Bab 1

Suara dentuman musik memekak telinga. Seorang gadis cantik melangkah memasuki klub malam itu. Tampak beberapa kali pria berusaha menggoda gadis itu. Akan tetapi sang gadis cantik itu mengabaikan dan menghindar dari pria-pria yang berusaha menggodanya.

Aroma alkohol bercampur dengan rokok begitu menyeruak ke indra penciuman gadis itu. Para pelayan berpakaian seksi mondar-mandir mengantarkan pesanan. Sesaat gadis itu melihat banyak sekali pasangan yang saling bercumbu mesra. Pipi gadis itu merona merah kala melihat pemandangan di mana banyak pasangan saling bercumbu

Arletta Pradipta untuk pertama kalinya mendatangi klub malam hanya demi menghadiri pesta kelulusan Keevan Danuarga—senior kampusnya yang merupakan cinta pertamanya. Malam ini Arletta berpenampilan cantik demi Keevan. Jika biasanya Arletta berpenampilan tertutup kali ini dia berpenampilan sedikit terbuka.

“Keevan?” Arletta tersenyum kala menemukan keberadan Keevan. Gadis itu segera melangkah mendekat ke arah Keevan yang tengah duduk seraya meminum wine di tangannya.

“Arletta?” Alis Keevan terangkat, dia sedikit terkejut melihat penampilan Arletta malam ini. Tidak biasanya gadis ini berpenampilan cantik. Sehari-hari di kampus, Keevan hanya melihat Arletta dengan dress sederhana dan rambut yang dikuncir kuda.

“Keevan, aku datang ke sini untuk memberikan ini untukmu. Aku harap kamu menyukainya.” Arletta menyerahkan sebuah kotak yang dia siapkan sebagai hadiah untuk Keevan.

Kevaan melirik kotak dari Arletta sekilas. Kemudian dia mengambil kotak itu dan meletakan ke atas meja seraya menjawab dingin, “Thanks. Harusnya kamu nggak perlu datang di tempat seperti ini.”

“Kenapa memangnya? Aku mau kok datang ke sini. Lagi pula aku juga ingin tahu gimana klub malam,” jawab Artletta dengan suara polosnya.

Keevan menenggak wine di tangannya hingga tandas. “Lebih baik kamu pulang, ini sudah malam, Letta. Nanti orang tua kamu mencarimu.”

Bibir Arletta tertekuk manja. “Nggak mau, Keevan. Aku ingin di sini saja bersamamu. Hari ini hari kelulusanmu, jadi aku ingin menemanimu,” jawabnya keras kepala.

Keeavan mengembuskan napas kasar. “Arletta Pradipta, kamu itu masih kecil. Kamu belum pantes datang ke tempat seperti ini. Pulanglah. Jangan menyusahkanku.”

Arletta Pradipta adalah gadis berusia 18 tahun. Entah bagaimana caranya bisa masuk ke dalam klub malam ini. Harusnya hanya usia di atas 22 tahun bisa masuk ke dalam klub malam. Pesta kelulusan Keevan, diadakan di salah satu klub malam terkenal di Jakarta. Dan Keevan tidak pernah menyangka Arletta—junior kampusnya sampai mendatanginya hanya karena ingin memberikan hadiah. Sungguh, Keevan tak mengerti cara Arletta berpikir.

“Kita hanya berbeda empat tahun saja. Tapi kamu berbicara seperti kita berbeda sepuluh tahun,” cebik Arletta dengan bibir kian berkerut.

Keevan berdecak. Dia jengah dengan sifat Arletta yang keras kepala. Detik selanjutnya, Keevan menyambar gelas sloki di hadapannya, dan menegak wine-nya hingga tandas. “Pulanglah, aku sedang nggak mau diganggu.”

Ini adalah hal yang tidak disuka oleh Arletta. Keevan selalu menganggapnya sebagai anak kecil. Padahal dia sudah cukup dewasa. Lagi pula usianya tidak berbeda jauh dengan Keevan. Tapi entah kenapa Keevan selalu menganggapnya sebagai anak kecil.

“Tadi kamu bilang aku anak kecil, kan? Aku buktiin kalau aku bukan anak kecil lagi.” Arletta yang mulai kesal, dia mengambil minuman milik Keevan dan langsung menegaknya hingga tandas.

“Arletta,” seru Keevan ketika Arletta menegak minumnya. Sontak Kevan langsung merampas gelas sloki di tangan Arletta dan menjauhkan minuman dari gadis itu.

Seketika kepala Arletta mulai sedikit pusing. Dia merasakan pahit saat meminum minuman milik Keevan. Entah apa nama minuman itu, tapi kepala Arletta mulai memberat. Saat tubuh Arletta mulai ambruk, dengan sigap Keevan menahan tubuh Arletta agar tidak jatuh.

“Aku sudah bilang padamu, Letta! Kamu harusnya pulang! Ini bukan tempat untuk anak kecil sepertimu,” tukas Keevan menahan kesalnya.

“Aku bukan anak kecil, Keevan! Aku sudah lebih dari 17 tahun. Aku juga sudah memiliki kartu identitas,” Arletta menjawab seraya mengaitkan tangannya ke leher Keevan. Kini Arletta membenamkan wajahnya ke leher Keevan, menghirup aroma parfume maskulin milik Keevan. “Kamu sangat harum,” bisiknya sensual di telinga Keevan.

“Arletta, jangan menggodaku,” Keevan menjauhkan tubuh Arletta, namun dengan cepat Arletta merapatkan kembali tubuhnya, mengikis jarak di antara mereka.

“Aku akan membuktikan aku bukan lagi anak kecil.” Arleta mendekatkan bibirnya ke bibir Keevan. Dia mencium bibir Keevan. Keevan sedikit terkejut kala Arletta mencium bibirnya.

“Amatiran.” Keevan menjauhkan wajahnya dari Arletta, kemudian menyunggingkan senyuman misterius. “Itu pasti ciuman pertamamu.”

Sial, Arletta sedikit malu karena Keevan mengatakannya amatiran. Tapi itu tidak salah, karena memang Arletta menginginkan ciuman pertamanya dengan Keevan.

“Iya, aku amatiran. Kalau begitu kamu harus mengajarkanku bagaimana caranya berciuman.” Arletta mengeratkan pelukan tangannya yang melingkar di leher Keevan.

“Kamu ingin aku mengajarimu?” Kevan menangkup pipi Arletta, menatap manik mata cokelat gadis itu begitu lekat.

Arletta mengangguk. “Iya, aku ingin kamu mengajariku.”

Keevan menyeringai. Kini dia dia menarik dagu Arletta, dan menyambar bibir mungil gadis itu. Melumatnya dengan sedikit liar. Manis ... bibir gadis itu begitu manis. Membuat Keevan sampai kehilangan akal sehatnya. Ini pertama kali Keevan mencium bibir Arletta. Selama ini pria itu memang selalu menolak Arletta. Akan tetapi dalam keadaan seperti ini pria mana yang bisa menolak seorang gadis cantik yang menawarkan dirinya sendiri?

“Hmmpttt…” Arletta kewalahaan saat Keevan mencium bibirnya. Bahkan dia tidak bisa mengimbagi permainan bibir Keevan. Pria itu menciumnya dengan begitu hebat. Arletta ingin sekali membalas ciuman Keevan, tapi Arletta tidak tahu bagaimana harus memulainya.

“Jangan lagi menggodaku, Letta. Atau kamu akan menyesal.” Keevan melepas pagutannya. Dia berusaha menjauhkan tubuhnya dari tubuh Arletta. Akan tetapi gadis itu tidak mau menjauh darinya. Pengaruh alkohol, membuat Arletta berani menggoda Keevan.

Jika bukan karena alkohol tidak mungkin Arletta seperti ini. Arletta memang tidak mabuk berat, gadis itu masih terbilang cukup sadar. Tapi kepalanya pusing dan begitu memberat, membuat dirinya selalu ingin di dekat Keevan.

“Memangnya apa yang akan kamu lakukan padaku, Keevan?” tanya Arletta seraya menatap manik mata Keevan dengan tatapan mata yang mulai sayu.

“Aku pria normal, Letta.” Keevan menyambar gelas berkaki tinggi di hadapannya, dan menenggaknya kembali winenya hingga tandas. Dia membutuhkan minuman untuk menghilangan pikiran yang muncul di benaknya.

“Kalau begitu lakukan apa yang kamu inginkan, Keevan. Sentuh aku, Keevan. Please.” Arletta berbisik sensual di telinga Keevan.

Keevan mengumpat dalam hati. Dia mana mungkin bisa menolak seorang gadis yang menawarkan tubuh padanya. Keevan Danuarga—pria terkenal di kampus yang selalu berhasil meniduri semua gadis cantik di kampus. Bahkan Keevan tidak mengingat berapa banyak gadis yang berakhir di ranjang dengannya.

Keevan menangkup pipi Arletta dengan sedikit kasar. Jarak di antara keduanya begitu dekat. Bahkan Keevan merasakan hembusan napas lembut Arletta menyentuh bibirnya. “Kamu akan menyesalinya, Letta. Jangan pernah menantangku,” desisnya dengan penuh peringatan.

“Nggak, Keevan.” Arletta menggeleng pelan kepalanya seolah meyakinkan Keevan. “Aku nggak akan menyesali keputusan yang aku ambil.”

Arletta tidak mengerti kenapa dia mengatakan itu. Dia masih sadar ketika mengatakannya. Namun, pengaruh alkohol mendorong Arletta menjadi semakin berani. Selain itu, tatapan mata Keevan selalu mampu memorak-porandakan hati Arletta. Berperawakan tampan, rahang tegas, hidung mancung, kulit putih. Membuat para gadis akan bertekuk lutut pada sosok Keevan.

Arletta menginginkan Keevan. Jauh dari dalam lubuh hatinya, Arletta ingin menjadi miliknya. Apa pun cara akan Arletta lakukan agar Keevan menjadi miliknya.

Keevan menarik tubuh Arletta, dan membenturkannya ke dinding. Dia mengungkung tubuh Arletta, membuat gadis itu tidak bisa bergerak.

“Aku tanya sekali lagi padamu, Arletta. Apa kamu yakin?” Keevan kembali berbisik di telinga Arletta. Dia tahu Arletta masih sadar. Meski pengaruh alkohol begitu terlihat. Tapi Arletta masih mampu berdiri. Artinya gadis itu menyadari apa yang akan dia inginkan.

Arletta terdiam sejenak. Dia menggigit bibir bawahnya ketika mendengar pertanyaan Keevan. Sesaat dia menatap iris mata cokelat milik Keevan yang begitu tajam. Nyatanya tatapan itu selalu tidak mampu Arletta hindari. Tatapan yang selalu melumpuhkan saraf di sekujur tubuhnya. Hingga didetik selanjutnya, Arletta menganggukan kepala sebagai jawaban dia yakin dengan apa yang telah dia putuskan.

Seketika seringai di wajah Keevan terlukis kala Arletta telah memberikan perseyujuan. Lantas pria itu mendekatkan bibirnya, ke telinga Arletta dan berbisik tajam, “Kau sendiri yang mengantarkan dirimu, Letta. Jangan pernah menyesali apa yang kamu putuskan.”

Bab 2

“Astaga, apa yang telah aku lakukan? Aku benar-benar sudah gila. Kenapa aku bisa sampai melakukannya? Bagaimana ini?”

Arletta menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Ingatannya kembali berputar tentang kejadian tadi malam. Sentuhan Keevan, dan tatapan Keevan yang memuja setiap inci tubuhnya selalu muncul dalam benak Arletta.

Kejadian malam itu tidak akan mungkin terlupakan. Bahkan kini Arletta bisa melihat dengan jelas dari pantulan cermin banyaknya bercak kemerahan di dadanya. Sebuah tanda yang telah dibuat oleh Keevan, mengisyaratkan dia telah menjadi milik pria itu. Jika membayangkannnya, sungguh perasaan Arletta sulit digambarkan. Bahagia, sedih, dan takut melebur menjadi satu.

Arletta bahagia karena akhirnya bisa menjadi milik Keevan seutuhnya. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri ada perasaan sedih dan takut. Banyak hal yang muncul di benaknya setelah menyerahkan dirinya pada Keevan.

“Arletta, setelah ini Keevan pasti akan mencintaimu. Dia pasti akan mencintaimu.” Arletta berucap pada dirinya sendiri dan mengatakan itu penuh dengan penuh keyakinan.

Dalam benak Arletta penuh keyakinan akan Keevan membalas perasaannya. Tadi malam Arletta mengingat bagaimana Keevan memuja setiap inci tubuhnya. Dia memang sedikit mabuk, tapi dia melakukannya dengan keadaan sadar.

Arletta memilih mengganti pakaianya, dan melangkah keluar kamar. Waktu menunjukkan pukul delapan pagi, dia sudah terlambat untuk kuliah.

“Selamat pagi, Non,” seorang pelayan menyapa Arletta dengan sopan kala melihat Arletta keluar dari kamar.

“Pagi. Apa kamu melihat Mama dan Papaku?” tanya Arletta seraya menatap sang pelayan.

“Bapak dan ibu sudah berangkat tadi pagi sekali, Non tapi mereka mengatakan sore ini sudah pulang,” jawab sang pelayan memberitahu. “Maaf, Non. Tadi Ibu meminta saya bertanya pada Anda; kenapa Anda tadi malam pulang hingga larut malam?”

Arletta terdiam sejenak mendengar pertanyaan sang pelayan. Tampak Arletta berusaha untuk tenang dan tak panik. “Ah, itu. Tadi malam aku menonton di rumah temanku. Aku sampai lupa waktu,” jawab Arletta dengan senyuman yang dipaksakan. Terpaksa dia harus berbohong. Tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya.

Arletta terpaksa berbohong mengatakan menonton hingga malam. Dia tidak mungkin mengatakan dirinya menghadiri pesta kelulusan Keevan yang diadakan di klub malam. Demi bisa menghadiri pesta kelulusan Keevan, Arletta sampai meminjam kartu identitas milik sepupunya.

Sang pelayan mengangguk paham. “Baik, Non. Nanti saya akan sampaikan pada Ibu Anda. Kalau begitu Anda sarapan dulu sebelum berangkat kuliah.”

“Nggak bisa. Aku sepertinya sarapan di kampus aja. Aku sudah terlambat,” jawab Arletta yang langsung menyambar kunci mobilnya dan berjalan terburu-buru meninggalkan rumah. Dia tidak ingin pelayannya itu banyak bertanya. Dasarnya, Arletta selalu sulit berbohong. Beruntung, kedua orang tua Arletta sering disibukan dengan pekerjaannya. Andai saja pagi ini kedua orang tuanya ada, maka Arletta sudah pasti akan mendapatkan rentetan pertanyaan.

***

Waktu menunjukan pukul dua belas siang, Arletta yang baru saja selesai kelas—dia langsung menuju kantin. Perutnya mulai terasa begitu lapar, karena tadi pagi dia belum sempat sarapan. Namun saat Arletta hendak menuju kantin, langkah Arletta terhenti kala melihat sebuah mobil sport berwarna biru memasuki halaman parkir. Seketika senyum di bibir Arletta terukir melihat mobil itu. Tentu saja Arletta mengenal siapa pemilik mobil sport itu.

“Keevan…”

Arletta berlari, menghampiri mobil sport yang kini sudah terparkir. Namun, tubuh Arletta mematung ketika dia melihat Keevan turun dari mobil bersama dengan Nasha—teman satu angkatannya. Terlebih Keevan memeluk tubuh Nasha, begitu mesra di hadapan banyak orang yang melihat mereka.

“Arletta?” Keevan sedikit terkejut saat Arletta berada di hadapannya.

“K-Keevan, k-kamu—” Arletta menggigit bibir bawahnya, melihat Keevan yang tampak begitu mesra dengan seorang gadis. Dia ingin bertanya tapi begitu banyak orang disekelilingnya yang memperhatikan dirinya.

“Ikut aku.” Keevan langsung menarik tangan Arletta sedikit kasar, menjauh dari orang-orang yang sejak tadu memperhatikan mereka.

“Keevan, tanganku sakit.” Arletta merintih kesakitan saat Keevan mencengkram tangannya dengan erat.

“Ada apa kamu menemuiku?” tanya Keevan seraya melepaskan cengkraman tangannya. Iris mata cokelatnya, menatap dingin Arletta yang berdiri di hadapannya.

“K-kamu dan Nasha memiliki hubungan apa? K-kenapa kalian dekat sekali?” Arletta balik bertanya dengan tatapan mata yang begitu sendu. Tenggorokannya bagaikan tercekat jika dia hanya diam saja.

“Itu bukan urusanmu, Letta. Jangan mencampuri urusanku,” jawab Keevan menekankan dan penuh ketegasan di sana.

“Keevan, tapi kita sudah—”

“Arletta Pradipta, jika kamu berpikir karena kita berhubungan seks dan setelah itu kita menjadi sepasang kekasih, kamu salah besar! Aku nggak pernah terpikir hal itu! Lebih baik kamu pulang dan jangan menggangguku lagi!” seru Keevan dengan tatapan yang mulai menajam.

Mata Arletta berkaca-kaca ketika mendengar ucapan Keevan. Hatinya begitu perih dan hancur bagai sebilah pisau yang tertancap di hatinya. Saat bulir air mata Arletta hendak menetes, dengan cepat Arletta menahannya. “Jadi tadi malam nggak ada artinya sama sekali untuk kamu?” tanyanya dengan suara parau.

Keevan membuang napas kasar. “Just one night stand, Letta. Jangan berlebihan. Kamu tau gimana aku. Aku nggak pernah serius sama perempuan,” jawabnya tegas.

Arletta tidak sanggup lagi menahan bulir air matanya. Harusnya dia tahu, Keevan tidak pernah menginginkannya. Harusnya dia tidak boleh menaruh harapan lebih pada Keevan. Tapi, Arletta tidak pernah mampu menahan dirinya. Dia selalu mencintai Keevan. Tidak peduli apapun yang menghalanginya. Arletta hanya menginginkan Keevan.

“A-apa sama sekali aku nggak pernah penting di hidup kamu, Keevan?” Arletta kembali bertanya dengan suara yang mulai serak, akibat menahan tangisnya.

“Arletta, apa yang terjadi malam itu hanya akan ada di malam itu. Aku harap kamu nggak mikir lebih tentang aku,” ucap Keevan menegaskan kembali. “Sebentar lagi aku akan ke New York. Aku akan melanjutkan sekolah di sana dan meninggalkan Jakarta. Aku harap, kamu lupain semuanya. Termasuk kejadian tadi malam.”

Mata Arletta semakin memerah. Dia terus menggigit bibir bawahnya, menahan tangisnya. “K-kamu akan pergi ke New York?”

“Ya, aku akan melanjutkan S2 di sana,” jawab Keevan dingin.

“Kenapa kamu nggak bilang kalau mau ke New York, Keevan?”

“Bukankah tadi aku sudah mengatakannya?”

“Maksudku sebelumnya, kamu nggak pernah bilang tentang kamu yang ingin melanjutkan S2 di New York.”

“Nggak penting untuk kamu tahu.”

“Itu penting, Keevan! Kamu tau kalau aku cinta sama kamu! Apa pun tentang kamu adalah penting untuk aku!!”

Keevan terdiam mendengar apa yang diucapkan oleh Arletta. Lagi dan lagi Arletta mengungkapkan perasaan padanya. Sejak di awal ospek, Arletta memang terang-terangan mengatakan menyukai dirinya.

Beberapa kali Keevan mengabaikan junior kampusnya ini tetapi Arletta tetap keras kepala. Awalnya Keevan pikir setelah dirinya lulus akan terbebas dari kejaran Arletta. Namun apa yang Keevan pikir salah. Kejadian tadi malam membuat Arletta memiliki pengharapan lebih padanya.

“Pulanglah, aku nggak memiliki waktu untuk bicara.” Keevan tak mengindahkan ungkapan cinta Arletta tadi.

“Kamu nggak punya waktu untuk aku tapi kamu punya waktu untuk Nasha?” tanya Arletta parau dan lemah.

“Sejak awal aku udah bilang jangan berharap sama aku, Letta. Apa yang terjadi tadi malam nggak akan merubah apa pun.” Keevan menjawab dengan tegas dan penuh penekanan.

“Kamu jahat, Keevan!” Air mata Arletta tumpah membasahi pipinya. Dia tidak lagi sanggup menahan air matanya. “Aku benci kamu, Keevan! Aku benci kamu!”

Dengan isak tangis yang kencang, Arletta berlari meninggalkan Keevan yang masih tidak bergeming dari tempatnya. Keevan bungkam saat melihat Arletta menangis. Entah kenapa Keevan merasakan sesuatu di hatinya.

Pertama kalinya Keevan melihat Arletta menangis seperti ini. Ada rasa keinginan Keevan mengejar Arletta, namun dia merasakan kakinya yang memberat hingga tidak bisa mengejar Arletta.

Bab 3

Satu bulan kemudian…

Arletta menatap nanar benda pipih yang ada di tangannya. Sebuah testpack dengan hasil dua garis membuat tubuh Arletta membatu. Dia menggelengkan kepalanya meyakinkan apa yang dia lihat ini salah. Tapi tidak, apa yang dia lihat ini tidaklah salah. Hasil yang tertera di hadapannya sangatlah nyata.

“Tidak, ini tidak mungkin.” Arletta menjatuhkan tubuhnya, bersimpuh di lantai. Bulir air matanya mulai berlinang membasahi pipinya. Dia tampak begitu ketakutan. Dia bahkan tidak tahu harus bagaimana. Saat ini dia mengandung anak Keevan—pria yang jelas-jelas telah membuangnnya layaknya sampah.

Sejak di mana Keevan memintanya untuk tidak lagi mengganggu, Arletta sudah menjauh dari hidup Keevan. Tapi sekarang? Dia harus di hadapakan dengan kenyataan mengandung anak dari pria yang telah membuangnya. Arletta tidak tahu harus bagaimana sekarang, dia tidak mungkin menggugurkan bayi yang ada di kandungannya.

Membunuh bayi yang ada di kandungannya adalah sebuah dosa besar yang tidak akan pernah bisa termaafkan. Arletta tidak mau sampai hal tersebut dia lakukan. Yang salah adalah dirinya, bukan bayi yang ada di kandungannya. Tidak adil jika sampai dirinya harus menggugurkan anaknya yang sama sekali tidak bersalah.

“Arletta keluar kamu!!” Suara teriakan dari luar kamar mandi begitu kencang, sontak membuat Arletta terkejut. Wajah Arletata mulai memucat. Namun Arletta berusaha menguatkan dirinya. Dia menghapus sisa air mata dan menyembunyikan testpack yang ada di tanganya dan melangkah keluar kamar mandi.

“Pa? Ma? Kalian di rumah?” Arletta berusaha bersikap normal, ketika melihat kedua orang tuanya berada di hadapannya. Gadis itu tak ingin sampai kedua orang tuanya tahu bahwa dirinya baru saja selesai menangis.

“Bisa kau jelaskan kenapa benda ini ada di kamarmu?!” Raka—sang ayah—melempar sebuah bungkusan yang dia dapatkan dari kamar Arletta tepat mengenai wajah putrinya itu.

Seketika wajah Arletta kian memucat. Kala melihat sebuah testpack baru yang terbungkus oleh plastik. Dia menelan salivanya susah payah. Arletta lupa untuk menyimpan testpack baru itu. Dia meletakanya di atas meja kamarnya, hingga membuat kedua orang tuanya menemkan testpack itu. Kini Arletta terus menunduk dan tidak berani mengatakan sepatah kata pun pada kedua orang tuanya.

Otak Arletta berusaha mencari sebuah alasan yang tepat, tapi sayangnya otak Arletta seakan blank tidak mampu lagi berpikir jernih. Rasanya Arletta ingin terjun ke jurang lari dari semua masalah yang menyiksa dirinya.

“Jawab Arletta! Kenapa benda itu ada di kamarmu!” teriak Raka begitu menggelegar. Emosi pria paruh baya itu sudah tidak bisa lagi terkendali di kala menemukan testpack di kamar putrinya.

“Pa, tenangkan dirimu,” ujar Melisa yang berusaha membuat suaminya tenang. Meski dia marah dan kecewa, akan tetapi wanita paruh baya itu berusaha untuk menjadi penengah. Jika dirinya ikut menyudutkan Arletta, maka tidak akan membuahkan hasil apa pun. Yang ada malah Arletta semakin terpojok.

“Sayang, bisa kamu jelaskan pada Papa dan Mama. Kenapa benda itu ada di kamarmu?” Melisa mendekat kea rah Arletta, berusaha membujuk putrinya agar menceritakan padanya. Nadanya pelan, hangat, dan penuh kelembutan. Jauh dari dalam lubuk hatinya terdalam, dia ingin Arletta mengatakan bahwa semua ini hanyalah bohong.

“A-aku—” Arletta menggigit bibir bawahnya. Dia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan pada kedua orang tuanya. Hingga perlahan bulir air matanya menetes, tidak mampu membendung di kelopak matanya.

“Kau hamil, Arletta?! Apa itu benar?!” bentak Raka penuh emosi yang membakarnya.

Arletta terisak dan mengangguk merespon ucapan Raka. Gadis itu sudah berada di posisi terjepit. Tidak ada lagi yang bisa dia katakan selalin kejujuran. Sekeras apa pun dirinya berusaha untuk menutupi, pasti akan sia-sia. Pasalnya, ayahnya sudah menemukan testpack miliknya.

Raka memejamkan mata frustrasi. Sedangkan Melisa tak henti meneteskan air mata. Pasangan suami istri itu begitu hancur dan kacau mendengar putri mereka ternyata tengah hamil di luar pernikahan.

“Siapa ayah dari kandunganmu!” Raka nyaris beteriak saat mengatakan itu.

“Maaf, Pa.” Dengan mata yang memerah, Arletta menatap sang ayah yang menatap tajam dirinya. Tak ada kata yang dia bisa katakan. Hanya permintaan maaf yang bisa dia ucapkan saat ini. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi.

Plakkkk

Sebuah tamparan mendarat di pipi putih Arletta, hingga membuatnya tersungkur di lantai. Sudut bibir Arletta serta hidungnya mengeluarkan darah akibat tamparan keras itu.

“Pa!” Melisa langsung menahan lengan Raka saat suaminya itu hendak kembali memukul putri mereka. “Pa, jangan seperti ini! Tenangkan dirim.” Melisa berusaha menenangkan sang suami. Pasalnya kekerasan hanyalah sia-sia. Tidak akan berdampak apa pun.

“Jawab aku, Arletta! Siapa ayah dari kandunganmu!” seru Raka meninggikan suaranya. Nadanya terdengar putus asa. Tapi pria paruh baya itu tidak akan puas, sebelum dirinya tahu siapa bajingan yang berani menghamili putrinya.

“P-pacar aku, Pa.” Arletta hanya mengatakan itu. Dia tidak tahu bagaimana harus mengatakan pada keluarganya. Jika dia bilang ayah dari kandungannya adalah Keevan, itu pun percuma. Karena Keevan akan segera meninggalkan Jakarta. Arletta yakin, jika Keevan mengetahui kehamilannya, pria itu akan memintanya membunuh bayi yang ada di kandungannya. Tidak! Arletta tidak mungkin membiarkan hal itu terjadi.

Raka meremas rambutnya dengan kasar. Wajahnya tampak begitu frustrasi. Dia merasa gagal sebagai ayah, tidak bisa menjaga putri tunggalnya dengan baik. Melisa yang mendengar pengakuan putrinya, dia terus meneteskan air matanya.

“Gugurkan bayi itu! Aku tidak peduli siapa ayah dari bayi yang ada di kandunganmu!” seru Raka dengan tatapan yang menatap tajam putrinya.

“Nggak, Pa. Aku tidak mungkin membunuh kandunganku,” ucap Arletta dengan isak tangisnya. Dia menatap ayahnya penuh dengan permohonan.

“Arletta Pradipta! Aku bilang gugurkan kandunganmu!” bentak Raka keras.

“Pa, jangan seperti itu. Kasihan, Arletta,” ucap Melisa yang tidak tega melihat keadaan putrinya.

“Diam! Jangan membelanya!” seru Raka menatap tajam sang istri yang sejak tadi terus menerus membela Arletta.

Arletta menghapus air matanya, berusaha untuk menguatkan diri. Detik selanjutnya, dia mendekat ke arah ayahnya dan berkata tegas, “Arletta nggak akan gugurin! Meski Papa memaksa, aku nggak mungkin membunuh bayi yang ada di kandunganku. Bayi ini sama sekali nggak bersalah, Pa.”

“Kamu—” Raka hendak melayangkan tamparan ke pipi putrinya. Dan Arletta langsung memejamkan matanya kala melihat ayahnya ingin melayangkan tamparan. Namun, Raka menghempaskan tangannya, dia memukul dinding dengan keras meluapkan kemarahannya.

“Jika kamu nggak menggugurkan kandunganmu! Lebih baik kamu angkat kaki dari sini!” teriak Raka yang langsung meninggalkan Arletta. Raut wajahnya tampak begitu kecewa dan putus asa bercampur dengan amarah yang menjadi.

Tangis Arletta pecah mendengar ucapan ayahnya. Dia tahu dirinya telah membuat keluarganya malu. Sudah sepatasnya ayahnya memintanya pergi.

“Sayang, jangan dengarkan Papamu,” ucap Melisa seraya memeluk erat putrinya. “Mama yakin, Papa akan segera memaafkanmu.”

“Ma,” Arletta menatap Melisa penuh dengan mata yang memerah. “Apa yang Papa bilang benar. Kalau aku masih di sini. Aku akan membuat kalian malu. Biarkan aku pergi dari sini, Ma. Aku akan membesarkan anakku sendiri. Maaf telah membuat kalian malu atas apa yang aku perbuat.”

***

Keevan menatap tiket pesawat yang ada di tangannya. Hari ini adalah hari keberangkatannya ke New York. Dia akan melanjutkan S2 di sana. Harusnya dia senang karena bisa keluar dari Jakarta.

Namun, entah kenapa pikirannya tertuju pada Arletta. Gadis itu berhasil mengusik pikirannya. Biasanya Keevan selalu mendapatkan telepon ataupun pesan dari Arletta setiap harinya.

Tapi sekarang? Dia tidak menerima satupun pesan atau telepon dari Arletta.Terakhir Keevan bertemu dengan Arletta saat di kampus. Tepat di mana dia meminta Arletta untuk tidak lagi mengganggu hidupnya. Dan di sana, pertama kalinya Keevan melihat Arletta menangis.

“Den Keevan, apa kita berangkat sekarang?” tanya Wisnu—sang sopir—yang menghampiri Keevan.

Keevan belum menjawab. Raut wajahnya terlihat memikirkan sesuatu. Hingga didetik selanjutnya Keevan mengganggukan kepalanya, lalu dia masuk ke dalam mobil. Wisnu langsung memasukan koper Keevan ke dalam bagasi. Tak berselang lama, mobil Keevan mulai berjalan meninggalkan area parkiran rumah.

“Den Keevan, beberapa hari lalu saya melihat rumah keluarga Non Arletta dijual. Pantas saja saya sudah lama tidak melihat Non Arletta, ternyata keluarga Non Arletta sepertinya tidak lagi tinggal di Jakarta,” ujar Wisnu yang tengah melajukan mobil. Sontak, Keevan terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Wisnu.

“Keluarga Arletta pindah? Pindah ke mana?” tanya Keevan dengan wajah yang begitu ingin tahu. Pria itu sama sekali tidak tahu kalau Arletta pindah.

“Saya kurang tahu, Den. Terakhir pembantu di sana hanya mengatakan Keluarga Non Arletta sudah meninggalkan Jakarta,” jawab Wisnu memberitahu.

Keevan terdiam. Rasa penasaran menyelimuti dirinya. Terakhir Arletta tidak mengatakan apa pun padanya. Gadis itu bahkan tidak bilang akan meninggalkan Jakarta. Padahal sebelumnya, Keevan mengatakan pada Arletta akan melanjutkan pendidikan S2 di New York.

‘Shit!’ Keevan mengumpat dalam hati. Harusnya dia tidak perlu memikirkan gadis itu. Tapi kenapa sekarang dia harus memikirkan gadis itu? Keevan benar-benar membenci di mana dirinya harus memikirkan gadis yang selalu mengganggu kehidupanya itu.

“Wisnu, apa kita masih punya waktu untuk mampir ke satu tempat?” tanya Keevan dengan raut wajah yang serius.

“Maaf, Den. Pesawat Anda sebentar lagi. Saya hanya takut Anda terlambat. Dan jalanan pun hari ini kebetulan sedang macet,” jawab Wisni memberi saran.

Keevan mengembuskan napas kasar seraya memejamkan mata singkat. “Ya sudah, tidak perlu putar balik. Teruskan saja ke bandara.”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED