Bab 1

Seorang lelaki masih enggan beranjak dari tempatnya berbaring. Tangannya terulur memeluk gundukan tanah yang mulai ditumbuhi rumput liar. Mata bengkaknya terdapat lingkar hitam efek tidur beberapa jam dalam sehari selama dua minggu. Bahkan ada hari di mana ia tidak terlelap barang sedetik pun. Tubuhnya terlihat kurus dengan kaos oblong pendek dan celana kolor.

"Mas, udah mau malem. Nanti dicariin." Sudah sekian kali lelaki tua penjaga makam menyuruhnya pulang. Namun, si lelaki kurus tetap bergeming.

Penjaga makam menatapnya iba. Dua minggu lalu, ia melihat jelas bagaimana si kurus berteriak memanggil nama yang ada di batu nisan. Memeluk tanah basah dengan bibir terus bergumam, kemudian menangis tanpa suara.

"Enggak ada yang bakal nyari saya, Pak. Yang suka nyariin saya aja di sini, kok," sahut si lelaki kurus.

Tahu rasanya ditinggalkan, penjaga makam duduk di dekat kepala si kurus. "Sayangnya, dia sudah tidak bisa memarahi kamu lagi. Iya, 'kan?"

Si kurus menghentikan tangannya mengelus tanah. Ditatapnya batu nisan seolah ia tengah menyampaikan perasaan sesal yang mendalam. Air matanya jatuh lagi. "Maaf ... maafin gue yang bego ini."

Lelaki tua di sampingnya ikut menitikkan air mata, kemudian jemari keriputnya menggenggam lembut tangan si kurus. "Melihat rasa sayang kamu yang sebesar ini, saya yakin dia sudah memaafkan kamu."

Si kurus pun bangkit, duduk menyila dengan bahu bergetar. "Apa kesalahan saya masih bisa dimaafkan, Pak? Dia yang menyelamatkan saya, dia yang membuat hidup saya berwarna, tapi yang saya lakukan ... saya membunuhnya, Pak."

Lelaki berwajah keriput menyibak rambut kumal si kurus. Tiupan angin menguarkan bau tidak sedap dari sana. Bibir hitamnya tersenyum pilu. Sudah berapa hari laki-laki ini tidak keramas?

"Sudah aku bilang, bukan kamu yang membunuhnya!"

Dari belakang, seorang wanita cantik dengan pakaian serba hitam menyentak dua lelaki itu. Penjaga makam langsung menoleh, tetapi tidak dengan si kurus berkaos oblong. Sepertinya, tanpa menoleh dia sudah mengenali pemilik suara tadi.

"Kamu harus pulang!" ucap wanita tersebut setelah berada di sebelah si kurus. Namun, si kurus tak bergerak. Menoleh pun tidak. Matanya hanya menatap batu nisan kosong.

"Iya, Mas. Pulang. Meski enggak ada yang nyari, seenggaknya Mas kasihan sama tubuh sendiri." Penjaga makam ikut membujuk.

"Yang pantas disalahkan atas kematian dia itu aku. Jadi, tolong berhenti siksa diri kamu sendiri," ujar si wanita lagi.

Tanpa disangka, lelaki kurus itu berdiri, menatap mata si wanita. "Iya. Semuanya memang salah lo," ucapnya. "Kalau aja lo enggak egois, sekarang dia masih ada sama gue."

Pak tua penjaga makam ingin melerai karena langit mulai gelap dan burung hantu mulai bernyanyi di naungan pohon kantil. Namun, si wanita sudah lebih dulu bersimpuh di hadapan si kurus, bersimbah air mata.

"Iya. Salahkan semuanya ke aku. Sekarang, silakan kamu pulang." Sang wanita menyeka butiran bening di wajahnya sebentar. "Karena aku yakin, dia enggak mau orang yang paling dia sayangi, orang yang paling dia banggakan sakit. Jadi, tolong, pulang. Biarin dia tenang."

Si kurus menekuk lutut, mengusap ukiran nama di batu nisan. Lirih, ia berkata, "Maaf ... maafin gue yang bego ini."

Terik Satu

Di tengah kebisingan ibu kota, Sam berlari mengendap-endap dari gang sempit satu ke gang sempit lainnya. Tidak jauh di belakangnya, tiga orang polisi terus mengejarnya. Napas lelaki itu mulai tersengal, keringat membanjiri kaos hitam polosnya. Mata gelapnya memindai setiap tempat yang ia lalui, mulai dari tong sampah, sela-sela rumah, selokan tidak ada satu pun tempat yang bisa ia jadikan persembunyian. Sungguh, ia tidak kuat berlari lebih jauh lagi.

Lelaki kurus itu berhenti sejenak, memegang lutut sembari mengatur napas dan debar jantungnya yang jelas terdengar. Rasa ingin menyerahkan diri tiba-tiba terbersit di otaknya. Namun, sisi otaknya yang lain menampilkan wajah seorang pemuda mengangkat piala dan menyentaknya dari keputusasaan.

Bunyi sepatu dan teriakan di belakang memacu semangat Sam untuk berlari lagi menuju belokan gang yang lebih sempit dan gelap. Siapa sangka, gang gelap itu membawanya pada rumah kecil yang sekitarnya ditumbuhi rumput liar. Pintu rumah itu sedikit terbuka, memperlihatkan ruangan tanpa pendar cahaya.

Sam menoleh ke belakang sekilas untuk memastikan polisi-polisi tadi belum melihatnya. Segera, ia memasuki rumah itu, lalu menutup pintu dan menyandarkan diri di sana.

Menunggu situasi aman, Sam menyalakan ponsel. Ada dua pesan masuk. Satu dari keponakannya dan yang satu dari Galih, rekan sekaligus atasannya. Belum sempat membaca isi pesan tersebut, derap langkah kaki di luar membuatnya menempelkan layar ponsel ke perutnya, jaga-jaga kalau cahaya ponselnya bisa terlihat dari luar.

"Perasaan tadi nggak dikunci, deh."

Sam meneguk ludah, antara lega dan takut. Bukan suara maskulin lelaki, tetapi suara perempuan dan ia cukup yakin kalau perempuan itulah si pemilik rumah tidak terawat ini. Bisa jadi ketika ia keluar nanti, si perempuan mengiranya maling lalu melaporkannya ke polisi, tetapi, menunggu pintu didobrok bukan pilihan tepat.

Sam menggigit bibir bimbang. "Polisinya masih ada, Mbak?"

Pintu langsung didorong kuat hingga Sam nyaris terjengkang ke lantai. Setelahnya si perempuan meraih sakelar di dinding, menyalakan lampu.

Lidah Sam mendadak kelu, tidak menyangka rumah kecil, tersembunyi, dan tidak terawat ini dihuni seorang bidadari bertubuh mungil dengan rambut panjang bergelombang. Mata bulatnya melotot marah, tapi menggemaskan. Hidung mancungnya kembang kempis, tapi tidak sedikit pun mengurangi kecantikannya. Lalu bibir merah muda—

"Siapa kamu?!" gertak sang gadis mengalihkan fokus Sam.

"Maaf, Mbak. Saya cuma numpang sembunyi—"

"Polis—"

Sam membekap mulut gadis mungil tersebut sebelum benar-benar berteriak. "Gue enggak ambil apa pun di rumah lo. Kalau sampai lo panggil polisi, nyawa lo yang bakal melayang sebelum mereka datang," ancamnya.

Sedikit ketakutan, gadis itu mengangguk, dan Sam melepaskannya. "Saya cuma takut kamu penjahat," cicitnya.

"Gue bisa jadi penjahat beneran kalau lo teriak tadi." Sam kembali menilik ponselnya, membaca pesan yang sudah bertambah meski dari pengirim yang sama. "Lo ada minum nggak? Gue haus."

"Enggak. Rumah ini enggak ada apa-apanya."

Sam menghela napas seraya mengetik balasan untuk dua orang yang mengirimnya pesan. Pandangannya tertuju pada kantong plastik hitam di tangan sang bidadari.

"Terus itu apa?"

Seperti barang berharga, gadis itu langsung menyembunyikan plastik tersebut di balik punggungnya.

Sam mencebik, tidak lagi peduli pada rasa hausnya. Ia memilih duduk di kursi kayu tidak jauh dari tempatnya berdiri, fokus pada ponselnya. Sementara itu, si pemilik rumah menatapnya heran.

"Ngapain masih di situ!"

"Capek, abis lari-lari," jawab Sam santai tanpa mengalihkan tatapan dari ponsel.

Gadis itu berdecak, sedangkan Sam berdeham, membiarkan si tubuh ramping berlalu masuk ke salah satu ruangan di sana. Ia melongok ke luar, sepertinya polisi tadi tidak mampu mengetahui keberadaanya.

Satu panggilan masuk dari keponakannya. "Halo, Di?"

"Lo di mana? Kok, belum pulang?"

Sam mengingat sebentar tempatnya bertransaksi tadi. "Kebon Melati," jawabnya. "Mau pesen apa?"

"Milkita aja, deh."

"Buku gambar? Pensil? Alat tulis lain?"

Sudah hampir sebulan Renaldi tidak pernah meminta alat-alat menggambar lagi. Walau usianya sudah remaja, keponakannya itu suka menggambar sketsa dan gambar-gambar unik lainnya. Sam tidak melarangnya. Lagi pula, kegiatan tersebut untuk mengisi waktu luang Renaldi selama setahun ini lantaran berhenti sekolah.

"Um ... boleh, deh."

Senyum Sam mengembang teringat sesuatu. "Gue tadi digaji banyak. Besok lo bisa sekolah lagi."

Tidak ada sahutan dari seberang.

"Di?"

"Gue mau boker. Jangan lupa Milkitanya."

Usai pangggilan ditutup, Sam meletakkan ponselnya di meja, kemudian mengecek tas selempangnya. Melihat amplop tebal di sana, bayangan hal-hal apa yang ingin ia lakukan menari-nari di benaknya. Mendaftarkan sekolah Renaldi, membelikan seragam baru, tas, dan ponsel yang lebih memadai untuk menunjang belajar Renaldi di sekolah barunya nanti.

Sam menyandarkan punggung, menikmati euforia yang melambung. Tabungannya sudah cukup untuk membeli motor juga, tapi ia harus tetap berhemat karena tidak selalu mendapat panggilan untuk mengantar barang. Sekolah tempat Renaldi mendaftar besok, bukan sekolah yang sebulan cukup dengan uang satu jutaan. Jadi, Sam harus tetap menghemat.

Malam kian dingin. Sam merapatkan jaket hitamnya siap keluar dari rumah kecil penuh debu ini. Bangkit dari kursi, lelaki itu menuju ruangan yang tadi dimasuki sang pemilik rumah. Baru hendak mengetuk pintu ruangan di depannya, ponselnya bergetar lagi. Kali ini bukan dari Renaldi, melainkan Galih, atasannya.

"Sam, lo aman, 'kan?"

"Aman. Kenapa?"

"Udah dibayar sama si crazy rich?"

"Udah. Kenapa, sih?"

Galih terdengar mengembuskan napas. "Itu gaji terakhir lo."

Sam mengerjap. "Hah? Gimana?"

"Gue mau berhenti jadi bandar, Sam. Dan lo enggak perlu jadi kurir lagi."

"Jangan ngada-ngada, Lih. Kalau enggak jadi kurir gue kerja apa?"

"Gue mau pulkam. Jadi, gue serius, Sam," sahut Galih dengan suara beratnya. "Lo bisa cari kerjaan lain."

Sam meremas rambut ikalnya. "Terus gue biayain Renaldi pake apa? Tabungan gue belum tentu cukup sampai dia lulus."

"Lo bisa cari kerjaan lain, Sam."

Panggilan ditutup. Sam meninju pintu hingga pintu tersebut terbuka dan si pemilik rumah tahu-tahu mengulurkan sebotol air mineral padanya.

"Capek, 'kan, abis lari-lari?"

Sam terpaku. Sang gadis berkata lagi, "Kalau capek lari, berhenti, istirahat."

***

Kebumen, 30 Agustus 2021

Bab 2

Sam memarkirkan motornya di teras rumah sambil membawa dua kantong plastik berisi alat menggambar dan dua bungkus nasi padang. Rumah ini cenderung kecil dibanding rumah-rumah di sekitarnya. Tidak ada garasi, halaman luas, apalagi bangunan bertingkat. Walau demikian, Sam merawatnya dengan baik. Pot bunga aneka ragam berjajar di depan teras, kaca bersih, lantai mengkilap, dan tidak ada satu pun sarang laba-laba di atapnya yang belum dipasang plafon.

"Di, gue pul ... ang."

Langkah Sam terhenti begitu pintu dibuka oleh pemuda yang lebih tinggi darinya. Pemuda jangkung itu adalah keponakannya, Renaldi. Sam mendesah melihat rambut ikal Renaldi acak-acakan, bertabur kotembe dan debu. Wajahnya berminyak, dan astaga ... kaos yang ia pakai masih kaos hitam kemarin sore.

"Astaga, Di. Lo enggak mandi?"

Cengiran kikuk Renaldi justru membuat Sam bergidik karena melihat kulit cabe di gigi pemuda itu. "Mana Milkita gue?"

