Raelynn Harper berdiri di hadapan Tristan Blackwood, menatapnya dengan tatapan yang bisa membunuh. Setiap otot di tubuhnya menegang, dan hatinya terasa tertekan, seolah ada ribuan belati yang menusuk dari dalam. Tapi dia tidak akan mundur. Tidak sekarang. Tidak setelah semua yang dia alami.
Di tangannya, pisau lipat kecil berkilau di bawah lampu yang terang, memantulkan kilauan dingin yang hampir sama dengan rasa dingin yang mengalir di tubuhnya. Raelynn menahan napas, mengumpulkan keberanian yang seharusnya sudah lama hilang, dan mendekatkan pisau itu ke arah wajah Tristan. "Kamu pasti tahu mengapa aku di sini, kan?" katanya, suaranya datar namun penuh dengan kebencian yang menyala. "Kamu tahu betul."
Tristan Blackwood duduk dengan tenang di belakang meja kerjanya yang besar dan mewah, seakan tidak terpengaruh oleh keberadaan Raelynn yang berdiri begitu dekat dengannya dengan pisau itu. Wajahnya yang tampan, dengan garis rahang tegas dan mata tajam, tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan. Seolah-olah dia sudah terbiasa dengan ancaman. Hanya sebuah senyuman tipis yang bermain di sudut bibirnya, menyiratkan bahwa dia merasa lebih unggul.
"Aku rasa aku tahu," jawabnya dengan suara pelan, namun nada itu lebih terdengar seperti seseorang yang tengah menikmati permainan. "Kamu datang untuk meminta pertanggungjawaban, bukan?"
Raelynn merasakan darahnya mendidih. "Aku datang untuk menuntut keadilan," katanya dengan tegas, tetap mengarahkan pisau itu lebih dekat ke wajah Tristan. "Kyle Blackwood telah menghancurkan hidupku. Dia berjanji akan menikahiku, dan kemudian-" suaranya tercekat sejenak, teringat bagaimana dia begitu naif mempercayai kata-kata manis adik Tristan itu. "Kemudian dia menghilang begitu saja. Menghancurkan setiap harapan yang pernah aku miliki."
Tristan tidak bergerak. Bahkan, dia hanya menatapnya dengan mata yang penuh perhitungan, seperti seorang pemain catur yang sedang menganalisis langkah lawannya. "Kamu pikir dengan ini kamu bisa memperbaiki apa yang terjadi?" tanyanya, matanya sedikit menyipit, seolah-olah mencari celah dalam kata-kata Raelynn.
Raelynn menatapnya tajam. "Aku tidak berharap bisa memperbaiki apa pun," jawabnya dengan suara serak, berusaha menahan amarah yang hampir meluap. "Aku hanya ingin Kyle membayar atas pengkhianatannya. Dan kalau itu berarti aku harus memaksa kamu bertanggung jawab atas tindakan adikmu, maka aku akan melakukannya tanpa ragu."
Tristan tidak segera merespons, malah membiarkan beberapa detik berlalu dengan keheningan yang menegangkan. Suasana di ruangan itu terasa tebal, berat, seakan setiap detik yang berlalu membawa ketegangan yang semakin mendalam.
Kemudian, dengan gerakan yang terlalu cepat untuk diikuti, Tristan berdiri dari kursinya, matanya tetap menatap Raelynn tanpa rasa takut. "Kamu ingin aku bertanggung jawab?" Suaranya kini lebih dalam, lebih serius. "Baiklah, Raelynn. Kalau itu yang kamu inginkan, aku akan memberikan apa yang kamu minta."
Raelynn terkejut, namun dia tetap bertahan, tidak membiarkan dirinya goyah. "Aku ingin kamu menikah denganku," katanya, suara itu bahkan lebih keras dari sebelumnya, menggetarkan udara di sekitar mereka. "Aku ingin kamu menanggung konsekuensi atas semua yang telah terjadi."
Tristan terdiam, ekspresinya berubah menjadi tidak bisa dipahami. Namun, senyum tipis yang sebelumnya menghiasi wajahnya kini berubah menjadi senyum penuh perhitungan. "Menikah? Kamu ingin aku menikah denganmu?" Suaranya seperti sebuah permainan, tapi ada ketegangan di dalamnya, sesuatu yang lebih dari sekedar candaan. "Raelynn, aku rasa kamu tidak tahu apa yang kamu minta."
Raelynn bisa merasakan hatinya berdebar kencang, tapi dia tidak akan menunjukkan kelemahan. "Aku tahu persis apa yang aku inginkan," jawabnya, suara itu penuh dengan keteguhan. "Aku ingin Kyle bertanggung jawab. Aku ingin kamu menghadapinya, membayar dengan harga yang pantas untuk semua penderitaan yang dia sebabkan."
Tristan mendekat dengan langkah yang lambat namun pasti, matanya tak pernah lepas dari mata Raelynn. "Jadi, kamu pikir menikah denganmu adalah cara untuk menyelesaikan masalah ini? Kamu rasa dengan itu aku akan merasa bersalah? Kalau begitu, kamu salah besar."
Raelynn merasakan sebuah perasaan yang tak bisa dijelaskan menguasai dirinya. Tertantang? Tergoda? Dia sendiri tidak tahu. Namun, satu hal yang pasti-Tristan Blackwood bukanlah pria yang mudah dijinakkan. Dia adalah sosok yang terlalu berkuasa, terlalu cerdas, untuk dibiarkan begitu saja.
"Kenapa tidak?" tantang Raelynn, suara itu seperti duri yang menusuk. "Jika itu satu-satunya cara untuk mengakhiri semua ini, aku akan melakukannya. Kamu mungkin bisa menganggapku murahan karena menikahi pria yang hanya aku kenal lewat pengkhianatan, tapi aku tidak peduli. Yang penting, Kyle menerima balasannya."
Tristan memiringkan kepalanya, melihatnya dengan ekspresi yang lebih tertarik sekarang. "Raelynn, kamu terlalu keras kepala. Tapi aku suka itu." Ia melangkah lebih dekat, jaraknya kini begitu dekat hingga Raelynn bisa merasakan hawa panas yang keluar dari tubuh pria itu. "Kamu tahu, aku sedang butuh seorang istri. Dan jika itu yang kamu inginkan, aku akan memberikannya."
Raelynn terkejut. "Apa?" suaranya hampir tak terdengar, tapi hatinya berdegup lebih kencang, tanda bahwa dia tak siap dengan jawaban yang datang begitu cepat.
"Kenapa tidak?" kata Tristan, nadanya menggoda, meskipun ada sedikit rasa serius di baliknya. "Aku tidak peduli jika kamu melakukannya untuk uang atau untuk balas dendam. Tapi aku akan menikahimu. Itu akan menguntungkan kita berdua. Kamu ingin balas dendam, dan aku ingin seorang istri yang bisa menenangkan pengaruh buruk di luar sana. Kita berdua bisa saling memanfaatkan."
Raelynn tidak tahu harus merasa marah atau bingung. Bagaimana bisa pria ini begitu tenang, begitu yakin akan segalanya? Dia tahu Tristan Blackwood bukan pria yang bisa dipermainkan, dan sekarang dia menyadari bahwa dia mungkin terjebak dalam permainan yang lebih besar dari yang dia bayangkan.
"Kamu pikir aku akan tunduk begitu saja?" Raelynn bertanya, berusaha menunjukkan keteguhannya. "Aku tidak akan menjadi boneka dalam permainanmu, Tristan."
Tristan tersenyum penuh perhitungan. "Aku tidak pernah berpikir kamu akan begitu saja tunduk. Tapi aku ingin melihat sejauh mana kamu bisa bertahan dalam permainan ini, Raelynn. Karena aku berjanji, permainan ini baru saja dimulai."
Raelynn menatapnya tajam. Mereka berdua saling menantang, saling menghitung langkah berikutnya. Dan dalam diamnya, dia tahu satu hal pasti-semuanya akan berubah setelah hari ini.
Namun, di antara keheningan itu, hanya satu hal yang jelas di pikiran mereka berdua: Perang ini belum berakhir, dan siapapun yang kalah, akan merasa perih lebih dari sekadar fisik.
Raelynn melangkah keluar dari ruang kerja Tristan Blackwood dengan tubuh yang terasa seperti terkunci dalam jebakan, dengan kaki yang begitu berat, seakan-akan tanah di bawahnya sedang menahan setiap gerakan. Pikiran-pikirannya berputar tak menentu, tidak bisa melarikan diri dari kenyataan baru yang tiba-tiba terbentuk begitu cepat-Tristan Blackwood, pria yang tak pernah ia bayangkan akan ada dalam hidupnya, kini menjadi bagian dari jalan yang harus ia tempuh.
Langkahnya terhenti ketika dia berada di luar pintu kantor yang besar itu, di ruang lobi yang megah dan penuh dengan kemewahan. Tiba-tiba, suara ketukan lembut di belakangnya membuatnya menoleh dengan cepat.
"Aku tidak ingat memberi izin untuk pergi begitu saja."
Suara Tristan mengalun dengan dingin, tetapi ada ketegasan yang membuat setiap kata terasa menembus. Raelynn menatapnya, tak bisa menyembunyikan kekesalan yang meluap dalam dirinya. "Aku tidak perlu izin darimu untuk pergi," jawabnya, berusaha menjaga keteguhan hati. Namun, hatinya berdebar dengan cara yang tak ia inginkan. Mengapa dia merasa seperti terperangkap dalam jaring yang semakin sempit?
Tristan mendekat, langkahnya tenang namun penuh dengan tekanan yang bisa dirasakan hingga ke dasar hati. "Kamu sudah membuat keputusan besar, Raelynn. Menikah denganku bukanlah hal yang bisa kamu anggap enteng begitu saja."
Raelynn berusaha tetap tegak, meskipun dalam hatinya ada keraguan yang tumbuh semakin besar. Dia sudah memutuskan untuk melakukan ini-untuk membuat Kyle Blackwood, adik Tristan, membayar segala pengkhianatannya. Namun, Tristan, dengan segala pesona dan ketenangannya yang menakutkan, membuatnya merasa seperti tak lebih dari sekadar pion dalam permainan ini. Dia tidak tahu apakah keputusan yang ia ambil adalah keputusan yang benar atau justru langkah menuju kehancuran.
"Aku tidak pernah menganggap ini enteng," jawab Raelynn, mencoba untuk menjaga jarak dalam suaranya. "Tapi ini adalah satu-satunya cara agar aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan."
Tristan tersenyum tipis, senyum yang tidak membawa kenyamanan sedikit pun. "Apa yang kamu inginkan, Raelynn?" tanyanya dengan nada yang penuh teka-teki. "Apakah kamu ingin melihat Kyle menderita? Ataukah kamu ingin lebih dari itu?"
Raelynn merasa terperangkap. Tidak, dia tidak hanya ingin melihat Kyle menderita. Itu bukan tujuan utamanya. Dia ingin menghancurkan harga dirinya, ingin mengajarkan pria itu pelajaran yang tidak akan dia lupakan. Tetapi sekarang, berdiri di depan Tristan, dia merasakan perasaan yang lebih besar daripada sekadar dendam-sebuah perasaan yang sulit dijelaskan, sesuatu yang menggoda namun menakutkan.
"Tidak ada yang lebih dari itu," jawab Raelynn dengan tegas, meskipun suaranya sedikit bergetar. "Aku hanya ingin keadilan."
Tristan mendekat lebih dekat, dan kali ini, dia berhenti hanya beberapa inci dari Raelynn. Suara napasnya terdengar berat, terengah-engah. "Keadilan, hmm?" kata Tristan, hampir seperti menyuarakan sebuah tantangan. "Lalu, apa yang akan kamu lakukan dengan keadilan itu, Raelynn? Apa yang kamu harapkan setelah itu? Apakah kamu benar-benar berpikir ini akan membebaskanmu?"
Raelynn menelan ludah. Pertanyaan itu menggoyahkan dirinya lebih dari yang dia akui. Apa yang dia harapkan setelah semua ini? Apakah dia akan merasa puas dengan balas dendamnya? Apakah harga dirinya akan pulih begitu saja setelah semua yang telah terjadi?
Dia teringat saat pertama kali Kyle berjanji untuk menikahinya, dengan kata-kata manis yang memeluk hatinya, meyakinkan bahwa semua impian mereka akan menjadi kenyataan. Namun itu semua hanyalah kebohongan. Saat Kyle menghilang, Raelynn merasa seperti dunia runtuh di atasnya. Dia dibiarkan dalam kehancuran yang tak terukur. Dan sekarang, setelah semua yang dia hadapi, dia ingin memastikan bahwa pengkhianatan itu akan dibayar-bahkan jika itu berarti menikahi pria yang lebih tampan, lebih kaya, dan lebih berkuasa daripada yang bisa dia bayangkan.
"Aku tidak tahu," Raelynn akhirnya mengaku, suara itu hampir tak terdengar. "Aku hanya tahu ini adalah cara untuk memperbaiki segalanya."
Tiba-tiba, Tristan tertawa, tetapi bukan tawa yang terdengar ringan. Itu adalah tawa yang mengandung rasa penuh perhitungan, seperti dia sedang membaca pikiran Raelynn lebih dalam dari yang dia kira. "Kamu tahu, Raelynn... kamu bisa saja tidak menikah denganku dan hanya terus berjuang untuk balas dendam itu. Tapi kamu memilih cara yang lebih sulit." Tristan melangkah mundur, menatapnya dengan penuh arti. "Apakah kamu benar-benar siap untuk itu? Menjadi bagian dari dunia ini? Dunia yang mungkin akan menghancurkanmu lebih jauh daripada yang bisa kamu bayangkan?"
Raelynn menatapnya, berusaha untuk tidak menunjukkan kelemahannya. "Aku sudah siap."
Namun, di dalam dirinya, keraguan itu tetap menghantui. Tidak ada yang mudah dalam permainan ini. Menikahi Tristan berarti terikat pada dunia yang tidak dia mengerti sepenuhnya. Dunia yang penuh dengan manipulasi, kekuasaan, dan kebohongan yang bisa menghancurkan siapa pun yang terlibat. Namun, Raelynn tahu satu hal dengan pasti-dia sudah terjebak dalam permainan ini. Dan dia tidak bisa mundur lagi.
Beberapa hari berlalu setelah percakapan itu, dan Raelynn merasa dirinya semakin terperangkap dalam dunia yang bukan miliknya. Ia duduk di ruang tamu apartemennya, memandangi jari-jarinya yang kini mengenakan cincin pernikahan yang didapatkan dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan. Cincin itu bukan simbol cinta, tetapi lebih kepada simbol dari permainan yang baru saja dimulai-permainan yang tidak akan pernah bisa ia menangkan tanpa mengorbankan sesuatu yang lebih besar dari yang ia kira.
Saat Tristan datang ke apartemennya pada malam itu, wajahnya tetap tenang dan tak terbaca. Raelynn tahu bahwa ia tidak hanya datang untuk berbicara. Ada sesuatu yang lebih besar yang sedang mengancam mereka berdua.
"Kita akan menikah besok," kata Tristan, memecah keheningan yang mendalam antara mereka.
Raelynn menatapnya, perasaan terperangkap dan tertekan semakin menghimpitnya. "Kamu pikir ini akan menyelesaikan masalah?" tanyanya, dengan suara yang hampir terdengar putus asa.
Tristan mengangkat alis, seolah tidak terkejut dengan pertanyaan itu. "Tidak," jawabnya singkat. "Tapi ini akan membuat kita lebih kuat dalam permainan ini. Dan siapa tahu, mungkin kita berdua akan mendapatkan lebih dari yang kita harapkan."
Raelynn merasakan perasaan aneh menyelimuti dadanya. Dendam yang ia bawa dalam hatinya mulai bergeser menjadi sesuatu yang lebih rumit, lebih berbahaya. Tristan Blackwood adalah pria yang tidak bisa diramalkan, namun satu hal yang pasti-apapun yang terjadi setelah pernikahan ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Dan saat malam itu berlalu, Raelynn tahu bahwa dia akan menyusuri jalan yang penuh dengan jebakan, dengan Tristan Blackwood sebagai suaminya, dan dengan satu tujuan-mendapatkan balas dendam, meskipun dengan harga yang lebih tinggi dari yang dia bayangkan.
Pernikahan mereka terjadi begitu cepat, lebih cepat dari yang bisa Raelynn perkirakan. Beberapa hari setelah percakapan itu, dia berdiri di depan altar, mengenakan gaun pengantin putih yang terasa begitu asing baginya, seperti sebuah kostum yang dipaksakan, bukan sebuah simbol cinta yang seharusnya. Di sekelilingnya, orang-orang yang tak dikenalnya memandang dengan senyum yang seolah penuh selamat datang, namun di dalam hatinya, Raelynn hanya merasakan kehampaan yang begitu dalam, lebih dalam dari apapun yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Tatapan tajam Tristan yang duduk di hadapan altar itu tak pernah lepas darinya. Seolah dia bisa melihat langsung ke dalam jiwanya, melihat ketakutan dan kebingungannya. Tapi Raelynn menahan diri, tidak membiarkan dirinya goyah, meskipun hatinya berdebar kencang.
"Raelynn Harper," suara pendeta itu memecah keheningan, membawa segala ketegangan yang membebani udara ke dalam momen yang seolah terhenti. "Apakah kamu bersedia menerima Tristan Blackwood sebagai suamimu, dalam suka dan duka, untuk saling mencintai dan menghormati, sampai maut memisahkan kalian?"
Raelynn menatap Tristan, wajahnya yang begitu tampan, namun penuh dengan perhitungan, seakan-akan dia adalah predator dan dia hanya mangsa. Semua yang ada dalam dirinya ingin lari, ingin menjerit, ingin membebaskan dirinya dari cengkraman ini. Tapi dia tahu, jika dia mundur sekarang, semuanya akan berakhir lebih buruk lagi. Kyle masih bebas, masih jauh di luar jangkauan hukum, dan dia-Raelynn-telah terperangkap dalam permainan yang lebih besar dari yang dia kira.
"Ya," jawab Raelynn dengan suara serak, suaranya hampir tak terdengar, namun cukup untuk membuat semuanya terasa nyata. Kata itu, satu kata yang tidak bisa diubah lagi, telah terucap dan menggema di antara mereka berdua. Kata itu adalah langkah pertama dalam dunia baru yang telah dia pilih, dunia yang kini dipenuhi oleh Tristan dan segala kebencian yang ia bawa.
Pendeta melanjutkan upacara dengan langkah yang penuh ritus, namun bagi Raelynn, semuanya terasa seperti sebuah permainan yang jauh dari kenyataan. Saat Tristan menggenggam tangannya, sebuah aliran dingin menjalar di seluruh tubuhnya. Tangan pria itu kuat, penuh dominasi, seperti cengkeraman tak kasat mata yang akan terus membelitnya tanpa ampun. Ketika Tristan menariknya dalam pelukan setelah mereka mengucapkan janji suci, Raelynn bisa merasakan aroma tubuhnya, dan meskipun dia berusaha menahan diri, tubuhnya bereaksi dengan cara yang tidak dia inginkan.
Tristan Blackwood adalah pria yang memiliki kekuatan untuk mengendalikan segala hal-termasuk dirinya. Dan ketika dia menatap Raelynn dengan senyuman yang tidak bisa disembunyikan, Raelynn tahu bahwa ini adalah awal dari sebuah perjalanan yang tidak akan pernah bisa dia mundurkan.
Malam pernikahan itu, setelah tamu-tamu pulang dan kekosongan melanda rumah besar yang kini menjadi rumah mereka, Raelynn merasakan dirinya terjepit dalam ruangan yang terasa semakin sempit. Cahaya bulan yang menyusup lewat tirai jendela menyinari wajahnya, menambah kesan dingin yang mengelilinginya. Suara langkah kaki Tristan terdengar mendekat, dan sebelum Raelynn bisa berbalik, tubuhnya sudah didekati dengan cara yang membuat napasnya terhenti.
"Raelynn," suara Tristan terdengar dalam, berbisik di telinganya, mengirimkan getaran yang mengganggu ketenangannya. "Kamu tahu bahwa pernikahan ini bukanlah tentang cinta, kan?"
Raelynn menegakkan punggungnya, berusaha sekuat tenaga untuk tidak menunjukkan kelemahan. "Aku tahu," jawabnya dengan keteguhan, meskipun hatinya terasa hancur. "Ini bukan tentang cinta. Ini tentang balas dendam."
Tristan mengangguk pelan, seolah memahami, namun di matanya, ada kilatan yang menyiratkan sesuatu yang lebih gelap dari yang Raelynn duga. "Jadi kamu pikir dengan ini, kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan?" tanyanya, suara itu terkesan menggoda, namun ada penekanan yang membuatnya terasa seperti ancaman.
Raelynn menatapnya dengan tajam, mencoba menahan gejolak yang datang dalam dirinya. "Aku tidak tahu," jawabnya, suaranya keras, berusaha menegaskan dirinya. "Aku hanya tahu, ini satu-satunya cara untuk menghentikan semua ini."
"Dan bagaimana menurutmu jika cara itu malah menghancurkanmu?" suara Tristan semakin dekat, tubuhnya kini hanya beberapa inci di belakangnya. Raelynn bisa merasakan kehangatan tubuhnya yang menghangatkan punggungnya, namun dia tidak bisa menghindari perasaan bahwa dia berada dalam perangkap yang semakin mengikatnya.
Raelynn berbalik, menatap wajahnya yang hampir sempurna itu, namun kali ini ada sesuatu yang lebih tajam, lebih gelap di balik matanya. "Aku sudah tidak peduli," katanya dengan tegas, meskipun hatinya terasa tercekik. "Aku hanya ingin menghancurkan semua yang ada dalam hidupku-termasuk Kyle, termasuk hidupmu, jika perlu."
Tristan tersenyum tipis, senyuman itu seperti sebuah senjata yang disembunyikan dengan rapi. "Kamu tahu, Raelynn... aku bisa membantumu mendapatkan apa yang kamu inginkan. Tapi ada harga yang harus dibayar."
Raelynn mengerutkan kening, bingung dengan kata-kata itu. "Harga apa?" tanyanya, walaupun dia merasa sudah cukup membayar dengan keputusan besar yang dia buat.
Tristan mendekat, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Raelynn. "Kamu tidak akan pernah bisa keluar dari permainan ini begitu saja," katanya, nadanya penuh dengan ancaman yang terbungkus dalam kelembutan yang tidak bisa disangkal. "Aku akan memastikan bahwa kamu tidak hanya terikat pada aku, tapi pada dunia ini-dunia yang bisa mengubahmu, menghancurkanmu, dan memperbaiki segalanya hanya jika kamu mau mengikuti aturan."
Raelynn merasa ada sesuatu yang tak terungkapkan dalam kata-kata itu, sebuah peringatan yang menggetarkan jiwa. Namun, dia menahan diri. "Aku akan bertahan. Apa pun yang terjadi."
Tristan tertawa pelan, namun tawanya itu terasa lebih seperti sebuah janji yang dipenuhi dengan kegelapan. "Kamu sudah terjebak dalam permainan ini, Raelynn. Tidak ada jalan keluar lagi."
Perasaan takut yang selama ini coba dia sembunyikan mulai menguasai dirinya. Tapi Raelynn tahu, dia tidak bisa mundur lagi. Terlalu banyak yang dipertaruhkan, terlalu banyak yang telah hilang. Dalam pernikahan ini, dia mungkin telah kehilangan segalanya, tetapi dia tidak akan menyerah.
Malam itu, saat Tristan meninggalkan kamar, Raelynn berdiri sendiri di jendela, menatap bulan yang terpantul di permukaan laut yang tenang. Namun di dalam hatinya, ada badai yang bergemuruh. Dia telah membuat pilihan-sebuah pilihan yang akan mengubah hidupnya selamanya.