"Midori, kamu tidak takut 'kan tidur sendirian? Kamu dan Posei soalnya sudah besar, jadi tidak boleh tidur berdua lagi," ujar Deasy pada puteri cantiknya yang sudah beranjak dewasa.
Tahun ini Midori dan saudara kembarnya Poseidon berusia 18 tahun menuju 19 tahun. Deasy melahirkan kembar fraternal seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Keduanya bermata biru dan berambut cokelat seperti dirinya. Genetik keluarga Carson memang sangat kuat, moyang Deasy berasal asli dari Australia, berambut cokelat kemerahan dan bermata biru.
Deasy menikah dengan Leeray, orang Indonesia berdarah oriental yang berasal dari klan Indrajaya, konglomerat di bidang properti yang berpusat di Jakarta.
Asal-usul nama kedua anak kembar itu sebenarnya karena kegemaran orang tuanya yang saling memuja satu sama lain. Leeray menganggap Deasy sebagai Aphrodite-nya sementara Deasy menganggap Leeray sebagai Poseidon-nya. Jadilah kedua anak kembar itu mendapat kedua nama dewa-dewi Yunani itu.
"Tenanglah, Mam. Midori sudah gede, mana mungkin takut tidur sendiri. Lagipula Posei nyebelin, dia kalau bobo suka mengigau ... berisik banget!" ujar Midori sambil memakai yukata warna hijau muda bergambar bunga sakura yang cantik.
"Cantiknya anak mami," puji Deasy ketika melihat anak gadisnya mengenakan yukata.
Midori mencepol rambut panjang bergelombangnya yang berwarna coklat kemerahan itu dengan sekenanya. Mereka sekeluarga akan berendam siang menjelang sore ini di onsen, pemandian air panas yang ada di hotel tempat mereka bermalam.
"Anak siapa dulu dong ...," sahut Midori sembari meringis ke cermin menatap maminya dari bayangan cermin.
Deasy pun merangkul puterinya yang cantik itu dan mengamati wajahnya dan juga puterinya di cermin. Begitu mirip, batinnya. Poseidon juga mirip dengannya. Sepertinya genetiknya telah mengalahkan genetik suaminya dan mendominasi dalam tampilan fisik kedua anak mereka.
Ngomong-ngomong mengenai mengalahkan, sejak berpacaran dengan Leeray memang Deasy selalu bandel dan membuat suaminya itu kerepotan. Untungnya suaminya penyabar dan memang usia mereka terpaut 15 tahun, jadi suaminya benar-benar 'ngemong' pada dirinya.
"Yuk kita berangkat sekarang ke onsen, Mam," ajak Midori sambil membawa handuk dan sling bag-nya yang berisi ponsel, dompet, dan earphone bluetooth.
Mereka berdua berpapasan dengan Papi Leeray dan Poseidon yang juga mengenakan yukata.
"Hey, Posei, kau tidur di kamar nomor berapa?" tanya Midori seraya merangkul saudara kembarnya itu.
"Di kamar nomor 5, samping kamar papi mami. Kamarmu terpisah sendiri, Mi. Beneran nggak mau tukeran kamar? Kan serem tuh sendirian bobo malem, siapa tahu ada hantu Sadako lewat. Hiiiiyyy ...," jawab Poseidon sembari menakut-nakuti Midori.
Midori pun menjewer telinga kembarannya itu. "Bandel ya, malah nakut-nakutin aku!" seru Midori gemas.
Poseidon pun mencebik sambil mengusap-usap telinganya yang pedih karena dijewer oleh Midori. "Aahh selera humormu payah, Mi!" tukasnya.
"Habisnya kamu yang mulai duluan!" balas Midori tidak mau kalah.
Leeray pun merangkul kedua anaknya sembari berjalan di antara Midori dan Poseidon. "Udah jangan kelahi melulu kayak Tom and Jery aja kalian. Libur dong kelahinya ...," ucap Leeray.
"Hubby, kenapa aku ditinggalin sendiri!" protes Deasy di belakang mereka bertiga.
"Uups ada yang ngambek, Kidds. Papi nemenin mami kalian ya, seram kalau ngambek soalnya. Kalian berhenti kelahi, oke?" ujar Leeray kemudian merangkul bahu Deasy sembari melepas senyum manisnya pada istri kecilnya itu.
Wajah Deasy pun merona, efek senyuman suaminya itu masih sama selama belasan tahun tidak berubah, membuat jantungnya aritmia. 'Poseidon-nya' itu sangat tampan mirip artis Korea, Song Seung Heon.
Onsen di penginapan Togetsutei, tempat mereka bermalam cukup ramai. Biasanya onsen pukul 12.00-15.00 memang dibuka untuk umum.
Tempat berendam pria dan wanita terpisah, jadi mereka berempat terpisah menjadi 2 rombongan.
***
Dari seberang onsen, Kenzo Watanabe berendam sembari mengamati seorang gadis berkebangsaan asing yang sedang berendam bersama ibunya sepertinya karena wajah mereka mirip hanya saja berbeda usia.
Uap air panas onsen itu membuat pipi gadis itu merona seperti bunga cherry, membuat wajah gadis itu tampak begitu manis. Kenzo tak bosan-bosan memandanginya dari kejauhan. Sesekali senyum manis dan tawa ceria terlepas dari bibir si gadis ketika berbincang dengan ibunya.
"Hey, Kenzo! Melamun sendirian di sini ...," tegur Shinichi Honda, sahabat kentalnya yang datang bersamanya ke Kyoto untuk berlibur.
"Hey, Shin ..., yang lain dimana?" balas Kenzo sembari masih mencuri-curi pandang ke arah gadis bule itu.
Shinichi mengikuti kemana arah mata sobatnya itu memandang. Dia pun tersenyum paham, sepertinya sobatnya itu naksir gadis berambut cokelat kemerahan di seberang kolam pemandian air panas itu.
"Jadi si rambut cokelat itu yang membuatmu bengong seperti kesambet setan, Ken?" canda Shinichi.
Kenzo pun tersadar bahwa dirinya terpergok oleh Shinichi sedang mengamati gadis bule itu. "Eehh oohh ... itu ... ahh sudahlah," ucap Kenzo terbata-bata dan bingung mau menghindar.
"Bukannya kamu sudah dijodohkan dengan Ayumi Tokugawa sih, Ken?" tanya Shinichi mengingatkan sobatnya itu.
Kenzo pun murung mendengar perkataan sobatnya itu. Dia tidak memiliki ketertarikan maupun perasaan khusus pada Ayumi. Itu murni perjodohan yang diatur oleh orang tua mereka.
"Hmmm maafkan aku, Bro. Sepertinya aku membuat perasaanmu mendadak mendung," ucap Shinichi merasa bersalah, dia bersandar di tepi kolam bersebelahan dengan Kenzo. Dia pun memandang ke langit sore yang cerah berhiaskan awan putih yang seperti gumpalan cotton candy.
Kenzo mendesah lelah sembari berkata, "Kau tidak salah, Shin. Namun, ada kalanya aku merasa terkutuk dilahirkan di tengah keluarga bangsawan yang kolot. Itu sangat melukai harga diriku, kau tahu? Perjodohan yang tidak masuk akal, apakah cinta tidak ada artinya bagi para tetua adat?"
"Jangan tanyakan itu padaku, Ken. Kau tahu sendiri, aku pun mengalami hal yang sama denganmu. Hanya saja, kita berbeda ... aku menumbuhkan perasaan cintaku pada gadis yang dijodohkan denganku. Dia gadis yang cantik dan cerdas, juga baik hati ... aku menyukai Hikari," tutur Shinichi sembari memainkan air hangat di sekitar tubuhnya berendam.
"Ohh sebentar, Shin. Kurasa aku akan mencoba berkenalan dengan gadis itu ...," ucap Kenzo sembari keluar dari kolam air panas itu lalu segera mengenakan yukata.
Gadis itu sedang berjalan masuk kembali ke penginapan. Kenzo bergegas mengejarnya dan tiba-tiba gadis itu tergelincir di lantai penginapan yang basah karena air kolam.
"AAAARRGGHHHH!" teriak gadis itu ketika akan mencium lantai.
Namun, Kenzo segera menarik tubuh gadis itu ke arahnya dan membuat mereka berdua terkapar di lantai dengan posisi tubuh gadis itu menimpanya.
Kepala Kenzo terbentur lantai dan dia merasa agak berkunang-kunang. Tetapi, dia senang karena berhasil mencuri sebuah ciuman dari bibir gadis cantik itu.
'Oohh rasanya seperti apel dan strawberry,' batin Kenzo. 'Kenapa enak sekali, hangat dan kenyal? Ya Tuhan, rasanya begitu memabukkan!' seru Kenzo dalam hatinya sembari melumat bibir itu dan tidak ingin melepaskannya.
Sementara Midori merasa begitu syok akibat tergelincir di lantai yang licin tadi ditambah menimpa tubuh laki-laki asing yang tidak dia kenal. Dan ... laki-laki itu begitu kurang ajar melumat bibirnya tanpa ampun. Astaga! Who's the hell this guy?! maki Midori dalam hatinya.
Midori pun menarik-narik bibirnya dari pagutan laki-laki itu yang seperti vacum cleaner. Ohh gosh! Menyebalkan sekali!
Akhirnya laki-laki yang sepertinya berkebangsaan Jepang itu pun melepaskan bibirnya yang sudah kebas dan bengkak akibat perbuatan laki-laki gila itu. Midori menata napasnya yang kacau balau.
"Hello, Sir! How dare you crush my lips such like that?!" amuk Midori sembari bangkit berdiri dari atas tubuh laki-laki itu. Dia bersedekap merajuk.
Kenzo yang mengerti bahasa Inggris pun merasa wajahnya panas merona karena malu. Sepertinya dia telah memberikan kesan pertama yang begitu buruk pada gadis cantik itu. Namun, bibir itu sungguh membuatnya kecanduan akan ciuman. Dia bahkan merasa kurang dan ingin lagi.
"Oohh I'm so sorry, Miss. I think I have gone too far," ucap Kenzo dengan nada bersalah. Dia pun mengulurkan tangan kanannya. "My name is Kenzo Watanabe, may I know your name?"
Midori menjabat tangan Kenzo seraya menjawab, "I am Midori, Aphrodite Midori Indrajaya. And I better go now, Sir ..."
Gadis itu segera melangkah ke arah kamarnya meninggalkan Kenzo yang tampaknya masih syok dan terbengong-bengong di koridor penginapan itu menatap Midori.
"WAIT!"
Gadis itu pun membalikkan badannya menatap Kenzo dengan bingung. 'Apa lagi maunya?' pikir Midori dengan kesal.
Ketika Kenzo ingin berbicara pada Midori, keluarga Midori lewat di situ. Dia pun menahan lidahnya.
Leeray melihat anak gadisnya berhadapan dengan seorang pemuda yang sepertinya berkebangsaan Jepang, dia pun bertanya, "Ada apa, Midori Sayang?"
"Ehh tidak apa-apa, Papi," jawab Midori salah tingkah karena kejadian yang baru saja terjadi antara dirinya dan pemuda itu sungguh memalukan.
Kenzo membungkukkan badannya di hadapan Leeray lalu berkata dalam bahasa Inggris, "Perkenalkan Paman, nama saya Kenzo Watanabe. Tadi Nona Midori terpeleset dan kami tidak sengaja bertabrakan. Maafkan, kelancangan saya."
Gadis itu memandang Kenzo sambil menggigit bibir bawahnya yang masih terasa sedikit kebas sementara mendongkol dalam hatinya. 'Dan kau melumat bibirku habis-habisan. Dasar pria menyebalkan!'
"Oohh, baiklah. Salam kenal, Kenzo. Saya ayah Midori, nama saya Leeray dan ini mamanya Midori, Deasy. Kalau ini saudara kembar Midori, Poseidon," ujar Leeray memperkenalkan anggota keluarganya dan dirinya pada Kenzo.
Kenzo membungkuk ke arah Deasy dan Poseidon seperti tradisi orang Jepang ketika menghormati orang lain di hadapannya. Kemudian dia berujar, "Paman Leeray, apa boleh saya mentraktir makan malam di restoran hotel ini nanti malam pukul 19.00?" Dia melirik ke arah Midori, gadis itu sepertinya masih kesal padanya. 'Tetapi merajuk pun kemolekannya tidak berkurang,' pikir Kenzo sembari tersenyum pada gadis itu.
Midori mengangkat alisnya ketika melihat Kenzo tersenyum kepadanya. Dia membatin, 'Sebenarnya tampangnya not bad lah, tapi ciumannya ganas sekali ... seram!'
"Baiklah, Kenzo. Nanti aku akan mengajak keluargaku makan bersamamu di restoran hotel. Kita ketemu pukul 19.00 ya. Kami permisi dulu." Leeray sedari tadi memperhatikan puterinya dan Kenzo yang saling beradu pandang.
Dia mengenal Midori sejak bayi, tentu dia tahu tatapan kesal dan merajuk puteri kecilnya itu. Ada apa dengan mereka berdua? Pemuda itu pun pemberani menurutnya karena berani mentraktir makan malam. Mereka toh baru berkenalan sekali, bagaimana kalau tamunya memesan makanan dalam jumlah banyak dan menghabiskan uang sakunya.
Keluarga kecil itu pun berlalu dari hadapan Kenzo setelah berpamitan. Midori kembali ke kamarnya sendirian karena kamarnya berada di sisi barat, sementara kamar orang tuanya dan Poseidon berada di sisi timur bangunan hotel itu.
Midori berganti floral dress selutut warna hijau muda dengan motif bunga lily merah muda. Dia duduk di teras kamarnya yang menghadap ke taman sambil menyisir rambutnya yang masih agak basah.
Taman kecil itu ditanami dengan pohon bunga sakura, saat itu sedang musim semi di Jepang jadi pohon itu penuh dengan bunga warna merah muda dan tampak cantik. Aroma wangi bunga sakura yang tertiup angin pun dapat Midori cium dari teras.
Dia memang suka negeri Sakura ini, membuat pikirannya menjadi tenang. Dia sebenarnya adalah seorang gadis yang introvert, sifatnya mirip ayahnya, Leeray. Saudara kembarnya, Poseidon yang temperamennya lebih meledak-ledak seperti maminya, sangat ekspresif dan hobi berkelahi di sekolah.
Setelah selesai menyisir rambut panjangnya, Midori berjalan ke dekat kolam ikan di taman itu. Ternyata ada banyak ikan Koi dan ikan Mas di dalam kolam berair jernih itu. Dia teringat masih menyimpan biskuit kering di tasnya. Midori pun bergegas mengambilnya di kamar lalu kembali ke kolam lagi. Dia meremas biskuit kering itu kemudian menaburkan remukan biskuit itu ke permukaan air kolam.
Ikan-ikan cantik itu berebutan memakan remukan biskuit pemberian Midori sehingga membuat gadis itu cekikikan sendiri.
Dari arah berlawanan dengan Midori jongkok di tepi kolam ikan, pemuda yang tadi menciumnya itu memperhatikan Midori. Dia duduk di atas dinding batu taman sembari tersenyum menatap gadis yang molek itu.
Pemandangan di hadapannya begitu menarik bagaikan lukisan. Kecantikan Midori baginya bagaikan puteri duyung Ariel yang ada di cerita dongeng Disney. Midori dan air adalah perpaduan yang indah nan menenangkan.
Midori merasa seperti ada yang memperhatikannya, dia pun celingak-celinguk mencari apa ada manusia lain selain dirinya di taman yang sepi itu. Akhirnya, matanya bertatapan dengan sepasang mata hitam yang sedang menatap lurus ke arahnya. Midori pun terkesiap dan sontak wajahnya merona. 'Pria itu lagi,' batinnya dengan perasaan galau.
Pria itu mengenakan yukata berwarna biru tua dengan motif burung Phoenix berwarna merah keemasan. Sebenarnya pria itu cukup tampan dan gagah, tetapi seumur hidupnya, Midori telah melihat papinya yang sangat tampan dan gagah. Hal itu sedikit banyak membuat indera penglihatannya menjadi tidak sensitif ketika melihat pria tampan selain papinya.
Lagipula dia tidak tertarik untuk berpacaran, dunia orang dewasa dengan kisah percintaan itu agak sedikit membuatnya pusing ketika memikirkannya. Semua film romantis yang pernah dia lihat selalu menyuguhkan adegan seorang wanita yang menangis karena galau dengan perasaannya pada sang kekasihnya. Dia tidak suka itu. Menangisi orang lain itu melelahkan dan menurutnya agak sedikit ... bodoh.
Kenzo heran dengan sikap Midori yang begitu pendiam. Gadis itu berbeda dengan gadis-gadis seusianya yang Kenzo kenal. Biasanya mereka heboh ketika Kenzo hadir dan mencoba menarik perhatiannya begitu rupa. Si Little Mermaid ini begitu dingin dan seolah mengacuhkannya. 'Apa dia mulai kehilangan pesonanya sebagai seorang pria tampan?' batin Kenzo.
Dia pun turun dari dinding batu taman dengan melompat lalu berjalan mendekati Midori sembari tersenyum berkata, "Hai lagi, Nona Midori. Kau suka ikan ya?"
"Maaf, aku lupa namamu ... Kenji?" ucap Midori menebak nama pria itu yang membuat wajah tampan itu berkerut.
"Kau keterlaluan ... bagaimana bisa melupakan namaku hanya dalam waktu kurang dari 1 jam setelah kita berkenalan?" rajuk Kenzo sembari menatap wajah Midori dari jarak 1 meter.
Kecantikan Midori membuatnya menahan napas sekian detik, mungkin ini yang dinamakan 'breath taking beauty'.
"Karena kau membuatku kesal, jadi aku cenderung melupakan namamu ... katakan lagi siapa namamu?" balas Midori dengan santai seraya meringis.
Setelah melihat gadis itu meringis menggemaskan, Kenzo tidak dapat marah. Dia begitu ingin merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. Tetapi, itu pasti akan membuat gadis itu salah paham dan lebih membencinya, pikirnya.
"Kenzo ... Kenzo Watanabe. Apa kau belum pernah mendengar merk mobil Genoz atau Richter?" ujar Kenzo ingin memberitahu Midori bahwa itu perusahaan milik keluarganya.
Midori menggelengkan kepalanya perlahan sembari menatap Kenzo. "Aku hanya tahu satuan kekuatan gempa bumi diukur dengan Skala Richter," candanya sambil tertawa kecil.
"Gadis cerdas ... sepertinya memang asal-usul nama mobil itu memang karena Skala Richter. Namun, itu merk mobil buatan perusahaanku, Sayang," balas Kenzo memanggil Midori dengan kata 'sayang', dia ingin tahu tanggapan gadis itu.
Ekspresi Midori datar saja seolah tidak peduli. 'Wow! Gadis-gadis yang dia kenal biasanya akan terharu bila dia memanggil mereka dengan kata 'sayang',' batin Kenzo.
"Apa rumahmu di sekitar hotel ini, Kenzo?" tanya Midori dengan penasaran sembari berjalan kembali ke teras kamarnya sementara Kenzo berjalan di sisinya.
"Tidak, rumahku ada di Tokyo. Aku berlibur ke Kyoto bersama teman-teman dekatku. Kami ingin menikmati pemandangan musim semi di sini. Apa kau menyukai Jepang?" jawab Kenzo sembari duduk di lantai kayu di teras kamar Midori.
"Huum ... aku menyukai Jepang, negeri yang indah dan seni budayanya masih begitu kental terasa. Aku suka seni karena mamiku seorang desainer jenius. Dia bahkan mendesain baju-baju pestaku sendiri ketika aku masih kecil," tutur Midori sembari tersenyum ketika membicarakan ibunya.
"Dari mana asalmu, Midori? Ceritakan padaku mengenai keluargamu," pinta Kenzo.
"Aku tinggal di Perth, Australia sejak aku dilahirkan. Namun, darahku mengalir darah Indonesia. Papi dan mamiku tadinya orang Indonesia, mereka lahir di Indonesia, hanya nenek moyang keluarga Carson adalah orang asli Australia, sedangkan keluarga Indrajaya adalah keturunan suku Hokkian. Rumit ya silsilah keluargaku?" Midori tertawa sendiri ketika menceritakan tentang silsilah keluarganya yang memiliki budaya yang bercampur aduk.
Kenzo memperhatikan penjelasan Midori dan senang mendengarnya bercerita. Entah kenapa mendengar suara Midori seperti lagu cinta di telinganya membuat perasaannya berbunga-bunga.
'Sepertinya aku telah jatuh cinta kali ini,' batin Kenzo sembari menatap gadis itu.
Senja pun turun dengan pemandangan langit yang indah di Kyoto. Kenzo melihat matahari tenggelam di cakrawala langit senja berwarna jingga keunguan bersama Midori dari teras kamar tempat gadis itu menginap yang menghadap ke arah barat.
Ini adalah satu hari terindah dalam hidup Kenzo. Menikmati senja bersama bidadari. Ketika dia menoleh ke arah Midori, mereka saling bertatapan. Mata biru Midori bagaikan berlian biru yang begitu indah. Keelokan paras Midori itu membuatnya terpana. Wajah gadis-gadis Asia yang seumur hidup Kenzo lihat seolah tampak begitu biasa bila dibandingkan dengan Midori.
Dia berpikir bagaimana caranya membuat gadis berambut cokelat kemerahan dan bermata biru ini jatuh cinta kepadanya. Dia ingin memiliki Midori sebagai kekasihnya, HARUS!
"Ken ... zo, apa kau tidak ingin bersiap-siap untuk makan malam?" tanya Midori yang sebenarnya ingin mengusir Kenzo secara halus. Dia ingin berbaring sebentar di tempat tidur sebelum waktu makan malam tiba.
Dengan enggan, Kenzo pun berpamitan dengan Midori lalu bangkit untuk kembali ke kamarnya sendiri. Namun, sebelum pergi, dia buru-buru mengecup pipi Midori dan membuat gadis itu terkejut dengan tindakan Kenzo yang tiba-tiba.
"Hey, kenapa menciumku tanpa seizinku?" protes Midori sembari mencebik menatap Kenzo.
Kenzo pun menggaruk-garuk kepalanya sambil meringis. "Apa tidak boleh, Midori? Bukankah orang barat melakukannya ketika bertemu dan berpamitan?" ujarnya beralasan.
"Tapi, kau orang asing bagiku ... bukankah kita baru berkenalan beberapa jam? Kau membuatku takut, Ken ...," ucap Midori jujur.
Kenzo pun meraih tangan Midori dalam genggamannya lalu berlutut di hadapan gadis itu. "Jangan takut padaku, Sayang. Aku bukan pria jahat, sekalipun ini sepertinya terlalu cepat untuk dikatakan ... sesungguhnya aku jatuh hati padamu, Midori," ujar Kenzo sembari menatap wajah Midori.
Gadis itu terperangah karena terkejut mendengar ucapan Kenzo. 'Apa barusan pria ini menembaknya?' batin Midori bingung.
"Maaf, sepertinya aku tidak paham dengan maksud ucapanmu barusan, Kenzo," balas Midori seraya menarik tangannya dari genggaman Kenzo. Namun, berakhir dengan tarik-menarik dengan pria itu.
Midori pun tertawa berderai dan menelengkan kepalanya dengan tatapan tak percaya ke wajah Kenzo. "Well, ayolah jangan konyol. Lepaskan tanganku, Kenzo. Kau kekanak-kanakan!" cerca Midori pada pria di hadapannya itu.
"Aku akan melepaskan tanganmu, Cantik. Tapi sebelumnya, kabulkan permintaanku dulu. Izinkan aku menciummu lagi. Bagaimana?" kata Kenzo dengan percaya diri dan sedikit tak tahu malu.
Midori berpikir keras, dia lelah, pria ini membuang-buang waktu istirahatnya. Mungkin satu ciuman saja bisa mengusir Kenzo. Dia pun menjawab, "Baik, satu ciuman saja lalu kembalilah ke kamarmu sendiri, Kenzo, oke?"
Kenzo pun tersenyum lebar seolah mendapatkan hadiah utama undian berhadiah. "Oke, berdirilah kalau begitu ...," pintanya.
Midori pun berdiri dan tak sempat menyadari ketika Kenzo meraihnya ke dalam dekapannya dan melumat bibirnya 'lagi' seperti tadi sore. Namun, entah kenapa rasa ciuman itu begitu posesif sekaligus membuatnya mendamba ... untuk Kenzo terus menciumnya.
Ketika oksigen dalam otaknya menipis, Kenzo pun mengakhiri ciumannya di bibir Midori. 'Sepertinya gadis itu tadi membalas ciumannya,' batin Kenzo sambil tersenyum puas. Dia menata napasnya yang tak beraturan mengisi oksigen ke dalam otak dan paru-parunya.
"Good bye, Kenzo," ucap Midori melepaskan diri dari dekapan pria itu lalu kabur masuk ke kamarnya dan buru-buru menutup pintu teras kamarnya.
Kenzo tertawa kecil mengetahui gadis incarannya kabur terbirit-birit ke dalam kamarnya. Dia pun bergegas kembali ke kamarnya sendiri. Dia harus menampilkan dirinya dengan baik di hadapan keluarga Midori.
"Tuan Muda," sapa kepala pengawalnya, Yamaguchi.
"Aku butuh bantuanmu, Yamaguchi. Pesankan makan malam untuk 8 orang di restoran hotel ini, aku akan turun pukul 18.50 nanti."
"Siap, Tuan Muda. Saya mohon diri," sahut Yamaguchi lalu segera meninggalkan kamar Kenzo untuk mengatur makan malam sesuai perintah tuan mudanya.
Kenzo mandi sebentar di bawah shower lalu mengenakan setelan jas resminya yang berwarna hitam dengan kemeja putih untuk menghormati tamunya pada makan malam kali ini.
Tak lama kemudian ketiga sahabatnya masuk ke kamarnya dan duduk di ranjang Kenzo. Mereka heran karena Kenzo mengenakan setelan jas rapi seperti itu.
"Ken, kau mau kemana? Tidak kembali ke Tokyo, kan?" tanya Keichiro Yamada, putera pemilik pusat perbelanjaan Suncity di Tokyo dan beberapa kota besar di Jepang seperti Nagoya, Osaka, dan kota lainnya.
"Belum, Kei. Aku akan menjamu calon mertuaku dengan makan malam pukul 19.00 nanti. Kalian bertiga ikutlah mendampingiku." Kenzo menyimpulkan ikatan dasinya yang berwarna merah maroon dengan cekatan dan rapi di kerah kemeja putihnya.
"Apa Tuan Tokugawa datang kemari, Ken?" tanya Shinichi bingung.
"Tsskk bukan calon mertua yang itu, Shin. Ini orang tua gadis berambut cokelat yang tadi siang di onsen. Kau ingat 'kan?" jawab Kenzo sembari mematut-matutkan dirinya di cermin.
Shinichi sontak bengong mendengar jawaban Kenzo lalu dia bangkit dari ranjang meraih bahu sahabatnya itu dan menatapnya sembari berkata, "Sadarlah Kenzo, kau menggali lubang kuburanmu sendiri dengan melakukan hal seperti ini."
"Tsskk biarkan aku memilih jalanku sendiri, Shin ... berulangkali kukatakan, aku tidak menyukai Ayumi. Bahkan hingga kiamat atau Nagasaki Hiroshima dibom lagi pun aku tidak akan menikahinya." Kenzo benar-benar kesal bila Shinichi mengingatkannya mengenai perjodohannya dengan Ayumi Tokugawa.
Dia benci kepribadian gadis itu yang songong dan sering bertindak semaunya sendiri. Intinya gadis manja bukan tipenya, biar gadis itu keturunan kaisar sekalipun.
"Hideo, maafkan aku, tapi aku sungguh-sungguh tidak memiliki perasaan apapun pada sepupumu itu. Kuharap kau tidak tersinggung," ujar Kenzo pada Hideo Tokugawa, sepupu dekat Ayumi.
Hideo hanya tertawa sinis menatap Kenzo. "Aku tidak ikut campur urusan perjodohanmu dengan Ayumi, Ken. Hanya saja kupikir Shinichi benar, tradisi harus dihormati ... aku kuatir kau akan kehilangan segalanya bila menentang perintah tetua adat. Apa kau sudah siap untuk hidup susah, Tuan Muda Watanabe?" ujar Hideo seraya merapikan rambut poninya yang panjang ke belakang.
Mendengar teguran Hideo, Kenzo pun merasa kesal. Namun, sahabatnya yang berusia 3 tahun lebih tua darinya itu memang benar dengan segala ucapannya.
"Aku menghargai perhatianmu, Hideo. Aku akan memikirkannya dengan serius mengenai hal ini. Tapi ... aku serius dengan perasaanku pada gadis berambut cokelat itu, namanya Midori. Kurasa dia telah membuatku jatuh hati," balas Kenzo sembari berdiri di hadapan ketiga sahabatnya itu.
"Apa Midori ini juga membalas perasaanmu, Ken?" tanya Keichiro penasaran, pikirnya tak semudah itu membuat gadis berkebangsaan asing jatuh hati, yang produksi dalam negeri pun kadang sulit.
Kenzo tersenyum pada Keichiro seraya menjawab, "Sayangnya, aku masih berusaha, Kei. Hahaha ... dia tipe gadis yang tak mudah jatuh hati. Atau mungkin juga aku kurang tampan baginya?"
"Kau payah sekali, Kenzo!" seru Keichiro seraya memukul tubuh Kenzo dengan guling.
"Hey hey jangan merusak penampilanku, Kei! Aku akan bertemu calon mertuaku!" seru Kenzo sembari tertawa tergelak bersama ketiga sahabatnya itu.
"Tuan Muda Watanabe sungguh konyol ... kurasa calon mertuamu akan menolakmu malam ini!" ledek Shinichi membantu Keichiro membully sahabat mereka itu.
"Iiisshh ... kalian ini!" desis Kenzo dengan kesal.
"Aku berangkat ke restoran sekarang, kalian nanti nyusul aja ke restoran, aku sudah memesan tempat juga untuk kalian." Kenzo melambaikan tangannya sembari berjalan keluar dari kamar tempatnya menginap.