Seorang gadis berambut panjang terlihat tengah memukul wajah seorang pria di sebuah kedai makan. Gadis tangguh itu adalah Hanna. Waiters baru di restoran itu.
”Aku akan menghajarmu berkali-kali sampai wajahmu biru.” Teriak Hanna sembari mendorong pria itu hingga tersungkur di atas lantai.
Sang pria meringis kesakitan memegangi pipinya yang lebam. Lima menit sebelum kejadian, Hanna sedang mengantar makanan ke meja pria bertubuh kurus itu. Namun kali ini Hanna kurang beruntung. Si pelanggan ternyata seorang yang mesum. Dengan santainya lelaki buaya darat itu memegang bokong montok Hanna. Sontak saja Hanna melayangkan tinjunya. Jiwa bar-barnya keluar.
Pria manapun pasti tidak tahan melihat kemolekan tubuh Hanna. Wajah yang cantik dihiasi mata coklat dengan sedikit semburat emas ditengah. Pria itu sangat malang. Dia memilih mangsa yang salah. Mau untung malah jadi buntung. Kerumunan pelanggan yang menyaksikan pertunjukan gratis itu, mengundang kemarahan sang manajer. Dengan kasar sang manajer menghardik Hanna.
”Hei kau! Baru sehari bekerja di sini sudah memukul pelanggan. Kau tahu, tuan ini pelanggan VIP. Apa yang akan orang katakan. Restoran ini akan terlihat buruk di mata pelanggan.” Si Manajer mengacak-acak rambutnya merasa kesal dengan tindakan Hanna.
Hanna meletakkan kedua tangannya di pinggangnya. Dengan tatapan sinis dan sedikit mengangkat kepalanya menantang si Manajer.
”Cih! Lebih mementingkan pelanggan mesum. Pelanggan VIP kesayangan bapak ini, sudah kurang ajar padaku.” Sanggah Hanna sembari menunjuk pria mesum itu.
Sang Manajer menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar.
”Baiklah. Kau dipecat. Aku tidak ingin mengambil resiko dengan memperkerjakanmu disini. Melihat tingkahmu yang seperti ini akan banyak pelanggan yang jadi korbanmu.” Ujar sang Manajer lalu ia membantu si pria mesum itu berdiri.
Hanna yang melihat itu tersenyum sinis. Ia segera melucuti apronnya dan mencampakkannya ke wajah sang Manajer.
”Kau kira aku akan mengemis setelah kau mengatakan itu. Aku berhenti. Aku yang memecatmu jadi bosku bukan kau yang memecatku.” Hanna melangkahkan kakinya dengan hentakan yang keras keluar dari restauran itu.
Gadis tangguh itu adalah Hanna, gadis yang bar-bar namun berhati emas. Dengan sifatnya yang sedikit liar, tentu siapa pun tidak akan tahan. Sebelumnya ia juga dipecat dari swalayan dekat rumahnya. Kala itu ia memberi sebungkus roti kepada anak yang kelaparan di depan swalayan. Mungkin orang akan mengira ia membeli roti itu. Padahal ia mengambilnya dari rak tanpa sepengetahuan bosnya yang pelit.
Hanna paling benci melihat ketidakadilan. Selayaknya ia diacungi jempol. Tapi kebanyakan orang tidak senang melihatnya. Hanya ibunya yang selalu mendukung Hanna.
Hanna menghentikan langkahnya di depan sebuah toko. Ia melihat bayangan dirinya yang dipantulkan dari jendela kaca. Rambut coklatnya menari-nari di hembus angin. Lama ia mematung di sana menatap dirinya sendiri. Ia bisa melihat matanya yang mulai penuh dengan air asin.
Dibalik sifat 'tangguhnya' itu, sebenarnya ia wanita yang gampang menangis. Ia bingung bagaimana ia akan mengatakannya pada ibunya nanti. Selama ini, ibunya yang membiayai kehidupan mereka dengan bekerja sebagai asisten rumah tangga.
Hujan deras tiba-tiba turun membasahi Hanna dan semuanya yang ada diatas tanah. Langit seakan ikut menangis dengan Hanna. Sampai minggu lalu pun, cuaca di Trueveland tidak menentu. Terkadang sangat dingin juga kadang terasa panas.
Kemudian cuaca mulai menghangat begitu Hanna menghentikan tangisannya. Taman yang dilalui Hanna berubah menjadi berwarna hijau yang sejuk dan bunga-bunga bermekaran dengan indah ketika cahaya matahari menyiramnya dari celah-celah awan itu. Wangi tanah dan rerumputan menyatu dengan udara yang lembab.
Setelah melewati belokan di ujung jalan, ia sampai di depan rumahnya. Bangunan kecil yang terjepit diantara hiruk pikuknya kemegahan Trueveland.
Sementara itu disebuah gedung pertunjukan termegah di Trueveland, sedang terjadi huru-hara dari penggemar wanita yang meneriaki nama idolanya. Seorang pria tinggi bertubuh atletis berdiri di tengah panggung sambil menyanyikan lagu cinta yang menggugah hati. Siapa saja yang melihatnya akan terbuai. Rambut yang kemerahan sangat kontras dengan kulitnya yang putih pucat.
”Will... Aku mencintaimu!” Teriak seorang dari kerumuman itu.
Ada juga yang menangis histeris saat Will meletakkan jarinya di bibirnya dan membuat ciuman jauh kepada penggemarnya.
”Will Greyson, kami menyayangimu!” Teriak mereka bersamaan.
Will Greyson seorang penyanyi pendatang baru yang berhasil meraih ketenarannya di usianya yang baru menginjak 27 tahun. Menyanyi adalah hasrat jiwanya. Sedari ia kecil, Will sering mengungkapkan kesedihannya lewat lagu. Setelah menyelesaikan lagu terakhir, ia berpamitan kepada penggemarnya.
”Terima kasih. Tanpa kalian aku tidak bisa berdiri disini. Aku menyayangi kalian semua.” Will melambaikan tangannya.
Lautan para gadis itu berteriak histeria mendengar perkataan Will Greyson. Membuat seluruh gedung bergemuruh. Ada juga beberapa gadis yang berusaha naik ke atas panggung sekedar memeluk idolanya.
”Will..Will..Will...” Teriak mereka.
Will Greyson memberikan senyuman renyah sebelum ia turun dari panggung. Di belakang panggung seorang pria paruh baya memberikan air mineral kepada Will. Dia adalah Ryan Oneil manajernya.
”Tadi itu pertunjukan yang bagus. Aku ingin kau seperti itu setiap konser. Aku suka mendengar histeria para gadis itu.” Ungkap Ryan berapi-api. Matanya bersinar saat menyatakan itu.
Will tidak menggubrisnya. Tanpa berbicara ia mengambil air mineral dari tangan Ryan dan menenggak sampai habis. Kemudian menjatuhkan bokong tipisnya diatas sofa. Ia terlihat sangat lelah. Will meluruskan kaki jenjangnya dan menyadarkan kepalanya ke bahu sofa. Ryan duduk disampingnya dan mulai bercuap-cuap yang membuat Will kesal.
”Kau tahu, aku sangat lelah. Aku ingin istirahat. Bisakah kau menghentikan ocehanmu itu.” Ujar Will dengan ketus.
Ryan membulatkan matanya. Ia terlihat tidak senang dengan ucapan Will.
”Baiklah. Aku tidak akan mengganggumu.” Ryan bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Will sendirian.
Sedetik kemudian ponsel Will berdering. Raut wajah Will yang tadinya terlihat masam berubah cerah. Ternyata si penelepon adalah Kimberley, temannya sedari ia masih kanak-kanak.
”Aku melihat konsermu dari televisi. Kau sangat menawan. Pantas saja semua gadis-gadis itu keringat dingin melihat penampilanmu.” Ujar Kimberley dari seberang.
”Sungguh? Aku senang kau menonton konserku walau hanya dari layar kaca.” Ungkap Will bersemangat. ”Besok aku tidak ada jadwal. Bagaimana kalau kita makan siang bersama?” tanya Will.
”Ya, aku juga tidak ada kegiatan besok. Kalau begitu, kita bertemu di sky restoran.”
”Baiklah. Sampai jumpa besok. Aku mau pulang kerumah dulu ya.” Sambung Will.
”Kau pasti kelelahan. Ya, sudah sampai besok.”
Will mengakhiri percakapan mereka. Ia tersenyum manis sekali melihat nama Kimberley di layar ponselnya. Baginya Kimberley adalah orang istimewa di hatinya. Pertemanan mereka selama bertahun-tahun membuahkan rasa cinta di hati Will Greyson.
Tapi, Will tidak memiliki keberanian untuk menyatakan rasa yang dihatinya kepada Kimberley. Selain itu, Will juga memiliki trauma masa kecil yang membuatnya takut akan hubungan antara pria dan wanita.
Will menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil merenggangkan otot tangannya. Kemudian ia pergi keluar dari pintu belakang gedung. Di luar kerumunan para gadis berdiri di depan mobil Will. Mereka menunggu Will sekadar meminta tanda tangan dan mengambil gambar.
Will Greyson yang sudah merasa kelelahan memilih menghindari kerumunan itu. Ia berjalan diam-diam sambil menarik topinya semakin dalam. Ketika ia sampai di pertigaan jalan, Will menelpon Ryan untuk menjemputnya.
Sebelum Hanna masuk kedalam rumah, ia menghirup napasnya dalam-dalam. Seakan mengumpulkan keberanian untuk bercerita kepada ibunya. Pintu kayu yang sudah usang itu ia buka perlahan yang menimbulkan suara berdecit. Mery Jolie, ibunya Hanna terlihat sibuk dengan penggorengan dan ikan tuna yang baru ia beli.
Hanna memeluk ibunya dari belakang. Ia sandarkan kepalanya di punggung ibunya. Seolah sudah mengerti gelagat Hanna, Nyonya Mery membalikan badannya dan memegang kedua pipi Hanna. Ia selidiki mata coklat itu. Lalu nyonya Mery tersenyum.
”Dipecat lagi?” suaranya terdengar lembut.
Hanna menganggukkan kepalanya dan sedikit memanyunkan bibir mungilnya. Ia mulai membasahi pipinya dengan air asin yang keluar dari pelupuk matanya.
”Ibu, mengapa aku tidak bisa bekerja dengan benar? Aku hanya memukul pria mesum itu, karena dia telah meraba bokongku. Aku malah berakhir dipecat. Apa yang harus kulakukan, Bu?” Tangisannya semakin pecah.
Nyonya Mery menyeka air mata putrinya itu dengan kedua ibu jarinya. Ia sisingkan rambut Hanna ke belakang telinganya.
”Mereka hanya tidak memahami niat baikmu. Kau jangan menangis lagi. Bukankah Hanna yang ibu kenal seorang gadis tangguh.”
Hanna menarik kursi kayu yang ada di dekatnya dan menjatuhkan tubuhnya diatas kursi itu. Ia mengepalkan tangannya dan memukul meja yang ada disisinya.
”Harusnya aku memukul si manajer culas itu juga. Aku tidak salah.” Teriakannya menggema di rumah yang kecil itu.
Nyonya Mery hanya bisa mengelus dada melihat putrinya. Ia sangat memahami sifat Hanna yang terlalu berani.
”Hanna, kau seorang gadis. Bersikaplah seperti gadis pada umumnya. Harus anggun dan sopan. Bagaimana pria bisa menyukaimu dengan sikap yang seperti itu.” Ungkap nyonya Mery.
”Ibu, putrimu yang cantik ini memiliki banyak penggemar. Jadi ibu jangan khawatir, mereka tetap menyukaiku yang seperti ini.” Balas Hanna percaya diri.
”Yah, ibu tidak bisa pungkiri itu. Aku hanya merasa kasihan saja pada pacar-pacarmu itu. Aish, anak gadis ini sungguh luar biasa.” Nyonya Mery menggelengkan kepalanya melihat Hanna yang mengangkat kakinya ke atas meja.
Meskipun Hanna memiliki sifat yang seperti itu, banyak pria yang bertekuk lutut padanya. Jelas saja dengan tubuh bohai berparas cantik akan membuat pria mana pun mabuk kepayang. Hanna baru-baru ini menjalin hubungan dengan George, seorang dokter muda yang dikenalnya ketika ia membawa ibunya berobat bulan lalu. Bisa dibilang Hanna seorang 'playgirl'. Ia tipe yang mudah bosan dalam hubungan. Paling lama hanya sebulan.
Ah, 2 minggu yang lalu ia baru putus dengan Sean sebelum bersama George. Sean yang hampir melompat dari jembatan karena di campakkan Hanna. Sean malang jatuh cinta pada gadis yang salah.
”Hanna, bila ibu pikir-pikir usiamu sekarang hampir 30 tahun. Sebaiknya kau jangan lagi bermain-main dengan George. Dia pria yang mapan dan juga tampan. Ibu rasa kalian menikah saja. Kau tidak perlu mencari pekerjaan lagi. Bahkan semua temanmu sudah memiliki anak. Kau masih saja asik bermain-main.” Papar Nyonya Mery.
Hanna membelalakkan matanya. ”Ibu aku masih 29 tahun bahkan mendekati 30 pun belum. Aku masih belum menemukan yang cocok bu.” Hanna menguncir rambutnya sebab udara di rumah itu terasa pengap ditambah perkataan ibunya membuat Hanna semakin gerah.
”Mengenai George, aku masih belum terlalu mengenalnya. Ibu jangan risau. Aku pasti akan menikah tapi tidak sekarang.” Pungkasnya kemudian.
Nyonya Mery menyipitkan matanya yang lebar. ”Baiklah terserah kau saja. Ibu malas berdebat denganmu. Oh, kau lanjutkan saja memasak ikan tuna yang di mangkuk itu.” Nyonya Mery mengambil sweeter abu-abu miliknya yang tergantung di dinding.
”Ibu mau kemana?” Tanya Hanna.
”Ibu mau bekerja dulu. Mungkin Tuan Greyson sudah pulang. Ibu harus tepat waktu, kalau tidak si anak muda itu akan memecat ibu.” Jawab Nyonya Mery.
”Anak muda? Apa majikan ibu seorang pemuda lajang? Apakah ia tampan?” Mata Hanna berbinar ketika membayangkan majikan ibunya.
Nyonya Mery memukul pelan kepala Hanna.
”Kau sudah bersama George. Jangan harap untuk mempermainkan perasaan pria lain lagi. Lagi pula kau bukan tipe tuan Greyson.” Nyonya Mery meletakan dagunya di antara telapak tangannya sambil membayangkan majikannya itu.
”Dia pemuda yang tampan dan berbakat. Tapi sedikit galak dan angkuh. Ia tidak bisa melihat rumahnya berantakan. Benar-benar sangat perfeksionis.” Lalu nyonya Mery mengalihkan matanya ke Hanna. ”Sementara gadis yang di hadapanku ini sangat sembrono dan bar-bar. Haiyoo...”
Raut wajah Hanna berubah masam seasam perasan lemon. Ia memandangi punggung ibunya hingga hilang di balik pintu. Ia masih merasa malas untuk melakukan yang dikatakan Nyonya Mery. Ia melihat jam yang terpaku di dinding. Masih pukul 16.00. Masih ada waktu untuk menonton siaran kesukaannya sebentar.
Terkadang Hanna merasa heran dengan ibunya. Bila majikannya tidak ada di rumah, maka ibunya pun tidak bekerja. Hanna semakin penasaran dengan si tuan muda Greyson yang dikatakan Nyonya Mery. Wajahnya bersemu merah menebak-nebak ketampanan si majikan ibunya itu.
Will Greyson tiba di rumahnya diantar sang Manajer, Ryan. Ia meninggalkan Ryan di halaman depan. Will enggan mendengarkan suara berisik Ryan yang mengganggunya selama di perjalanan tadi. Ketika ia masuk kedalam rumah, Nyonya Mery menyambutnya dan memberi air perasan lemon. Ritual yang biasa dilakukan Will sehabis konser, minum air perasan lemon agar suaranya tetap terjaga.
”Mery, apakah kau sudah bersih-bersih hari ini?” Tanya Will sembari mengusap permukaan meja dengan jarinya.
”Iya tuan, semuanya sudah saya bersihkan.” Ia menundukkan kepalanya tak berani menatap mata Will yang seakan menusuknya.
”Bagaimana dengan handukku?”
”Saya sudah merapikannya berdasarkan warna di rak kamar mandi, seperti yang Tuan minta kemarin.”
Will mengangkat alisnya dan melengkungkan bibirnya kebawah. Kemudian ia melangkah ke atas. Saat di anak tangga ke empat ia menghentikan langkahnya.
”Ah, aku ingin makan salad buah dan dada ayam rebus. Juga smash potato beri sedikit lada.” Perintah Will dan kembali melanjutkan langkahnya.
”Baik tuan, seperti yang anda minta.”
Nyonya Mery segera membuat makanan yang diminta Will. Ia tahu betul tidak boleh melakukan kesalahan sedikit saja. Will sangat menghindari makanan yang digoreng. Demi menjaga pita suaranya tetap sehat, ia rela menahan seleranya. Padahal ia paling suka makan steak yang berminyak.
Di dalam kamar, Will terlihat memandangi sebuah gambar dua anak-anak yang sedang tersenyum sambil bergandengan. Itu adalah potret dirinya dan Kimberley semasa kecil. Dulu saat Will mengalami hari yang buruk, Kimberley lah yang selalu menemaninya. Ia masih mengingat dengan baik saat ayahnya mengalami kebangkrutan, ibunya lebih memilih pergi bersama pria lain yang lebih kaya. Meninggalkan Will kecil bersama ayahnya yang mulai sakit-sakitan.
”Aku harus pergi dari rumah ini, Hans. Aku tidak bisa menghabiskan hidupku yang berharga dengan merawatmu dalam kemiskinan.” Ujar Nyonya Rose, ibunya Will.
Hans Greyson hanya bisa pasrah. Tidak masalah jika Rose pergi asal Will tetap bersamanya. Will kecil saat itu tidak mengerti apa yang terjadi. Yang dia tahu, ibunya tidak membawa Will bersamanya. Meskipun Will menangis hingga matanya bengkak, Rose bahkan tidak menoleh sedikitpun. Ia tetap lurus kedapan menggandeng pria barunya.
Sejak kepergian Rose, Will membenci setiap orang yang memiliki keluarga harmonis. Bahkan ia membenci ayahnya. Jika bukan karena kebangkrutannya, Will tidak akan mengalami semua itu. Kenangan buruk itu selalu terekam dalam memorinya paling dalam. Yang membuatnya trauma dengan ikatan antara pria dan wanita. Seiring berjalannya waktu rasa traumatis-nya berubah menjadi philophobia.
Selama ini Will menghindari kontak fisik dengan lawan jenis, itu bisa memicu phobianya. Meskipun Will seorang idola, ia sering mengabaikan para fansnya yang ingin memeluk dan berfoto dengannya. Banyak penggemarnya yang menjulukinya si tampan yang angkuh.
Senin yang sibuk datang lagi. Hanna tengah bercermin mencoba pakaian yang akan ia kenakan hari ini. Ia memilih memakai rok plisket putih pendek dan memadukannya dengan blouse pink transparan berenda. Rambut coklat yang indah itu, ia biarkan terurai. Sentuhan akhir lipbalm pink yang menggoda ia poles di bibir seksi itu.
Selama semalam ia menulis iklan di selebaran. Yah, Hanna mulai menyerah bekerja pada orang lain. Ia mencoba menawarkan jasa apa saja yang bisa dilakukannya. Entah itu bersih-bersih, mengantar barang dan segala sesuatu yang berhubungan dengan jasa.
Ia masukkan lembaran kertas itu kedalam tas besar. Sebelum pergi Hanna menyempatkan mengganggu Nyonya Mery yang sedang asik mengganti gorden jendela.
”Booo!” Hanna dengan sengaja mengusili Nyonya Mery.
”Haah!" Sontak Nyonya Mery berteriak kaget hampir terjatuh.
”Hannaa.... Dasar gadis nakal. Jika ibu terkena serangan jantung bagaimana?” Hardik Nyonya Mery sembari menggetok kepala Hanna.
”Aww,” Hanna meringis. ”Ibu, aku akan keluar. Doakan aku ya Bu semoga hari ini adalah keberuntunganku.”
”Mencari pekerjaan baru lagi ya? Kau masih belum menyerah. Menikah sajalah dengan George dengan begitu kau tak perlu bekerja lagi.” Ujar Nyonya Mery.
”Sudah kukatakan aku belum mau menikah, Bu. Kalau begitu aku berangkat dulu ya bu.” Balas Hanna sembari mengambil sepatu kets putih dari rak sepatu.
Cuaca pagi ini sangat cerah. Hanna menempelkan setiap selebaran di tembok bangunan dan di tiang listrik yang ia temui di sepanjang jalan. Seorang pria mengikuti Hanna diam-diam. Dengan perlahan ia mendekati Hanna yang sibuk memasang iklan di tembok. Dan sedetik kemudian pria itu merangkul Hanna dari belakang yang membuat Hanna berteriak. Sekejap kemudian Hanna membalikkan badannya dan menampar wajah pria itu.
”Aww..Hanna ini aku, Sean. Aduh wajahku sakit sekali.” Rupanya pria itu Sean mantan Hanna.
Sean memegangi pipinya yang merah. Telapak tangan Hanna tergambar jelas di kulit putih itu.
”Sean? Huh! Rasakan sendiri. Beraninya memeluk tanpa izin. Apa kau mengikutiku kesini? Ini tidak mungkin kebetulan.” Hanna mengernyitkan alisnya.
Sean selangkah mendekati Hanna. ”Hanna, aku merindukanmu. Aku tidak bisa tanpamu. Ku mohon mari kita ulangi lagi kisah kita.” Ungkap Sean.
Hanna melipat kedua tangannya di depan dada. Ia memalingkan wajah indah itu ke jalanan. Mengamati setiap kendaraan yang melintas.
”No way! Rasa cintaku sudah hilang tuh. Kau cari saja wanita lain. Aku sudah memiliki pacar baru.” Hanna menjawab Sean dengan datar.
Sean berlutut dengan menangkupkan tangan. Pelupuk matanya penuh dengan air yang siap membanjiri pipinya.
”Aku sangat mencintaimu, Hanna. Beri aku kesempatan. Aku bahkan tidak tahu apa kesalahanku. Kau tiba-tiba mengatakan putus. Itu membuatku frustrasi.”
Hanna melirik Sean. Ia mulai merasa malu di perhatikan orang-orang yang melintas. Ia menendang pelan paha Sean.
”Kau membuatku merasa malu. Berdirilah Sean.” Suara Hanna sedikit meninggi.
Sean menggeleng kepala. ”Tidak mau. Sebelum kau menerimaku kembali aku akan tetap seperti ini.”
Bola mata coklat Hanna membesar. ”Baiklah. Kau berlutut saja disana selamanya. Toh, aku tidak peduli.” Hanna melangkah pergi meninggalkan Sean.
Namun, Sean pria yang teguh. Secepat kilat ia menangkap kaki Hanna dan merangkulnya erat-erat. Hanna merasa risih dengan tindakan Sean, berusaha melepaskan diri. Mereka menjadi pusat perhatian. Ada yang tertawa menyaksikan adegan itu, tak sedikit pula yang merasa kasihan pada Sean.
Di seberang jalan itu, Will Greyson sedang memperhatikan Hanna dan Sean yang sedang tarik ulur dari balik jendela kaca. Will tersenyum miring menikmati pertunjukan itu.
”Apa itu menarik?” tanya Kimberley yang duduk di hadapan Will.
Will melirik Kimberley. ”Ya, sedikit menghibur. Aku hanya merasa kasihan saja pada pria itu. Ia menjatuhkan harga diri seorang pria. Dan si wanita itu sangat tidak memiliki empati. Benar-benar bukan sifat seorang wanita.” Will memaparkan dengan rinci yang ia saksikan barusan.
Bibir Kimberley melengkung hingga membentuk garis di sudut. ”Lalu, bagaimana dengan ku? Coba ceritakan aku gadis seperti apa?” Kimberley hanya ingin tahu, siapa dirinya di hati Will.
Will terdiam sejenak. Ia ragu mengungkapkannya. Sebenarnya ia ingin menyatakan rasa yang ada di hati. Tapi, ia mengurung niatnya dalam-dalam. Philophobia yang dideritanya selama ini seakan mengikat Will. Ia takut mengalami penolakan lagi seperti dulu saat ibunya menolak Will.
”Kau wanita yang anggun.” Balas Will singkat dengan sedikit senyuman.
Kimberley yang mendengar itu merasa bahagia. Ia tanpa ragu meraih tangan Will.
”Terima kasih.” Ucap Kimberley.
Will merasa panik. Bulir-bulir air asin keluar dari setiap pori-pori kulitnya. Jantungnya mulai berdetak cepat yang membuatnya merasa sesak. Will segera menarik tangannya dari Kimberley. Sebenarnya Will tidak suka bersentuhan dengan lawan jenis. Itu memicu philophobia-nya. Kimberley tidak mengetahui Will menderita philophobia.
Kimberley terkejut dengan tindakan Will. Ia merasa Will tidak menyukainya. Melihat Will yang semakin kesulitan bernapas, Kimberley mendekati Will.
”Will, kau baik-baik saja? Apa kau sakit?” Tanya Kimberley cemas.
Will mengangkat tangan kanannya dan memberikan isyarat pada Kimberley untuk menjauh. Kimberley menurut saja. Wajah Will semakin terlihat pucat. Ia segera bangkit berdiri dan keluar restoran mencari udara segar.
Will setengah membungkuk menopang tubuhnya dengan kedua tangan yang bertumpu di paha. Ia terlihat sangat kesakitan.
Hanna berhasil melepaskan diri dari cengkraman sean. Ia berlari ke seberang menghindari Sean.
”Hanna, tunggu aku. Jangan tinggalkan aku Hanna.” Sean memanggil Hanna dengan suara keras sambil menyusul Hanna.
Sesekali Hanna menoleh kebelakang memastikan Sean tetap disana. Namun sial ia malah menabrak Will Greyson. Hingga Hanna jatuh mendarat di atas Will. Hanna terhenyak melihat wajah tampan Will. Ditambah dengan bola mata yang berwarna biru seperti sedalam samudera. Sudah jelas Hanna pasti terpesona.
Kelopak mata Will berkedip berkali-kali. Ada yang aneh. Seketika rasa sesak dan kecemasan Will menghilang. Hanna segera berdiri. Ia segera mengutip selebarannya yang berserakan.
”Maaf, aku tidak sengaja menabrakmu. aku sedang terburu-buru.” Hanna kembali berlari.
Will masih terpaku dengan hal yang ia alami. Pertama kali dalam hidupnya ia merasa tenang. Biasanya Will mengalami kepanikan yang parah bila kontak fisik dengan wanita. Tapi, saat Hanna menyentuhnya tadi justru rasa sesak Will hilang. Will melihat kebawah. Ada beberapa selebaran milik Hanna tertinggal.
Will memungut kertas itu. Ia tersenyum membaca iklan Hanna.
”Jadi namanya Hanna.” Kemudian Will melipat kertas itu dan menyimpannya dalam saku celana.