Keesokan harinya,
"hiks hiks hiks" Tangisan si bungsu berusia 11 bulan terdengar heboh meramaikan suasana pagi.
Sophie nampak berjibaku dengan si bungsu, sedangkan tuan dan nyonya sedang sarapan bersama para jagoannya.
"jep jep jep, uhh sayang jangan nangis ya.. uuhh jep jep!''
Sophie menggendong lalu mengayun-ayunkan si bungsu.
Mulut mungil meronta-ronta mencari sesuatu kadang mengigit apapun didekatnya, tak ayal sesekali baju ketat Shopie menjadi korban saat tak sengaja dikunyah mulut tanpa gigi.
"Aduduh jangan sayang! jep jep, nih minum susu yang ini aja ya sayang. jep jep!" Memyumpal mulut mungil dengan benda kenyal mengeluarkan cairan putih dari botol susu.
Si bungsu rasanya tak mau menerima pemberian susu formula, insting bayi merasa tak cocok dengan makanan yang diberikan. Ia menginginkan sesuatu yang lebih baik dari susu formula.
"Aduh gimana ini? Nyonya pasti marah besar kalau anaknya terus menangis. Gimana nih?" Kebingungan dan takut karena si bungsu tidak kunjung diam dipelukkannya.
Di depan meja makan.
"Pah kayaknya pengasuh bayi kita gak becus. Denger deh masa anak kita nangis terus?"
"Ya wong namanya juga anak piyik, bisanya cuman nangis. Emang kamu maunya gimana?"
"Ya ditenangkan gitu loh pak, percuma sewa baby sitter mahal-mahal kerjanya gak becus!"
"Ahh sampean Iki wis lali opo? Kan pengasuh bayi kita yang kemarin cuman kuat satu hari saja. lah ini kita beruntung masih bertahan satu Minggu."
"Udahlah kita pecat aja! masa anak kita dipegang sama dia malah nangis terus."
"Yo wis kalo gitu sampean yang ngurusin anak kita toh"
"Halah! mbohh aku!"
Bu Tinah menyempatkan diri menemui sang pengasuh bayi.
"Heh! Kamu ini bisa kerja gak sih? kalau gak bisa ngurus anak kecil jangan sok soan jadi baby sitter!" Hardik Bu Tinah mendengar anak bungsunya masih rewel.
Sophie yang tahu betul apa permasalahannya mencoba menjelaskan situasi yang terjadi.
"Nyonya putra bungsu anda tidak suka dengan susu formula, dia ingin asi eksklusif." Terang Sophie.
"Halah alasan aja Kamu! Kalau gak sanggup ngurus anak saya cepat kasih tau saya! segera angkat kaki dari rumah ini" Ancam Bu Tinah lalu kembali ke meja makan.
Sophie semakin kebingungan mencari solusi terbaik untuk memecahkan masalah. Yang diinginkan oleh anak berumur 11 bulan ini adalah asi eksklusif.
Terlebih ancaman si nyonya barusan seperti bukan main-main.
"Baiklah apa boleh buat, dari pada aku dipecat. Anakku dikampung pasti kelaparan jika aku tidak bekerja."
Sophie memerhatikan keadaan sekitar, sedang si bungsu pak Bambang masih saja rewel. sepertinya tidak akan berhenti sebelum mendapatkan asupan nutrisi terbaik.
Si janda muda beranak satu membuka setengah kancing baju, mengeluarkan nipple layaknya dot bayi.
Lalu memasrahkan untuk dikunyah oleh bayi didepannya.
Mata jernih si janda muda terpejam sesaat. Merasakan tarikan dan gigitan tanpa Gigi. awalnya terasa linu saat ditarik, namun berganti kenyamanan saat dihisap.
Untunglah benda itu masih berfungsi sebagai mana mestinya.
..
Orang-orang didalam merasa heran, kenapa tangisan si bungsu tak lagi terdengar setelah si pengasuh didatangi ibu mereka.
"Kok Acel gak rewel lagi ya Bu?'' Tanya Rizki.
"Baguslah, mungkin pengasuhnya udah tau cara menenangkan adikmu."
"Jadi penasaran gimana caranya ya? apa mungkin baby Acel di perlakukan kasar?"
Azka langsung tersentak mendengar sangkaan Rizki yang belum tentu kebenarannya.
"Aku akan memeriksanya!" seru Azka langsung menuju ke depan menemui si bungsu.
Azka berdiri di depan pintu, melihat Sophie menggendong adiknya dari belakang.
Lalu secara tak sengaja Sophie membalikkan badannya mengarah ke pria yang berdiri di sana.
"Aaahh!" Langsung kembali membalikkan badan. Tubuhnya agak gemetaran sembari hendak melepaskan mulut si bayi yang menempel di salah satu titik dua.
Si bungsu kembali rewel saat titik itu terlepas dari mulut mungilnya.
Azka terdiam seperti terkesima dengan apa yang baru saja ia lihat.
"Ma- Maaf mas Azka. saya su- sudah kehabisan cara untuk menenangkan adik anda" Sophie nampak ketakutan saat ketahuan memberikan asupan gizi ekslusif. pas waktu itu titiknya sedang asik digigit mulut mungil.
"Tenang mbak, aku justru berterima kasih mau berbaik hati membaginya pada adik saya."
"Mas Azka gak akan bilang kan sama nyonya?"
Otak kotornya seketika mencuat ke permukaan.
"Emm gimana ya? Mama marah gak kira-kira?" Azka balik bertanya.
"Mas aku mohon jangan kasih tau nyonya, aku bisa dipecat. aku butuh pekerjaan ini" si bayi menagih lagi asupan gizi yang disembunyikan si pemiliknya. Sophie merogoh kedalam baju, mengeluarkan benda kenyal dengan titiknya yang coklat.
Mulut mungil segera mendapatkan makanannya kembali.
Seketika bayi itu kembali tenang sembari menikmati hidangan bergizi.
"Baiklah aku akan tutup mulut sama mama, asalkan."
"Asalkan apa mas? jangan minta yang aneh-aneh."
"Enggak kok, aku akan biarkan mbak memberi adikku makanannya. asalkan aku dapat melihat dia sedang makan."
"Hah? Apa!" Wajah si perempuan memerah. Antara malu dan tak nyaman jika harus diperhatikan saat memberi makan si bayi bungsu.
"Ya sudah kalau begitu aku, ma!"
Azka hendak memanggil Bu Tinah, namun langsung di sela Sophie.
"Mas!"
Sophie membalikkan badan tepat menghadap Azka yang menunggu saat-saat indah seperti ini.
Nampak dengan lahapnya dipangkuan si pengasuh, baby Acel nampak damai menikmati hidangannya.
Sophie sempat memejamkan mata saat memperlihatkan sibungsu memakan makanannya, terlanjur malu dan takut.
"Sudah cukup ya mas!" kembali membalikkan badan membelakangi Azka.
Si pria seperti mendapatkan durian jatuh, sungguh beruntung nasibnya pagi ini. Mendapatkan pemandangan yang indah luar biasa. sampai terngiang-ngiang terbawa ke sekolah.
...
Sesampainya di sekolah Azka masih kepikiran kejadian yang tak di sengaja. Pikiran menerawang jauh hinggap pada sosok cantik.
Khayalan tingkat tinggi terlalu jauh menerawang.
Ia sedang menghalu dirinya menjadi kekasih si pengasuh bayi dirumahnya.
Hari- hari nya akan selalu indah dan bahagia jika berdekatan dengan si janda anak satu.
Berusaha memberikan kebahagiaan dan kehangatan cinta yang telah lama pergi meninggalkan si wanita.
Berharap Azka menjadi pengganti sang suami Sophie yang telah berpulang.
Memeluk erat tubuh hangat si perempuan, memberikan kenyamanan dan perlindungan dalam dekapannya.
Setiap pulang kerja langsung disambut hangat, disuguhi kopi manis semanis senyuman yang merekah di bibirnya yang menarik.
"Hahh, Seandainya itu terjadi. Aku pasti adalah orang yang paling beruntung di muka bumi" Gumamnya saat berkhayal hal yang indah bersama Sophie.
Plekk
Seseorang terasa memeluk tubuh tegap Azka dari belakang.
"Azka, kemana aja sih? kok baru keliatan?" Tanya Elsa si sisiwi berdada rata tapi memiliki paras yang imut.
"Hah! Apaan sih kamu sa? ganggu aja!" Merasa tidak nyaman saat dipeluk perempuan yang tertarik padanya.
Azka melepaskan pelukan dipunggung.
"Azka? kenapa sih? aku kangen tau.''
"Kangen-kangen? Aku gak mau liat kamu lagi!" Ucap Azka sangat dingin terhadap perempuan yang pernah menduakannya.
"Akhirnya tidur juga"
Meletakkan si bungsu baby Acel yang bernama lengkap Axel Putro Abimanyu ke dalam tempat tidur bayi.
Hari ini Sophie begitu nampak kelelahan, selain bertugas menjaga si bungsu. Ia juga bertugas membantu pekerjaan rumah.
Dirumah ini hanya ada dia sebagai pengasuh bayi juga bertugas merawat rumah. Tidak ada pembantu khusus melakukan pekerjaan rumah. Shopie sendiri yang mengurus semuanya.
Mumpung si bungsu sedang terlelap Shopie segera mengerjakan tugas rumah yang belum sempat dipegang.
Mengambil kain pel lantai dan seember air. Menuju ruang tengah rumah menyapunya terlebih dahulu, lalu setelahnya langsung mengepel ruangan itu.
Keringat mengucur di dahi, seragam sampai becek terkena banjir keringatnya sendiri.
Sungguh lelah rasanya memiliki banyak pekerjaan yang seakan tak ada habisnya.
Bu Tinah muncul dari kamarnya,
"Mbak saya mau keluar ada arisan, tolong jagain rumah ya!" Pinta Bu Tinah sembari berlalu.
"Baik nyonya!" Mengangguk sampai menunduk.
Pekerjaan mengepel lantai hampir beres setelah empat puluh menit berlalu. Dan terdengar suara tangisan dari kamar si bungsu.
"Yaa ampun, baru selesai kok udah bangun lagi sih dek?" Keluhnya menyeka keringat dengan punggung tangan.
Menggendong anak sebelas bulan di dadanya yang empuk.
"Ceup ceup sayang, kamu kenapa? sepertinya dia lapar lagi duh ya ampun gimana ini? mau gak yah aku kasih susu formula lagi?"
Membawa botol susu bayi dari dapur, menyeduh susu formula.
Sophie membawa si bungsu di pangkuannya ke ruang tengah.
Menempelkan ujung nipple botol susu ke mulut si anak bungsu.
Namun anak itu seolah tak menginginkan asupan yang diberikan melalui botol susu.
"Duhh dek tau gak sih jangan minta mimi mbak terus? sakit tau kalo digigit kamu!"
Namun si baby tak mau mengerti keadaan si pengasuhnya.
"Ya sudah tapi kamu janji ya gak bakalan gigit?" pinta Shopie pada si bungsu yang belum mengerti apa-apa.
Dirumah ini tidak ada siapa-siapa lagi kecuali dirinya dan si baby kecil.
Dengan leluasa si pengasuh yang memiliki dada besar membuka seragam kerja.
Nampak gumpalan putih kembar bergelayut di depan si baby Acel.
Mulut mungil segera melahap hidangan hangat dari pucuk kecoklatan.
Shopie jadi keseringan memberikan asupan nutrisi ekslusif pada baby yang diasuhnya. Membuat perubahan pada fisik si wanita cantik itu.
Tubuh rampingnya semakin sempurna dengan dada yang membusung ketika berdiri atau pun duduk.
Seakan ingin loncat dari sarangnya akibat semakin membesar karena terlalu sering memberikan asupan nutrisi terbaik.
Namun efek samping lainnya adalah nutrisi berwarna putih itu seolah minta dikeluarkan karena terlalu penuh dan belum sempat di santap oleh si baby.
Terkadang Shopie suka mengeluarkannya sendiri dikamar, bila si baby tidak lapar.
Shopie terlalu nyaman saat memberi asupan gizi, saking nikmat saat sedang diambil sari patinya oleh di baby sampai terlelap di ruang tengah.
Titik coklat masih menempel di mulut mungil hingga nampak belepotan karena terkadang suka keluar sendiri tanpa dihisap.
Klek
Pintu masuk rumah terbuka, si putra pertama keluarga pak Bambang sudah pulang dari kampus.
Ia langsung terdiam mematung di depan pintu saat mendapati si adik bungsu terlelap sambil makan.
Makanan yang berada di sebelah keluar sendiri dari sumbernya.
Sedangkan wanita itu terlelap, mungkin sudah sangat lelah sambil harus terus bekerja memberikan asupan gizi.
Rizki mengendap-endap mendekati si adik bungsu, melihat dari jarak dekat saat masih asik makan.
Sayang sekali sumber makanan disebelah menganggur begitu saja namun makanannya mengalir.
Tanpa sadar Rizki ikut menikmati hidangan si bungsu. Mereka sedang menikmati makanan bersama-sama.
Urat-urat hijau nampak terlihat dipermukaan putih.
Rasa sedikit manis terasa di ujung indra pengecap.
Kenyamanan saat tidur bertambah, merasa si bungsu memakannya dengan lahap. tapi anehnya kenapa si adik bisa memakan sumber makanan secara sekaligus?
Oh ternyata si kakak ikut makan juga, kakaknya lebih lahap saat mencicipi hidangan si adik bungsu.
"Emhh!"
Shopie menggigit bawah bibir matanya masih terpejam. Belum sadar dua sumber makanan sedang digunakan dengan baik.
"Hahh" Wajah si kakak memerah, keasikan makan ditemani oleh adik bungsunya.
Makin kesini Shopie merasa ada yang aneh dengan baby kecil yang diasuhnya. kenapa bisa memakannya sekaligus?
Perlahan membuka mata.
Alangkah terkejutnya ada bayi besar ikut makan di sumber makanannya.
"Mas Rizki!" teriak Shopie langsung dibekap oleh tangan Rizki.
"Diam lah! jika masih ingin bekerja disini!''
"Tapi mas! eughh," memekik sambil Memejam saat Rizki menekan sumber makanan sang adik sebelah kiri.
Rizki melepaskan tangan menyumpal mulut Shopie.
Sekarang malah si pengasuh sendiri berusaha menutup mulut.
Anak pak Bambang kembali menyantap hidangan yang semestinya hanya untuk sang adik kecil.
Sedangkan si adik telah terlelap karena kekenyangan.
"Indah sekali bentuknya" Memegang dua sumber makanan yang telah ditinggal tidur oleh si pemilik sah.
Shopie ingin menyembunyikan dua sumber makanannya, tapi di tahan oleh si kakak pemilik sah sumber makanan itu.
"Jangan mas, ini keterlaluan!" lirih Shopie merasa tidak dihargai.
"Tinggal pilih saja mau tetap disini! atau silahkan angkat kopermu?"
Shopie termenung sejenak memikirkan nasib anak dan ibunya dikampung, disini ia terpaksa memberikan asupan gizi kepada si bungsu. sedangkan anaknya sendiri menangis belum di belikan susu formula karena belum ada pemasukan sama sekali.
"Baiklah dengan syarat belikan putraku sekotak susu."
"Hah? hanya itu?"
"Ya sementara hanya itu yang aku butuhkan."
Selepas itu, Shopie seolah terpaku di sofa. sedangkan anak majikannya meneruskan menyantap makanan penuh gizi dan nutrisi yang sangat baik untuk kesehatan.
Wajah putih dan tampan terkena cipratan protein dari sumbernya. Menyeka bibir belepotan nutrisi cair putih. Rizki sudah puas dengan hidangan yang disajikan.
"Mana nomor rekeningmu?"
Sembari menutup kembali apa yang telah ia buka, Shopie mencatat nomor telepon lalu mengirimkan nomor rekening miliknya.
Rizki gegas menuju ke kamar, sedangkan Shopie tertunduk malu atas kejadian tersebut. Ingin berteriak tapi ia tahan, selain akan membangunkan tuan kecilnya juga menambah penyesalan.
.....
"Yes Yes Yes!" Rizki amat riang gembira setelah dapat mencicipi hidangan sang adik bungsu. Tak disangka rasanya begitu nikmat, terlebih saat memegang sumber makanan. Rasanya begitu hangat dan kenyal di telapak tangan.
Pikiran lain langsung tergambar di otak yang mulai berpikir aneh-aneh.
Melihat layar telpon genggam, nampak nomor baru masuk memberikan pesan singkat berisi nomor rekening.
Rizki membuka aplikasi m-banking, lalu mentransfer sejumlah uang kepada nomor rekening yang barusan ia terima. Dan mengirim pesan singkat.
"Nanti malam aku mau lagi Mbak, bolehkan? lumayan adalah buat tambahan beli susu formula satu lagi buat anak mbak."
Membaca pesan singkat dari anak majikan membuat hati wanita berparas putih agak kemerahan terasa teriris.
Namun satu sisi juga meras terbantu, karena memang keadaan ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Bahkan untuk membeli susu untuk anaknya tak mampu, karena baru seminggu bekerja di rumah keluarga pak Bambang.