Hari itu, matahari tampak terbenam lebih cepat dari biasanya, menyelimuti seluruh rumah keluarga Voltaire dengan keheningan yang memaksa. Suasana dalam ruang tamu terasa mencekam, seolah ada kekuatan tak terlihat yang menahan napas di udara. Ayahku, dengan ekspresi serius yang jarang kutemui, duduk di kursi besar di ujung ruangan, wajahnya tegas, seolah tak ada ruang untuk penolakan.
"Aldric Aldenwood," katanya, suaranya berat. "Ini bukan hanya tentangmu atau keluargamu. Ini tentang kehormatan kami, Alina. Kamu mengerti itu, bukan?"
Aku menatapnya, kesal namun bingung. Mengapa kehormatan keluarga harus menjadi beban yang begitu besar untuk dipikul? Hatiku terasa tercekik oleh kata-katanya, dan aku ingin berteriak, mengatakan bahwa aku tak peduli dengan semuanya. Tetapi mulutku terkunci rapat.
"Aku tidak ingin menikah dengan pria itu," aku mencoba berbicara dengan suara serak, hampir tidak terdengar. "Aku sudah memutuskan. Hanya Damien yang ada di hatiku. Hanya dia."
Ayah menghela napas, matanya yang penuh peringatan tidak berpaling dariku. "Damien tidak akan datang, Alina. Kamu harus paham itu. Aldric adalah pilihan yang tepat untuk menjaga nama baik keluarga kita."
Aku menggigit bibir, menahan air mata yang hampir menetes. Aku tak ingin ini. Tak ingin melangkah ke altar dengan pria yang tak ada dalam hatiku, hanya untuk memenuhi kewajiban yang entah apa gunanya. Aku membayangkan Damien, wajahnya yang penuh kehangatan dan janji-janji yang belum pernah terwujud. Aku ingin berada di sampingnya, bukan di sini, di rumah ini yang kini terasa seperti penjara.
"Jangan paksa aku, Ayah," aku berkata, suaraku mulai bergetar. "Aku tidak bisa. Aku tidak mau."
Namun, tak ada tempat untuk penolakan. Ayah tetap bersikeras. "Tidak ada lagi yang bisa dibicarakan. Pernikahan ini sudah diatur."
Dan dengan kata-kata itu, semuanya sudah ditentukan. Tak ada ruang untuk memilih. Hatiku hancur, tapi tak ada yang bisa kulakukan selain tunduk pada keinginan mereka.
Ketika hari pernikahan itu tiba, dunia terasa gelap. Aku berjalan di sepanjang lorong, langkahku terasa berat, seolah-olah dunia sedang menghakimi setiap gerakanku. Di hadapanku, Aldric berdiri di altar, mengenakan jas formal yang tampak sempurna untuknya, namun hatiku hanya dipenuhi kebencian. Aku tidak ingin menikahinya. Aku ingin Damien, lelaki yang selalu ada dalam mimpiku, yang mungkin bahkan kini sudah terlambat.
Saat aku sampai di altar, Aldric memandangku dengan tatapan penuh ketegasan, namun ada sesuatu di matanya yang membuatku merasa... kosong. Mungkin dia juga tak menginginkan pernikahan ini, tetapi kami terjebak dalam permainan yang sudah ditentukan oleh keluarga kami.
Aku menundukkan kepala, menghindari tatapannya, berharap saat itu Damien akan muncul-bahkan hanya untuk mengatakan bahwa dia akan memperjuangkanku. Tetapi tak ada Damien di sana, hanya Aldric yang berdiri di hadapanku, siap untuk mengikatkan hidupnya padaku. Aku merasa tak berdaya.
Dan ketika pernikahan itu resmi, ketika janji yang dipaksakan itu diucapkan, aku merasa dunia hancur di sekelilingku.
Setelah pernikahan itu, semuanya berubah. Aku terjebak dalam rutinitas yang asing dan menyiksa. Aldric berusaha untuk mendekat, meskipun aku tidak pernah memberinya kesempatan. Setiap kata yang diucapkannya terasa seperti beban tambahan di bahuku. Aku tak peduli dengan perasaan yang coba dia bangun, karena hatiku tetap milik Damien.
Aku masih berharap. Aku masih ingin Damien datang, meskipun semakin lama harapanku semakin pudar. Tetapi entah mengapa, ketika aku melihat Aldric yang kini menjadi suamiku, ada sesuatu yang memaksa aku untuk bertanya pada diri sendiri: Akankah aku pernah mencintainya?
Dan jika Damien kembali, apakah aku akan bisa meninggalkan Aldric? Atau akankah aku dipaksa memilih antara dua dunia yang sangat berbeda?
Pertanyaan itu terus menghantuiku, dan aku tahu, jawabannya akan menentukan masa depanku.
Beberapa minggu setelah pernikahan itu, hidupku terasa seperti sebuah kebohongan yang terus menerus aku jalani. Aldric, meskipun tidak pernah secara langsung memaksaku untuk menerima hubungan ini, tetap berada di sisiku setiap saat, berusaha untuk menjadi suami yang baik, bahkan jika aku tidak pernah memberinya ruang untuk menjadi apa pun selain bayangan dari sosok yang tak diinginkan.
Setiap hari, aku merasa seperti hantu yang mengelilingi hidupnya. Aku tidak bisa menatap matanya tanpa merasa cemas, seolah dia bisa membaca setiap keraguan yang ada dalam hatiku. Namun, Aldric tetap tenang. Dia tidak pernah mengungkapkan ketidaknyamanan atau kekecewaannya. Aku sering bertanya-tanya apakah dia sudah terbiasa dengan penolakan, atau apakah dia hanya menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan dinding yang kutinggikan antara kami.
Pernikahan ini terasa kosong. Aku tak pernah merasa hidup, dan setiap malam aku menunggu, berharap Damien akan muncul di pintu rumah ini dan membawaku pergi. Namun, itu hanya sebuah harapan yang semakin pudar, seiring waktu yang terus berlalu tanpa kabar darinya.
Suatu malam, saat aku berdiri di jendela kamar, menatap bulan yang terbenam di balik awan, aku mendengar langkah kaki di belakangku. Aldric.
Aku tidak menoleh, hanya terdiam, membiarkan dia mendekat. Dia tidak berbicara, hanya berdiri di sampingku, memandang keluar ke arah pemandangan yang sama. Tiba-tiba, suaranya pecah, rendah dan tegas.
"Aku tahu kamu tidak mencintaiku," katanya, suaranya hampir seperti bisikan.
Aku menelan ludah, merasa seolah seluruh tubuhku terikat dengan kata-katanya. Ini adalah kenyataan yang selama ini aku coba hindari. "Aku... aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, Aldric. Ini bukan tentangmu. Ini tentang apa yang ada dalam hatiku, dan hatiku milik orang lain."
Ada jeda panjang antara kami, seperti udara yang semakin padat, dipenuhi ketegangan yang tak terucapkan. Aku bisa merasakan sorot matanya yang berat di atas bahuku, namun aku tetap tak berani menatapnya. Aku tahu, jika aku menatapnya, aku akan melihat lebih banyak daripada yang aku inginkan.
"Kamu tidak perlu menjelaskan, Alina. Aku tidak berharap kamu mencintaiku, tidak sekarang. Aku hanya berharap kamu bisa belajar untuk menerima aku," Aldric berkata pelan, dan ada keputusasaan yang samar dalam suaranya.
Namun kata-katanya hanya menambah rasa sakitku. Bagaimana aku bisa menerima seseorang yang bukan pilihanku? Bagaimana aku bisa menerima kehidupan yang seharusnya dibagikan dengan pria yang tak ada di hatiku?
"Maaf," aku bisikkan, suara ku sedikit serak. "Aku tidak tahu apakah aku bisa menerima ini."
Aldric tidak menjawab, namun aku merasakan tangan besar itu menyentuh bahuku dengan lembut. Sebuah gestur yang entah bagaimana membuatku merasa lebih berat. Tanpa kata, dia berjalan pergi.
Keesokan harinya, aku menerima kabar yang mengejutkan. Namaku disebutkan dalam sebuah surat yang ditujukan oleh pihak yang selama ini tak pernah aku harapkan. Ternyata, Damien kembali.
Namun bukan hanya sekadar kembali. Dia membawa sesuatu yang lebih besar-sebuah permintaan untuk kembali memperjuangkan hubungannya dengan aku, tetapi kali ini dengan syarat yang lebih berat. Sebuah kenyataan yang mengejutkan datang dari mulutnya: "Aku ingin menikahimu, Alina. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Tetapi ada hal-hal yang harus kita hadapi dulu."
Aku menatap surat itu dengan kebingungan yang mendalam. Kembalinya Damien bukan hanya untuk sekadar membuka kembali pintu hatiku, tetapi dia membawa sesuatu yang lebih. Kembalinya Damien ternyata mengandung sebuah pengkhianatan-sesuatu yang akan mengubah segalanya.
Sementara itu, Aldric semakin memperlihatkan sisi dirinya yang lebih kuat, namun lebih lembut, saat dia mengetahui tentang kembalinya Damien. Meski dia berusaha keras untuk tidak menunjukkan reaksi apapun, aku tahu, dalam hati, ada perasaan yang tidak terucapkan.
Aku berada di tengah-tengah keduanya-dua pria yang masing-masing menuntut sesuatu dariku. Satu yang tak bisa kuinginkan, dan satu yang datang terlambat, namun kini mengusung kenyataan yang tak pernah aku bayangkan akan datang begitu cepat.
Aku harus membuat keputusan. Tetapi, setiap pilihan yang kuambil hanya membawa lebih banyak kebingungan. Apakah aku akan bertahan dengan Aldric, yang selama ini berada di sampingku, meski hatiku kosong? Ataukah aku akan memilih untuk kembali pada Damien, yang menawarkan cinta yang lama hilang, namun dengan risiko yang jauh lebih besar?
Setiap detik terasa seperti berputar di luar kendaliku, dan aku tahu-keputusan ini akan menentukan hidupku selamanya.
Akankah Alina memilih untuk membuka kembali pintu hatinya untuk Damien, ataukah dia akan mencoba menemukan cinta dalam pernikahannya dengan Aldric?
Aku menatap surat di tanganku, jemariku bergetar saat membaca setiap kata yang tertulis di atas kertas itu. Damien kembali. Setelah berminggu-minggu aku menunggu kabar darinya, setelah aku menghabiskan malam demi malam berharap dia akan datang dan membawaku pergi-sekarang dia ada di sini. Tapi kenapa rasanya berbeda?
Hatiku seharusnya melompat girang. Seharusnya aku berlari ke arahnya tanpa ragu. Namun, kenyataannya... aku hanya merasa kosong.
Pintu kamar terbuka perlahan. Aku menoleh dan melihat Aldric berdiri di ambang pintu, tatapannya tajam, tapi ada sesuatu yang sulit aku baca di matanya. Dia melangkah mendekat, mengambil surat itu dari tanganku tanpa izin, membacanya dengan ekspresi yang tidak berubah.
"Jadi, dia akhirnya kembali," katanya datar.
Aku menggigit bibir. "Aku tidak tahu harus bagaimana."
Aldric menutup surat itu dan menatapku, ekspresinya tetap tenang. "Kau masih mencintainya, bukan?"
Aku ingin menjawab, ingin mengatakan bahwa ya, Damien masih menguasai hatiku. Tapi ada sesuatu dalam cara Aldric menatapku-cara dia tidak menunjukkan amarah, hanya kepasrahan yang tak bisa dijelaskan-yang membuat kata-kata itu terasa sulit diucapkan.
"Aku tidak tahu..." suara itu keluar lebih pelan dari yang aku inginkan.
Aldric menghela napas, lalu mengulurkan surat itu kembali kepadaku. "Aku tidak akan menghentikanmu jika kau ingin pergi."
Aku mendongak menatapnya, terkejut. "Apa?"
Dia bersandar pada meja di dekatnya, menyilangkan lengannya. "Jika kau ingin kembali padanya, katakan saja. Aku tidak ingin menghabiskan waktu dengan seseorang yang hatinya berada di tempat lain."
Kata-katanya seharusnya membuatku lega. Seharusnya ini yang aku inginkan-kebebasan. Tapi mengapa rasanya ada sesuatu yang menusuk dadaku?
Aku menunduk, menggenggam surat itu erat-erat. "Aku butuh waktu."
Aldric mengangguk, lalu tanpa mengatakan apa-apa lagi, dia berbalik dan meninggalkan kamar.
Aku menghela napas panjang, merasa beban di dadaku semakin berat. Ini seharusnya mudah. Aku mencintai Damien. Aku menginginkan Damien. Tapi kenapa... kenapa ada bagian dari diriku yang mulai mempertanyakan segalanya?
Aku memutuskan untuk menemui Damien.
Ketika aku tiba di kafe tempat kami berjanji bertemu, aku melihatnya duduk di sudut ruangan, mengenakan kemeja hitam seperti yang biasa dia pakai. Wajahnya masih sama seperti yang kuingat-tampan, tenang, tapi dengan sorot mata yang lebih tajam dari sebelumnya.
Saat aku duduk di hadapannya, Damien tersenyum. "Aku pikir kau tidak akan datang."
"Aku... aku hanya ingin mendengar apa yang ingin kau katakan."
Dia menghela napas, menatapku dengan intensitas yang membuat dadaku sesak. "Aku menyesal, Alina. Aku seharusnya tidak pergi begitu saja. Aku seharusnya memperjuangkanmu lebih keras."
Aku menggigit bibir, menahan emosi yang meluap. "Kenapa kau baru kembali sekarang?"
Damien terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berkata, "Ada hal-hal yang harus kuselesaikan. Aku tidak bisa meninggalkan semuanya begitu saja. Tapi sekarang, aku kembali. Dan aku ingin kau kembali padaku."
Aku menatapnya, hatiku dipenuhi dengan kebingungan. Ini adalah kata-kata yang selalu ingin kudengar. Tapi... kenapa rasanya ada sesuatu yang tidak benar?
"Aku sudah menikah, Damien," kataku lirih.
Wajahnya menegang. "Aku tahu. Tapi pernikahan itu bukan pilihanmu, kan? Itu bukan yang kau inginkan."
Aku menelan ludah, merasa terguncang. Dia benar. Tapi itu tidak mengubah kenyataan bahwa aku sudah menjadi istri Aldric.
"Alina," Damien meraih tanganku, menggenggamnya erat. "Kita bisa memperbaiki semuanya. Aku tahu kau masih mencintaiku. Aku tahu hatimu masih milikku."
Aku tidak menarik tanganku. Aku membiarkan dia menggenggamnya, membiarkan kehangatan yang dulu aku rindukan kembali mengalir melalui jemariku. Tapi saat aku menutup mata, yang muncul di benakku bukan hanya kenangan tentang Damien-melainkan tatapan Aldric saat dia mengatakan bahwa dia tidak akan menghentikanku jika aku ingin pergi.
Dan saat itu, aku sadar... sesuatu dalam diriku telah berubah.
Aku tidak tahu apakah aku masih ingin kembali pada Damien.
Dan yang lebih menakutkan lagi, aku tidak tahu apakah aku bisa meninggalkan Aldric.