Langit Jakarta sore itu seolah ikut berduka, diselimuti mendung kelabu yang menggantung rendah. Namun, tidak ada yang bisa menandingi kelabu di hati Arjuna. Sejak kecelakaan itu, hidupnya berubah 180 derajat. Sebuah insiden mengerikan yang merenggut kemampuan kakinya, memaksanya untuk berteman akrab dengan kursi roda. Ironisnya, pria yang dulu selalu berdiri tegap, memimpin dengan karisma, kini terpaksa menundukkan kepala, memandang dunia dari ketinggian yang berbeda.
Di mata sebagian orang, Arjuna yang sekarang adalah pria cacat, tak berguna, dan tak berdaya. Bisikan-bisikan sumbang itu sampai ke telinganya, menusuk ulu hati, merobek-robek harga dirinya. Namun, mereka lupa. Mereka lupa bahwa Arjuna Dirgantara bukan hanya sekadar sepasang kaki yang lumpuh. Dia adalah otak di balik kemajuan Dirgantara Group, seorang CEO yang disegani, bahkan ditakuti oleh lawan dan pesaingnya. Keputusannya selalu jitu, strateginya selalu tak terduga, dan pandangannya selalu jauh ke depan. Ia telah membangun kerajaan bisnisnya dengan keringat dan darah, menjadikannya salah satu konglomerat terbesar di Asia Tenggara.
Ruang kerjanya yang luas di puncak gedung Dirgantara Tower terasa begitu asing sekarang. Dulu, ia selalu melangkah masuk dengan penuh percaya diri, menyapa karyawan dengan senyum tipis namun penuh wibawa. Kini, ia harus didorong, atau lebih sering, menggerakkan sendiri rodanya, berusaha keras menjaga martabatnya di hadapan para staf yang menatapnya dengan campuran iba dan rasa ingin tahu.
"Selamat pagi, Pak Arjuna," sapa salah satu asistennya, Dewi, dengan nada yang terlalu lembut. Arjuna benci nada itu. Nada yang menyiratkan kasihan, seolah ia adalah anak kecil yang butuh diurus.
"Pagi, Dewi," jawabnya singkat, suaranya serak. Ia mencoba fokus pada tumpukan laporan di mejanya, berusaha membuktikan pada dirinya sendiri-dan pada dunia-bahwa kecacatan fisiknya tidak akan pernah melumpuhkan otaknya. Namun, konsentrasinya buyar. Wajah Kirana terus membayangi.
Kirana. Nama itu bagaikan luka menganga di dadanya. Wanita yang sudah dua tahun mengisi relung hatinya, wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya, kini telah pergi. Meninggalkannya di saat ia paling rapuh. Membatalkan pernikahan mereka hanya karena ia lumpuh. "Aku tidak bisa, Arjuna. Aku tidak siap punya suami yang... cacat," bisik Kirana kala itu, matanya dipenuhi ketakutan dan jijik. Kata-kata itu, lebih dari apapun, menghancurkan Arjuna. Ia bisa menerima kakinya lumpuh, tetapi hatinya? Hatinya hancur berkeping-keping.
Yang lebih parah, Kirana tidak hanya pergi. Ia menikahi adiknya sendiri, Bima. Bima, adiknya yang selalu ia lindungi, selalu ia ajari, selalu ia berikan kesempatan. Rasa pengkhianatan itu membakar jiwanya. Bagaimana bisa Kirana melakukan itu? Bagaimana bisa Bima melakukan itu? Apakah ini semua sudah direncanakan? Apakah mereka menunggu saat Arjuna jatuh, untuk kemudian merebut segalanya?
Kenyataan ini membuat Arjuna semakin tenggelam dalam keputusasaan. Ia yang dulunya penuh semangat, kini seringkali terjebak dalam pusaran pikiran gelap. Terapi fisik yang seharusnya membangkitkan harapannya, justru terasa seperti beban berat. Setiap gerakan, setiap tetesan keringat, setiap rasa sakit yang menjalar di kakinya, hanya mengingatkannya pada betapa jauhnya ia dari kehidupan normal. Dokter selalu mengatakan ada harapan, bahwa otot-ototnya bisa pulih, bahwa ia mungkin bisa berjalan lagi. Namun, pesimisme telah meracuni pikirannya. Ia merasa tidak akan pernah bisa kembali seperti dulu. Kakinya tidak akan pernah bisa melangkah tegap lagi, dan hatinya tidak akan pernah bisa sembuh dari pengkhianatan.
Sementara Arjuna terpuruk dalam kesendiriannya, badai lain tengah bergolak di dalam keluarga Dirgantara. Perebutan kekuasaan. Dengan lumpuhnya Arjuna, kursi CEO tiba-tiba menjadi objek incaran. Dua adiknya, Bima dan Indra, secara terbuka memperebutkan posisi tersebut.
Bima, yang selama ini selalu hidup di bawah bayang-bayang Arjuna, merasa inilah saatnya ia bersinar. Ia adalah pria yang ambisius, tetapi ambisinya seringkali melampaui kemampuannya. Ia selalu ingin setara dengan Arjuna, namun tak pernah bisa. Kini, dengan Kirana di sisinya, ia merasa memiliki kekuatan ganda. "Aku yang akan memimpin perusahaan ini, Indra. Kak Arjuna sudah tidak sanggup lagi," ujarnya suatu sore dalam pertemuan keluarga yang tegang, tatapan matanya penuh keserakahan.
Indra, adik bungsu mereka, jauh lebih kalem daripada Bima. Ia tidak seambisius Bima, tetapi juga memiliki keinginan untuk membuktikan dirinya. Indra adalah seorang sarjana teknik yang brilian, tetapi ia kurang memiliki pengalaman manajerial di tingkat puncak. Ia merasa khawatir jika perusahaan jatuh ke tangan Bima yang terlalu gegabah. "Bima, kau tahu kau belum siap. Dirgantara Group bukan main-mainan. Ini warisan ayah dan ibu kita," balas Indra, mencoba menenangkan kakaknya yang sedang panas.
Pertengkaran mereka seringkali pecah di ruang makan keluarga, di hadapan Dewi, ibu mereka. Dewi, seorang wanita paruh baya yang elegan dan anggun, kini terlihat lebih tua dari usianya. Kerutan halus menghiasi wajahnya, bukan karena usia, melainkan karena beban pikiran. Hatinya hancur melihat ketiga putranya saling bermusuhan. Arjuna yang terpuruk, dan Bima serta Indra yang saling berebut kekuasaan.
"Cukup! Hentikan ini!" teriak Dewi suatu malam, air mata mengalir di pipinya. "Kalian berdua tidak tahu malu! Kakak kalian sedang berjuang untuk hidupnya, dan kalian malah memperebutkan harta?!"
Namun, teguran Dewi tak banyak berarti. Bima dan Indra terlalu dibutakan oleh ambisi. Mereka seringkali mengadakan rapat internal sendiri, membentuk kubu-kubu di antara para direktur perusahaan, berusaha menarik dukungan. Keadaan perusahaan pun menjadi tidak stabil. Proyek-proyek besar tersendat, investor mulai ragu, dan rumor tentang ketidakstabilan manajemen Dirgantara Group mulai menyebar di kalangan bisnis.
Arjuna, meskipun terkurung di kamar, tidak sepenuhnya buta. Ia mendengar desas-desus, ia merasakan ketegangan yang menyelimuti rumah. Ia tahu apa yang sedang terjadi. Hatinya perih, tetapi ia terlalu lemah untuk berbuat banyak. Terkadang, ia hanya menatap kosong ke luar jendela, membiarkan pikirannya melayang ke masa lalu, saat keluarganya masih utuh, saat ia masih bisa berdiri tegak, saat Kirana masih mencintainya.
Melihat putra kesayangannya terpuruk begitu dalam, Dewi tak kuasa menahan kesedihan. Arjuna, putra sulungnya, adalah kebanggaan keluarga. Ia tidak bisa membiarkan Arjuna terus-menerus tenggelam dalam kegelapan. Dewi tahu, Arjuna membutuhkan sesuatu, seseorang, yang bisa menariknya keluar dari jurang keputusasaan ini. Sesuatu yang berbeda dari dunianya yang selama ini hanya berkutat pada angka, saham, dan keuntungan.
Setelah berpikir panjang, Dewi teringat sahabat lamanya, Ibu Indah, yang memiliki panti asuhan di pinggiran kota. Ibu Indah sering bercerita tentang anak-anak asuhnya yang unik dan beragam. Salah satu dari mereka menarik perhatian Dewi. Seorang gadis muda yang dijuluki "barbar" oleh Ibu Indah, namun dengan nada sayang. Dewi tahu, mungkin inilah jawabannya.
"Arjuna, Ibu ingin kau bertemu seseorang," kata Dewi suatu pagi, saat ia membawakan sarapan ke kamar putranya.
Arjuna hanya mendengus, "Siapa lagi, Bu? Teman-teman Ibu yang ingin mencari keuntungan dari kelemahan saya?"
Dewi menghela napas, "Bukan, Nak. Dia berbeda. Dia adalah anak asuh Ibu Indah. Namanya Mentari."
Arjuna menatap ibunya dengan tatapan curiga. "Mentari? Apa yang Ibu rencanakan?"
"Ibu hanya ingin kau bahagia, Nak," jawab Dewi tulus. "Setidaknya, cobalah. Ibu merasa dia bisa memberikan perspektif baru untukmu."
Awalnya Arjuna menolak mentah-mentah. Ia tidak ingin bertemu siapapun. Ia tidak ingin belas kasihan. Ia hanya ingin sendiri. Namun, Dewi tidak menyerah. Setiap hari, ia membujuk, memohon, dan akhirnya, Arjuna yang lelah dengan perdebatan, menyerah.
"Baiklah, Bu. Tapi jangan harap saya akan menyukainya," ucapnya dengan nada pahit.
Dewi tersenyum tipis. Ia tahu ini bukan tugas yang mudah, tetapi setidaknya, ada harapan.
Keesokan harinya, dengan segala persiapan, Arjuna diantar ke panti asuhan Ibu Indah. Perjalanan terasa panjang dan melelahkan. Lingkungan panti asuhan jauh dari kemewahan yang biasa Arjuna nikmati. Bangunan sederhana, pekarangan yang rimbun namun kurang terawat, dan suara riuh anak-anak yang bermain. Ini adalah dunia yang sangat asing baginya.
Ia duduk di kursi rodanya, di ruang tamu panti yang sederhana, sementara Dewi berbicara dengan Ibu Indah. Tak lama kemudian, Ibu Indah memperkenalkan seorang gadis.
"Ini dia, Nak. Namanya Mentari," ujar Ibu Indah dengan senyum hangat.
Arjuna mendongak. Di hadapannya berdiri seorang wanita muda. Penampilannya... jauh dari bayangan wanita metropolitan yang biasa ia temui. Rambutnya diikat asal, ada noda cat di kemejanya yang agak lusuh, dan kakinya mengenakan sandal jepit. Ia tidak terlihat seperti wanita yang peduli dengan penampilan, apalagi status sosial. Mata Arjuna menyusuri penampilannya, dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia mencibir dalam hati. Barbar, memang.
Mentari hanya tersenyum lebar, menunjukkan gigi-gigi putihnya. Ia tidak terlihat canggung atau terintimidasi oleh tatapan sinis Arjuna.
"Hai!" sapanya ceria, suaranya agak serak. "Namaku Mentari. Kamu Arjuna, kan? Yang CEO itu?"
Arjuna mengerutkan kening. Nada bicara Mentari terlalu santai, terlalu informal. Tidak ada sedikitpun rasa hormat yang biasa ia dapatkan dari orang lain.
"Ya, aku Arjuna," jawabnya datar.
Mentari tidak peduli dengan nada dingin Arjuna. Ia langsung duduk di kursi di hadapan Arjuna, dengan santai menyilangkan kaki. "Wah, keren ya jadi CEO. Banyak duitnya, dong?" tanyanya lugu, matanya berbinar.
Arjuna terdiam. Pertanyaan seperti itu tidak pernah ia dengar dari siapapun. Semua orang selalu membicarakan tentang strategi bisnis, saham, atau proyek baru. Tidak ada yang pernah bertanya langsung tentang uang. Kecuali Mentari. Mata duitan, sepertinya. Pikir Arjuna, semakin yakin dengan penilaian awalnya.
"Untuk apa kau bertanya begitu?" tanya Arjuna, mencoba menyembunyikan rasa terkejutnya.
"Ya, biar tahu saja. Kalau banyak, mungkin aku bisa minta modal untuk usaha jahitku," jawab Mentari enteng, sambil tertawa kecil.
Arjuna menatapnya lurus-lurus. Wanita ini benar-benar unik. Tidak ada basa-basi, tidak ada kepura-puraan. Ia begitu jujur, bahkan terlalu jujur.
Percakapan awal mereka tidaklah mulus. Arjuna selalu menjawab singkat dan dingin, sementara Mentari terus-menerus bertanya dengan rasa ingin tahu yang tak ada habisnya. Ia bertanya tentang bisnis Arjuna, tentang kehidupannya, bahkan tentang perasaannya. Hal-hal yang selama ini Arjuna simpan rapat-rapat, tiba-tiba dipertanyakan dengan polos oleh Mentari.
"Kenapa kamu murung terus? Padahal kamu punya banyak uang," tanya Mentari suatu ketika, membuat Arjuna geram.
"Apa urusannya denganmu?" Arjuna membentak.
Mentari tidak gentar. "Ya urusan dong! Kalau kamu murung terus, nanti energi negatifnya nular ke aku. Kan aku mau usaha jahit, butuh energi positif biar lancar jaya," jawabnya sambil cemberut.
Meskipun terasa menjengkelkan, ada sesuatu yang berbeda dari Mentari. Ia tidak melihat Arjuna sebagai pria cacat. Ia melihat Arjuna sebagai manusia biasa, yang kebetulan sedang murung. Ia tidak peduli dengan kursi roda Arjuna, atau dengan kekayaannya, atau dengan status sosialnya. Ia hanya peduli dengan apa yang ia rasakan dan apa yang ia inginkan.
Dewi dan Ibu Indah hanya tersenyum melihat interaksi mereka. Mereka tahu, ini adalah awal yang sulit, tetapi mereka juga melihat percikan kecil yang belum pernah ada sebelumnya dalam diri Arjuna.
Seiring berjalannya waktu, pertemuan mereka menjadi lebih sering. Arjuna memang tidak pernah meminta, tetapi Dewi selalu mengatur jadwalnya. Mentari datang ke rumah Arjuna. Ia tidak pernah canggung, bahkan seringkali membuat kegaduhan.
Suatu hari, Mentari melihat Arjuna kesulitan mengambil buku di rak atas. Sebelum Arjuna sempat meminta bantuan, Mentari sudah melompat, meraih buku itu, dan memberikannya pada Arjuna.
"Jangan sungkan, kalau butuh bantuan bilang saja. Kita kan manusia, saling bantu," katanya dengan senyum tulus.
Perlahan tapi pasti, Mentari mulai masuk ke dalam kehidupan Arjuna. Ia sering membawakan masakan rumah buatannya sendiri, yang rasanya jauh lebih nikmat daripada masakan koki pribadi Arjuna. Ia bercerita tentang kehidupannya di panti, tentang anak-anak asuh, tentang impiannya untuk membuka toko jahit sendiri. Ia bercerita tentang betapa ia menyukai uang, namun dengan cara yang jujur dan apa adanya, bukan dengan cara serakah.
Arjuna, yang awalnya enggan, mulai mendengarkan. Ia mulai menyadari bahwa di balik sifat "barbar" dan "mata duitan" Mentari, ada hati yang tulus, penyayang, dan penuh semangat. Mentari selalu positif, selalu melihat sisi baik dari segala sesuatu, bahkan dalam kesulitan. Ia tidak pernah mengeluh, tidak pernah menyerah. Ia adalah antitesis dari dirinya yang kini tenggelam dalam keputusasaan.
Suatu sore, saat Mentari sedang menjahit di sudut ruangan Arjuna, ia berbicara. "Tahu nggak, Pak Arjuna? Setiap jahitan itu kayak kehidupan. Kadang benangnya kusut, kadang jarumnya patah. Tapi kalau kita sabar, telaten, dan terus berusaha, pasti jadi baju yang bagus. Sama kayak hidup. Jangan nyerah kalau ada benang kusut."
Kata-kata Mentari, yang terdengar sederhana, justru menusuk ke dalam hati Arjuna. Ia menatap Mentari, yang tampak begitu fokus dengan jahitan tangannya. Wanita ini, dengan segala kesederhanaannya, memiliki kebijaksanaan yang tak pernah ia temukan di antara para eksekutif dan pebisnis ulung.
Arjuna mulai merasa sedikit, hanya sedikit, cahaya di tengah kegelapannya. Ia mulai melihat dunia dari sudut pandang Mentari. Dunia yang mungkin tidak sempurna, namun penuh dengan kesempatan dan kebaikan. Ia mulai menyadari bahwa ia terlalu fokus pada apa yang hilang, sampai melupakan apa yang masih ia miliki. Kaki-kakinya mungkin lumpuh, tetapi pikirannya masih tajam, hatinya masih berdetak, dan ia masih memiliki orang-orang yang peduli padanya.
Namun, jalan menuju pemulihan masih panjang. Trauma pengkhianatan Kirana dan Bima masih menghantui. Perebutan kekuasaan di perusahaan masih menjadi ancaman. Dan yang paling penting, pertanyaan besar yang selalu menghantuinya: apakah ia akan pernah bisa berjalan normal lagi? Apakah ia akan bisa bangkit dan kembali merebut takhtanya?
Untuk saat ini, kehadiran Mentari adalah secercah harapan. Seorang wanita "barbar" yang entah bagaimana, mulai memperbaiki serpihan hati sang CEO yang hancur. Namun, apakah cahaya kecil ini cukup untuk menerangi seluruh kegelapan yang meliputi kehidupan Arjuna? Babak baru dalam hidup Arjuna baru saja dimulai, sebuah perjalanan yang penuh tantangan, pengorbanan, dan mungkin, sebuah cinta yang tak terduga.
Mentari membawa angin segar ke dalam rumah megah Dirgantara. Kehadirannya bagaikan warna cerah yang disisipkan ke dalam palet yang selama ini hanya diisi nuansa kelabu. Ia tak peduli dengan kemewahan yang mengelilingi Arjuna, atau dengan tatapan sinis dari beberapa staf yang menganggapnya aneh. Mentari hanya peduli pada tugasnya: membantu Arjuna, entah itu secara fisik atau, yang lebih penting, secara emosional. Ia datang bukan sebagai perawat, bukan sebagai terapis, melainkan sebagai seorang yang tulus ingin membantu, dengan caranya sendiri yang unik.
Pagi itu, mentari pagi menyusup malu-malu dari balik tirai jendela kamar Arjuna, menerangi debu-debu yang menari di udara. Arjuna masih enggan bangun. Ia memejamkan mata, berharap semua yang terjadi hanyalah mimpi buruk. Namun, suara riuh dari luar kamarnya membuyarkan lamunannya.
"Pak Arjuna! Bangun! Matahari sudah di ubun-ubun nih! Nanti rezeki dipatok ayam!" Suara Mentari, nyaring dan ceria, menembus dinding tebal kamar Arjuna.
Arjuna mendengus. Sejak kapan wanita ini punya akses bebas ke kamarnya? Ia melirik jam. Pukul tujuh pagi. Masih terlalu pagi baginya. Ia terbiasa bangun pukul sembilan sejak kecelakaan itu.
Tak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka. Mentari muncul dengan nampan berisi sarapan. Wajahnya berseri, seolah tak ada beban sama sekali. Aroma nasi goreng mengepul, bercampur dengan aroma kopi.
"Ayo sarapan, Pak! Kata Bu Dewi, kamu harus banyak makan biar cepat pulih!" Mentari meletakkan nampan itu di meja samping tempat tidur Arjuna.
Arjuna menatapnya dengan malas. "Aku tidak lapar."
"Halah, bohong!" Mentari menyeringai. "Wajahmu itu wajah lapar. Kamu harus makan, Pak. Nanti kalau sakit, kan jadi merepotkan. Saya juga ikut pusing nanti."
Arjuna terdiam. Wanita ini, dengan segala kelugasannya, selalu bisa membuatnya kehilangan kata-kata. Ia akhirnya menyerah, mengambil sendok, dan mulai menyantap sarapannya. Rasanya lumayan. Jauh lebih baik dari masakan koki rumahnya yang hambar.
"Ini kamu yang masak?" tanya Arjuna, tanpa sadar.
"Iyalah! Siapa lagi? Koki kamu? Duh, masakan dia mana ada rasanya," jawab Mentari jujur, membuat Arjuna tersenyum tipis, sesuatu yang jarang terjadi belakangan ini.
Sejak itu, Mentari menjadi "alarm" dan "koki" pribadi dadakan untuk Arjuna. Ia memastikan Arjuna bangun pagi, makan teratur, dan bahkan menemaninya menjalani terapi fisik. Awalnya, Arjuna menolak keras. Ia tidak ingin orang lain melihatnya dalam kondisi rentan. Namun, Mentari punya seribu cara untuk membujuk, atau lebih tepatnya, "memaksa."
"Ayo, Pak! Nanti ototnya kaku kalau nggak digerakin! Mau jadi patung pahlawan di depan menara Dirgantara?" celetuk Mentari suatu hari, saat Arjuna mogok terapi.
Arjuna hanya mendengus, tetapi akhirnya menurut. Di ruang terapi, Mentari tidak hanya duduk diam. Ia akan berceloteh tentang hari-harinya, tentang rencana usahanya, tentang anak-anak panti. Terkadang, ia akan menyanyi dengan suara sumbang, membuat fisioterapis dan Arjuna tertawa kecil. Kehadirannya membuat suasana terapi yang biasanya tegang dan menyakitkan, menjadi sedikit lebih ringan.
"Kamu ini tidak punya rasa malu, ya?" tanya Arjuna suatu kali, setelah Mentari selesai menyanyi lagu dangdut dengan penuh semangat.
Mentari mengangkat bahu. "Ngapain malu? Nyanyi kan menyenangkan. Daripada murung terus, nanti cepat tua loh, Pak."
Arjuna menatapnya. Wanita ini benar-benar misterius. Di satu sisi, ia sangat materialistis, selalu membahas uang. Di sisi lain, ia memiliki hati yang tulus dan tidak pernah menghakimi. Ia melihat Arjuna apa adanya, tanpa filter belas kasihan atau ketakutan.
Hubungan Arjuna dan Mentari berkembang bukan hanya di ranah fisik, tetapi juga emosional. Mentari adalah pendengar yang baik. Perlahan, Arjuna mulai membuka diri. Ia bercerita tentang Kirana, tentang pengkhianatan Bima, tentang bagaimana perasaannya hancur berkeping-keping.
Mentari mendengarkan dengan serius, sesekali mengangguk atau mengumpat pelan. "Dasar wanita ular! Tidak tahu diri!" atau "Bima itu banci! Berani-beraninya mengambil milik kakaknya sendiri!"
Arjuna sedikit terkejut dengan reaksi Mentari yang blak-blakan. "Kamu tidak jijik mendengarnya?"
"Jijik kenapa?" Mentari menatapnya aneh. "Kamu korban, kan? Dia yang salah. Kamu itu bukan cacat, Pak. Cuma lagi liburan dari kaki, pakai kursi roda. Nanti juga jalan lagi."
Kata-kata sederhana itu, yang diucapkan dengan keyakinan penuh oleh Mentari, terasa lebih menenangkan daripada ribuan kata motivasi dari psikolog. Ia tidak memandang kecacatan Arjuna sebagai akhir dari segalanya, melainkan sebagai fase sementara.
Suatu malam, Arjuna tak bisa tidur. Pikirannya kalut memikirkan perusahaan. Ia tahu Bima dan Indra sedang berebut kekuasaan, dan ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ia merasa tak berdaya. Ia membuka pintu kamarnya, berniat mencari udara segar di balkon. Di ruang keluarga, ia melihat cahaya lampu menyala. Mentari.
Gadis itu duduk di sofa, dengan selimut melilit tubuhnya, fokus menjahit. Suara mesin jahit manualnya mengisi keheningan malam. Di depannya tergeletak tumpukan kain perca dan benang warna-warni.
"Belum tidur?" tanya Arjuna, suaranya sedikit serak.
Mentari menoleh, terkejut. "Eh, Pak Arjuna. Belum ngantuk. Tanggung ini, mau nyelesaiin pesanan seragam anak panti."
Arjuna mengamati Mentari bekerja. Jarinya lincah menggerakkan kain, matanya fokus, raut wajahnya serius. Jauh berbeda dari Mentari yang ceria dan penuh canda di siang hari.
"Kamu sangat menyukai pekerjaanmu," komentar Arjuna.
Mentari tersenyum. "Tentu saja! Ini bukan cuma kerja, Pak. Ini seni. Dari kain biasa, jadi sesuatu yang bisa dipakai. Apalagi kalau dipakai anak-anak panti, mereka senang. Bahagia itu menular, Pak."
Mereka terdiam beberapa saat, hanya suara mesin jahit yang mengisi ruangan.
"Aku merasa tidak berguna," kata Arjuna tiba-tiba, suaranya bergetar. "Perusahaan sedang bergejolak, dan aku hanya bisa duduk diam di sini."
Mentari menghentikan jahitan tangannya. Ia menoleh ke arah Arjuna, tatapan matanya serius. "Tidak berguna? Siapa bilang? Pak Arjuna itu otaknya masih jalan, kan? Tangan masih bisa gerak? Mulut masih bisa bicara? Apa yang bikin kamu tidak berguna?"
Arjuna menghela napas. "Kakiku..."
"Kaki cuma alat bantu, Pak. Yang penting itu di sini," Mentari mengetuk pelan kepala Arjuna. "Dan di sini," ia menyentuh dada Arjuna, tepat di atas jantungnya. "Kalau pikiran dan hati kamu kuat, apa sih yang tidak bisa kamu lakukan?"
Arjuna menatapnya. Mentari melanjutkan, "Orang-orang di luar sana mungkin melihatmu lumpuh. Tapi aku melihatmu sebagai Pak Arjuna yang sama. Yang cerdas, yang kadang nyebelin, yang sekarang lagi sedih. Aku nggak peduli kamu bisa jalan atau nggak. Yang penting kamu bangkit. Kamu harus tunjukin sama Kirana itu, sama adik-adikmu yang serakah itu, kalau Pak Arjuna yang ini jauh lebih hebat dari Pak Arjuna yang dulu!"
Kata-kata Mentari menusuk tepat ke inti masalah Arjuna. Bukan hanya fisik, tetapi mentalnya. Perkataannya yang jujur, tanpa tedeng aling-aling, membangkitkan sedikit semangat yang mulai padam dalam diri Arjuna. Wanita ini, entah bagaimana, berhasil menembus tembok pertahanannya yang kokoh.
"Kamu tahu, aku pernah dengar pepatah," lanjut Mentari, "kalau Tuhan mengambil satu hal dari kita, Dia akan memberikan hal lain yang lebih baik. Mungkin Tuhan sedang mengambil kakimu untuk sementara, biar kamu fokus sama hal lain yang selama ini kamu lupakan. Keluarga, misalnya. Atau... diri sendiri."
Arjuna tertegun. Kata-kata itu, yang terucap dari bibir Mentari dengan begitu polos, terdengar begitu dalam. Selama ini, ia terlalu fokus pada pekerjaan, pada ambisi, hingga melupakan banyak hal.
Sejak percakapan malam itu, sesuatu dalam diri Arjuna mulai berubah. Ia tidak lagi sepenuhnya tenggelam dalam keputusasaan. Ia mulai aktif mengikuti terapi, bukan lagi karena paksaan, melainkan karena ia ingin sembuh. Ia mulai membaca laporan perusahaan lagi, mencoba mengikuti perkembangan meskipun sulit. Ia bahkan mulai berinteraksi lebih banyak dengan staf di rumahnya, sesuatu yang dulu jarang ia lakukan.
Namun, tantangan terbesar masih di depan mata: perebutan kekuasaan di Dirgantara Group. Bima dan Indra semakin berani. Mereka bahkan berani mengabaikan panggilan telepon dari Arjuna, atau jika terpaksa menjawab, mereka akan memberikan jawaban yang berbelit-belit.
Suatu siang, Ibu Dewi datang ke kamar Arjuna dengan wajah khawatir. "Arjuna, proyek pembangunan resort di Bali terancam batal. Investornya menarik diri karena mendengar gosip tentang ketidakstabilan manajemen kita."
Arjuna mengepalkan tangannya. Proyek itu adalah salah satu proyek impiannya, yang telah ia rencanakan sejak lama. "Sudah sejauh mana?"
"Bima dan Indra saling menyalahkan. Mereka tidak ada yang berani mengambil keputusan. Investornya sudah mengirimkan surat pembatalan," jelas Dewi, suaranya getir.
Darah Arjuna mendidih. Ia tidak bisa membiarkan ini terjadi. Dirgantara Group adalah warisan ayahnya, dan ia tidak akan membiarkannya hancur di tangan adik-adiknya yang serakah.
"Siapkan rapat direksi besok pagi," perintah Arjuna, suaranya tegas. "Dan pastikan semua direktur hadir, termasuk Bima dan Indra."
Dewi menatap putranya, terkejut namun bangga. Ada kilatan di mata Arjuna yang sudah lama tidak ia lihat. Kilatan seorang pemimpin.
"Tapi, Nak, apakah kamu yakin? Kondisimu..."
"Aku CEO perusahaan ini, Bu. Dan aku akan mempertahankannya," kata Arjuna, rahangnya mengeras.
Mentari, yang saat itu sedang merapikan buku-buku di rak, mendengar percakapan itu. Ia tersenyum tipis. Ini dia, Arjuna yang dulu. Semangatnya mulai kembali.
Keesokan paginya, ruang rapat utama Dirgantara Tower dipenuhi ketegangan. Para direktur duduk di tempat masing-masing, berbisik-bisik. Bima dan Indra terlihat gugup, namun berusaha mempertahankan ekspresi datar. Mereka tidak menyangka Arjuna akan berani muncul dalam rapat sepenting ini.
Saat pintu ruang rapat terbuka, semua mata tertuju pada Arjuna yang didorong masuk oleh asistennya. Arjuna duduk di ujung meja, dengan tatapan tajam menyapu seisi ruangan. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Kehadirannya saja sudah cukup untuk menciptakan keheningan yang mencekam.
"Selamat pagi, semuanya," suara Arjuna memecah keheningan. "Terima kasih sudah hadir."
Ia menghela napas, lalu melanjutkan. "Saya dengar proyek resort di Bali terancam batal. Ada yang bisa menjelaskan kronologinya?"
Para direktur saling pandang. Bima, sebagai direktur utama, harusnya yang pertama bicara. Namun, ia hanya terdiam, wajahnya pucat.
"Bima? Indra? Kalian yang mengurus proyek ini. Kenapa bisa jadi begini?" tanya Arjuna, suaranya dingin.
Bima akhirnya angkat bicara, tergagap. "I-itu... ada masalah komunikasi, Kak. Investornya mendadak berubah pikiran..."
"Berubah pikiran, atau kalian yang tidak kompeten mengurusnya?" potong Arjuna tajam. "Investor tidak akan menarik diri tanpa alasan yang kuat. Saya sudah mendengar semua gosip tentang ketidakstabilan di dalam perusahaan ini. Gosip yang kalian sendiri sebarkan karena berebut kekuasaan!"
Semua direktur menunduk. Bima dan Indra terdiam seribu bahasa.
"Proyek ini, dan seluruh masa depan Dirgantara Group, tidak bisa saya serahkan pada orang-orang yang hanya memikirkan ambisi pribadi. Kalian berdua, Bima, Indra, telah gagal membuktikan kemampuan kalian. Kalian telah membahayakan perusahaan yang sudah dibangun dengan susah payah oleh ayah kita."
Suasana semakin tegang. Arjuna menghela napas panjang.
"Saya tidak akan membiarkan Dirgantara Group hancur di tangan kalian. Mulai hari ini, saya akan kembali mengambil alih kendali penuh. Saya akan memimpin rapat, saya akan membuat keputusan, dan saya akan memastikan perusahaan ini kembali stabil."
Mata Bima melotot. "Tapi, Kak! Kondisimu..."
"Kondisiku tidak ada hubungannya dengan otakku," potong Arjuna, suaranya menggelegar. "Dan keputusanku mutlak. Siapapun yang tidak setuju, silakan ajukan surat pengunduran diri. Saya tidak butuh pengkhianat di tim saya."
Para direktur terdiam. Tidak ada yang berani membantah. Aura kepemimpinan Arjuna, yang dulu selalu memancar, kini kembali. Meskipun duduk di kursi roda, ia tetaplah CEO yang disegani.
Arjuna kemudian melanjutkan dengan memaparkan rencana-rencana daruratnya untuk menyelamatkan proyek Bali, memberikan instruksi tegas kepada setiap direktur, dan menuntut laporan harian. Ia bahkan meminta asistennya untuk mengatur jadwal video conference dengan investor, untuk menjelaskan langsung situasi dan meyakinkan mereka.
Mentari tidak ada di ruang rapat. Namun, dari balik pintu kantor Arjuna yang setengah terbuka, ia bisa mendengar semua yang terjadi. Ia tersenyum bangga. Ini dia, Arjuna yang sesungguhnya. Arjuna yang kuat, yang tak akan menyerah pada keadaan.
Sejak hari itu, Arjuna benar-benar kembali ke medan perang. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor, meskipun harus dilakukan dari kursi rodanya. Ia memimpin rapat, meninjau laporan, dan membuat keputusan penting. Ia memanggil para direktur satu per satu, mengaudit kinerja mereka, dan memberikan arahan yang jelas.
Bima dan Indra tidak punya pilihan selain tunduk. Mereka terpaksa kembali ke posisi semula, dengan pengawasan ketat dari Arjuna. Meskipun masih menyimpan dendam, mereka tidak berani melawan Arjuna yang kini kembali menunjukkan taringnya.
Proyek resort di Bali berhasil diselamatkan. Investor yang tadinya ragu, akhirnya kembali setelah Arjuna melakukan presentasi yang meyakinkan, menjelaskan visinya, dan menjamin stabilitas perusahaan. Ia membuktikan bahwa meskipun cacat fisik, otaknya masih berfungsi prima, bahkan lebih tajam dari sebelumnya.
Di tengah kesibukannya yang luar biasa, Arjuna tidak melupakan Mentari. Gadis itu masih setia menemaninya, membawa bekal makan siang, mengingatkan jadwal terapi, dan sesekali menyanyikan lagu-lagu aneh untuk menghilangkan stres Arjuna.
"Kamu hebat, Pak!" puji Mentari suatu sore, saat Arjuna baru saja menyelesaikan video conference yang panjang.
Arjuna tersenyum tipis. "Tidak seberapa. Ini semua berkat... motivasi darimu."
Mentari terkekeh. "Saya kan cuma memotivasi. Kamu yang kerja keras."
Mereka terdiam. Ada keheningan yang nyaman di antara mereka. Arjuna menyadari, kehadiran Mentari telah menjadi penopang yang tak terduga. Ia tidak tahu bagaimana caranya, tetapi Mentari berhasil menembus benteng pertahanannya, membuat ia kembali percaya pada dirinya sendiri.
Namun, Arjuna tahu, ini hanyalah permulaan. Perjalanan menuju pemulihan total masih panjang, baik secara fisik maupun mental. Ia masih harus menghadapi bayangan masa lalu yang menghantuinya, dan ia masih harus membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia bisa berjalan kembali. Namun, setidaknya, sekarang ia tidak sendirian. Ia memiliki secercah harapan, yang bernama Mentari, seorang wanita "barbar" yang telah menjadi mentari sesungguhnya dalam hidupnya.
Kembalinya Arjuna ke Dirgantara Tower seperti kembalinya singa ke sarangnya. Aura dominasinya segera mengisi setiap sudut kantor, menyingkirkan ketidakpastian yang sempat disebarkan oleh Bima dan Indra. Rapat-rapat menjadi lebih terstruktur, keputusan diambil dengan cepat, dan proyek-proyek yang sempat mandek kembali berjalan lancar. Arjuna, yang kini memimpin dari kursi rodanya, membuktikan bahwa seorang pemimpin sejati tidak ditentukan oleh langkah kakinya, melainkan oleh ketajaman pikirannya dan kekuatan tekadnya.
Namun, di balik semua kesibukan dan keberhasilan profesionalnya, perjuangan pribadi Arjuna tetap berlanjut. Terapi fisiknya menjadi semakin intens, menuntut lebih banyak stamina dan mental yang kuat. Fisioterapisnya, Pak Hadi, adalah seorang yang sabar namun tegas. Setiap sesi, Arjuna harus menahan rasa sakit dan kelelahan, memaksakan otot-ototnya yang lemah untuk bergerak.
"Satu lagi, Pak Arjuna! Sedikit lagi!" suara Pak Hadi menyemangati, saat Arjuna berusaha mengangkat kakinya setinggi mungkin dari matras. Keringat membasahi pelipisnya, napasnya tersengal.
Di sudut ruangan, Mentari selalu ada. Ia tidak selalu berbicara, kadang hanya duduk tenang sambil merajut atau membaca. Namun, kehadirannya saja sudah cukup. Ada kalanya ia akan melontarkan lelucon receh yang membuat Arjuna terkekeh, atau menyanyikan lagu-lagu motivasi dengan suaranya yang khas.
"Ayo, Pak! Semangat! Nanti kalau sudah bisa jalan lagi, saya traktir bakso keliling!" seru Mentari suatu sore, saat Arjuna terlihat kelelahan.
Arjuna mendengus, "Bakso keliling? Kamu bercanda?"
"Serius! Itu bakso terenak sedunia, Pak! Dijamin nyesel kalau nggak nyoba," balas Mentari dengan mata berbinar.
Meskipun terlihat sepele, janji bakso keliling itu entah mengapa menjadi salah satu motivasi tersembunyi bagi Arjuna. Ia membayangkan dirinya berjalan lagi, bisa merasakan sensasi melangkah di trotoar, dan makan bakso keliling bersama Mentari.
Selain terapi fisik, Arjuna juga menghadapi terapi emosional yang tak kalah berat. Bayangan Kirana dan Bima masih sering menghantuinya, terutama di malam hari. Rasa sakit hati dan pengkhianatan itu belum sepenuhnya sirna. Ia tahu ia harus memaafkan, bukan demi mereka, tetapi demi dirinya sendiri. Namun, itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.
Mentari seringkali menjadi sandaran emosionalnya. Ia tidak memberikan saran yang muluk-muluk, hanya mendengarkan dengan penuh perhatian. "Orang jahat itu rugi sendiri, Pak. Karma itu ada," kata Mentari suatu malam, saat Arjuna bercerita tentang betapa ia masih membenci Bima. "Yang penting kamu fokus sama kebahagiaanmu sendiri."
Di kantor, kabar tentang kesembuhan dan kebangkitan Arjuna menyebar dengan cepat. Dewi, sang ibu, adalah orang yang paling bahagia. Ia melihat putranya kembali menjadi Arjuna yang dulu, bahkan mungkin lebih kuat dan bijaksana. Ia sering mendapati Arjuna dan Mentari bercanda di ruang kerja, atau melihat Mentari membawakan bekal makan siang untuk Arjuna. Ada secercah harapan lain yang mulai tumbuh di hati Dewi: harapan agar Arjuna menemukan kebahagiaan sejati.
Namun, tidak semua orang senang dengan kebangkitan Arjuna. Bima dan Indra, meskipun kini harus tunduk di bawah kepemimpinan Arjuna, jelas-jelas masih menyimpan dendam. Mereka seringkali terlihat berbisik-bisik di sudut kantor, tatapan mata mereka dipenuhi kemarahan dan kekecewaan. Mereka merasa semua usaha mereka untuk merebut takhta telah sia-sia.
Suatu siang, Bima datang ke ruangan Arjuna. Wajahnya tegang. "Kak, saya mau bicara empat mata."
Arjuna menatap adiknya dingin. "Silakan."
"Apa yang Kakak lakukan itu tidak adil," ujar Bima, suaranya sedikit bergetar. "Saya dan Indra sudah berusaha mengurus perusahaan. Kakak tiba-tiba datang dan mengambil alih semuanya."
"Mengambil alih?" Arjuna tertawa sinis. "Sejak kapan perusahaan ini jadi milik kalian? Kalian tahu betul kalian tidak sanggup mengurusnya. Proyek Bali hampir hancur di tanganmu, Bima. Dan jangan lupakan, kau menikahi wanita yang seharusnya menjadi istriku, adikku."
Wajah Bima memerah. "Kirana memilih saya, Kak. Itu bukan salah saya."
"Pilihan yang sangat tepat saat aku lumpuh, bukan?" sindir Arjuna. "Kalian berdua terlalu picik. Terlalu sibuk memikirkan harta, sampai lupa arti keluarga dan loyalitas."
Bima terdiam. Ia tahu ia tidak bisa melawan. Aura Arjuna terlalu kuat. "Saya hanya ingin pengakuan, Kak. Saya ingin setara dengan Kakak."
"Pengakuan didapat dari kerja keras dan integritas, Bima, bukan dari pengkhianatan," tegas Arjuna. "Sekarang, jika tidak ada hal penting yang berkaitan dengan pekerjaan, silakan kembali ke mejamu."
Bima mengepalkan tangannya, lalu berbalik dan keluar dari ruangan Arjuna dengan langkah terburu-buru. Arjuna menghela napas. Hubungan dengan kedua adiknya tampaknya akan sulit diperbaiki.
Seiring waktu berlalu, kehidupan Arjuna mulai menunjukkan kemajuan signifikan. Secara fisik, ia mulai bisa berdiri dengan bantuan alat. Langkah-langkah kecil, gemetar, namun itu adalah sebuah kemajuan besar. Setiap kali ia berhasil melangkah satu inci lebih jauh, Mentari akan bersorak gembira, seolah ia baru saja memenangkan medali emas Olimpiade.
"Yeay! Satu langkah lagi, Pak! Bentar lagi lari maraton!" seru Mentari suatu pagi, saat Arjuna berhasil berdiri selama lima menit tanpa bantuan.
Arjuna tersenyum tipis. "Jangan berlebihan."
"Ih, beneran kok! Nanti kalau sudah bisa lari, kita lari pagi keliling kompleks!" timpal Mentari, matanya berbinar.
Di sisi lain, Arjuna juga semakin menyadari perasaannya terhadap Mentari. Awalnya, ia hanya menganggap Mentari sebagai penolong, sosok yang menghiburnya. Namun, perlahan, ada perasaan lain yang tumbuh. Perasaan nyaman, tenang, bahkan... ketertarikan. Mentari bukan wanita yang sempurna dalam pandangan masyarakat. Ia lugas, blak-blakan, dan kadang terlihat cuek. Tapi ia memiliki hati yang murni, semangat yang membara, dan kebaikan yang tulus. Ia tidak pernah menuntut apa-apa dari Arjuna, kecuali agar Arjuna bangkit.
Suatu sore, saat Mentari sedang mengajari Arjuna cara membuat simpul tali untuk proyek kerajinan anak-anak panti, tangan mereka bersentuhan. Ada percikan kecil, yang membuat jantung Arjuna berdegup lebih kencang. Mentari menarik tangannya cepat, pipinya sedikit memerah.
"Maaf, Pak," gumam Mentari.
Arjuna hanya terdiam, tatapan matanya tertuju pada Mentari. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Jantungnya masih berdegup kencang. Ia menyadari, perasaan ini berbeda dengan perasaannya pada Kirana. Dengan Kirana, ada gairah dan obsesi. Dengan Mentari, ada ketenangan, kehangatan, dan rasa damai.
Namun, keraguan tetap ada. Bagaimana bisa ia, seorang CEO dari keluarga terpandang, yang baru saja dicampakkan karena lumpuh, jatuh cinta pada seorang gadis panti asuhan yang "barbar" dan "mata duitan"? Apakah ini hanya rasa syukur atau sesuatu yang lebih dalam?
Tantangan lain datang dari luar. Meskipun Dirgantara Group kembali stabil, ada pesaing lama yang melihat peluang dalam kelemahan Arjuna. Naga Corporation, sebuah perusahaan raksasa yang dipimpin oleh Bram, musuh bebuyutan Arjuna, mulai melancarkan serangan. Mereka berusaha mencuri proyek-proyek vital, membajak karyawan kunci, dan menyebarkan rumor negatif tentang Dirgantara Group.
Bram, seorang pria licik dan ambisius, selalu iri pada kesuksesan Arjuna. Ketika mendengar Arjuna lumpuh, ia merasa inilah kesempatannya untuk menghancurkan Dirgantara Group. Namun, ia terkejut dengan kebangkitan Arjuna yang begitu cepat.
"Bajingan itu masih punya taring," gerutu Bram di ruang kerjanya, sambil melemparkan koran yang memuat berita tentang pemulihan Dirgantara Group. "Aku tidak akan membiarkannya menang."
Arjuna menyadari serangan ini. Ia mengadakan rapat darurat dengan para direktur kepercayaannya. "Bram tidak akan berhenti sampai ia melihat Dirgantara Group hancur. Kita harus lebih sigap," kata Arjuna, matanya menyala penuh strategi.
Pertempuran bisnis pun dimulai. Arjuna menghabiskan lebih banyak waktu di kantor, memimpin strategi pertahanan dan serangan balasan. Ia kembali ke mode "singa" yang ditakuti para pesaingnya. Ia tidak hanya mempertahankan perusahaan, tetapi juga melancarkan serangan balik yang cerdas, membuat Naga Corporation kewalahan.
Dalam hiruk pikuk perang bisnis ini, Mentari tetap menjadi penyeimbang. Ia tidak mengerti seluk beluk bisnis, tetapi ia tahu bagaimana meredakan ketegangan Arjuna. Ia akan membawakan cemilan favorit Arjuna, atau sekadar bercerita tentang hal-hal lucu yang terjadi di panti, membuat Arjuna sejenak melupakan tekanan pekerjaannya.
"Kamu terlalu tegang, Pak," ujar Mentari suatu malam, saat Arjuna terlihat sangat lelah setelah seharian penuh rapat. "Ayo, saya pijitin pundaknya."
Arjuna terkejut. "Tidak perlu..."
"Tidak apa-apa! Pijitan saya ampuh kok, dijamin pegal-pegalnya hilang!" Mentari tidak menunggu jawaban Arjuna. Ia mulai memijat pundak Arjuna dengan tangannya yang kecil namun kuat. Awalnya, Arjuna merasa canggung, namun perlahan ia menikmati pijatan itu. Ketegangan di pundaknya sedikit mereda.
"Kenapa kamu melakukan semua ini?" tanya Arjuna pelan.
Mentari berhenti memijat, menatap Arjuna. "Melakukan apa?"
"Semua ini. Menemaniku, menyemangatiku, mengurusku," jelas Arjuna.
Mentari tersenyum. "Emang kenapa? Kan aku dibayar."
Arjuna tahu Mentari hanya bercanda. Bayaran yang Dewi berikan padanya tidak sepadan dengan semua yang Mentari lakukan.
"Lebih dari itu," kata Arjuna.
Mentari menghela napas, tatapan matanya menjadi lebih lembut. "Aku... aku suka melihatmu bersemangat lagi, Pak. Kamu itu orang baik, cuma lagi apes aja. Aku nggak tega lihat kamu murung terus." Ia kemudian melanjutkan, "Lagipula, aku juga belajar banyak darimu. Kamu kan CEO hebat. Siapa tahu nanti aku bisa jadi CEO panti asuhan yang sukses." Ia terkekeh.
Mendengar itu, hati Arjuna menghangat. Ia tahu Mentari tulus. Ia tahu bahwa meskipun Mentari selalu berbicara tentang uang, hatinya jauh lebih kaya daripada kebanyakan orang kaya yang ia kenal.
Suatu hari, setelah sesi terapi yang melelahkan, Pak Hadi memberikan kabar gembira. "Pak Arjuna, progres Anda sangat baik. Jika terus begini, dalam beberapa bulan ke depan, Anda mungkin bisa mencoba berjalan dengan kruk, dan kemudian, dengan tongkat."
Arjuna menatap Pak Hadi, matanya berbinar. "Benarkah, Pak?"
"Benar, Pak. Asal Anda terus disiplin dan semangat."
Mendengar kabar itu, Mentari langsung memeluk Arjuna erat. "Yeay! Pak Arjuna mau jalan lagi! Nanti kita lari maraton!"
Pelukan Mentari yang tiba-tiba membuat Arjuna sedikit terkejut, namun ia tidak menolak. Ia merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Sebuah pelukan tulus yang jauh lebih berarti dari sekadar ucapan selamat.
"Jadi, kapan saya bisa menagih bakso keliling?" tanya Arjuna, mencoba menahan senyum.
Mentari melepaskan pelukannya, matanya berbinar. "Sebentar lagi, Pak! Kita latihan terus! Bakso keliling menanti!"
Kabar baik itu menyebar ke seluruh rumah. Dewi menangis haru. Ini adalah keajaiban yang ia nantikan. Ia tahu, kehadiran Mentari adalah kunci dari semua ini.
Namun, di tengah kebahagiaan itu, ada kekhawatiran lain yang muncul di benak Arjuna. Jika ia sudah bisa berjalan lagi, dan sudah kembali sepenuhnya ke puncak kekuasaan, apakah Mentari masih akan tetap di sisinya? Apakah ia akan kehilangan Mentari, sosok yang kini menjadi cahaya dalam hidupnya?
Ia tahu, Mentari memiliki impiannya sendiri. Impian untuk membuka toko jahit, untuk menjadi sukses dengan caranya sendiri. Apakah ia berhak menahan Mentari? Atau apakah ia harus merelakan Mentari pergi demi mengejar impiannya?
Pertanyaan itu terus mengganjal di benak Arjuna. Ia tahu, ia harus menghadapi perasaannya sendiri terhadap Mentari. Ini bukan lagi tentang rasa syukur. Ini adalah perasaan yang lebih dalam, perasaan yang mengancam untuk mengubah seluruh hidupnya lagi, kali ini bukan karena kecelakaan, melainkan karena cinta.
Malam itu, Arjuna tidak bisa tidur. Ia bangkit dari tempat tidurnya, dengan susah payah menggerakkan kursi rodanya menuju balkon kamarnya. Langit malam bertabur bintang, indah dan menenangkan. Ia memejamkan mata, membiarkan angin malam menerpa wajahnya. Ia teringat janji Mentari tentang bakso keliling, tentang lari maraton. Ia ingin merasakan semua itu bersamanya.
"Apakah mungkin?" bisiknya pada angin malam. Apakah mungkin ia, seorang pria yang pernah hancur lebur, bisa menemukan kebahagiaan sejati dengan seorang wanita yang sangat berbeda dari dunianya? Pertanyaan itu belum terjawab, namun satu hal yang pasti, jejak kaki yang dirindukan Arjuna, kini mulai terasa semakin dekat, dan di setiap jejak itu, ada bayangan Mentari yang selalu menemaninya.