Bab 2

Mentari pagi menyusup malu-malu dari tirai sutra yang tebal, menerangi kamar tidur mewah yang sunyi. Ardi Permana menggeliat pelan, lengannya merangkul erat tubuh Cantika yang masih terlelap. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya saat ia menatap wajah damai istrinya. Bagi Ardi, setiap pagi yang dimulai dengan Cantika di sisinya adalah sebuah anugerah. Ia mencium lembut puncak kepala Cantika, menghirup aroma shamponya yang samar. Ia merasa seperti pria paling beruntung di dunia.

Ardi bangkit dari tempat tidur, melangkah menuju kamar mandi marmer yang luas. Setelah membersihkan diri, ia mengenakan bathrobe sutra dan keluar ke balkon kamar. Pemandangan kota Jakarta yang mulai menggeliat dengan kesibukannya terhampar di hadapannya. Gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi, jalanan mulai dipadati kendaraan, dan suara klakson samar-samar terdengar dari kejauhan. Ardi menyesap kopi panasnya, otaknya sudah mulai memikirkan agenda rapat hari ini di kantor. Sebagai pimpinan Permana Group, tanggung jawabnya begitu besar. Namun, semua tekanan pekerjaan itu terasa lebih ringan sejak ia memiliki Cantika. Istrinya adalah jangkar yang menenangkannya, oasis di tengah padang gurun bisnis yang penuh intrik.

Saat Ardi kembali ke kamar, Cantika sudah terjaga. Ia sedang duduk di tepi tempat tidur, rambutnya sedikit berantakan, namun tetap terlihat cantik. "Pagi, Ardi," sapanya lembut, suaranya sedikit serak khas bangun tidur.

"Pagi, Sayang," jawab Ardi, mendekat dan mencium kening Cantika. "Tidurmu nyenyak?"

Cantika mengangguk. "Lumayan." Ia sebenarnya tidak tidur terlalu nyenyak. Pikiran-pikiran semalam masih berputar di kepalanya. Namun, ia tidak ingin Ardi mengetahuinya. Ia harus menjaga citra sebagai istri yang bahagia dan sempurna. "Kau mau sarapan apa?"

"Apapun yang ada di meja makan," Ardi tersenyum, mengusap pipi Cantika. "Aku akan mandi dulu. Jangan kemana-mana, ya. Nanti kita sarapan bersama."

Cantika mengangguk, melihat Ardi kembali masuk ke kamar mandi. Ia menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. Rutinitas baru ini masih terasa asing baginya. Setiap pagi, Ardi akan memanjakannya, menanyakan keinginannya, dan memastikan ia nyaman. Terkadang, Cantika merasa seperti boneka porselen yang hanya dipajang, tanpa kehendak sendiri.

Setelah mandi dan berpakaian rapi, Cantika turun ke ruang makan. Meja makan sudah terisi penuh dengan berbagai hidangan sarapan, mulai dari roti bakar, sereal, buah-buahan segar, hingga hidangan tradisional Indonesia. Dua orang pelayan berdiri di samping meja, siap melayani. Tak lama kemudian, Ardi datang bergabung, mengenakan setelan jas bisnis yang elegan.

"Ayah dan Ibu sudah berangkat ke luar kota pagi-pagi sekali," ujar Ardi saat mereka mulai sarapan. "Ada proyek baru di Surabaya yang harus mereka tangani langsung."

"Oh, begitu," Cantika mengangguk. Ia tidak terlalu terkejut. Kedua mertuanya memang sangat sibuk dengan bisnis mereka. Sejak menikah, ia jarang sekali bertemu dengan mereka.

"Jadi, hari ini kau mau melakukan apa?" tanya Ardi, menatap Cantika penuh perhatian. "Mau jalan-jalan? Atau bersantai di rumah?"

Cantika ragu sejenak. Ia sebenarnya ingin pergi ke suatu tempat, melakukan sesuatu yang membuatnya merasa memiliki kendali atas hidupnya. Namun, ia tahu Ardi pasti akan mengirimkan pengawal untuk menemaninya. "Aku ingin ke galeri seni di pusat kota," jawab Cantika, mencoba terdengar antusias. "Ada pameran lukisan baru."

Ardi tersenyum. "Ide bagus. Aku akan meminta Pak Doni untuk mengantarmu. Dan jangan lupa, bawa beberapa pengawal."

Cantika menghela napas dalam hati. Ia tahu ini akan terjadi. "Baiklah," jawabnya, berusaha menyembunyikan kekecewaannya. Ia sudah terbiasa dengan ini. Sejak menikah, ia tak pernah bisa bepergian sendirian. Ardi terlalu posesif, terlalu khawatir akan keselamatannya. Terkadang, ia merasa seperti tahanan di rumahnya sendiri.

Sementara itu, di apartemen Reza Dirgantara, suasana pagi terasa lebih santai. Reza mengenakan kaos oblong dan celana training, sedang memanggang roti di dapur. Aroma kopi hitam dan roti panggang memenuhi ruangan. Ia bersenandung pelan mengikuti irama lagu jazz yang diputar dari speaker. Reza suka memulai hari dengan tenang, tanpa terburu-buru, meskipun jadwalnya hari ini cukup padat.

Ponselnya berdering, menampilkan nama Luna. Reza langsung mengangkatnya, senyumnya merekah. "Halo, Cantik," sapanya ceria.

"Halo, Mas Reza," jawab Luna dari seberang, suaranya terdengar bahagia. "Aku sudah di jalan. Sebentar lagi sampai."

