Malam itu, rumah terasa lebih dingin dari biasanya. Padahal AC belum dinyalakan. Luna melangkah masuk tanpa bicara. Wajahnya masih memiliki sisa bekas lipstik yang belum sempat ia bersihkan, sengaja dibiarkan seolah ingin mengingatkan suaminya bahwa luka itu nyata-meski bukan luka berdarah.
Rama masuk beberapa menit setelahnya, membanting pintu dengan sedikit tenaga lebih. Ia meletakkan kunci motor ke meja dengan kasar dan berjalan ke kamar mandi tanpa sepatah kata.
Luna duduk di ruang tamu. Tangannya menyisir rambutnya pelan-pelan, bukan untuk merapikan, tapi menahan diri. Ia tahu jika ia tak sibukkan tangan, emosinya bisa meledak.
"Kalau aku tadi nangis di parkiran, kamu puas?" tanyanya setengah berteriak, setengah gemetar, saat Rama keluar dari kamar mandi dengan wajah basah.
Rama memandangnya datar. "Kamu terlalu keras kepala. Susah diatur."
"Susaaah diatur?" Luna berdiri. "Aku istri kamu, bukan anak kecil. Kamu marah karena aku beli lipstik? Oke, itu hak kamu buat ngomel. Tapi kamu coret-coret wajahku di depan umum, Rama! Di depan banyak orang! Kamu pikir harga diri perempuan itu bisa kamu hancurkan cuma karena lipstik seharga seratus ribu?!"
"Kamu nggak ngerti!" Rama balas meninggikan suara. "Bukan soal lipstik itu. Ini soal prinsip! Kita lagi nyusun rencana keuangan-kamu janji nggak boros, tapi kamu terus-terusan ngelanggar janji itu. Minggu lalu parfum, bulan lalu baju. Sekarang lipstik!"
"Dan kamu pikir dengan mempermalukan aku itu bikin kamu jadi lelaki yang hebat?"
"Daripada terus hidup dengan pasangan yang egois dan nggak bisa diajak kerja sama?"
Hening.
Ucapan itu seperti tombak yang menancap di dada Luna. Ia terduduk perlahan. Dada sesak. Matanya mulai memanas.
"Kalau kamu merasa aku ini beban, kenapa kamu nikahi aku dulu, Rama?" Suaranya pelan, nyaris seperti bisikan.
Rama terdiam. Ia menggertakkan gigi, seolah kalimat itu tak adil-padahal ia tahu, ia yang memulai.
"Karena dulu kamu bukan seperti ini, Luna. Kamu bukan orang yang egois, yang cuma mikirin belanja dan penampilan. Kamu yang dulu lebih dewasa. Lebih... tahu batas."
Luna tertawa getir. "Dan kamu juga berubah, Rama. Dulu kamu perhatian. Dulu kamu sabar. Sekarang kamu cuma bisa marah, nyuruh, atur-atur. Aku bukan robot yang harus taat semua aturan kamu."
Malam itu mereka tidur di ranjang yang sama, tapi saling membelakangi. Tak ada pelukan. Tak ada ucapan selamat malam. Yang ada hanyalah punggung dingin dan selimut sunyi yang menyelimuti jarak di antara mereka.
Pagi Hari
Keesokan harinya, Luna bangun lebih dulu. Ia berdiri di depan cermin kamar mandi, menatap wajahnya lama. Bekas coretan lipstik sudah ia bersihkan, tapi rasa sakitnya belum hilang.
"Perempuan macam apa aku ini, yang dihina tapi tetap tinggal?" gumamnya sendiri.
Tangannya meraih salah satu lipstik baru yang ia beli. Ia buka perlahan. Warna peach lembut. Bukan untuk kantor. Bukan untuk keluar rumah. Tapi hanya untuk dirinya sendiri.
Ia pulaskan tipis ke bibir.
"Kalau aku bisa buat diriku bahagia dengan warna ini... kenapa harus merasa bersalah?"
Di dapur, Rama sedang mengaduk kopi. Ia tak menyapa. Ia hanya menoleh sekilas saat Luna muncul, lalu kembali menatap gelasnya.
"Aku masuk siang," kata Luna.
Rama mengangguk. "Aku lembur."
"Kita butuh bicara nanti."
"Kamu yang butuh bicara. Aku udah ngomong semuanya tadi malam."
"Rama..." Luna mendekat, mencoba mengendorkan ketegangan.
Tapi pria itu sudah berdiri, mengambil tas kerja, dan berjalan ke pintu.
"Kalau kamu masih pengen hidup dengan cara kamu sendiri, aku nggak bisa ikut. Aku capek jadi polisi keuangan di rumah sendiri."
Klik. Pintu tertutup.
Kantor dan Gosip
Di kantor, Luna tampak cerah seperti biasanya, walau senyumnya terasa lebih tipis. Teman-temannya memuji warna lipstik barunya.
"Cocok banget, Lun. Kamu beli di mana?"
"Diskon spesial," jawab Luna singkat.
Ia menyibukkan diri dengan pekerjaan. Membalas email, menyusun laporan, menyiapkan materi presentasi. Tapi pikirannya terus melayang ke rumah, ke Rama, ke ucapan-ucapan yang tak seharusnya keluar dari mulut suaminya.
Saat makan siang, ia duduk sendiri di kantin. Biasanya ia ramai bersama dua rekan kerja perempuan, tapi kali ini ia memilih sepi.
Salah satu dari mereka, Maya, menghampiri.
"Kamu kenapa? Kelihatan beda hari ini."
"Cuma capek. Banyak kerjaan."
"Kamu tahu, suami itu bukan bos, Lun," kata Maya tiba-tiba. "Kalau udah sampai titik kamu nggak bisa jadi diri sendiri di rumah, itu bukan rumah lagi."
Luna menatap temannya, kaget dengan ketepatan kalimat itu.
"Kamu tahu dari mana?"
"Kamu ngomongin lipstik kemarin di parkiran? Iya, aku lihat, Lun."
Luna menunduk. Ia malu. Tapi juga... lega.
Malam Kedua
Rama pulang hampir tengah malam. Ia masuk dengan langkah berat. Di meja makan, ada sepiring nasi goreng dan air putih. Dingin. Tapi Luna masih terjaga.
"Kamu belum tidur?" tanya Rama pelan.
"Kamu udah makan?"
Rama menggeleng. Ia duduk. Mengambil sendok. Tapi tidak langsung makan.
"Aku... nyesel," ucapnya akhirnya.
Luna diam.
"Aku marah bukan karena lipstik. Tapi karena aku takut. Takut kita nggak bisa terus bareng karena cara kita mikir udah beda."
"Aku juga takut, Rama," jawab Luna. "Tapi bukan takut kehilangan uang. Aku takut kehilangan diriku sendiri karena terus dituntut jadi orang yang kamu mau."
Mereka saling menatap.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak lama, mereka bicara. Tanpa suara tinggi. Tanpa saling menyalahkan. Hanya dua orang yang sedang tersesat di jalan rumah tangga mereka, mencoba mencari arah pulang.
Epilog Sementara
Dua minggu berlalu.
Lipstik-lipstik baru itu masih ada. Tapi tak satu pun dari mereka yang mempermasalahkannya lagi. Luna menggunakannya seperlunya. Rama tak lagi bersikap seperti pengawas anggaran.
Mereka mulai belajar menyusun ulang fondasi rumah tangga mereka. Bahwa cinta bukan soal seberapa hemat atau seberapa menurut. Tapi soal saling menjaga. Dan saling memberi ruang.
Pada suatu sore, saat mereka duduk di balkon rumah sambil minum teh, Luna berkata pelan,
"Lipstik itu bukan soal warna bibir. Tapi warna suasana hati. Kalau aku bahagia, aku nggak butuh warna mencolok. Tapi kalau aku sedih... bahkan merah pun nggak bisa nutupin luka."
Rama menggenggam tangan istrinya.
"Mulai sekarang, aku pengen jadi warna tenang buat hati kamu, Luna."
Minggu pagi biasanya menjadi waktu yang ditunggu Luna dan Rama. Setelah seminggu bekerja, mereka bisa menikmati sarapan bersama, nonton serial kesukaan, atau sekadar bersantai di balkon. Tapi pagi ini berbeda. Hujan turun sejak subuh, dan suasana rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.
Luna berdiri di dapur, membuatkan kopi untuk Rama. Di wajahnya terpancar keraguan. Sudah dua minggu sejak insiden lipstik itu, hubungan mereka membaik-lebih lembut, lebih komunikatif. Tapi hari ini, entah mengapa, Luna merasa gelisah. Seperti ada sesuatu yang akan pecah.
"Ra, kamu mau kopi hitam atau cappuccino?" tanya Luna dari balik dapur.
"Hitam aja, tanpa gula," jawab Rama dari ruang tamu.
Luna mengangguk pelan, lalu mengaduk dua cangkir kopi. Saat ia berjalan ke arah suaminya, ponsel Rama yang tergeletak di meja tamu bergetar.
1 Pesan Baru dari: Nia (mantan pacar)
Luna spontan berhenti melangkah. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Bukan karena ia tak percaya Rama, tapi... nama itu.
Nia.
Nama yang tidak asing. Nama dari masa lalu Rama. Wanita yang pernah hampir dinikahi Rama sebelum ia akhirnya memilih Luna.
Luna menaruh dua cangkir di meja dengan tenang. Tapi pikirannya ribut.
"Kopi panas, pelan-pelan ya," katanya, mencoba terdengar biasa.
"Thanks." Rama tersenyum kecil.
Luna duduk. Matanya melirik ponsel di meja. Layar sudah mati, tapi nama itu masih tersimpan jelas di kepala.
"Ra... kamu masih komunikasi sama Nia?" tanyanya hati-hati.
Rama tampak terkejut. "Hah? Dari mana kamu tahu?"
"Barusan ponselmu nyala. Ada pesan masuk."
Rama mengambil ponselnya, memeriksa layar, lalu menarik napas panjang. "Dia cuma nanya kabar. Katanya kebetulan lihat fotoku di akun teman lama."
"Dan kamu bales?"
"Belum." Rama meletakkan ponselnya kembali. "Tapi kayaknya aku bakal bales."
Luna mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Karena... aku nggak ada niat apa-apa. Dan aku nggak mau kamu curiga cuma karena aku diam-diam. Lebih baik aku terbuka."
Luna terdiam. Ia menghargai kejujuran Rama. Tapi tetap saja, hatinya tidak nyaman.
Siang Hari
Rama pergi keluar rumah untuk menjemput laundry dan beli bahan makanan. Luna diam di rumah, mencoba fokus pada pekerjaannya yang menumpuk. Tapi pikirannya terus melayang ke satu nama: Nia.
Ia tahu kisah itu sudah lama berlalu. Tapi ada sesuatu dalam cara Rama menanggapi pesan itu-tenang, terbuka, bahkan terlalu tenang-yang membuatnya khawatir. Seolah kehadiran Nia tidak mengguncang apa pun dalam dirinya.
Dan mungkin itulah yang menakutkan.
Saat sedang menyetrika baju, ponsel Luna bergetar. Sebuah pesan dari Maya, sahabat kantornya.
Maya: "Lun, tadi aku lihat Rama di cafe depan jalan Ahmad Yani. Sama cewek. Duduknya deket banget. Kamu bareng dia?"
Luna merasa perutnya kosong seketika. Ia meletakkan setrika pelan, lalu membalas cepat.
Luna: "Nggak. Cewek seperti apa?"
Maya: "Rambut pendek, kulit putih, bajunya formal. Cantik. Gaya lama."
Dada Luna makin sesak. Ia tahu siapa yang dimaksud.
Nia.
Sore Hari – Konfrontasi
Rama pulang sore dengan plastik belanjaan. Seolah semuanya biasa. Ia bahkan sempat bercanda soal harga bawang yang naik.
"Kamu nggak bilang tadi ketemu Nia?" tanya Luna tanpa basa-basi, matanya menatap langsung.
Rama tampak terhenti. "Oh. Kamu tahu."
"Kamu nggak cerita. Tapi teman kantorku lihat kalian di cafe. Duduknya deket. Senyum-senyum."
Rama meletakkan kantong belanja, duduk, dan menghela napas panjang. "Lun, aku nggak bohong. Memang tadi aku ketemu dia. Dia ngajak ngobrol soal proyek barunya. Dia lagi buka agensi digital, dan tahu aku kerja di bidang pemasaran. Cuma ngobrol kerjaan. Itu aja."
"Dan kamu pikir nggak penting buat cerita itu ke aku?"
"Karena aku takut kamu salah paham."
Luna tertawa pahit. "Lucu ya. Waktu aku beli lipstik tanpa izin kamu, kamu marah besar, coret wajahku, bilang aku nggak bisa diajak kerja sama. Tapi kamu? Ketemu mantan, ngobrol di cafe, diam-diam. Dan kamu pikir kamu orang yang lebih baik dari aku?"
Rama mengatupkan rahangnya. "Aku bukan orang sempurna, Luna. Tapi aku nggak ngapa-ngapain. Aku jaga batas. Aku cuma... pengin bantu dia."
"Kenapa kamu merasa harus bantu dia?"
"Karena dulu aku pernah ninggalin dia. Aku merasa ada utang moral."
Luna berdiri. "Dan kamu pikir menikahi aku menebus itu semua?"
"Bukan gitu maksudku..."
"Rama, aku bukan tempat kamu bayar rasa bersalah. Aku istri kamu. Bukan pengganti. Bukan pelampiasan."
Malam yang Dingin
Luna duduk di balkon sendirian. Hujan turun lagi. Ia memandangi jalanan basah di depan rumah, sesekali menyeruput teh yang sudah mulai dingin.
Kenapa hubungan bisa berubah secepat ini? Dua minggu lalu mereka saling mendekap. Sekarang... ia merasa seperti kembali ke titik nol.
Rama muncul di belakangnya, membawa jaket.
"Kamu kedinginan," katanya sambil menyampirkan jaket di bahu istrinya.
"Aku lebih kedinginan di hati, Ra," jawab Luna datar.
Rama duduk di sampingnya. Lama mereka diam.
"Aku pengen kita baik-baik aja, Lun."
"Tapi kamu masih nyimpen masa lalu di saku jaketmu."
"Aku nggak bisa pura-pura masa lalu itu nggak ada. Tapi aku milih kamu. Setiap hari. Bahkan hari ini pun, aku milih pulang ke kamu, bukan ke dia."
Luna menoleh.
"Buktikan. Kalau aku yang kamu pilih, buktikan. Jangan pakai kata-kata."
Hari Berikutnya
Rama memutuskan memblokir kontak Nia. Ia kirim satu pesan terakhir, menjelaskan bahwa ia ingin menjaga rumah tangganya dan tidak ingin menciptakan ruang abu-abu.
"Terima kasih sudah mengingat aku. Tapi sekarang hidupku bersama istriku. Dan aku ingin fokus di sana. Maaf kalau ini terdengar keras, tapi ini yang terbaik."
Luna membaca pesan itu di layar ponsel Rama saat Rama sengaja menunjukkannya.
Dan untuk pertama kalinya setelah hari itu, Luna tersenyum tulus.
Hujan mulai mereda. Matahari muncul dari balik awan abu-abu. Sama seperti hubungan mereka. Tak sepenuhnya cerah, tapi cukup hangat untuk bertahan.
Di meja riasnya, Luna menyimpan kembali semua lipstik warna-warni itu ke dalam kotaknya. Kali ini, bukan karena ia dilarang, tapi karena ia merasa tak perlu menutupi kesedihan dengan warna mencolok.
Yang ia butuhkan sekarang adalah kejujuran. Dan keberanian untuk mencintai... meski bayangan masa lalu masih menyelinap diam-diam.