Bab 1

Langkah kaki Anjani menggema di lorong rumah besar milik keluarga Arjuna. Suasana mencekam menyambutnya sejak ia turun dari mobil. Tak ada sambutan hangat, tak ada senyum ramah. Hanya sorot mata curiga dan bisikan lirih dari para kerabat yang hadir di acara pernikahannya-pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Di ruang tamu, ibu Arjuna, Ny. Ratmi, duduk dengan tegak dan dingin. Wajahnya kaku, nyaris tanpa ekspresi saat melihat Anjani memasuki ruangan dengan kebaya putih sederhana yang dikenakan terburu-buru.

"Apa kamu yakin ingin melanjutkan ini, Nja?" bisik Pak Wiryo, ayah Anjani, pelan di telinganya.

Anjani menelan ludah. "Ini demi Kirana... dan demi nama baik keluarga kita, Pak."

Pak Wiryo mengangguk lirih, lalu mundur pelan memberi ruang bagi putrinya untuk duduk di sebelah Arjuna, yang juga tampak gelisah. Jas abu-abunya rapi, tetapi sorot matanya dingin, menusuk.

"Aku tidak meminta ini," bisik Arjuna tanpa menoleh.

"Aku juga tidak," balas Anjani lembut.

Suara penghulu memecah keheningan.

"Dengan maskawin seperangkat alat salat dan emas dua gram, tunai-saya nikahkan..."

Kalimat itu menggantung sejenak di telinga Anjani. Tubuhnya terasa ringan, seperti bukan miliknya. Ia sempat melirik tangan Arjuna yang mengepal erat, rahangnya mengeras, tetapi ia tetap menjawab dengan tegas,

"Saya terima nikahnya Anjani binti Wiryo dengan maskawin tersebut, tunai."

Dan seketika, takdir baru dimulai.

Beberapa jam kemudian, suasana rumah mulai sepi. Para tamu telah pulang, dan Anjani duduk sendirian di kamar pengantin. Ruangan itu wangi melati, tapi terasa dingin dan asing. Ia melepas anting satu per satu, menatap bayangan dirinya di cermin.

Pintu terbuka dengan kasar.

"Kau bisa tidur di sofa. Jangan harap aku akan menyentuhmu," suara Arjuna terdengar tajam.

Anjani menoleh, namun tak menjawab.

"Kenapa diam?" ejek Arjuna. "Atau kamu berharap aku cepat jatuh cinta padamu seperti dalam sinetron murahan itu?"

Anjani bangkit perlahan. "Aku tidak butuh cintamu. Aku hanya ingin kamu menjaga nama baik adikku."

"Adikmu kabur seperti pengecut. Dan kamu-" Arjuna mendekat satu langkah, "-datang sebagai pahlawan, ya?"

"Kalau aku tidak datang, seluruh keluarga akan dipermalukan. Kamu tahu sendiri betapa orang-orang akan memperbincangkan ini."

Arjuna mendengus. "Jangan terlalu percaya diri. Kamu mungkin berhasil menipuku hari ini, tapi jangan pernah berharap aku akan menganggapmu istri."

"Bagiku, pernikahan ini bukan permainan."

"Dan bagiku, ini hukuman."

Arjuna meninggalkan ruangan dengan pintu terbanting.

Anjani berdiri membeku. Matanya panas, tapi tak setetes pun air mata jatuh. Ia sudah cukup lama menangis untuk hidupnya yang tak pasti-tentang Prakasa, tentang Kirana, dan sekarang, tentang Arjuna.

Tapi malam ini, ia membuat satu janji baru dalam hati:

Jika takdir sudah memilihnya menjadi istri yang tak diinginkan, maka ia akan menjadi istri yang tak bisa dilupakan.

Bab 2

Pagi pertama sebagai istri Arjuna dimulai tanpa senyum, tanpa sapaan, bahkan tanpa secangkir teh di meja seperti dalam pernikahan-pernikahan normal. Anjani membuka mata dalam kesunyian kamar besar yang hanya dihuni olehnya. Seprai putih masih rapi di sisi tempat tidur yang kosong. Arjuna tidak tidur di sana. Tak ada bekas kehadirannya semalam.

Ia bangkit, menata kembali rambut yang masih kusut, lalu menatap pantulan dirinya di cermin.

"Bukan mimpi," gumamnya pelan.

Ia menyiapkan diri, mengenakan setelan sederhana dan menyembunyikan keletihan di balik riasan tipis. Setelah selesai, ia turun ke ruang makan di lantai bawah. Di sana, Ny. Ratmi sudah duduk sambil menyeruput teh hangat. Arjuna duduk di sisi lainnya, memainkan sendok di mangkuk tanpa menyentuh makanan.

Saat Anjani masuk, keheningan langsung berubah tegang.

"Masih sempat berdandan ya?" sindir Ny. Ratmi dengan suara setajam jarum.

Anjani hanya tersenyum kecil. "Pagi, Bu. Saya sudah buatkan bubur ayam dan sayur bening di dapur."

Ny. Ratmi menoleh dengan alis terangkat. "Siapa yang minta kamu masak? Rumah ini sudah ada juru masaknya. Jangan sok rajin. Ini bukan rumah orang susah."

"Maaf, saya hanya ingin membantu."

"Huh. Membantu atau cari muka?"

Anjani menunduk, menahan luka. Ia tahu sejak awal bahwa ia akan ditolak. Tapi ia tak menyangka, caci maki itu begitu cepat datang.

Arjuna meletakkan sendok dan berdiri. "Aku makan di luar saja."

"Arjuna!" panggil ibunya.

"Kalau Ibu tidak suka, suruh dia kembali saja. Aku tidak butuh dia," tegas Arjuna sebelum melangkah pergi.

Anjani hanya mematung di tempatnya. Sarapannya dibiarkan dingin. Ia menghela napas panjang dan perlahan melangkah ke dapur, mengambil panci bubur dan membaginya ke mangkuk. Ia duduk sendiri di sudut dapur, menikmati sarapan seadanya sambil menahan air mata yang hendak jatuh.

Tapi dia tidak boleh menangis. Tidak di sini. Tidak di depan orang-orang yang ingin melihatnya jatuh.

Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama. Arjuna pulang larut malam, kadang tidak pulang. Ia bahkan tidak pernah menyapa. Di rumah, Anjani menjadi bayangan. Dapur, ruang makan, taman belakang-semuanya ia urusi dengan senyap, tanpa keluhan, meskipun tak satu pun dari keluarga Arjuna menghargainya.

Puncaknya terjadi saat sebuah acara arisan keluarga besar diadakan di rumah.

Anjani mengenakan kebaya cokelat muda, rambutnya disanggul rapi, senyumnya ditahan agar tak terlihat letih. Ia menyuguhkan teh dan kue kepada para tamu yang hadir.

Seorang tante dari pihak ayah Arjuna berbisik keras, cukup agar semua mendengar.

"Ini dia si janda yang mendadak jadi istri pengganti."

"Ah, padahal Kirana jauh lebih cantik, ya?"

"Iya. Yang ini terlalu... formal. Bekas orang susah, mungkin."

Tawa kecil meledak.

Anjani menegakkan tubuhnya, tetap tersenyum. Ia menatap wanita-wanita itu satu per satu, lalu berkata dengan lembut namun tajam:

"Maaf, Bu. Saya memang bukan Kirana. Tapi saya juga bukan wanita yang akan kabur di hari pernikahannya."

Para wanita itu langsung terdiam. Beberapa saling pandang, kaget atas keberanian Anjani yang selama ini diam.

Saat acara selesai, Arjuna yang baru pulang menghampirinya dengan nada tajam.

"Apa kamu sengaja bikin masalah?"

Anjani menatap suaminya. "Apa salah kalau aku membela diri?"

"Kamu memalukan. Kamu pikir dengan jadi galak kamu bisa dihormati?"

"Aku tidak minta dihormati. Aku hanya tidak mau diinjak."

Mata Arjuna menyipit. "Kamu terlalu percaya diri untuk ukuran seorang janda."

"Lebih baik jadi janda yang menjaga harga diri, daripada jadi pria yang menyimpan dendam pada orang yang tidak bersalah."

Pernyataan itu membuat wajah Arjuna memucat. Ia hendak membalas, tapi bibirnya terkunci. Dengan marah, ia meninggalkan Anjani begitu saja.

Anjani tersenyum getir. Hatinya masih luka, tapi setidaknya hari ini... ia tidak diam saja.

Malam itu, setelah semua orang tidur, Anjani duduk di kamar tamu yang kini menjadi ruang pribadinya. Ia membuka buku catatan kecil, tempat ia biasa menulis perasaan.

"Aku rindu Prakasa. Tapi aku juga marah padanya karena menghilang begitu saja. Aku tidak tahu apa yang harus kupegang sekarang. Dulu aku pikir aku akan menunggu selamanya. Tapi hidup punya cara lain menamparku."

Ia menutup buku itu. Lalu mengambil laptopnya dan membuka email yang belum sempat ia balas: sebuah tawaran dari rumah sakit swasta di luar kota, tempat ia pernah menjadi relawan. Mereka ingin dia menjadi kepala klinik anak.

Tapi, jika ia menerima tawaran itu, ia harus meninggalkan rumah ini. Haruskah ia pergi?

Ia baru hendak mematikan laptop saat pintu kamarnya diketuk.

Tok... Tok...

"Masuk," ucapnya pelan.

Yang muncul adalah Pak Wiryo, ayahnya.

"Anjani... Ayah hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja."

Anjani menahan senyum. "Ayah datang malam-malam begini?"

"Ayah tadi habis antar barang ke rumah tetangga, mampir ke sini sekalian."

Pak Wiryo duduk, menatap putrinya dalam-dalam. "Kamu tidak harus menanggung semua ini sendirian, Nja."

Anjani menunduk. "Aku tahu, Yah. Tapi aku juga tidak ingin Ayah malu. Aku sudah telanjur di sini."

Pak Wiryo menghela napas berat. "Ayah bangga sama kamu. Tapi Ayah juga takut... kamu terluka terlalu dalam."

Anjani mengangguk pelan, dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak hari pernikahan, ia membiarkan dirinya menangis dalam pelukan ayahnya.

Seminggu kemudian, rumah kembali sunyi seperti biasa. Tapi di tengah kesunyian itu, sebuah kabar datang dari seorang kenalan lama Anjani yang juga rekan kerja Prakasa.

Sore itu, Anjani menerima telepon.

"Halo?"

"Anjani? Ini Murni, istri Pak Bayu."

"Iya, Bu Murni. Ada apa ya?"

"Aku baru saja dapat kabar dari suamiku. Ada yang mengaku tentara dari pasukan Papua. Katanya dia kenal seseorang bernama Prakasa."

Anjani membeku. "Prakasa?"

"Iya. Katanya... dia masih hidup."

Telepon nyaris terjatuh dari tangan Anjani.

"Dia masih... hidup?"

"Iya. Tapi masih belum jelas keberadaannya. Cuma... mereka minta kamu siap-siap. Siapa tahu dalam waktu dekat, ada konfirmasi lebih lanjut."

Setelah telepon ditutup, Anjani terduduk di tepi ranjang.

Prakasa...

Suaminya yang dinyatakan hilang dua tahun lalu... masih hidup?

Malam itu, tatapan Anjani kosong saat ia menyiapkan makan malam. Saat Arjuna pulang, ia melihat wajah Anjani berbeda dari biasanya.

"Kenapa? Akhirnya sadar betapa buruknya nasibmu sekarang?"

Anjani tidak menjawab. Ia menatap Arjuna lama.

"Aku dapat kabar hari ini."

"Kalau tentang keluarga kamu, aku tidak tertarik."

"Ini tentang suamiku... Prakasa."

Arjuna terdiam.

"Mereka bilang... dia masih hidup."

Suasana berubah hening.

"Kalau itu benar," lanjut Anjani, "maka pernikahan ini tidak sah. Aku... secara hukum masih istri orang."

Arjuna mengerutkan dahi. "Lalu? Kamu mau lari juga seperti adikmu?"

"Aku hanya memberi tahu. Bukan mengemis keputusanmu."

Arjuna melangkah pelan ke arah Anjani. "Kamu pikir aku takut kamu pergi?"

Anjani tersenyum lirih. "Bukan soal kamu takut. Tapi soal pilihan. Kalau kamu ingin membatalkan semua ini, aku tidak akan menahan."

Arjuna menatapnya dalam. Untuk pertama kalinya, matanya tidak hanya penuh kemarahan... tapi ada kebingungan.

Dan dalam diam itu, keduanya sadar-pernikahan ini tidak hanya takdir, tapi juga ujian hati yang belum selesai.

Bab 3

Malam itu, Anjani tidak bisa tidur. Pikirannya berkecamuk antara rasa bersalah dan bingung. Jika Prakasa benar-benar kembali, apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia mengakhiri pernikahannya dengan Arjuna? Tapi... bukankah pernikahan ini juga sah di mata hukum? Bahkan jika itu terjadi dalam keadaan darurat?

Anjani menatap jari manisnya. Cincin kawin dari Prakasa masih ia simpan di laci, sementara cincin dari Arjuna kini melingkar di jarinya. Dua simbol. Dua janji. Dua kehidupan yang kini saling beririsan.

Suara pintu kamar diketuk pelan. Anjani beranjak dan membukanya. Ia terkejut saat melihat Arjuna berdiri di depan pintu dengan wajah yang tak sekeras biasanya.

"Kita bisa bicara?" tanyanya pelan.

Anjani ragu, namun akhirnya mengangguk dan mempersilakan Arjuna masuk. Mereka duduk berseberangan, saling diam beberapa saat sebelum Arjuna membuka suara.

"Apa kamu... percaya Prakasa masih hidup?"

Anjani menatap mata suaminya. "Aku ingin percaya. Tapi aku juga takut... semua ini hanya akan menghancurkan hidupku dua kali."

Arjuna mengangguk pelan. Ia tampak berbeda malam ini-lebih tenang, tidak segalak biasanya.

"Kalau dia kembali... kamu akan pergi?" tanya Arjuna lirih.

Anjani menarik napas panjang. "Aku tidak tahu, Jun. Aku bahkan belum tahu seperti apa dia sekarang. Dua tahun tanpa kabar... dua tahun aku menunggu, dan ketika aku mulai berjalan lagi, dia tiba-tiba muncul dalam hidupku seperti hantu dari masa lalu."

Arjuna menggenggam kedua tangannya di pangkuan. "Aku pikir aku tidak peduli. Tapi ternyata... aku tidak suka membayangkan kamu pergi begitu saja."

Anjani menoleh. "Bukankah itu yang kamu inginkan sejak awal? Kamu sendiri yang bilang, kamu tidak pernah menganggapku istrimu."

Arjuna menatapnya, lama. "Aku tidak menyangka kamu akan bertahan sejauh ini. Tidak banyak wanita yang sanggup menanggung caci maki, diam, dan tetap berdiri."

"Aku tidak punya pilihan lain," balas Anjani. "Aku bukan Kirana. Aku tidak bisa kabur."

Arjuna tertawa miris. "Lucu. Tadinya aku pikir kamu adalah hukuman buatku. Tapi semakin hari, aku bingung... kamu ini hukuman, atau ujian?"

Anjani tidak menjawab. Ia hanya mengalihkan pandangan ke jendela. Di luar, angin malam berhembus pelan, membawa aroma hujan yang belum turun.

Beberapa hari berlalu, dan berita tentang Prakasa makin sering ia dengar. Sore itu, seorang perwira dari kesatuan Prakasa datang ke rumah. Anjani dan Arjuna menerima tamu itu di ruang tamu.

"Bu Anjani, kami ingin menyampaikan bahwa Prakasa memang ditemukan dalam keadaan hidup, setelah sempat hilang dan tersesat selama misi di pedalaman."

Anjani menggenggam lengan kursi. "Dia... bagaimana keadaannya?"

"Saat ini dirawat di rumah sakit militer di Jayapura. Belum stabil, tapi bisa berkomunikasi."

"Apakah... dia menyebut namaku?" tanya Anjani lirih.

"Ya. Nama Ibu adalah nama pertama yang dia sebut saat sadar."

Air mata Anjani jatuh tanpa bisa ditahan. Ia menunduk, menutup wajahnya dengan tangan. Arjuna diam, lalu berdiri dan memanggil pelayan agar menyiapkan minuman untuk tamunya.

Setelah tamu itu pergi, suasana kembali sepi. Arjuna menghampiri Anjani, yang masih terduduk dengan mata sembab.

"Kamu mau pergi ke Jayapura?"

Anjani mengangguk lemah. "Aku harus melihatnya. Aku perlu tahu... dia masih sama atau tidak."

Arjuna terdiam sejenak, lalu berkata, "Aku bisa antar kamu ke bandara besok."

Anjani menatapnya. "Kamu tidak marah?"

"Aku tidak punya hak untuk marah. Kamu bukan milikku."

Ucapan itu membuat dada Anjani sesak. Ada nada getir yang berbeda. Bukan ejekan, tapi... kehilangan.

Keesokan paginya, Arjuna benar-benar mengantar Anjani ke bandara. Tak ada kata-kata romantis atau pelukan perpisahan. Tapi saat Anjani turun dari mobil, Arjuna sempat berkata,

"Kalau kamu kembali... aku masih di sini."

Anjani hanya menatapnya, tidak berani menjawab.

Perjalanan ke Jayapura memakan waktu panjang. Sesampainya di rumah sakit militer, ia langsung diarahkan ke bangsal tempat Prakasa dirawat. Hatinya berdegup keras saat melihat tubuh itu-kurus, penuh luka, tapi masih hidup.

Prakasa membuka matanya perlahan. Ketika ia melihat Anjani, senyum lemah terbentuk di wajahnya.

"Anjani..." bisiknya.

Anjani menahan napas. "Prakasa... kamu benar-benar hidup."

Ia mendekat, duduk di tepi ranjang. Prakasa mengangkat tangannya dengan susah payah dan menggenggam jari Anjani.

"Aku... selalu berpikir tentangmu... setiap hari."

Anjani mengangguk, tapi air matanya terus mengalir. "Kenapa kamu tidak memberi kabar?"

"Aku... tertangkap kelompok separatis. Aku melarikan diri setelah hampir setahun... butuh waktu lama untuk sampai ke tempat aman."

Anjani membungkuk, memeluk tubuh yang lemah itu. Emosinya campur aduk-lega, haru, bingung, dan... bersalah.

"Aku menikah lagi, Prakasa," bisiknya.

Prakasa terdiam beberapa detik. "Aku tahu... mereka bilang saat aku sadar. Aku... tidak marah."

Anjani menatap wajah suaminya itu. "Kamu tidak marah?"

Prakasa menggeleng. "Aku hanya ingin kamu bahagia. Aku tahu... kamu pasti menderita."

Anjani menahan isak. "Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang. Aku... masih terikat denganmu. Tapi... aku juga sudah punya kehidupan baru."

Prakasa menutup mata sejenak. "Ambil waktu, Anjani. Aku tidak akan memaksamu."

Selama tiga hari di Jayapura, Anjani menemani Prakasa menjalani perawatan. Ia melihat perubahan besar pada pria yang dulu sangat tegas dan ambisius. Kini, Prakasa menjadi lembut, penyabar, dan sangat menghargai setiap detik yang ia miliki.

Namun di sela-sela itu, pikirannya terus kembali pada Arjuna.

Ia teringat cara Arjuna menatapnya saat ia pergi, kalimat terakhir yang masih bergema di benaknya: "Kalau kamu kembali... aku masih di sini."

Di hari terakhirnya di Jayapura, Anjani berdiri di balkon rumah sakit, memandang senja. Prakasa menghampirinya dengan kursi roda.

"Kamu terlihat galau," gumamnya.

Anjani tersenyum kecil. "Aku merasa bersalah."

"Kamu tidak salah."

"Aku takut menyakiti kalian berdua."

Prakasa menatapnya. "Anjani... aku mencintaimu. Tapi aku tahu... mungkin hatimu sudah berubah. Aku sudah dua tahun hilang. Hidupmu tidak berhenti, bukan?"

Anjani menunduk. "Aku tidak tahu apa yang berubah dan apa yang tetap. Tapi aku ingin jujur pada diriku sendiri... dan pada kalian."

Prakasa mengangguk. "Kalau begitu, pulanglah. Temukan jawabannya."

Saat Anjani kembali ke rumah Arjuna, rumah itu tampak berbeda. Tidak ada lagi tatapan tajam dari Ny. Ratmi. Bahkan wanita itu menyapa Anjani dengan singkat namun sopan.

Arjuna sedang duduk di teras belakang, mengenakan kemeja santai dan membaca dokumen.

Anjani berdiri di ambang pintu. "Aku pulang."

Arjuna menoleh, lalu berdiri perlahan. "Selamat datang kembali."

Keduanya terdiam. Hingga akhirnya Anjani berkata, "Prakasa... memberiku kebebasan. Dia tidak menuntut apa pun. Tapi aku belum tahu... harus memilih siapa."

Arjuna mendekat satu langkah. "Aku tidak akan memaksa. Tapi aku ingin kamu tahu... selama kamu pergi, aku menyadari satu hal."

"Apa?"

"Aku tidak membencimu, Anjani. Aku hanya takut... takut kamu akan pergi sebelum aku sempat... mengerti siapa kamu sebenarnya."

Anjani menatapnya, dan untuk pertama kalinya, matanya tidak dipenuhi kesedihan... tapi harapan.

"Aku butuh waktu."

"Aku akan menunggu. Selama kamu belum menyerah."

Dan malam itu, Anjani menulis di buku catatannya:

"Aku berada di antara dua janji. Satu janji masa lalu yang belum selesai, satu lagi janji masa kini yang mulai tumbuh. Tapi kali ini, aku ingin memilih bukan karena kewajiban... tapi karena hati."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED