Bab 2

Minggu pagi. . .

Andin pamit pulang kerumahnya, mengajak kedua anaknya. Mengendarai motor matic yang biasa dibawa kerja suaminya. Menerobos melewati jalanan sempit, jalan pintas yang tak dilalui mobil-mobil besar seperti container. Jalan yang biasa dilewati Radit dan Dini. Memilih jalan pintas adalah ide yang benar, mengingat Andin yang tak lincah mengendarai motor.

Baru melaju beberapa meter, Radit dan Dini merengek minta jajan. Andin merogoh saku celananya, beruntung ada uang selembar berwarna ungu. Uang yang sengaja ia bawa, takut jika kehabisan bensin dijalan.

Menstater maticnya kembali, sebelum benar-benar menekan gas digenggamannya, Andin ingat kakaknya Rania. Rumah Rania berada tak jauh dari warung ini. Memutar stang motor, sebelum berangkat Andin juga akan berpamitan pada Rania. Saudara kandung Andin satu-satunya.

"Loh Bun, kok belok?" Protes Radit yang sadar jika laju motornya berbalik arah.

"Iya, kerumah uwak dulu ya sebentar." Jelas Andin.

Terlihat Rania sedang duduk di teras rumah bersama Angga suaminya. Berdiri dari duduknya saat tahu Adik dan Keponakannya datang.

"Eh. Anak uwak tumben main minta anter Bunda?" Rania menggendong Dini dan menciuminya.

Rania belum dikaruniai seorang anak, wajar jika ia dan suami begitu menyayangi kedua keponakannya itu. Andin menyetandarkan motor maticnya. Menyusul kedua anaknya yang lebih dulu berlari ke uwak nya.

"Ini dari rumah Ibu mbak, semalem aku dan anak-anak nginep disana." Jelas Andin

Rania mengangguk, menurunkan sibungsu. "Rendy kemana kok nggak ikut?"

Andin tersenyum tipis, mengingat Rendy yang sedang reuni tanpa keluarga nya. "Mas Rendy reuni mbak, mungkin nanti siang pulangnya, tadi dijemput mas Tono." Tak bilang jika Rendy sebenarnya menginap di pantai, takut jika Kakaknya marah.

Rania mempersilahkan Andin masuk. Angga sudah di dalam, terlihat ia menyetel kan televisi dan mengambilkan beberapa camilan untuk keponakannya. Andin menyampaikan maksud kedatangannya. Rania memanggil Angga untuk ngobrol bersama

Ketiganya duduk diruang tamu. Andin membuka obrolan. "Mbak, aku kesini mau pamit, nanti jam tiga aku mau berangkat ke Jakarta, ikut Mbak Wati." Andin menjelaskan alasannya merantau ke Jakarta. Salah satunya karena keuangan Rendy yang tak mencukupi.

Rania terkejut dengan penjelasan Adiknya. Angga sama terkejutnya. Menurut Angga ada yang tak beres dengan suami iparnya itu. Ia yang sama pegawai negeri seperti Rendy, tahu betul gaji yang diterima setiap bulannya. Meski ia bekerja di instansi yang berbeda.

"Kamu yakin mau pergi dek? Gimana nanti dengan Radit dan Dini?" Rani bertanya. Matanya sudah berkaca-kaca. Adik satu-satunya yang ia sayangi harus berjuang demi rumah tangganya. Jelas Rania tak tega.

"Gimana ceritanya gaji Rendy nggak cukup, Rendy itu pegawai negeri lho dek, harusnya kalo cuma untuk ngidupin kalian bertiga itu sangat cukup, untuk sekolah anak-anak harusnya juga ada, nanti biar Kakak yang tanyakan ke Rendy dek.! Kamu jangan berangkat dulu." Jelas Angga panjang lebar.

Andin mulai panik, saat melihat perubahan wajah kedua Kakaknya. "Nggak usah Kak, mungkin mas Rendy kasih ke adiknya yang mengurus bapak yang udah keluar masuk rumah sakit. Aku nggak papa Kak, Mbak."

Andin menunduk menahan matanya yang terasa panas. Andin beruntung memiliki ipar yang menyayanginya seperti adik sendiri.

Niatnya sudah bulat, Andin tak akan mengubah keputusannya. Berharap semuanya akan baik-baik saja. Andin tak melihat gelagat aneh dari suaminya. Andin begitu mempercayai Rendy. Bagi Andin, suaminya adalah lelaki terbaik setelah Ayahnya.

Andin pamit pulang, Rania memeluknya erat. Menangisi kepedihan Adiknya

"Aku pulang dulu ya Mbak, titip Radit dan Dini ya Mbak nanti kalo aku udah berangkat." Ucap Andin.

Radit dan Dini sudah menunggunya dimotor. Andin melangkah keluar rumah, Rania menahan tangan adiknya.

"Tunggu," ucap Rania tertahan. Mengambil benda pipih yang ada dimeja ruang tamu, membukanya mengambil benda kecil di dalamnya. Memberikan telepon pintarnya pada Andin. Rania tahu jika Andin tak memiliki benda pipih yang digilai manusia diabad ini.

Andin tercengang. "Apa ini mbak?" Tanyanya pada Rania.

"Ini kamu bawa aja, biar mbak bisa ngubungin kamu, ntar kamu belikan nomor baru ya, setelah itu kamu kirimkan pesan ke Kak Angga, biar Kak Angga simpan nomor kamu.!"

Ingin menolak, tapi Andin menyadari jika benda satu ini sangat penting, sedang ia tak memiliki nya. "Terus Mbak pake apa?"

Rania mengelus lembut lengan adiknya. "Ntar biar Mbak. . . " Belum selesai Rania menjawab, Angga lebih dulu menyahut.

"Udah bawa aja, ntar Mbak Rani biar Kakak belikan lagi. Dan jangan berpikir untuk menggantinya." Tegas Angga.

Andin kembali memeluk Kakaknya. Air mata yang susah payah ia tahan sejak tadi, akhirnya lolos juga. Hingga Andin tergugu.

Melajukan motor maticnya menuju rumah, tak lupa ia mampir ke sebuah conter untuk membeli nomor baru. Merogoh saku celana, ternyata tak ada apapun disana. Teringat jika tadi Dini diberi selembar uang berwarna biru oleh Rania. Andin meminjamnya, berjanji akan menggantinya nanti.

Sampai pelataran rumah jam sepuluh pagi, terlihat pintu masih tertutup rapat, lampu teras juga masih menyala. "Apa mas Rendy belum pulang ya.?" Batinnya.

Gelisah saat jam terus berputar, sedang Rendy tak kunjung pulang. Andin bolak-balik keluar masuk rumah. Menunggu kepulangan suaminya. Sampai ia teringat sesuatu.

"Ah iya, diponsel Mbak Rania pasti ada nomor mas Rendy." Gumamnya berbicara dengan angin.

Andin menghidupkan ponsel pemberian Rania. Mencari nomor suaminya. Setelah ketemu ia menekannya. Menuliskan sebuah kalimat

[ Mas, kok belum pulang? Andin ]

Pesan terkirim, tanda centang dua berwarna biru.

"Sepertinya sudah dibaca." Jawabnya sendiri.

"Mas sudah di depan dek." Teriak Rendy dari luar.

Tersenyum sendiri saat mendengar suara Rendy dari balik pintu. Rendy menjelaskan keterlambatannya pulang, dengan mudahnya Andin percaya semua yang Rendy katakan.

Terlebih Rendy pulang membawa buah tangan untuk Andin dan kedua anaknya.

Bahagia sebuah keluarga adalah berkumpul dan bercanda tawa bersama.

Jam setengah tiga, Andin diantarkan Rendy menuju halte bus, bersama dengan Wati yang diantarkan oleh adiknya. Sebelumnya Andi terlebih dahulu menitipkan Radit dan Dini tempat neneknya. Hatinya masih nyeri, teringat bagaimana tadi si bungsu meronta tak mau ditinggalkan. Ibu mana yang tega melihat anaknya menangisi perpisahannya dengan sang Ibu. Ibu mana yang tega meninggalkan anaknya tanpa alasan. Begitu pilu.

Bus berwarna biru tujuan Jakarta sudah siap jalan. Andin dan Wati penumpang terakhir. Pamit pada suami tercinta, mencium tangannya. Berbalik melangkah memasuki bus. Andin melambaikan tangannya. Rendy masih setia menunggu keberangkatan bus yang ditumpangi istrinya. Sampai tak terlihat lagi.

Andin mengelap ingus yang menetes dari hidungnya, air matanya enggan berhenti. Jauh berbeda dengan Wati yang sama sekali tak nampak kesedihan diraut wajahnya. Mungkin karena Wati sudah biasa. Wati mengelus punggung Andin, memberinya banyak wejangan. Baginya Andin sudah seperti saudara.

"Udah ndin, namanya pertama pisah sama anak ya gitu. Sedih itu sudah pasti, tapi kalo kamu nangis terus begini, anakmu di rumah akan gelisah." Ucap Wati lembut, mencoba menenangkan temannya ini.

Tak menanggapi, Andin membuang pandangannya ke kaca jendela. Melihat lalu lalang mobil disana, tapi ingatannya hanya pada kedua anak yang ditinggalkannya.

"Ya Tuhan, jagalah suami dan kedua anakku." Ucapnya dalam hati, mencoba tenang dan kuat.

Bab 3

Andin dan Wati tiba di Jakarta sebelum waktu subuh. Wati mengajak Andin untuk singgah sementara di yayasan sejahtera penyalur baby sitter dan asisten rumah tangga.

Yayasan yang terkenal baik dan bertanggung jawab. Wati juga bekerja melalui jalur yayasan ini, yang ia yakini perlindungannya. Jika dulu, sebelum Wati dikirim ke majikan, ia menjalani kursus selama tiga bulan. Khusus untuk Andin karena ia masuk dengan orang yang dipercaya pemilik yayasan, sehingga ia tak perlu menjalani kursus ataupun masa training kerja.

Wati mengenalkan Andin pada Bu Gito pemilik yayasan. Bu Gito sedikit mewawancarai Andin. Andin juga diminta memberikan kartu identitasnya. Menulis lembar formulir sebagai bukti formal bahwa Andin dikirim dari yayasan sejahtera milik Bu Gito.

Setelahnya, Bu Gito mempersilahkan Andin untuk istirahat. Ia juga menyampaikan jika nanti jam sembilan majikan Andin akan datang menjemput. Bu Gito membekali Andin dengan sedikit pengetahuan. Tujuannya agar begitu orangnya datang dan mewawancarai Andin, tak ada keraguan lagi. Dan berharap jika orangnya nanti akan langsung cocok dengan Andin.

"Terimakasih Bu, kalau begitu saya ke Mbak Wati dulu." Pamit Andin pada Bu Gito.

Andin sangat bersyukur memiliki teman sekaligus tetangga sebaik Mbak Wati. Rela menjaminkan dirinya untuk Andin. Ia juga senang, karena pemilik yayasan begitu baik dan ramah.

Mbak Wati keluar dari dapur, membawa dua cangkir teh hangat. "Duduk dulu Ndin, pasti kami lelah, ini diminum dulu." Memberikan secangkir teh pada Andin.

Andin menerimanya, mendudukkan pantatnya di sofa. Teh masih mengeluarkan uap, Andin meniupnya, menyesap sedikit lalu menaruhnya di atas meja. Menyandarkan tubuhnya ke sofa, lelah merayapinya.

"Mbak Wati dijemput majikan jam berapa?" Tanya Andin.

Wati menyipitkan matanya, tampak mengingat.

"Kayaknya besok, majikanku masih di kampung hari ini. Oya, kamu sudah kabarin suami belum?" Wati mengingatkan Andin yang belum terlihat memegang ponselnya.

"Belum Mbak, baru kabarin Mbak Rani. Nanti ajalah kalo udah dirumah majikan. Kira-kira aku nanti kerja Art atau Baby sitter ya Mbak?

Wati mengulas senyum. "Art ndin, kata Ibu orangnya udah cukup umur tapi masih sehat. Jadi kerjaan kamu nggak terlalu berat." Jelas Wati.

Andin mengangguk paham. Ia mengambil ponsel di dalam tasnya. Menghidupkannya, berselancar di galerinya. Ada banyak poto Radit dan Dini disana. Rania memang sering sekali mengambil poto kedua ponakannya.

Ada rindu yang tiba-tiba menelusup ke hatinya. Belum juga dua puluh empat jam, rasanya sudah begitu menyesakkan. Bagaimana jika nanti ia tak diijinkan mengambil cuti, bagaimana jika harus menahan rindu yang sangat lama dengan buah hatinya. Pikirannya berkelana, kembali memasukkan ponsel kedalam tasnya. Mencoba memejamkan mata, mengistirahatkan pikirannya, hingga lelap membawanya ke alam mimpi.

* * *

"Ndin bangun, Andin bangun." Wati menggoyangkan tubuh Andin. Memukulnya pelan, karena Andin sulit dibangunkan.

Andin mengerjap pelan, menyesuaikan matanya dengan cahaya sekitarnya. Menguceknya, masih terasa ngantuk, meski ia sudah tidur selama tiga jam.

Wati hanya geleng-geleng melihat kelakuan Andin. Meski sudah memiliki dua orang anak, tapi Andin masih terlihat seperti bocah.

Wati meminta Andin membersihkan diri sebelum calon majikannya sampai. Karena tadi calon majikan Andin sudah menghubungi pemilik yayasan jika mereka sudah di jalan. Andin menurut, tanpa banyak tanya. Sepertinya nyawanya belum terkumpul.

"Brakk. . .aduh." Andin meringis kesakitan. Memegangi keningnya yang membentur lemari kayu.

"Bangun dulu ndin, buka dulu matamu." Cibir Wati sambil terkikik.

Ditempat lain.

Siang menjelang sore, Rendy pulang dari kantor. Menggunakan motornya melaju membelah keramaian jalan raya. Banyak kendaraan membuat laju motornya melamban. Jam pulang kerja seringkali begini. Rendy melajukan motornya menuju kampung sebelah.

Membunyikan klakson saat sampai dihalaman rumah sederhana bercat putih. Seorang wanita paruh baya membukakan pintu, tersenyum sumringah pada lelaki muda yang kini berjalan mendekatinya. Mencium tangan, menanyakan kabar layaknya seorang anak memberi perhatian pada orangtuanya.

Wanita paruh baya tersebut mempersilahkan Rendy masuk ke dalam rumah. Langsung menuju ruang tengah dimana disana ada sebuah meja makan.

"Nak Rendy makan dulu ya, pasti laper kan pulang kerja. Apalagi Andin malah pergi kerja. Ayu juga masih keluar, belanja di warung cik Yun. Katanya mau masak untuk Radit dan Dini." Ucap wanita itu.

Rendy mengangguk, tersenyum. Kemudian mulai mengambil piring, mengisinya dengan nasi. Membuka tudung saji yang masih menutup itu. Tersenyum kembali saat tahu menu yang tersaji adalah lauk dan sayur kesukaannya.

Dengan tiba-tiba sebuah kecupan mendarat di pipi kirinya. Kaget, saat merasakan benda kenyal dipipinya. Sampai tersedak makanan yang akan ia telan.

"Uhuk. .Uhuk.." Rendy memegangi dadanya.

Ayu panik, segera ia tuangkan air minum ke dalam gelas, memberikannya pada Rendy yang terlihat kesakitan.

"Maaf mas, aku ngagetin, nggak tau kalo mas lagi makan." Ucapnya dengan wajah memelas.

Alasan konyol. Bisa-bisanya ia bilang tak melihat Rendy sedang makan, piring di depan Rendy masih tampak jelas meski dari belakang. Ayu sengaja mencari kesempatan untuk mencium Rendy.

Ayu mengelus punggung Rendy, menarik kursi di sampingnya.

"Gimana mas, udah enakan?? Tanyanya dengan nada yang membuat bulu kuduk meremang.

Rendy mengulas senyum, mengelus pipi mulus wanita di sampingnya. Mengangguk lalu melanjutkan makannya kembali.

Ayu kembali berdiri, bergelayut manja pada Rendy. Ijin ke dapur membuatkan fried chicken spesial untuk Radit dan Dini.

Selesai makan, Rendy menghampiri Ayu yang sedang berkutat dengan tepung dan ayam.

Widi yang merupakan Ibunda Ayu, memanggil Rendy. Memintanya duduk kembali dikursi meja makan.

"Andin jadi berangkat ke Jakarta?" Tanya Widi memulai percakapan.

"Jadi buk, kemarin sore berangkat. Ini tadi udah kirim pesan katanya udah di rumah majikan." Rendy menjelaskan.

Raut wajah wanita tua itu berubah serius, tanpa basa-basi Widi menyampaikan semua uneg-uneg nya.

"Oh syukur kalo gitu, jadi kapan nak Rendy akan menikahi Ayu? Selain hubungan kalian yang sudah cukup untuk mengenal satu sama lain, kasihan juga Radit dan Dini kan? Bukankah nak Rendy kerepotan harus mengurus anak sendirian? Lebih cepat sah akan lebih baik kan nak?" Terdengar sebuah pertanyaan juga pernyataan keinginan yang penuh penekanan.

Rahayu Widuri, gadis berusia 21tahun yang menjalin hubungan terlarang dengan suami orang. Ayu bahkan rela dimadu dan berkata jika ia akan menggantikan Andin mengurus kedua anaknya. Widi sang Ibu pun merestui keduanya.

Rendy manggut-manggut tanda setuju dengan wanita paruh baya di depannya.

"Rendy akan nikahi Ayu dua bulan lagi buk, 2 bulan ini susah untuk mengambil cuti."

Ayu yang diam-diam mendengarkan percakapan Rendy dan Ibunya, senyum-senyum penuh kebahagiaan. Hatinya terasa sejuk bagai disiram lemon lime.

Bahkan ia lupa, jika ada wanita yang akan terluka. Mungkin Tuhan sedang mengujinya dengan bisikan set*n.

Atau ia memang wanita m*****n, yang tak punya hati dan perasaan. Sejauh manakah hubungan yang sudah mereka jalin, hingga berani memastikan rencana pernikahan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED