Plak!
"Dasar tidak becus. Seharusnya saya sudah memecat mu sejak dulu. Sudah berapa banyak piring yang pecah karena kecerobohan mu sial*n" omel seorang pria pemilik restoran.
Maudy Adista atau sering di sapa Audy, sudah setahun bekerja di Restoran. Ia bertugas mencuci piring dan membersihkan pantry.
Akhir-akhir ini, Audy tidak fokus untuk bekerja sehingga banyak piring yang pecah karena kecerobohannya saat mencuci.
Maudy terduduk di lantai sembari memegang pipi mulusnya yang memerah. "Maafkan saya! Saya tidak sengaja, berikan saya kesempatan sekali lagi" mohon Maudy bersujud di depan pria itu.
Pria itu berkacak pinggang sembari menatap sinis ke arah Maudy. "Tidak! Kau pikir siapa yang mau mempekerjakan orang tidak becus seperti mu hah? Kau bikin restoran ku rugi saja, lebih baik kau jadi pelac*r saja kalau tidak bisa bekerja"
Trak!
Cuih
Pria pemilik restoran itu meludahi Maudy dan menendangnya menjauh. "PERGI DARI RESTORAN KU SEKARANG JUGA!" teriaknya.
Maudy hanya bisa menangis meratapi nasibnya. Dia membutuhkan uang, namun apapun yang dia kerjakan tidak akan bisa lama karena dirinya yang tidak fokus ketika mendengar kabar kondisi Ibunya tidak baik-baik saja.
Maudy menuju ke loker pelayan, dia mengganti bajunya dan mencuci mukanya. Maudy mengambil seluruh barang-barangnya dari dalam loker.
Saat Maudy keluar dari pintu belakang, dia tersentak kaget karena seorang pria berdiri di sana.
"Maaf, saya mau lewat" ucap Maudy.
Pria itu menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki, dengan tatapan yang sangat tidak enak. Pria itu terlihat bernafsu melihatnya, dan Maudy merasa tidak nyaman akan hal itu.
"Maaf, bisa minggir sebentar? Saya buru-buru, harus pergi sekarang" Maudy menundukkan kepalanya, sembari melangkah berusaha untuk melewati pria itu.
"Ah, wangi sekali" lirih pria itu saat Maudy melewatinya.
Maudy menghentikan langkahnya, dia hanya menggelengkan kepalanya dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Hey, tunggu! Kenapa buru-buru sekali?" Pria itu menahan Maudy.
Maudy menghentakkan tangan lelaki itu. "Jangan sentuh saya! Kita sebelumnya tidak pernah saling mengenal, jadi saya minta anda tetap bersikap dengan sopan"
"Ha ha ha" pria itu justru tertawa. "Kau itu cantik, Lebih baik kau menjual tubuhmu daripada kau bersusah payah bekerja tapi gajimu tidak bisa menghidupi mu"
Maudy mengepalkan tangannya kuat. "Jaga ucapan Anda!"
"Come on! Saya bisa membantumu!"
"Tapi saya tidak butuh bantuan Anda!"
"Oke, mungkin sekarang kau belum membutuhkanmu. Ini kartu nama ku, temui aku jika kau membutuhkan uang!" Pria itu langsung memasukkan kartu namanya ke dalam tas Maudy, karena Maudy sama sekali tidak mau menerimanya.
Pria itu tersenyum penuh arti dan langsung pergi begitu saja. Maudy bingung karena pria itu tidak pernah bertemu dengannya sama sekali, dan kenapa dia terlihat begitu tahu tentang Maudy?
Maudy pulang ke rumah dengan berjalan kaki selama dua jam lamanya. Ia tidak menggunakan angkutan umum karena dia mengirit uang yang tersisa sedikit di dalam rekeningnya.
"Mama..." Panggil Maudy saat dia baru saja memasuki rumah.
Rumah terlihat begitu sepi, seperti tidak ada aktivitas di dalamnya. Maudy langsung membuka kamar mamanya, namun dia tidak menemukan wanita itu di dalam sana.
"Mama... Mama dimana? Maudy sudah pulang, Ma..." Teriak Maudy sambil mencari sampai ke belakang rumah.
Di belakang rumah, tepat di belakang sumur Maudy melihat kaki seseorang. Maudy mengerutkan dahinya dan mendekat karena penasaran.
"Ma... Mama....." Teriak Maudy histeris.
Mamanya sudah terbaring lemah dengan darah yang mulai mengering di bagian hidungnya.
Maudy langsung memanggil para tetangga untuk membantunya, dan mereka pun membawa Mama Latifa ke puskesmas terdekat.
"Pasien harus segera di rujuk ke rumah sakit, kami tidak memiliki alat yang lengkap untuk menanganinya" ucap sang dokter.
"Lakukan apapun agar Mama saya selamat dokter"
"Kami akan membuatkan surat rujukannya, Ibu Latifa akan di bawa menggunakan Ambulance. Silahkan ke bagian administrasi untuk menandatangani berkasnya"
Maudy mengangguk, dia akan melakukan apapun agar mamanya bisa kembali pulih. Karena Mama Latifa tidak memiliki asuransi. Sehingga Maudy harus membayar biaya pengobatan lumayan besar.
Setibanya di rumah sakit, Mama Latifa di tangani oleh dokter. Maudy sendiri duduk sendirian di depan ruang UGD dengan jantung yang berdetak begitu kencang.
"Ya Allah, selamatkan Mama ku!" Maudy trus berdoa dalam hatinya.
Setelah menunggu selama 3 jam, dok koter pun keluar. "Bagaimana kondisi Mama saya dokter?"
Dokter mendesah pelan. "Ibu Latifa harus segera di operasi pemasangan cincin pada ginjalnya. Ibu Latifa sebelumnya sering mengonsumsi obat-obatan tanpa resep dokter?"
Maudy hanya bisa mengangguk.
"Itulah sebabnya. Efek obat itu justru merusak ginjalnya, kita tidak punya banyak waktu lagi. Minimal minggu depan Ibu Latifa harus melakukan operasi"
"Kira-kira berapa biaya yang dibutuhkan untuk operasi dokter?"
"Mari ikut saya ke bagian administrasi, saya akan memberikan rinciannya di sana"
Maudy mengikuti dokter ke bagian administrasi sambil ia terus memainkan jari jemarinya. Maudy takut tabungannya tidak akan cukup untuk membantu proses operasi Ibunya.
"Ini biayanya, ini hanya biaya operasi saja belum masuk biaya pemulihan. Setelah operasi, Ibu Latifa harus dirawat dulu beberapa minggu di rumah sakit, jika kondisinya sudah membaik baru diizinkan untuk pulang ke rumah" jelas sang dokter.
Mata Maudy membelalak, dia tidak berekspektasi jika biaya operasi yang harus dia keluarkan sangat lah tinggi.
Tabungannya hanya tersisa dua puluh juta saja, dan dia membutuhkan uang sekitar dua ratus juta rupiah sampai Ibunya bisa di keluarkan dari rumah sakit.
Dimana dia harus mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu seminggu?
"Bagaimana, Mba Maudy? Anda setuju?" Tanya dokter memastikan.
Maudy mengangguk lemah. "Kapan saya mulai membayarnya?"
"Sebelum operasi berlangsung Anda sudah bisa membayarnya dan menandatangi berkas operasinya"
"Untuk beberapa hari ke depan apa Ibu saya harus menginap disini?"
"Tentu saja Mba Maudy"
"Berapa biaya sampai operasi?"
Dokter memberikan kode pada bagian administrasi untuk mentotalkannya. "Sepuluh juta rupiah" jawab dokter.
"Saya akan membayarnya sekarang" Maudy mengeluarkan ATM-nya dan membayar biaya rumah sakit untuk seminggu ke depan.
"Sudah selesai Mba Maudy, sebentar lagi Ibu Latifa akan di pindahkan ke ruang perawatan. Karena Ibu Latifa perlu istirahat banyak, jadi saya meletakkannya di kamar VIP"
"Tidak masalah dokter" jawab Maudy.
Maudy duduk di taman rumah sakit, dia memandang lurus ke depan dengan pandangan kosong.
Sekarang di kepalanya adalah cara untuk mendapatkan uang yang banyak dalam waktu yang singkat.
Maudy membuka tasnya, dia hendak mengambil ponselnya. Saat ponselnya keluar dari tas, sesuatu terjatuh.
Maudy mengambilnya, dia melihat kartu nama yang diberikan pria itu tadi padanya. "Apa aku harus menghubungi dia? Tapi, dia orang asing"
Maudy berpikir keras. Namun sebelumnya dia menghubungi teman-temannya untuk meminjam uang, menelpon keluarganya juga, namun tidak ada seorangpun yang mau meminjamkan uang padanya.
Maudy benar-benar dibuat frustasi. Dia menatap kartu nama itu, karena tidak punya jalan lain Maudy langsung menghubungi nomor yang tertera di dalam kartu nama itu.
"Saya Maudy, wanita yang tadi di restoran. Bisa kita bertemu?"
Fredy Agam.
Nama yang tertera di kartu nama itu. Nama yang asing bagi Maudy, tidak pernah sekali pun dia mendengarkan nama itu.
Maudy langsung memasukkan nomer telepon Fredy di ponselnya dan langsung melakukan panggilan suara.
"Halo"
"Halo, saya Maudy. Wanita yang tadi di restoran. Bisa kita bertemu sekarang?"
"Tentu saja. Dimana kau ingin bertemu?"
"Cafe dekat rumah sakit Baretta" jawab Maudy
"Oke, saya kesana sekarang!"
Tut.
Sambungan selesai. Maudy menarik napas dalam dan menghembuskannya berat. "Semoga ini bisa membantu" ucapnya penuh harap.
Maudy duduk di pojok ruangan cafe. Dia belum memesan minuman apapun, meskipun di liat sinis oleh pelayan disana dia pun tidak peduli.
Menunggu dua puluh menit, Fredy pun tiba. "Sorry saya lama, di jalan macet banget!"
Maudy hanya meresponnya dengan anggukan.
"Tidak pesan minum?"
Maudy menggeleng.
"Atau mau makan?"
Maudy menggeleng lagi.
"Aduh, jangan sungkan sama saya" ucap Fredy terlihat semangat.
Fredy memanggil pelayan. "Keluarkan makanan dan minuman yang rekomendasi disini. Jangan lama"
"Baik, Pak"
Fredy beralih menatap Maudy yang sejak tadi membuang pandangannya keluar cafe. "Ada perlu apa ingin bertemu?"
"Saya membutuhkan uang!" Jawab Maudy to the point sambil menundukkan kepalanya.
"Berapa banyak yang kau butuhkan?"
"200 juta" jawab Maudy.
"Kapan?"
"Minggu depan!"
Fredy mengangguk mengerti, dia mendongakkan kepala Maudy mengunakan jemarinya.
"Jangan menunduk terus. Setidaknya hargai lawan bicaramu"
"Maaf! Saya hanya tidak terlalu nyaman berbicara dengan orang asing"
"Anggap saja aku ini teman mu!" Fredy mengulurkan tangannya, dan Maudy menerimanya.
"Saya bisa memberimu hari ini juga!"
Mata Maudy melotot. "Benarkah? Kenapa kamu bisa baik sekali, sedangkan kita belum pernah bertemu sebelumnya"
Fredy tersenyum. "Saya memang selalu membantu wanita-wanita yang kesusahan, termasuk kamu!"
Maudy terdiam.
"Ada syaratnya jika kamu ingin mendapatkan uang 200 juta dalam waktu satu minggu"
"Apa itu? Saya akan lakukan apapun, asalkan Anda benar-benar memberikan uang itu pada saya!"
"Baiklah, saya akan menjelaskannya nanti. Sekarang nikmati makanan dan minuman lezat ini, saya tahu kamu belum makan seharian ini"
Maudy mengangguk malu. Karena masalah yang dia buat di restoran, sehingga dia tidak diberi makan siang. Bahkan uang pesangon pun tidak, karena dia harus mengganti piring yang dia pecahkan di hari ini.
"Apa syaratnya?" Tanya Maudy di sela-sela makan.
"Kau bersemangat sekali Maudy"
"Aku hanya mau memastikan!"
"Syaratnya sangat mudah, aku yakin kamu akan suka"
"Kamu membuatku penasaran" ungkap Maudy tidak tenang.
"Maaf aku bertanya, apakah kau pernah bercinta sebelumnya?" Tanya Fredy.
Raut wajah Maudy seketika berubah.
"Maaf, ini memang sedikit privasi. Tapi, saya harus tau sebelum saya memberikan uangnya padamu"
"Memangnya apa hubungannya uang dengan aku pernah bercinta atau belum?"
Fredy tersenyum sarkas. "Jadi, kau benar-benar tidak mengerti?"
Maudy menggelengkan kepalanya.
"Astaga, kau ternyata sangat polos. Kau bisa sangat mahal nantinya, bahkan dua ratus juta sangat lah sedikit untuk wanita polos seperti mu"
"Apa maksudmu?"
"Kau akan tau nanti. Nanti malam temui aku di tempat ku, disana aku akan menjelaskan syaratnya"
"Kenapa tidak sekarang saja?"
"Belum waktunya Maudy, bersabarlah. Aku akan mengirimkan gaun ke rumah mu, gunakan itu nanti malam"
"Gaun? Kenapa harus gaun?"
Fredy hanya tersenyum dan berdiri. "Lanjutkan makan mu, saya sudah bayar semuanya. Bungkus juga jika kau mau. Saya tunggu nanti malam, supir ku akan menjemput di rumah mu!"
"Fredy tunggu!" Seru Maudy.
Fredy hanya mengangkat tangannya ke atas dan tetap berjalan keluar meninggalkan kafe. Dengan cepat mobil Fredy meninggalkan parkiran cafe itu.
Maudy kembali terduduk, dia benar-benar tidak mengerti apa maksud dari Fredy. Dia adalah wanita yang sangat polos.
***
Maudy kembali ke rumah sakit, mamanya sudah berada di ruang perawatan. Dengan raut wajah bahagia, Maudy memasuki ruang perawatan dengan paper bag ditangan kanannya. Maudy banyak membungkus makanan dari cafe, Untung saja Fredy sudah membayar semuanya.
"Mama...."
Ibu Latifa menoleh ke arah putrinya sambil tersenyum. Wajahnya terlihat begitu pucat, namun dia berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depan Maudy.
"Bagaimana kondisi mama?"
"Mama baik-baik saja sayang, kamu bawa apa?"
"Maudy bawa makanan. Tadi teman Maudy mentraktir banyak sekali"
"Alhamdulillah, itu rejeki kamu sayang"
"Maudy siapkan makanannya, terus kita makan sama-sama ya, Ma?"
"Iya sayang" jawab Ibu Latifa.
Maudy dan Ibu Latifa makan dengan lahap. Meskipun Maudy sering membelikan Mamanya makanan yang enak, namun entah kenapa makan kali ini terasa lebih menyenangkan. Kedekatan di antara keduanya semakin erat.
Tepat di sore hari, Maudy berpamitan untuk pulang ke rumah. Sehingga Ibu Latifa untuk sementara di jaga oleh ponakannya, yaitu sepupu Maudy yang baru saja pulang dari sekolah.
Setibanya Maudy di rumah. Sebuah kotak merah tergelatak di lantai depan pintu. Maudy mengambilnya dan mengintip sedikit isi dalamnya. Sebuah gaun yang benar-benar di kirimkan oleh Fredy. Maudy memasukkannya ke dalam rumah.
Dia langsung membuka kotak itu, gaun berwarna hitam yang terlihat glamor, dan mewah. Terdapat hiasan manik yang begitu elegan. "Seksi sekali" lirih Maudy saat melihat gaun itu tidak memiliki lengan, bahkan bagian dadanya pun terbuka.
"Apa aku harus menggunakan gaun ini nanti malam?"
Maudy di buat pusing kembali. Tak lama ponselnya berdering dan itu adalah panggilan dari Fredy.
"Iya, Fred?"
"Sudah terima gaunnya kan?"
"Sudah, tapi gaunnya terlalu seksi"
"Itu normal Maudy"
"Aku tidak nyaman menggunakan pakaian seseksi itu"
"Nanti juga kamu akan nyaman. Jangan membantah kalau kamu mau dapat uang 200 juta itu"
"Apa kau serius akan memberiku uangnya?"
"Kau ragu?"
"Tentu saja aku ragu!"
"Baiklah, berikan aku rekeningmu, aku akan transfer setengah sekarang!"
"Oke!" Maudy langsung mengirimkan nomer rekeningnya, dia hanya ingin memastikan jika Fredy tidak akan menipunya.
Dalam waktu kurang dari 5 menit, uang 100 juta rupiah masuk ke rekeningnya, membuat Maudy tidak percaya.
"Sudah masuk kan? Sekarang tidak ada alasan lagi untuk kamu menolak apapun yang aku perintahkan!"
"Ba- baiklah, aku akan menuruti apapun yang kamu inginkan!"
"Sampai jumpa nanti malam, dandan yang cantik!"
"Yaa"
Maudy mendudukkan dirinya di atas tempat tidur. Menatap gaun itu sekali lagi dan langsung menghempaskan nya begitu saja ke atas tempat tidur. Maudy menuju ke meja riasnya, dia memeriksa alat make up miliknya yang sudah lama tidak tersentuh, terakhir ia menggunakan make up saat dia bekerja di salah satu bar, namun dia tidak bertahan lama karena selalu ada lelaki hidung belang yang menggodanya.
"Sudah expired semua, bagaimana ini" Maudy membuang seluruh make up miliknya yang sudah tidak bisa di pakai lagi.
Tok.
Tok.
Tok.
Pintu depan terketuk. Maudy menghentikan aktivitasnya dan membuka pintu.
"Ya? Anda cari siapa?"
"Anda cari siapa?" Tanya Maudy heran.
Seorang pria tiba-tiba saja memberikan papper bag padanya. Dari papper bag itu Maudy sudah bisa melihat jika itu mungkin dari brand kosmetik. Apakah pria ini datang untuk memberikan make up padanya? Apa karena dia miskin, sehingga ia berpikir Maudy tidak akan mampu membeli make up untuk sekedar merias wajahnya?
"Apa ini?"
"Ini kiriman dari Pak Fredy, mohon di terima. Saya permisi" Pria itu menunduk sedikit dan langsung pergi.
"Aneh sekali" lirih Maudy.
Maudy segera masuk ke kamar, ia sudah tidak punya banyak waktu. Ia harus make up sekarang juga sebelum supir Pak Fredy menjemputnya. "Wow, ini make up mahal semua. Apa ini boleh gue pake?" Maudy nampak berseri, seumur hidup ia tidak pernah mencoba make up mahal, ia selalu berbalanja make up di pasar tradisional, itu pun ia membeli yang sudah mendekati expired agar harganya murah.
Baru saja Maudy akan mengirimkan pesan pada Fredy, pria itu sudah lebih dulu menelpon.
Fredy
[Sudah terima kiriman saya]
Maudy
(Ya sudah, ini sangat mahal. Apa ini buat ku?)
Fredy
[Tentu saja, kenapa kau ragu? Gunakan lah, aku mau kau tampil sangat cantik malam ini. Jangan mempermalukan ku di depan client, Maudy]
Maudy
(Ya, aku mengerti. Aku akan bersiap sekarang)
Fredy langsung memutuskan sambungan teleponnya. Maudy mendesah perlahan. Pekerjaan apa yang akan dia lakukan nanti malam, dia belum tau persis. Namun, dia tau dia akan menjadi wanita yang berbeda dari sebelumnya jika menerima pekerjaan ini.
***
Malam pun tiba, supir Fredy datang tepat waktu. Dengan anggun dan cantiknya Maudy berjalan menuju ke mobil. Maudy terlihat glamour dan memesona, bahkan supir Fredy saja sampai menelan salivanya berkali-kali saat tak sengaja memandang Maudy.
Belahan gaun yang ia gunakan membuatnya semakin seksi, belum lagi dress yang ia gunakan begitu pendek hingga memperlihatkan kaki jenjang dan paha mulusnya. Pria mana pun yang melihatnya pasti akan langsung tergoda.
Maudy sedikit risih dengan penampilannya kali ini. Tapi, ia kembali mengingat kata-kata Fredy untuk tidak mempermalukan pria itu. Kedatangan Maudy langsung di sambut dengan dua bodyguard yang mengawal di kanan dan kirinya.
Maudy merasa dirinya seperti Artis papan atas. Bahkan tidak ada siapa pun yang boleh mendekatinya saat ia baru saja melangkah masuk ke dalam Bar terkenal di Kota ini. "Silahkan, Pak Fredy sudah menunggu" ucap seorang pria yang sore tadi mendatangi rumahnya.
Ruang VVIP.
Maudy berdiri di depan ruang itu. Sebelum masuk dia menarik napasnya dalam dan membuangnya perlahan. Dia berdoa dalam hati agar pekerjaannya kali ini bisa berjalan dengan lancar.
Maudy masuk dan matanya sedikit melotot saat melihat Fredy tidak sendirian di dalam sana. Ada beberapa pria lainnya yang kini menatapnya dengan tatapan sangat lapar. Maudy terdiam membeku. Apa yang akan dia lakukan sekarang?
"Maudy, kemarilah jangan berdiri saja. Sejak tadi aku dan mereka ini menunggu kedatangan mu!" Seru Fredy mengulurkan tangannya.
"Ya, kami sangat menunggu, dan kami tidak menyesal sudah menunggu mu datang. Ternyata kau sangat cantik" ucap pria di sebelah Fredy, ia juga mengusap lembut dagu Maudy dengan gemasnya.
Maudy tidak melawan, dia tidak menunjukkan risih sama sekali, dia menutupinya demi bisa bekerja professional. "Apa yang saya kerjakan sekarang, Pak Fredy? Apa aku harus menyiapkan makanan dan minuman untuk mu dan rekan-rekan mu sekarang?" Tanya Maudy yang tidak ingin berlama-lama.
"Kau semangat sekali cantik" puji salah satu pria lain bernama Wawan.
"Aku hanya mau menyelesaikan pekerjaan ku lebih cepat, Pak" jawab Maudy tersenyum.
Senyuman Maudy membuat para lelaki hidung belang itu menjadi melelah.
"Ah, aku semakin tidak tahan melihatmu" ucap Wawan menatap Maudy dengan penuh nafsu.
"Tahan lah dulu, dia baru datang. Masih pagi juga ini jika Anda bermain sekarang" ucap Fredy menahan Wawan yang akan menarik tangan Maudy.
"Ya betul itu, Wan. Kita sudah sepakat untuk bermain bersama bukan? Ha ha, kali ini akan sangat seru!" ucap Daze
"Apa kau masih perawan?" Tanya Wawan tanpa filter.
"Hah?"
"Ya, kau masih perawan? Atau..."
"A- aku masih terus menjaga mahkkota ku. Bukannya sangat tidak pantas menanyakan hal sevulgar itu di tempat ramai begini, Pak?" Maudy menjawab dengan malu dan menundukkan kepalanya, dia malu dan kesal namun kekesalannya tidak bisa dia tunjukkan.
"Sepertinya dia sudah memberiku kode, Fred. Bagaimana kalau kita mulai sekarang? Rasanya untuk empat orang bisa langsung sekarang saja" ucap Wawan
Fredy menatap keempat pelanggan setianya itu, dan mengangguk pasrah karena ia juga seakan di serang terus sama mereka. "Baik lah, saya keluar sekarang. Bersenang- senang lah, jangan lupa berikan dia bonus yang banyak karena dia sangat membutuhkan uang"
"Berapa pun itu akan saya berikan asalkan aku puas malam ini" ucap Wawan tersenyum dan mendekatkan dirinya ke Maudy saat Fredy berdiri.
"Pak Fredy mau kemana?"
"Ke ruangan ku, kau disini temani mereka. Buat mereka puas dengan service mu cantik, malam ini kau akan mendapatkan uang yang berlimpah. Semangat bekerja" ucap Fredy melambaikan tangannya dan meninggalkan ruang VVIP itu.
"Dazen, cepat berikan minumannya. Aku sudah tidak sabar" titah Wawan.
"Baiklah" Dazen menuangkan alkohol ke dalam gelas kosong dan memasukkan sesuatu ke dalam minuman itu.
Maudy hanya bisa melihatnya saja, dan tidak berpikir jika minuman itu akan di berikan padanya. "Ini, minum lah. Anggap saja untuk merayakan hari pertama mu bekerja" Dazen memberikannya pada Maudy.
Maudy menerimanya namun tidak langsung meminumnya. Dua pria lainnya, Ramon dan Revan berdiri dan mereka mengelilingi Maudy. "Minum lah cepat, lama sekali" Ramon langsung menyambar gelas itu dan memasukkan minumannya secara paksa ke mulut Maudy.
Mereka semua tertawa senang melihat Maudy yang tersiksa. Maudy beberapa kali menolak, namun ia tidak bisa melawan empat pria di hadapannya. Hanya dalam waktu beberapa detik, Maudy merasakan tubuhnya yang panas. Sangat panas, bahkan sampai membuatnya membuka dressnya tanpa sadar.
Lekuk tubuhnya semakin terlihat. Tubuh yang putih mulus, dengan body yang begitu seksi kini hanya tertutup dengan dalaman saja. "Wah, dia sangat agresif. Aku tidak sabar menikmatinya" ucap Ramon
"Ehh, tunggu dulu. Kalian semua menonton, aku yang pertama. Aku yang akan menembus kesuciannya untuk pertama kalinya" ucap Wawan.
Mereka mengumpat kesal, namun tidak bisa berbuat apa-apa karena Wawan lah yang memiliki uang banyak di antara mereka. Mereka pun terpaksa duduk dengan gelisah saat Wawan mulai mendekati Maudy dan membelai seluruh tubuh gadis itu.
Maudy benar-benar tidak sadar dengan apa yang dia lakukan. Efek obat yang ia minum begitu membuatnya semakin liar. Ia bahkan membuka celana dan baju milik Wawan dan bermain dengan alat vital pria itu.
Pria mana yang akan tahan melihat adegan itu?