"Wah, cepat sekali," Reza tertawa. "Aku sudah menyiapkan sarapan. Kau pasti lapar."

"Tentu saja," Luna ikut tertawa. "Jangan buat aku menunggu lama, ya."

"Tidak akan," janji Reza. "Hati-hati di jalan, ya."

Luna menaiki taksi online yang dipesan Reza untuknya. Sepanjang perjalanan, ia menatap keluar jendela, mengamati bangunan-bangunan tinggi dan lalu lintas kota yang padat. Sudah beberapa kali ia datang ke Jakarta, namun kota ini tetap membuatnya merasa kecil dan kagum. Dibandingkan desanya yang tenang, Jakarta adalah raksasa yang tidak pernah tidur.

Taksi berhenti di depan sebuah gedung apartemen modern. Luna turun, menatap takjub. Ini kali pertama ia datang ke apartemen Reza. Pikirnya, ia akan datang ke rumah mewah seperti di sinetron-sinetron, namun ternyata apartemen ini terlihat lebih minimalis namun tetap mewah. Ia sudah diberitahu Reza tentang jati dirinya, namun terkadang Luna masih merasa seperti bermimpi. Pria yang ia cintai adalah seorang konglomerat yang sangat kaya dan berkuasa.

Ketika pintu lift terbuka, Reza sudah berdiri di depan pintu apartemennya, tersenyum lebar menyambut Luna. "Akhirnya sampai juga," ujarnya, merentangkan tangan.

Luna langsung memeluk Reza erat, menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu. "Mas Reza," bisiknya, merasakan kehangatan dan kenyamanan.

Reza membalas pelukan Luna tak kalah erat, mencium puncak kepalanya. "Aku merindukanmu, Luna."

Mereka masuk ke dalam apartemen. Luna mengamati setiap sudut ruangan dengan mata berbinar. Apartemen itu luas dan modern, dengan sentuhan desain minimalis yang elegan. Tidak ada perabot yang terlalu berlebihan, namun setiap barang terlihat mahal dan berkualitas tinggi.

"Kau suka?" tanya Reza, melihat Luna mengagumi ruang tamunya.

"Suka sekali, Mas Reza," jawab Luna, berbalik menatap Reza. "Ini sangat indah."

"Ayolah, kita sarapan," ajak Reza, menuntun Luna ke dapur. "Aku sudah menyiapkan semuanya."

Luna membantu Reza menyiapkan meja makan. Mereka sarapan bersama sambil bercerita tentang kegiatan masing-masing. Luna bercerita tentang panen di desanya, tentang tetangga-tetangganya, dan tentang rencana ke depan untuk membuka usaha kerajinan tangan. Reza mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali melontarkan pertanyaan yang menunjukkan ketertarikannya. Ia merasa begitu nyaman dan tenang berada di dekat Luna. Gadis itu tidak pernah meminta apapun, tidak pernah mengeluh, dan selalu memancarkan energi positif.

Setelah sarapan, Reza mengajak Luna ke balkon apartemen. Mereka duduk berdua di kursi rotan, menikmati pemandangan kota. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah Luna, membuat rambutnya sedikit berantakan. Reza meraih tangan Luna, menggenggamnya erat.

"Aku punya kejutan untukmu, Luna," ujar Reza, matanya berbinar.

Luna menatapnya penasaran. "Kejutan apa, Mas Reza?"

Reza tersenyum misterius. "Aku sudah mendaftarkanmu ke kursus kerajinan tangan profesional di Jakarta. Kau bisa belajar lebih banyak, mengembangkan bakatmu, dan nanti aku akan membantumu membuka toko di sini."

Mata Luna membelalak. Ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Benarkah, Mas Reza? Ya Tuhan, Mas Reza! Aku tidak tahu harus berkata apa. Terima kasih banyak!" Ia langsung memeluk Reza erat.

"Sama-sama, Sayang," Reza membalas pelukannya. "Aku ingin kau mengembangkan bakatmu. Aku tahu kau punya potensi besar."

Luna melepaskan pelukannya, menatap Reza dengan mata berkaca-kaca. "Mas Reza selalu saja membuatku kagum. Aku tidak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikan Mas Reza."

"Kau tidak perlu membalas apapun, Luna," Reza mengusap air mata yang mengalir di pipi Luna. "Cukup dengan kau berada di sisiku, itu sudah cukup."

Mereka menghabiskan waktu bersama di apartemen Reza, membicarakan masa depan, impian, dan rencana-rencana kecil mereka. Reza juga membantu Luna mencari informasi tentang kampus terbaik untuk kuliah di Jakarta, karena Luna juga memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikannya. Ia ingin menjadi seorang guru. Reza sangat mendukung impian Luna. Baginya, pendidikan adalah investasi terbaik.

Di sisi lain, Cantika sedang berada di galeri seni. Ia ditemani oleh Pak Doni, sopir pribadinya, dan dua orang pengawal yang selalu mengikuti setiap langkahnya. Galeri itu tidak terlalu ramai, namun Cantika merasa risih dengan kehadiran para pengawal yang mencolok. Ia merasa seperti selebriti yang sedang diamati, padahal ia hanya ingin menikmati lukisan-lukisan dengan tenang.

Ia mencoba fokus pada setiap goresan kuas di kanvas, mencoba memahami makna di balik setiap karya seni. Namun, pikirannya terus melayang. Ia teringat kembali pada masa lalunya, masa-masa ketika ia masih seorang mahasiswi seni yang idealis, penuh semangat, dan bermimpi menjadi seorang pelukis terkenal. Ia sering menghabiskan berjam-jam di galeri seni, larut dalam keindahan setiap lukisan, tanpa ada yang mengawasi atau mengintervensi.

Cantika muda adalah seorang gadis yang sederhana namun memiliki ambisi besar. Ia terlahir dari keluarga biasa, dengan penghasilan pas-pasan. Namun, ia memiliki bakat seni yang luar biasa. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan ketertarikan pada lukisan dan warna. Orang tuanya, meskipun tidak terlalu memahami dunia seni, selalu mendukung impiannya. Mereka bekerja keras, menabung sekuat tenaga agar Cantika bisa melanjutkan pendidikan seni di universitas ternama.

Di kampus, Cantika adalah mahasiswi yang berprestasi. Karya-karyanya selalu mendapat pujian dari dosen dan teman-temannya. Ia bermimpi untuk mengadakan pameran tunggal, memiliki galeri sendiri, dan diakui sebagai seorang seniman. Namun, setelah lulus, kenyataan menghantamnya. Mencari pekerjaan di dunia seni tidak semudah yang ia bayangkan. Ia bekerja di sebuah perusahaan desain interior kecil, yang jauh dari impiannya sebagai pelukis. Gaji pas-pasan, tekanan kerja yang tinggi, dan persaingan yang ketat membuatnya merasa lelah.

Saat itulah, Ardi Permana datang. Ia adalah salah satu klien perusahaan tempat Cantika bekerja. Ardi langsung terpikat pada kecantikan dan bakat Cantika. Ia melimpahi Cantika dengan perhatian, hadiah, dan janji-janji manis. Ardi menawarkan Cantika sebuah kehidupan yang selama ini hanya bisa ia impikan. Hidup dalam kemewahan, tanpa perlu lagi memikirkan masalah finansial, dan ia bisa memiliki waktu luang untuk mengembangkan bakat seninya.

Awalnya, Cantika ragu. Ia tahu bahwa menerima Ardi berarti ia harus mengorbankan sebagian dari kebebasannya, dan mungkin, ambisinya sebagai seniman murni. Namun, godaan hidup nyaman terlalu besar untuk ditolak. Ia lelah berjuang, lelah hidup dalam keterbatasan. Ia melihat Ardi sebagai jembatan menuju masa depan yang lebih cerah, masa depan yang penuh dengan kemewahan dan keamanan. Dan, tentu saja, ada ketertarikan pada Ardi. Pria itu tampan, karismatik, dan sangat perhatian. Cinta tumbuh seiring berjalannya waktu, meskipun mungkin tidak sekuat cinta Ardi kepadanya.

Kini, setelah semua kemewahan ini, Cantika menyadari bahwa apa yang ia dapatkan bukanlah kebebasan seutuhnya. Ia tidak lagi bisa melukis dengan bebas, tanpa beban, tanpa ekspektasi. Setiap kali ia ingin melukis, ia merasa ada mata-mata yang mengawasinya, menilai setiap goresannya. Ardi ingin ia melukis hal-hal yang 'cantik' dan 'menarik', yang cocok untuk dipajang di dinding rumah-rumah mewah atau dijadikan koleksi. Ia tidak lagi bisa mengekspresikan jiwanya yang bergejolak, melukis hal-hal yang 'gelap' atau 'abstrak' yang mungkin tidak dimengerti oleh Ardi. Ia merasa seperti senimannya mati, terperangkap dalam sangkar emas yang indah.

"Nyonya Cantika, apakah ada lukisan yang menarik perhatian Anda?" tanya Pak Doni, membuyarkan lamunan Cantika.

Cantika tersenyum tipis. "Ada beberapa, Pak. Lumayan." Ia tidak ingin menunjukkan kekecewaannya. Ia harus selalu terlihat baik-baik saja, selalu bahagia.

Setelah berkeliling galeri, Cantika memutuskan untuk membeli sebuah lukisan abstrak yang menarik perhatiannya. Lukisan itu berwarna gelap, dengan goresan kuas yang kuat dan ekspresif. Entah mengapa, lukisan itu mengingatkannya pada dirinya sendiri, pada jiwanya yang tersembunyi di balik senyum dan kemewahan.

Ketika mereka kembali ke rumah, Ardi sudah menunggu. "Bagaimana pamerannya, Sayang?" tanyanya, mendekat dan memeluk Cantika.

"Bagus, Ardi," jawab Cantika. "Aku membeli satu lukisan."

Ardi menatap lukisan yang dipegang salah satu pengawal. Alisnya sedikit terangkat. "Lukisan abstrak? Kenapa tidak membeli lukisan pemandangan atau bunga saja? Itu lebih cocok untuk dipajang di ruang tamu."

Cantika merasakan hatinya mencelos. Ia tahu Ardi tidak akan menyukai lukisan itu. "Aku hanya suka," jawabnya singkat.

Ardi menghela napas. "Baiklah, kalau kau suka. Tapi mungkin lebih baik diletakkan di ruang kerjamu saja, ya? Ruang tamu sudah terlalu banyak lukisan yang warnanya cerah."

Cantika hanya mengangguk, tanpa berkata apa-apa lagi. Ia merasa seolah-olah jiwanya semakin terenggut. Bahkan dalam hal sekecil ini pun, ia tidak memiliki kebebasan.

Malam itu, setelah Ardi tidur, Cantika diam-diam masuk ke ruang kerjanya. Ia menatap lukisan abstrak yang baru saja ia beli. Di bawah cahaya lampu yang redup, lukisan itu terlihat semakin gelap dan misterius. Cantika menyentuh permukaan lukisan, merasakan tekstur kasar catnya. Ia merasa seperti menemukan cerminan dirinya di sana.

Ia mengeluarkan kanvas kosong dan peralatan melukisnya dari lemari. Sudah lama ia tidak melukis. Tangan Cantika bergetar saat ia memegang kuas. Ia mencampurkan warna-warna gelap, mulai dari hitam pekat, biru tua, hingga merah marun. Ia membiarkan kuasnya bergerak bebas di atas kanvas, mengekspresikan segala emosi yang selama ini terpendam di dalam dirinya. Amarah, kekecewaan, kesepian, dan kerinduan akan kebebasan.

Cantika melukis hingga larut malam, hingga punggungnya terasa pegal dan matanya terasa pedih. Ia tidak peduli. Ia merasa seperti hidup kembali. Setiap goresan kuas adalah jeritan jiwanya yang terbungkam. Ia melukis seorang wanita dengan wajah yang samar, terkurung di dalam sangkar emas, matanya memancarkan kesedihan yang mendalam. Di luar sangkar, ada cahaya terang yang seolah-olah memanggilnya, namun ia tidak bisa meraihnya.

Ketika lukisan itu selesai, Cantika menatapnya dengan napas terengah-engah. Ia merasa lega, sekaligus sedih. Lukisan ini adalah dirinya, gambaran nyata dari perasaannya. Ia tahu Ardi tidak akan pernah memahami lukisan ini, apalagi menyukainya. Ia tidak peduli. Ini adalah karyanya, jeritannya, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun merebutnya. Cantika menyembunyikan lukisan itu di balik lukisan-lukisan lain di ruang kerjanya, memastikan tidak ada yang akan menemukannya. Setidaknya, untuk saat ini.

Di pagi hari berikutnya, Luna membantu Reza menyiapkan sarapan. Aroma nasi goreng yang gurih memenuhi apartemen. Luna terlihat sangat bahagia, senyumnya tak pernah pudar. Reza memandangnya dengan penuh kasih sayang.

"Setelah sarapan, kita akan pergi mencari perlengkapan untuk kursusmu," ujar Reza, menyeruput kopi. "Dan setelah itu, kita bisa jalan-jalan sebentar. Kau mau kemana?"

Luna berpikir sejenak. "Bagaimana kalau kita ke museum? Aku suka melihat benda-benda bersejarah."

Reza tersenyum. "Ide bagus. Aku juga suka museum. Kalau begitu, mari kita habiskan hari ini dengan bersenang-senang."

Mereka menghabiskan hari bersama, mulai dari berbelanja perlengkapan kursus, mengunjungi museum, hingga makan siang di sebuah restoran sederhana yang disukai Luna. Reza menikmati setiap momen bersama Luna. Ia tidak perlu berpura-pura menjadi siapa pun. Ia bisa menjadi dirinya sendiri. Luna tidak pernah menghakiminya, tidak pernah menuntutnya, dan selalu membuatnya merasa dicintai apa adanya.

Saat mereka pulang, hari sudah menjelang sore. Matahari mulai terbenam, mewarnai langit dengan gradasi jingga dan ungu. Luna menyandarkan kepalanya di bahu Reza di dalam mobil. "Aku tidak menyangka akan sebahagia ini, Mas Reza," bisiknya.

Reza mengusap rambut Luna. "Aku juga, Luna. Aku tidak pernah membayangkan akan menemukan kebahagiaan seperti ini bersamamu."

Ia tahu bahwa perjalanannya dengan Luna tidak akan selalu mulus. Ada banyak rintangan yang harus mereka hadapi, terutama dari keluarganya dan juga pandangan masyarakat. Namun, ia tidak gentar. Cinta Luna adalah kekuatannya. Ia akan menghadapi semua itu demi Luna, demi masa depan mereka berdua. Ia sudah merencanakan untuk memperkenalkan Luna secara resmi kepada orang tuanya dalam waktu dekat. Ia tahu ini akan menjadi pertemuan yang sulit, namun ia harus melakukannya. Ia tidak ingin menyembunyikan Luna lagi. Luna berhak mendapatkan pengakuan.

Sementara itu, di rumah mewah keluarga Permana, Cantika sedang mencoba gaun baru yang baru saja ia beli. Gaun pesta berwarna merah maroon, dengan potongan elegan yang memamerkan lekuk tubuhnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, mencoba tersenyum, namun senyum itu terasa hambar.

Ardi akan mengadakan pesta makan malam di rumah untuk merayakan kesuksesan proyek baru mereka. Cantika harus tampil sempurna, menjadi nyonya rumah yang anggun dan berkelas. Ia harus menghadapi tamu-tamu Ardi, tersenyum, berbasa-basi, dan berpura-pura menikmati setiap momen.

"Nyonya Cantika, ada kiriman bunga untuk Anda," ujar seorang pelayan, mengetuk pintu kamar.

Cantika keluar, melihat seikat besar bunga mawar merah yang indah. Ia membaca kartu ucapan yang terselip di antaranya. Dari Ardi, dengan tulisan tangan yang rapi: "Untuk istriku yang paling cantik. Aku mencintaimu."

Cantika tersenyum tipis. Ardi selalu romantis, selalu memanjakannya. Ia tahu Ardi sangat mencintainya. Tapi mengapa ia merasa begitu kosong? Mengapa semua kemewahan ini terasa seperti belenggu?

Ia mengingat lukisan yang ia sembunyikan di ruang kerjanya. Lukisan itu adalah cerminan jiwanya yang terkurung. Ia ingin bebas, ia ingin melukis apa yang ia rasakan, tanpa batasan, tanpa tuntutan. Namun, ia tahu itu adalah hal yang mustahil. Ia sudah memilih jalan ini, dan ia harus menjalaninya.

Cantika mengambil vas bunga, menata mawar merah itu dengan hati-hati. Aroma mawar yang semerbak memenuhi ruangan. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan pikirannya. Ia harus kuat. Ia harus tampil sempurna di hadapan semua orang. Ini adalah perannya sebagai Nyonya Ardi Permana, dan ia harus memainkannya dengan baik.

Ia membuka matanya, menatap pantulan dirinya di cermin lagi. Wanita cantik bergaun mewah, dikelilingi kemewahan, namun dengan mata yang menyimpan kesedihan yang mendalam. Ia adalah ratu di sangkar emasnya sendiri, terperangkap dalam kemegahan yang ia pilih.

Bab 3

Pesta makan malam yang diadakan Ardi Permana berlangsung meriah. Lampu-lampu kristal berkilauan, memantulkan cahaya di setiap sudut ruang dansa yang luas. Denting gelas anggur berpadu dengan gelak tawa para tamu, menciptakan simfoni kemewahan yang familiar bagi Cantika Putri. Mengenakan gaun merah marun yang menjuntai anggun, Cantika tersenyum ramah kepada setiap tamu yang menyapanya, bertindak sebagai nyonya rumah yang sempurna. Namun, di balik senyum itu, ada rasa lelah yang menghantuinya. Ia sudah terlalu sering memainkan peran ini, hingga terasa hambar.

Ardi, di sampingnya, tampak sangat menikmati malam itu. Ia memegang pinggang Cantika dengan posesif, sesekali membisikkan kata-kata pujian di telinganya. "Kau adalah ratu malam ini, Sayang," bisiknya, mencium lembut rambut Cantika. Tatapan Ardi penuh puja, memuja setiap inci dari Cantika yang ia anggap sebagai miliknya. Cantika membalas dengan senyum tipis, entah mengapa, pujian itu terasa seperti belenggu yang semakin mengikatnya. Ia merasa seperti lukisan indah yang dipamerkan, dikagumi, namun tak pernah benar-benar disentuh jiwanya.

Di tengah keramaian, Cantika melihat sesosok pria yang baru saja memasuki ruangan. Perawakannya tinggi, tegap, dan memancarkan aura karisma yang kuat. Wajahnya tidak asing, namun Cantika butuh waktu sejenak untuk mengingatnya. Pria itu adalah Reza Dirgantara, seorang konglomerat muda yang namanya sering disebut-sebut di berbagai media bisnis. Cantika pernah bertemu dengannya beberapa kali di acara-acara sosial, namun tak pernah berinteraksi lebih dari sekadar basa-basi singkat. Reza malam itu terlihat berbeda, mungkin karena ia datang sendiri tanpa ditemani seorang pun.

Reza melangkah tenang di antara kerumunan, matanya menyapu setiap sudut ruangan, seolah mencari sesuatu atau seseorang. Sesekali ia membalas sapaan para tamu dengan senyum tipis yang ramah namun menyimpan jarak. Ia memang tidak terlalu suka keramaian seperti ini. Ia datang hanya untuk menghormati undangan Ardi yang adalah rekan bisnisnya. Reza lebih menyukai ketenangan, jauh dari sorotan dan kepalsuan.

Pandangan Reza tiba-tiba berhenti pada sosok Cantika yang berdiri di samping Ardi. Ia sempat terpaku sesaat, mengagumi kecantikan wanita itu. Gaun merah marun yang dikenakan Cantika membuat kulit putihnya terlihat semakin bersinar, dan rambut hitam panjangnya yang ditata rapi menambah kesan anggun. Namun, ada sesuatu di mata Cantika yang menarik perhatian Reza. Di balik senyumnya yang sempurna, ada sebersit kesedihan yang sulit dimengerti, seolah wanita itu menyimpan beban yang sangat berat. Kilatan mata itu, walau sekilas, mengingatkan Reza pada sesuatu yang samar, sebuah memori yang belum bisa ia tangkap sepenuhnya.

Ardi yang menyadari pandangan Reza ke arah istrinya, langsung menarik Cantika sedikit lebih dekat padanya. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya, menunjukkan kepemilikan. "Ah, Reza! Senang sekali kau bisa datang," sapa Ardi, melangkah maju untuk menyalami Reza.

Reza tersenyum, menjabat tangan Ardi dengan kuat. "Tentu saja, Ardi. Selamat atas kesuksesan proyek barumu. Aku dengar omzetnya luar biasa."

"Terima kasih," Ardi terkekeh bangga. "Aku akan memperkenalkanmu dengan istriku, Cantika."

Cantika tersenyum sopan, mengulurkan tangannya pada Reza. "Cantika Putri. Senang bertemu dengan Anda lagi, Tuan Reza."

Reza menyambut uluran tangan Cantika, genggaman mereka bersentuhan sesaat. Sensasi sentuhan itu begitu lembut namun menghantarkan getaran aneh ke seluruh tubuh Cantika. Mata Reza menatapnya dalam, seolah mencoba membaca apa yang ada di balik senyumannya. "Reza Dirgantara. Senang bertemu dengan Anda juga, Nyonya Ardi," jawab Reza, suaranya dalam dan tenang. Kilatan di mata Cantika itu membuatnya penasaran. Ia merasa ada cerita di balik tatapan wanita itu.

Ardi yang melihat interaksi singkat itu, segera menyelipkan lengannya di pinggang Cantika. "Cantika adalah permata bagiku, Reza. Dia adalah inspirasiku dalam segala hal."

Cantika sedikit terkesiap mendengar kata-kata Ardi. Ia mencoba tetap tersenyum, meskipun dalam hatinya ia merasa tidak nyaman. Kata-kata "permata" dan "inspirasi" itu terasa hampa, seolah ia hanyalah objek yang mempercantik citra Ardi.

Reza mengangguk, senyum tipis masih terukir di bibirnya. Ia bisa merasakan aura kepemilikan yang kuat dari Ardi terhadap Cantika. Sebuah kepemilikan yang terasa sedikit berlebihan. "Aku bisa melihat itu, Ardi. Kalian pasangan yang serasi," ujar Reza, mencoba mengakhiri percakapan yang terasa sedikit canggung. "Aku harus menemui beberapa kolega di sana. Senang bertemu dengan kalian."

Reza membungkuk sopan pada Cantika, lalu berbalik pergi, meninggalkan Ardi dan Cantika di tengah keramaian. Cantika menatap punggung Reza yang menjauh, perasaan aneh menyelimuti hatinya. Ada sesuatu tentang Reza, sebuah aura yang tenang dan membumi, yang terasa begitu kontras dengan dunia gemerlap yang mengelilinginya. Ia merasakan sebuah koneksi yang samar, seolah mereka pernah bertemu di masa lalu yang sangat jauh, atau mungkin, di dimensi yang berbeda.

Pesta terus berlanjut. Cantika mencoba larut dalam suasana, mengobrol dengan tamu-tamu Ardi, tersenyum, dan sesekali tertawa renyah. Namun, pikirannya terus melayang pada sosok Reza Dirgantara. Mengapa pria itu memiliki tatapan yang begitu dalam? Mengapa ia merasa ada sesuatu yang familiar dari dirinya?

Keesokan harinya, di desa yang tenang, Luna Amara sedang sibuk di kebun. Ia mengenakan caping anyaman, tangannya lihai memetik sayuran segar yang siap panen. Rambutnya diikat kuda, dan beberapa helai anak rambut menempel di pelipisnya yang basah oleh keringat. Wajahnya berseri-seri, tanpa polesan make up, namun kecantikan alaminya terpancar jelas. Aroma tanah basah dan dedaunan segar memenuhi indra penciumannya, menciptakan kedamaian yang tak ternilai.

"Luna! Ada telepon!" teriak Ibu dari dalam rumah.

Luna bergegas masuk, menyeka tangannya yang kotor dengan kain lap. Ia tahu siapa yang menelepon. Senyum langsung merekah di bibirnya saat melihat nama Reza Dirgantara di layar ponsel lamanya.

"Halo, Mas Reza!" sapanya riang.

"Halo, Sayang," suara Reza terdengar hangat dan menenangkan. "Bagaimana kabarmu hari ini? Kau sedang di kebun, ya?"

"Iya, Mas. Baru saja panen," jawab Luna. "Mas Reza sendiri bagaimana? Sibuk sekali, ya, pasti?"

Reza tertawa kecil. "Seperti biasa. Tadi malam aku menghadiri pesta makan malam. Lumayan membosankan."

"Membosankan?" Luna mengerutkan kening. "Bukankah itu pesta orang-orang kaya yang mewah, Mas?"

"Mewah, iya. Tapi aku lebih suka menghabiskan waktu bersamamu, Luna," kata Reza tulus. "Oh ya, aku sudah memesan tiket untukmu besok. Kelas kerajinan tanganmu akan dimulai lusa. Kau sudah siap?"

Mata Luna berbinar. "Siap, Mas Reza! Aku sudah tidak sabar!"

"Bagus kalau begitu," Reza tersenyum. "Nanti malam aku akan ke sana. Aku akan menjemputmu besok pagi dan kita akan pergi ke Jakarta bersama."

"Benarkah, Mas Reza? Mas Reza mau menginap di sini?" Luna sangat senang.

"Iya. Aku ingin makan masakan ibumu," canda Reza. "Dan aku ingin menghabiskan waktu bersamamu sebelum kau sibuk dengan kursusmu."

"Asyik!" Luna berseru kegirangan. "Kalau begitu, aku harus mempersiapkan diri. Sampai nanti malam, Mas Reza!"

"Sampai nanti malam, Sayang," Reza menutup telepon. Senyumnya tak kunjung pudar. Luna adalah kebahagiaannya, pelengkap hidupnya. Gadis itu membawa kesederhanaan dan ketulusan yang ia rindukan di tengah gemerlap dunia bisnis yang penuh intrik.

Malam itu, Reza tiba di desa Luna. Ia disambut hangat oleh Luna dan keluarganya. Ibu Luna sudah menyiapkan makan malam yang lezat, masakan rumahan sederhana yang selalu berhasil menghangatkan hati Reza. Mereka makan bersama di teras rumah, diterangi cahaya rembulan dan suara jangkrik yang sahut-menyahut. Suasana pedesaan yang tenang dan damai selalu berhasil membuat Reza merasa rileks, jauh dari tekanan dan hiruk pikuk kota.

Setelah makan malam, Reza dan Luna duduk berdua di teras. Bintang-bintang bersinar terang di langit gelap, membentuk gugusan yang indah. "Aku senang Mas Reza bisa datang," ujar Luna, menyandarkan kepalanya di bahu Reza.

"Aku juga, Luna," Reza mengusap rambut Luna lembut. "Aku ingin menikmati setiap momen bersamamu sebelum kita kembali ke kota. Aku tahu ini akan menjadi perubahan besar bagimu. Apa kau takut?"

Luna menghela napas pelan. "Sedikit. Jakarta itu kota besar, Mas. Aku takut tidak bisa beradaptasi."

"Jangan khawatir, Sayang," Reza mengeratkan pelukannya. "Aku akan selalu bersamamu. Aku akan membantumu melewati semua ini. Percayalah padaku."

Luna mendongak, menatap mata Reza. "Aku percaya, Mas Reza."

Reza tersenyum, lalu mencium kening Luna. Ciuman itu lembut, penuh kasih sayang, dan menenangkan. Luna merasa aman di samping Reza. Ia tahu, meskipun dunia mereka berbeda, cinta Reza adalah jembatan yang menghubungkan mereka.

Sementara itu, di mansion mewah Ardi Permana, Cantika masih belum bisa tidur. Bayangan tatapan Reza Dirgantara terus menghantuinya. Ada sesuatu yang misterius dari pria itu, sesuatu yang menariknya secara tak sadar. Ia bangkit dari tempat tidur, mengenakan bathrobe, dan berjalan menuju ruang kerjanya.

Ia menyalakan lampu redup, lalu menatap lukisan abstrak yang ia sembunyikan di balik lukisan lain. Lukisan wanita di dalam sangkar emas. Ia menyentuh lukisan itu, merasakan dinginnya kanvas. Lukisan itu adalah cerminan jiwanya yang terkurung.

Cantika meraih kotak sketsa lamanya, yang sudah lama tidak ia sentuh. Ia membuka halaman kosong, lalu mulai menggambar. Ia menggambar wajah seorang pria, dengan mata yang tajam namun meneduhkan, bibir tipis yang tersenyum tipis. Wajah itu adalah wajah Reza Dirgantara. Cantika sendiri terkejut dengan apa yang ia gambar. Mengapa ia menggambar pria itu? Ia tidak tahu. Ia hanya merasa ada dorongan kuat untuk melakukannya.

Ia terus menggambar, menambahkan detail pada wajah Reza. Ada kerinduan yang ia gambarkan di mata pria itu, kerinduan yang entah mengapa, terasa familiar baginya. Cantika merasa ada benang merah yang menghubungkan dirinya dengan Reza, benang merah yang belum terurai.

Pikirannya melayang pada malam pesta. Tatapan Reza yang begitu dalam, seolah pria itu mampu melihat menembus topeng kebahagiaan yang ia kenakan. Reza tidak memuji kecantikannya secara berlebihan seperti Ardi. Ia hanya menatap, mengamati, dan mungkin, memahami.

Cantika menutup kotak sketsanya. Ia merasa gelisah. Perasaan ini, perasaan tertarik pada pria lain, adalah hal yang salah. Ia adalah istri Ardi, dan ia harus setia. Ia harus mengubur perasaan ini dalam-dalam.

Ia kembali ke tempat tidur, berbaring di samping Ardi yang masih terlelap. Cantika memejamkan mata, mencoba mengusir bayangan Reza dari benaknya. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua ini hanyalah kelelahan dan imajinasinya saja. Ia harus fokus pada pernikahannya, pada kebahagiaannya bersama Ardi. Ia menghela napas, berharap esok hari akan membawa ketenangan.

Keesokan paginya, Ardi terbangun dan melihat Cantika sudah rapi. "Kau sudah bangun sepagi ini, Sayang?" tanyanya, suaranya sedikit serak.

"Iya, Ardi. Aku tidak bisa tidur lagi," jawab Cantika. "Aku mau berenang."

"Baiklah. Hati-hati, ya," Ardi tersenyum, mengusap pipi Cantika. "Nanti kita sarapan bersama."

Cantika mengangguk, lalu bergegas ke kolam renang pribadi di halaman belakang. Ia berenang dengan cepat, mencoba meluapkan segala kegelisahan yang membanjiri hatinya. Air yang dingin sedikit menenangkan pikirannya. Setelah beberapa putaran, ia naik dari kolam, tubuhnya basah kuyup. Ia duduk di tepi kolam, menatap pantulan dirinya di permukaan air.

Apakah ia bahagia? Pertanyaan itu terus berputar di benaknya. Ia memiliki segalanya, namun mengapa ia merasa ada kekosongan yang tak terisi? Mengapa ia merindukan sesuatu yang tidak bisa ia definisikan?

Di saat yang sama, Reza dan Luna sudah dalam perjalanan menuju Jakarta. Reza menyetir sendiri, ditemani Luna di kursi penumpang. Mereka mengobrol santai, sesekali tertawa lepas. Luna merasa begitu nyaman di samping Reza. Ia tidak perlu berpura-pura, tidak perlu menjaga image. Ia bisa menjadi dirinya sendiri.

"Mas Reza, aku ingin tahu lebih banyak tentang pekerjaan Mas Reza," ujar Luna, menatap Reza. "Selama ini aku hanya tahu Mas Reza pengusaha, tapi tidak tahu detailnya."

Reza tersenyum. "Pekerjaanku cukup rumit, Luna. Aku berinvestasi di berbagai bidang, mulai dari properti, teknologi, hingga energi. Aku juga sering bepergian ke luar negeri untuk bertemu dengan investor dan rekan bisnis."

"Wah, pasti sangat sibuk, ya," Luna mengangguk-angguk. "Tapi Mas Reza selalu punya waktu untukku."

Reza menggenggam tangan Luna. "Tentu saja. Kau adalah prioritasku, Luna. Dan aku ingin kau tahu, aku serius denganmu. Aku ingin mengenalkanmu pada orang tuaku secepatnya."

Luna sedikit terkejut. "Benarkah, Mas Reza?"

"Iya," Reza menatap Luna. "Aku tahu ini tidak akan mudah. Mereka mungkin akan terkejut. Tapi aku akan meyakinkan mereka. Aku tidak peduli apa kata orang, Luna. Yang terpenting adalah kebahagiaan kita berdua."

Luna merasakan hatinya menghangat. Ia tahu Reza serius dengan kata-katanya. Ia sangat bersyukur memiliki pria seperti Reza dalam hidupnya. Pria yang tidak memandang status, tidak memandang materi, dan mencintainya dengan tulus.

"Terima kasih, Mas Reza," bisiknya, matanya berkaca-kaca.

Reza tersenyum, mengusap air mata Luna. "Jangan menangis, Sayang. Kita akan melewati ini semua bersama."

Mereka tiba di Jakarta menjelang siang. Reza mengantar Luna ke apartemen yang sudah ia siapkan untuk Luna, tidak jauh dari lokasi kursus kerajinan tangan. Apartemen itu tidak terlalu besar, namun nyaman dan bersih, dengan interior yang modern dan sederhana. Luna sangat menyukainya.

"Ini tempat tinggalmu selama di Jakarta," ujar Reza. "Kau bisa datang ke apartemenku kapan saja. Atau aku yang akan datang ke sini."

Luna memeluk Reza erat. "Mas Reza terlalu baik padaku."

"Tidak ada yang terlalu baik untukmu, Luna," Reza mencium kening Luna. "Sekarang, istirahatlah. Besok aku akan menjemputmu untuk pergi ke tempat kursus."

Luna mengangguk. Setelah Reza pergi, Luna menjelajahi apartemen barunya. Ia membuka lemari, melihat beberapa baju baru yang sudah disiapkan Reza untuknya. Ia tersenyum. Reza memang selalu memikirkan setiap detail kecil.

Ia berdiri di dekat jendela, menatap pemandangan kota. Jakarta, kota yang dulu hanya ia lihat di televisi atau majalah, kini menjadi tempat tinggalnya. Sebuah babak baru dalam hidupnya akan segera dimulai. Ia tahu ini akan menjadi tantangan, namun ia tidak takut. Dengan Reza di sisinya, ia merasa sanggup menghadapi apapun. Ia memejamkan mata, membayangkan masa depannya bersama Reza, masa depan yang sederhana namun penuh dengan cinta dan kebahagiaan.

Di mansion Ardi, Cantika menghabiskan sisa harinya dengan membaca majalah fashion dan menonton televisi. Ia merasa bosan, namun tidak tahu harus melakukan apa. Ardi sibuk di kantor, dan ia tidak memiliki teman dekat yang bisa diajak bicara atau sekadar jalan-jalan. Sejak menikah dengan Ardi, teman-teman lamanya secara perlahan menjauh. Mereka merasa Cantika sudah berada di dunia yang berbeda, dunia yang terlalu mewah untuk mereka jangkau.

Cantika tahu itu adalah konsekuensi dari pilihannya. Ia sudah memilih hidup mewah, dan ia harus menerima segala konsekuensinya. Namun, terkadang, ia merindukan kesederhanaan, ia merindukan tawa lepas tanpa beban, ia merindukan pertemanan yang tulus.

Ia bangkit dari sofa, berjalan menuju ruang kerjanya. Ia menatap kotak sketsa yang tadi pagi ia gunakan untuk menggambar Reza. Ia ragu sejenak, lalu membuka kotak itu. Gambar wajah Reza masih ada di sana. Cantika menyentuh gambar itu, merasakan getaran aneh di hatinya. Mengapa pria itu terus muncul di benaknya? Mengapa ia merasa ada sesuatu yang menariknya padanya?

Cantika tahu ia tidak boleh membiarkan perasaan ini tumbuh. Ia adalah istri Ardi. Ia harus setia. Ia harus mengubur perasaan ini dalam-dalam. Namun, semakin ia mencoba menguburnya, semakin kuat perasaan itu muncul. Ia merasa terjebak, terkurung dalam labirin perasaannya sendiri. Ia ingin bebas, ia ingin menemukan dirinya sendiri, ia ingin menemukan kebahagiaan sejati yang tidak terikat oleh materi atau status sosial. Namun, ia tidak tahu bagaimana caranya.

Ia melihat kembali lukisan wanita di dalam sangkar emas. Lukisan itu seolah-olah berbisik padanya, mengingatkannya pada jiwanya yang terpenjara. Cantika merasa air matanya menggenang. Ia tidak bisa lagi menahan beban ini sendirian. Ia merasa seperti akan meledak. Ia ingin berteriak, ia ingin menangis, ia ingin lari dari semua ini.

Namun, ia tidak bisa. Ia adalah Nyonya Ardi Permana. Ia harus kuat. Ia harus sempurna. Cantika menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan kekuatan. Ia harus bisa melewati ini. Ia harus bisa menemukan kebahagiaan, meskipun kebahagiaan itu harus ia ciptakan sendiri di dalam sangkar emasnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED