Aku lumpuh selama sepuluh tahun demi menyelamatkan tunanganku, Gunawan. Namun, yang kudapatkan sebagai balasannya adalah pengkhianatan paling menyakitkan.
Aku memergoki Gunawan berselingkuh dengan asisten pribadinya, Vivian, di ranjang kami.
Lebih parahnya lagi, adik kandungku sendiri, Keenan, yang selama ini kubiayai hidupnya, ternyata mengetahui segalanya. Dia menutupi perselingkuhan itu demi uang.
Aku adalah satu-satunya orang yang tidak tahu apa-apa, orang bodoh yang dibutakan oleh cinta dan kepercayaan.
Mereka pikir aku masih lumpuh dan tak berdaya, tak akan pernah tahu rahasia busuk mereka.
Tapi mereka salah. Aku sudah bisa berjalan. Dan aku melihat semuanya.
Tujuh tahun kemudian, aku kembali dari "kematian" dengan identitas baru sebagai Alena Kusuma, seorang investor kaya raya yang siap menghancurkan mereka semua.
Bab 1
"Aku butuh kau membantuku lenyap, Vic."
Suara itu keluar dari bibirku, hampa, nyaris tak bersuara, namun beratnya menekan seluruh jiwaku. Di seberang telepon, keheningan menyelimuti sejenak, membuat telingaku berdenging. Aku tahu kata-kataku mengejutkan Victoria. Aku bisa merasakan dia terkesiap, seolah napasnya tertahan di ujung sana. Pertanyaan itu menggantung di udara, pertanyaan yang tak terucap namun begitu jelas. 'Kenapa?'
Napas Victoria terdengar berat, seperti dia baru saja berlari maraton. "Apa maksudmu, Kinan? Lenyap? Kau sedang bicara apa?" Suaranya dipenuhi kekhawatiran yang tulus, dan itu adalah satu-satunya hal yang terasa nyata dalam kekacauan di hatiku ini. Dia adalah satu-satunya jangkar yang tersisa.
Aku memejamkan mata, merasakan sakit di dadaku seperti serpihan kaca yang tak terhitung jumlahnya mengoyak-ngoyak dagingku. Rasanya seperti ada tangan dingin yang meremas jantungku hingga tak berbentuk. Setiap detak adalah siksaan. Kekecewaan itu, rasa sakit itu, jauh lebih buruk dari semua rasa sakit fisik yang pernah kualami selama sepuluh tahun ini. Itu adalah jenis rasa sakit yang membakar jiwaku sampai hangus, meninggalkan abu. Gunawan, orang yang kucintai lebih dari segalanya. Keenan, adikku sendiri, darah dagingku. Mereka berdua. Mereka menghancurkanku.
"Aku melihatnya, Vic," bisikku, suaraku tercekat. "Aku melihat Gunawan dengan Vivian. Di apartemen kami. Di tempat tidur kami." Setiap kata adalah tusukan baru. "Dan kau tahu apa yang paling menyakitkan? Keenan tahu. Dia tahu semuanya. Dia menutupi ini dariku." Bibirku bergetar. Aku bisa merasakan air mataku mendidih di balik kelopak mata, tapi aku menolak membiarkannya jatuh. Tidak lagi. Aku tidak akan menangis untuk mereka.
Keheningan kembali menyergap, kali ini lebih panjang. Aku tahu Victoria sedang memproses informasi ini. Aku tahu dia marah. Aku tahu dia juga terluka untukku. Dia selalu menjadi perisai bagiku.
"Kinan... astaga," kata Victoria akhirnya, suaranya sarat kemarahan dan kesedihan. "Bagaimana bisa? Bajingan itu! Dan Keenan... aku tidak percaya dia bisa melakukan ini padamu."
Aku menarik napas dalam, bau pengkhianatan memenuhi setiap sudut paru-paruku. "Aku ingin menghilang, Vic. Aku ingin mati. Tapi tidak sungguh-sungguh mati. Aku ingin mereka berpikir aku sudah mati. Aku ingin mereka merasakannya. Aku ingin mereka hancur. Aku ingin balas dendam." Suaraku berubah menjadi dingin, seperti es. Emosi yang membara kini mengeras menjadi tekad yang tajam.
Victoria tidak ragu sama sekali. "Baiklah. Kalau itu yang kau inginkan, kita akan melakukannya. Aku akan membantumu. Aku akan membuat mereka semua membayar. Katakan padaku apa yang harus kulakukan." Kesetiaannya adalah satu-satunya cahaya dalam kegelapan ini. Aku tahu dia akan melakukan apa saja untukku.
"Aku ingin kecelakaan," kataku, mataku menatap kosong ke dinding putih di depanku. "Kecelakaan yang meyakinkan. Yang membuat mereka berpikir aku bunuh diri. Tapi aku tidak akan mati."
"Oke," kata Victoria tegas. "Aku punya beberapa ide. Kakakku, Benny, dia punya banyak koneksi di luar negeri. Dia bisa membantumu memulai hidup baru. Tapi ini harus direncanakan dengan sangat hati-hati. Kau harus menghilang tanpa jejak."
Tiba-tiba, aku mendengar suara langkah kaki mendekat di koridor. Jantungku berdebar kencang. Itu suara langkah Gunawan. Aku sudah mengenalnya selama hampir dua belas tahun. Aku tahu setiap langkahnya.
"Vic, aku harus pergi," bisikku panik. "Dia datang."
"Oke, aku akan segera menghubungimu lagi. Jangan lakukan apa-apa sendirian," kata Victoria dengan nada mendesak. "Aku mencintaimu, Kinan."
"Aku juga mencintaimu," kataku, lalu segera memutus panggilan. Aku buru-buru menyembunyikan ponselku di bawah bantal tepat saat pintu kamarku terbuka.
Gunawan Purwadji berdiri di ambang pintu, senyum tipis terukir di bibirnya. Senyum yang kini terasa seperti topeng. Dia mendekatiku, aroma parfumnya yang mahal bercampur dengan sesuatu yang asing, sesuatu yang Vivian. Jantungku berdesir jijik. Dia membungkuk, mencium keningku dengan lembut, sebuah sentuhan yang dulu membuatku merasa aman, kini hanya memicu rasa mual.
"Sayang, maafkan aku," katanya, suaranya lembut, penuh penyesalan palsu. "Aku tahu aku tidak seharusnya pergi saat kau baru saja pulih. Tapi pekerjaan. Kau tahu sendiri."
Aku mengangguk, menjaga ekspresiku tetap datar. Aku tidak bisa membiarkannya melihat apa-apa. Senyumku terasa seperti menarik otot-otot wajahku hingga sobek. "Tidak apa-apa, Gunawan. Aku mengerti."
"Bagaimana perasaanmu hari ini? Sudah mencoba berjalan lagi?" Dia bertanya, membelai pipiku. Tangannya terasa hangat, tapi aku hanya merasakan dinginnya pengkhianatan. Aku mendapati diriku memutar otak, mengingat semua yang terjadi.
Sepuluh tahun yang lalu, aku, Kinan Faisal, seorang desainer interior yang penuh semangat dan ambisi, kehilangan segalanya dalam sekejap. Kobaran api di proyek konstruksi Gunawan, tunanganku. Aku berlari masuk tanpa berpikir dua kali, hanya untuk menyelamatkannya. Aku berhasil. Tapi api itu merenggut kakiku, merenggut kemampuanku untuk berjalan.
Dia berjanji akan merawatku seumur hidup. Dia membangun pusat rehabilitasi tercanggih. Dia tampak seperti pahlawan, pria paling setia di dunia. Masyarakat memujinya. Aku mencintainya tanpa syarat.
Rehabilitasi itu adalah neraka yang panjang. Sepuluh tahun. Sepuluh tahun aku hidup dengan kursi roda, dengan rasa sakit yang tak berkesudahan, dengan harapan yang kadang pudar. Ada saat-saat aku ingin menyerah, ingin mengakhiri semuanya. Tapi Gunawan memegang tanganku. "Kau harus kuat, sayang. Aku bersamamu. Kita akan melewati ini bersama. Untuk masa depan kita. Untuk Keenan."
Keenan. Adikku. Aku membiayai sekolahnya, hidupnya. Dia adalah alasan lain aku bertahan. Aku ingin melihatnya sukses, melihatnya bahagia. Aku ingin dia bangga padaku.
Dan akhirnya, setelah satu dekade penderitaan, keajaiban itu datang. Aku bisa berjalan lagi. Langkah pertamaku adalah air mata kebahagiaan. Aku ingin memberinya kejutan. Aku ingin menunjukkan padanya bahwa semua pengorbanannya tidak sia-sia. Aku berjalan ke apartemen kami, dengan senyum lebar di wajahku, memegang buket bunga yang baru kubeli.
Tapi yang kudapatkan bukanlah kebahagiaan atau perayaan. Yang kudapatkan adalah neraka. Suara-suara desahan dari kamar tidur kami. Pintu yang sedikit terbuka. Dan kemudian, pemandangan yang menghancurkan. Gunawan, telanjang, di atas Vivian, asisten pribadinya. Di tempat tidur kami. Seluruh dunia yang kubangun runtuh dalam sekejap.
Pakaian berserakan di lantai, aroma manis yang memuakkan dari gairah mereka memenuhi udara. Mereka tidak tahu aku ada di sana. Vivian tertawa manja, memanggil Gunawan dengan panggilan sayang. Gunawan mencium lehernya, tangan posesif di pinggul Vivian. Aku melihat noda merah di leher Vivian yang bukan miliknya. Itu adalah noda lipstikku, yang aku pakai sebelumnya. Mereka telah melakukan ini berulang kali. Bukan sekali atau dua kali.
Seluruh tubuhku bergetar. Kakiku, yang baru saja pulih, terasa lemas. Aku ingin berteriak, ingin menghancurkan segalanya. Tapi tidak ada suara yang keluar. Hanya keheningan yang mematikan. Aku mundur perlahan, jantungku hancur berkeping-keping. Aku menyesali setiap langkah yang telah kucoba. Aku menyesali kesembuhanku. Aku menyesali segalanya.
Aku tidak tahu bagaimana aku bisa kembali ke kamar. Kaki-kakiku terasa seperti jeli. Aku hanya ingin lari. Jauh sekali. Aku ingin menghilang.
Sejak hari itu, Vivian menjadi semakin berani. Dia sering datang ke apartemen, bahkan ketika Gunawan tidak ada. Dia dengan santainya menggunakan barang-barangku. Mengapa aku harus diam? Karena aku melihat Keenan, adikku, berbicara dengannya, tertawa dengannya. Dia tahu. Dia tahu perselingkuhan ini. Dia menerima uang dari Gunawan, dari Vivian, agar dia tetap tutup mulut.
Aku bahkan mendengar Keenan memanggil Vivian dengan sebutan 'Kakak ipar'. Sejak kapan? Aku adalah satu-satunya yang seharusnya dipanggil seperti itu. Aku adalah orang yang mengorbankan segalanya untuknya. Aku adalah kakaknya.
Aku adalah satu-satunya yang tidak tahu. Aku adalah orang bodoh yang buta, yang mempercayai semua orang.
Gunawan mendekat, tangannya masih di pipiku. Aku merasakan sentuhan Vivian pada bibirnya, sentuhannya di tubuhnya, sentuhan Vivian di mana-mana. Rasa mual itu kembali, lebih kuat. Aku menyingkirkan tangannya dengan jijik.
"Aku hanya... sedikit lelah," kataku, suaraku masih setenang mungkin. "Kurasa aku perlu istirahat."
Gunawan mengerutkan kening, sedikit kaget dengan penolakanku. Dia tidak pernah menyangka aku akan menolaknya. "Tentu, sayang. Kau harus istirahat. Aku akan pergi bekerja. Ada pertemuan penting malam ini. Mungkin aku akan pulang larut."
Dia mencium keningku lagi, tergesa-gesa. Kali ini aku menahan mualku. Aku menatap punggungnya saat dia berjalan keluar dari kamarku, senyum tipis di wajahnya. Senyum itu. Dulu itu adalah senyum yang paling kuinginkan di dunia. Sekarang, itu adalah senyum iblis yang mengejekku.
Semua kenangan indah kami, ciumannya, janjinya, semua itu kini terasa seperti kebohongan yang kejam. Aku dulu percaya pada cinta kami. Sekarang, aku tidak percaya pada apa pun.
Aku harus pergi. Aku harus menghilang. Dan ketika aku kembali, aku akan menghancurkan mereka semua. Satu per satu.
Gunawan selalu memiliki cara untuk membuat segalanya terdengar begitu indah, bahkan ketika dia sedang berbohong. Dia bilang dia mencintaiku, bahwa dia berkorban untukku, bahwa pekerjaannya adalah untuk masa depan kami. Semua itu terdengar seperti racun manis yang dulu kuminum habis-habisan. Sekarang, setiap kata terasa seperti asam yang membakar tenggorokanku.
"Aku akan membantumu ke kamar mandi, sayang," katanya dengan suara lembut, tangannya terulur padaku. Aku menatap tangannya, jari-jarinya yang panjang dan ramping, jari-jari yang baru saja membelai tubuh Vivian. Rasa mual itu kembali menghantamku, lebih kuat dari sebelumnya. Perutku bergejolak. Aku merasa seperti akan muntah saat itu juga.
Aku mengabaikan tangannya, berjuang untuk berdiri sendiri. Kakiku masih terasa gemetar, bukan karena kelemahan fisik, tetapi karena jijik yang membakar dalam diriku. Aku tidak bisa membiarkannya menyentuhku. Tidak lagi. Sentuhannya kini terasa seperti kotoran yang membekas.
"Tidak perlu," kataku dingin, suaraku serak. "Aku bisa melakukannya sendiri." Aku melihat sekilas ekspresi terkejut di wajah Gunawan, namun dengan cepat dia menyembunyikannya di balik senyum palsu.
Saat Gunawan membantuku keluar dari kamar mandi, Vivian sudah duduk di meja makan, dengan santainya menyeruput kopinya. Keenan duduk di seberangnya, tersenyum dan mengobrol dengannya. Pemandangan itu menusuk hatiku. Adikku sendiri. Adik yang kubiayai kuliahnya, yang kubiayai hidupnya, kini bersekongkol dengan mereka. Keenan bahkan menawarkan roti panggang kepada Vivian, "Kakak ipar, mau roti panggang lagi?"
Apartemen kami, yang dulunya adalah sarang cinta kami, kini terasa seperti medan perang yang dingin. Tempatku di meja makan, di ujung, terasa terasing. Vivian duduk di sisi Gunawan, seolah dia adalah nyonya rumah. Dia bahkan mengatur piring dan gelas, memberikan Gunawan handuk basah untuk mengelap tangannya, seolah aku tidak ada di sana. Gunawan tersenyum padanya, senyum yang seharusnya ditujukan padaku.
Keenan, yang biasanya sibuk dengan ponselnya saat makan, kini fokus pada Vivian. Dia menawarkan Vivian jus, mengambilkan piring, bahkan membersihkan remah-remah di dekatnya. Hatiku berdarah. Aku melihat Vivian melirikku, senyum sinis tersungging di bibirnya. Ada kilatan kemenangan di matanya, dan sedikit rasa jijik. Seolah dia merendahkanku. Aku tidak bisa makan. Setiap suapan terasa seperti pasir. Perutku bergejolak.
Gunawan berbicara tentang proyek barunya, tentang bagaimana Vivian sangat membantunya. Vivian tertawa, suaranya melengking. Gunawan memegang tangannya di bawah meja, aku melihatnya. Tangan mereka menyatu, saling mengelus. Hatiku mencelos. Aku merasa mual. Mual yang tak tertahankan.
Aku berdiri tiba-tiba, kursi berderit keras. "Aku tidak bisa makan," kataku, suaraku nyaris tak terdengar. Aku merasakan isi perutku mendesak naik ke tenggorokan.
"Kinan, ada apa?" tanya Gunawan, pura-pura khawatir.
Aku tidak menjawab. Aku berlari menuju kamar mandi, tidak peduli dengan siapa pun. Aku membungkuk di atas kloset, isi perutku memuntah ruah. Rasanya pahit, asam, dan menjijikkan. Lebih menjijikkan daripada pemandangan yang kulihat di kamar tidur kami.
Keenan datang, menepuk punggungku dengan canggung. "Kak, kau baik-baik saja?" tanyanya. Suaranya terdengar ragu, seperti dia tidak yakin harus berpihak pada siapa.
Gunawan masuk, dengan wajah khawatir yang berlebihan. "Sayang, ada apa? Apa yang sakit?" Dia mencoba menyentuh keningku, tapi aku menyingkirkan tangannya dengan jijik.
"Jangan sentuh aku!" bentakku, suaraku tajam seperti pisau. Aku menatapnya dengan mata penuh kebencian. "Aku tidak mau kau menyentuhku!"
Gunawan terkejut. "Kinan, ada apa denganmu? Kau sakit?" Dia masih belum mengerti. Dia masih berpikir aku bodoh, buta, dan tuli.
"Aku hanya... tidak enak badan," kataku, suaraku kembali normal. Aku tidak akan membiarkan mereka melihat kemarahanku. Aku tidak akan membiarkan mereka tahu bahwa aku tahu. Aku akan membersihkan kekacauan ini sendiri. Aku tidak butuh bantuan mereka.
Aku membasuh mulutku, merasakan air dingin mengalir di kerongkonganku. Air itu tidak bisa memadamkan api di hatiku. Aku teringat beberapa hari yang lalu, saat aku mencoba bertanya pada Gunawan tentang Vivian.
"Gunawan, apa hubunganmu dengan Vivian?" tanyaku lembut saat itu, mencoba menjaga suaraku agar tidak bergetar.
Dia tertawa, senyumnya meremehkan. "Vivian? Dia hanya asisten bodohku. Kau tahu, dia selalu berusaha mendekatiku. Tapi aku hanya mencintaimu, Sayang." Dia memelukku erat, dan aku merasakan kebohongannya menembus kulitku.
Aku menatap pantulan diriku di cermin. Wajahku pucat, mataku cekung. Rambutku kusam. Sepuluh tahun di kursi roda telah merenggut pesonaku. Aku dulu seorang desainer interior yang aktif, bersemangat. Kini, aku hanyalah bayangan dari diriku yang dulu. Apakah itu alasannya? Apakah aku tidak cukup baik lagi?
Aku teringat janjinya. "Aku akan selalu mencintaimu, Kinan. Apa pun yang terjadi." Dia pernah mengucapkan kalimat itu di altar, di hari pertunangan kami. Dia pernah mengucapkannya saat aku terbaring tak berdaya di rumah sakit, setelah kebakaran.
Dia pernah merawatku dengan penuh kesabaran. Dia memijat kakiku yang mati rasa, menyuapiku makan, membacakan buku untukku. Dia adalah duniaku. Setiap malam, dia akan tidur di sofa di samping tempat tidurku, hanya untuk memastikan aku baik-baik saja. Dia akan terbangun setiap kali aku mengerang kesakitan, dan dia akan memberiku obat penenang, memelukku sampai aku tertidur lagi.
Apa yang terjadi dengan cinta itu? Apakah itu semua hanya sandiwara? Apakah dia hanya merasa terbebani, terperangkap oleh janjinya?
Kini aku tahu. Dia tidak pernah mencintaiku. Dia hanya merasa bertanggung jawab. Dan Vivian, dia mengambil keuntungan dari itu. Aku tidak akan membiarkan ini. Aku tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja.
Setelah muntah, aku kembali ke kamar mandi, membersihkan diri dengan saksama. Aku menyiram wajahku dengan air dingin, mencoba memadamkan api yang berkobar di dalam diriku. Ketika aku keluar, Gunawan sudah menungguku di dekat pintu kamar, ekspresinya masih pura-pura khawatir.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya, suaranya terlalu lembut. Dia mencoba memegang tanganku, tapi aku menariknya menjauh dengan cepat. Aku tidak bisa menahan sentuhannya. Dia hanya akan menambah rasa jijikku.
"Sudah kubilang, aku baik-baik saja. Mungkin hanya masuk angin," jawabku, mencoba terdengar meyakinkan. Aku harus berhati-hati. Aku tidak bisa membiarkannya curiga.
Gunawan mengangguk, ekspresi wajahnya sedikit lega. Dia mengambil ponselnya dari saku, dan aku melihat sekilas layar yang menyala. Ada pesan dari Vivian. "Sudah tidur?" Begitu tulisnya. Jantungku berdetak kencang. Wajah Gunawan menunjukkan senyum tipis yang tak bisa disembunyikan. Senyum itu. Senyum yang sama seperti saat dia melihat Vivian saat mereka...
Dia membalas pesan itu dengan cepat, jemarinya lincah di layar. "Belum. Dia sudah mengantuk. Aku akan menemuimu begitu dia tidur." Begitu tulisnya.
Aku merasakan tinjuku mengepal, kuku-kukuku menusuk telapak tanganku. Rasanya seperti ribuan jarum menusuk-nusuk. Tapi aku menahan diri. Aku harus tetap tenang.
Tak lama kemudian, ada pesan balasan dari Vivian, kali ini lebih mendesak. "Cepatlah. Aku sudah menunggumu, Gunawan. Kau tahu aku tidak bisa tidur tanpamu." Dan tambahan, "Jangan lupa dia lumpuh. Dia tidak akan tahu apa-apa."
Gunawan tersenyum lagi, senyum jijik itu terpampang jelas. Dia menyimpan ponselnya dan menghampiriku. Dia membungkuk, mencoba mencium bibirku. Aku dengan cepat memalingkan wajahku, membiarkan ciumannya mendarat di pipiku.
"Aku harus pergi. Ada urusan pekerjaan yang mendesak," katanya, suaranya tergesa-gesa. "Kau tidur saja. Jangan menungguku."
Aku mengangguk. "Hati-hati," kataku, bibirku terasa kaku.
Dia pergi, langkahnya cepat dan ringan. Dia tidak tahu bahwa aku bisa berjalan lagi. Dia pikir aku masih terperangkap di kursi roda, buta dan tidak berdaya. Dia pikir aku tidak akan tahu apa-apa. Ironis sekali.
Setelah Gunawan pergi, aku menunggu beberapa saat, memastikan dia benar-benar sudah keluar dari apartemen. Aku mendengar pintu apartemen tertutup. Keheningan menyelimuti. Aku mendengar langkah kakinya menjauh di koridor. Lalu, keheningan yang lain. Keheningan yang menakutkan. Aku tahu dia akan kembali. Dia akan kembali ke pelukan Vivian.
Aku keluar dari kamar, langkahku pelan dan hati-hati. Aku mendengar suara-suara samar dari ruang tamu. Suara Gunawan dan Vivian. Mereka tidak menyadari bahwa aku ada di sini, bahwa aku bisa mendengar semuanya.
"Kau sudah membuatku menunggu lama, Gunawan," terdengar suara Vivian, nadanya manja dan sedikit merajuk.
"Maaf, sayang. Kau tahu aku harus memastikan dia tidur dulu," kata Gunawan, suaranya rendah dan penuh gairah.
Jantungku berdebar kencang. Aku mengintip dari balik dinding. Dan kemudian aku melihatnya. Pemandangan yang sama seperti beberapa hari yang lalu, namun kali ini lebih menjijikkan karena aku tahu ini bukan kali pertama. Vivian duduk di pangkuan Gunawan, tangannya melingkari leher Gunawan. Gunawan mencium lehernya, bibirnya bergerak ke bawah, ke belahan dadanya. Pakaian mereka sudah berserakan di lantai. Baju Gunawan, kemejanya yang baru saja dia pakai, kini tergeletak di lantai. Ada botol wine kosong di meja, dan beberapa lilin menyala. Ini adalah ritual mereka. Ini bukan perselingkuhan sesaat. Ini adalah hubungan yang sudah lama terjalin.
Vivian tersenyum, matanya tertutup. Dia terlihat sangat bahagia. Terlalu bahagia. Dan Gunawan, dia tampak begitu... puas.
Aku merasakan duniaku runtuh lagi. Bukan hanya dia berselingkuh, tapi dia membawa wanita itu ke rumah kami, ke apartemen kami. Dia membagi malamnya antara aku dan Vivian. Dia membuatku merasa seperti orang bodoh. Dia membuatku merasa tidak berharga.
Aku mundur perlahan, hatiku hancur berkeping-keping. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa menahan semua ini. Aku merasakan air mata mengalir di pipiku, tapi aku tidak mengeluarkan suara. Aku tidak akan membiarkan mereka mendengar tangisanku. Mereka tidak pantas mendapatkannya.
Tiba-tiba, Keenan muncul dari kamarnya, matanya terbelalak melihat pemandangan itu. Dia melihatku, dan kemudian melihat Gunawan dan Vivian. Dia terkesiap pelan.
"Kak Kinan?" bisiknya, suaranya penuh rasa bersalah.
Gunawan dan Vivian terkejut, mereka segera menjauh satu sama lain. Gunawan memandangku dengan wajah panik, matanya melebar. Dia mencoba menutupi tubuh Vivian dengan jaketnya. Vivian dengan cepat menundukkan kepalanya, wajahnya merah padam.
"Kinan! Sayang, ada apa? Kenapa kau belum tidur?" Gunawan berdiri, mencoba mendekatiku.
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya, mataku penuh kebencian. Hatiku berteriak, tapi aku tidak bisa mengeluarkan suara. Aku menekan dadaku, mencoba meredakan rasa sakit yang membakar di sana. Tanganku gemetar. Aku berpura-pura terhuyung, seolah kakiku masih lemah.
"Kakiku... kakiku sakit," kataku, suaraku bergetar. Aku menatap Keenan, mataku memohon. Dia sepertinya mengerti.
Gunawan berhenti. Ekspresi paniknya sedikit mereda, digantikan oleh kekhawatiran. "Oh, sayang. Maafkan aku. Aku terlalu sibuk bekerja, aku lupa kau butuh istirahat." Dia mendekatiku, mencoba memegang tanganku. "Ayo, aku antar kau kembali ke kamar."
Aku mengangguk, membiarkannya membimbingku. Aku tidak mencintai Gunawan lagi. Yang ada hanyalah rasa jijik dan benci. Dia tidak tahu bahwa aku bisa berjalan. Dia tidak tahu bahwa aku melihat semuanya.
Dia membantuku kembali ke kamar, menidurkanku di tempat tidur. "Kau tidur saja," katanya, mencium keningku. "Aku akan pergi. Aku ada pekerjaan yang harus kuselesaikan."
Aku menutup mata, berpura-pura tidur. Aku mendengar langkahnya menjauh. Aku mendengar dia berbicara dengan Vivian di luar.
"Kau bodoh! Bagaimana kalau dia melihat kita?" Gunawan berbisik tajam.
"Aku tidak tahu dia akan keluar! Lagipula, dia kan lumpuh. Dia tidak akan bisa melihat apa-apa," jawab Vivian, suaranya sedikit merajuk. Lalu dia menambahkan, dengan nada menggoda, "Tapi kau tahu, aku suka saat kau marah. Itu membuatku semakin bergairah."
Aku mendengar suara desahan dari luar. Aku membuka mataku, menatap kegelapan. Air mataku mengalir tanpa suara, membasahi bantal. Dingin. Hatiku juga terasa dingin, membeku. Aku tidak akan pernah memaafkan mereka.
Malam ini, aku bersumpah. Aku akan membuat mereka membayar. Aku akan menghancurkan mereka.