"Lepas Kak! Aku mau turun!" Anna merengek meminta turun dari pangkuan sang kakak. Matanya sedikit berkaca dengan dada berdegup kencang seolah berada di balapan motor Mandalika.
Sedangkan lelaki yang bernama Keymal tersebut enggan untuk melepaskan adiknya dari pangkuan dia. Tangan lelaki dua puluh tujuh tahun tersebut melingkar erat pada perut rata Anna.
Gairahnya semakin menjadi ketika Anna terus mengeluarkan suara-suara aneh dengan sentuhannya.
Anna ketakutan bukan main bila berdekatan sebegitu intimnya dengan sang kakak. Ia khawatir papa dan mamanya memergoki mereka berdua.
"Kak aku mohon lepaskan!" Lagi-lagi Anna merengek sambil berontak. Namun, gerakan gadis tersebut malah membuat Keymal semakin tidak karuan dibuatnya.
Lelaki bertubuh jangkung itu dengan kasar menyentak tubuh Anna dalam gendongannya hingga mau tidak mau Anna melingkarkan kedua tangannya di leher Keymal. Kemudian membawa gadis tersebut menuju ranjang king size empuk miliknya. Lalu melempar tubuh sang adik di atas kasur tersebut.
Dengan gerakan cepat kini tubuh Anna telah tertindih oleh Keymal. Merasa tidak ada balasan dari sang gadis, Keymal mengigitnya sedikit hingga membuat Anna berteriak sakit. Dengan rakus lelaki tersebut terus menjelajahi setiap sudut mulut Anna dengan tangan yang tidak mau tinggal diam juga berlanglangbuana menyentuh kedua benda kenyal milik adik tirinya tersebut.
Anna melenguh dengan sentuhan itu. Dia juga tidak mau kalah dengan sekuat tenaga melawan, akan tetapi semuanya hanya sia-sia belaka saja. Harapan untuk melepaskan diri semakin tiada ketika Keymal yang entah sejak kapan sudah menanggalkan baju Anna.
Anna mencium bau alkohol dari mulut Keymal ketika lelaki itu kembali mendekatkan wajahnya pada wajah sang adik. Sedangkan lelaki itu semakin tidak karuan ketika tubuhnya bertabrakan dengan kulit halus Anna.
Gadis itu menangis emosi menyadari tubuhnya dan tubuh sang kakak kini sama-sama polos.
"Kamu akan menjadi milikku!"
Suara serak keymal tersebut semakin membuat Anna sesenggukan dengan perlawanan sia-sia. Percuma dia melawan karena sekarang pertahanannya telah tiada. Keymal benar-benar merebut kesucian Anna yang berstatus sebagai adik tirinya.
"Argghh!" Anna berteriak kesakitan kala lelaki itu merebut segalanya dari Anna. Hilang sudah harapan Anna untuk menjaga kegadisannya. Rasa sakit semakin terasa dalam kala menyadari siapa yang telah merenggut segala harapan hidupnya.
Anna menyesali sikap baiknya terhadap Keymal, yang mendapat balasan tidak pantas dari lelaki tersebut. Dia melihat dengan sangat jelas bagaimana kakak tirinya itu menikmati tubuhnya.
Pikiran Anna berkecamuk, ia ingat betul bahwa Keymal sangat cuek terhadapnya, bahkan dia tahu jika Keymal amat membeci kehadiran dirinya di rumah ini. Namun, malam ini dengan tega dia merenggut segalanya dari Anna. Kesadaran Anna sedikit demi sedikit mulai sirna, badan dan hati yang remuk menyebabkan dia hilang kesadaran.
Lantas, mengapa Keymal melakukan ini semua? Mengapa dia melakukan hal ke ji tersebut pada Anna yang jelas-jelas adalah adik tiri yang tidak pernah ia harapkan kehadirannya?!
Anna terbangun dan mendapati semuanya telah hilang, ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang terasa dingin namun rasa sakit di bagian intinya membuat dia kembali meneteskan air mata. Pipi mulusnya basah, gadis itu meratapi nasibnya yang begitu malang dan sangat menyesal karena telah hadir di rumah yang berlatar neraka tersebut.
Anna ingin bangkit, dan berniat membersihkan tubuh kotornya yang meskipun ia mandi seribu kalipun semua yang telah hilang tidak akan kembali lagi. Dengan selimut tebal tersebut Anna menutupi tubuh mungilnya dan membiarkan Keymal kedinginan. Anna merasa Keymal pantas mendapatkan pembalasan buruk atas perbuatan lelaki itu terhadapnya.
"Arghh," Anna meringis kesakitan ketika kakinya menyentuh lantai dan hendak bangun. Dia melempar kembali bokongnya dengan kasar, sambil memegangi perut bagian bawah Anna kembali menangis. Tangannya bergetar hebat menghimpit selimut yang dia kenakan.
"Kenapa sakit banget," rengeknya lemas. Wajah Anna memerah menahan rasa sakit di bagian bawahnya yang terasa perih dan sangat menyakitkan ....
Dengan sekuat tenaga gadis berambut sebahu itu terus berusaha bangkit, berjalan tertatih memungut satu persatu pakaiannya yang berserakan di lantai. Kemudian menuju kamar mandi yang terletak tidak jauh dari ranjang tempat berdosa mereka. Namun, saat Anna telah sampai di depan pintu dia merenggut lemas menyadari jika itu bukanlah kamar mandi miliknya.
"Sial! Ini bukan kamarku," rutuk Anna geram, dia berbalik hendak pergi meninggalkan tempat jaha nam tersebut namun saat membalikkan badannya dia menatap ke arah ranjang dimana Keymal tengah terbaring telungkup. Gadis itu menatap nanar, ingatan tadi malam kembali menari memenuhi seisi kepalanya membuat mata gadis itu kembali basah kemudian mengalir buliran bening di pipinya.
"Sekarang aku harus apa? Tidak akan ada yang menerimaku setelah ini, dan semua kehancuran akan dimulai dari sekarang, hikss," batin Anna mengeluh, penderitaan hidupnya akan segera dimulai dan bagaimana jika ibunya mengetahui hal tersebut? Membayangkan bagaimana kecewanya sang ibu membuat Anna ingin ma ti saja, dia takut mengecewakan ibunya yang selama ini rela pontang panting demi menghidupinya.
Setelah sampai di kamarnya sendiri Anna dengan cepat memasuki kamar mandi kemudian membersihkan badannya, ia menggosok tubuhnya dengan kuat hingga menimbulkan kemerahan. Kulit putihnya memerah akibat dari perbuatannya akan tetapi hal tersebut tidak akan mampu menghilangkan ingatannya tentang perbuatan Keymal tadi malam kepadanya. Bahkan jika kulitnya mengelupas pun tidak akan mengembalikan apa yang telah terenggut.
"Argghhh! Tidakkk! Aku benci hidupku!" Tangis Anna kembali pecah, air mata yang awalnya telah mengering kini kembali membasahi pipi mulusnya. Dengan suara serak Anna terus merutuki dirinya dan sumpah serapah ia lontarkan untuk Keymal yang tanpa rasa berdosa menodai hidupnya. Dia berharap lelaki itu segera enyah dari dunia ini untuk selamanya ....
Setelah mandi Anna meringkuk lemah dengan mata sembab, rasa kantuk kembali menyerang mengingat betapa kejamnya dunia ini. Lemah letih dan tidak ada semangat hidup kini tercampur menjadi satu dalam tubuh Anna, mungkinkah dia akan memberi tahukan hal tersebut pada sang ibu? Ataukah malah menyimpannya seorang diri hingga waktu yang menentukan?!
Pagi harinya Keymal terbangun dengan setengah sadar, dan betapa kagetnya dia setelah melihat tubuhnya yang telan jang bulat. Benar, Anna memang meninggalkan Keymal tanpa sehelai benangpun dan hal itu pantas di dapatkan olehnya. Bahkan perbuatan Anna tersebut belum sebanding dengan apa yang dibuat olehnya tadi malam terhadap Anna.
"Kenapa aku bisa begini?" gumamnya heran.
Lelaki itu bangkit lalu menuju kamar mandi hendak membersihkan badannya yang terasa lengket. Di dalam sana kesadaran Keymal sedikit demi sedikit mulai muncul, dan perlahan mengingat akan kejadian tadi malam bersama dengan Anna. Dia ingat betul jika dirinya dengan kasar memaksa gadis tersebut untuk melayaninya dan dia sedikit merasa aneh setelah melakukan hal tersebut.
Dia menyunggingkan bibirnya merasa bangga atas perbuatan tadi malam terhadap Anna, akan tetapi dalam waktu sekejap wajah sumringah tersebut hilang dan berganti takut. Dia khawatir Anna akan hamil, dan bagaimana jika gadis itu memberi tahukan semuanya pada Johan? Ayah kandung Keymal. Ia tahu betul jika ayahnya itu tidak akan tinggal diam apabila Anna menderita olehnya.
Beberapa menit kemudian Keymal telah siap untuk berangkat kerja, dia keluar dari kamarnya menuju meja makan namun saat sampai di sana dia tidak mendapati apa-apa, itu berarti kedua orang tuanya belum pulang sedari tadi malam. Keymal merasa sedikit lega menyadari mereka belum kembali, itu artinya masih belum ada yang mengetahui perbuatannya pada Anna.
Cklekk
Mendengar suara pintu terbuka Keymal menoleh ke arah sumber suara, dia melihat Anna keluar dari kamarnya dengan wajah pucat dan dengan cara jalannya yang tidak normal. Jujur Keymal ada sedikit rasa bersalah apalagi melihat Anna kesakitan seperti itu.
Anna berjalan tertatih menahan rasa sakit, gadis dua puluh satu tahun tersebut terus berjalan tanpa menghiraukan keberadaan Keymal di meja makan. Niat hati ingin mengisi perut, tetapi setelah melihat lelaki itu membuat Anna mengurungkan niatnya. Kembali menuju kamar dan membanting pintu dengan keras berharap kekesalannya tertuntaskan dengan melakukan hal itu ....
Melihat Anna yang seperti itu membuat hati Keymal mencelus, rasa kasihan dan menyesal membuatnya sadar jika apa yang ia perbuat adalah salah, bahkan dirinya tidak meminta maaf pada Anna karena telah menyakiti sang gadis. Namun, sedetik kemudian pikirannya berubah lagi, dia merasa jika Anna pantas mendapatkan pelajaran itu karena telah berani masuk dan mengusik kehidupannya.
Pikiran dan hatinya sering berubah-ubah membuat dirinya dirundung kebingungan. Otaknya berkata cukup namun hatinya menuntut kurang.
Sedangkan di dalam kamar Anna kembali menangis, rasa lelah dihati dan badannya membuat ia ingin mati, Anna menangis tanpa suara dia sambil memukul-mukul dadanya dengan kuat. Ia ingin mengakhiri hidupnya dengan cepat dan dengan cara apapun.
Menarik-narik rambut sendiri kemudian menggosok-gosok badannya dengan kuat berharap dengan terkelupas kulit tersebut dapat menghilangkan masalahnya. Tanpa perempuan itu kulitnya semakin merah akibat cakaran dari kuku panjangnya. Namun, Anna segera tersadar ketika wajah ibunya muncul dalam benak. Dia tidak boleh menyerah, masih ada ibunya untuk ia lindungi dan bahagia ....
"Aku tidak boleh menyerah, aku harus bangkit dan melupakan ini semua biar pun tidak akan ada lekaki yang mau wanita kotor dan hina sepertiku," tukas Anna menyemangati dirinya sendiri.
Ia bertekat akan melupakan semuanya meskipun hal itu sangat sulit, dan bahkan tidak mungkin. Semakin ia berusaha melupakan maka semakin melekat pula hal tersebut di kepala Anna. Karena sebaik-baiknya cara melupakan adalah mengingat.
***
Satu Minggu Kemudian
"Aishhhh, ini bukan otakku yang kurang pintar, tapi tugasnya aja yang super ribet dan menyusahkan," keluh Anna kesal karena tugasnya tak kunjung selesai. Kini ia harus menumbalkan satu episode drama Korea demi menyelesaikan tugasnya tersebut.
Malam yang sungguh menyebalkan bukan, memiliki otak manja dan harus super berusaha agar bisa menyelesaikan tugas-tugas itu, membuat gadis berambut sebahu tersebut harus rela mengorbankan sesuatu di setiap malamnya.
Cklekk
Anna menoleh mendengar pintu kamarnya terbuka, buset ia pake acara lupa segala mengunci pintu dan sekarang terlambat sudah karena Keymal si usil itu sudah masuk ke sana.
"Ada apa? Kenapa tidak mengetok pintu dulu sebelum masuk? Ada perlu apa ke sini?" cecar Anna tanpa ekspresi akan tetapi menuntut banyak jawaban dari lelaki tersebut, yang saat ini tengah berjalan ke arah sang adik tirinya.
Bukannya menjawab Keymal malah menyeringai devil seakan ingin menerkam gadisnya malam itu juga. Dengan langkah sedikit aneh dan terlihat sempoyongan membuat Anna mati kutu tanpa bisa bergerak sedikitpun dari tempatnya.
Bukan tanpa sebab, pasalnya ia sudah mengetahui jika saat ini Keymal sedang mabuk dan mungkin akan melakukan hal-hal aneh pada Anna. Ditambah orang tua mereka sedang tidak di rumah.
Untuk mengetahui lebih jelas lelaki tersebut beneran mabuk ataukah tidak, gadis itu berdiri setelah Keymal berada tepat di depannya.
"Kakak mabuk?" Gadis cantik tersebut memiringkan kepalanya dengan sedikit mendongak agar lebih jelas melihat wajah sang kakak tirinya. Bisa saja kan jika Keymal hanya berpura-pura sahaja.
"Hmmm, aku tidak mabuk ... aku hanya minum sedikit tadi," balasnya sambil menangkup wajah cantik Anna.
"Lepas! Kakak pikir bisa mengelabuiku dengan cara seperti ini?" tegas Anna dengan rahang mulai mengeras seperti sifatnya.
"Arghh ...!" Keymal meringis kesakitan akibat pukulan dari sang adik, tepat pada bagian perutnya ....
Anna berlari ke arah pintu. Namun, keberuntungan sedang tidak berpihak kepadanya ... percuma saja ia memutar seribu kali putaran handle pintu tersebut, karena kuncinya masih berada pada Keymal.
Ya, benar, sebelumnya lelaki tersebut memang telah mengunci pintu kamar Anna kemudian memasukkannya ke dalam saku kemeja yang ia kenakan.
Sepertinya pukulan Anna tidak berhasil membuat Keymal jera. Kini lelaki itu malah menghampirinya kembali dengan wajah yang amat sangat menyeramkan. Bahkan wajah tampan lelaki itu seakan berubah drastis.
"Kenapa kau menghindariku, Na? Hmmm?" geram Keymal dengan langkah pasti.
"Apa aku semenakutkan itu?"
"A-aku tidak takut, aku hanya tidak suka jika berdekatan dengan, Kakak," pungkas Anna.
"Tapi aku suka berdekatan denganmu," balas Keymal sambil membelai lembut pipi Anna.
Kini jarak mereka sangat dekat hingga hembusan napas Keymal menyapu wajah mulus Anna. Tidak sampai di sana, lelaki yang berstatus sebagai kakak tiri Anna tersebut mulai berbuat lebih.
Keymal mengendus bagian leher sang adik lalu menghirup aroma tubuh gadis itu yang membuatnya begitu candu.
Sedangkan Anna hanya bisa memejamkan matanya takut. Sungguh, kali ini perbuatan Keymal sudah diluar kendali dan membuat bulu kuduk Anna benar-benar merinding.
Percuma ia berteriak, niatan tersebut tidak akan berhasil. Mengingat rumah yang ia tinggali sekarang begitu besar serta jauh dari para tetangga membuatnya harus berpikir dua kali. Lebih baik ia mencari cara lain agar terlepas dari kakak tiri omes seperti Keymal.
"Akh," desis Anna ketika menyadari bibir Keyma benar-benar menyentuh leher Anna. Tidak, lebih tepatnya sebuah kecupan bukan hanya sekedar menyentuh saja. Rasanya sedikit aneh, Anna merasakan sesuatu yang lain dari pergerakan kakak tirinya itu.
"Aaaaaa, tol ... hhmmmpppp." teriak Anna histeris berharap Keymal melepaskannya malam ini. Sungguh, gadis yang memiliki gigi gingsul tersebut benar-benar dibuat takut setakut takutnya oleh Keymal.
Bahkan, belum sempat ia berteriak kini bibir Keymal telah menempel pada bibir Anna. Bahkan sedikit melum*tnya hingga membuat mata gadis itu melebar kaget.
Jantung Anna berdetak kencang seperti balapan motor di Mandalika.
"Jangan berontak!" ultimatum Keymal ketika Anna berusaha mendorong tubuhnya.
"Aku mohon, Kak," rengek Anna dengan suara yang sudah serak. Gadis cantik itu menangis sesenggukan hingga air matanya mengalir dan membasahi bibir Keymal yang saat itu masih memangut khitmat bibir sang lawan.
Cup
Keymal mengakhiri kegiatannya dengan perasaan belum puas. Pertama kali baginya merasakan bibir secandu milik Anna yang tak lain adalah adik tirinya. Dari sekian wanita yang pernah ia coba hanya Anna yang mampu membangkitkan gair*hnya.
"Aku tidak akan berbuat lebih, Sayang ...," manuver Keymal. Melihat Anna yang masih sesenggukan membuatnya tambah frustasi antara melanjutkan keinginannya ataukah tidak.
"Aku benci, Kakak," cetusnya mendorong tubuh Keymal sekuat tenaga.
"Seharusnya aku tidak masuk ke rumah ini, aku menyesali pernikahan mama dan papa. Aku menyesal telah merestui hubungan mereka," cecar Anna sambil berlari menuju ranjangnya kemudian menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Berharap Keymal enyah dari sana.
Keymal sedikit termenung, berpikir apakah perbuatannya sedikit keterlaluan pada sang adik? Haissshh, ia tidak dapat berpikir jernih dengan kepala pusing serta suatu rasa aneh yang sedang menuntut sesuatu malam itu.
"Cup, cup, cup ... tidak ada yang perlu disesali."
Anna tidak habis pikir pada Keymal yang malam itu ngotot ingin tidur dengannya. Apakah pantas saudara tírí antara laki-laki dan perempuan tidur di ranjang yang sama?
"Jangan pegang-pegang, Kak!" ingat gadis itu terhadap Keymal yang sedari tadi tangannya terus menggerayangi tubuh Anna. Mulai dari punggung lalu berhenti kala sampai pada bagian perut Anna.
"Baiklah, tanganku tidak akan kemana-mana lagi. la sudah nyaman berada di sana," ucapnya sambil mengeratkan pelukannya pada perut sang adik.
Oh tidak, sungguh keadaan yang sulit dimengerti. Sebenarnya Anna ingin berontak, akan tatapi jika diperbolehkan jujur, pelukan keymal sangal nyaman. Gadis itu membiarkan sang kakak terus memeluknya hingga tertidur pulas.
Harus apa dia jika sudah begitu? Hanya bisa pasrah dan tidur dengan nyenyak kemudian bangun di pagi hari berharap lelaki itu tidak berbuat macam-maсам terhadapnya.
Sedangkan Keymal, apakah ia sendiri sudah tidur? Jawabannya adalah tidak. Lelaki yang memiliki paras tampan tersebut sebenarnya belum tertidur. Ia sedang menikmati dimana masa-masa langka itu dia rasakan, tidur dengan pujaan hati membuatnya kelimpungan sendiri.
Dengan lihainya tangan nakal itu bergerak bebas melupakan peringatan sang pemilik tubuh yang ia peluk saat ini. Keymal menggerakkan tangannya sedikit ke atas yang sama sekali belum tersentuh oleh siapapun.
"Enghh ...." Anna menggeliat kecil. Segera Keymal mengeratkan kembali pelukannya dan tidak lepas menggenggam benda sakral tersebut dengan gemas.
Ingin rasanya ia meremasi benda tersebut. Namun, ia sadar perbuatannya itu tidak mudah dilakukan. Keymal khawatir gadisnya akan bangun kemudian menyadari semuanya.
Melakukan skinship dengan Anna membuat Keymal bingung sendiri. Bagaimana tidak, tubuhnya amat sangat nyaman berada di sana, namun sedikit menuntut sesuatu yang lain bahkan lebih.
***
Pagi harinya Anna terbangun dan merasakan badannya sakit semua seolah habis melakukan lari maraton dengan jarak kiloan meter. Matanya mengerjap paksa, melawan kantuk yang enggan untuk pergi padahal matahari sudah mulai menyinari bumi meskipun tidak sepenuhnya tampak.
"Enghh," Anna melenguh kala merasakan sebuah tangan masih menangkup badannya, memeluk erat dan membuat Anna tidak nyaman.
Tapi tunggu, gadis itu merasakan sesuatu yang lain, tangan Keymal, tangan lelaki itu tidak berada di perut Anna akan tetapi di atasnya.
"Aaaaa, Kakak ngapain pegang bagian yang ini!?" sentak Anna kaget dengan mata membulat. Lalu berusaha membuka tangan Keymal dari sana yang tepatnya sedang menggenggam sesuatu yang seharusnya tidak boleh.
Kini kesadarannya sudah penuh. Sedangkan sang pemilik tangan malah semakin mengeratkan genggaman tangannya pada benda tersebut. Sebenarnya Keymal sudah terjaga sebelum Anna, tetapi ia sengaja menunggu sang gadis karena ingin mengetahui reaksinya mengetahui hal itu.
"Sudah bangun, Sayang, hmmm?"
Anna terkesiap mendengar suara di belakangnya. Dia menoleh dan ditatapnya lelaki tersebut.
"Kakak tega!" ucap Anna terbata sambil menyeka air matanya sembarangan.
Mendesah, Anna kembali mendesah ketika tangan kekar Keymal lagi dan lagi meremasnya. Mendengar gadisnya mengeluarkan suara seperti itu membuatnya pasrah. Dia pasrah mengikuti hasratnya melakukan apa saja terhadap Anna yang saat ini malah semakin sesenggukan.
"Kenapa dia menangis? Padahal aku cuma memegangnya saja," batín Keymal, dan tidak menyadari jika Anna sudah berhasil melepaskan diri.
Keymal segera mencekal tangan Anna ketika menyadari gadisnya sudah berdiri dan hendak pergi.
Fisik Anna sangat sempurna. Perpaduan antara Indo-Eropa menjadi magnet tersendiri. Ia memiliki kulit putih bening yang membalut tubuh rampingnya. Rambut sebahu yang selalu tergerai itu berwarna cokelat gelap. Sepasang mata bulatnya pun memiliki iris hazel dengan mahkota lentik di atasnya.
Sempurna!
Penampilannya itu bahkan tidak jarang membuat perempuan lain merasa iri akan kesempurnaan yang dimilikinya.
Grep!
Keymal kembali mencekal tangan Anna kemudian menariknya dengan kasar sehingga tubuh gadis tersebut kembali dalam dekakapan Keymal. Tanpa basa-basi ia kecup kening adik tirinya tersebut dengan sangat lembut sambil menekan tengkuknya agar kecupan itu lebih dalam.
"Lepasin, Kak! Sakit!"
Tentu saja ada perlawanan dari Anna. Dan benar saja, gadis itu berhasil melepaskan diri dari kungkungan Keymal lalu masuk ke kamar mandi tanpa mendengarkan ocehan sang kakak tiri.
"Dicium itu enak, bukan sakit, Na," teriaknya memberitahu pada sang adik jika ciuman yang ia berikan itu sangat nyaman dan nikmat.
Di dalam sana Anna berdecak tidak suka. Ia kemudian menjulurkan kepalanya dari celah pintu lalu berteriak.
"Kakak keluar saja dari síni sebelum aku marah!"
Keymal masih berdiam diri. Kemudian beranjak pergi meninggalkan kamar sang adik. Daripada dirinya kepergok sang ayah karena telah berani menggoda Anna bisa runyam nantinya. Dia tahu betul jika ayahnya melarang keras Keymal menggoda adik tirinya itu.
Tidak ada pilihan lain. Baru saja Anna terlepas dari Keymal, kini harus berhadapan kembali dengan kakak tirinya tersebut. Benar, barusan Keymal mengatakan bahwa dirinya yang akan mengantar sang adik. Mendengar hal itu Anna hanya bisa pasrah dan manut saja.
"Diantar Keymal ke kampus membuat Anna teringat kembali akan kejadian waktu itu. Bayang-bayang mengerikan kontan berkelebat di benaknya.
"Sudah siap, honey," sapa Keymal kala mereka berdua sudah berada di dekat mobil.
Keymal langsung merogoh saku celananya saat posisinya di dekat mobil. Ia meraih kunci dan menekan salah satu tombol yang ada di sana agar central lock terbuka. Sedangkan Anna hanya diam saja tidak mengindahkan sapaan keymal.
"Biar aku yang memasangnya agar tidak macet lagi," kata keymal saat Anna sudah duduk di sampingnya. Tangannya dengan cepat memasangkan seatbelt milik Anna.
Anna harus menahan napasnya ketika tubuh Keymal sedekat itu dengan tubuhnya. Aroma maskulin itu seketika menguar membuat jantung Anna berdetak lebih kencang. Tubuhnya seketika membeku, gadis itu berusaha mengatur napasnya untuk mengendalikan seluruh reaksi tubuhnya.
"Apa kamu tidak mau turun?" Lagi-lagi Keymal yang harus membuka suara terlebih dulu. Anna yang sedari tadi hanya melamun hingga tidak menyadari jika mereka telah sampai di depan kampus Anna.
Gadis itu tersentak mendengar suara lelaki di sampingnya. Membuka seatbelt dengan buru-buru dan bersiap untuk turun.
Brak!
Tidak ada satu patah kata apapun yang keluar dari mulut gadis itu. Ia berjalan memasuki gerbang kampus lalu berbaur dengan yang lainnya.
Keymal menghela napas dalam. Melihat sikap Anna yang tiba-tiba berubah mirip bunglon cantik yang pernah ia pelihara dulu.
Galau, sebenarnya Keymal merasa tida enak hati bila sikap adiknya seperti itu. la lebih menyukai Anna yang suka berbicara kasar serta suka membangkang seperti pertama kali mereka bertemu.
"Siapa yang mengantarmu barusan?"
Anna yang baru saja duduk di kursinya seketika mendongak ke arah Susan temannya.
"Kepo!" balas Anna dengan mimik muka yang menyebalkan. Mulutnya mencebik kesal kala mengingat wajah Keymal. Ditambah kejadian tadi malam yang membuatnya naik pitam.
Kenapa dia lemah sekarang? Bukankah dulu dia adalah gadis tangguh yang tidak sembarangan orang bisa menyentuhnya? Lantas mengapa sekarang ia pasrah ketika Keymal sang kakak tirinya itu melakukan sesuatu terhadapnya?
la tidak bisa seperti itu terus-menerus. Anna merasa harus berontak jika Keymal melakukan sesuatu kepada dirinya lagi.Sudah cukup dia kehilangan masa depan atas perbuatan Keymal.
Dia punya hak untuk menolak, dan harus memiliki keberanian untuk menolak. Gadis itu mengangguk - nganggukkan kepalanya mantap.
Sedangkan di lain tempat, Kasih tidak fokus dalam bekerja karena memikirkan pesan dari nomor tidak dikenal, yang berisikan akan mengambil Anna secepatnya. Pikirannya berkecamuk memikirkan hal tersebut, dia jadi tidak fokus melakukan hal apapun dan menjadi parno sendiri karena pesan yang ia dapatkan kemarin.
"Dia pikir dia siapa?!" ujarnya seolah mendukung dirinya sendiri agar tidak takut.
"Kita lihat sampai mana permainan ini akan berakhir," tambahnya sambil menaikkan satu alisnya.
Wajahnya tidak menampakkan kelembutan seperti biasanya, kali ini Kasih terlihat lebih arrogant dalam mengeluarkan kata-kata.
Buset bener dah jika seperti ini. Bagaimana tidak? Kasih sang ibu dari Anna benar-benar menceritakan prihal keinginan sang putri kepada Johan, suaminya.
Mendengar curahan istrinya yang terasa sangat berat bila berjauhan dengan Anna, Johan pun tidak bisa membendung air matanya juga. la ikut terhanyut dan mulai menangis. Bayangkan, jika Johan tidak ikutan mewek dalam suasana tersebut, bisa-bisa ía terkena ulti dari sang istri. Namun, dalam hati terdalamnya ía juga merasa berat jika harus berjauhan dengan putri tirinya tersebut. Dirinya sudah menganggap Anna layaknya anak kandung sendiri.
"Aku ingin, Ayah membujuk Anna agar mengurungkan niatnya itu. Ibu sangat berat jika ia tinggal sendirian, dan aku sangat kenal anakku. dia seorang penakut. Tidak mungkin akan berani tinggal seorang diri di sana," ucap Kasih sambil terisak. Ia berharap Johan bisa membantunya.
Johan memeluk tubuh kasih dengan lembut. Dia berada di dua pilihan, antara memenuhi permintaan istrinya ataukah malah sebalik nya.
"Atau, kita minta Keymal saja untuk menjaga Anna?" Kasih memberi usulan. Mereka sama-sama diam memikirkan perbincangan akhir keduanya.
***
Pagi itu saat Anna ingin berangkat ke kampus. keluarga Johan Nugraha menyempatkan waktu untuk sarapan bersama.
"Ayah ingin berbicara padamu, Nak, "ucap Johan ketika Anna sudah duduk di meja makan untuk sarapan. Anna Mengangguk pasrah, dan mengikuti sang ayah menuju ruang tamu.
Sesampainya di sana, Johan menarik napas gusar. Dia Mengingat perkataan Kasih tadi malam yang menginkan Keymal menemani sang putri, lebih tepatnya tinggal bersama.
Jujur dia khawatir mengingat bagaimana tingkah anak sulungnya tersebut pada seorang wanita. la tahu betul bagaimana sifat anaknya itu.
"Apa kamu yakin ingin pindah dari rumah ini?" tanya Johan kepada anak tirinya. Anna hanya membalas dengan anggukan kepala disertai senyuman canggung.
"Kamu tidak betah di sini? Atau ada yang membuatmu tak nyaman?" bondong Johan dengan pertanyaa nya.
"Tidak Ayah, tidak! Anna nyaman berada di sini, hanya saja Anna ingin mandiri, dan tidak merepotka ibu lagi," tuturnya lembut berharap Johan memahaminya. kemudian menyetujui apa keinginan putri tirinya itu.
Johan dan Anna terus berbincang. Di samping itu mereka tidak menyadari jika perbincangan keduanya tersebut ada yang menguping.
Keymal memperhatikan keduanya dengan sangat teliti, dan dia juga tengah memikirkan cara bagaimana caranya agar dia bisa menggagalkan niat adik tirinya itu?
Parah! Ternyata Keymal sudah sangat candu bila berdekatan dengan Anna. Bahkan lelaki itu juga merasakan hal yang berbeda dengan dirinya tersebut.
"Kamu sudah dengar semuanya?" Secara tiba-tiba Keymal dikejutkan oleh kedatangan Kasih, ibu tirinya. Wanita itu menyentuh pelan punggung Keymal dengan mata yang sudah mengembun.
Keymal tahu jika Kasih pasti sangat kepikiran akan hal tersebut.
"Dasar Anna saja yang tega ingin berjauhan dengan seorang ibu seperti dia," batin Keymal.
Keymal hanya mengangguk pelan.
"Mama ingin kamu menjaga Anna. Anggap dia sebagai adik kandungmu sendiri, aku mohon." Mengucur sudah air mata Kasih membasahi pipi mulusya. Begitu dalam rasa sayangnya terhadap Anna hingga berjauhan saja ia begitu dilema.
"Mama ingin aku melakukan apa untuk, Anna?" tanya Keymal sopan. la memanggil Kasih dengan sebutan mama, karena itu sudah menjadi kebiasaanya dulu ketika masih bersama mama kandungnya. Kasih dia sambil melihat ke arah Anna dan suaminya, kemudian menatap Keymal yang berada tepat di depannya dengan tatapan serius.
***
"Lepas, kak! kenapa Kakak bawa Anna ke sini?!"
Keymal membuang napasnya kasar mendengar protesan Anna. Lelaki itu kemudian melepaskan cekalan tangannya pada pergelangan tangan Anna saat mereka berdua sudah berada di ruangan kantor miliknya.
"Aku membawamu ke sini untuk mengatakan sesuatu."
Anna tampak acuh. Perbuatan yang kemarin lelaki ini lakukan bahkan masih begitu membekas di sudut hatinya.
"Aku tidak mau mendengarkannya. Anna sudah malas dengan Kakak!"
Keymal berkacak pinggang seraya mendongakkan kepalanya ka atas membuang napasnya dari mulut. Menjilat bibirnya yang kering kemudian menatap lurus gadis yang kini masih berdiri tepat di belakang pintu.
Anna tersenyum getir. "Kakak tidak usah ikut campur urusanku, Anna tidak suka laki-laki pemain wanita berdekatan denganku!" tambahnya yang beranggapan bahwa Keymal seorang pemain wanita, ya meskipun hal tersebut adalah kenyataan.
Keymal tersenyum miring. Untuk beberapa saat lelaki itu terdiam. Ia pandangi wajah Anna yang kusut. Gadis cantik di hadapannya ini benar-benar sulit dipahami. Kadang kala seperti penakut dan penurut kadang kala bisa membangkang bersikap emosi tanpa terkendali.
Sejenak ia teringat akan pesan Kasih tadi pagi, dan entah kenapa Keymal menyetujuinya. Bahkan dia begitu yakin jika perbuatannya itu telah benar bahkan sangat benar menurut dia.
"Ngapain liatin Anna seperti itu?" cetusnya sambil memutar bola mata jengah. Sadangkan Keymal sendiri tengah memikirkan cara bagaimapun ia harus bisa menaklukkan adik tirinya tersebut.
Mungkin saat ini Keymal akan sedikit merasa tertantang dengan sikap Anna, yang diyakini akan terus menentang perintah maupun permintaannya. Meskipun kesulitan, tetapi Keymal masih memiliki seribu cara untuk menaklukkan Anna.
Lelaki itu kembali mencekal pergelangan tangan Anna ketika melihatnya hendak pergi. Kemudian menyentaknya sedikit pertanda Keymal dalam mode serius.
"Apalagi? Anna mau kuliah Kak, dan sekarang Anna sudah telat," ucapnya tegas dengan mimik muka serius. Pandangan keduanya terkunci satu sama lain.
"Aku kenal dengan dosen yang akan mengajarmu hari ini, jadi kamu tidak perlu khawatir," balas Keymal jujur. Dia memang kenal dengan salah satu dosen Anna dan sudah mengatakan jika hari ini Anna tidak dapat hadir dalam pelajarannya agar Anna tidak terkena point karena tidak masuk kuliah hari ini.
Setelah berdebat masalah kuliah, Anna memutuskan untuk mengalah saja lalu duduk di sofa panjang milik Keymal. Melempar bokongnya kasar, dan menyandarkan kepalanya.
"Ya udah, Kakak mau ngomong apa hingga menyandra Anna di sini?" tanya gadis tersebut sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Ini adalah amanah dari mama, dan sekaligus perintah dari dia!" Keymal memberikan ultimatum kepada Anna.
"ya, Anna paham," tandasnya acuh. Setelah itu menutup matanya pelan.
Lagipula dia sendiri sudah mendapatkan persetujuan dari Johan untuk pindah dari rumahnya itu, berarti hari ini adalah hari terakhir mereka bertemu.
Benar Anna sudah mendapatkan lampu hijau dari Johan untuk mencari jati dirinya dengan cara hidup mandiri. Meskipun harus berjauhan dengan Kasih, toh menurutnya ia masih bisa mengunjungi ibunya itu jika sedang libur.
"Mama ingin Aku menemanimu tinggal di sana," tutur Keymal enteng. Namun, di dalam hatinya yang terdalam ia sedang bersorak ramai tanda kemenangan.
Anna yang mendengar hal tersebut pun benar-benar kaget bukan main. Padahal tadi pagi sang ayah yaitu Johan tidak ada mengatakan hal itu. Johan sengaja tidak mengatakannya karena khawatir Keymal tidak benar-benar menjaga Anna.
"Mana bisa seperti itu?" selidik Anna merasa jika perkataan Keymal hanya akal-akalan dia saja agar bisa berdekatan denganya setiap saat.
"Terserah kalau kamu tidak percaya. Yang penting aku sudah menyampaikan amanah mama. Lagipula aku sudah tidak berminat denganmu lagi!" tandas Keymal, kemudian berjalan mendekati sang gadis.
Bohong jika Keymal sudah tidak minaat pada Anna.
"Aku tidak akan mengganggumu lagi jika kamu mau Menurutiku. Kamu akan aman, tenang saja," ucap Keymal setelah duduk tepat di depan Anna.
"Apa aku akan percaya begitu saja dengan omongan, Kakak?" cicit Anna geram. Dia tidak mudah percaya begitu saja dengan kibulan Keymal.
Keymal Mendesah, lalu menatap adik tirinya itu dengan sangat serius seolah ingin mengatakan hal yang sangat penting dalam hidupnya saat ini. Percuma dia mengatakan tidak berminat pada Anna sedangkan matanya tidak dapat berbohong bila berdekatan dengan gadisnya tersebut.