Sam menyembunyikan barang bawaannya. "Enak aja. Mandi dulu sana."

Renaldi berdecak. "Tadi siang gue udah mandi."

"Mandi macem apa, hah? Liat, tuh, rambut lo kayak enggak pernah kenal sampo. Muka kucel, gigi kuning, baju enggak ganti. Mau gue mandiin?" omel Sam. "Apa gunanya gue beli alat mandi sama baju, sih, Di?"

Yang diomeli hanya mengerucutkan bibir, sementara Sam melangkah masuk, duduk di karpet hijau depan televisi. "Mandi atau gue enggak mau beliin Milki—"

"Iya, iya. Gue mandi."

Sam memijat pelipis, pening. Renaldi remaja semakin membuatnya geleng-geleng kepala jika menyangkut kebersihan. Jarang mandi, bercukur, dan tidak pernah mau ke luar rumah kalau tidak ada kepentingan yang mata darurat. Sam harus rajin menceramahi Renaldi untuk lebih merawat diri, tapi remaja 18 tahun itu tidak peduli. Padahal waktu masih SD, Renaldi selalu wangi, rapi, dan enak dipandang.

Menghela napas, Sam beranjak mengambil piring dan sendok di dapur untuk makan malam. Biasanya, ia jarang membeli makanan di liar dan lebih memilih memasak di rumah. Namun, karena malam ini ia pulang agak larut, ia memutuskan untuk membeli saja.

Seraya menunggu Renaldi selesai, Sam menyalakan televisi, menonton FTV malam yang sebentar lagi tayang. Ngomong-ngomong, gadis pendek tadi belum memberitahu namanya. Setelah memberi Sam minum, gadis itu kembali mengurung diri di kamar, tidak repot-repot mengantarnya keluar.

"Dia tinggal di sana sendiri? Gila. Kalau ada orang macem-macem, gimana coba—"

"Siapa yang tinggal sendiri?" Renaldi tiba-tiba ke luar sambil melilit rambut ikalnya dengan handuk.

"Itu ... tadi gue ketemu cewek tinggal di rumah kumuh, sendiri lagi."

Renaldi duduk di seberang Sam. Pemuda itu sudah berganti memakai sweater biru dan celana jeans pendek, menampilkan bulu-bulu halus di betisnya. "Tumben peduli cewek," gumamnya, sambil membuka bungkus nasi padang.

"Ya abis kasian, Di. Kecil banget bodinya, mana kuat mukul preman."

"Emang bakal ada preman main ke tempat kumuh?" Renaldi meletakkan nasi dengan bungkusnya di piring.

"Yee, nggak tahu aja, jaman sekarang preman-preman markasnya di tempat kotor," sahut Sam. Lelaki itu ikut membuka nasi padangnya.

Renaldi tidak menyahut lantaran fokus dengan makan malamnya. Sam pun demikian. Lelaki itu melahap nasinya sembari menatap layar TV yang sudah menampilkan aktris favoritnya.

Dalam beberapa saat, hanya terdengar suara dari televisi dan decap bibir. Diam-diam Sam melirik Renaldi yang menunduk, menggigit paha ayam dengan lahap. Tipis, bibir Sam tersenyum. Bagi orang lain, Renaldi adalah suatu kesalahan, tapi baginya Renaldi adalah anugerah yang diberi Tuhan untuk menemani hari-harinya yang kosong.

Sam paham betul pekerjaan yang ia lakoni adalah pekerjaan haram. Kadang, ia ingin berhenti dan mencari pekerjaan halal. Namun, lagi-lagi, Tuhan begitu tidak adil baginya; setiap pekerjaan halal yang ia tekuni tidak pernah berjalan baik.

Pernah Sam menjadi kuli bangunan, tetapi di sana, mandornya memperlakukannya secara tidak adil. Ia hanya mendapat bayaran separuh dari kuli lain.

"Besok daftar sekolah, yuk?" ucap Sam seusai menelan nasi becampur sambal ijo dan sayur lodeh.

Renaldi mengangkat wajah. "Sekolah mana?"

"Gravika."

"Mahal."

"Lah, emang kenapa? Lagian sebanding sama kualitas pendidikannya." Renaldi diam. Sam menambahi, "Lo khawatir gue enggak mampu?"

Renaldi tetap diam. Jemarinya mengumpulkan sisa nasi di piring.

"Lo lupa berapa upah gue sekali nganter barang?"

"Tapi, 'kan, lo enggak tiap hari transaksi."

