Bianca melangkah ke dapur, senyum kecil terukir di bibirnya. Aroma kopi yang baru diseduh dan roti panggang yang renyah menyambutnya, bau khas setiap pagi di rumah mereka. Adrian sudah duduk di meja, membaca berita di tabletnya, rambutnya sedikit acak-acakan-gaya yang selalu Bianca suka. Matahari pagi menembus jendela, membanjiri ruang makan dengan cahaya keemasan, membuat suasana terasa begitu damai, begitu sempurna.
"Pagi, Sayang," sapanya, suaranya sedikit serak karena baru bangun. Ia menghampiri Adrian, membungkuk dan mengecup puncak kepalanya, lalu mendaratkan ciuman ringan di pipinya. Kulit Adrian terasa hangat di bawah bibirnya.
Adrian meletakkan tabletnya, mendongak dengan senyum lebar yang selalu membuat hati Bianca berdesir. "Pagi, Bintangku," balasnya, julukan yang ia berikan pada Bianca bertahun-tahun yang lalu, mengacu pada caranya mencerahkan hidup Adrian. Ia meraih tangan Bianca dan menggenggamnya erat. "Tidur nyenyak?"
Bianca mengangguk, mengusap punggung tangan Adrian dengan ibu jarinya. "Seperti bayi. Kamu?"
"Sempurna, sekarang kamu di sini." Adrian menariknya lebih dekat, mengisyaratkan Bianca untuk duduk di pangkuannya. Bianca menurut, melingkarkan lengannya di leher Adrian, merasakan detak jantungnya yang stabil di dadanya. Sebuah kebiasaan kecil yang manis, warisan dari awal hubungan mereka, saat mereka masih sepasang kekasih yang tak terpisahkan.
Mereka berbicara tentang rencana hari itu. Adrian sibuk dengan proyek baru di kantornya, sebuah perusahaan arsitektur ternama, sementara Bianca memiliki beberapa janji temu dengan klien untuk butik bunga daringnya. Bianca sangat mencintai pekerjaannya, menciptakan keindahan dari kelopak bunga dan dedaunan, membawa senyum kepada orang lain di hari-hari spesial mereka. Adrian selalu menjadi pendukung terbesatnya, yang pertama kali mendorongnya untuk mengubah hobinya menjadi bisnis.
"Jangan terlalu lelah, ya," kata Bianca, melepaskan diri dari pangkuan Adrian untuk menyiapkan sarapan mereka. "Ingat, proyek besar bukan berarti harus mengorbankan kesehatan."
Adrian tertawa. "Siap, Bos. Kamu juga. Jangan sampai lupa makan siang karena sibuk merangkai bunga."
Mereka sarapan dengan obrolan ringan, sesekali diselingi tawa. Bianca mengamati Adrian, bagaimana matanya berbinar saat berbicara tentang desain, bagaimana ia mengernyitkan keningnya sedikit saat memikirkan solusi, bagaimana tangannya yang kuat dan terampil memegang cangkir kopi. Ia merasa gelombang kehangatan menjalar di dadanya. Lima tahun pernikahan, dan ia masih merasa seperti seorang gadis muda yang baru jatuh cinta. Adrian adalah dunianya, jangkar dalam hidupnya, dan ia tidak bisa membayangkan hidup tanpanya.
Siang harinya, Bianca sedang sibuk di studio kecilnya di rumah, dikelilingi oleh wangi mawar, lili, dan eukaliptus. Ia sedang mengerjakan pesanan karangan bunga pernikahan, setiap kelopak dipilih dengan hati-hati, setiap tangkai diposisikan dengan presisi. Ponselnya berdering, sebuah notifikasi pesan. Biasanya ia akan mengabaikannya saat sedang fokus, tapi entah mengapa, hari itu ia merasa dorongan aneh untuk melihatnya.
Itu adalah pesan dari nomor tak dikenal. Bianca mengerutkan kening. Mungkin itu pengantar bunga atau salah satu pemasoknya. Ia membuka pesan itu, dan seketika, jantungnya mencelos.
Bukan teks. Itu adalah gambar.
Gambar itu menunjukkan Adrian. Jelas Adrian. Wajahnya, senyumnya yang familiar, meskipun sedikit... berbeda. Lebih santai, lebih intim dari yang biasa Bianca lihat di hadapan umum. Dan di sampingnya, seorang wanita. Rambutnya pirang cerah, punggungnya sedikit terbuka, lengan wanita itu melingkar di pinggang Adrian. Mereka duduk di sebuah kafe outdoor yang tidak dikenali Bianca, cangkir kopi mengepul di meja. Itu terlihat seperti foto candid, mungkin diambil dari kejauhan, tapi tidak ada keraguan sedikit pun bahwa itu adalah Adrian dan wanita itu sangat dekat, terlalu dekat untuk sekadar teman.
Pesan itu disertai teks singkat: "Suamimu. Kebahagiaanmu, atau miliknya?"
Napas Bianca tercekat. Udara di sekitarnya tiba-tiba terasa dingin, meskipun studio itu hangat. Aroma bunga yang sebelumnya menyenangkan kini terasa menyesakkan. Tangannya bergetar, menjatuhkan tangkai lili yang sedang dipegangnya. Lili itu jatuh ke lantai, kelopaknya yang putih bersih sedikit lecek, kontras dengan lantai kayu.
Tidak. Ini pasti salah paham. Ini tidak mungkin. Adrian tidak akan pernah-
Tapi gambar itu begitu jelas. Detail kecil pada kemeja Adrian, jam tangan yang ia kenakan, bahkan cara rambutnya jatuh di dahi-semuanya sangat akurat. Dan senyum wanita itu, tawa samar yang terlihat di wajahnya, menunjukkan kedekatan yang membuat perut Bianca mual.
Pesan kedua menyusul. Kali ini, sebuah video pendek. Durasi hanya beberapa detik, diambil dari sudut yang sama, menunjukkan Adrian dan wanita itu tertawa. Adrian meraih tangan wanita itu, meremasnya lembut, dan kemudian mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. Gestur yang sama persis dengan yang Adrian lakukan pada Bianca pagi itu. Gestur yang Bianca pikir hanya miliknya.
Video itu tidak memiliki suara, tapi Bianca bisa merasakan gema tawa mereka memenuhi ruang kepalanya, mengoyak keheningan. Ia merasa pening, seolah-olah dunia di sekelilingnya berputar. Ia mencengkeram ponselnya erat-erat, buku-buku jarinya memutih.
Pengkhianatan. Kata itu berputar-putar di benaknya, sebuah bayangan hitam yang menutupi semua cahaya. Adrian, suaminya, belahan jiwanya. Mengapa? Bagaimana?
Ia berusaha mencari alasan. Mungkin itu rekan kerja? Mungkin itu hanya pertemuan bisnis? Tapi gestur-gestur intim itu, tawa yang lepas itu, sentuhan di tangan-itu bukan perilaku profesional. Dan pesan anonim itu... itu adalah pukulan telak yang disengaja.
Air mata mulai menggenang di mata Bianca, tapi ia tidak membiarkannya jatuh. Ada sesuatu yang lebih kuat dari kesedihan yang mulai mendidih di dalam dirinya: kemarahan. Kemarahan dingin yang membakar, membekukan semua emosi lainnya. Bagaimana Adrian bisa melakukan ini padanya? Pada mereka? Setelah semua janji, semua cinta, semua kepercayaan?
Ia teringat semua momen yang mereka bagi. Malam-malam yang dihabiskan berpelukan di sofa, mimpi-mimpi yang mereka bangun bersama, candaan-candaan kecil yang hanya mereka berdua pahami. Adrian adalah fondasinya. Jika fondasi itu retak, maka seluruh bangunan akan runtuh.
Ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan lagi. Kali ini, sebuah alamat dan tanggal.
"Minggu depan, pukul 7 malam. Kita bisa bertemu di sana."
Bianca menatap alamat itu. Itu adalah sebuah restoran mewah di pusat kota, tempat yang Adrian pernah sebutkan ingin mereka kunjungi suatu hari nanti. Restoran yang sangat eksklusif, sulit mendapatkan reservasi. Apakah ini... apakah ini kencan Adrian dengan wanita itu? Atau apakah ini jebakan?
Ia tidak tahu. Pikirannya kalut, seolah-olah ribuan pecahan kaca beterbangan di dalam kepalanya. Rasa sakit yang tajam menusuk dadanya. Seolah-olah sebuah bagian dari dirinya telah mati.
Sore itu, Adrian pulang ke rumah seperti biasa, senyum cerah di wajahnya, aura kelelahan yang menyenangkan setelah seharian bekerja. Ia melemparkan tas kerjanya ke sofa, melonggarkan dasinya, dan mencari Bianca.
"Sayang, aku pulang!" serunya, suaranya memenuhi rumah.
Bianca sudah menunggu di dapur, pura-pura sibuk menyiapkan makan malam. Ia telah menghapus semua jejak air mata, mengumpulkan sisa-sisa dirinya yang hancur, dan memasang topeng. Topeng yang sempurna.
"Hai," jawabnya, mencoba agar suaranya terdengar normal. Ia berbalik, tersenyum padanya, senyum yang terasa seperti topeng di wajahnya.
Adrian menghampirinya, memeluknya dari belakang, dagunya bersandar di bahu Bianca. "Harimu bagaimana?" bisiknya, mencium aroma rambut Bianca.
Bianca menegang sesaat. Aroma Adrian, sentuhannya, yang biasanya begitu menenangkan, kini terasa asing, bahkan menjijikkan. Sebuah kebohongan besar menyelimuti mereka.
"Baik," jawab Bianca singkat, mencoba melepaskan diri dengan halus. "Aku sibuk dengan pesanan karangan bunga. Kamu?"
Adrian tidak melepaskannya. "Cukup melelahkan, tapi berhasil. Ada kemajuan besar di proyek Klien Jaya."
Bianca mengangguk, tidak berani menatap matanya. Ia takut Adrian akan melihat bayangan kekecewaan dan kemarahan yang membara di matanya. Ia takut topengnya akan runtuh.
"Oh ya, Sayang," Adrian melanjutkan, suaranya riang. "Aku berhasil mendapatkan reservasi di Restoran Serenity minggu depan. Ingat yang kita bicarakan? Untuk merayakan proyek ini."
Jantung Bianca berhenti berdetak. Restoran Serenity. Alamat yang sama. Tanggal yang sama.
Jadi, Adrianlah yang membuat reservasi itu. Untuk mereka berdua. Dan juga... untuk wanita itu? Otaknya berputar, mencoba menyatukan kepingan-kepingan informasi. Apakah ini semacam kencan ganda yang Adrian rencanakan tanpa sepengetahuannya? Atau apakah Adrian memiliki dua reservasi di tempat yang sama, pada waktu yang sama? Keduanya terdengar absurd, tapi tidak ada yang masuk akal sekarang.
Rasa mual kembali menyerang Bianca. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya. "Oh, benarkah? Itu bagus," katanya, mencoba terdengar antusias. "Kapan?"
"Rabu depan, pukul 7 malam," jawab Adrian, akhirnya melepaskan pelukannya dan berjalan ke lemari es untuk mengambil minuman. "Aku tahu kamu sudah lama ingin ke sana."
Bianca memaksakan senyum, yang terasa begitu dingin di wajahnya. Adrian tidak menyadarinya. Ia terlalu sibuk dengan kegembiraannya sendiri. Atau mungkin ia hanya terlalu pandai menyembunyikan sesuatu.
"Ya, aku sangat antusias," kata Bianca, suaranya nyaris berbisik.
Makan malam itu terasa seperti teater. Bianca memainkan peran istri yang penuh kasih, mendengarkan cerita Adrian tentang hari kerjanya, sesekali tertawa di tempat yang tepat, bahkan memberikan masukan yang cerdas. Namun di dalam dirinya, badai bergejolak. Setiap senyum Adrian terasa seperti tusukan, setiap sentuhannya terasa seperti pengkhianatan. Ia merasa kotor, seolah-olah kebohongan Adrian telah mencemarinya juga.
Setelah Adrian tertidur lelap, Bianca menyelinap keluar dari kamar. Ia duduk di ruang tamu yang gelap, memandangi foto pernikahan mereka yang tergantung di dinding. Adrian memeluknya erat, senyumnya begitu tulus, matanya penuh cinta. Apakah itu semua hanya kebohongan? Apakah ia selama ini buta?
Ia mengeluarkan ponselnya lagi. Membuka galeri dan menatap foto dan video itu berulang kali. Tidak ada keraguan. Itu adalah Adrian. Dan sentuhan itu... sentuhan yang Bianca kira hanya miliknya.
Keesokan harinya, Bianca tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya. Pikirannya terus-menerus kembali pada gambar-gambar itu, pada pesan-pesan anonim itu. Siapa pengirimnya? Mengapa mereka mengirimkannya padanya? Dan bagaimana mereka mendapatkan informasi tentang Adrian?
Ia merasakan dorongan kuat untuk mengonfrontasi Adrian. Untuk menamparnya dengan foto-foto itu, untuk menuntut penjelasan, untuk berteriak sampai pita suaranya putus. Tapi sesuatu menahannya. Suatu insting yang lebih dalam, lebih dingin.
Apa gunanya berteriak? Apa gunanya menangis? Adrian telah menyakitinya. Adrian telah mengkhianatinya. Membiarkan dirinya terlihat hancur di hadapan Adrian hanya akan memberinya kepuasan, atau mungkin belas kasihan. Dan Bianca tidak menginginkan belas kasihan. Ia menginginkan keadilan.
Ia teringat cerita ibunya tentang seorang wanita yang dikhianati suaminya. Wanita itu memilih untuk diam, untuk pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun. Pada awalnya, semua orang mengira wanita itu pengecut. Tapi seiring berjalannya waktu, suami itu menyadari bahwa kesunyian istrinya jauh lebih menyakitkan daripada ledakan kemarahan apa pun. Ia tidak mendapatkan penutup, tidak ada permohonan maaf yang bisa ia berikan. Ia dibiarkan dengan kebingungan dan penyesalan yang membayangi.
Pikiran itu berakar kuat di benak Bianca. Membalas dendam tidak harus selalu bising. Itu bisa berupa keheningan yang memekakkan.
Adrian telah memilih untuk menyembunyikan kebenaran darinya. Maka Bianca akan membalas dengan kebohongan juga. Ia akan menjadi lebih pandai dari Adrian dalam permainan ini. Ia akan membiarkan Adrian merasakan kehilangan secara perlahan, setetes demi setetes, sampai ia menyadari betapa hancurnya semua yang telah ia bangun.
Ini bukan tentang membalas rasa sakit dengan rasa sakit yang setara. Ini tentang membiarkan Adrian menghadapi konsekuensi dari tindakannya sendiri, perlahan tapi pasti.
Beberapa hari berikutnya adalah siksaan bagi Bianca. Ia melanjutkan hidupnya seperti biasa, seperti tidak ada yang berubah. Ia tersenyum pada Adrian, mendengarkan ceritanya, menyiapkan makan malam, bahkan kadang-kadang berinisiatif untuk memeluknya. Setiap sentuhan terasa seperti duri, setiap kata cinta yang keluar dari mulut Adrian terasa seperti racun.
Adrian, di sisi lain, tampak seperti dirinya yang dulu. Bahagia, perhatian, dan sama sekali tidak menyadari badai yang sedang terjadi di dalam diri Bianca. Atau setidaknya, itulah yang Bianca pikirkan. Kadang-kadang, Bianca menangkap tatapan Adrian yang sekilas, ekspresi yang tidak bisa ia baca. Apakah Adrian menyembunyikan sesuatu dengan sangat baik, atau apakah ia benar-benar polos?
Keraguan itu menggerogoti Bianca. Apakah ia salah? Apakah ia terlalu cepat menyimpulkan? Tapi foto dan video itu... tidak ada ruang untuk keraguan. Bukti itu ada di sana, dingin dan nyata.
Bianca mulai memperhatikan hal-hal kecil. Adrian terkadang terlambat pulang dari kantor, dengan alasan rapat dadakan. Ia sering memeriksa ponselnya, dan terkadang, ia tampak sedikit gelisah saat Bianca ada di dekatnya. Hal-hal yang sebelumnya Bianca abaikan sebagai "kesibukan pekerjaan" atau "stres", kini terlihat seperti potongan-potongan teka-teki yang jatuh ke tempatnya.
Pada suatu malam, saat Adrian mandi, ponselnya berdering. Bianca, dengan jantung berdebar kencang, melihat nama penelepon: "Klien Jaya". Panggilan itu berlangsung singkat, dan Adrian bergegas keluar dari kamar mandi, handuk melilit pinggangnya, dengan cepat menjawab panggilan itu di ruang tamu. Ia berbicara dengan nada rendah, sesekali melirik ke arah kamar tidur. Bianca berpura-pura membaca buku, tapi setiap kata yang Adrian ucapkan terasa seperti palu yang menghantam kepalanya.
"Ya, ini Adrian," kata Adrian. "Oke, baiklah. Aku akan menemuimu di sana. Tidak, tidak masalah. Aku akan urus."
Bianca tidak bisa mendengar apa-apa lagi. Adrian kembali ke kamar tidur, senyum di wajahnya. "Rapat mendadak, Sayang," katanya, suaranya sedikit terlalu keras. "Harus ke kantor sebentar."
Bianca mengangguk, dadanya terasa sesak. "Tentu," katanya, suaranya tenang. "Hati-hati di jalan."
Adrian mencium keningnya, dan Bianca harus mengerahkan seluruh kekuatannya untuk tidak menarik diri. Setelah Adrian pergi, Bianca menunggu beberapa menit, memastikan ia benar-benar pergi. Lalu, dengan tangan gemetar, ia mengambil ponsel Adrian yang tertinggal di meja samping tempat tidur. Ia tahu itu salah, ia tahu ia melanggar kepercayaan Adrian. Tapi kepercayaan itu sudah Adrian hancurkan lebih dulu.
Dengan cepat, ia mencari riwayat panggilan. Panggilan terakhir adalah dari "Klien Jaya". Bianca membuka kontak itu. Itu adalah nomor telepon, bukan nama perusahaan. Dan di sana, di bawah nama "Klien Jaya", ada ikon kecil yang menunjukkan foto profil.
Foto seorang wanita dengan rambut pirang cerah. Wanita yang sama di foto dan video yang dikirim kepadanya.
Bianca merasakan seluruh kekuatannya terkuras. Ia ambruk di tempat tidur, ponsel Adrian masih di tangannya. Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya tumpah, mengalir deras di pipinya. Ia tidak mengeluarkan suara, hanya isak tangis tanpa suara yang mengguncang tubuhnya.
"Klien Jaya" adalah kode. Wanita itu. Selama ini Adrian bersamanya, di balik punggungnya.
Rasa sakit itu begitu nyata, begitu tajam, seolah-olah ada pisau yang menusuk jantungnya berulang kali. Tapi di tengah rasa sakit yang luar biasa itu, ada juga kejelasan yang mengerikan. Keraguan terakhirnya telah lenyap.
Adrian telah memilih. Dan Bianca pun akan memilih.
Tidak ada teriakan. Tidak ada tangisan histeris. Hanya keheningan. Keheningan yang akan menghantui Adrian jauh lebih lama daripada ledakan amarah apa pun. Bianca akan membiarkan Adrian merasakan kehampaan yang ia ciptakan, perlahan-lahan. Hingga ia menyadari, kehilangan cinta perlahan-lahan jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan segalanya sekaligus.
Rabu malam tiba. Bianca telah mengenakan gaun malam favorit Adrian, gaun sutra berwarna biru laut yang memeluk lekuk tubuhnya dengan anggun. Ia berdandan dengan hati-hati, memastikan setiap detail sempurna-rambutnya ditata elegan, riasannya flawless, senyumnya... senyumnya adalah mahakarya penipuan.
Adrian menatapnya dengan kekaguman yang jelas di matanya. "Kamu cantik sekali, Sayang," bisiknya, meraih tangannya dan mengecupnya. "Aku pria paling beruntung di dunia."
Kata-kata itu, yang dulunya adalah melodi paling indah bagi Bianca, kini terdengar seperti ejekan. Ia hanya tersenyum tipis, membiarkan tatapan Adrian terpaku pada dirinya, tidak pada kegelapan di matanya.
Perjalanan menuju Restoran Serenity terasa panjang. Bianca membayangkan skenario terburuk. Apakah wanita itu akan muncul? Apakah Adrian akan memperkenalkan mereka? Atau apakah ini adalah perpisahan yang manis, sebuah kencan terakhir sebelum Adrian mengakui perselingkuhannya?
Ketika mereka tiba, suasana restoran terasa begitu romantis-cahaya lilin, musik lembut, gemerincing sendok garpu. Pelayan mengantar mereka ke meja yang nyaman di sudut, dengan pemandangan kota yang menakjubkan. Adrian tampak begitu antusias, menunjuk-nunjuk pemandangan dan menceritakan detail tentang arsitektur bangunan di sekitarnya. Bianca mengangguk, tersenyum, memainkan perannya dengan sempurna.
Mereka memesan makanan, dan Adrian membuka botol anggur mahal yang sudah mereka simpan untuk acara spesial. Bianca membiarkan Adrian menuangkan anggur untuknya, membiarkan gelembung-gelembung champagne memantul di bibirnya. Ia menyesapnya perlahan, merasakan pahitnya anggur itu meniru pahitnya hatinya.
"Adrian," kata Bianca, suaranya tenang, tiba-tiba.
Adrian mendongak, matanya bertemu dengan mata Bianca. "Ya, Sayang?"
"Aku... aku sangat menghargai semua yang telah kamu lakukan untuk kita," lanjut Bianca, setiap kata terasa seperti pasir di lidahnya. "Kamu adalah segalanya bagiku."
Adrian tersenyum, meraih tangan Bianca di atas meja. "Kamu juga segalanya bagiku, Bintangku. Kamu tahu itu."
Bianca membiarkan tangannya berada di genggaman Adrian, tapi hatinya terasa seperti batu. Kata-kata itu, kebohongan itu, menyiksanya.
Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak akan membuat keributan. Ia tidak akan memohon. Ia tidak akan memberi Adrian kepuasan untuk melihatnya hancur. Ia akan pergi, dan ia akan pergi dalam keheningan.
Tapi tidak malam ini. Malam ini, ia akan membiarkan Adrian merayakan kemenangan palsunya. Ia akan membiarkan Adrian menikmati momen ini, tidak menyadari bahwa di balik senyum Bianca, sebuah keputusan telah dibuat.
Malam itu, Bianca tertawa, berbicara, dan bertindak seperti istri paling bahagia di dunia. Adrian tidak pernah tahu bahwa setiap tawa adalah racun, setiap sentuhan adalah perpisahan, dan setiap tatapan adalah janji pembalasan yang dingin.
Ketika mereka pulang, Adrian memeluknya erat di tempat tidur, mencium rambutnya, dan membisikkan kata-kata cinta. Bianca membiarkan dirinya dipeluk, tapi jiwanya terasa jauh. Ia sudah melangkah pergi.
Keesokan harinya, Bianca bangun lebih awal. Ia menatap Adrian yang masih tertidur pulas di sampingnya. Wajahnya begitu damai, begitu polos. Sebuah kemarahan baru menyengat Bianca. Bagaimana Adrian bisa tidur begitu nyenyak setelah semua yang ia lakukan?
Dengan hati-hati, Bianca bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan ke lemari, mengeluarkan sebuah koper kecil, dan mulai mengisinya. Hanya beberapa barang penting: pakaian, dokumen, beberapa perhiasan, laptopnya. Ia tidak ingin mengambil terlalu banyak, tidak ingin meninggalkan jejak yang terlalu besar.
Ia menulis sebuah catatan singkat. Hanya beberapa kata. Ia meletakkannya di meja samping tempat tidur Adrian, di samping ponselnya.
Ia menatap Adrian sekali lagi, untuk terakhir kalinya. Rasa sakitnya begitu dalam, begitu menghancurkan, sehingga ia tidak bisa bernapas. Tapi ia tidak akan membiarkan rasa sakit itu mengendalikannya. Ia akan menggunakannya sebagai bahan bakar.
Bianca berbalik, keluar dari kamar tidur, dan menutup pintu di belakangnya dengan lembut. Ia berjalan melewati ruang tamu, melewati dapur, dan keluar dari pintu depan rumah mereka. Ia tidak melihat ke belakang.
Meninggalkan Adrian dalam kebingungan... sampai akhirnya pria itu menyadari, kehilangan cinta perlahan-lahan jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan segalanya sekaligus.
Bianca tidak memilih berteriak atau menangis. Ia memilih diam. Dan keheningan itu akan menjadi senjata paling mematikan yang pernah Adrian hadapi.
Mobil itu melaju di jalanan Jakarta yang masih sepi di pagi buta. Bianca melirik spion, bayangan rumah yang semakin mengecil di belakangnya, lalu menghilang di balik deretan pepohonan. Tidak ada air mata. Tidak ada keraguan. Hanya kekosongan yang membekukan, sebuah lubang menganga di tempat yang seharusnya berisi hatinya. Ia tahu jalan ini. Ini adalah jalan menuju masa depan yang tidak pernah ia bayangkan.
Ia mengemudi tanpa tujuan pasti, hanya mengikuti naluri yang menyuruhnya untuk menjauh, sejauh mungkin dari kenangan dan pengkhianatan. Pikirannya kosong dari rencana, tapi jiwanya terasa penuh dengan tekad. Ia akan memulai lagi. Sendiri. Tanpa Adrian. Tanpa bayangan pengkhianatan yang terus membayangi.
Matahari mulai naik, mewarnai langit dengan spektrum warna oranye dan merah muda. Bianca memarkir mobilnya di sebuah taman kota yang belum terlalu ramai. Ia duduk di bangku taman, memandangi beberapa orang yang berolahraga pagi, anjing-anjing yang berlarian riang, dan burung-burung yang berkicau. Sebuah kontras yang tajam dengan badai di dalam hatinya.
Ponselnya berdering. Nama Adrian muncul di layar. Jantung Bianca berdesir, sebuah reaksi refleks yang segera ia tekan. Ia mengabaikan panggilan itu. Lalu panggilan kedua, ketiga. Adrian mulai mengirim pesan. Pesan yang penuh kebingungan, khawatir, dan pertanyaan.
Sayang, kamu di mana?
Kenapa kamu pergi? Apa yang terjadi?
Bianca, tolong jawab aku. Aku khawatir.
Aku pulang, dan kamu tidak ada. Aku melihat catatanmu. Ada apa ini?
Bianca membaca pesan-pesan itu, tanpa ekspresi. Catatan singkatnya hanyalah: "Aku pergi. Jangan mencariku." Ia ingin Adrian merasakan kebingungan yang sama, ketidakpastian yang sama, kehampaan yang sama. Ia ingin Adrian mencicipi pahitnya ketidaktahuan.
Ia mematikan ponselnya. Keheningan itu terasa seperti pelukan dingin, namun ia merangkulnya. Ia harus memutuskan ke mana ia akan pergi. Keluarganya? Ibunya akan mencemaskannya, menanyainya, dan mungkin akan memaksanya untuk kembali. Tidak, belum saatnya. Ia membutuhkan ruang, waktu untuk bernapas dan memulihkan diri.
Ada sebuah properti kecil di pinggir kota yang sudah lama menjadi impian Bianca: sebuah pondok tua dengan taman luas yang bisa ia ubah menjadi studio bunga impiannya. Mereka pernah mengunjunginya setahun yang lalu, Adrian sempat menyarankan untuk membelinya sebagai investasi. Bianca menggelengkan kepala. Itu terlalu jauh dari kota, terlalu jauh dari kehidupan mereka. Namun kini, jauh dari kota adalah persis apa yang ia butuhkan.
Ia menarik napas dalam-dalam. "Ini dia," bisiknya pada dirinya sendiri. "Awal yang baru."
Sementara itu, Adrian terbangun dengan perasaan aneh, semacam kekosongan di sisi tempat tidurnya. Ia mengulurkan tangan, mencari tubuh hangat Bianca, tapi yang ia temukan hanyalah seprai yang dingin. Ia membuka mata. Matahari sudah cukup tinggi, tapi Bianca tidak ada di sana.
"Sayang?" panggilnya, suaranya sedikit mengantuk. Tidak ada jawaban.
Ia bangkit dari tempat tidur, sedikit bingung. Bianca biasanya bangun lebih dulu, menyiapkan kopi, atau sibuk di studionya. Tapi rumah terasa sunyi, terlalu sunyi.
Adrian berjalan ke dapur. Cangkir kopi mereka tidak ada di tempatnya. Tidak ada aroma roti panggang. Segalanya terasa terlalu rapi, terlalu sepi. Sebuah kecemasan kecil mulai merayap di benaknya.
Lalu ia melihatnya. Di meja samping tempat tidur, sebuah catatan kecil. Dan di bawahnya, ponselnya, dengan panggilan tak terjawab dari "Klien Jaya" yang ia lupakan di sana tadi malam.
Adrian meraih catatan itu. Tulisan tangan Bianca, rapi, elegan, tapi isinya menusuk jantungnya. "Aku pergi. Jangan mencariku."
Napas Adrian tercekat. Matanya melebar. Apa? Pergi? Ke mana? Kenapa?
Ia buru-buru memeriksa lemari pakaian Bianca. Kosong. Beberapa laci terbuka. Sebuah koper kecil yang biasa Bianca gunakan untuk perjalanan singkat tidak ada di tempatnya.
"Bianca!" teriak Adrian, suaranya panik, menggelegar di rumah yang sepi. Ia berlari ke studio bunga Bianca. Ruangan itu juga terasa aneh, tidak ada aura kehidupan, tidak ada wangi bunga segar yang biasanya memenuhi ruangan.
Ia merogoh sakunya, mencari ponselnya, lalu teringat bahwa ia meninggalkannya di kamar. Ia berlari kembali ke kamar tidur, meraih ponselnya. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Bianca. Kenapa ia tidak mengangkatnya? Kenapa ia tidak menyadarinya?
Adrian segera menelepon Bianca. Tidak ada jawaban. Panggilan langsung masuk ke kotak suara. Ia menelepon lagi, dan lagi. Sama. Ia mengirim pesan, menuntut penjelasan, hatinya berdebar tak karuan. Bingung. Marah. Panik.
Sayang, kamu di mana?
Kenapa kamu pergi? Apa yang terjadi?
Bianca, tolong jawab aku. Aku khawatir.
Aku pulang, dan kamu tidak ada. Aku melihat catatanmu. Ada apa ini?
Pesan-pesan itu membanjiri ponsel Bianca, tapi Adrian tidak tahu bahwa pesan-pesannya hanya menemukan kesunyian di ujung sana.
Adrian duduk di tepi tempat tidur, kepalanya pusing. Ia membaca kembali catatan itu. Jangan mencariku. Kata-kata itu terasa seperti pukulan. Ada apa ini? Ia tidak ingat ada pertengkaran. Mereka baik-baik saja tadi malam. Mereka pergi makan malam di Restoran Serenity, mereka tertawa, mereka saling berpegangan tangan. Bianca bahkan mengatakan Adrian adalah segalanya baginya. Lalu kenapa? Kenapa tiba-tiba Bianca pergi?
Pikirannya melayang kembali ke malam sebelumnya. Bianca tampak sangat bahagia. Adrian ingat senyumnya, tawanya, cara ia menatapnya. Semuanya tampak normal. Atau apakah ada sesuatu yang ia lewatkan?
Adrian mencoba mengingat. Apakah ada tanda-tanda? Pertengkaran kecil? Perubahan suasana hati? Tidak ada. Bianca adalah Bianca yang selalu ia kenal. Penuh cinta, manja, genit.
Atau apakah ia yang terlalu sibuk dengan dirinya sendiri untuk melihatnya?
Ia bangkit, mondar-mandir di kamar. Apa yang harus ia lakukan? Menelepon keluarganya? Keluarga Bianca? Apa yang akan ia katakan? "Istri saya pergi dan meninggalkan catatan singkat tanpa penjelasan"? Itu akan menjadi skandal, aib.
Adrian duduk kembali, memijat pelipisnya. Ia tidak mengerti. Benar-benar tidak mengerti. Selama ini, ia selalu menganggap hubungannya dengan Bianca adalah sesuatu yang kuat, tak tergoyahkan. Bianca adalah dunianya. Dan sekarang, dunianya tiba-tiba runtuh, tanpa peringatan.
Ia merasa ada sesuatu yang salah, sesuatu yang ia lewatkan. Tapi apa?
Pandangannya jatuh pada ponselnya lagi. Panggilan dari "Klien Jaya" tadi malam. Ia ingat Bianca menanyakan siapa yang menelepon. Ia ingat bagaimana ia sedikit gelisah saat menjawabnya.
"Klien Jaya." Itu adalah nama kontak yang ia gunakan untuk... yah, untuk menjaga segala sesuatunya tetap terpisah.
Sebuah bayangan tipis melintas di benak Adrian. Mungkinkah Bianca mengetahui sesuatu? Tidak, tidak mungkin. Ia sangat berhati-hati.
Adrian membuka kontak "Klien Jaya". Foto profil wanita itu muncul. Maya. Wajahnya yang cantik, rambut pirangnya yang terang, senyumnya yang memikat. Maya, seorang desainer interior yang bekerja sama dalam proyek Klien Jaya. Ia memang sering bertemu Maya di luar jam kantor, membahas detail proyek, kadang-kadang makan siang bersama. Tapi itu hanya untuk pekerjaan. Atau apakah itu lebih?
Adrian menatap foto itu. Ia teringat makan siang mereka di kafe beberapa hari yang lalu, saat mereka tertawa terbahak-bahak tentang sesuatu yang konyol, dan Adrian tanpa sadar meraih tangan Maya, sebuah sentuhan spontan yang tidak berarti apa-apa baginya. Sentuhan pertemanan. Atau apakah bagi Maya dan bagi orang lain yang melihatnya, itu berarti lebih?
Jantung Adrian berdesir ketakutan. Mungkinkah ada seseorang yang melihat mereka? Mungkinkah seseorang salah paham dan mengirimkannya pada Bianca? Tidak, itu terlalu jauh. Bianca tidak mungkin begitu saja pergi hanya karena hal sepele seperti itu.
Namun, rasa gelisah mulai tumbuh di dadanya. Rasa bersalah yang samar, yang sebelumnya ia abaikan, kini mulai mencakar-cakar kesadarannya. Ia memang sedikit terlalu nyaman dengan Maya. Ia memang sering mengobrol dengan Maya lebih dari yang seharusnya dengan seorang rekan kerja. Terkadang mereka mengirim pesan di luar jam kerja, tentang hal-hal non-pekerjaan. Tapi itu tidak berarti-
Tidak, itu berarti. Itu berarti ia telah ceroboh. Ia telah membiarkan garis tipis antara profesionalisme dan keintiman menjadi kabur.
Tapi, apakah Bianca tahu semua ini? Apakah itu alasannya pergi?
Adrian menatap ponselnya, lalu ke catatan Bianca lagi. Aku pergi. Jangan mencariku.
Sebuah pukulan telak yang dingin. Bianca tidak marah-marah. Ia tidak berteriak. Ia tidak menangis. Ia hanya pergi. Dan kepergiannya yang hening, tanpa penjelasan, jauh lebih menyakitkan daripada segala omelan atau kemarahan yang bisa Adrian bayangkan. Ia ditinggalkan dalam kegelapan, tanpa petunjuk, tanpa kesempatan untuk membela diri.
Hari-hari berikutnya adalah neraka bagi Adrian. Rumah terasa hampa. Sepi. Dingin. Setiap sudut mengingatkannya pada Bianca. Bunga-bunga segar yang biasa ada di vas kini layu, karena Bianca tidak ada di sana untuk menggantinya. Cangkir kopi yang dulu selalu berpasangan, kini hanya ada satu. Meja makan yang dulu selalu ramai dengan obrolan mereka, kini terasa begitu besar dan kosong.
Ia mencoba menelepon Bianca lagi, setiap jam, tapi selalu masuk ke kotak suara. Ia mengirim pesan, memohon, mengancam, menjelaskan, tapi tidak ada balasan. Bianca menghilang tanpa jejak.
Adrian tidak bisa berkonsentrasi di kantor. Pikirannya melayang, terus-menerus kembali pada Bianca. Ia menyalahkan dirinya sendiri. Mengapa ia begitu ceroboh? Mengapa ia tidak memperhatikan?
Maya menyadari perubahan pada diri Adrian. Adrian yang biasanya energik dan fokus, kini tampak lesu, murung, dan sering melamun.
"Adrian, kamu baik-baik saja?" tanya Maya suatu pagi, di kantor. "Kamu terlihat tidak sehat."
Adrian mengangkat bahu. "Tidak apa-apa, hanya sedikit stres pekerjaan." Ia tidak ingin berbagi masalah pribadinya dengan Maya. Ironisnya, Maya adalah bagian dari masalahnya.
Maya mengangguk, tapi sorot matanya menunjukkan kecurigaan. "Kalau butuh teman bicara, aku selalu ada," katanya, suaranya lembut.
Adrian hanya mengangguk, merasa semakin bersalah.
Ia mencoba menghubungi teman-teman Bianca, tapi tidak ada yang tahu apa-apa. Mereka juga sama terkejutnya dengan Adrian. "Bianca tidak pernah cerita apa-apa," kata Sarah, sahabat Bianca, dengan nada khawatir. "Terakhir kali aku bertemu dengannya, dia baik-baik saja. Dia terlihat sangat bahagia."
Kata-kata Sarah itu menusuk Adrian. Bahagia. Apakah kebahagiaan itu hanya ilusi? Apakah Bianca selama ini menyembunyikan rasa sakitnya dari semua orang?
Adrian mulai minum. Malam-malam yang dulu ia habiskan dengan Bianca, kini ia habiskan dengan sebotol wiski, mencoba mematikan pikiran-pikirannya, mencoba melupakan kekosongan yang ia rasakan. Tapi alkohol hanya memperburuk keadaannya. Setiap tegukan hanya memperjelas betapa kesepiannya ia, betapa hancurnya ia.
Ia menyadari bahwa kehilangan Bianca secara perlahan, tanpa konfrontasi, tanpa peringatan, adalah siksaan yang jauh lebih buruk daripada ledakan kemarahan. Ia tidak bisa memohon maaf. Ia tidak bisa menjelaskan. Ia tidak bisa memperbaiki apa pun. Ia dibiarkan menggantung, dalam ketidakpastian yang menyakitkan.
Ia mulai memutar ulang setiap momen mereka, mencari petunjuk. Kapan Bianca mulai curiga? Apakah itu karena ia sering pulang larut? Apakah itu karena panggilan telepon dari Maya? Apakah Bianca melihat sesuatu di ponselnya?
Ponsel. Ya, ponselnya. Ia teringat malam ia meninggalkan ponselnya di kamar tidur. Bianca ada di sana. Apakah Bianca melihat riwayat panggilannya? Apakah Bianca melihat foto profil Maya di kontak "Klien Jaya"?
Sebuah kesadaran yang mengerikan menghantam Adrian. Itu pasti. Itu satu-satunya penjelasan yang masuk akal. Bianca tidak berteriak padanya. Bianca tidak melemparkan tuduhan padanya. Ia hanya diam, dan menunggu.
Adrian mengingat kembali ekspresi Bianca di restoran malam itu. Senyumnya yang sempurna, tawanya yang ringan. Ia pikir Bianca bahagia. Ia pikir Bianca merayakan proyek besar bersamanya. Tapi sekarang ia tahu. Bianca sedang mengucapkan selamat tinggal, dalam diam. Bianca sedang merencanakan kepergiannya, di bawah hidungnya.
Adrian merasakan hawa dingin menjalari tulang punggungnya. Bianca begitu cerdas, begitu tenang, begitu terkendali. Ia telah menganggap remeh Bianca, menganggapnya sebagai istri yang manja dan genit yang selalu menuruti keinginannya. Tapi ia lupa, di balik sifat manja itu ada kecerdasan dan kekuatan yang tak terduga.
Dan sekarang, kekuatan itu digunakan untuk menghancurkan Adrian.
Ia melihat kembali foto dan video yang dikirim ke Bianca. Ia yakin Bianca telah menerimanya. Seseorang telah membocorkan rahasianya. Seseorang ingin menghancurkan pernikahannya. Tapi siapa? Dan mengapa?
Adrian tidak tahu. Ia hanya tahu bahwa Bianca telah melihatnya. Dan Bianca memilih untuk membalas dengan cara yang paling menyakitkan: dengan keheningan.
Seminggu berlalu. Adrian kehilangan nafsu makan, tidurnya terganggu. Ia bahkan tidak bisa fokus pada pekerjaan. Proyek Klien Jaya yang ia banggakan kini terasa hampa. Apa gunanya kesuksesan jika ia kehilangan orang yang paling ia cintai?
Ia mencoba mencari Bianca, mengikuti jejak-jejak yang mungkin ditinggalkan. Ia menghubungi teman-teman dan kerabat jauh Bianca, berharap ada yang tahu di mana Bianca. Tapi tidak ada. Bianca seperti menghilang ditelan bumi.
"Kamu harus makan, Adrian," kata ibunya, yang datang berkunjung setelah Adrian akhirnya menceritakan bahwa Bianca pergi. Ibunya khawatir, sangat khawatir, tapi Adrian tidak bisa memberinya jawaban yang jelas. Ia tidak ingin ibunya tahu tentang Maya. Itu hanya akan memperburuk keadaan.
"Aku tidak lapar, Ma," jawab Adrian, mendorong piring di depannya.
Ibunya menghela napas. "Apa yang sebenarnya terjadi, Nak? Bianca tidak mungkin pergi begitu saja tanpa alasan."
Adrian menatap ibunya, matanya kosong. "Aku tidak tahu, Ma. Aku tidak tahu." Kebohongan itu terasa pahit di lidahnya.
Ia mulai merasa putus asa. Ia bahkan mempertimbangkan untuk melaporkan Bianca hilang ke polisi, tapi ia tahu itu akan menjadi bencana. Bianca meninggalkan catatan, itu bukan kasus penculikan. Itu adalah kepergian yang disengaja.
Dan kepergian yang disengaja itu adalah hukuman Adrian.
Ia mulai melihat masa depannya tanpa Bianca. Kosong. Hampa. Ia tidak bisa membayangkan hidup tanpanya. Setiap sudut rumah, setiap kenangan, setiap objek yang mereka bagi, kini terasa seperti pisau yang mengiris hatinya.
Ia teringat betapa Bianca selalu memenuhi rumah dengan tawa, dengan aroma bunga, dengan kehadirannya yang ceria. Sekarang, semua itu hilang. Hanya ada keheningan yang memekakkan.
Adrian akhirnya memutuskan untuk jujur pada dirinya sendiri. Ia telah berbuat salah. Ia telah mengkhianati kepercayaan Bianca. Ia telah meremehkan ikatan mereka. Ia telah membiarkan godaan kecil mengaburkan pandangannya. Dan sekarang, ia membayar harganya.
Ia teringat ekspresi Bianca di restoran malam itu. Ia pikir Bianca bahagia, merayakan keberhasilannya. Tapi Bianca sedang merencanakan kepergiannya, dalam diam. Dan keheningan itu jauh lebih menyakitkan daripada ledakan kemarahan.
Adrian berjalan ke studio Bianca. Bau bunga kering dan dedaunan mati memenuhi ruangan. Ia menyentuh meja kerja Bianca, tempat ia biasa merangkai bunga, menciptakan keindahan. Kini, tempat itu kosong. Hanya ada vas-vas kosong dan alat-alat yang ditinggalkan.
Sebuah foto kecil tergeletak di meja. Foto mereka berdua, di hari pernikahan mereka. Bianca tersenyum, gaun putihnya berkibar, matanya memancarkan kebahagiaan murni. Adrian memeluknya erat, dunia terasa sempurna saat itu.
Adrian meraih foto itu, membelai wajah Bianca dengan ibu jarinya. Air mata mulai mengalir di pipinya, air mata penyesalan yang dalam. Ia telah merusak keindahan itu. Ia telah menghancurkan senyum itu.
Ia tidak tahu di mana Bianca berada. Ia tidak tahu apakah Bianca akan kembali. Tapi satu hal yang ia tahu pasti: ia telah kehilangan cinta perlahan-lahan, dan itu jauh, jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan segalanya sekaligus. Kehilangan semua asetnya, semua hartanya, tidak akan sebanding dengan kehilangan Bianca.
Ia teringat kata-kata Maya, "Kalau butuh teman bicara, aku selalu ada."
Adrian mengangkat teleponnya, tapi bukan Maya yang ia tuju. Ia menelepon pengacaranya.
"Aku butuh bantuanmu," kata Adrian, suaranya serak. "Aku perlu mencari istriku. Dan aku perlu mencari tahu siapa yang mengirim foto-foto itu padanya."
Adrian tahu ini tidak akan mudah. Ia tahu ia harus menghadapi konsekuensi dari tindakannya. Tapi ia tidak akan menyerah. Ia akan mencari Bianca, bahkan jika itu berarti ia harus menghadapi kebenaran yang paling pahit sekalipun.
Karena keheningan Bianca, ketidakpadiannya, jauh lebih menghantui daripada apa pun. Itu adalah penyesalan yang akan selalu bersamanya, sebuah bayangan yang tidak akan pernah hilang. Ia harus menemukan Bianca, tidak hanya untuk memohon maaf, tetapi untuk mencoba memahami mengapa Bianca memilih jalan ini.
Adrian menggenggam erat foto pernikahannya. Sebuah janji yang telah ia ingkari. Ia harus memperbaikinya. Atau setidaknya, mencoba.
Adrian berdiri di ambang pintu studio bunga Bianca, napasnya tersengal. Aroma mawar kering dan lili layu masih sedikit tertinggal di udara, bagai hantu kenangan. Sejak Bianca pergi, ruangan ini menjadi kuil pengingat akan kesalahannya. Ia menyalakan lampu, menerangi vas-vas kosong, gulungan pita yang berantakan, dan gunting-gunting yang tergeletak di meja kerja. Setiap objek di sana adalah bukti keberadaan Bianca, bukti kebahagiaan yang kini hancur di tangannya sendiri.
"Ini gila, Bianc. Kamu tidak bisa pergi begitu saja," gumamnya, suaranya parau. Ia tahu itu gila, tapi ia juga tahu itu adalah keputusan yang dingin dan terencana. Itu adalah cara Bianca membalas.
Adrian menarik napas dalam-dalam. Tekadnya semakin membara. Ia harus menemukan Bianca. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk mereka berdua. Ia harus menjelaskan, memohon maaf, dan entah bagaimana, memperbaiki apa yang telah ia rusak.
Langkah pertama adalah mencari tahu siapa yang mengirim foto-foto itu. Adrian kembali ke kamarnya, meraih ponsel yang ia tinggalkan di sana malam Bianca pergi. Ia membuka riwayat pesan, mencari nomor anonim itu. Ia mencoba melacaknya, tapi itu adalah nomor prabayar yang sudah tidak aktif. Sebuah jalan buntu. Pengirimnya pintar, tidak meninggalkan jejak.
Ia memikirkan Maya. Apakah Maya terlibat? Tidak mungkin. Maya tidak akan punya alasan untuk menghancurkan hidupnya. Maya adalah... Maya hanyalah seorang rekan kerja. Namun, bayangan senyum Maya, tawa lepas mereka di kafe, dan sentuhan spontan di tangan itu kembali menghantuinya. Adrian menghela napas, rasa bersalah kian menusuk. Ia telah lalai, ia telah mengabaikan batas-batas.
Adrian memutuskan untuk berbicara dengan teman-teman dekat Bianca sekali lagi, kali ini dengan lebih mendesak. Ia menelepon Sarah, sahabat Bianca.
"Sarah, aku mohon, kamu pasti tahu sesuatu. Bianca tidak akan pergi tanpa memberitahu siapa pun," kata Adrian, suaranya putus asa.
Sarah terdiam sejenak di ujung telepon. "Adrian, aku juga tidak tahu apa-apa. Bianca tidak menghubungiku. Aku sudah mencoba meneleponnya berkali-kali, tapi ponselnya mati. Aku khawatir."
"Apakah dia pernah menyebutkan masalah di antara kita? Atau apakah dia pernah... mengeluh tentangku?" Adrian bertanya dengan hati-hati, mencoba menyembunyikan rasa takutnya.
"Tidak, Adrian. Tidak pernah," jawab Sarah, nada suaranya tegas. "Dia selalu membicarakanmu dengan penuh cinta. Dia pikir kalian adalah pasangan yang sempurna. Itu sebabnya ini semua sangat mengejutkan bagiku."
Kata-kata Sarah bagai tamparan keras. Sempurna. Itu adalah topeng yang Bianca kenakan dengan begitu apik. Adrian menutup telepon dengan perasaan campur aduk antara frustrasi dan penyesalan. Bianca telah berhasil menyembunyikan segalanya, bahkan dari sahabat terdekatnya.
Sementara Adrian tenggelam dalam keputusasaan, Bianca memulai babak barunya. Ia tiba di pondok tua yang dulunya hanya impian. Pondok itu terpencil, jauh dari hiruk pikuk kota, tersembunyi di antara pepohonan rindang dan semak belukar yang belum terjamah. Sebuah papan kayu usang bertuliskan "Dijual" masih terpampang di depannya.
Bianca turun dari mobil, menatap pondok itu. Debu dan jaring laba-laba melapisi jendela, catnya mengelupas, dan taman yang dulunya subur kini dipenuhi ilalang. Pondok itu tampak usang, terlupakan, mirip dengan perasaannya sendiri. Tapi di balik semua kerapuhan itu, Bianca melihat potensi. Sebuah kanvas kosong tempat ia bisa membangun kembali dirinya.
Ia membuka kunci pintu dengan kunci yang pernah Adrian dapatkan dari agen properti. Udara di dalam terasa pengap dan dingin. Namun, saat ia melangkah masuk, sebuah ketenangan aneh menyelimuti dirinya. Tidak ada kenangan Adrian di sini. Tidak ada tawa mereka yang bergema di dinding ini. Tidak ada jejak pengkhianatan yang menghantuinya.
Pondok itu terdiri dari dua kamar tidur kecil, sebuah kamar mandi, dapur sederhana, dan ruang tamu. Yang paling menarik perhatian Bianca adalah jendela besar di bagian belakang yang menghadap ke taman luas. Ini akan menjadi studio bunganya.
Ia menghabiskan beberapa hari pertama dengan membersihkan pondok. Menyapu debu tebal, menyikat lantai, mengelap jendela hingga berkilau. Setiap gerakan fisiknya adalah upaya untuk mengusir kekacauan di dalam hatinya. Ia membeli perlengkapan dasar, kasur sederhana, dan beberapa alat kebun.
Ponselnya tetap mati. Ia tahu Adrian pasti mencarinya, membombardirnya dengan pesan dan panggilan. Tapi Bianca tidak ingin mendengar suaranya, tidak ingin membaca kata-kata penyesalan yang ia tahu akan terasa hampa. Keheningan adalah senjatanya, dan ia akan menggunakannya sampai Adrian benar-benar merasakan dampaknya.
Hari-hari berlalu. Bianca mulai menata tamannya. Ia mencabut ilalang, memangkas semak-semak, dan menyiapkan tanah untuk menanam bunga-bunga baru. Tangannya yang lembut, yang dulu terbiasa merangkai keindahan, kini terbiasa dengan tanah, kotoran, dan kerasnya pekerjaan fisik. Setiap kali ia merasakan nyeri di punggungnya, atau luka kecil di tangannya, ia merasakan semacam kepuasan. Ini nyata. Ini adalah kerja keras yang jujur, jauh dari kebohongan dan sandiwara.
Ia menanam mawar, melati, krisan, dan berbagai jenis bunga lain yang ia tahu akan tumbuh subur di tanah itu. Ia membayangkan taman itu akan menjadi hutan bunga berwarna-warni, sumber inspirasi dan bahan baku untuk bisnis barunya. Ia akan memulai kembali, dari nol.
Bianca tidak sendiri sepenuhnya. Ada seorang tetangga tua, Bapak Hadi, yang tinggal beberapa rumah jauhnya. Bapak Hadi adalah seorang pensiunan petani yang ramah, yang sering mampir untuk menawarkan bantuan atau sekadar bercengkrama.
"Nona Bianca, butuh bantuan untuk menggali tanah itu?" tanya Bapak Hadi suatu sore, melihat Bianca berjuang dengan sekop.
Bianca tersenyum. "Terima kasih, Bapak Hadi, tapi saya bisa. Saya ingin merasakan setiap bagian dari proses ini."
Bapak Hadi mengangguk, mengagumi semangatnya. "Orang kota sepertimu jarang punya kemauan keras begini. Pasti hatinya kuat."
Hati Bianca terasa teriris mendengar kata-kata itu. Kuat? Ia merasa hatinya hancur berkeping-keping. Tapi ia memaksakan senyum. "Saya sedang belajar menjadi lebih kuat, Bapak."
Ia mulai memasarkan bisnisnya secara daring lagi, dengan nama baru: "Kembang Lara." Nama yang pahit, namun jujur. Perlahan-lahan, pesanan mulai masuk. Orang-orang di daerah pedesaan itu senang dengan adanya penjual bunga yang bisa dijangkau. Bianca bekerja keras, merangkai bunga dengan tangan kosongnya, menciptakan buket-buket indah yang membawa kebahagiaan bagi orang lain. Sebuah ironi yang menyedihkan, bahwa ia bisa menciptakan kebahagiaan untuk orang lain, sementara hatinya sendiri terasa remuk.
Kembali ke kota, Adrian merasa jiwanya mengering. Setiap hari adalah siksaan. Rumah besar mereka terasa seperti penjara. Ia memecat Maya dari proyek Klien Jaya, alasannya "restrukturisasi tim." Maya terkejut, tapi tidak bertanya lebih jauh. Adrian tahu ia harus menyingkirkan semua pemicu yang mengingatkannya pada kesalahannya, bahkan jika itu berarti mengorbankan sebagian dari pekerjaannya.
Adrian akhirnya menghubungi seorang detektif swasta. Ia tidak ingin polisi terlibat, itu terlalu publik. Ia hanya ingin menemukan Bianca, diam-diam.
"Saya butuh Anda menemukan istri saya, Bianca," kata Adrian kepada detektif bernama Bapak Budi itu. "Dia pergi seminggu yang lalu. Saya tidak tahu di mana dia. Dia tidak meninggalkan jejak."
Bapak Budi, seorang pria paruh baya dengan tatapan tajam, mengangguk. "Apakah ada masalah dalam pernikahan Anda, Bapak Adrian? Karena biasanya, jika istri pergi tanpa jejak, ada alasan yang kuat."
Adrian ragu sejenak. Ia tidak bisa sepenuhnya jujur. "Ada kesalahpahaman. Saya... saya melakukan kesalahan. Tapi saya ingin memperbaikinya."
Bapak Budi menatapnya lekat-lekat, seolah bisa membaca kebohongan di matanya. "Baiklah. Kami akan mencoba melacak jejaknya. Bisakah Anda memberikan foto terbaru, detail bank, dan informasi kontak yang mungkin dia gunakan?"
Adrian memberikan semua informasi yang ia miliki. Ia juga memberikan alamat pondok tua yang pernah mereka lihat. Itu adalah satu-satunya petunjuk yang ia miliki, meskipun kecil. Bianca selalu menyebutkan betapa ia mencintai tempat itu. Adrian berharap, dengan putus asa, bahwa Bianca mungkin pergi ke sana.
Penyelidikan dimulai. Bapak Budi dan timnya mulai menyisir catatan, memeriksa transaksi bank Bianca, melacak penggunaan kartu kreditnya. Tapi tidak ada yang muncul. Bianca tampaknya telah menghilang tanpa jejak digital.
"Dia sangat berhati-hati, Bapak Adrian," kata Bapak Budi suatu hari, dalam laporan rutin. "Tidak ada transaksi besar, tidak ada penggunaan ponsel. Sepertinya dia tidak ingin ditemukan."
Adrian meninju meja kerjanya. "Tapi dia harus ditemukan! Dia tidak bisa begitu saja menghilang!"
"Banyak orang yang ingin tidak ditemukan, Bapak," jawab detektif itu dengan tenang. "Kami akan terus berusaha."
Rasa bersalah Adrian semakin parah. Ia mulai menyadari betapa dalam rasa sakit yang ia timbulkan pada Bianca, sehingga Bianca rela menghilang begitu saja, memutuskan semua kontak, demi menghindarinya.
Ia mulai mengingat kembali setiap detail dari pesan anonim itu. Siapa yang mengirimkannya? Mengapa? Apakah itu ulah Maya? Tidak, tidak mungkin. Maya tidak punya motif.
Lalu, sebuah ide gila melintas di benaknya. Mungkinkah ada orang lain yang ingin mencelakainya? Atau mencelakai Bianca? Ia mulai mencurigai semua orang.
Pikirannya kembali ke masa-masa awal hubungannya dengan Bianca. Mereka bertemu di sebuah acara seni. Adrian yang serius dan ambisius, langsung terpikat oleh Bianca yang ceria, manja, dan penuh semangat hidup. Bianca adalah cahaya dalam hidupnya yang terlalu terstruktur. Ia selalu mengatakan bahwa Bianca adalah "Bintangnya," yang menerangi setiap sudut gelap dalam dirinya.
Dan ia telah meredupkan bintang itu.
Malam demi malam, Adrian kembali ke studio Bianca. Ia duduk di lantai, dikelilingi oleh sisa-sisa alat kerjanya, mencoba merasakan kehadiran Bianca, mencoba memahami apa yang ada di balik kepergiannya yang hening. Ia melihat sketsa-sketsa bunga yang Bianca buat, desain karangan bunga yang rumit dan indah. Bianca adalah seorang seniman, dan Adrian telah menghancurkan seninya.
Ia mulai merasa kehilangan perlahan-lahan. Awalnya, ia hanya merindukan kehadiran Bianca di rumah. Lalu, ia merindukan tawanya, sentuhannya, aroma parfumnya. Kemudian, ia merindukan obrolan ringan mereka di pagi hari, candaan mereka saat makan malam, pelukan mereka sebelum tidur. Sekarang, ia merindukan esensinya-jiwa Bianca yang ceria dan penuh cinta.
Kehilangan ini adalah siksaan yang lebih dalam daripada yang pernah ia bayangkan. Kehilangan uang, kehancuran karier, semua itu tidak sebanding dengan kekosongan yang ia rasakan di dadanya. Cinta Bianca adalah harta karunnya yang paling berharga, dan ia telah membiarkannya pergi.
Sementara itu, di pondok Kembang Lara, Bianca mulai menemukan kedamaian yang rapuh. Tanaman-tanamannya tumbuh subur. Taman itu mulai dipenuhi warna dan aroma. Ia juga mulai menata ulang bagian dalam pondok, memberikan sentuhan pribadi di setiap sudut.
Suatu sore, saat Bianca sedang menanam bibit lavender, ia mendengar suara mobil di jalan setapak. Jantungnya berdebar kencang. Apakah itu Adrian? Ia segera bersembunyi di balik semak-semak, mengamati.
Mobil itu berhenti di depan pondoknya. Seorang pria bertopi fedora dan seorang wanita dengan kamera profesional turun dari mobil. Mereka bukan Adrian. Mereka adalah Bapak Budi dan salah satu rekannya.
"Ini dia, Bapak Hadi," kata Bapak Budi kepada tetangga Bianca yang kebetulan sedang lewat. "Ini pondok yang kita cari."
Bianca menahan napas. Mereka menemukannya. Adrian menemukannya.
"Oh, itu pondok Nona Bianca," kata Bapak Hadi. "Dia sudah tinggal di sini sekitar seminggu lebih. Sibuk sekali menanam bunga."
Bapak Budi dan rekannya mengangguk. Mereka mulai mengambil foto pondok, taman, bahkan mobil Bianca yang terparkir di samping.
"Nona Bianca ada di dalam?" tanya Bapak Budi.
"Mungkin di taman belakang," jawab Bapak Hadi, tidak curiga. "Biasanya dia ada di sana."
Bianca tetap bersembunyi, jantungnya berdebar kencang. Adrian tidak datang sendiri. Ia mengirim detektif. Rasa marah kembali membakar hatinya. Adrian tidak berhenti mencari. Tapi mengapa? Apakah ia hanya ingin memuaskan egonya?
Setelah Bapak Budi dan rekannya pergi, Bianca keluar dari persembunyiannya. Ia merasa terancam, privasinya dilanggar. Adrian tidak akan berhenti. Ia akan terus mencarinya.
Malam itu, Bianca duduk di teras belakang, memandangi bintang-bintang. Ia ingat Adrian pernah mengatakan bahwa ia adalah bintang di hidupnya. Sekarang, bintang itu telah padam, atau setidaknya, telah berpindah galaksi.
Ia mengambil ponsel lamanya, yang sudah lama tidak ia gunakan, dan mengaktifkannya. Ia tahu Adrian pasti sudah menyerah mencoba menghubunginya melalui nomor lamanya. Ia ingin melacak pergerakan Adrian, mengetahui apa yang Adrian lakukan. Bukan karena ia merindukannya, tetapi karena ia ingin tahu seberapa jauh Adrian akan pergi untuk "memperbaiki" ini.
Ia mencari berita tentang Adrian di internet. Adrian masih bekerja di perusahaannya, tapi ada berita tentang proyek Klien Jaya yang mengalami sedikit penundaan, dan bahwa desainer interior yang menangani proyek itu tiba-tiba diganti. Bianca tersenyum tipis. Adrian memecat Maya. Sebuah tanda penyesalan? Atau hanya upaya untuk menutupi jejak?
Lalu ia menemukan foto terbaru Adrian. Rambutnya sedikit lebih panjang, wajahnya tampak kurus, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya. Adrian terlihat... hancur.
Sebuah sengatan aneh melintas di hati Bianca. Bukan simpati, tapi semacam kepuasan yang dingin. Adrian sedang merasakan apa yang ia rasakan. Kehilangan. Penderitaan.
Namun, kepuasan itu tidak bertahan lama. Bianca tahu bahwa penderitaan Adrian tidak akan pernah sebanding dengan rasa sakit yang ia rasakan ketika melihat foto dan video itu. Pengkhianatan adalah luka yang dalam, yang mungkin tidak akan pernah sembuh sepenuhnya.
Ia memikirkan langkah selanjutnya. Adrian sudah tahu di mana ia berada. Cepat atau lambat, Adrian akan datang. Apa yang akan ia lakukan? Berlari lagi? Tidak. Ia tidak akan lari selamanya. Ini adalah rumahnya sekarang.
Bianca memutuskan untuk menghadapi Adrian, tetapi dengan caranya sendiri. Tanpa teriakan, tanpa air mata, tanpa drama. Ia akan membiarkan keheningannya menjadi hukuman yang paling berat bagi Adrian.
Ia kembali ke dalam, menatap pondok yang kini terasa lebih seperti rumah baginya. Di setiap sudut, ia melihat dirinya sendiri-keberaniannya, tekadnya, dan kemampuannya untuk bertahan. Ia telah membangun kembali hidupnya dari reruntuhan, sepotong demi sepotong.
Dan ketika Adrian akhirnya muncul, ia akan melihat seorang Bianca yang berbeda. Bukan lagi istri yang manja, genit, dan selalu bergantung padanya. Tapi seorang wanita yang kuat, mandiri, dan telah menemukan kedamaian dalam keheningan.
Bianca tersenyum tipis. Adrian berpikir ia sedang mencari Bianca yang dulu. Tapi Bianca yang dulu sudah mati, terkubur di bawah puing-puing pengkhianatan. Kini, ada Bianca yang baru, dan ia siap menghadapi badai. Ia tahu, Adrian tidak akan pernah bisa membalikkan waktu. Dan ia tidak akan pernah memaafkan.