Fadli dan Sapto menoleh ke belakang mereka. Mereka berdua sangat terkejut ketika melihat seorang pria tengah baya berjalan dengan terhuyung-huyung dan akhirnya terjatuh tak berdaya. Sepertinya dia pingsan.
"Siapa dia?"
"Itu tidak penting. Yang penting kita harus segera menolongnya."
Fatih memberikan Fatihah pada Fadli dan kemudian membawa pria yang pingsan itu ke dalam ruang terapi ruqyah. Beberapa orang sudah menunggu mereka.
"Ada apa, Ust?"
"Kami juga tidak tahu, Ust. Sepertinya pria ini butuh bantuan."
"Apa dia kerasukan?"
"Kita belum tahu, Ust. Kita bangunkan dulu saja."
Semua mematuhi perintah Sapto dan membangunkan pria itu dengan perlahan. Tak perlu waktu lama, sang pria pun membuka matanya dan tersengal. Dia nampak bingung dan memandang berkeliling dengan pandangan liar.
"Mana Sukesi?" tanya pria itu dengan dada naik turun, "mana Sukesi?"
Sapto tersenyum dan mendekati pria itu.
"Mohon maaf kalau boleh tahu, Bapak siapa, njih?" tanya Sapto perlahan.
Pria itu tidak langsung menjawab Sapto. Dia memandang Sapto dari atas ke bawah. Pria itu nampak ragu dan sangsi, sekaligus takut melihat Sapto yang bertubuh tinggi besar dan terlihat mengancam, walaupun wajahnya tersenyum.
"Saya Sasmito, Pak. Saya tadi mengejar Sukesi. Dia masuk ke sini, kan?" tanya pria bernama Sasmito itu dengan suara gemetar. Sekali lagi dia memandang berkeliling dan wajahnya berubah sangat ketakutan.
"Saya melihat Sukesi masuk ke sini! Saya mohon bawa saya ke Sukesi, Pak!"
Fatih tersenyum dan mengelus tangan Sasmito.
"Insya Allah nanti kami carikan Sukesi, Pak. Pak Sasmito tahu bapak di mana?" tanya Fatih perlahan. Sasmito menggeleng.
"Niki ting pundi, Pak? (Ini di mana, Pak?)" Sasmito menjawab dengan pertanyaan pada Fatih.
"Pak Sasmito ada di pesantren ruqyah Karang Pandan, Pak. Bapak dari mana?"
Sasmito mengerutkan keningnya mendengar jawaban Fatih.
"Karang Pandan? Jauh sekali. Saya dari Tintrim, Pak."
Semua terdiam mendengar jawaban Sasmito.
"Wau saking Tintrim nitih nopo, Pak? (Tadi dari Tintrim naik apa, Pak?)" tanya Sapto. Sasmito mengerutkan keningnya.
"Mlayu, Mas. Aku ora ngerti yen aku mlayu nganti Karang Pandan, (Lari, Mas. Aku tidak tahu kalau aku berlari sampai Karang Pandan,)" jawab Sasmito dengan bingung.
Semua orang juga bingung dan berpandangan takut. Berlari tadi kata Sasmito? Bukankah jarak Tintrim ke Karang Pandan itu jauh? Bahkan dengan kendaraan pun perjalanan dari Tintrim ke Karang Pandan membutuhkan waktu dua jam.
"Wau saking Tintrim jam pinten, Pak? (Tadi dari Tintrim jam berapa, Pak?)" tanya Sapto berusaha mencari celah dari pernytaan Sasmito tadi.
"Baru saja, kok. Tadi aku dan Sukesi bertengkar, lalu Sukesi berlari keluar rumah. Aku mengejarnya. Lalu Sukesi masuk ke sini, dan aku ikut masuk ...." Sasmito memandang berkeliling, dia nampak bingung dengan kalimat yang baru saja diucapkannya.
"Makanya aku capek, ya? Sepertinya aku lari dari Tintrim ke Karang Pandan, ya? La terus tadi Sukesi juga lari, kan?" tanya Sasmito dengan tak pasti.
"Sukesi itu siapa, Pak?" tanya Sapto lagi. Perlahan dia meminta Fatih bergeser dan kemudian Sapto menggenggam tangan Sasmito. Bibir Sapto komat kamit membaca taawudz dan Al Fatihah.
Sasmito menoleh ke arah Sapto dan tersenyum samar.
"Sukesi anak saya, Pak. Sukesi bilang dia hamil dengan temannya yang bernama Rendra. Makanya saya memarahi Sukesi dan kemudian Sukesi lari. Saya mengejarnya dan yah, saya sampai di sini. Bapak sedang apa? Baca mantra? Kenapa komat kamit seperti itu?" tanya Sasmito kepada Sapto.
Sapto tersenyum, dia menghentikan bacaannya dan mengelus pundak Sasmito.
"Sukesi itu seperti apa, Pak? Saya bantu carikan ya?" tanya Sapto perlahan dan penuh kasih sayang. Sasmito semringah. Dia mengangguk dan hendak membuka mulutnya ketika seseorang mendekati mereka.
"Saya Sukesi, Ust."
**
Rahman mendekati Fatih yang sedang sarapan. Fatih mendongak dan memandang Rahman dengan heran.
"Kenapa, Man?" tanya Fatih. Rahman tersenyum dan duduk di samping Fatih.
"Aku tadi malam ke kamarmu, karena mendengar suara seorang wanita menyanyikan lagi Jawa, Tih. Aku mengetuk pintu kamarmu dan karena lama tidak dibukakan pintu, aku membuka sendiri pintu kamarmu dan ... dan aku melihat siluet wanita di sana." Rahman pucat mengingat pengalamannya tadi malam, dia ingat bagaimana siluet wanita itu menggenggam tangannya dan nyaris menci umnya, seandainya dia tidak mundur dan menghindar. Ketika Rahman mundur dan keluar dari kamar Fatih seketika siluet hitam itu menghilang begitu saja dan Rahman langsung berlari ke dalam kamarnya.
Fatih membeliak tak percaya mendengar cerita Rahman. Wajah Fatih terlihat sangat tidak suka dengan tindakan Rahman, membuat Rahman agak takut.
"Maaf, ya, Tih. Aku tadi benar-benar penasaran dengan suara-suara aneh dari kamarmu," kata Rahman membela diri, kemudian dia menceritakan pengalamannya bertemu dengan siluet itu. Fatih terdiam. Dia menghentikan sarapannya dan merenung.
"Kamu sering dengar suara apa saja dari kamarku, Man?" tanya Fatih perlahan. Rahman tersenyum.
"Seringnya suara wanita yang sedang nembang atau nyanyi lagu Jawa, Tih. Kadang juga suara gelodak yang cukup keras dan berulang," jawab Rahman, "aku benar-benar minta maaf, ya, Tih."
Fatih tersenyum dan mengangguk. Dia melepas kacamatanya dan mengusap matanya yang nampak lelah.
"Siluet wanita yang kamu lihat tadi adalah jin prewangan atau jin khodam milikku, Man. Namanya Kadita. Dia sering menampakkan diri dalam wujud kuntilanak atau sejenis itu. Aku kurang paham namanya apa, yang pasti dia selalu mengganggu waktu tidurku, waktu bangunku dan sekarang dia juga mengganggu sarapanku. Sudah, Kadita! Jangan ganggu aku lagi!" teriak Fatih sambil memandang ke samping Rahman.
Rahman menelan ludah dan bergeser dari posisi duduknya. Fatih tertawa melihat ketakutan Rahman.
"Kamu sekarang malah duduk tepat di samping Kadita, Man."
**
Semua menoleh ke arah seorang wanita berbaju serba merah yang berdiri di depan para ustadz dan Sasmito. Sasmito menjerit kaget dan berlari ke arah Sukesi.
"Sukesi! Kenapa kamu lari cepat sekali, Ndhuk? Kamu tadi lari dari Tintrim? Mana Rendra?" seru Sasmito terbata. Sukesi tersenyum. Dia merangkul Sasmito dan meminta Sasmito duduk lagi.
"Kesi tidak lari dari Tintrim, Pak." Sukesi tersenyum kepada semua orang yang sepertinya menunggu keterangan darinya.
"Bapak saya sudah lama mengalami gangguan jiwa, Ust. Dia dirawat oleh kakak saya di rumah samping pesantren. Sepertinya bapak berhasil melarikan diri. Saya ke sini juga karena kakak saya menelpon saya dan menanyakan tentang bapak."
Sukesi memandang ke arah bapaknya dengan welas asih. Sebulir air mata mengalir perlahan di pipi Sukesi.
"Bapak pulang, ya, Pak?"
Sasmito menggeleng.
"Jangan bohong Sukesi. Bukankah kakakmu sudah bunuh diri karena Rendra?"
**
Sapto mendekati Sukesi dan Sasmito.
"Mbak Sukesi kerja di sini? Atau belajar di sini?" tanya Sapto. Sukesi memandang ke arah Sapto dengan takut dan buru-buru menunduk. Sukesi mengangguk.
"Njih, Pak. Saya kerja di sini. Di dapur," jawab Sukesi singkat.
"Rumah Mbak Sukesi ada di dekat sini?" tanya Sapto. Sukesi mengangguk lagi.
"Bagaimana kalau Mbak Sukesi menghubungi kakaknya dan meminta menjemput bapak atau ... atau kita antar bersama bapak dan Mbak Sukesi ke pulang ke rumah. Tidak jauh, kan, rumahnya dari sini?"
Sasmito dan Sukesi sama-sama meneriakkan kata tidak mau dengan keras, membuat Sapto --dan orang-orang lainnya-- terlonjak kaget. Sapto tersenyum.
"Jadi siapa di antara bapak dan Mbak Sukesi yang berbohong?" tanya Sapto dengan geli.
Sukesi dan Sasmito berpandangan dengan sengit. Sasmito berdecak.
"Mana Rendra?" tanya Sasmito marah.
"Halah! Bapak sudah tahu kalau Rendra sudah lama mati. Kenapa mesti diungkit-ungkit lagi? Bapak nggak usah berpura-pura berlari-lari dari Tintrim mengejarku. Bapak hanya ingin masuk ke sini dan mencoba aura di sini, kan? Bapak juga ingin bertemu Ustadz Irfan, kan?"
**
Fatih mengembuskan napas panjang. Dia meletakkan tasnya di atas meja di kamar indekosnya dan duduk di tepi ranjang. Fatih berharap tidak ada lagi gangguan dari Kadita malam itu. Dia ingin tidur dengan nyaman dan tenang.
Fatih melepas kacamatanya dan mengusap wajahnya dengan lelah. Ah ... berapa lama dia mengalami gangguan ini? Lima tahun? Sepuluh tahun? Lama sekali yang pasti dan selama itu pula Fatih tidak pernah bisa tidur nyenyak sampai pagi. Pasti ada episode terbangun dan diganggu oleh Kadita atau teman-teman Kadita. Fatih memejamkan mata dan mendesah. Kenapa akhir-akhir ini Kadita selalu membawa teman-temannya untuk mengganggu Fatih? Apa Kadita bosan menjadi jin prewangan Fatih?
Fatih merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan buru-buru bangun lagi, karena teringat dulu Kadita pernah berwujud ular yang melingkar di atas tempat tidurnya dan Fatih menindih ular jadi-jadian ketika dia hendak tidur. Fatih bernapas lega, ketika tidak ada apapun di atas tempat tidurnya. Fatih pun kembali berbaring dan mencoba memejamkan matanya, tetapi tidak bisa. Fatih malah teringat almarhum kakeknya dulu. Mbah Atmo.
Fatih mendesah. Mbah Atmo lah sumber masalah yang dihadapinya sekarang. Mbah Atmo lah yang memberikan Kadita kepada Fatih sebelum meninggal. Fatih ingat dengan jelas bagaimana tangan Mbah Atmo yang sudah keriput dan kurus kering mencengkeram tangan Fatih, hingga tangan Fatih berwarna keputihan.
"Kowe tak wenehi kanca ya, Le? (Kamu kuberi teman, ya, Nak?)"
Saat itu Fatih terlonjak kaget. Dia berusaha melepaskan diri dari kakeknya, tetapi ternyata kakeknya cukup kuat dan tidak memperbolehkan Fatih pergi. Fatih akhirnya menyerah dan hanya bisa pasrah.
"Kamu mau kuberi teman, ya, Tih?" tanya Mbah Atmo lagi. Fatih merinding ketakutan.
"Teman apa, Mbah?" tanya Fatih dengan ragu.
"Teman ya, teman. Teman yang akan menemanimu sampai akhir hayatmu."
Fatih tidak paham apa maksud Mbah Atmo saat itu. Fatih tidak paham apa makna akhir hayat, sehingga Fatih hanya bisa mengangguk. Mbah Atmo tersenyum lega melihat anggukan
Fatih.
"Matur nuwun, ya, Le?" Fatih mengangguk. Mbah Atmo memberikan sebuah bola kecil --seukuran kelereng-- berwarna putih susu pada Fatih.
"Apa ini, Mbah?"
"Ini temanmu. Cepat dimakan!"
Fatih menjengit. Dia memandang bola itu dengan penasaran.
"Dimakan? Rasanya seperti apa, Mbah?" tanya Fatih dengan polos.
"Rasanya seperti permen karet. Cepat makan!" seru Mbah Atmo. Fatih menjengit kaget dan dengan buru-buru dia memasukkan bola kecil itu ke dalam mulutnya.
Mbah Atmo tidak sepenuhnya bohong. Bola kecil itu memang terasa kenyal dan rasanya agak aneh, sedikit pedas dan bola putih itu berbau seperti minyak tanah. Fatih menahan muntah ketika menelan bola kecil itu. Dan anehnya bola kecil itu masuk ke dalam tubuh Fatih dengan mudah dan setelah itu, Fatih merasa segar dan sangat bersemangat. Mbah Atmo tersenyum melihat perubahan pada Fatih.
"Enak, kan?" tanya Mbah Atmo enteng. Fatih mengangguk, karena memang itu yang dirasakannya.
"Nah, nanti temanmu akan berbicara padamu. Jangan takut, ya?"
Fatih memandang ke arah Mbah Atmo dengan bingung, tetapi sayangnya Fatih tidak sempat bertanya pada kakeknya, karena setelah bola putih kecil itu masuk ke dalam tubuh Fatih, Mbah Atmo langsung lemas dan tak sadarkan diri. Setelah itu Mbah Atmo dibawa ke rumah sakit dan dua hari kemudian Mbah Atmo meninggal dunia. Dan sampai sekarang Fatih belum sempat menanyakan perihal bola putih kecil dan teman yang diberikan kakeknya pada Fatih.
Fatih membuka matanya dan menjerit kaget saat melihat Kadita --yang sekarang menampakkan dirinya sebagai kuntilanak-- melayang di atas tubuhnya. Fatih mengumpat Kadita dan segera bangun dari tidurnya. Fatih marah dan memelototi Kadita.
Kadita tertawa terbahak-bahak dan melayang-layang tak menentu di kamar Fatih.
"Kadita! Pergi kamu!" teriak Fatih. Kadita menggelengkan kepalanya.
"Emoh! Aku pengen karo kowe. (Nggak mau! Aku ingin denganmu.)" Kadita terus tertawa terbahak-bahak tanpa henti.
"Kamu tidak bisa memisahkan kita berdua. Kamu tidak akan bisa memisahkan kita berdua, Tih. Kita berjodoh. Kamu tahu itu, kan? Kamu tahu, kan?" Kadita terus melayang di langit-langit kamar, kadang di cekikikan, kadang dia berteriak-teriak meneriaki Fatih.
Fatih memejamkan matanya perlahan. Dia berkomat-kamit membaca doa. Kadita tertawa makin keras.
"Ora mungkin bisa. Aku saiki wis nduwe tolake, (Tidak mungkin bisa. Aku sekarang sudah memiliki penangkalnya,)" kata Kadita girang. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Oh, apakah baju Kadita memiliki saku? Fatih baru tahu kalau baju kuntilanak itu ada sakunya. Fatih nyaris tertawa, tetapi kemudian menyadari bahwa Kadita benar-benar mengeluarkan barang dari sakunya ....
"Kamu tidak akan berani dengan benda ini, Tih ...."
**