Bab 1

"Apakah ini pertama kalinya bagimu?"

Napas pria itu menyapu telinga Rossa Bramantia, membuat tulang punggungnya merinding, tetapi dia tidak berani membuka matanya.

"Santailah. Aku tidak akan menyakitimu," ucap pria itu dengan suara serak.

Sebelum Rossa bisa menjawab, pria itu mencubit dagunya dan menciumnya dengan paksa.

Sakit!

Rasa sakit yang merobek membuat pikirannya kosong sejenak.

Setelah tengah malam, pria itu melepaskannya dan pergi ke kamar mandi. Begitu dia pergi, Rossa menyeret tubuhnya yang pegal linu turun dari ranjang, mengenakan pakaiannya, dan berjalan keluar dari kamar.

Tiba-tiba, suara ponselnya yang berdering menembus kesunyian malam.

Rossa melihat ponselnya, dan matanya melebar panik saat itu juga. Tanpa membuang waktu, dia bergegas ke rumah sakit.

Merasa tak berdaya dan sedih, Rossa memohon pada dokter di sela isak tangisnya, "Tolong ... tolong selamatkan ibu dan adik laki-lakiku ...." Rossa menandatangani namanya di sebuah dokumen, dan menyerahkannya pada sang dokter dengan tangan yang gemetar.

Dokter itu menatapnya dan menghela napas. "Tidak ada yang bisa kami lakukan untuk menyelamatkan adikmu. Dia telah meninggal semalam. Aku turut berduka cita!"

Kata-kata dokter itu menghantamnya seperti petir di siang bolong. Karena begitu terkejut, kepala Rossa tiba-tiba berputar sangat hebat.

Lututnya kehilangan kekuatan, dan dia ambruk di lantai.

Delapan tahun yang lalu, ketika dia berusia sepuluh tahun, ayahnya yang berselingkuh mengirim dia dan ibunya yang sedang hamil ke luar negeri untuk mencampakkan mereka di sana. Keduanya tidak punya pilihan selain berjuang sendiri untuk bertahan hidup di tanah asing.

Kemudian, adik laki-lakinya lahir, tetapi ketika anak itu berusia tiga tahun, dia didiagnosis menderita autisme. Dia dan ibunya bekerja paruh waktu di mana-mana untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi kecelakaan mobil yang tiba-tiba membuat situasi mereka semakin buruk.

Tidak sanggup menahan penderitaan yang begitu berat, Rossa kehilangan kesadaran.

"Nona? Nona! Perawat! Siapkan penyelamatan darurat ...."

Sebulan kemudian.

Membawa sekantong makanan, Rossa melihat ke angka-angka yang dilewati ketika lift naik ke lantai yang ditujunya.

Dia menghela napas. Kondisi ibunya membaik setelah mendapatkan perawatan. Namun, ketika beliau mendengar bahwa putranya tidak berhasil diselamatkan, wanita itu menjadi depresi dan kehilangan banyak berat badan.

Ting!

Rossa menarik napas dalam-dalam, lalu berjalan ke pintu bangsal ibunya. Sebelum masuk, dia mendengar seseorang berbicara di dalam.

"Jelita, kamu dan Nyonya Wahid adalah teman baik. Kalian sudah setuju untuk menikahkan anak kalian berdua. Jadi, putrimu-lah yang seharusnya menikah dengan Keluarga Wahid ...."

"Apa maksudmu, Peter Bramantia?!" Jelita Maharani memelototi pria yang berdiri di kaki ranjang rumah sakit.

Pria itu adalah orang yang telah mencampakkan dirinya ketika dia sedang hamil dan putri mereka di tempat asing. Selama delapan tahun, dia tidak pernah memeriksa keadaan mereka sekali pun. Begitu dia muncul di hadapan mereka, dia berani meminta Rossa untuk menikah dengan seorang pria yang tak dikenalnya!

"Dia anak tertua dari sahabatmu. Wajahnya cukup tampan. Kamu juga sudah tahu bagaimana keadaan Keluarga Wahid. Rossa pasti akan menjalani kehidupan yang makmur setelah menikah dengan keluarga mereka ...." Suara Peter melemah sebelum dia selesai berbicara.

Tuan Wahid memang pria kaya dan tampan, tetapi baru-baru ini dia menjadi cacat. Sebulan yang lalu, dia pergi ke luar negeri untuk melakukan bisnis dan digigit ular berbisa. Racun dari ular itu melumpuhkan saraf-saraf di tubuhnya, membuatnya lumpuh dari pinggang ke bawah.

Jika Rossa menikah dengannya, kehidupan pernikahannya akan dingin dan hampa.

"Aku akan menikah dengannya."

Tiba-tiba, pintu terbuka dan Rossa melenggang masuk sambil mencengkeram kantong makanannya dengan erat. "Aku akan menikah, tapi dengan satu syarat."

Peter melihat ke arah pintu dan tertegun sejenak. Dia tidak pernah bertemu Rossa selama delapan tahun terakhir.

Gadis ini telah tumbuh banyak. Kulitnya putih dan bercahaya, tetapi dia terlalu kurus seperti kekurangan gizi. Di matanya, dia tidak secantik putri bungsunya.

"Syarat apa?" tanya Peter sambil mengerutkan kening.

"Ibu dan aku akan kembali ke dalam negeri, dan kamu harus mengembalikan semua harta miliknya. Setelahnya, aku akan menikah dengan pria itu." Saat dia berbicara, Rossa mengepalkan tinjunya begitu erat sampai kuku-kuku jarinya menancap di telapak tangannya.

"Rossa ...." Jelita ingin membujuk putrinya.

Rossa telah melalui banyak penderitaan bersamanya. Dia tidak bisa hanya berdiam diri dan melihat putrinya dipaksa menikah seperti ini.

Mendengar Jelita seperti akan membujuknya, Peter khawatir Rossa akan berubah pikiran, jadi dia dengan cepat berkata, "Oke, oke. Selama kamu berjanji untuk menikah dengannya, aku akan membawa kalian kembali."

"Dan harta ibuku?"

Melihat Peter ragu-ragu, Rossa mencibir dengan dingin.

"Aku yakin bahwa adik perempuanku sangat cantik dan pantas mendapatkan suami yang lebih baik. Jika dia menikah dengan seorang pria cacat, seluruh hidupnya akan berakhir. Lagi pula, kamu dan ibuku telah bercerai. Sudah seharusnya kamu mengembalikan semua uang yang ibuku bawa ketika menikah dengan Keluarga Bramantia."

Mendengar ini, Peter merasa bersalah dan menghindari kontak mata dengan Rossa.

Akhirnya, Peter menggertakkan gigi dan memutuskan untuk menuruti syaratnya. "Aku akan mengembalikannya setelah kamu menikahi Tuan Wahid."

Putri bungsunya sangat cantik. Bagaimana dia bisa membiarkannya menikahi pria itu dan menyia-nyiakan potensinya?

Memikirkan hal ini, Peter merasa sedikit lega karena berhasil menjauhkan putri bungsunya dari kemalangan itu.

Akan tetapi, perasaan bencinya terhadap Rossa semakin bertambah. Gadis itu tidak hanya berlidah tajam, tetapi juga serakah akan uangnya.

Peter menatapnya dengan dingin. "Rupanya ibumu tidak membesarkanmu dengan baik. Kamu tidak mengerti sopan santun sama sekali!"

Rossa hanya memutar matanya ke atas dan tidak berniat untuk membalas ucapannya.

Dia terlalu lemah dan tidak berdaya sekarang. Dia tidak bisa mengambil risiko dengan menyinggung Peter.

"Kemasi barang-barang kalian. Kita akan berangkat besok." Tanpa menunggu jawaban, Peter berbalik dan keluar dari bangsal dengan marah.

Bab 2

"Rossa, pernikahan bukanlah hal yang main-main. Aku tidak bisa membiarkanmu melakukan ini." Jelita menatap putrinya dengan cemas.

Rossa meletakkan makanan yang dibawanya di meja samping ranjang dan berkata, "Bu, aku bukannya akan menikah dengan orang asing. Dia putra dari teman lama Ibu, kan?"

"Temanku sudah lama meninggal. Aku belum pernah bertemu dengan putranya. Bahkan jika aku harus melanggar janjiku padanya, aku tidak bisa membiarkanmu melakukan ini. Aku ingin kamu menikah dengan orang yang kamu cintai. Kamu seharusnya tidak menggunakan pernikahan ini sebagai alat tawar-menawar. Aku lebih suka tinggal di negara ini selama sisa hidupku." Jelita meraih tangannya sambil berbicara dengan tulus.

Seseorang yang dicintainya?

Bahkan jika Rossa bertemu pria yang tepat di masa depan, dia takut dia tidak pantas untuknya.

Dia menundukkan kepalanya dengan pahit. Tidak masalah dengan siapa dia menikah. Yang penting baginya adalah mengambil kembali semua yang pernah menjadi milik mereka.

Tidak dapat mengubah pikiran Rossa, Jelita mulai mengemasi barang-barangnya dan kembali ke dalam negeri bersama putrinya itu keesokan harinya.

Peter tidak ingin Jelita dan Rossa tinggal bersama keluarganya, jadi dia menyuruh mereka untuk menyewa sebuah apartemen.

Rossa tidak mempermasalahkannya. Dia juga tidak ingin melihat istri dan anak perempuan Peter.

Sementara itu, Jelita masih diliputi kekhawatiran. "Rossa, meskipun akulah yang menjanjikan pernikahan ini pada teman lamaku, Peter tidak akan membiarkanmu menikah dengan Keluarga Wahid jika dia berpikir bahwa pernikahan ini adalah hal yang baik."

Rossa tidak ingin membicarakan ini lagi, jadi dia dengan cepat mengubah topik pembicaraan. "Bu, Ibu harus makan sesuatu."

Melihat reaksi putrinya, Jelita hanya bisa menghela napas.

Rossa memegang sendok, dan ketika dia hendak mengambil makanan, dia tiba-tiba ingin muntah.

"Apa kamu sakit? Wajahmu terlihat sangat pucat," ucap Jelita yang khawatir.

"Aku baik-baik saja. Mungkin hanya lelah karena penerbangan yang lama. Aku akan kembali ke kamarku dulu."

Rossa tidak ingin ibunya mengkhawatirkannya, jadi dia membuat alasan yang sederhana.

Tanpa memberi Jelita kesempatan untuk mengatakan apa-apa, dia bergegas ke kamarnya dan menutup pintu. Segera setelahnya, dia merasa ingin muntah lagi.

Sudah lebih dari sebulan berlalu sejak malam itu. Menstruasinya juga terlambat sepuluh hari. Ini hanya bisa berarti satu hal ....

Rossa segera menggelengkan kepalanya, tidak berani berpikir lebih jauh.

Keesokan harinya, Rossa memeriksakan diri di rumah sakit.

"Kamu hamil enam minggu."

Rossa meninggalkan rumah sakit dalam keadaan linglung, ucapan sang dokter masih terngiang-ngiang di kepalanya.

Dia melihat ke bawah, dan tidak bisa menahan diri untuk meletakkan tangannya di perutnya. Meskipun terkejut dan bahkan sedikit malu, dia merasa enggan untuk menggugurkan kandungannya.

Mungkin inilah yang disebut naluri keibuan karena dia merasa senang menanti kehadiran seorang anak.

Sebelum memasuki apartemen, Rossa dengan hati-hati menyelipkan laporan USG-nya.

Begitu dia membuka pintu, ekspresinya menjadi muram.

"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya pada Peter yang sedang duduk di ruang tamu. "Ini belum hari pernikahan."

"Beraninya kamu berbicara dengan ayahmu seperti itu?"

Peter sudah menunggu selama dua jam dan dia menjadi gusar. Pertanyaan kasar Rossa akhirnya memicu amarahnya.

"Ganti pakaianmu," teriaknya kesal.

Rossa mengerutkan kening. "Kenapa?"

"Kita akan menemui calon suamimu." Peter menatapnya dari atas ke bawah. "Apakah kamu benar-benar ingin dia melihatmu dengan pakaian lusuh seperti itu? Apa kamu sengaja ingin mempermalukanku?"

"Jika aku kaya, kamu pikir aku akan mengenakan pakaian seperti ini? Jika aku kaya, apa adik laki-lakiku akan meninggal di rumah sakit karena terlambat mendapatkan perawatan? Sebagai seorang ayah, kamu seharusnya tahu persis bahwa aku tidak kaya, bukan?"

Rossa menggertakkan gigi dan mengepalkan tinjunya, tidak mampu menahan amarahnya.

Peter tampak sedikit malu dan terbatuk canggung. "Kita bicarakan ini nanti. Ayo pergi. Keluarga Wahid akan segera tiba. Kita tidak bisa membuat mereka menunggu."

"Rossa, aku sudah kehilangan seorang putra. Aku hanya ingin kamu menjalani kehidupan yang baik. Uang tidaklah penting bagiku." Jelita berdiri di depan Rossa, masih berusaha meyakinkannya.

"Bu, jangan khawatir. Aku tahu apa yang kulakukan." Rossa memberinya tatapan meyakinkan dan kemudian memeluknya.

"Ayo cepat!" bentak Peter tidak sabar. Dia takut Rossa akan berubah pikiran jika mereka semakin lama berada di sini, jadi dia menariknya.

Perhentian pertama mereka adalah sebuah toko pakaian wanita kelas atas.

Begitu mereka memasuki toko, seorang asisten toko menyambut kedatangan mereka. Peter mendorong Rossa ke depan dan berkata, "Berikan dia satu set pakaian yang layak."

Asisten toko mengamati sosok Rossa dengan cermat dan kemudian mengangguk. "Silakan ikuti saya, Nona."

Asisten toko pergi untuk mengambil gaun biru muda dari salah satu rak dan menyerahkannya pada Rossa. "Gaun ini terlihat bagus untuk Anda. Bagaimana kalau Anda mencobanya di kamar ganti?"

Rossa mengambilnya dan berjalan ke arah yang ditunjuk oleh sang asisten toko.

"Laskar, apa kamu benar-benar harus menikahi wanita dari Keluarga Bramantia itu?" Terdengar suara seorang wanita yang diwarnai dengan nada mengeluh.

Hal itu membuat Rossa refleks berhenti dan melihat ke kamar ganti sebelah. Melalui celah antara pintu dan kusennya, dia bisa melihat seorang wanita sedang memeluk leher seorang pria, cemberut. "Jika kamu menikahinya, bagaimana denganku?"

Laskar Wahid merasa kasihan pada wanita dalam pelukannya. Dengan suara rendah, dia bertanya, "Apa kamu kesakitan malam itu?"

Lebih dari sebulan yang lalu, dia pergi ke luar negeri untuk memeriksa sebuah proyek. Namun, dia digigit ular berbisa di sana. Racunnya begitu kuat, dan memberikan efek peningkatan hasrat seksual yang tak terkendali. Jika dia tidak melampiaskan hasratnya pada seorang wanita, dia bisa mati karena rasa panasnya.

Sonia Bustami-lah yang menyelamatkannya malam itu.

Wanita itu kesakitan, tetapi dia tidak berani mengeluarkan suara. Dia hanya menanggungnya, gemetar dalam pelukannya.

Laskar tahu bahwa Sonia mencintainya, tetapi dia tidak pernah memberinya kesempatan.

Alasan yang pertama adalah dia tidak mencintainya. Sementara alasan yang kedua adalah ibunya telah mengatur sebuah pertunangan untuknya sejak lama.

Sonia adalah sekretarisnya selama bertahun-tahun, dan dia selalu melakukan pekerjaan dengan sangat baik.

Setelah apa yang terjadi pada malam itu, dia merasa harus bertanggung jawab untuk menikahi wanita ini.

Bersandar di dada Laskar, Sonia menunduk dan cemberut malu-malu.

Dia mencintai Laskar, tetapi dia sudah tidak perawan lagi. Dia tidak bisa membiarkan pria ini mengetahui rahasianya, jadi dia menggunakan tipu daya malam itu.

"Jika ada sesuatu yang kamu suka, belilah," ucap Laskar dengan lembut.

"Itu kamar ganti VIP, Nona. Anda tidak bisa masuk ke sana. Silakan pergi ke kamar ganti di sebelah kanan," ucap asisten toko pada Rossa, menyadarkannya dari pikirannya.

"Oh, baiklah." Rossa mengalihkan wajahnya dengan cepat dan melangkah ke kamar ganti yang ada di sebelah kanan.

Saat dia berganti pakaian, dia tidak bisa berhenti memikirkan percakapan antara pria dan wanita di kamar ganti VIP tadi. Mereka sepertinya sedang membicarakan Keluarga Bramantia.

Apakah pria itu ...?

Bab 3

Setelah berganti pakaian, Rossa keluar dari kamar ganti dan melihat ke kamar ganti di sebelah kirinya, tetapi pintu kamar itu sudah tertutup.

"Gaunnya sangat cocok dengan temperamen Anda," puji sang asisten toko.

Ketika Peter melihat Rossa dalam gaun biru muda, dia mengangguk setuju dan pergi untuk membayar. Dia tak menyangka bahwa gaun itu berharga lebih dari enam puluh juta rupiah. Akan tetapi, ketika memikirkan gadis ini akan menemui Keluarga Wahid, dia hanya bisa menggertakkan gigi dan membayar tagihan. "Ayo pergi," ucapnya dingin.

Menundukkan kepalanya, Rossa mengikuti pria itu masuk ke dalam mobil.

Mobil memasuki kompleks dengan vila-vila yang indah.

Ketika mobil berhenti di depan sebuah vila yang megah, Rossa tersenyum sinis.

Sementara dia dan ibunya harus banting tulang di luar negeri karena kondisi adik laki-lakinya, ayah dan simpanannya hidup bahagia di vila besar ini.

"Kenapa kamu hanya berdiri di sana?" Peter melihat ke belakang dan bertanya dengan tidak sabar.

Rossa tersadar dari lamunannya dan bergegas mengikutinya.

Seorang pelayan mendekat dan berkata bahwa Keluarga Wahid belum datang, jadi Peter menyuruh Rossa untuk menunggu di ruang tamu.

Di sebelah jendela Perancis, masih ada piano lamanya yang indah. Itu adalah merek Jerman yang terkenal dan harganya sangat mahal. Ibunya membelikan piano itu pada hari ulang tahunnya yang kelima.

Dia suka bermain piano ketika dia masih kecil. Namun, sejak dia dikirim ke negara asing itu, dia tidak pernah menyentuh piano itu lagi.

Rossa tidak bisa menahan diri untuk tidak mengulurkan tangannya dan menekan sebuah tuts. Suara yang merdu dan jernih keluar dari alat musik itu.

Nostalgia yang muncul sedikit menghangatkan hati Rossa.

"Siapa yang memberimu izin untuk menyentuh pianoku?!" Suara yang terdengar marah datang dari belakangnya.

Rossa berbalik dengan acuh tak acuh.

Mungkin gadis ini adalah saudari tirinya. Benar saja, dia mewarisi kecantikan ibunya.

Akan tetapi, saat ini, wajah cantiknya berkerut karena amarah dan kebencian saat dia memelototi Rossa.

"Pianomu?" Mata Rossa berkilat dingin.

Orang-orang di keluarga ini telah menghancurkan pernikahan ibunya dan menikmati semua hal yang seharusnya menjadi milik ibunya. Sekarang, gadis ini bahkan berani mengaku bahwa piano ini adalah miliknya.

"Kamu ... kamu adalah Rossa!" Tina Bramantia mengerucutkan bibirnya.

Tina masih ingat penampilan menyedihkan Rossa yang waktu itu berusia sepuluh tahun, berlutut memohon pada Peter untuk tidak mengirim mereka pergi.

"Apa kamu senang karena Ayah membawamu kembali?" Sambil menyilangkan tangan di depan dada, Tina memandang Rossa dengan jijik. "Aku tidak akan berharap banyak jika aku jadi kamu. Satu-satunya alasan mengapa Ayah membawamu kembali adalah untuk menikahkanmu dengan Keluarga Wahid. Dan pria yang akan kamu nikahi ...."

Tina menutup mulutnya dan mencibir.

Pernikahan sama sekali bukan masalah sepele. Bukankah hidupnya akan hancur jika dia menikah dengan pria seperti itu?

Rossa mengerutkan kening dalam-dalam.

"Tuan, Keluarga Wahid sudah datang," ucap seorang pelayan yang tiba-tiba masuk.

Peter bergegas keluar untuk menyambut mereka secara langsung.

Rossa juga berdiri dan menunggu mereka masuk. Tak lama kemudian, seorang pria di kursi roda didorong ke ruang keluarga.

Melihatnya, kedua mata Rossa terbuka lebar-lebar.

Bukankah ini pria yang dilihatnya di kamar ganti?

Dia adalah Tuan Wahid?!

Akan tetapi, saat di toko tadi, dia melihat dengan jelas bahwa pria ini bisa berdiri sendiri. Dia bahkan memeluk wanita yang sedang bersamanya tanpa kesulitan.

Apa yang sebenarnya terjadi?

"Rossa, kemari. Biar aku memperkenalkanmu pada Tuan Wahid."

Peter mendorong Rossa ke hadapan Laskar dan berkata dengan senyum yang menyanjung, "Tuan Wahid, ini putriku, Rossa."

Sambil mengerutkan kening, Laskar memandang Rossa dari atas ke bawah.

Sebelum ibunya meninggal, dia selalu membicarakan tentang pertunangan antara dirinya dan putri dari Keluarga Bramantia. Dia tidak berani melawan keinginan ibunya. Jadi, setelah digigit ular sewaktu melakukan perjalanan bisnis, dia sengaja menyebarkan berita bohong tentang dia yang menjadi impoten dengan harapan Keluarga Bramantia akan membatalkan pertunangan ini.

Laskar tetap bungkam. Semakin lama dia menatap Rossa, semakin suram ekspresinya. Peter mengira bahwa Laskar tidak puas dengan penampilan putrinya, jadi dia dengan cepat berkata, "Dia masih muda, baru berusia delapan belas tahun. Aku yakin dia akan menjadi cantik ketika dewasa nanti."

Laskar kemudian tersenyum penuh arti. "Ketika aku melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri, aku mengalami kecelakaan. Bahkan sekarang, untuk berjalan saja aku tidak bisa, apalagi memuaskan istriku."

"Aku tidak keberatan," jawab Rossa tanpa menunggu sedetik pun.

Peter telah berjanji padanya bahwa selama dia menikah dengan Keluarga Wahid, dia akan mengembalikan semua properti milik ibunya. Bahkan jika dia harus diceraikan setelah hari pernikahan mereka, dia masih akan menyetujui pernikahan ini.

Rossa dengan cepat mengetahui apa yang ada di benak Laskar.

Alasan Laskar datang ke Keluarga Bramantia dengan kursi roda adalah karena dia ingin Keluarga Bramantia membatalkan pertunangan mereka. Dia melakukan semua ini untuk menikahi wanita yang dilihat Rossa di toko pakaian.

Namun, Laskar tidak menyangka bahwa Peter rela mengorbankan Rossa untuk memenuhi janji antara dua keluarga ini.

Laskar menyipitkan matanya pada Rossa.

Rossa bisa merasakan hawa dingin mulai menjalari tulang punggungnya karena tatapan pria itu. Dia menggigit bibir bawahnya, menahan perasaan pahitnya. Dia melakukan ini bukan karena ingin menikah dengan Keluarga Wahid juga.

Akan tetapi, jika dia mundur sekarang, bagaimana dia bisa mendapatkan kembali apa yang menjadi milik ibunya?

Akhirnya, dia memaksakan sebuah senyum. Tidak ada yang tahu betapa keras perjuangannya. "Kita sudah bertunangan sejak masih anak-anak. Tidak peduli apa pun keadaanmu sekarang, aku tetap harus menikahimu."

Mata Laskar menjadi muram. Wanita ini ternyata pintar berbicara.

Peter tidak menyadari ada yang aneh dengan keduanya dan berdeham. "Mengenai tanggal pernikahan ...."

Sambil menatap wajah pucat Rossa, Laskar berkata, "Pernikahan akan berjalan sesuai dengan perjanjian."

Rossa menundukkan kepala untuk menyembunyikan emosinya. Dia tidak berani menatap pria ini. Jelas terlihat bahwa dia juga tidak senang dengan perjodohan ini.

"Tolong bimbing dan bantu Rossa di masa depan," ucap Peter sambil tersenyum tulus.

Dia merasa sangat gembira. Dia berhasil menikahkan putrinya yang biasa saja ke dalam Keluarga Wahid.

Kemudian, Peter membungkuk sedikit dan berkata dengan sopan, "Aku sudah meminta juru masak kami untuk menyiapkan makan malam untukmu. Silakan makan malam bersama kami sebelum kamu pergi, Tuan Wahid."

"Tidak, terima kasih. Ada urusan yang harus kutangani." Laskar menolak undangan makan malamnya tanpa ragu.

Asisten Laskar, Tanto Wirawan, memutar kursi rodanya untuk pergi. Saat melewati Rossa, Laskar mengangkat tangannya untuk memberi isyarat pada Tanto agar berhenti.

Laskar menatap Rossa dan bertanya, "Apa kamu punya waktu sekarang, Nona Bramantia?"

Meskipun pertanyaan itu terdengar biasa saja, Rossa bisa merasakan nada mendominasi yang kuat darinya.

Jadi, dia mengangguk. Sepertinya pria ini ingin mengatakan sesuatu padanya.

Rossa juga memiliki sesuatu untuk dikatakan padanya.

Peter segera melirik Rossa dan mendesis, "Jaga perilakumu."

Rossa pura-pura tidak mendengarnya dan mengikuti Tanto keluar.

Ketika mereka sendirian, Laskar memutar kursi rodanya dan menatap Rossa. "Kamu ingin menikah denganku meskipun aku cacat? Ternyata Nona Bramantia bukan wanita yang pilih-pilih. Memangnya apa yang kamu lihat dalam diriku? Apakah uangku? Pasti itu. Kamu ingin hidup kaya raya sebagai istri Keluarga Wahid, bukan?"

Kepala Rossa terasa kesemutan di bawah tatapan tajamnya. Dia memasang ekspresi tenang dan membalas, "Lalu bagaimana denganmu? Mengapa kamu berpura-pura lumpuh?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED