"Kasih, kamu nggak masalah kan pakai seragam yang tahun kemarin? Atau pakai saja punya Risa, sepertinya yang ini juga masih muat di badan kamu."
"Lagi Bi? Dari SD sampai kelas dua SMP kemarin, saya juga pakai baju bekas Kak Risa," jawabku pelan.
Sekarang aku sudah berusia empat belas - sebentar lagi lima belas tahun - dan baru saja naik di kelas tiga SMP, sama dengan Ririn anak kedua Bi Yana. Sedangkan Kak Risa baru saja lulus SMP, dan akan masuk SMA yang ada di kecamatan sebelah.
Sejak masuk sekolah, hanya saat di kelas satu dan kelas dua SD saja aku mendapatkan seragam baru, tentu saja karena perhiasan Ibu belum lama Bibiku terima, tapi apa iya, secepat itu habisnya?
"Terus mau kamu bagaimana Kasih? Bibi tidak bisa belikan kamu seragam baru, yang penting kan masih bisa dipakai? Selama ini juga kamu nurut saja? Kenapa sekarang protes? Sudah merasa besar kamu?"
"Saya hanya penasaran kenapa Ririn seragamnya ganti terus Bi? Sedangkan badannya Ririn sama Kak Risa nggak jauh berbeda, justru di saya bajunya agak kekecilan."
"Uang Bibi cukupnya cuma untuk Ririn, karena badannya kecil, seragam untuknya murah, bukannya kekecilan baju Risa di kamu, tapi kamu nya saja yang makannya banyak, jadinya lebih besar dari Risa. Lagian ya, kamu itu bukannya bersyukur masih bisa sekolah, malah nuntut seragam baru, bisa makan dan tidur nyaman di sini, harusnya kamu bisa terima apapun yang bibi berikan."
Makan banyak kata Bibi? Iya, banyakan nasinya, karena biasanya aku hanya disisakan sayuran dan tempe atau tahu. Padahal yang bantu Bibi memasak di dapur aku, namun aku tak bisa banyak protes dan hanya bisa menerima. Aku cukup tahu diri posisiku di sini.
Pakaian rumahku juga tak kalah mengenaskan, hanya beberapa potong baju, itupun ada yang bekas dari Kak Risa, atau baju Ririn yang kebesaran, aku tidak masalah, karena hanya di rumah. Tapi untuk seragam sekolah? Iya kalau memang muat di badanku, masalahnya kadang ada yang kekecilan di badanku yang memang sedikit lebih besar dari Kak Risa, hingga kadang sobek di ketiak, atau tempat yang lain, dan aku harus menjahitnya sendiri. Selalu seperti itu.
"Saya bersyukur Bi, tapi kan setahu saya Ibu meninggalkan perhiasan untuk dijual buat-"
"Kamu anak kecil tahu apa? Kamu pikir semua yang kamu pakai dan makan selama di sini itu nggak butuh uang? Sekarang apa-apa mahal, barang emas Ibu kamu juga nggak seberapa, sudah habis terjual empat tahun lalu! Jadi, sekarang berhenti ungkit-ungkit barang yang sudah tidak ada lagi!"
"Maaf Bi, apa Ibu tidak bisa dihubungi?"
"Tumben kamu tanya Ibumu? Selama ini kamu diam saja, tidak pernah singgung soal Ibumu? Apa sekarang kamu mau mengadu, pada orang yang sudah jelas tidak menginginkanmu? Harusnya kamu lebih peduli pada Bibi dan keluarga di rumah ini yang masih menampung kamu! Nggak kasihan kamu sama Pamanmu yang kerja banting tulang buat kalian? Jadi pekerja tambang itu capek Kasih, ini bukan di perusahaan, tambang tradisional, yang memang serba tenaga, kalau dapat sukur, kalo lagi apes, ya ... harus sabar. Jadi, kamu jangan banyak maunya deh!"
"Iya Bi, saya hanya ingin tahu kabar Ibu."
"Yeni itu sudah punya kehidupan sendiri, dia nggak perduli sama kamu! Bibi dan Pamanmu di sini yang membesarkan dan bahkan menyekolahkan kamu, jangan sampai lupakan itu!"
"Iya Bi."
Padahal setahuku, sejak kelas tiga SD sampai masuk SMP, aku dapat beasiswa prestasi, karena di sini Bibiku yang jadi wali murid, maka semuanya dipegang Bibi, kadang keperluan sekolah seperti buku, aku harus hemat, Bibi hanya belikan album yang tebal satu, dibagi untuk semua mata pelajaran, sisanya kadang dikasi bekas bukunya Kak Risa. Sedangkan untuk kedua putrinya selalu ada buku satuan setiap pelajaran.
"Itu uang dari Bapak mereka, punya kamu cuma cukup segitu." Seperti itulah jawaban Bibi ketika kutanya.
"Ya sudah, Bibi anggap protes soal seragam ini tidak pernah ada. Itu karena Bibi sayang sama kamu. Mengajari kamu untuk jangan boros. Ini bajunya kamu cuci dulu, sekalian sama seragamnya Risa dan Ririn. Mumpung besok hari minggu, sore ini masih bisa nyuci kan?"
"Besok pagi saja bisa Bi? Saya baru saja selesai mencuci baju rumah, kenapa baru sekarang seragamnya Bibi berikan?"
"Kan punya mereka baru beli, yang bikin lama itu, karena Bibi harus bongkar lemarinya Ririn buat nyari seragam kamu. Sudah sana, buruan dicuci, biar jemurnya besok saja nggak apa-apa. Kan besok libur, seperti biasa kamu yang jaga warung ya ...."
"Iya Bi," ucapku pelan, dan langsung ke tempat untuk mencuci pakaian.
Bibi memang tidak menggunakan mesin cuci, boros katanya. Sejak berusia sepuluh tahun, aku yang mencuci pakaian mereka semua. Awalnya Bibi turut membantu, tapi setelah dirasanya aku mampu sendiri, ia tak pernah lagi menemaniku.
Aku yang sudah terbiasa bekerja sejak tinggal dengan Ibu tidak masalah, tapi kadang ada rasa iri dalam hati saat melihat Ririn bisa santai nonton TV di hari libur, saat aku harus berkutat dengan pekerjaan rumah dan menjaga warung.
"Ririn itu badannya kecil, nggak kayak kamu, tenaganya juga lemah dan dia gampang sakit, jadi nggak boleh capek." Alasan itulah yang Bibi lontarkan saat mendelegasikan tugas rumah lebih banyak padaku, ketimbang dua anak perempuannya.
Aku bisa apa? Ka Risa kadang menyapu, kadang mencuci piring, tapi lebih banyak santainya, katanya capek belajar dan sebagainya. Bibi hanya mengiyakan saja setiap ucapan anak sulungnya tersebut. Sedangkan aku? Jangankan mengeluh, bertanya satu kalimat saja, akan mendapat jawaban panjang lebar, dan Bibi akan mulai mengungkit semua yang ia lakukan pada hidupku.
Saat mencuci seragam kami bertiga, terlihat sekali perbedaannya, warna putih bersih milik mereka berdua dan milikku yang sudah mulai berwarna kekuningan, entah sudah berapa lama seragam ini menghuni lemari Kak Risa.
Terpaksa aku rendam seragamku lebih lama dari milik Kak Risa dan Ririn, tak lupa ku tambahkan pemutih pakaian agar sedikit lebih cerah.
"Akhirnya selesai juga ...." ucapku sembari berdiri dan meregangkan kedua lenganku yang terasa kaku, karena dua kali mencuci dengan tangan dan jumlah pakaian yang sangat banyak.
"Tunggu! Mau ngapain kamu?" Aku yang hendak membuang sisa air bekas mencuci pakaian, dikejutkan oleh suara Ririn.
"Mau buang air bekas cucian Rin, kenapa?"
"Jangan dulu! Nih, masih ada yang ketinggalan," ucapnya sembari melemparkan dua pasang pakaian dalamnya, begitu saja di dalam loyang.
"Apa ini?" tanyaku pada Ririn dengan tatapan dingin.
Aku yang sudah kelelahan, dan ingin segera istirahat tentu saja tidak bisa menerimanya begitu saja, terlebih seingat ku selama ini aku hanya bertugas mencuci pakaian luar saja.
"Pakaian kotor, lah! Kamu buta?" jawabnya acuh.
"Cuci sendiri! Kamu bukan bayi, dan aku bukan pembantu!"
"Cuci sendiri! Kamu bukan bayi, dan aku bukan pembantu," ucapku tegas.
"Tapi itu tugasmu ....!" jawab Ririn tak mau kalah.
"Sudah bagus aku mencuci pakaianmu, apa otakmu sudah tidak bisa dipakai, seperti anggota tubuhmu yang lain?" Ku tatap ia dengan tajam.
"Maksudnya? Kamu sebut aku lumpuh?" Mata Ririn yang besar itu seakan melompat dari tempatnya.
"Bukan aku yang bilang," jawabku santai.
"Tadi, kamu bilang aku tidak bisa menggerakkan tubuhku, apa namanya itu kalau bukan lumpuh?"
"Hanya orang sakit yang nggak bisa bekerja, minimal untuk membersihkan barang pribadi sendiri, masa harus aku juga yang membersihkan? Belum lagi, itu ada warna merah apa? Kamu lagi datang bulan kan? Dosa tahu, apa kamu juga amnesia? Nggak sekalian aku mandiin nanti?"
"Kamu ...." Semakin nyalang ia menatapku, kali ini dibarengi dengan jari telunjuknya yang diarahkan ke wajahku. Walaupun ia harus agak mendongak untuk melakukannya. Posisi kami saat ini saling berhadapan.
"Aku capek, mau mandi dulu, sudah hampir magrib soalnya. Selamat mencuci, Ririn Sayang ...." ucapku selembut mungkin, dan berlalu dari tempat mencuci dengan menahan tawa, karena wajahnya yang menahan marah sangat menggelikan.
Mungkin Ririn sedikit terkejut dengan semua ucapanku. Wajar jika ia merasa begitu, karena selama ini aku diam saja, aku hanya merasa di usiaku yang sekarang hanya ingin lebih menyayangi diri sendiri, karena tak ada yang benar-benar menyayangi apalagi menginginkan kehadiranku di sisi mereka.
Sebenarnya ada Paman Darto yang cukup peduli padaku, sayangnya Paman jarang di rumah, karena harus kerja bisa sampai dua minggu di lokasi tambang tradisional yang agak jauh ke hutan belantara di desa tetangga.
Jika ada paman, Bibi bersikap lebih baik padaku, kebetulan semalam Paman baru sampai dari lokasi, jadi aku sedikit tenang beberapa hari ke depan. Karena Bibi akan banyak membantuku. Walau aku tahu itu terpaksa, aku tetap merasa terbantu, dan bersyukur karenanya.
*****
Hari minggu yang dinanti oleh sebagian besar anak-anak seusiaku, karena tak harus bangun pagi untuk sekolah, nyatanya tidak berlaku untukku.
Lebih baik bagiku tak ada libur sama sekali, setidaknya aku bisa belajar sambil mengistirahatkan tubuhku, yang walaupun tanpa makan yang bergizi apalagi enak, tetap saja bisa tumbuh tinggi dan sehat.
Aku terbiasa bangun jam empat pagi untuk persiapan shalat subuh di Musholah dekat rumah, lalu pulang dari shalat, aku hanya menyimpan mukena dan sajadah, setelah itu mulai membersihkan rumah dan menanak nasi di rice cooker. Setidaknya pekerjaan ini lebih mudah.
Setelah bersih seisi rumah dan halaman, lanjut membantu Bibi menyiapkan sarapan, dan setelah sarapan aku mandi lalu menjaga warung sampai magrib, jika sudah masuk waktu shalat dzuhur dan ashar, aku minta tolong pada Bibi untuk gantian jaga.
Untungnya Bibi tidak pernah protes soal yang satu ini. Karena ia senang aku bisa shalat dan mengaji, memang Bibi dan Paman memasukkan kami bertiga ke Taman Pengajian Quran, sejak aku berusia delapan tahun. Namun yang benar-benar lancar dan sampai sekarang masih terus membacanya hanya aku.
Seperti biasa, Bibi tidak memaksa anaknya untuk selalu belajar, yang penting sudah tahu. Ya, sekedar itu saja, dan aku tak bisa komentar banyak soal itu. Ujung-ujungnya nanti aku juga yang kena marah.
"Kasih, kamu sudah selesai shalat ashar nya kan?" tanya Bibi masuk ke warung kelontong milik Bibi yang mulai sepi pembeli.
"Sudah Bi, kan tadi Bibi gantian jaga sama saya ...." jawabku sedikit heran. Cepat sekali bibi lupa soal ganti jaga itu. Jangan-jangan ketularan amnesianya Ririn lagi.
"Iya, Bibi hanya ingin memastikan saja," jawab Bibi pelan, sedikit kikuk di mataku. Curiga ada sesuatu nih.
"Kenapa Bi? Tumben Bibi ingin memastikan shalatnya saya? Atau Bibi ada maksud lain?" tanyaku nekad.
"Emang nggak boleh Bibi nanya?" Intonasinya sudah mulai meninggi.
"Saya juga hanya bertanya Bi, maaf," ucapku pelan. Dalam hati aku yakin ada sesuatu.
"Iya nggak apa-apa, tapi lain kali jangan diulangi lagi, nggak sopan itu namanya!"
"Baik Bi," Kali ini aku menyerah menebak ada apa. Lebih tepatnya tak perduli lagi maunya Bibi apa. Toh aku nanti juga dipaksa ikuti maunya.
"Nah gitu dong, jadi gini Kasih ... sebenarnya -"
"Ayo Ma, kita sudah siap nih ...." Suara cempreng Ririn terdengar lebih riang dari biasanya.
Perhatianku otomatis teralihkan pada kakak beradik yang kini sudah berdiri di depan warung dengan penampian santai untuk jalan. Saat itu aku baru sadar jika Bibi juga tidak memakai daster, melainkan gamis yang baru dibeli seminggu yang lalu.
"Buruan Ma, nanti tutup restorannya ...." Kali ini suara Kak Risa yang terdengar.
"Kasih, kamu nggak apa-apa kan jaga warung? Bibi nggak bisa ajak kamu pergi, kita nggak akan lama kok, masalahnya kalau ngajak kamu, terus yang jaga warung siapa?"
"Ngapain sih, Ma, pake acara nggak enakan begitu sama Kasih, jaga warung kan memang tugasnya dia!" Ririn bertanya sambil menatapku kesal." Sepertinya dia masih dendam dengan kejadian tadi sore.
Bibi hendak mengatakan sesuatu, namun tak jadi, karena suara di belakang Kak Risa dan Ririn terdengar lebih dulu.
"Kenapa semua berkumpul di sini?" Paman menatap kami semua dengan heran, terutama padaku. "Kasih, kamu belum siap-siap?"