pada Keluarga Miller.

"Pak Shawn menolak untuk menyebutkan hubungan kalian. Dia takut keadaan Anda di Keluarga Miller akan semakin sulit."

Joelle tertawa pahit.

Sejak awal, dia tidak pernah bisa berdiri di posisi yang sejajar dengan Adrian.

Tidak heran Adrian membencinya, terkadang Joelle hampir tidak bisa menoleransi dirinya sendiri.

Sekitar satu jam yang lalu, dia telah memutuskan untuk meminta cerai. Namun, sekarang dia mencoba menggunakan nama Adrian karena ingin membuat hidup Shawn lebih mudah.

"Katakan pada Kak Shawn bahwa aku adalah istri Adrian yang dipilih oleh Nenek. Selama aku masih menjadi istri Adrian, aku memiliki posisi di Keluarga Miller!"

Tiba-tiba, Joelle mendengar suara langkah kaki di belakangnya.

Joelle berbalik dan bertatapan dengan mata dingin Adrian.

Di samping pria itu berdiri seorang gadis berwajah lemah, mata lebarnya terlihat polos dan dia sedang memeluk lengan Adrian dengan erat.

Adrian memberikan tatapan dingin dan menghina ke arah Joelle, seolah merasa kesal jika menatapnya lebih lama.

Pria itu seolah mendapat pencerahan, ternyata Joelle tidak ingin bercerai.

Wanita yang beberapa saat lalu berbicara dengan tegas mengenai perceraian, sekarang tampak memamerkan posisinya sebagai menantu Keluarga Miller.

Ancaman Joelle untuk meminta cerai, merupakan sebuah taktik pertengkaran antar pasangan yang terbukti sebagai ancaman kosong.

Wanita licik ini sengaja membiusnya agar mereka menikah. 'Dia menggunakan taktik curang untuk menjebakku, mana mungkin dia meminta cerai dengan mudah?' Pernikahan tersebut merupakan penyelamat bagi keluarga Joelle yang berada dalam kesulitan finansial.

Setiap tahun, Adrian memberikan uang sebesar 200 miliar pada Grup Watson. Joelle pasti bodoh jika dia mengambil risiko kehilangan uang sebanyak itu dengan meminta cerai.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED