Bab 2

Arlena duduk di meja kerjanya, tangan terlipat di depan wajah, menatap layar komputer dengan tatapan kosong. Tidak ada yang bisa ia kerjakan hari itu-tidak ada yang penting selain satu hal: balas dendam. Semua yang telah terjadi, yang menyebabkan keruntuhan rumah tangga orang tuanya, kini telah membawanya pada satu titik di mana perasaan marah dan sakit hati menjadi bahan bakar utama bagi setiap tindakannya.

Nadia, wanita yang dulu tampak begitu sempurna di mata semua orang, kini menjadi musuh utama dalam hidup Arlena. Tentu saja, tidak ada yang tahu betapa dalam luka yang ditinggalkan oleh pengkhianatan itu. Arlena memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan pikirannya.

"Aku harus berhati-hati," gumamnya pelan, berbicara pada dirinya sendiri. "Setiap langkahku harus tepat."

Pikirannya kembali melayang pada percakapan yang baru saja terjadi dengan Rafael. Pria itu-meskipun tidak sepenuhnya bersalah-tetap saja memiliki hubungan dengan keluarga yang telah menghancurkan hidupnya. Ia adalah bagian dari cerita yang tak akan pernah bisa dilupakan. Namun, Arlena tahu, bahkan dengan semua amarah yang membakar hatinya, ia harus berpikir lebih jernih.

Sebuah ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya.

"Masuk," serunya, suara tegas terdengar lebih kuat dari yang ia rasakan.

Seorang rekan kerjanya, Bastian, masuk ke ruangan dengan senyuman lebar di wajahnya. Bastian adalah seorang pria muda yang penuh semangat dan cukup cerdas, meskipun sering kali terlalu ceria untuk situasi yang tengah dihadapi Arlena.

"Arlena, ada kabar bagus!" katanya, melangkah lebih dekat dengan semangat yang tak terbendung.

Arlena menatapnya dengan pandangan kosong. "Kabar bagus?"

Bastian mengangguk, meletakkan sebuah berkas di atas meja Arlena. "Kita baru saja mendapat proyek besar. Proyek yang akan memberikan kita keuntungan besar. Ini bisa mengubah segala sesuatu."

Arlena melihat berkas yang tergeletak di depannya. Pikirannya teralihkan untuk sesaat, namun kemudian kembali ke fokus utamanya. "Proyek besar? Apakah itu lebih penting daripada apa yang sedang aku hadapi saat ini?"

Bastian sedikit terkejut dengan nada Arlena yang tidak seperti biasanya. "Apa maksudmu? Kita bisa merayakan pencapaian ini bersama. Lupakan dulu semua masalah pribadi. Ini kesempatan emas!"

Arlena menatap Bastian dengan tatapan dingin. "Maksudmu, aku harus melupakan segalanya hanya demi proyek ini? Kalau aku bisa, aku akan melupakan semuanya. Tapi tidak, Bastian, tidak hari ini."

Bastian terdiam sejenak, mencoba membaca ekspresi Arlena. "Ada yang salah? Kamu tidak terlihat seperti biasanya."

"Begitulah," jawab Arlena dengan nada datar. "Tapi ada hal-hal yang lebih besar daripada proyek ini, Bastian. Proyek yang tak akan pernah bisa kamu pahami."

Bastian, yang mulai merasa cemas, mundur sedikit. "Oke... kalau begitu, kalau kamu butuh waktu, aku akan pergi dulu."

"Terima kasih," jawab Arlena tanpa banyak bicara.

Setelah Bastian pergi, Arlena kembali menatap layar komputer. Rencana yang telah ia susun perlahan mulai terlihat jelas di benaknya. Tidak ada yang akan menghentikannya. Nadia, sang perusak kebahagiaan keluarganya, akan membayar harga yang setimpal. Namun, untuk itu, Arlena membutuhkan lebih dari sekadar amarah. Ia membutuhkan informasi, pemahaman yang mendalam tentang kelemahan Nadia.

Lama-kelamaan, ia tahu, cara terbaik untuk mengalahkan seseorang adalah dengan mengetahui segalanya tentang mereka.

Keesokan harinya, Arlena berdiri di depan cermin, menata dirinya dengan rapi. Pakaian yang dipilihnya hari itu sangat berbeda dari biasanya-bukan untuk gaya, tetapi untuk tujuan. Ia membutuhkan kekuatan yang lebih, dan penampilannya hari itu adalah bagian dari rencana yang lebih besar.

Setelah memastikan segalanya, Arlena melangkah keluar dari apartemennya menuju pertemuan yang telah dijadwalkan dengan Rafael. Ia tahu, kali ini, ia harus bermain cerdas. Tidak ada lagi ruang untuk kesalahan.

Namun, saat ia tiba di restoran yang telah ditentukan, ia merasakan ketegangan di udara. Rafael sudah duduk di meja, menunggunya dengan ekspresi yang tidak bisa terbaca. Ketika Arlena duduk di hadapannya, ia langsung merasakan tekanan dari mata pria itu.

"Arlena," Rafael memulai dengan suara dalam, "aku tahu kau masih marah padaku... padanya."

Arlena tersenyum sinis. "Marah? Itu bahkan belum dekat dengan apa yang kurasakan."

Rafael menghela napas, seolah tahu bahwa kata-katanya kali ini tidak akan mudah diterima. "Apa yang kau rencanakan, Arlena? Aku tahu kau sedang merencanakan sesuatu."

Arlena menatapnya tanpa mengalihkan pandangan. "Dan apa yang kau pikirkan? Bahwa aku akan duduk dan meratap selamanya?"

Rafael terdiam, matanya merenung. "Kau sangat marah... terlalu marah."

"Dan kau terlalu bodoh untuk menyadarinya," jawab Arlena tajam. "Tapi kau akan belajar. Semua akan terjadi lebih cepat dari yang kau kira."

Rafael menyandarkan punggungnya ke kursi, menatapnya dalam diam. Ia tahu Arlena bukanlah wanita yang mudah dipahami. Meskipun ia bisa merasa simpati pada rasa sakit yang dirasakannya, ia juga tahu bahwa ini bukanlah hal yang bisa dihindari.

"Jadi, apa yang kau inginkan dariku?" tanya Rafael akhirnya, suaranya penuh dengan ketegangan yang tak bisa disembunyikan.

Arlena tersenyum tipis. "Aku ingin kau berhenti melindungi wanita itu. Aku ingin dia merasakan apa yang telah dia lakukan pada keluargaku."

Rafael menatapnya intens. "Dan jika aku tidak bisa melakukan itu?"

"Jika kau tidak bisa, Rafael," suara Arlena rendah namun penuh ancaman, "maka kau akan menjadi bagian dari masalah, bukan solusi."

Rafael hanya bisa menatapnya, sebuah pertanyaan besar tergantung di antara mereka.

Bab 3

Arlena kembali ke apartemennya setelah pertemuan dengan Rafael yang tegang. Setiap kata yang diucapkan, setiap tatapan yang dilemparkan, membuatnya semakin yakin bahwa ia sedang berada di jalur yang benar. Namun, meskipun tekadnya bulat, ia tahu bahwa rencana balas dendam ini tidak bisa dilakukan dengan sembarangan. Semua harus berjalan dengan sempurna-setiap langkah harus diperhitungkan, setiap tindakan harus dipertimbangkan dengan cermat.

Sore itu, setelah makan malam, Arlena duduk di depan meja kerjanya, membuka laptop dengan hati-hati. Ia mulai mencari informasi tentang Nadia-wanita yang telah merusak hidupnya. Ia tahu, untuk menghancurkan seseorang, ia harus mengetahui setiap detail hidup mereka. Dari mana mereka berasal, apa yang mereka takutkan, hingga apa yang mereka inginkan.

Layar komputer menampilkan profil Nadia, lengkap dengan informasi pribadi yang tak terduga. Arlena melanjutkan pencariannya dengan tekun, mencatat setiap detail yang bisa berguna nantinya. Namun, satu informasi yang mengejutkan membuat jantungnya berhenti sejenak: Nadia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan pengusaha besar yang sangat berkuasa di kota ini-dan itu bukanlah kebetulan. Arlena mulai merangkai benang-benang merah yang menghubungkan Nadia dengan jaringan kekuasaan yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.

"Ini baru permulaan," bisiknya pada diri sendiri, senyum tipis tersungging di wajahnya.

Langkah pertama telah diambil-memahami musuhnya. Sekarang, ia hanya perlu menunggu saat yang tepat untuk bergerak.

Beberapa hari kemudian, Arlena kembali bertemu dengan Rafael di sebuah acara gala yang diadakan oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Ia tahu, Rafael tidak akan bisa menghindar kali ini. Perhatian banyak orang di sekitarnya akan mempermudahnya untuk mendekati dan memanfaatkan momen ini.

Saat Arlena memasuki ruangan yang mewah itu, ia menyadari bahwa segala sesuatunya terlihat sempurna-terlalu sempurna. Para tamu mengenakan gaun-gaun indah dan jas-jas rapi, sementara makanan dan minuman tersaji dengan elegan. Namun, di balik kemewahan ini, Arlena tahu ada banyak rahasia yang disembunyikan.

Senyumannya kembali terlukis di wajahnya saat ia melihat Rafael berdiri di sudut ruangan, berbicara dengan beberapa rekan bisnis. Dia tidak tahu bahwa Arlena telah mengamati setiap gerak-geriknya, memperhatikan setiap detail yang mungkin berguna dalam rencana besarnya.

Ketika matanya bertemu dengan mata Rafael, Arlena bisa merasakan ketegangan yang tak terucapkan antara mereka. Rafael tahu, ia sedang berada dalam permainan yang berbahaya-dan Arlena adalah pemain utamanya. Ia mendekat, dengan langkah yang tenang namun penuh dengan tujuan yang jelas.

"Rafael," sapanya dengan suara lembut namun mengandung kekuatan, membuat pria itu berhenti sejenak dan berbalik ke arahnya.

"Arlena," jawab Rafael dengan senyum tipis yang tak sepenuhnya bisa menyembunyikan ketegangan di wajahnya. "Apa yang bisa kulakukan untukmu malam ini?"

Arlena tersenyum lebih lebar, sedikit mengejek. "Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa kita masih belum selesai. Kamu bilang kamu ada di pihakku, tapi kenyataannya... kamu terlalu terikat dengan orang yang salah."

Rafael mengangkat alis, mencoba mengendalikan emosi yang mulai terbangun. "Jangan bermain-main, Arlena. Kamu tahu aku tidak akan pernah melawanmu jika itu yang kamu inginkan."

Namun, Arlena tahu Rafael tidak bisa melepaskan diri begitu saja. Ada lebih banyak hal yang ia ingin ketahui tentang hubungan Rafael dan Nadia. Jika Rafael benar-benar ingin menolongnya, ia harus memilih sisi yang benar.

"Jika kamu tidak melawan, berarti kamu hanya menjadi bagian dari masalah, bukan solusi," Arlena menjawab dengan nada yang lebih tajam, hampir seperti ancaman.

Rafael terdiam, seolah memahami bahwa percakapan ini bisa berakhir dengan cara yang sangat berbeda dari yang ia inginkan. "Apa yang kau harapkan dariku, Arlena?"

"Semua yang ingin aku lihat adalah kebenaran yang tersembunyi," jawab Arlena, "dan aku akan mendapatkannya, apapun caranya."

Senyum Arlena kembali terlihat, tetapi kali ini senyum itu penuh dengan ketegangan. Ia tahu, ini baru permulaan. Permainan ini baru dimulai, dan ia tidak akan mundur begitu saja.

Keesokan harinya, Arlena bertemu dengan seorang informan yang telah ia tunjuk untuk menggali lebih dalam tentang Nadia dan pengaruhnya di dunia bisnis. Seiring waktu, ia mulai menemukan lebih banyak informasi yang membuka matanya tentang kekuatan yang dimiliki oleh Nadia. Ternyata, wanita itu tidak hanya sekadar istri dari seorang pria kaya. Nadia adalah bagian dari jaringan yang lebih besar-jaringan yang mencakup banyak tokoh penting di kota ini.

Arlena merasa terhanyut dalam dunia yang lebih gelap dan berbahaya daripada yang ia bayangkan. Tapi di balik semua itu, ia juga merasa lebih dekat pada tujuan utamanya-menjatuhkan Nadia.

Namun, semakin dalam Arlena menyelidiki, semakin banyak ia mendapati bahwa balas dendam ini bukan hanya sekadar tentang menghancurkan hidup seorang wanita. Ini lebih dari itu-ini tentang mengambil alih kendali, mengubah takdirnya sendiri, dan menunjukkan bahwa ia lebih kuat dari semua yang telah terjadi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED