Malam semakin larut. Seorang gadis muda masih berdiam diri di atas jembatan. Mukanya sembap akibat menangis. Semilir angin malam menerpa rambutnya hingga berantakan.
Siapa gadis itu? Apa yang sedang dia lakukan di sana?
Gadis itu bernama Vania, seorang siswi berprestasi di suatu sekolah. Guru dan teman-temannya mengenalnya sebagai siswi yang ramah. Vania menjadi siswi teladan di sekolah.
Dari luar, Vania tampak seperti bahagia, tetapi sebenarnya tidak. Dia seperti seseorang yang tertawa di muka umum, tetapi menangis di belakang layar.
Vania teringat akan kenangan saat masih bersama ibunya. Rupanya, dia sangat merindukan saat-saat keluarganya berkumpul.
Kedua orang tua Vania sering bertengkar. Dua hari yang lalu, mereka bercerai. Vania dan kakaknya, Rendra tinggal bersama ayahnya. Sementara ibunya pergi meninggalkan mereka. Vania sangat terpukul karena perceraian itu. Dia yang biasanya ceria berubah menjadi pemurung.
Tiba-tiba dia teringat kepada Kevin, mantannya. Masih terngiang ucapan Kevin yang menusuk ke relung hatinya. Dalam situasi itu, alih-alih memberi semangat, Kevin malah memutuskan cintanya. Padahal, Vania sangat membutuhkan support dari orang-orang terdekatnya.
🍁🍁🍁
Hari anniversary hubungan Vania—Kevin yang ke-dua bulan ...
Pagi tampak cerah. Namun, tidak secerah hari Vania, dia baru saja baru kehilangan wanita yang dicintainya. Vania mencoba untuk tetap tersenyum walaupun hatinya sedang gelisah. Ia berniat memberikan kejutan untuk Kevin dengan memberikan hadiah berupa foto kebersamaannya kepada sang kekasih.
Vania berangkat ke sekolah dengan harapan mendapat perhatian lebih dari Kevin. Sesampainya di sekolah, ia bertemu dengan Maya, teman sekelasnya. Vania pun menanyakan Kevin. Maya memberikan tahu bahwa Kevin ada kelas.
Bergegas Vania menuju kelas. Perlahan Vania membuka pintu kelas. Ia mendapati Kevin duduk di sebuah bangku.
“Vania,” panggil Kevin lirih.
“Iya, Sayang. Kenapa?” tanya Vania. Dia segera mendekat. Namun, tangannya menyembunyikan sesuatu di balik tubuhnya.
“Aku mau putus sama kamu,” sahut Kevin. Raut mukanya tampak serius.
Terkejut bagai ditembak halilintar Vania demi mendengar perkataan Kevin. Tidak disangka bahwa Kevin yang amat dicintai malah pergi di saat dirinya tengah dihadapkan masalah. Hadiah yang akan diberikannya kepada Kevin terjatuh ke lantai.
“Kenapa? Aku salah apa sama kamu sampai-sampai kamu meminta putus?" Vania menghujani Kevin dengan berbagai pertanyaan.
“Aku cuma pengin menyendiri. Maaf ya, Vania.” Hanya itu jawaban Kevin.
Hancur perasaan Vania. Satu-satunya orang yang dia percaya dapat memberikannya dukungan dan solusi malah meninggalkannya.
“Iya. Makasih buat waktunya. Makasih udah kasih aku harapan. Makasih juga udah kecewain aku.” Vania membalikkan badan dan langsung ke luar kelas.
🍁🍁🍁
"Kevin, kamu jahat!" Vania berteriak sekencang-kencangnya. "Semua laki-laki itu sama! Pembohong!"
"Dunia ini kejam!” teriak Vania, memecah keheningan malam. “Tidak ada orang yang peduli padaku!”
Setelah puas berteriak, Vania terdiam. Dadanya terasa sesak, rasa sakit kian menguasai. Air matanya masih berlinang. Bertambah berat beban pikirannya. Tiba-tiba dia kepikiran untuk bunuh diri.
“Ya. Mungkin ini jalan yang terbaik untukku. Agar aku tidak lagi merasakan penderitaan,” gumam Vania sambil menatap ke bawah jembatan.
Vania siap melompat ke bawah. ‘Maafkan aku, Ayah, Kak Rendra. Aku tidak bisa menjadi Vania yang kuat, seperti yang Ayah dan Kak Rendra mau. Selamat tinggal,’ batin Vania.
Vania memejamkan matanya. Air matanya berjatuhan lebih banyak dari yang tadi. Ia menarik napas panjang. Keputusannya sudah bulat.
Saat akan melompat, tiba-tiba tangannya dipegang oleh seseorang entah siapa. Tangannya ditarik sehingga dia jatuh ke pelukan seorang pria berambut lurus.
Sejenak Vania memandangi pria itu. Entah dari mana dia datangnya. Pria itu mempunyai kulit putih, hidung mancung, dan mata yang sipit. Tampak memikat. Si pria memberikan Vania senyuman manis.
Vania bangkit dan berdiri. Jantungnya berdegup kencang saat menatap pria tampan itu.
“Maaf, aku cuma ingin menyelamatkanmu,” ucap si pria dengan gugup.
Vania membuang napas kesal. “Ngapain sih kamu nolongin aku? Biarin aja aku mati disini! Toh, nggak akan ada yang peduli sama aku!” ketus Vania.
“Hey, siapa bilang tidak ada yang peduli sama kamu? Aku peduli kok sama kamu.” Si pria menunjukan perhatiannya. Vania terdiam.
“Sepertinya kamu lagi ada masalah,” tebaknya.
“Iya. Aku lagi ada masalah. Kenapa?” Vania cemberut.
“Kamu punya masalah apa? Ceritalah sama aku! Kali aja aku bisa bantu,” pinta si pria.
Vania menatap si pria. Dari tampangnya, pria itu kelihatan serius. Akan tetapi, Vania masih ragu. Apakah dia bisa dipercaya?
“Tenang aja. Aku bisa kok jaga rahasia kamu,” ucapnya meyakinkan Vania.
Akhirnya, Vania menceritakan semua masalahnya. Saat kedua orang tuanya bertengkar sampai saat putus dengan Kevin. Si pria mendengarkan curhatan Vania dengan penuh perhatian. Sesekali ia mengangguk.
"Kasihan sekali. Oh ya, aku bisa kok menjadi penyemangat kamu,” ucap si pria, memberikan harapan.
“Kamu serius?” tanya Vania setengah tidak percaya.
Si pria mengangguk. “Iya, aku serius. Kamu mau kan jadi ...,” ucapnya. “Pacar aku?”
Mata Vania membulat. Tak disangka pria itu akan langsung memintanya untuk menjadi kekasihnya. “Hah? Kamu gila, ya? Baru aja ketemu. Kenal aja nggak,” ucap Vania.
Pria itu mangut-mangut. “Oke, kita perkenalan dulu, ya? Namaku Rangga. Kamu?" Si pria mengulurkan tangannya
Vania menerima uluran tangan Rangga. “Namaku Vania,” ucapnya.
“Gimana?” tanya Rangga.
Vania terdiam sejenak. “Aku pikir-pikir dulu, ya?” pintanya.
“Oke. Aku kasih waktu satu hari. Besok ke sini lagi, ya? Mau diterima atau nggak, pokoknya kamu ke sini. Kasih aku kepastian,” kata Rangga.
“Oke,” ucap Vania.
“Sekarang sudah malam, nanti ayah kamu nyariin. Pulang gih!” perintah Rangga.
“Iya. Aku pulang. Dahhh ....” Vania melambaikan tangannya kepada Rangga. Rangga tersenyum, lalu melambaikan tangan kepada Vania.
Vania melangkah menjauhi jembatan tempat dia akan melakukan aksi bunuh diri. Dia tersenyum-senyum sendiri ketika mengingat kelakuan dirinya tadi.
Sementara di atas jembatan, Rangga menatap Vania yang makin menjauh. Senyum mengembang di bibirnya. Dia tetap terlihat tampan, meskipun wajahnya terlihat agak pucat.
“Kasihan nasibmu, Vania. Saat ada masalah, pacar kamu malah minta putus. Tapi, kamu tenang aja. Aku ada di sini. Aku akan selalu dukung kamu.” Rangga bermonolog.
🍁🍁🍁
Vania baru saja sampai di depan rumah. Dia mencoba membuka pintu. Ternyata pintunya tidak dikunci. Vania masuk ke dalam dengan langkah pelan agar ayah dan kakaknya tidak tahu.
'Aman. Pasti Ayah dan Kak Rendra sudah tidur,' batin Vania tenang.
Vania masuk ke dalam kamar dan langsung merebahkan diti di atas spring bed. Ingatannya tertuju kepada Rangga. Teringat wajah tampannya saat tersenyum, teringat pula perkataan Rangga yang langsung menembaknya tanpa merasa malu.
“Rangga, kamu ganteng banget sih. Perhatian lagi.” Vania tersenyum-senyum sendiri saat mengingat dirinya jatuh ke pelukan Rangga.
Ia memejamkan mata. Napasnya mulai teratur. Malam itu, Vania dikerumuni oleh mimpi-mimpi yang indah.
BERSAMBUNG
Vania menyambut hari-hari barunya dengan senyuman. Ia masuk ke kelasnya, lalu duduk di bangkunya. Terngiang perkataan Rangga tadi malam.
“Rangga nembak aku? Terima jangan yah?” Vania bertanya dalam hatinya. “Tapi, aku merasa ada yang aneh. Kenapa tiba-tiba aku jadi suka sama Rangga? Padahal baru aja kenal?”
Plak!
Saat asyik memikirkan Rangga, bahu Vania ditepuk oleh seseorang. Spontan Vania menoleh, ternyata yang menepuknya Dinda, sahabat baiknya.
“Hey! Melamun terus!” Dinda mengejutkan Vania.
“Eh Dinda! Ngagetin aja!” kesal Vania. Lamunannya buyar seketika.
“Lagi mikirin apa sih? Sampai asyik gitu melamun,” tanya Dinda.
“Nggak papa, Din. Aku cuma ingat ibu aja." Vania memasang raut muka yang sedih.
“Yang sabar ya, Van.” Dinda mengusap punggung Vania, berusaha menenangkannya.
Vania mengangguk. Saat sedang asyik berbicara dengan Dinda, tiba-tiba Kevin masuk ke kelasnya bersama seorang perempuan. Vania mengenal perempuan itu.
Viola namanya, gadis yang biasanya dekat dengan Kevin. Waktu masih pacaran, Kevin sempat bilang bahwa Viola adalah teman kecilnya. Vania juga pernah mendengar dari teman-teman sekelas kalau Kevin memang menaruh hati kepada Viola. Namun, dirinya tidak mempercayai kata-kata mereka.
Ibarat luka yang belum sembuh, Kevin menambahkan luka baru di hati Vania. Vania hanya geleng-geleng kepala saat melihat Kevin menggandeng tangan Viola. Bagi Vania, itu sama saja Kevin membakar amarahnya.
Vania menghampiri Kevin dan Viola. “Ini pacar baru kamu?” tanya Vania dengan napas yang terengah-engah.
“Iya. Ini pacar baru aku yang lebih cantik dan lebih kaya daripada kamu. Kenapa? Kamu cemburu?” tanya Kevin sinis.
“Ish! Nggak usah cemburu juga kali! Kamu kan udah jadi mantan. Aku pacar barunya,” kata Viola dengan sombongnya. “Dan kamu harus tau, Kevin itu lebih mencintai aku dibanding kamu!”
“Jadi, selama ini kamu bohongin aku? Kamu bilang, kamu lagi pengen sendiri? Oke. Tapi maaf yah, aku nggak cemburu!” Vania bangkit lalu berlari.
Vania berlari ke sebuah gudang kosong. Di sanalah Vania meluapkan kesedihannya. Dia menjatuhkan diri. Bulir-bulir hangat menetes ke pipinya. Dirinya sangat kecewa. Walaupun sudah menjadi mantan, tidak mudah juga bagi Vania untuk melupakan Kevin.
Agak lama Vania berpikir. Namun, pada akhirnya, Vania memutuskan untuk menerima cinta Rangga.
“Satu-satunya cara agar aku bisa melupakan Kevin, aku harus menjadi pacar Rangga. Rangga, Aku harap kamu bisa menggantikan posisi Kevin di hatiku.” Vania menyeka air matanya.
“Aku akan membuatmu menyesal, Kevin!” desis Vania sambil tersenyum sinis. “Ya. Dengan kelebihan yang aku miliki, aku akan membuatmu menyesal!”
Vania bangkit, lalu kembali ke kelas.
...
Semangat belajar Vania tumbuh. Semua pelajaran di kelas dia ikuti. Vania benar-benar ingin membuat mantannya menyesal. Saat jam kosong, Vania selalu mengisi waktu luangnya dengan belajar.
Bel istirahat berbunyi. Vania ke luar kelas, lalu masuk ke perpustakaan, mengambil beberapa buku untuk dipelajari. Saat membalikkan badan, dia terkejut melihat sosok tinggi berkulit putih.
“Hay,” sapa Rangga.
“Kok kamu bisa ada disini sih?” tanya Vania heran. Dia menatap Rangga dari bawah ke atas.
Dua alis Rangga bertemu. Dia mencoba menyembunyikan kegugupannya. “Lho, emangnya kenapa? Nggak boleh, ya?” tanya Rangga.
“Bukan gitu. Aku malu berduaan di sini. Gimana kalau ada orang yang melihat kita?” sahut Vania setengah berbisik.
“St!” Rangga menempelkan jari telunjuk di bibirnya. Tiba-tiba terdengar seseorang memanggil Vania.
“Vania! Vania!”
Mendengar suara itu, Rangga berpamitan kepada Vania.
“Oh iya, Van. Aku pergi dulu, ya?” Rangga membalikkan badan, lalu pergi entah kemana.
“Rangga!” panggil Vania. Saat hendak mengejar Rangga, tiba-tiba ...
Plak! Spontan Vania menoleh. Alangkah terkejutnya Vania ketika melihat Dinda berada di belakangnya.
“Ya ampun, Dinda. Kamu tuh ngagetin tau, nggak? Bikin orang jantungan!” kesal Vania. Dinda malah cengengesan.
“Maaf,” kata Dinda. Ia pun mengambil beberapa buku di rak perpustakaan. “Daritadi aku nyariin kamu, eh ternyata kamu di sini.”
“Belajar bareng yuk,” ajak Dinda. Vania hanya menjawab dengan anggukan.
“Tadi pas aku masuk ke perpustakaan, aku denger suara kamu di balik rak buku. Kamu ngomong sama siapa sih? Serius banget,” tanya Dinda sambil melangkah ke luar perpustakaan.
“Em-anu ... biasa, gebetanku,” sahut Vania gelagapan.
“Wah serius? Baru sehari putus dari Kevin udah mau dapat penggantinya?” tanya Dinda setengah tidak percaya.
“Iya lah. Emangnya si Kevin aja yang bisa nyari pengganti? Aku juga bisa!” tandas Vania.
Dinda mangut-mangut. “Tapi, nggak papa sih, biar bisa ngelupain si Kevin,” kata Dinda.
Tanpa terasa, keduanya sudah sampai di depan pintu kelas. Mereka pun masuk. Vanila dan Dinda pun belajar bersama.
Waktu bergulir begitu cepat. Bel pulang berbunyi. Siswa-siswi keluar dari kelas masing-masing. Saat Vania ke luar kelas, Viola menghampirinya.
“Eh ada Vania. Kasian banget sendirian. Pacarnya ke mana?” tanya Viola dengan nada mengejek.
Vania mengembuskan napas kasar. Ia kesal kepada Viola, ingin rasanya menampar pacar baru mantannya itu beberapa kali. Namun, ia malu karena di luar masih banyak siswa-siswi.
“Pacarku diambil sama perempuan gatal. Tapi, ambil aja. Aku udah nggak butuh!” sindir Vania.
Vania pun langsung berjalan cepat meninggalkan Viola. Sementara Viola mengentak-entakkan kakinya kesal. Mukanya memerah. Kevin yang melihat kekasih barunya diam saja, segera menghampirinya.
“Kenapa, Beb?” tanya Kevin.
“Itu tuh! Mantan kamu sok cantik pake ngatain aku perempuan gatal segala! Belum tau siapa aku!?” kesal Viola.
Kevin mengembuskan napas kasar. Dirinya tak habis pikir dengan kelakuan Vania. Dia pun menggandeng tangan Viola.
“Udahlah, Beb. Nggak usah ladenin dia. Anggap aja dia itu iri sama kamu. Kita pulang yuk,” ajak Kevin. Viola hanya mengangguk.
...
Malam tiba. Vania berdandan. Dia terlihat sangat cantik dengan dress putih yang dikenakannya. Usai berdandan, dia pun segera keluar dari kamar dan disambut dengan tatapan heran Rendra.
Rendra terkejut melihat penampilan adiknya yang berubah secara tiba-tiba. Selama ini, yang dia tahu, Vania jarang berdandan. Sebenarnya, tanpa sentuhan kosmetik pun Vania sudah terlihat cantik.
“Wih. Wangi banget. Tumben dandan, biasanya enggak. Mau kemana nih?" Rendra menatap Vania dari atas ke bawah. Baru kali ini Rendra melihat Vania memakai sepatu hak tinggi. Biasanya, Vania hanya memakai sandal.
“Iya nih. Aku mau ke acara ulang tahun temen,” sahut Vania. Bohong!
“Ya udah, jaga diri baik-baik! Pulangnya jangan malem-malem!” kata Rendra. Dia tidak menaruh kecurigaan apa pun terhadap Vania karena selama ini yang dia tahu, adiknya wanita baik-baik juga pendiam.
“Iya, Kak.” Mendengar ucapan Rendra yang memberi kesempatan, Vania senang. Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Sesegera mungkin, dia melangkah menuju pintu depan.
Baru saja Vania membuka pintu, tiba-tiba ayahnya memanggilnya. Sang ayah baru saja keluar dari kamar. ‘Haduh! Apa lagi sih?’ batinnya kesal.
“Vania!” panggil ayah Vania.
Vania terdiam sejenak, lalu membalikkan badan. “Iya, Yah. Ada apa?” tanya Vania.
“Kamu mau ke mana?” tanya ayahnya penuh selidik.
“Aku mau ke pesta ulang tahun temen, Yah. Tapi nggak lama kok.” Vania berbohong kembali.
“Kamu jangan coba-coba boong sama ayah, ya?” Ayahnya menatap tajam.
“Eh. Nggak kok, Yah. Vania cuma mau ke pesta ulang tahun temen.” Sebisa mungkin, Vania meyakinkan ayahnya.
“Boleh ya, Yah? Baru kali ini Vania hadir di acara ulang tahun temen. Vania mau keluar sekali ini aja. Soalnya yang ulang tahun teman baik Vania.” Vania memelas, kedua tangannya dirapatkan.
Ayahnya terdiam sejenak, lalu mangut-mangut. “Ya sudah. Jaga diri baik-baik!” kata ayahnya.
“Rendra, anterin adik kamu nih!” teriak ayah Vania.
“Eh. Nggak usah, Yah. Kak Rendra pasti capek. Biarin aja dia istirahat. Lagian, Vania juga dijemput temen. Oh iya, Yah, Vania berangkat dulu, ya? Kasian temen udah nunggu lama,” Vania berpamitan lalu pergi.
Ayah Vanila geleng-geleng kepala, lalu bergumam, “Awas saja kalau akhirnya kau ketemuan sama laki-laki, aku nggak akan segan-segan memukulimu!”
...
‘Huh! Untung aja aku nggak ketahuan sama ayah. Kalau sampai ketahuan, ayah bisa marah besar.’ Vika berkata dalam hatinya.
Hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai di jembatan. Vania memandang ke sekelilingnya. Sepi, tiada seorang pun disana. Semilir angin malam menerpa dirinya, menyingkap rambut panjangnya yang indah.
“Oh iya. Aku baru inget. Kenapa nggak sekalian aja, ya, tadi aku bilang cinta ke Rangga? Ah! Dasar aku!” umpat Vania.
“Si Rangga ke mana sih? Lama banget. Kemarin katanya aku harus nemuin dia di sini. Ini udah malem, kalau aku pulangnya larut, aku bisa dimarahin ayah,” gerutu Vania sambil mengentakkan kakinya.
Hampir dua jam Vania menunggu di atas jembatan. Namun, Rangga tak kunjung datang jua. Vania mulai bosan berada di sana. Saat hendak pulang, tiba-tiba matanya ditutup oleh sepasang tangan. Vania melepaskan tangan yang menutupi matanya.
“Rangga?” Vika terperanjat kaget saat melihat Rangga.
“Iya, Vania. Aku di sini,” kata Rangga sambil memberikan senyum manisnya.
“Kamu ada di sini? Bukannya ...,” tanya Vika.
“Ya. Aku di sini, nunggu jawaban dari kamu yang kemaren. Gimana?” tanya Rangga.
“Rangga!” panggil Vania. Jantungnya berdegup kencang saat beradu tatap dengan Rangga.
“Iya. Kenapa?” tanya Rangga, menunggu jawaban dari Vania.
“Aku ... aku mau kok jadi pacar kamu,” sahut Vania gugup.
“Kamu serius?” Rangga seolah-olah tidak percaya.
Vika mengangguk. “Iya, aku serius,” ucapnya, meyakinkan Rangga.
“Makasih Vania,” ucap Rangga, dia pun memeluk wanita yang baru menjadi kekasihnya.
Vania merasa nyaman dalam pelukan Rangga, hal romantis yang jarang dilakukan Kevin saat masih berpacaran. Perlahan, Rangga melepas pelukannya. Dia meraih kedua tangan Vania.
“Vika, Aku janji. Aku akan setia sama kamu dan aku akan selalu menjaga kamu,” janji Rangga.
“Sungguh?” tanya Vania.
Rangga mengangguk. “Iya,” jawabnya.
Vania tersenyum manis sekali. Dirinya langsung percaya bahwa Rangga serius dengan janjinya itu.
Vania mangut-mangut. “Iya, Rangga. Aku percaya kok,” kata Vania.
Sekali lagi tangan Vania ditarik dan langsung dipeluk Rangga. “Aku sayang sama kamu,” bisik Rangga.
Sejenak Rangga melepas pelukan, pandangannya tertuju kepada Vania. “Kamu, seseorang yang sudah lama kuimpikan menjadi pacarku. Makasih udah mau nerima aku. Aku janji, aku akan selalu ada buat kamu,” ucap Rangga.
Cup!
Sebuah ciuman mendarat di kening Vania.
Malam itu adalah malam terindah bagi sepasang kekasih yang tengah dilanda asmara. Walaupun berbeda alam, tetapi mereka terlihat sangat akrab. Vania bersandar di bahu Rangga sambil menatap ke langit yang penuh dengan bintang-bintang, sementara Rangga mengelus rambut Vania.
Hari yang tidak akan Vania lupakan. Di mana dirinya berpacaran dengan Rangga. Dengan sekejap saja, beban pikiran Vania hilang. Semangatnya kembali tumbuh bersamaan dengan cintanya kepada Rangga.
BERSAMBUNG
Rangga membelai rambut Vania pelan, tatapannya tertuju kepada bintang-bintang di langit. Vania merasa nyaman, dirinya merasa sedang berada di suatu tempat yang penuh kebahagiaan. Entah kata apa yang harus ia ucapkan saking bahagianya.
“Vania, kamu janji, ya, sama aku ...?” pinta Rangga.
Dahi Vania mengkerut. “Janji apa?” tanya Vania.
Rangga mengalihkan pandangannya, dia menatap Vamia. “Kamu harus nurut sama aku,” sahut Rangga.
“Selama aku mampu,” balas Vania.
“Ok. Sekarang udah malem, mendingan kamu pulang deh! Nanti ayah sama kakak kamu nyariin,” saran Rangga.
Vania cemberut. “Nggak ah! Aku masih pengin disini,” tolaknya.
Rangga berusaha mencari perhatian Vania. “Di sini? Di sini banyak nyamuk lho. Liat tuh nyamuknya ada di pipi kamu,” kata Rangga.
Vania terkejut dan mengalihkan pandangannya. “Mana?” Vania meraba pipinya.
“Itu. Sini coba,” ucap Rangga. Vania mendekat.
“Merem, ya?” perintah Rangga.
Vania mengangguk. Dia pun memejamkan matanya. Rangga tersenyum menatap Vania. Apa yang akan dilakukannya terhadap Vania?
Cup!
Pipi Vania dicium Rangga. Vania yang terekjut segera membuka matanya. Pipinya merah merona, dia tersipu malu.
“Ish! Rangga, kamu ngapain sih?” Vania menjauhkan wajahnya dari Rangga.
Rangga malah tertawa. “Hahaha ... itu akibatnya kalau kamu nggak nurut sama aku. Pulang yok. Aku juga mau pulang,” ajaknya.
Vania membuang napas, lalu memanyunkan bibir. “Tapi aku masih mau di sini, sama kamu,” kata Vania.
“Kamu bandel, ya? Besok kan kita bisa ketemu lagi. Sekarang kamu harus pulang. Besok kan sekolah. Apa perlu aku gendong?” Rangga tersenyum menggoda.
“Ish! Jangan dong, aku bukan anak kecil. Ya udah, aku pulang dulu.” Vania bangkit dan berdiri. Rangga pum berdiri. Keduanya saling bertatapan.
“Aku akan selalu menunggumu, di sini, Sayang,” ucap Rangga. Kedua tangannya memegang pipi sang kekasih.
Vania tersenyum. “Iya, Sayang. Aku pulang,” ucapnya.
Rangga mengangguk. “Selamat malam, Sayang. Semoga mimpi indah,” ucapnya.
Vania membalikkan badan, berjalan beberapa langkah, lalu menoleh. Rangga tersenyum manis dan melambaikan tangan, memberi tanda perpisahan. Vania pun melambaikan sebelum pergi.
“Aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu, Vania,” kata Rangga, setelah Vania menjauh.
...
Vania pulang ke rumah dengan perasaan was-was. Dadanya berdebar-debar karena takut dimarahi ayah juga kakaknya. Akan tetapi, firasatnya salah.
Rendra dan ayahnya tidak menaruh curiga apa pun terhadap Vania. Begitu Vania sampai di depan, kedua lelaki pelindung itu menyuruhnya segera masuk.
Vania masuk dan bergegas ke kamarnya, tak lupa menutup pintu. Dia menarik napas, lalu menuju meja belajar.
[Hari/tanggal : 04 Agustus 2016
Masih belum bisa kupercaya, lelaki setampan dan sebaik Rangga menyukai aku. Padahal, aku hanya seorang gadis sederhana, tidak secantik gadis-gadis diluaran sana.
Tapi aku sangat mencintainya. Tak mau lagi sampai kehilangan dia. Biarlah aku kehilangan Kevin, asalkan tidak kehilangan Rangga. Apapun yang terjadi, aku mau terus bersama Rangga.
I Love You, Rangga ...]
Vania menutup buku diarynya. Dia membuang napas, lalu tersenyum mengingat kejadian saat akan bunuh diri sampai dengan mengenal Rangga. Dia berjalan menuju ranjang, lalu merebahkan diri di atasnya.
Rasa kantuk menghampiri Vania. Dia menguap. Matanya menutup perlahan, sampai akhirnya dunia mimpi menyambutnya.
Di balik jendela kamar Vania, ada segumpal cahaya putih. Cahaya itu perlahan membentuk sebuah sosok. Rangga!
“Aku menemanimu sementara waktu karena suatu saat aku akan pergi. Kuharap, kamu tidak bersedih kalau nanti kamu kehilangan aku. Nanti akan ada pengganti yang lebih baik dari aku,” kata Rangga, menatap Vania yang sudah terlelap. Ia tersenyum, lalu menghilang.
...
Vania keluar dari kamar dengan memakai seragam sekolah. Gadis itu bersemangat menyambut hari-hari barunya. Tak lama kemudian, dia berpamitan kepada sang ayah.
“Nggak sarapan dulu?” tanya ayah Vania.
“Nggak, Yah. Nanti aja beli roti di kantin,” jawab Vania.
Dia bergegas keluar rumah. Rendra sudah menunggunya di luar dengan menumpangi motor beat.
Seperti biasa, Vania selalu diantar Rendra ke sekolah. Rendra sendiri bekerja sebagai tukang ojek, sementara ayahnya bekerja di perkebunan karet.
Kedua lelaki itu rela banting tulang bekerja meskipun hasilnya tak seberapa hanya karena agar Vania tidak putus sekolah. Mereka berharap, Vania menjadi kebanggaan mereka suatu saat nanti. Itulah mengapa Vania banyak dikekang.
“Kakak kerja dulu, ya? Jaga dirimu baik-baik,” kata Rendra, begitu Vania turun dari motor.
“Iya, Kak. Vania juga mau ke kelas." Vania menyalami kakaknya.
Vania berjalan menyusuri koridor sekolah. Langkahnya dipercepat saat melihat kerumunan siswa-siswi di depan kelasnya. Dia penasaran.
Saat didekati, ternyata teman-teman Vania sedang melihat nilai hasil ulangan. Vania pun mencari namanya di daftar nilai siswa kelas XII IPA 3, Vania Lutfiani, berada di nomor urut ke-29. Dia mendapat nilai 87, nilai tertinggi di antara teman-temannya yang lain.
Tak lama kemudian, Vania masuk dan tidak keluar kelas sampai bel masuk berbunyi.
...
“Selamat pagi Anak-anak,” sapa Bu Nurul begitu masuk ke kelas.
“Pagi, Bu,” balas murid-murid.
“Hari ini kita akan ulangan harian matematika,” kata Bu Nurul. “Siapkan dua lembar kertas!”
Para siswa pun sibuk menyobek dua lembar kertas. Semuanya tampak tegang, kecuali Vania. Sejak masuk ke kelas dia sudah menghapal. Bu Nurul membacakan soal ulangan.
Di luar, Rangga menatap Vania yang masih sibuk dengan soal-soal ulangan. Kebetulan, pintu kelas terbuka lebar. Senyum mengembang di bibirnya yang pucat.
“Kamu memang berbakat, Vania. Aku yakin, suatu saat nanti, kamu pasti bisa menjadi kebanggaan orang-orang terdekat denganmu. Semangat, Sayang,” lirih Rangga.
BERSAMBUNG