Benar. Bahkan mulai sekarang Sam tidak akan melakukan transaksi lagi, tetapi Renaldi harus tetap sekolah. Masa depan anak itu harus cemerlang.

"Pokoknya lo enggak perlu khawatir soal biaya. Belajar yang bener, lulus, kuliah. Bukannya lo enggak mau terus-terusan hidup kayak gini?"

"Ya udah, gue ngikut."

Wajah Sam berubah cerah. "Bagus. Lo harus jadi anak hebat!" serunya. "Besok pulang dari sekolah kita belanja dulu."

"Belanja?" Kening Renaldi berkerut.

"Iya. Buat keperluan sekolah. Sepatu, tas, dan ... hp lo juga udah retak, 'kan, layarnya?"

"Enggak perlu, Sam. Sepatu dan tas gue masih layak pakai. Hp juga masih bisa buat scroll sosmed."

Meletakkan piring ke karpet, Sam menyahut, "Di, gue cuma enggak mau lo dipandang rendah sama orang saat ngelihat apa yang lo pakai. Lagian udah kewajiban gue—"

"Nyatanya emang kita rendahan, 'kan?" sergah Renaldi. "Baik pekerjaan lo, kasta gue yang anak haram, kita emang ditakdirkan hidup di bawah, Sam!"

"Enggak!" Sam membentak dengan suara bergetar. "Harus berapa kali gue bilang lo bukan anak haram, hah?! Lo pantes dihargai sebagai manusia, sebagai satu-satunya keluarga yang tersisa di hidup gue."

Renaldi mengalihkan pandangan pada televisi yang menampilkan iklan minuman serbuk.

"Apa salahnya gue ngelakuin semuanya buat elo?" lirih Sam lagi. "Gue enggak mau di masa depan, hidup lo terluntang-luntang, kejar-kejaran sama polisi, makan enggak enak tidur enggak nyenyak. Gue cuma mau lo bahagia di masa depan."

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Renaldi meninggalkan Sam di ruang tamu berukuran dua meter persegi tanpa meja dan kursi itu bersama FTV yang sejak tadi dianggurkan.

Sam menatap nasi padangnya nanar. Semakin hari, ia semakin merasa Renaldi sulit ditebak. Sam ingat betul setelah kelulusan SD, Renaldi yang biasanya memanggilnya 'Om' tiba-tiba memakai 'lo-gue' saat ngobrol. Masuk SMP, pemuda itu berubah ambisius dengan prestasi yang kerap membuat Sam bangga. Namun, Sam menyadari sesuatu terjadi ketika penampilan Renaldi berubah kumal, jarang mandi, dan sering mengurung diri di kamar dan tidak pernah menceritakan apa pun selain prestasi gemilang yang dia dapat di sekolah.

Sam hendak memakan lagi makan malamnya, tetapi getaran ponsel membuatnya mengernyit.

Tidak Diketahui : Butuh pekerjaan, Rahardja?

Sudah 15 tahun lebih tidak ada satu pun yang memanggilnya dengan Rahardja. Jangankan memanggil, yang tahu nama lengkapnya saja tidak ada selain Renaldi. Galih yang bertahun-tahun menjadi atasannya pun tidak tahu nama lengkapnya.

Siapa orang ini? Tidak mungkin Renaldi iseng mengganti nomor. Ditambah, keponakannya itu tidak tahu kalau ia sudah dipecat. Sam menggeleng. Ada banyak Rahardja di dunia ini, mungkin orang ini salah kirim.

Ditemani akting Ine Marinka dan Randy Pangalila di televisi, lelaki kurus itu menyuapkan lagi nasi padangnya. Semenjak tahu mencari uang itu sulit, Sam menghargai apa pun yang ia dapat. Makanan dan minuman tidak pernah ia buang dengan cuma-cuma setidaknapsu apa pun dirinya.

Usai menghabiskan makannya, Sam ke dapur membawa serta piring Renaldi untuk ia cuci. Sudah menjadi rutinitasnya, mencuci piring sesudah makan. Berikutnya, ia mematikan televisi, bergegas mandi sekalian mencuci pakain kotor Renaldi yang sudah menumpuk.

Sam melakukannya suka rela. Tidak pernah sekali pun dia mengeluh soal tumpukan baju kotor, bungkus Milkita di kolong ranjang, atau buku-buku berantakan. Banyak orang menganggap Renaldi anak haram, miskin, rendahan, tapi seperti yang almarhum kakaknya ucapkan, Sam tidak menganggap Renaldi rendah dan layak dijauhi. Bahkan kalau boleh jujur, kehadiran Renaldilah yang selalu memacunya untuk terus berusaha, untuk tidak menyerah.

Maka, setelah semuanya beres, Sam membuka pintu kamar sang keponakan untuk mengecek apakah dia sudah terlelap atau belum. Namun, pintu kamar yang terkunci meyakinkannya bahwa Renaldi masih terjaga.

"Di, gue cuma mau bilang, kalau lo enggak mau dianggap rendahan lagi, lo cukup buktiin kalau lo punya sesuatu yang melebihi mereka," ujar Sam, mendekatkan wajah ke pintu. "Jangan lupa, besok bangun pagi buat daftar sekolah. Setelah itu, lo bisa buktiin bahwa anak yang katanya haram ini punya prestasi yang bagus."

Di dalam kamar tersebut, Renaldi menyimak baik-baik ucapan sang paman, seraya menatap gemerlap langit Jakarta dari balik jendela. Kata almarhumah neneknya, kalau sedang tidak baik-baik saja tataplah langit. Sebab di sana terbentang harapan luas.

Mengambil buku sketsa di laci, Renaldi membuka kembali gambar-gambar di sana. Kemudian, pandangannya berhenti pada sketsa piala yang ia buat satu setengah tahun lalu sesudah ia memenangkan lomba cerdas cermat tingkat kabupaten.

Renaldi tersenyum masam. Seharusnya piala itu ada di lemarinya atau bertengger manis di meja belajarnya. Sayangnya, sebelum ia sempat membawa pulang piala kejuaraan itu, pihak sekolah meminta pialanya dibawa ke sekolah dan diberikan kepadanya di upacara hari Senin sebagai motivasi teman-teman yang lain. Namun, akhirnya bukan Renaldi yang dipanggil sebagai pemenang lomba Fisika melainkan seorang anak pejabat negara yang tidak hadir ketika lomba berlangsung.

Menutup buku sketsa, Renaldi kembali menatap langit. "Oke. Mari kita buktikan, Sam."

*

Kebumen, 30 Oktober 2021

Bab 3

"Belanja udah. Sekarang kita ke barbershop."

Mata Renaldi membelalak. "Ngapain, sih, Sam?" protesnya. Semalam, Sam hanya bilang kalau sepulang mendaftar, mereka hanya akan mampir ke toko alat tulis dan langsung pulang, sama sekali tidak ada agenda ke barbershop.

"Ck. Lo enggak nyadar tadi calon guru lo ilfeel lihat rambut lo?"

Tanpa memedulikan reaksi keponakannya, Sam langsung menarik tangan Renaldi menuju Ayoedi Barbershop yang letaknya tidak jauh dari toko alat tulis yang baru saja mereka kunjungi.

"Di, gue ke konter sebentar, mau beli pulsa."

Renaldi mengangguk. Wangi apel dari pengharum ruangan langsung menyambutnya begitu ia masuk. Ayoedi Barbershop terlihat rapi. Alat pangkas rambut ditata di atas meja panjang. Banyak pelanggan tidak mengakibatkan para barber meletakkan alat tersebut acak-acakan. Mereka sepertinya dituntut untuk melakukan segalanya dengan teratur. Tak lama kemudian, seorang gadis mungil keluar sebelum pemuda ber-hoodie abu itu mencari kursi.

"Selamat siang. Ada yang bisa dibantu, Kak?" sapa gadis itu ramah.

Renaldi meneliti sejenak penampilan sang gadis. Dia tampak menarik dengan rambut panjang yang diikat tinggi. Kulit wajahnya sehalus kulit bayi, bibir tipisnya terlihat penuh dan merona dengan sapuan lisptik warna merah muda, sangat serasi dengan kulitnya yang putih. Renaldi tersenyum. Gadis ini jelmaan nyata dari khayalan-khayalan penulis novel romansa.

"Kak?"

Renaldi mengerjap. "Ya? Eh ... anu mau pangkas rambut aja, Mbak."

"Silakan duduk, Kak."

Pemuda itu pun duduk menghadap cermin besar. Matanya mengamati sang gadis yang mengambil kain lebar di meja dari cermin, lantas mengamati beberapa karyawan di sekitarnya. Hanya gadis mungil itu satu-satunya karyawan perempuan yang ia lihat di sini.

Gadis berambut lurus tadi memakaikan kain untuk menghalau potongan rambut masuk ke baju atau leher Renaldi. "Mau model yang gimana, Kak?" tanyanya.

Renaldi terdiam sebentar, mengamati kertas berisi foto model rambut berbeda yang tertempel di dinding. Lalu, ia menunjuk gaya undercut. "Yang ini aja."

"Oke."

Saat sang gadis hendak menyemprotkan water spray ke rambut ikal Renaldi, Renaldi bertanya, "Lo—Mbak yang mau motong rambut saya?"

Gadis beralis tipis itu tersenyum. "Gue-lo enggak pa-pa, kok," jawabnya. "Kakak takut hasilnya enggak sesuai?"

Renaldi menyunggingkan senyum kikuk.

"Tenang aja, kalau hasilnya enggak memuaskan, Kakak enggak perlu bayar."

"Oke."

Dengan begitu, dimulailah ritual pemangkasan rambut. Sembari mengamati wajah manis di cermin, Renaldi memantapkan diri. Semalam, setelah Sam membujuknya, ia merenung. Di sekolah barunya, ia harus lebih berani, lebih mudah mencari teman, dan lebih berprestasi. Ia harus bangkit dari masa lalu dan membuktikan bahwa anak haram ini bisa memiliki prestasi gemilang. Sam benar, di masa depan, ia harus sukses. Jadi, Sam tidak perlu menjadi kurir narkoba lagi.

Dulu, awal-awal Sam bekerja dengan Galih, ia hanya bilang kalau dia bekerja mengantar barang. Renaldi yang waktu itu masih SMP kelas satu, tidak berpikir aneh-aneh soal Sam yang sering pulang dini hari dan tidur di siang hari. Namun, suatu malam, ia iseng membaca pesan Galih, akhirnya Renaldi tahu bahwa selama ini pamannya melakukan pekerjaan haram.

Renaldi sempat marah dan tidak mau mengajak Sam berbicara. Karena tidak tahan mendiamkan terlalu lama, di hari ketiga, Renaldi mengajak Sam berbicara dan membolehkan Sam menjadi kurir dengan syarat Sam tidak mengonsumsi obat-obatan itu.

"Kakak kuliah atau udah kerja?" tanya si gadis barber, membuat kenangan Renaldi buyar.

"Gue masih SMA," sahut Renaldi. Seharusnya ia sudah lulus tahun ini, tapi karena setahun lalu Galih menjadi buronan dan mengakibatkan Sam tidak bekerja, ia memilih putus sekolah.

"Kakak kelihatan udah ... dewasa," ujar sang gadis seraya memotong tipis rambut di atas telinga Renaldi.

"Kalau lo SMP kelas berapa?"

Terdengar tawa kencang dari karyawan laki-laki di sebelah sang gadis yang menekuk bibirnya ke dalam. Sementara Renaldi menatap mereka bingung.

"Andin udah SMA kelas tiga, Mas," ucap karyawan yang tertawa tadi. "Emang bantet dia. Enggak bisa tumbuh lagi."

Oh, jadi namanya Andin.

"Faktanya orang pendek bisa awet muda, Bang." Andin membela diri tidak terima. "Buktinya Kakak ini ngira aku masih SMP."

Renaldi tersenyum. Baru kali ini, melihat orang kesal terasa menyenangkan.

"Andin, Yoga, jangan ngobrol terus, nanti guntingnya motong telinga bukan motong rambut."

"Maaf, Bu," ucap kedua karyawan di belakang Renaldi pada wanita dewasa yang baru datang.

Renaldi mengamati wanita bertubuh ramping mendelat ke arahnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Rok span di atas lutut dan kemeja licin berwarna ungu serta heels tinggi yang wanita itu kenakan menjelaskan bahwa dia bukan pelangggan tetap. Wanita yang dipanggil "Bu" oleh sua orang di belakangnya terus berjalan mendekat. Ia seperti memastikan sesuatu hingga ketika wanita itu berdiri di belakang Renaldi, ada binar bahagia bercampur haru di mata besarnya. Renaldi balik mengamati ekspresi aneh tersebut lewat cermin. Ketika tatapan mereka beradu, bibir berpoles gincu merah itu tersenyum lembut, sedangkan otak Renaldi mulai memikirkan bagaimana hidung dan bibir wanita itu begitu mirip dengannya?

"Halo," sapa wanita cantik tersebut, "Kamu pelanggan baru, ya?"

Renaldi mengerjap, gugup. Dalam hati ia berharap semoga wanita yang kini berdiri di sampingnya tidak menangkap bahwa sejak tadi Renaldi lupa berkedip. Ia baru akan menyahut, gadis di belakangnya sudah lebih dulu berkata.

"Ini Bu Ayudi, pemilik barbershop ini. Cantik, kan?"

Bu Ayudi tersenyum ramah. Sementara Renaldi tersenyum kaku. Fakta bahwa nama ibunya dan wanita ini sama cukup membuatnya tersentak.

'Tidak mungkin. Ini pasti kebetulan,' sangkal Renaldi dalam hati. 'Bisa saja mereka memiliki nama belakang yang berbeda.'

"Andin, kasih kakak ini pelayanan memuaskan," ucap Ayudi, tanpa mengalihkan mata bulat indahnya pada Renaldi. "Pelanggan baru harus dikasih pelayanan ekstra biar jadi pelanggan tetap."

"Siap, Bu! Saya jamin kakak ini cakepnya plus-plus."

***

Yang Sam tuju bukan konter Hp seperti ucapannya tadi pada Renaldi, melainkan sebuah kedai kopi yang tersembunyi di antara kios-kios yang berjajar di tepi jalan. Sms dari nomor asing yang sama terus membombardirnya pesan aneh. Awalnya, ia menganggap sms itu salah kirim, tapi tidak ada salah kirim yang tahu seluk beluknya, bahkan tahu tentang Renaldi.

Nomor ini jelas bukan orang asing. Sam yakin itu. Ia sempat berpikir Galihlah yang ada di balik pesan beruntun ini. Namun, sekali lagi, Sam tidak pernah menceritakan perihal kehidupannya di masa lalu, apalagi sampai membawa nama orang tuanya. Oleh karena rasa penasaran yang tinggi, Sam memilih membalas pesan asing tersebut. Anehnya, pesannya dibalas ajakan bertemu di kedai kopi.

Maka, di sinilah Sam duduk ditemani segelas white coffee menunggu seseorang itu. Ia hanya berharap, sebelum chat Renaldi datang menanyakannya, orang itu sudah datang. Bolak-balik lelaki kurus itu mengecek alamat kedai yang dikirim. Tidak salah, tapi rasanya lama sekali.

Baru hendak memanggil nomor asing itu, seorang laki-laki berpakaian rapi dengan rambut klimis datang menghampiri Sam. Bibir tebalnya merekah sinis, sedang sepasang mata gelapnya memandang Sam remeh. Sam hafal mati tatapan jenis itu.

"Long time no see, Rahardja," ucap lelaki itu usai mendaratkan bokong teposnya di seberang Sam.

Sam mendengkus tidak peduli. Yang ia butuhkan adalah penjelasan lelaki ini mengenai sifat isengnya. Sungguh, Sam tidak suka ada orang asing yang tahu banyak tentangnya, apalagi Renaldi.

"Siapa lo?"

"Coba lo liat wajah gue. Siapa tahu lo kenal."

Jawaban itu membuat emosi Sam naik. Namun, ia berusaha menahannya sebisa mungkin. "Jangan buang-buang waktu," ucapnya ketus.

Lelaki itu tertawa. "Pengangguran macam lo enggak akan rugi di sini seharian, Sam. Paling cuma duit lo yang habis." Ia menyeret kursi, lantas duduk di seberang Sam. "Gue ke sini dengan niat baik. Lo butuh kerjaan, 'kan?"

"Gue enggak butuh!" tukas Sam. "Gue cuma mau tahu sejauh mana lo tahu soal gue dan Renaldi?"

"Gue tahu semuanya, Sam. Tentang kematian Pram, Ayudia, bahkan kebakaran rumah megah nan mewah kalian itu. Karena itu gue nawarin lo pekerjaan."

"Udah gue bilang—"

"Lo enggak butuh," sela si klimis. "Tapi alasan lo mau nemuin gue karena lo juga mau gue tutup mulut soal Renaldi, kan? Tentang Prambudi yang bunuh diri gara-gara korupsi—"

"Lo enggak ada hubungan apa pun jadi gue enggak peduli."

"Yakin?" Mata tajam si lelaki mengerling. "Soalnya, kalau lo enggak kerja, Renaldi enggak bakal bisa kuliah dan ... wait, Gravika bukan sekolah dengan biaya murah, Rahardja. Lo tahu itu, 'kan?"

Lelaki ini benar. Baru mendaftar saja, Sam sudah harus mengeluarkan lima juta.

"Apa pekerjaannya?"

Dengan senyum kemenangan, si lelaki mengeluarkan ponsel mewahnya. "Liat ini baik-baik, karena ini pekerjaan lo selanjutnya."

**

Kebumen, 31 Oktober 2021

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED