Hay kka, bertemu lagi dengan ceritaku yang baru. Sebelum membaca jangan lupa like en komen ya.
Bab 1.
Derrtt ... derrtt ...
Hapeku bergetar saat jam pelajaran terakhir di kampus. Untung hape di getarkan, kalau berdering, bakalan kena sita lagi deh, seperti bulan lalu. Sambil memasukan buku yang berserakan di atas meja, ku lihat sekilas di layar hape pesan yang masuk. Beberapa chat masuk ke aplikasi berwarna hijau.
"Baik-lah, karena jam pelajaran telah usai, maka kita akhiri pertemuan ini! Selamat siang semuanya!" ucap Bu dosen yang terkenal super jutek di kampus ini.
"Selamat siang, Bu!" sahut kami serentak.
Aku masih duduk di belakang meja sambil kembali mengecek hape. Ada pesan dari Bundaku, tumben beliau kirim pesan. Padahal sebentar lagi aku pulang ke rumah kok, karena hari ini gak ada jadwal nongkrong dengan teman kampus.
"Assalamu'alaikum Nak, kamu masih lama pulang ngampus, ya?" tanya Bunda.
"Temeni Bunda ke klinik yuk! Setelah itu temani belanja bulanan ke supermarket," ucapnya. Langsung aku balas pesan Bunda.
"Wa'alaikumsalam, Bund."
"Iya, Bund. Ini Zahra udah selesai ngampus! Sedang jalan ke parkiran dan langsung pulang!" balasku.
Pesanku terkirim dan langsung centang biru, tapi Bunda gak membalas lagi. Aku cari kunci mobil di dalam tas, mengaduk isinya. Akhirnya yang di cari ketemu. Sebuah kunci dengan gantungan boneka mungil bentuk angri bird, boneka kesayanganku. Boneka paforit melambangkan pribadiku yang galak tapi manis dan imut.
"Hay, Za! Boleh nebeng gak? Hari ini aku telat di jemput Angga, dia sedang ada mata kuliah susulan di kampusnya. Aku lagi malas nunggu dia!" cecar Arini.
"Boleh, dong! Yuk, naik!" ajakku.
"Tumben kamu buru-buru, Za?" tanya Arini.
"Iya nih, Bundaku sedang gak enak badan, minta di temenin ke klinik!" jelasku.
"Loh, Papa dan kakak tiri kamu gak ada di rumah?" tanya Arini bingung.
"Papa masih di luar kota, mungkin lusa baru pulang! Sedangkan kakak, mereka kan bekerja pulangnya sore dong!"
"Oh-iya juga," Arini menepuk jidatnya.
"Jadi Bunda kamu sendirian, nih?" Arini kepo.
"Bunda bertiga di rumah, dengan Mbok Nah dan Pak Dirman sekurity," kataku.
"Dah-ah, kamu acem petugas sensus aja, dari tadi nanyak-in mulu," omelku.
"Hee ... hee, itu tandanya aku peduli dengan kamu sebagai sahabat," katanya.
"Antara peduli dengan kepo, beda tipis tuhhh!" ledekku.
"Haa ... haaa, dasar bawel," sahut Arini.
*****
Lima belas menit kemudian, mobilku sudah sampai di depan rumah Arini. Ia langsung turun dan mengucapkan terima kasih atas tumpangannya. Sahabatku yang satu itu orangnya ceria dan penyabar. Ia bisa menyejukkan hatiku di saat marah, dan galau. Aku yang masih menjomblo di usia sekarang, tak membuatku minder.
Lebih baik kuliah yang benar aja dulu, soal percintaan akan datang di waktu yang tepat. Saat seseorang telah sukses dalam karier, dengan sendirinya pasangan hidup akan datang tanpa di cari. Itu yang ku yakini dari dulu hingga kini.
Keasikan melamun, tak terasa udah sampai aja di depan pagar rumah. Belum lagi membunyikan klakson Pak Dirman langsung aja membukakan pintu pagar. Mobil masuk dan parkir di halaman. Lalu aku turun membawa tas berisikan buku mata kuliah yang lumayan banyak hari ini.
"Selamat siang, Non Zahra!" sapa Pak Dirman, sekurity rumahku.
"Siang, Pak!" sahutku sambil mengetuk pintu rumah.
"Assalamu'alaikum," ucapku.
"Wa'alaikumsalam," suara Mbok Nah menjawab salamku.
Kreekk ... pintu di buka, nampak kepala Mbok Nah muncul dari balik pintu. Aku tak melihat Bunda di ruang tamu dan dapur.
"Bunda, mana Mbok?" tanyaku.
"Bu Meysa di kamarnya, Non! Katanya sedang tak enak badan," ucap si Mbok.
"Oh-ya sudah, aku ke kamar dulu," ucapku.
Aku naik ke lantai atas menuju kamarku. Pintu kamar Bunda tampak tertutup rapat. Nanti sajalah aku ketuk, pikirku. Setelah meletakkan tas dan mencharger hape, lalu aku berganti pakaian. Kemudian keluar untuk mengetuk pintu kamar Bunda.
Kamar kami saling bersebelahan, aku yang minta ke Papa untuk di buatkan kamar di lantai dua. Agar bisa dekatan terus dengan Bunda kalau Papa sedang ke luar kota.
"Assalamu'alaikum, Bunda! Ini Zahra udah pulang kuliah.
Tak terdengar suara orang di dalam kamar, pasti Bunda sedang tidur. Aku ketuk sekali lagi,eehhh, ternyata pintu tak di kunci. Perlahan aku masuk dan duduk di tepi ranjang. Bunda sedang tidur membelakangi, Ku pegang tangan dan dahinya, memang terasa hangat.
"Bund ... Zahra udah pulang nih!" kataku.
"Ehhm," Bunda bergumam.
********
Sejak dua hari yang lalu, Bunda terlihat tak enak badan. Ia sering demam kalau di tinggal Papa keluar kota. Padahal Papa selalu video call kalau sedang tugas keluar. Bunda jarang ngumpul dengan temannya, ia lebih sering menghabiskan waktu di butik hingga sore.
Papa berikan kebebasan dan kepercayaan penuh ke Bunda untuk berkarier. Lagi pula Bunda sifatnya penyabar, tak pernah marah, satu lagi seorang pekerja keras. Beda dengan aku yang galak, tempramen tapi tetap imut dan ngangenin.
Awalnya butik yang di kelola Bunda itu biasa aja. Hanya sebuah toko yang menjual busana muslim syar'i serta hijab model kekinian. Karena kerja keras Bunda dari mulai aku kecil hingga kini, toko tersebut menjelma menjadi sebuah butik yang terkenal di kota ini.
Beliau selalu mempromosikan produk terbaru lewat medsosnya. Sering mengikuti event lomba busana, dengan menyewa beberapa orang model untuk memakai produknya. Bunda juga pintar mendesign baju sendiri. Bisa di sebut seorang desaigner juga. Memang sudah bakatnya corat-coret di atas kertas.
Lamunanku buyar saat Bunda memintaku untuk makan siang, sekalian minta di suapin. Karena gak selera makan, siapa tau kalau di suapin jadi nafsu makan.
"Sebentar ya, Bund, Zahra ambil nasi dulu, entar di bawa ke sini sekalian dengan air minumnya!" ucapku.
"Iya," sahutnya sambil duduk di pinggir ranjang.
Gegas aku turun ke lantai dasar untuk mengambil makan siang. Lalu kembali lagi dengan sepiring nasi dan lauknya serta segelas air putih. Sambil makan, Bunda bercerita tentang butiknya yang akan ikut event lagi minggu depan.
Banyak costumer yang suka dengan hasil karya Bunda. Karena bahan rancangannya cantik, ringan dan lembut di pakai. Bunda ingin aku meneruskan jejaknya. Berkarier di bidang busana alias desainger.
Keasikan bercerita tentang impian Bunda. Nasi di piring pun ludes tak bersisa, kami makan berdua, aku suapin ke mulut Bunda. Terlihat lahap ia menelan nasi beserta lauknya. Sepertinya Bunda kangen sama Papa. Padahal sudah seperti ini sistem kerja yang di lakoni Papa sejak mereka menikah.
Belakangan Tante Rosa, mantan istri Papa suka nyari gara-gara. Mungkin itu yang buat Bunda jadi kepikiran lagi. Sejak menikah dengan Bunda, Bang Rey dan Kak Mona, saudara tiriku ini, lebih suka tinggal dengan Bunda di bandingkan mamanya sendiri.
"Za, antar Bunda ke klinik dulu, ya! Selesai itu baru ke supermarket!" titahnya.
"Iya, Bund!" sahutku.
"Bunda ganti pakaian dan cuci muka dulu!" Beliau beranjak dari pinggir ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi di sebelah kamarku.
Tak sengaja, aku melihat di dalam laci yang terbuka sedikit, ada selembar foto. Jiwa kepoku meronta, lalu foto tersebut ku ambil dan melihat wajah siapa di foto tersebut. Ternyata itu foto pernikahan Bunda dan Papa. Untuk apa Bunda pegang foto itu?
Bersambung ....
Bab 2.
Belakangan ini Tante Rosa, mantan istri Papa suka nyari gara-gara. Mungkin itu yang buat Bunda jadi kepikiran lagi. Sejak menikah dengan Bunda, Bang Rey dan Kak Mona, saudara tiriku ini, lebih memilih tinggal bersama kami dibandingkan dengan mamanya sendiri.
Tak sengaja, aku melihat di dalam laci yang terbuka sedikit, ada selembar foto. Jiwa kepoku meronta, lalu foto tersebut ku ambil dan melihat wajah siapa di foto tersebut. Ternyata itu foto pernikahan Bunda dan Papa. Untuk apa Bunda pegang foto itu?
Suara gemericik air masih terdengar dari kamar mandi di sebelah kamarku. Harusnya Bunda mandi pakai air hangat. Aku tepuk jidat sendiri, karena lupa mengingatkannya. Tak lama terdengar suara pintu kamar di buka, kreeekk ... Bunda keluar memakai baju handuk model kimono.
"Zahra ke kamar dulu ya, Bund! Mau ambil dompet," ucapku.
"Oh-iya," sahutnya.
Ku masukkan hape dan dompet ke dalam tas kesayanganku berwarna pink nude. Hadiah ulang tahun dari Bunda setahun yang lalu. Padahal tasku banyak di lemari, tapi.aku lebih suka pakai tas pemberian Bunda. Simple dan warnanya itu, paforitku banget.
Tak lupa semprotkan parfum pemberian dari Papa, ketika pulang dari luar kota beberapa bulan yang lalu. Karena aku tau, Papa suka beliin oleh-oleh parfum untuk Bunda.
Alasannya biar kalau Bunda kangen Papa, tinggal semprotkan aja parfum itu ke ruangan kamar ini, jadi seolah Papa ada di sampingnya. Karena itu parfum paforit mereka. Memang yang paforit itu sulit untuk dilupakan.
Selesai berdandan, aku masuk kembali ke kamar Bunda. Ia sedang memakai hijab, ku lihat laci meja rias terbuka lagi, tapi fotonya sudah tak ada. Mungkin Bunda sudah menyimpannya. Tapi rasa penasaranku sulit dibendung lalu beranikan diri untuk bertanya.
"Bunda, sedang kangen, ya dengan Papa?" selidikku. Bunda menoleh ke arahku.
"Ihh ... sok tau, dehh!" sahutnya.
"Lagian, pakai acara demam segala sihh!" ledekku.
"Dosa-loo, kalau meledek bundanya!"
"Aihh, gak meledek, hanya bertanya Bundaku sayang," ucapku sambil mencium pipinya. Wajah Bunda langsung memerah.
Selesai beberes, kami pun turun ke lantai bawah dan segera minta diantar oleh Pak Dirman ke supermarket.
******
"Pak Dirman ... antar kami ke supermarket di pusat kota, ya!" titah Bunda.
"Oh-oke, Bu," sahut Pak Dirman.
Bunda memberikan kunci mobil ke supir sekaligus sekuriti di rumah kami. Pak Dirman dengan sigap membuka pintu mobil untuk Bunda. Kalau aku tak payah dibukakan, bisa sendiri kok. Itu dilakukannya sebagai bentuk rasa hormatnya terhadap majikan atau istri Boss yang sudah mempekerjakan dia di rumah ini.
Setelah menutup kembali pintu pagar, Mbok Nah langsung menguncinya kembali. Oh-iya
hampir lupa, tadi sepulang dari kampus ada penghuni baru yang tinggal di depan rumah kami. Sepertinya kemarin penghuni rumah itu satu keluarga. Setelah itu mereka pindah, dan rumahnya dijual. Nah, tadi aku lihat ada mobil masuk ke halaman rumahnya.
"Bund ... rumah di depan kita itu , sudah ada yang menghuni, ya?" tanyaku.
"Hmm ... kamu lihatnya seperti apa?" Bunda malah balik tanya buat penasaran aja.
"Isssh, tinggal jawab sudah, atau belum aja, kok payah, sih!" sungutku.
"Hii ... hii, sudah dong! Papamu yang tunjuk rumah itu ke teman bisnisnya!"
"Oh-pantesan, jadi penghuninya kenalan Papa, ya, Bund?"
"Iya, tapi masih jomblo, paling umurnya hampir sebaya kamu atau lebih dikitlah," jelas Bunda.
Aku diam, lalu mencerna ucapan Bunda, tadi aku lihat hanya sekilas, ada cowok turun dari mobil terus membuka pagar kemudian masuk lagi ke dalam mobilnya. Sepertinya baru beberapa hari ini, dia menghuni rumah depan itu. Kalau memang jomblo, boleh juga tuh, untuk sekedar cuci mata.
Sangkin asikknya melamun, mobil sudah masuk aja ke parkiran supermarket. Bunda menowel lenganku dan mengajak turun.
"Bentar Bund, tali sepatu Za lepas ini!" ucapku keluar dari mobil lalu berjongkok untuk mengikat kembali tali yang lepas.
"Makanya pakai pansus aja, seperti Bunda ini! No ribet-ribet," ucapnya.
"Ihhh, Bunda! Za itu sukanya gaya yang casual, cukup ke kampus aja pakai pansus!" omelku.
"Nah, itu jadi ribet! Entar gegara tali sepatu, kamu bisa jungkir balik loo," ledek Bunda sambil terkekeh.
"Yups, udah siap!" aku berdiri lalu mengekor Bunda masuk ke dalam supermarket.
Sore begini sudah nampak ramai, maklumlah, namanya awal bulan. Istilah emak-emak itu "bulan muda." Kirain umur aja yang muda, tapi bulan pun bisa muda ya, gaess. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mengambil troli untuk belanjaan.
Aku menggandeng tangan Bunda, kok tangannya terasa hangat. Duhh ... Bundaku sayang, sudah sering di tinggal ke luar kota, tapi masih saja merindukan bulan, ehh, Papa.
"Biar Za yang dorong troli, Bunda pilih barang aja!" ucapku sambil meraih troli dari tangannya.
****
Setengah jam berkeliling memilih barang kebutuhan dapur. Bunda berhenti di depan stand minuman, sepertinya Bunda masih kelihatan pusing.
"Bunda haus, biar di buka aja langsung air mineral ini?" tanyaku.
"Mbak, boleh di buka langsung, ya!" pintaku ke penjaga stand sambil ambil sebotol air mineral di rak minuman.
"Oh-boleh, tapi botolnya jangan dibuang!" titah penjaga stand.
Aku membuka segel penutup botol, lalu menyuruh Bunda untuk minum. Untungnya di depan kasir ada beberapa kursi besi, untuk duduk menunggu antrian. Bunda langsung duduk di kursi tersebut.
"Bund, tunggu disini, ya! Za mau pilih shampoo dan handbody!" pintaku.
"Iya," sahutnya.
Aku berjalan ke stand paling ujung, tadi ku lihat di sana stand bagian kosmetik. Ku lirik ke layar hape, sudah pukul lima sore, hmm, pantasan pengunjung semakin ramai. Kadang kalau lihat orang ramai begini, kepala memang suka tiba-tiba pusing.
Bagaimana tidak ramai, supermarket ini terkenal murah. Karena market terbesar di kota kami. Selisih harganya sudah tak diragukan lagi dibanding dengan market lainnya. Nah, itu stand kosmetiknya.
Aku memilih produk yang biasa ku pakai.
Kalau handbody tahan untuk dua bulan, begitu juga dengan shampoo. Hanya skincare yang agak boros. Belinya pun lewat online, order ke temanku. Ia reseller kosmetik. Hitung-hitung bantu teman dan berbagi rejekilah.
Setelah dapat apa yang dicari, aku kembali ke posisi Bunda duduk tadi. Dari jauh ku lihat ada beberapa orang sedang berdiri dekat kasir disebelah Bunda. Aku percepat langkah kaki ini, karena mendengar suara orang sedang bicara dengan suara kuat.
"Hmm ... kamu! si pelakor, merebut suami dan anak dari ayahnya!" ucap wanita paruh baya sambil menunjuk wajah Bunda.
"Oh-Omaaa!" sapaku.
"Nah, kebetulan bertemu dengan kamu anak pelakor! Bilangin keBunda kamu itu, jangan racuni pikiran cucuku untuk membenci mamanya!" camkan itu!" cecar si Oma.
"Oma jangan asal bicara ya, buat malu Bunda! Bang Rey dan Kak Mona itu udah dewasa, gak perlu dihasut, mereka bisa nilai sendiri mana yang baik dan buruk!"
"Dan satu hal lagi, Bundaku bukan pelakor!!! Mereka menikah setelah Papa sudah lama mendudaa!" ucapku lantang, biar semua yang ada disini tau dan dia malu sekalian.
"Huhh ... anak sama Ibu sama aja," ucap si Oma dengan wajah memerah menahan malu. Ia pun pergi sambil menenteng bungkusan keluar dari kasir.
"Bunda gak papa, pusingnya gimana, udah enakan sekarang?" tanyaku khawatir. Bunda menghabiskan sisa air mineral dibotol lalu masukkan lagi ke troli.
"Enggak papa, Sayang! Tak usah khawatir, Bunda udah biasa kok diomelin, sama Oma yang cerewet itu!" ucap Bunda.
"Kali ini, gak akan ada lagi orang yang bisa berucap kasar ke Bunda! Sekali pun itu Papa Za sendiri," ucapku sambil memeluk Bunda.
Aku langsung menuju kasir untuk membayar belanjaan dalam troli. Bunda ku suruh duduk di ruang tunggu dekat kasir. Kulihat wajahnya datar saja, sepertinya sudah kenyang menghadapi ocehan Nenek lampir itu.
Bersambung ....
Bab 3.
Selesai menemani Bunda belanja, semua barang aku masukkan ke dalam bagasi. Bunda langsung masuk ke dalam mobil, sepertinya ia sedikit down karena kehadiran mantan mertua Papaku.
Aku tak mau banyak tanya, biar Bunda tenang dulu. Sebab pertemuan di swalayan tadi memang tak terduga. Apalagi Oma Nely sempat mengeluarkan kata yang kasar membuat pengunjung swalayan heran dan julid. Mereka pikir Bundaku ini benaran pelakor. Hm ... dasar nenek lampir, mulutnya kayak comberan.
Mau sampai kapan Bundaku kena mental seperti ini. Di kata-in pelakor, entah siapa yang merebut suami orang. Sudah jelas Bunda menikah waktu Papa udah duda lima tahun. Heran deh, Nenek lampir itu kalau bicara sesuka perutnya aja. Orang kaya tapi mulutnya gak disekolahkan.
Tak pernah senang melihat Bundaku bahagia, selalu saja mengusik. Mantan istri dan mertua Papa itu, belum move on hingga kini. Mau-nya Papa jadi jomblo akut, baru puas hati mereka.
"Bunda, kok diam aja, masih gak enak badan ya?" tanyaku.
"Hmm, sedikit," jawabnya ketus.
"Enggak usah di pikirkan ucapan nenek lampir itu, Bund! Semuanya akan baik-baik saja. Biar ucapan tadi berbalik ke mereka!"
"Hush, gak baik mendoakan seperti itu!"
"Hii- hii, habisnya kebiasaan banget Oma Nely itu, kalau ketemu Bunda pasti suka julid!" ingatku.
"Bagaimana pun dia orang tua, harus di hormati!" ucap Bunda.
"Ihhh, gimana mau di hargai? Beliau aja gak pernah menghargai Bunda?!"
"Sudah ah, gak usah bahas itu lagi, Bunda malas mendengar nama mereka!"
"Kita makan di tempat biasa yuk, Bund!"
"Oke, kebetulan Bunda pengen makan yang hangat berkuah nih, agar keluar keringat di tubuh Bunda!"
Mobil berbelok ke sebelah kiri perempatan lampu merah. Di sana ada warung bakso dan mie ayam yang terkenal. Pedagangnya yang ramah, membuat betah dan nyaman pembeli duduk berlama-lama di warungnya.
Awal tau tempatnya dari teman kampusku si Arini. Ia paling tau tempat nongkrong yang paling asik. Biasalah anak muda, sering lihat di medsos tempat nongkrong yang sedang viral. Lalu janjian untuk datang bersama teman se ganknya.
Mobil memasuki halaman warung bakso yang lumayan padat dengan kendaraan roda dua. Untungnya masih ada tempat parkir untuk roda empat. Dari jauh tukang parkir berlari untuk mengatur letak mobil.
"Bunda, turun disini aja, Za! Biar Bunda cari tempat duduk di dalam sana!"
"Oke, Bund!" sahutku.
Setelah memarkirkan mobil dengan benar, aku turun menyusul Bunda. Begitu keluar dari mobil, aroma kuah bakso menyeruak dihembus angin, menusuk ke hidung. Seolah memanggil pembeli untuk singgah dan menikmati menu yang tersedia.
Aku celingukan mencari keberadaan Bunda, ku edarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Dari jauh ada orang melambaikan tangan ke arahku. "Zaa ... sini!"
******
Begitu noleh ke sebelah kiri, ternyata Bunda yang teriak memanggil aku. Syukurlah masih ada tempat untuk kami makan sore ini. Melihat begini banyak pengunjung yang datang, rasanya mustahil ada tempat lagi yang kosong. Bunda memang keren deh, ehh, jangan-jangan Bundaku menyerobot tempat pengunjung lain, pikirku.
"Zaaa! Duduk sini, kok malah bengong sih!"
"Ehh, iya Bunda," sahutku.
"Kok Bunda bisa dapat tempat kosong?" rasa penasaranku mengalahkan rasa lapar gaess.
"Aihh, Bunda gitu looh!" jawabnya.
Waduh perasaanku semakin gak enak nih, mendengar jawaban Bunda. Belum lagi terjawab dengan tuntas, seorang waiters membawa buku menu, Bunda langsung mengambilnya dan pesan menu spesial di warung ini, untuk dua porsi komplit dengan juice lemon tea.
Tanpa bertanya padaku, Bunda main pesan aja gaess. Tak apalah ku maafkan, karena selera kami hampir sama. Hanya umur yang berbeda. Hii-hii.
Setelah waiters itu berlalu sambil membawa catatan dan buku menu, barulah aku bisa duduk dengan tenang. "Ehh, Za mau tau gak gimana Bunda bisa dapat tempat duduk ini?!"
Oalah, ternyata gayung bersambit, ehh ... bersambut. Tanpa di tanya si Bunda mau menjawab rasa penasaranku.
"Tadi di tempat ini ada pengunjung yang sedang makan. Seorang lelaki, keren juga sih!" Bunda menjeda ucapannya, lalu meneruskan dengan cara berbisik.
"Bunda akting lemes gitu, seperti orang belum makan seharian, sambil tetep celingukan cari tempat kosong!" jelasnya.
"Kemudian apa yang terjadi, Bund?" tanyaku tak sabaran.
"Lelaki itu memperhatikan Bunda, lalu menyudahi makannya. Ia tawarkan tempat duduk ini untuk Bunda! Kemudian lelaki itu bangkit dari duduk lalu pergi menuju kasir sambil tersenyum ke Bunda.
"Pasti Bunda belum sempat ucapkan terima kasih, iya kan?!" tebakku.
"Iya, kamu benar Za."
"Ahh, sudahlah, yang penting kita dapat tempat duduk! Lain waktu kalau bertemu Bunda ucapin terima kasih."
"Memangnya Bunda masih ingat wajah lelaki itu?" tanyaku.
"Ehh, sepertinya Bunda udah lupa dengan wajahnya." Ucapan Bunda membuat aku tertawa geli.
Tak lama pesanan kami datang, aroma kuah bakso menyeruak menusuk ke hidung. Aku mendekatkan ujung hidung ke atas mangkok.
"Hmm ... harumnyaaa," sambil membulatkan dua jari ke arah Bunda.
*****
Derrtt, derrtt.
Suara hape bergetar, sepertinya dari dalam tas Bunda. Gegas beliau membuka tasnya lalu mengusap layar hape. Ternyata Papa yang sedang memanggil lewat sambungan video call. Hape di letakkan depan gelas, lalu nampaklah wajah kami sedang makan bakso bersama.
"Assalamualaikum, Pah!" ucapku.
"Wa'alaikumsalam, Za! Wah, asiiknya sedang santai sambil makan bakso," komentar si Papa.
"He- hee, iya Pah! Tadi Za temani Bunda ke supermarket untuk belanja bulanan. Terus pulangnya singgah ke tempat langganan kita."
"Bang Rey dan Kak Mona kenapa gak di ajak?"
"Mereka belum pulang kerja, Mas! Kami tadi perginya habis Zuhur!" sahut Bunda.
"Oh-iya, mereka pulang kerjanya sore," ucap Papa Harry.
"Kapan Mas pulang, udah tiga hari loo?" protes Bunda.
"Insya Allah, besok siang Mas berangkat dari sini!" jelasnya.
"Mas di sana hati-hati! Jangan lupa makan dan salat!" ingat Bunda ke Papa.
"Iya, Bundaku Sayang! Kalian juga jaga diri baik-baik, Za nyetir mobilnya hati-hati, ya!" ingat Papa ke aku.
"Siap, Pah! Kalau begitu kami lanjut makan lagi ya!" ucapku. Setelah mengucapkan salam, ku akhiri panggilan video.
Wajah Bunda yang tadinya murung, seketika berubah memerah penuh senyum. Memang luar biasa rasa sayang yang di miliki Papa dan Bunda. Secepat itu bisa merubah moodnya yang buruk menjadi baik.
"Bunda mau tambah bakso lagi?" tanyaku.
"Ini ada sate kerang dan kerupuk! Ambil aja mana yang Bunda suka!" ucapku.
"Idihh, Za ingin buat Bunda gendut, ya?!"
"He- hee, enggak lah! Hanya ingin buat Bunda senang aja," sahutku sambil bersandar di bahunya.
Melihat Bunda tersenyum lagi, sudah cukup buatku bahagia. Karena sejak kemarin Bunda berkurung terus di dalam kamar, gak pergi ke butik dengan alasan sakit.
Hal itu sering terjadi, kalau Papa sedang pergi tugas ke luar kota. Kalau Papa ada di rumah, Bunda selalu kelihatan happy gak pernah murung. Hanya sesekali saja terjadi debat kecil di antara mereka.
Sedang asik menikmati bakso dan sate kerang, suara hape bergetar lagi. Kali ini suaranya berasal dari dalam tas sandangku.
Bersambung ....