Bab 1

Hanya karena sebuah foto. Keakraban Anya dengan pak Jamal, guru matematika di sekolah terekspos berlebihan. Entah paparazi dari mana, mungkin netizen sekolah adalah wartawan gosip yang bekerja tanpa bayaran demi menyebarkan foto itu.

Sebuah foto yang menunjukkan pose makan bareng seperti biasanya kayaknya antara laki-laki dan perempuan ya makan bersama dengan gesture mengobrol seperti biasa. Tidak ada yang aneh tapi semuanya tampak berlebihan karena pendapat seseorang yang melihat foto Anya dan pak Jamal sebagai sesuatu yang tidak biasa.

Foto yang hanya menampilkan Anya dengan pak Jamal di sebuah cafe dan mereka berdua sedang tertawa karena asik mengobrol.

Mereka tidak melakukan apa pun sebenarnya, sayang potongan kejadian tergambar dalam sebuah foto itu ternyata hanya keakraban antara Pak Jamal sebagai teman dari papa Anya.

Pagi itu tepat pukul tujuh, semua mata tertuju pada Anya saat dirinya datang dengan tas cangklong warna tosca. Penampilannya tidak ada yang salah, hanya saja dia tidak mengerti bahwa foto dirinya dengan Pak Jamal sudah tersebar. Dia duduk dengan canggung dan ekspresi yang ke aku menatap balik semua teman-teman yang menatap lurus padanya.

"Ada apaan?" tanya Anya.

"Ada pelakor," kata Bella, salah satu teman sekelas yang dikuncir kuda tinggi dengan ikat rambut warna oranye.

"Lah, pelakor? Pecinta laki Korea?" tanya Anya sembari meletakkan pantatnya di kursi.

"Kagak woy," sahut Sandra.Pertanyaan Anya dijawab langsung pada intinya oleh Bella. Dia beringsut pindah ke sebelah tempat duduk Anya.

"Lu sama Pak Jamal ada hubungan apa?"

Pertanyaan yang dijawab dengan pertanyaan dan semakin membuat Anya bingung.

"Pak Jamal teman bokap gue dan beliau cuma nemenin saat bokap lagi ada urusan sama teman kantornya, Sebenarnya gua keluar sama bokap juga," bela Anya. Namun semua penjelasan itu terasa percuma karena apa yang terpampang jelas di foto lebih gampang dipercaya daripada penjelasan hanya tanpa bukti yang akurat.

"Halah, gak usah sok polos! Tampang doang kayak anak nggak berdosa padahal jalan sama guru!" cerca Bella tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.

"Eh, minggir Bel!" seru Renata begitu ia sampai di bangkunya tepat di sebelah Anya. Bella melihatnya dengan sinis.

Renata adalah teman sebangku Anya yang tampak lebih galak sedangkan Anya yang mungil dan imut selalu terlihat seperti adik dari Renata.

"Julid amat tuh bibir!" tandas Renata begitu ia duduk di sebelah Anya.

"Emang ada apa sih, Ren?" tanya Anya karena dia memang tidak tahu apa yang terjadi dari balik dunia maya.

"Duh, gue nggak sempat bilang sama lo," ujar Renata sembari mengeluarkan buku tulis dan paket untuk jam pertama yaitu Bahasa Indonesia.

"Ada apa?" desak Anya.

"Ren, foto lu sama pak Jamal tersebar di grup kelas kita yang tanpa guru."

Kalimat yang diucapkan Renata berhubungan dengan perkataan Bella yang bertanya perihal Pak Jamal. Namun kali ini Anya benar-benar tidak menyangka kalau pertemuan dengan Pak Jamal jadi gosip tak enak untuknya.

"Ya ampun, dia teman bokap gue."

"Udahlah, mereka kebanyakan halu kali sampai mengira kamu ada apa-apa sama Pak Jamal padahal yang gue lihat isi foto itu biasa aja," kata Renata sembari memperlihatkan fotonya.

Tak perlu pakar telematika untuk membuktikan kalau dua orang itu adalah murid dan guru. Sudah jelas kalau gadis berambut pendek dan senang memakai setelan overall jeans itu adalah Anya sedangkan laki-laki dewasa yang berpakaian rapi menggunakan kaus polo itu adalah Pak Jamal, guru matematika di SMA 127.

"Iya itu memang gue tapi apa yang sebenarnya terjadi nggak seperti yang kalian semua pikirin," keluh Anya.

"Gue paham, lu bukan orang yang kayak gitu, Biarin aja gosip itu nanti juga hilang sendiri," hibur Renata.

Sejenak pertanyaan dan gosip itu mereda karena guru mata pelajaran sudah masuk ke kelas. Nyaris tidak ada yang peduli pada gosip yang entah siapa menyebarkan kecuali Bella si kompor yang masih terus bertanya ada apa gerangan dengan pak Jamal dan Anya.

Dia terus berspekulasi sampai diam-diam di tengah pelajaran tanpa diketahui guru, dia membuka akun sosial media milik Pak Jamal dan ternyata beliau sudah memiliki istri dan seorang putra. Hal ini semakin membuat Anya menjadi bulan-bulanan. Tidak salah kalau dia disebut pelakor karena memang Pak Jamal sudah memiliki istri.

Sebelumnya Anya dibilang pelakor karena Pak Jamal adalah idola hampir semua murid di SMA 127. Banyak yang mengaku sebagai pacar pak Jamal tapi ternyata di postingan paling bawah ada foto pak Jamal dengan keluarga.

"Bella! Apa yang saya jelaskan tadi?"

Semua mata tertuju pada Bella saat pak Agus guru bahasa Indonesia menunjuk Bella untuk mengulang kembali apa yang beliau jelaskan.

Terlihat jelas dari tadi Kalau Bella tidak memperhatikan pelajaran, dia malah sibuk dengan handphone.

"Emm, konotasi adalah..." suara Bella tercekat. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Pak Agus dan sangat tidak nyambung dengan penjelasan guru tersebut. Pak Agus sudah menerangkan tentang majas sedangkan Bella menjelaskan tentang konotasi. Sebuah materi yang dia ingat sepintas saat itu juga.

"Haha, kamu tidak mendengarkan!" seru pak Agus disambut dengan tawa dan cemooh teman-teman sekelas. Dalam hati hanya bersyukur karena karma langsung menimpa Bella. Dia yakin Bella adalah orang yang menyebarkan gosip itu.

"Bella! Keluar! Tidak usah ikut pelajaran saya!" usir pak Agus. Murid mendadak sunyi senyap karena takut dengan ancaman Pak Agus siapa yang tidak memperhatikan akan keluar dari kelas.

Pelajaran berlanjut seperti biasa setelah Bella keluar dari kelas. Namun pikiran Anya masih kurang fokus akibat foto yang tersebar itu. Ternyata memang benar laki-laki dan perempuan yang tidak ada hubungan darah ketika berdua akan cepat timbul fitnah.

Saat istirahat juga pikiran Anya masih kalut. Dia jadi sungkan bertemu dengan Pak Jamal. Anya mengajak Renata ke kantin dengan jalan yang memutar lebih jauh dari biasanya karena harus menghindar dari ruang guru. Dia jadi takut kalau bertemu Pak Jamal di sekolah fitnah itu akan semakin menjadi.

"Nya, udah nggak apa-apa, gosip itu bakal mereda," kata Renata sebelum masuk kelas.

"Gue nggak enak, teman-teman sudah terlanjur menganggap gua pelakor padahal gue cuma sekolah dan ketemu guru yang kebetulan adalah teman bokap. Mana pak Jamal lagi," keluh Bella.

"Kalau gitu sih, mending lu sanggah aja gosip itu dengan bilang kalau lu udah punya pacar dan nggak mungkin merebut laki orang," saran Renata. Ide yang cukup bagus untuk menangkal gosip.

"Tapi gue nggak punya pacar," keluh Anya.

"Gue kenalin ke sepupu gue," janji Renata.

"Untuk apa?" tanya Anya bingung.

Bab 2

Pelajaran berlalu seperti biasa sampai waktu di mana kegiatan belajar mengajar di sekolah sudah berakhir. Bel pulang berbunyi, Anya Melangkah dengan lesu tidak seperti biasa keceriaan menyambut saat bel pulang berbunyi. Harusnya itu menjadi tanda berakhirnya kegiatan sekolah pada hari ini dan beristirahat di rumah untuk melanjutkan kegiatan sekolah besok hari. Namun bagi Anya saat ini dia hanya ingin pulang dan tidak kembali ke sekolah itu di hari esok karena apapun yang sudah dijelaskan tidak akan dipercaya sekalipun oleh teman-temannya.

"Udah, besok pasti udah pada lupa," hibur Renata. Dia satu-satunya orang yang tidak percaya pada gosip itu.

"Iya sih, jalani aja dulu kali ya karena kita nggak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya."

Renata menatap gadis itu penuh makna seakan mengerti kalau Anya sedang banyak pikiran.

Mereka masih kelas 2 SMA tapi sudah mendapat fitnah yang bisa dibilang sangat berat. Gadis kecil itu pasti di benaknya menangkap kalau pelakor itu adalah pecinta lelaki Korea bukan arti sebenarnya yaitu perebut laki orang. Mereka masih berjalan perlahan di sepanjang koridor kelas sebelas IPS.

"Siang, Pak Jamal," sapa Renata sambil tersenyum Dan disambut dengan anggukan canggung dari Anya. Tidak tahu sebenarnya apa yang membuat mereka dekat tapi fitnah yang membuat Anya jadi tidak enak saat bertemu Pak Jamal padahal besok ada pelajaran matematika.

"Pulang?" tanya Pak Jamal sekedar basa-basi karena sudah tahu sekarang waktunya pulang.

"Iya, Pak."

Jawaban pendek dari Renata sudah cukup menjelaskan kalau mereka akan kembali ke rumah masing-masing akan tetapi dengan gerakan yang sangat cepat, Anya menarik tangan Renata agar jauh dari Pak Jamal. Ya berjalan secepat mungkin sampai dekat pos satpam. Renata bingung dibuatnya karena tampak Anya setakut itu berada di sekitar Pak Jamal.

"Jangan deketin pak Jamal, gue ngeri siapa tahu ada yang foto lagi," ucap Anya trauma.

"Nggak bakalan, gue jamin," tukas Renata meyakinkan. Tanpa curiga, Anya bergegas pamit pulang tanpa memikirkan apapun.

Esok biar tetap jadi misteri yang akan di hadapi saat hari berganti.

Sore harinya Renata menepati janji karena dia mau menjemput Anya untuk nongkrong di cafe kemudian mampir ke rumah Renata. Bukan hanya berkunjung seperti biasa melainkan ada Bobby yang menunggu di ruang tamu sampai Renata dan Anya pulang dari kafe.

"Eh, Kak Bobby. Udah lama nunggu?" tanya Renata.

"Lumayan sampe lulus sekolah," kelakar Bobby. Renata terkekeh lalu mengajak Anya duduk di sofa ruang tamu dengan posisi Bobby ada di tengah dan seolah ada dua bidadari yang mengelilinginya.

"Waduh, gue jadi salah tingkah dikelilingi sama dua bidadari," Bobby melirik cengengesan dia malah terlihat seperti sudah tak sabar ingin mengenal Anya lebih jauh.

"Lebay lo, sini gua kenalin sama Anya," tandas Renata seperti yang sudah direncanakan kalau Bobby memang ke rumahnya hanya untuk berkenalan dengan gadis imut bernama Anya.

Anya dan Bobby berkenalan, memang tidak secepat itu rasa yang namanya cinta muncul akan tetapi Bobby sudah sangat tertarik dengan Anya bahkan sebelum mereka bertemu.

"Rumah kamu di perumahan Bukit Bintang?" tanya Bobby selepas perkenalan.

"Iya, di gang pajak, " jawab Anya. Mereka adalah tetangga karena rumah Bobby juga ada di Perumahan Bukit Bintang hanya beda Gang dengan Anya. Sebelumnya Bobby sering melihatnya di sekitar rumah.

"Dia sering kali kegiatan di daerah rumah tapi dari dulu nggak berani kenalan," kata Bobby.

Tuduhan itu terbukti karena satu foto bisa mewakili Jawaban dari pertanyaan orang-orang. Namun mereka tidak pernah tahu apa yang terjadi sebenarnya.

Malam itu yang terjadi sebenarnya sederhana, Anya ke luar bersama Papanya ke sebuah pembukaan Cafe yang ada di depan perumahan Bukit Bintang. Di sana papa Anya bertemu dengan Pak Jamal. Mereka adalah teman dekat maka tak heran kalau sudah bertemu dan asyik mengobrol keberadaan sang anak sampai terlupakan.

Anya sampai ngambek karena bosan sedangkan obrolan terus berlanjut sampai malam. Namun di tengah obrolan tiba-tiba bapaknya mendapat telepon Yang sepertinya penting sehingga dia harus menjauh untuk fokus mengobrol sedangkan Pak Jamal yang juga adalah guru matematika dari Anya hanya bisa diam saat papa Anya meninggalkannya.

Dan banyak obrolan basa-basi seputar sekolah yang mereka bicarakan selama menunggu papa Anya kembali ke meja. Tanpa disangka banyak kecocokan antara nya dengan pak Jamal yang ternyata di sekolah Anya lebih banyak diam daripada di luar, dia menjadi orang yang cukup cerewet. Sungguh duality yang maksimal.

Entah apa motivasinya sampai ada yang memotret dan dengan nomor tak dikenal "dia" menyebarkan foto itu sehingga menjadi sumber gosip.

Anya tanpa diminta menceritakan kejadian yang terjadi di sekolahnya pada Bobby. Tampilan Bobby yang tinggi, putih, dan wajahnya yang cukup berwibawa dengan kacamata bertengger di hidungnya sepintas cukup membuat wanita terpesona. Sekolah Bobby tepat disebelah SMA 127 yaitu SMK 21 yang sebagian besar muridnya adalah pria maka tak heran ia sampai minta tolong Renata untuk mengenalkan dirinya dengan Anya padahal tanpa dikenalkan pun karena mereka sama-sama dari Perumahan Bukit Bintang yang sewaktu-waktu bisa bertemu dan saling berkenalan.

"Jadi sampai segitunya kamu dikejar gosip?" tanya Bobby.

"Itulah SMA 127, Bob. Keras," tandas Renata. Bobby mengangguk-anggukkan kepala karena Paham bagaimana kerasnya nyinyiran dari siswa SMA 127.

"Jadi apa nih yang bisa gue bantu?" tanya Bobby lagi agar mengarahkan pembicaraan agar tidak lari ke mana-mana.

"Lu pura-pura jadi pacar Anya, ya?" pinta Renata. Setidaknya cara itu bisa menekan gosip yang ada. Demi nama baik Anya dan Pak Jamal terlebih guru matematika itu sudah memiliki istri dan satu anak.

"Boleh, nggak pura-pura juga oke aja sih gue," kelakar Bobby yang memang tertarik pada Anya.

"Sementara ini tolongin gue antar sampai ke gerbang sekolah setiap pagi untuk menunjukkan kalau gue punya pacar dan gue nggak akan merebut siapapun," ucap Anya sedikit memaksa tanpa mencari tahu kalau Bobby punya pacar atau tidak saat ini.

"Boleh aja, rumah kita dekat. Lu gang pajak, gue gang emas, tinggal lurus sama belok dikit saja udah sampai," kata Bobby bersedia.

"Tapi gue lupa satu hal," tandas Anya dengan cepat sebelum mereka berdua menjalani hari dengan berpura-pura pacaran.

"Apa?" tanya Bobby santai.

"Lu punya pacar?" tanya Anya waspada.

"Anggap aja nggak punya," jawab Bobby meragukan. Anya khawatir dia dituduh merebut orang lagi.

"Kok anggap sih? Berarti punya dong?" cecar Anya.

"Gue jomblo, dijamin," tukasnya meyakinkan. Dia hanya khawatir hubungan dengan sang mantan yang ternyata masih dipertanyakan. Namun bisa ia nyatakan kalau saat ini dia sedang sendiri.

Bab 3

Tentang hubungan yang meragukan. Nindya telah berkhianat pada Bobby. Dia jalan berdua dengan adik kelas bernama Issa. Nindya mengaku lebih bahagia ketimbang bersama Bobby. Entah apa definisi bahagia di mata Nindya hingga tercipta perbandingan lebih bahagia dari yang lain padahal mereka sesama manusia. Memang cinta pada masa SMA adalah cinta monyet tapi interaksi antar manusia dimulai sejak kecil. Hati mana yang tidak sakit jika terjadi penghianatan. Tanpa ada kata putus, Nindya sudah bersama adik kelas ditandai dengan bonceng sepeda motor pulang sekolah.

Nindya berdalih adik kelas itu cuma teman padahal berulang kali Bobby lewat depan rumah Nindya kalau si adik kelas itu seringkali mampir ke rumahnya. Gadis itu tidak bisa mengelak karena hobi punya banyak bukti yang cukup kuat.

Bobby sudah melupakan Nindya menghapusnya dari bagian hidup. Saat itulah Bobby bertemu dengan Anya di dekat rumahnya.

Sebuah pertemuan di depan masjid, Bobby melihat wajahnya yang sangat imut.

Pertemuan ini bukan pertama kali, Bobby yang kesulitan untuk kenalan dan ingin momen yang pas sudah mengatur semuanya agar bisa kenalan dengan Anya.

Renata menjadi penengah untuk mencarikan bahan obrolan.

"Nya, nonton, ke bioskop. Film apa sekarang?" pancing Renata berharap Bobby peka dan juga mau ikut nonton nantinya dia tidak akan datang agar Anya dan Bobby bisa pergi berdua.

"Kalau nggak salah filmnya horor," sahut Bobby.

"Nggak mau nonton horor, masa kita bayar buat ditakut-takutin?" sanggah Anya.

"Bukan ditakutin, horor termasuk salah satu genre cerita yang kalau kita cermati itu mengandung alur yang sudah ditentukan hingga dikemas dalam satu film. Pasti ada bumbu ketakutan karena memang temanya horor sama saja kayak film romantis pasti ada adegan romantisnya," ujar Bobby bijak.

Anya manggut-manggut, dengan polosnya dia mencerna apa yang Bobby katakan.

"Ada yang ngga horror? Masa satu studio cuma satu film?" ujar Renata menengahi.

"Bentar gue cek, ada nih, drama romantis judulnya The Only One," ujar Bobby sembari menyentuh layar HPnya ke atas. Terlihat di matanya ada poster film Amerika sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang bertatapan dengan latar belakang semburat senja berwarna ungu.

Anya melongok ke layar handphone Bobby, dia juga melihat poster yang sama dan dalam sekejap dia tertarik menonton film karena poster yang menggambarkan cerita penuh kasih dan romantis.

"Mau nonton ini, kapan?" tanya Anya.

"Sekarang aja," kata Bobby tanpa mau membuang waktu.

Hari itu hari Selasa tepat tanggal merah di Hari Raya Waisak. Mereka yang tidak merayakan mengambil waktu dan kesempatan untuk melakukan hal yang ingin mereka lakukan di hari sekolah.

Tepat pukul 10 pagi, mereka berangkat bertiga dengan taksi online. Mau tidak mau Renata harus ikut menemani sebelum melepas mereka benar-benar berdua.

Bobby duduk di sebelah sopir seperti mengawal dua cewek ini menuju ke tempat yang mereka mau.

Sesampainya di bioskop, Bobi yang memesan tiket nonton untuk 3 orang biar 2 cewek di depannya ini hanya duduk manis menjadi ratu.

"Ren, nanti gue gantiin duitnya Bobby ya nggak enak soalnya baru kenal," bisik Anya ketika melihat punggung Bobby yang sedang membeli tiket dan popcorn serta minumannya.

"Udah, nonton dulu yang penting sekarang kita bisa masuk bioskop," ujar Renata menenangkan. Anya terlihat gelisah karena dia hanya membawa 1 lembar uang warna biru di dompetnya dengan kartu ATM yang belum terisi. Masa iya dia pinjam duit Renata hanya untuk menebus uang nonton dan popcorn dari Bobby?

Tiga tiket film The Only One sudah di tangan dan mereka masuk tepat saat gerbang studio 2 terbuka. Mereka duduk di bagian tengah tepat di posisi pojok alasannya agar tidak ada penonton lain yang melewati mereka saat baru datang atau ke toilet.

Posisi Anya duduk di tengah antara Renata dan Bobby. Entah sengaja atau bukan posisi popcorn tetap dipegang oleh Anya. Begitu Ia mau mengembalikan ke Bobby tapi Bobby pura-pura cuek. Dia fokus melihat layar smartphone dan pura-pura membalas chat padahal tidak ada satupun chatting masuk ke handphone-nya.

Sudahlah Anya menunggu waktu yang tepat untuk mengembalikan popcorn. Dia mencoba fokus untuk menonton film yang dibuka dengan adegan prolog tabrakan mobil. Sebuah adegan yang cukup mencuri perhatian dan membuatnya fokus untuk menonton film sampai lupa pada popcorn di tangannya. Mau menawarkan pada Renata juga tidak bisa karena Renata juga memegang popcorn caramel di tangannya.

Selang waktu kira-kira 10 menit, Bobby mulai mengantuk dan sulit membuka matanya. Dia memang sering begadang karena main game atau hanya menonton YouTube cerita kriminal. AC yang dingin juga membuatnya mengantuk. Dia sudah tidak peduli dengan popcorn ataupun soda yang sudah dia pesan yang penting dia ada kesempatan untuk tidur.

Tuk!

Tanpa sadar kepala Bobby jatuh ke bahu Anya. Sedetik kemudian dia bereaksi tapi tidak tega melihat mobil yang sedang tertidur pulas. Mungkin karena filmnya memiliki alur yang lambat juga cerita yang romantis sehingga tidak membuat adrenalinnya terpacu.

"Ren, sepupu lo tidur."

Bisik Anya hanya membuat Renata tertawa kecil, dia sudah tahu rencana busuk sepupunya yang mengajak Anya nonton hanya untuk modus.

"Kalau Bobby tidur mau dijorokin kepalanya ke tembok aja dia enggak akan bangun," kata Renata. Anya jadi salah tingkah mendadak dia menjadi sandaran Bobby. Sempat ada pikiran di benaknya bahwa di bioskop adalah tempat modus laki-laki. Pernah dia mendengar cerita kalau kencan pertama di bioskop paling tidak berakhir dengan memegang popcorn bersama-sama atau ciuman. Namun ini tidak, malah dirinya yang jadi sandaran. Mau bergerak ke kanan dan ke kiri juga Bobby tetap tidur pulas.

"Ren, gimana nih?" tanya Anya gelisah.

"Jorokin aja palanya ke pojok," tukas Renata. Namun Anya masih merasa sungkan.

Alur film yang mulai menunjukkan greget dari cerita, sayang sekali harus dilewatkan oleh Anya karena Bobby yang sejak tadi tidur di bahunya. Jangankan makan popcorn, mau menoleh saja sudah terasa pegal.

"Nya, ajegile, film romantis banget, alurnya memang terasa lambat di awal tapi mulai dari tengah ke belakang mulai terasa jelas ceritanya," komentar Renata sementara Anya hanya meringis karena Bobby tak kunjung bangun dari bahunya.

"Ren, Bobby," adu Anya. Renata mulai geregetan karena film yang sudah Mencapai klimaks malah tidak bisa dinikmati karena ulah sepupunya yang memalukan.

"Lepasin aja! Kita tuker duduk!" tegas Renata. Anya menuruti perkataan itu tanpa peduli kepala Bobby yang mulai oleng selalu jatuh ke lengan Renata yang sudah bertukar tempat dengan Anya.

"Bob!" seru Renata dengan keras sehingga cukup mengganggu penonton yang lain. Tak berhasil dengan suara, tangan Renata memukul kepala Bobby.

"Asem!" seru Bobby kaget.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED