Pelajaran berlalu seperti biasa sampai waktu di mana kegiatan belajar mengajar di sekolah sudah berakhir. Bel pulang berbunyi, Anya Melangkah dengan lesu tidak seperti biasa keceriaan menyambut saat bel pulang berbunyi. Harusnya itu menjadi tanda berakhirnya kegiatan sekolah pada hari ini dan beristirahat di rumah untuk melanjutkan kegiatan sekolah besok hari. Namun bagi Anya saat ini dia hanya ingin pulang dan tidak kembali ke sekolah itu di hari esok karena apapun yang sudah dijelaskan tidak akan dipercaya sekalipun oleh teman-temannya.
"Udah, besok pasti udah pada lupa," hibur Renata. Dia satu-satunya orang yang tidak percaya pada gosip itu.
"Iya sih, jalani aja dulu kali ya karena kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya."
Renata menatap gadis itu penuh makna seakan mengerti kalau Anya sedang banyak pikiran.
Mereka masih kelas 2 SMA tapi sudah mendapat fitnah yang bisa dibilang sangat berat. Gadis kecil itu pasti di benaknya menangkap kalau pelakor itu adalah pecinta lelaki Korea bukan arti sebenarnya yaitu perebut laki orang. Mereka masih berjalan perlahan di sepanjang koridor kelas sebelas IPS.
"Siang, Pak Jamal," sapa Renata sambil tersenyum Dan disambut dengan anggukan canggung dari Anya. Tidak tahu sebenarnya apa yang membuat mereka dekat tapi fitnah yang membuat Anya jadi tidak enak saat bertemu Pak Jamal padahal besok ada pelajaran matematika.
"Pulang?" tanya Pak Jamal sekedar basa-basi karena sudah tahu sekarang waktunya pulang.
"Iya, Pak."
Jawaban pendek dari Renata sudah cukup menjelaskan kalau mereka akan kembali ke rumah masing-masing akan tetapi dengan gerakan yang sangat cepat, Anya menarik tangan Renata agar jauh dari Pak Jamal. Ya berjalan secepat mungkin sampai dekat pos satpam. Renata bingung dibuatnya karena tampak Anya setakut itu berada di sekitar Pak Jamal.
"Jangan deketin pak Jamal, gue ngeri siapa tahu ada yang foto lagi," ucap Anya trauma.
"Nggak bakalan, gue jamin," tukas Renata meyakinkan. Tanpa curiga, Anya bergegas pamit pulang tanpa memikirkan apapun.
Esok biar tetap jadi misteri yang akan di hadapi saat hari berganti.
Sore harinya Renata menepati janji karena dia mau menjemput Anya untuk nongkrong di cafe kemudian mampir ke rumah Renata. Bukan hanya berkunjung seperti biasa melainkan ada Bobby yang menunggu di ruang tamu sampai Renata dan Anya pulang dari kafe.
"Eh, Kak Bobby. Udah lama nunggu?" tanya Renata.
"Lumayan sampe lulus sekolah," kelakar Bobby. Renata terkekeh lalu mengajak Anya duduk di sofa ruang tamu dengan posisi Bobby ada di tengah dan seolah ada dua bidadari yang mengelilinginya.
"Waduh, gue jadi salah tingkah dikelilingi sama dua bidadari," Bobby melirik cengengesan dia malah terlihat seperti sudah tak sabar ingin mengenal Anya lebih jauh.
"Lebay lo, sini gua kenalin sama Anya," tandas Renata seperti yang sudah direncanakan kalau Bobby memang ke rumahnya hanya untuk berkenalan dengan gadis imut bernama Anya.
Anya dan Bobby berkenalan, memang tidak secepat itu rasa yang namanya cinta muncul akan tetapi Bobby sudah sangat tertarik dengan Anya bahkan sebelum mereka bertemu.
"Rumah kamu di perumahan Bukit Bintang?" tanya Bobby selepas perkenalan.
"Iya, di gang pajak, " jawab Anya. Mereka adalah tetangga karena rumah Bobby juga ada di Perumahan Bukit Bintang hanya beda Gang dengan Anya. Sebelumnya Bobby sering melihatnya di sekitar rumah.
"Dia sering kali kegiatan di daerah rumah tapi dari dulu nggak berani kenalan," kata Bobby.
Tuduhan itu terbukti karena satu foto bisa mewakili Jawaban dari pertanyaan orang-orang. Namun mereka tidak pernah tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Malam itu yang terjadi sebenarnya sederhana, Anya ke luar bersama Papanya ke sebuah pembukaan Cafe yang ada di depan perumahan Bukit Bintang. Di sana papa Anya bertemu dengan Pak Jamal. Mereka adalah teman dekat maka tak heran kalau sudah bertemu dan asyik mengobrol keberadaan sang anak sampai terlupakan.
Anya sampai ngambek karena bosan sedangkan obrolan terus berlanjut sampai malam. Namun di tengah obrolan tiba-tiba bapaknya mendapat telepon Yang sepertinya penting sehingga dia harus menjauh untuk fokus mengobrol sedangkan Pak Jamal yang juga adalah guru matematika dari Anya hanya bisa diam saat papa Anya meninggalkannya.
Dan banyak obrolan basa-basi seputar sekolah yang mereka bicarakan selama menunggu papa Anya kembali ke meja. Tanpa disangka banyak kecocokan antara nya dengan pak Jamal yang ternyata di sekolah Anya lebih banyak diam daripada di luar, dia menjadi orang yang cukup cerewet. Sungguh duality yang maksimal.
Entah apa motivasinya sampai ada yang memotret dan dengan nomor tak dikenal "dia" menyebarkan foto itu sehingga menjadi sumber gosip.
Anya tanpa diminta menceritakan kejadian yang terjadi di sekolahnya pada Bobby. Tampilan Bobby yang tinggi, putih, dan wajahnya yang cukup berwibawa dengan kacamata bertengger di hidungnya sepintas cukup membuat wanita terpesona. Sekolah Bobby tepat disebelah SMA 127 yaitu SMK 21 yang sebagian besar muridnya adalah pria maka tak heran ia sampai minta tolong Renata untuk mengenalkan dirinya dengan Anya padahal tanpa dikenalkan pun karena mereka sama-sama dari Perumahan Bukit Bintang yang sewaktu-waktu bisa bertemu dan saling berkenalan.
"Jadi sampai segitunya kamu dikejar gosip?" tanya Bobby.
"Itulah SMA 127, Bob. Keras," tandas Renata. Bobby mengangguk-anggukkan kepala karena Paham bagaimana kerasnya nyinyiran dari siswa SMA 127.
"Jadi apa nih yang bisa gue bantu?" tanya Bobby lagi agar mengarahkan pembicaraan agar tidak lari ke mana-mana.
"Lu pura-pura jadi pacar Anya, ya?" pinta Renata. Setidaknya cara itu bisa menekan gosip yang ada. Demi nama baik Anya dan Pak Jamal terlebih guru matematika itu sudah memiliki istri dan satu anak.
"Boleh, nggak pura-pura juga oke aja sih gue," kelakar Bobby yang memang tertarik pada Anya.
"Sementara ini tolongin gue antar sampai ke gerbang sekolah setiap pagi untuk menunjukkan kalau gue punya pacar dan gue nggak akan merebut siapapun," ucap Anya sedikit memaksa tanpa mencari tahu kalau Bobby punya pacar atau tidak saat ini.
"Boleh aja, rumah kita dekat. Lu gang pajak, gue gang emas, tinggal lurus sama belok dikit saja udah sampai," kata Bobby bersedia.
"Tapi gue lupa satu hal," tandas Anya dengan cepat sebelum mereka berdua menjalani hari dengan berpura-pura pacaran.
"Apa?" tanya Bobby santai.
"Lu punya pacar?" tanya Anya waspada.
"Anggap aja nggak punya," jawab Bobby meragukan. Anya khawatir dia dituduh merebut orang lagi.
"Kok anggap sih? Berarti punya dong?" cecar Anya.
"Gue jomblo, dijamin," tukasnya meyakinkan. Dia hanya khawatir hubungan dengan sang mantan yang ternyata masih dipertanyakan. Namun bisa ia nyatakan kalau saat ini dia sedang sendiri.
Tentang hubungan yang meragukan. Nindya telah berkhianat pada Bobby. Dia jalan berdua dengan adik kelas bernama Issa. Nindya mengaku lebih bahagia ketimbang bersama Bobby. Entah apa definisi bahagia di mata Nindya hingga tercipta perbandingan lebih bahagia dari yang lain padahal mereka sesama manusia. Memang cinta pada masa SMA adalah cinta monyet tapi interaksi antar manusia dimulai sejak kecil. Hati mana yang tidak sakit jika terjadi penghianatan. Tanpa ada kata putus, Nindya sudah bersama adik kelas ditandai dengan bonceng sepeda motor pulang sekolah.
Nindya berdalih adik kelas itu cuma teman padahal berulang kali Bobby lewat depan rumah Nindya kalau si adik kelas itu seringkali mampir ke rumahnya. Gadis itu tidak bisa mengelak karena hobi punya banyak bukti yang cukup kuat.
Bobby sudah melupakan Nindya menghapusnya dari bagian hidup. Saat itulah Bobby bertemu dengan Anya di dekat rumahnya.
Sebuah pertemuan di depan masjid, Bobby melihat wajahnya yang sangat imut.
Pertemuan ini bukan pertama kali, Bobby yang kesulitan untuk kenalan dan ingin momen yang pas sudah mengatur semuanya agar bisa kenalan dengan Anya.
Renata menjadi penengah untuk mencarikan bahan obrolan.
"Nya, nonton, ke bioskop. Film apa sekarang?" pancing Renata berharap Bobby peka dan juga mau ikut nonton nantinya dia tidak akan datang agar Anya dan Bobby bisa pergi berdua.
"Kalau nggak salah filmnya horor," sahut Bobby.
"Nggak mau nonton horor, masa kita bayar buat ditakut-takutin?" sanggah Anya.
"Bukan ditakutin, horor termasuk salah satu genre cerita yang kalau kita cermati itu mengandung alur yang sudah ditentukan hingga dikemas dalam satu film. Pasti ada bumbu ketakutan karena memang temanya horor sama saja kayak film romantis pasti ada adegan romantisnya," ujar Bobby bijak.
Anya manggut-manggut, dengan polosnya dia mencerna apa yang Bobby katakan.
"Ada yang ngga horror? Masa satu studio cuma satu film?" ujar Renata menengahi.
"Bentar gue cek, ada nih, drama romantis judulnya The Only One," ujar Bobby sembari menyentuh layar HPnya ke atas. Terlihat di matanya ada poster film Amerika sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang bertatapan dengan latar belakang semburat senja berwarna ungu.
Anya melongok ke layar handphone Bobby, dia juga melihat poster yang sama dan dalam sekejap dia tertarik menonton film karena poster yang menggambarkan cerita penuh kasih dan romantis.
"Mau nonton ini, kapan?" tanya Anya.
"Sekarang aja," kata Bobby tanpa mau membuang waktu.
Hari itu hari Selasa tepat tanggal merah di Hari Raya Waisak. Mereka yang tidak merayakan mengambil waktu dan kesempatan untuk melakukan hal yang ingin mereka lakukan di hari sekolah.
Tepat pukul 10 pagi, mereka berangkat bertiga dengan taksi online. Mau tidak mau Renata harus ikut menemani sebelum melepas mereka benar-benar berdua.
Bobby duduk di sebelah sopir seperti mengawal dua cewek ini menuju ke tempat yang mereka mau.
Sesampainya di bioskop, Bobi yang memesan tiket nonton untuk 3 orang biar 2 cewek di depannya ini hanya duduk manis menjadi ratu.
"Ren, nanti gue gantiin duitnya Bobby ya nggak enak soalnya baru kenal," bisik Anya ketika melihat punggung Bobby yang sedang membeli tiket dan popcorn serta minumannya.
"Udah, nonton dulu yang penting sekarang kita bisa masuk bioskop," ujar Renata menenangkan. Anya terlihat gelisah karena dia hanya membawa 1 lembar uang warna biru di dompetnya dengan kartu ATM yang belum terisi. Masa iya dia pinjam duit Renata hanya untuk menebus uang nonton dan popcorn dari Bobby?
Tiga tiket film The Only One sudah di tangan dan mereka masuk tepat saat gerbang studio 2 terbuka. Mereka duduk di bagian tengah tepat di posisi pojok alasannya agar tidak ada penonton lain yang melewati mereka saat baru datang atau ke toilet.
Posisi Anya duduk di tengah antara Renata dan Bobby. Entah sengaja atau bukan posisi popcorn tetap dipegang oleh Anya. Begitu Ia mau mengembalikan ke Bobby tapi Bobby pura-pura cuek. Dia fokus melihat layar smartphone dan pura-pura membalas chat padahal tidak ada satupun chatting masuk ke handphone-nya.
Sudahlah Anya menunggu waktu yang tepat untuk mengembalikan popcorn. Dia mencoba fokus untuk menonton film yang dibuka dengan adegan prolog tabrakan mobil. Sebuah adegan yang cukup mencuri perhatian dan membuatnya fokus untuk menonton film sampai lupa pada popcorn di tangannya. Mau menawarkan pada Renata juga tidak bisa karena Renata juga memegang popcorn caramel di tangannya.
Selang waktu kira-kira 10 menit, Bobby mulai mengantuk dan sulit membuka matanya. Dia memang sering begadang karena main game atau hanya menonton YouTube cerita kriminal. AC yang dingin juga membuatnya mengantuk. Dia sudah tidak peduli dengan popcorn ataupun soda yang sudah dia pesan yang penting dia ada kesempatan untuk tidur.
Tuk!
Tanpa sadar kepala Bobby jatuh ke bahu Anya. Sedetik kemudian dia bereaksi tapi tidak tega melihat mobil yang sedang tertidur pulas. Mungkin karena filmnya memiliki alur yang lambat juga cerita yang romantis sehingga tidak membuat adrenalinnya terpacu.
"Ren, sepupu lo tidur."
Bisik Anya hanya membuat Renata tertawa kecil, dia sudah tahu rencana busuk sepupunya yang mengajak Anya nonton hanya untuk modus.
"Kalau Bobby tidur mau dijorokin kepalanya ke tembok aja dia enggak akan bangun," kata Renata. Anya jadi salah tingkah mendadak dia menjadi sandaran Bobby. Sempat ada pikiran di benaknya bahwa di bioskop adalah tempat modus laki-laki. Pernah dia mendengar cerita kalau kencan pertama di bioskop paling tidak berakhir dengan memegang popcorn bersama-sama atau ciuman. Namun ini tidak, malah dirinya yang jadi sandaran. Mau bergerak ke kanan dan ke kiri juga Bobby tetap tidur pulas.
"Ren, gimana nih?" tanya Anya gelisah.
"Jorokin aja palanya ke pojok," tukas Renata. Namun Anya masih merasa sungkan.
Alur film yang mulai menunjukkan greget dari cerita, sayang sekali harus dilewatkan oleh Anya karena Bobby yang sejak tadi tidur di bahunya. Jangankan makan popcorn, mau menoleh saja sudah terasa pegal.
"Nya, ajegile, film romantis banget, alurnya memang terasa lambat di awal tapi mulai dari tengah ke belakang mulai terasa jelas ceritanya," komentar Renata sementara Anya hanya meringis karena Bobby tak kunjung bangun dari bahunya.
"Ren, Bobby," adu Anya. Renata mulai geregetan karena film yang sudah Mencapai klimaks malah tidak bisa dinikmati karena ulah sepupunya yang memalukan.
"Lepasin aja! Kita tuker duduk!" tegas Renata. Anya menuruti perkataan itu tanpa peduli kepala Bobby yang mulai oleng selalu jatuh ke lengan Renata yang sudah bertukar tempat dengan Anya.
"Bob!" seru Renata dengan keras sehingga cukup mengganggu penonton yang lain. Tak berhasil dengan suara, tangan Renata memukul kepala Bobby.
"Asem!" seru Bobby kaget.