Bab 1

Jalanan pada siang hari ini, terlihat begitu sepi. Tidak banyak mobil yang lewat sehingga kemungkinan tidak akan terjadi macet. Cuaca yang mendung dan gerimis, tak menyurutkan mobil sedan warna hitam untuk berhenti. Mobil itu melaju dengan kecepatan normal, meski kadang-kadang terlihat cepat karena mungkin saja seseorang yang mengendarai mobil itu terburu-buru.

Sebelum akhirnya mobil belok ke arah kanan, dapat terlihat lampu sen menyala. Memang kelihatannya tidak ada yang salah, tetapi mendadak keluar asap dari ban belakang mobil. Sepertinya sang pengemudi tidak menyadarinya, jadi mobil masih melaju seperti biasa.

Kaca mobil tiba-tiba terbuka, terlihat wanita berambut perak yang sedang menyetir panik. Sepertinya, ia baru menyadari bahwa mobil yang ia kendarai bermasalah. Kakinya pun langsung menginjak rem, tetapi mobil tidak mau berhenti. Wanita itu semakin panik, kala rem mobilnya ternyata rusak. Ia berusaha untuk menyetir pelan, sayangnya mobil yang dikendarainya mendadak melaju dengan kecepatan yang sangat cepat.

Napas wanita itu tercekat, ia melirik pada kaca spion berkali-kali, mungkin ia berharap ada mobil yang lewat dan akan ada yang membantunya. Namun, ternyata tidak ada satu pun.

Di tengah mobil yang sudah tidak terkendali, ia mencoba mengambil gadget yang ada di dalam tas. Sial! gadget yang hendak ia ambil, malah terjatuh ke bawah kursi mobil. Ia kemudian mengamati jalanan sekilas, harap-harap cemas dengan terus berharap agar tak terjadi apa-apa. Lalu, dengan hati-hati, ia berupaya mengambil gadget yang jatuh. Belum sempat tangannya menyentuh gadget, ia bisa merasakan mobil oleng dan perlahan menjorok, dapat dipastikan mobilnya telah jatuh ke jurang. Tidak lama setelah itu, mobil menghantam pohon besar yang ada di depannya. Wanita itu merasakan kepalanya mendadak pening, tetapi masih bisa membuka mata dan melihat jelas darah bersimbah. Ia juga merasa badannya terlalu lemas untuk keluar dari mobil, hanya karena ia tidak ingin meninggal, ia lalu membuka pintu mobil. Sayangnya, sebelum ia keluar, mobil sudah meledak terlebih dahulu.

***

Enam tahun kemudian.

Adero Carlson Alyward terus menenggak alkohol, meski dapat dilihat, ada sekitar lima sampai enam botol tanpa isi yang tergeletak di meja. Masih dalam kondisi sadar, pria itu merogoh saku celana saat merasakan getaran gadgetnya. Lagi, seperti biasa, ibunya akan menanyakan ia ada di mana. Biasanya, Adero akan segera pulang. Namun, kali ini biarkan ia menghabiskan malam di klub. Ia juga sudah merogoh kocek yang tak sedikit untuk memesan ruangan VVIP. Tidak ada yang bisa menganggungnya malam ini, hanya malam ini ia bisa kembali mengingat kenangan yang sudah pergi.

Adero menyandarkan tubuhnya ke sofa. Ruangan yang ia pesan lumayan gelap meski sudah diterangi dengan lilin dan lampu disko kecil yang terus berkedip-kedip. Ia mengambil kue keju yang diam-diam ia bawa dari toko kue yang tak jauh dari klub tempat ia berada. Menggigit pelan dan menikmati rasanya, mendadak hati Adero terasa sakit. Ia menyingkirkan kue itu dengan sekali senggol, sehingga kue yang tadinya ada di atas meja, jatuh ke lantai dan berserakan.

Adero memegangi kepalanya, ia menyadari betul bahwa tak seharusnya ia terus terjebak pada peristiwa enam tahun yang lalu. Tidak hanya dirinya saja yang terluka, orang-orang di sekitarnya dan teman-temannya. Namun, selama ia belum menemukan siapa dalang di balik kecelakaan itu, Adero akan terus mengingat kejadian itu. Kejadian yang telah merenggut wanita yang paling ia cintai.

Tanpa berpikir bahwa wanita itu sudah dimiliki pria lain, Adero masih terus mengharapkan wanita itu. Mencoba mencari sedikit celah agar wanita itu kembali padanya. Andai wanita itu bisa ia culik, ia sudah pasti menyekapnya untuk dirinya sendiri, agar wanita itu tetap aman, tetap hidup dan berada di sampingnya.

Lagi, Adero melihat gadgetnya menyala, sang ibu sekarang tidak mengirimi ia pesan, tetapi meneleponnya sehingga suara dering itu membuat ia mau tak mau mengangkatnya. Ia tidak ingin mengambil risiko dimarahi oleh ibunya, jadi sekarang ia bisa mendengar ocehan ibunya dari seberang sana, menyuruhnya untuk segera pulang.

Adero tiba-tiba meletakkan gadgetnya di meja, tatapannya menerawang ke seluruh sudut ruangan. Ia masih terus mendengar ucapan sang ibu, bahkan ketika ibunya bertanya apakah ia masih ada di sana. Ia mengangguk mantap, mencoba tersenyum sebaik mungkin, meski hasilnya menunjukkan seringai yang cukup mengerikan.

“Aku akan kembali ke Spanyol, jika memang ayah menyuruhku untuk datang. Apa Ibu baik-baik saja?” katanya setengah berteriak.

Setelah mendengar jawaban dari sang ibu, Adero menutup sambungan telepon. Ia berpikir untuk tidak jadi bermalam di klub. Ia mengambil jaket lalu memakainya, serta mengambil gadget dan dompet yang tergeletak di meja. Kemudian, pergi meninggalkan ruangan klub dengan berjalan sempoyongan.

Wanita mungil mendadak menggenggam tangannya saat Adero melewati meja bar, ia melirik sekilas pada wanita bergaun merah seksi sambil menggelengkan kepala. Wanita tak tahu malu yang kini bergelayut manja padanya, itu sesekali merayunya dengan kata-kata yang menjijikkan. Ayolah, Adero bukan tipikal pria brengsek yang suka meniduri wanita. Ia hanya datang ke klub untuk minum-minum, tak terpikirkan untuk berbagi kehangatan di atas ranjang.

“Maaf, Nona. Saya harus pergi.”

Melihat wanita itu melepaskan tangan dari lengannya dan mengernyit heran, Adero ingin rasanya tertawa terbahak-bahak sekarang, tetapi ia tahan. Dengan wajah memerah sambil cemberut, wanita itu meninggalkan Adero dengan umpatan.

Adero tidak peduli dan ia langsung menuju tempat parkir untuk mengambil mobil. Lamborghini warna biru hitam, menjadi teman setianya untuk pergi ke mana saja. Dengan gagah, pria itu memasuki mobil, menyalakan mesinnya sambil meminum air mineral yang ia ambil dari samping jok. Lalu, ia segera mengendarai mobil, membawanya keluar dari tempat parkir dan melajukan dengan kecepatan sedang.

Seperti malam-malam biasanya, jalanan yang lenggang membuat Adero dapat cepat sampai ke rumah. Ia memasukkan mobil ke garasi, setelah pegawai ibunya membukakan pintu gerbang. Ia lantas turun dari mobil, membawa langkahnya memasuki rumah dan menaiki anak tangga menuju lantai dua.

Wanita yang melihat kedatangan Adero langsung memeluknya. Namun, segera dilepaskan, membuat Adero meyakini ibunya akan tahu apa yang sudah ia perbuat, dan tatapan ibunya membuat Adero mau tidak mau mencoba tersenyum sebaik mungkin.

“Masuk ke kamarmu, mandi dan langsung istirahat,” kata sang ibu sambil memberikan sebuah amplop warna kuning pucat.

Adero melirik ibunya lalu membuka amplop cokelat itu. Ia menatap ibunya dengan tatapan tak percaya, mengetahui apa yang ada di dalam amplop itu.

“Kamu akan langsung pergi besok pagi, jadi sebaiknya kamu istirahat dengan baik. Ibu akan tetap di sini, jika terjadi sesuatu, kamu bisa hubungi Ibu.”

Adero dapat melihat ibunya tersenyum tulus. Sedari dulu, harusnya ia tinggal bersama sang ibu, ketika orang tuanya tak lagi bersama. Namun, karena waktu itu ibunya tidak punya kehidupan layak seperti sekarang, hak asuh beralih ke tangan ayahnya.

“Dia benar-benar tak bisa bersabar,” ucap Adero jengkel lalu memasukkan kembali isi amplop itu.

“Ayahmu begitu merindukanmu. Dia tidak salah jika menginginkan kamu cepat datang."

Mendengar ucapan sang ibu, Adero selalu bertanya-tanya, kenapa ayahnya tega selingkuh padahal ibunya sangat baik hati. Apa yang salah dari ibunya. Ia mendadak merasa emosional, tetapi ia tahan saja. Lagi pula, ia kembali ke Spanyol bukan tanpa maksud. Ia menyadari betul bahwa ada yang tidak beres di rumah ayahnya.

“Ya, aku tahu. Meski aku tidak pernah merindukannya,” ucap Adero kelewat jujur.

Adero melenggang pergi sebelum ibunya ceramah panjang lebar. Betapa ia harus menghormati pria yang bahkan tidak pernah menyayanginya. Pria itu terlihat begitu mencintai selingkuhan dan anak tirinya. Itu jelas terlihat ketika ia berada di Spanyol. Spanyol bak neraka, tetapi ia bahkan mungkin sebenarnya akan terjebak di sana selamanya.

Adero mengambil gadget, entah siapa gerangan yang mengiriminya pesan di malam yang sudah larut. Ia menatap layar gadget dengan tatapan kelam, berani sekali anak selingkuhan ayahnya mengirimkan pesan padanya, dan kalimat dalam pesan itu benar-benar membuatnya murka sekarang hingga melempar gadget.

Seharusnya hari itu, ia yang menikahi Hana Eurwyn, bukan anak dari ibu tirinya!

Bab 2

Tak seperti hari-hari biasanya yang sibuk, wanita yang kini masih memakai piama warna kuning tengah asyik menyesap teh hijau sambil menatap layar gadget. Ia mengambil kue kering dan memakannya dengan pelan dan lembut. Matanya berbinar terang, entah keberuntungan apa yang sedang ia dapatkan, tetapi wanita itu segera berlari menuju ke kamar mandi.

Dengan pelan dan pasti, wanita itu melepaskan pakaian. Punggung mulusnya terpampang dengan jelas, tentu tidak akan ada satu pria pun yang akan melewatkannya jika melihat pemandangan seperti itu. Tangannya mengambil sabun dan mulai menggosok tubuh hingga kakinya yang panjang dan semampai. Terkutuklah semua pria di dunia ini, jika tidak menyukai atau mendambakan wanita ini.

Setelah selesai membersihkan diri, ia mengambil handuk dan menyelimuti tubuhnya agar tidak mati kedinginan. Ia lalu mencari pakaian yang layak untuk dipakai. Ia mengambil pakaian dalam yang seksi dan gaun yang mewah. Akan tetapi, ia mengembalikan gaun ke lemari dan mengambil celana panjang, kaus dan jaket kulit.

Wanita itu sadar, ia tidak boleh terlalu mencolok, sehingga tidak akan ada yang curiga, kenapa ia memilih datang ke kota ini. Ia lantas mengambil tas merek guci dan tak lupa membawa gadget yang tadi ia letakkan di atas meja. Ia lalu memakai sepatu kulit yang cocok dipadukan dengan pakaiannya. Wanita itu kemudian bergegas keluar dari flat.

Wanita itu menaiki lift dengan tidak nyaman karena tatapan pria yang ada di sampingnya. Ia bahkan menyadari kalau pria di sampingnya ini sangat tidak beradab dan sopan. Lihat saja, saat pria itu berjalan lebih dulu meninggalkan lift, dapat wanita itu lihat di saku belakangnya ada bungkus rokok. Ia menduga pria itu bermalam di tempat yang tak seharusnya.

Jika ada yang berpikiran, ia akan langsung naik mobil setelah keluar dari gedung flat, itu tidak benar. Wanita ini malah berjalan menuju ke arah jalan raya, setelahnya ia benar-benar mencari keberadaan mobil yang bernama lengkap taksi.

Wanita itu terlihat mengerucutkan bibir, lalu berjalan menuju ke jalan lain karena belum menemukan taksi. Tiba-tiba saja gadget yang ia bawa berdering, menandakan ada telepon masuk.

“Aku masih mencari taksi. Kamu tenang saja, aku segera datang,” ujarnya lalu segera menutup sambungan telepon.

Wanita itu hampir bahagia kala melihat taksi di depan mata. Namun, seseorang yang entah datang dari mana, tiba-tiba sudah mendekati taksi dan masuk ke dalamnya. Ia sudah kalah bahkan sebelum melangkahkan kaki untuk menghampiri taksi itu.

Wanita itu mau tidak mau menunggu sambil membalas pesan yang terus masuk ke gadgetnya. Akhirnya, taksi yang ia tunggu tiba juga. Alhasil, ia langsung naik dan memberi tahu sopir alamat yang hendak ia tuju.

Selama perjalanan, ia memandangi jalanan dan bangunan yang dilewatinya. Ia jadi begitu merindukan kota di mana ia dilahirkan, sebelum ia pindah ke kota ini untuk bekerja. Wanita itu tersenyum dan membayar sopir taksi. Ia lalu memasuki gedung, di mana seseorang sudah menunggunya.

Wanita itu sempat berhenti sejenak saat memasuki kafe di lantai 3, ia mencari keberadaan seseorang yang sedari tadi sebenarnya sudah heboh saat mengirim pesan. Pesan yang ia kirimkan pun, belum mendapatkan balasan. Jadi, ia bingung apakah sudah dipesan tempat duduknya atau belum.

Wanita itu terkejut kala seseorang yang dikenalnya mengageti dari belakang, ia hampir saja mengumpat, jika temannya tidak langsung menyuruh duduk dan memberikan menu kafe. Sebab ia belum sarapan, jadi ia memesan roti bakar dan kopi.

“Nevilla Caldwell, aku senang sekali bisa bertemu sama kamu, hari ini. Libur perusahaan akan segera berakhir, berarti nanti kita bakal sibuk lagi. Enggak seru banget kan?”

Nevilla menggeleng. “Aku merindukan perusahaan.”

Temannya menjitak kepala Nevilla yang langsung meringis dan Nevilla hendak menyerang balik tetapi tidak kena.

Temannya menjulurkan lidah sambil ketawa. “Aku enggak tahu isi otak kamu, La. Tapi, kalau aku, aku mengharapkan libur yang jauh lebih panjang.”

“Itu kan kamu, Serena! Kalau aku, aku rindu juga sama Pak Aron,” cicitnya sambil tersenyum malu-malu.

Serena mengangguk mengerti. Ia harusnya tahu apa yang ada di pikiran Nevilla saat ini. “Oke. Jadi, hubungan kamu sama Pak Aron ini sejenis apa? Teman? Sahabat? Atau pacaran?” tanya Serena dengan jengah karena ia yakin belum ada kemajuan apa pun.

Nevilla tidak langsung menjawab karena kebetulan pesanan mereka sudah datang. Ia tersenyum pada pelayan lalu menyesap kopi perlahan-lahan.

“Kok, kamu enggak jawab pertanyaan aku, La?” protes Serena sambil menatap tajam Nevilla. Ia lantas memakan kue stroberi kesukaannya yang ia pesan.

“Aku bingung, Na. Hubunganku sama Pak Aron ya begitu-begitu saja. Dia juga belum pernah bilang kalau dia suka atau cinta sama aku. Tapi, kamu tahu kan? Dia setiap hari selalu menghampiriku,” jawab Nevilla dengan perasaan bimbang. Ia harus menyebut hubungannya semacam apa? Hubungan tanpa status? Itu menyebalkan.

Serena mengangguk, ia sangat mengerti bagaimana perasaan Nevilla. Sebab, ia juga pernah merasakan hal yang sama meski pada akhirnya, ia menyerah. “Menurut aku ya, La. Kamu sebaiknya jangan terlalu berharap, itu pun jika kamu belum terperangkap cintanya Pak Aron. Ya kan, dia wakil direktur, siapa coba yang enggak mau jadi pendampingnya? Tapi, kamu juga harus pintar, biar enggak dikasih harapan semu.”

Nevilla memahami sekali ucapan Serena, sayangnya ia tidak bisa melepaskan Aron begitu saja. “Aku suka banget sama anaknya Pak Aron, Na. Lucu kan?”

Serena yang sudah menghabiskan kuenya, mengernyit heran. “Jadi kamu suka sama anaknya? Bukan sama bapaknya?”

Nevilla memejamkan matanya, ia menggeleng mantap. Bukan itu juga maksudnya.

“Oke, aku paham, La. Paham sekali. Intinya kamu suka kan sama Pak Aron tapi dia enggak kasih status hubungan yang jelas. Tinggalkan saja!” saran Serena dengan tegas.

Nevilla menggeleng, ia tidak akan pernah meninggalkan kesempatan emas untuk mendapatkan hati Aron. Banyak wanita di perusahaannya yang terang-terangan iri karena setiap hari Aron begitu sering bersamanya. Jadi, ia tidak akan berhenti. “Hati siapa yang tahu,” ucap Nevilla sambil menyeringai.

Serena tertawa kecil, baginya Nevilla benar-benar tahu apa yang ia inginkan.

“Tapi, jika aku jadi kamu, aku akan mendekati Pak Arkan. Sudah jelas kan dia pemilik perusahaan kan?” ujar Serena meskipun ia tahu Arkan sudah punya istri.

Nevilla menggelengkan kepala, sementara Serena tersenyum gemas.

“O iya, La. Aku dengar Pak Davi akan diganti dengan direktur yang baru.”

Nevilla semringah. Itu artinya ia akan digosipkan dekat dengan direktur perusahaan. Hidupnya berasa di surga. “Aku tebak pasti Pak Aron yang akan menggantikan, betul tidak?”

Serena menggeleng, membuat Nevilla keheranan. “Siapa lagi coba, kalau bukan Aron?”

Serena menatap Nevilla dengan lekat. Ia lalu menyentuh kedua pipi wanita itu dan menepuknya pelan. “Bangun, La. Pak Aron tidak akan jadi direktur, dia kan bukan anak kandungnya Pak Arkan. Dia akan tetap jadi wakil direktur. Nah, yang akan jadi direktur itu, anak kandungnya Pak Arkan namanya Adero. Dia katanya lebih seksi dari Pak Aron.” Serena yang melihat Nevilla terdiam merasa khawatir. “La, kamu baik-baik saja kan?”

Nevilla tersenyum canggung sambil mengangguk. “Aku baik-baik saja. Kalau begitu, aku langsung pulang ya, Na.”

Serena hendak menahan kepergian Nevilla, tetapi ia tidak jadi karena ia yakin sekali Nevilla belum tahu bahwa Aron bukan anak kandung Pak Arkan. Meski begitu, bagaimana pun Nevilla harus mengetahuinya. Ia tak mau menyembunyikan kenyataan itu dari sang sahabat.

***

Nevilla kelu, ia berjalan dengan hati bimbang. Ia benar-benar tidak tahu jika Aron bukan anak kandung Pak Arkan. Selama ini, yang ia tahu bahwa Aron adalah anak tunggal Pak Arkan, tidak ada orang lain yang pernah bercerita atau pun terdengar desas-desus apa pun mengenai kenyataan bahwa Aron adalah anak tiri.

Kepala Nevilla mendadak pusing, ia memegangi tiang sambil menghentikan taksi. Sebelum menaiki taksi, ia sempat mendapatkan pesan dari Aron dan ia tidak berniat untuk membaca, apalagi membalasnya.

Bab 3

Adero memeluk ibunya. Ia yakin jika setibanya di Spanyol, ia akan merindukan wanita yang telah melahirkan ia ke dunia. Akan tetapi, benar seperti yang ibunya katakan bahwa ia tetap harus pergi, sehingga ia melepas pelukan dan tersenyum.

“Kalau begitu, aku berangkat, Bu.” Adero berpamitan sambil menyeret koper. Ia dapat melihat ibunya melambaikan tangan sambil tersenyum.

Adero melangkahkan kaki menuju pintu, tetapi ia terdiam sejenak sebelum membukanya dan keluar. Keputusan yang ia ambil hari ini, akan menjadi penentu dari masa lalu yang belum terungkap. Dengan langkah mantap, ia menutup pintu, berjalan menuju taksi yang sudah dipesan ibunya, dan memberi tahu kepada sopir bahwa ia akan pergi ke bandara.

Selama perjalanan menggunakan taksi, Adero terus membalas pesan sang ibu yang memberikan banyak sekali nasihat, seperti ia tidak boleh menampakkan wajah tak suka pada ibu tirinya, ia harus menghormati ayahnya dan juga menyayangi saudara tirinya. Ia harus .menjadi anak yang berbakti.

Ketika mendapat pesan dari ibunya dan menyadari nama Aron ada di dalam percakapan pesan mereka, ia jadi ingat pesan yang sempat pria itu kirim padanya. Adero membuka pesan itu, mencoba memahami setiap kalimat yang tersirat. Tetap saja, ia tidak begitu menyukai Vincent. Meski, anak kecil itu anak Hana, tetapi bukan anaknya. Jadi, tidak baik anak itu merindukan dirinya.

Adero mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikan pada sopir. Ia sudah sampai di bandara dan langsung menuju ke rute penerbangan Spanyol. Sebab ia datang begitu cepat, ia harus menunggu setengah jam lagi, sebelum pesawatnya siap untuk dinaiki.

Adero memilih duduk di kursi tunggu yang kebetulan tidak banyak orang duduk di sana. Ia sempat melihat sekeliling sebelum menatap gadget. Ia memilih membaca buku digital mengenai perumahan dan properti, agar setibanya di Spanyol, ia sedikit mengerti tentang perusahaan yang sudah keluarga Alyward kembangkan selama hampir ratusan tahun.

Sebenarnya, Adero bukan tipikal pria yang suka dengan bangunan dan semacamnya. Ia jauh lebih suka menggambar grafis dan desain pakaian, tetapi mengingat ia akan menjadi penerus perusahaan ayahnya, setiap hari sang ibu memaksa ia untuk belajar meskipun ia benar-benar tidak melakukannya.

Adero bisa mendengar bahwa keberangkatan pesawat ke Spanyol sudah siap. Para penumpang pun disuruh untuk segera menaiki pesawat. Tanpa basa-basi, Adero menarik koper dan mengikuti segala macam pemeriksaan yang ada. Ia bersyukur tidak ada hal-hal aneh yang terjadi, jadi kini ia sudah duduk di kursinya.

Seperti biasa, para pramugari wanita akan menawarkan makanan atau minuman padanya. Ia juga tentu tidak menolak, sebab dibandingkan dengan wanita klub yang suka menggodanya, menurutnya para pramugari jauh lebih cocok untuk dipandangi keindahannya.

Adero menggelengkan kepala untuk menghilangkan pikiran kotornya. Ia lalu memilih makanan dan minuman ringan yang dibawa oleh pramugari cantik di hadapannya. Ia sempat melihat pramugari itu terlihat tegang, tetapi masih berusaha melayani dengan baik. Padahal Adero begitu tampan meski agak menakutkan.

Adero tersenyum pada sang pramugari setelah mendapatkan makanan dan minuman yang ia inginkan. Ia membuka kopi kalengan dan menegaknya. Lidahnya dapat merasakan rasa manis dan pahit yang menjadi satu. Ia lalu memakan roti dan menunggu pesawatnya terbang.

Tak banyak yang dilakukan Adero selama berada di pesawat, ia membaca buku, tidur, makan dan hanya terdiam mengamati sekitar. Ia juga tidak bisa melihat pemandangan dari atas, karena posisi duduknya tidak di dekat jendela.

Adero melihat kerumunan saat ia baru bangun tidur. Ia sempat mendengar dari beberapa orang yang duduk tak jauh darinya, bahwa ada seorang wanita tua yang merasakan sakit perut. Ia hanya mengangguk paham dan tak terlalu memikirkan.

“Permisi, apa aku bisa meminjam majalahmu?” tanya seorang wanita pada Adero.

Adero menoleh ke sumber suara dan baru sadar bahwa orang yang duduk di kursi sebelahnya sangat cantik. Ia lalu memberikan majalah yang dimaksud kepada wanita itu yang langsung menerimanya dengan senyum tipis.

“Apa kamu akan pergi ke Spanyol?” Wanita itu menatap Adero penuh harap.

Adero mengernyit heran mendengar pertanyaan itu. Bukankah seharusnya wanita itu sudah tahu ke mana pesawat ini akan mendarat? Hal ini membuatnya merasa aneh tetapi memilih untuk mengangguk sebagai jawaban.

“Ah, begitu. Kenalkan, namaku Pera. Aku juga akan pergi ke Spanyol karena mendapatkan pekerjaan di sana. Kamu sendiri, bagaimana?” Pera mencoba mendapatkan informasi meski sedikit dari pria seksi yang duduk di sebelahnya.

Adero sebenarnya tidak terlalu suka berkomunikasi dengan orang yang belum ia kenal dekat. Namun, melihat Pera tampak antusias, ia tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Ia juga tak ingin suka mengabaikan wanita. “Sama, aku datang ke sana karena aku mendapatkan pekerjaan.”

Wanita itu tampak takjub, ia sekarang meletakkan majalahnya di pangkuan dan menatap ke arah Adero dengan tatapan seakan ingin bertanya lebih lanjut. “Apa kamu sebelumnya sudah pergi ke Spanyol? Ah, aku benar-benar begitu mengagumi kotanya. Aku begitu bahagia ketika bisa mendapatkan pekerjaan di sana.”

Adero melirik wanita itu dan menggelengkan kepala. “Spanyol tak seindah apa yang terlihat di media sosial. Memang sekilas tidak ada yang salah, tetapi tetap saja harus waspada.” Adero tidak bisa mengatakan kalau Spanyol kota yang indah ketika banyak kenangan buruk di hadapannya.

Pera mendengkus sebal, membuat Adero memutar bola matanya malas. Kenapa begitu banyak wanita yang seperti itu di dunia ini, seakan memberi tahu bahwa ia merajuk. Ia tidak akan menandai wanita itu sebagai salah satu orang yang cocok masuk dalam kehidupannya. Tidak akan pernah!

“Sepertinya kamu begitu mengenal Spanyol. Padahal aku yakin sekali, kamu baru pertama kali datang ke sana, karena kamu tidak menjawab pertanyaanku sebelumnya.” Pera merasa kalau pria di sebelahnya sangat sombong.

Adero hendak menanggapi tetapi melihat wanita itu mengembalikan majalah dan memilih memejamkan mata, ia pura-pura saja tak mendengar ucapan wanita itu. Lagian, tak perlu membuang waktu untuk menjelaskan sesuatu yang mungkin tak akan dipercayai.

***

Setelah hampir 2 jam berada di dalam pesawat, Adero bersyukur karena pesawat mendarat sempurna tanpa masalah apa pun. Ia kini tengah mengambil permen rasa daun mint dari dalam tas dan memakannya. Ia juga tak lupa menyalakan gadgetnya yang ia tebak pasti sudah mendapatkan banyak kiriman pesan.

Benar saja, kiriman pesan itu dari sang ibu, ayah, Aron dan seseorang yang sudah lama tak ia jumpai. Adero mengangkat bahu, ia memilih tak membalas pesan dari sang ayah dan Aron, baginya sangat tidak penting. Ia lalu memilih untuk mencari seseorang yang sudah menunggunya datang menjemput.

Adero bukan pria yang suka basa-basi, jadi ia membiarkan orang itu menaruh kopernya di bagasi, sedangkan ia sendiri sudah duduk di kursi penumpang mobil sedan warna putih. Tak lama kemudian, pria yang sudah lama bekerja sebagai sopir di keluarga Alyward masuk ke kursi setir, menyalakan mesin dan melajukannya.

Dalam perjalanan, Adero kembali berkutat dengan buku-buku mengenai bisnis dan penunjang yang cocok untuk dipelajari. Ia melirik pada pria yang sibuk asyik menyetir, ternyata pria itu tidak berubah sejak dahulu, masih sama, terkadang tidak begitu peduli.

“Jadi, apakah majikanmu membagikan gaji yang layak setelah kamu mengabdi padanya puluhan tahun?” tanya Adero dengan sinis.

Pertanyaan itu membuat pria yang tengah membawa mobil untuk belok kiri, tersenyum kikuk. “Pak Arkan sangat baik pada saya, Tuan. Dia tidak hanya memberikan gaji yang sesuai, tetapi juga menyekolahkan kedua putri saya.”

Adero mengangguk. “Aku bersyukur dia tetap memedulikanmu meski dia mungkin saja kewalahan dengan standar istri barunya.” Adero cukup tahu kalau ibu tirinya hobi menghamburkan uang.

Pria itu terdiam sejenak sebelum menjawab. “Bagaimana kabar Ibu Keanna? Aku dengar bisnisnya di Jerman sudah sukses, apa itu benar?”

“Ah, Ibuku?” jawab Adero. “Ya, dia sudah menjadi wanita mandiri setelah ditinggal mantan suaminya menikah lagi. Bisnisnya memang sedang berkembang pesat, jadi jika kamu merasa sudah tidak tahan bekerja untuk Alyward, kamu bisa melamar pekerjaan untuk keluarga Carlson.”

Pria itu tersenyum kecil sebelum membalas, “Bukankan kamu juga bagian dari keluarga Alyward?”

Adero tergelak, ia tidak bisa menyalahkan pertanyaan itu. “Aku lebih suka dianggap sebagai keluarga Carlson. Jadi, apa yang kamu tahu mengenai bisnis keluarga Alyward yang sudah hampir menguasai Spanyol ini?”

“Aku bekerja sebagai sopir, jadi tidak terlalu memperhatikan. Meski begitu, aku mendapatkan beberapa informasi bahwa perusahaan sudah mulai bersaing dalam skala internasional. Aku benar-benar sangat yakin sedari dulu, bahwa perusahaan yang ditinggalkan oleh mendiang Tuan Almo pasti akan sukses besar.”

Adero melihat jalanan, ia jadi teringat alasan dirinya tetap berada di Spanyol walaupun waktu itu ia berniat kabur ke Jerman untuk menemui ibunya. Ia masih mengingat jelas, ketika sang kakek menyuruhnya untuk tetap tinggal karena si menantu baru itu tak mau mengurusinya. Lagi, ia merasa sangat emosional.

Adero tidak menyangka, berbincang selama perjalanan membuatnya sudah tiba di rumah megah yang sudah ia tinggalkan lima tahun yang lalu. Ternyata, rumah itu masih terlihat sama seperti terakhir kali ia pergi, tak ada yang berbeda jika dilihat dari depan. Ia lalu turun dari mobil, membiarkan kopernya dibawa oleh pelayan rumah.

Adero menatap ke taman bunga mawar yang sepertinya masih baru. Ia mengangkat bahu, meskipun tahu bahwa tadinya taman itu berisi berbagai jenis tanaman bunga anggrek kesukaan ibunya. Mengingat ibunya bukan lagi nyonya besar, ia membawa langkahnya menuju pintu yang sudah dibuka lebar.

Seperti biasa, para pelayan akan baris berjejer sambil menyambut kedatangannya. Tangan Adero mengambil jus jeruk yang sudah disiapkan oleh salah seorang pelayan, ia meneguknya dalam sekali tegukan. Ia lalu mengambil tisu dan mengelap bibirnya serta memberikan gelas yang kosong ke pelayan lain sambil terus berjalan.

Entah ada perayaan macam apa, tetapi Adero melihat banyak sekali balon dan pernak-pernik anak kecil untuk ulang tahun. Ingin rasanya sekarang juga ia kabur dari tempat ini, karena ia sudah bisa menduga siapa saja dalang di balik pesta paling konyol untuk menyambut kedatangannya.

“Kejutan! Selamat datang kembali ke keluarga Alyward, Adero!” teriak seseorang yang Adero kenal sebagai saudaranya yang memiliki karier sebagai seorang penyanyi.

Adero mengibaskan tangan sambil menatap mata biru milik anak kecil yang kini berjalan ke arahnya. Anak kecil itu membawa sepotong kue rasa keju dan memberikan padanya. Ia sebenarnya bisa saja menolak kue itu. Andai saja, ia lupa dengan pesan dari ibunya.

“Aku tidak tahu Paman suka kue apa, jadi aku belikan kue keju kesukaanku.”

Hati Adero mencelus, ia tersenyum dan mengusap kepala anak kecil itu. Sedetik kemudian, ia menyadari seseorang yang selalu menghancurkan kebahagiaannya selama ini. Aron, pria itu sepertinya masih tidak merasa bersalah karena telah membuat ruangan ini menjadi sesak sehingga ia merasa tercekik.

“Aku butuh waktu istirahat,” ucap Adero.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED