Di ruang istirahat CEO di Grup Puncak.
Evelyn Kayana bangkit dari ranjang, mengambil kemeja dan rok pendek yang berserakan di lantai, lalu mengenakannya dengan cepat. Saat dia berpakaian, pesona menggoda terpancar di matanya, masih segar setelah berhubungan dengan pria di ranjang. Tatapannya bertemu dengan ekspresi dingin pria itu.
Pria itu bernama Brian Dewata, CEO Grup Puncak, bosnya, dan dermawannya.
Hubungan rahasia mereka hanya terbatas di ruang istirahat ini. Di luar tembok ini, dia tidak lebih dari seorang asisten khusus.
"Pak Brian, jika tidak ada urusan lagi, saya akan kembali mengerjakan tugas saya," ucap Evelyn, sambil menawarkan senyuman yang terlatih.
Sambil berbicara, dia dengan cekatan menata rambut panjangnya menjadi sanggul, penampilannya dengan cepat berubah dari memikat menjadi sangat profesional.
Dia terlihat menjaga jarak, tidak seperti wanita yang baru saja berada di ranjang Brian.
Brian menyipitkan matanya, tatapannya tertuju pada wajah cantik wanita itu.
"Vivi sudah kembali."
Evelyn telah sampai di depan pintu ruang istirahat, ketika tangannya siap untuk membukanya, kata-kata Brian menghentikan gerakannya.
Tubuhnya menegang, dan rona merah di wajahnya memudar, bahkan napasnya pun terhenti sejenak.
Namun, dia segera mendapatkan kembali ketenangannya dan berbalik, mempertahankan senyumannya yang terukur.
"Saya mengerti, Pak Brian. Saya tidak akan masuk ke ruangan ini lagi," ucapnya.
Cinta pertama Brian, Vivi Wiradi, yang telah pria itu tunggu selama enam tahun, telah kembali. Dalam hidup Brian, Evelyn tidak lebih dari sekadar alat untuk memenuhi kebutuhannya.
Terlepas dari kenyataan bahwa kehadiran Brian telah menjadi satu-satunya sumber dukungannya selama dua tahun terakhir, dia sangat sadar bahwa dia hanya benar-benar memiliki pria itu pada saat-saat intim.
Brian bangkit dari ranjang, tidak peduli dengan tubuhnya yang tanpa busana. Dia menemukan celananya di lantai dan mengenakannya.
"Apa hubungannya denganmu?" tanyanya sambil tertawa kecil, menyerahkan kemejanya pada Evelyn, yang kemudian mulai membantunya mengenakan kemeja itu.
Saat dia mengancingkan kemejanya, suaranya terdengar dari atas. "Buatkan surat perjanjian perceraian untukku."
Evelyn berhenti sejenak, tatapannya terarah ke wajahnya, memperhatikan garis-garis tajam rahangnya dan bibirnya yang tipis.
"Aku telah menyia-nyiakan enam tahun masa muda seorang gadis. Sudah waktunya untuk mengakhirinya," ucapnya, sambil menyerahkan dasinya, memecah lamunan Evelyn. "Bagaimana menurutmu?"
Tanpa sepatah kata pun, Evelyn menerima dasi itu, hatinya bergejolak dengan emosi.
Faktanya, istri yang Brian sebutkan tadi adalah dia.
Selain sebagai asisten dan kekasihnya, dia memiliki peran lain dalam hidup Brian, yaitu sebagai istrinya.
Enam tahun yang lalu, ibunya didiagnosa menderita kanker dan membutuhkan perawatan yang mendesak dan mahal. Karena baru saja lulus dan tidak mampu secara finansial, dia sempat putus asa hingga sumbangan dari Keluarga Dewata datang untuk membantunya, sebuah tindakan kebaikan yang tidak akan pernah dia lupakan.
Kemudian, ketika tunangan Brian, Vivi, meninggalkannya dan pindah ke luar negeri, hal itu menyebabkan gosip dan cemoohan yang meluas.
Pada saat itu, Brian membutuhkan seorang istri untuk menyelamatkan muka. Neneknya telah menemukan Evelyn, yang setuju untuk menikah dengan Brian untuk membalas budi.
Bersyukur atas bantuan Keluarga Dewata, Evelyn dengan setia menjalankan perannya sebagai istri Brian, tanpa meminta lebih.
Setelah menikah, karena harus terus membiayai pengobatan ibunya, dia meninggalkan sebuah perusahaan kecil dan bergabung dengan Grup Puncak, dengan harapan mendapatkan peluang yang lebih baik.
Saat itulah dia mendapati bahwa CEO Grup Puncak adalah Brian, suaminya, yang hanya dia temui sekali di hari pernikahan mereka dan tidak lagi mengenalinya.
Bertekad untuk mendapatkan dana untuk perawatan medis ibunya yang sedang berlangsung, Evelyn tetap bekerja di perusahaan tersebut, sambil sebisa mungkin menghindari Brian. Namun, takdir memiliki rencana lain, dan dia mendapati dirinya di atas ranjang Brian yang sedang mabuk pada suatu malam. Setelah pertemuan yang tidak disengaja ini, Brian secara tidak terduga mempromosikan Evelyn untuk menjadi asisten khususnya.
Puas dengan kehadirannya, Brian memaksanya untuk naik ke atas ranjangnya beberapa kali, dan akhirnya menjadikannya sebagai teman ranjangnya.
Setiap kali Brian memanggilnya, dia akan menurut. Kadang-kadang, Brian akan menanyakan apakah dia membutuhkan sesuatu, dan pada saat-saat sulit secara finansial, dia akan meminta uang secara terbuka.
Namun ketika dia tidak membutuhkan bantuan keuangan, dia akan menolak rayuannya, berusaha untuk menjaga martabat dalam interaksi mereka, menolak untuk menurunkan hubungan mereka menjadi sekadar transaksi.
Evelyn telah mempertimbangkan untuk mengakhiri hubungan semacam ini dengan Brian berkali-kali, tetapi biaya pengobatan ibunya yang mahal telah memaksanya untuk mengesampingkan harga dirinya.
Terlebih lagi, dia telah jatuh cinta pada Brian.
Merasa tidak layak untuk Brian, dia menyembunyikan perasaannya, mendedikasikan dirinya untuk mendukung Brian di tempat kerja.
Namun kini, Vivi telah kembali.
Evelyn tahu bahwa dia harus menyingkir, baik dari perannya sebagai asisten maupun istri Brian.
Kesadaran bahwa tak satu pun dari perannya dapat menyaingi cinta pertama Brian benar-benar menyedihkan.
Senyum pahit tiba-tiba muncul di bibir Evelyn.
Menyadari hal ini, Brian mengerutkan alis dengan bingung. "Kenapa kamu tersenyum?" tanyanya.
Evelyn membetulkan dasinya dan berjinjit untuk merapikan kerah kemejanya.
"Saya turut berbahagia untuk Anda, Pak Brian. Wanita yang Anda sayangi akhirnya kembali," ucapnya.
Sambil menarik napas dalam-dalam, dia melangkah mundur dan mengangguk sedikit. "Saya akan membuat surat perjanjian perceraian sekarang."
Brian mengerutkan kening, entah bagaimana dia dapat merasakan sekelebat rasa kesal. "Kamu benar-benar seorang asisten yang patut dicontoh, Evelyn," ucap Brian.
Ketidakpeduliannya membuat Brian mempertanyakan pesonanya sendiri.
Evelyn hanya memberikan senyuman, mengabaikan pesan yang mendasari pujiannya. "Terima kasih telah mengakui hasil kerja saya, Pak Brian."
Saat dia berbalik untuk pergi, suara Brian menghentikannya sekali lagi. "Beri dia empat puluh miliar," ucapnya.
Evelyn terdiam sejenak dan kemudian berkata, "Tapi perjanjiannya cukup jelas bahwa dia tidak akan mendapatkan apa-apa setelah perceraian ...."
Brian menyela, "Bagaimanapun juga, aku sudah menyita enam tahun hidupnya. Dan dia tampaknya mengalami masa-masa sulit saat itu. Pergilah dan selesaikan dengan segera."
Setelah memberikan instruksinya, Brian meninggalkan ruang istirahat.
Sambil duduk di mejanya, dia mengenang wanita muda patuh yang ditemuinya enam tahun lalu di pintu masuk Kantor Catatan Sipil.
Saat itu, dia merasakan kebencian yang mendalam terhadap keluarganya karena telah memaksanya menikah dan tidak menaruh kasih sayang pada wanita yang mereka pilih untuk menjadi istrinya. Akibatnya, dia tidak pernah bertemu lagi dengan wanita itu setelah menikah.
Yang mengejutkannya, selama enam tahun berikutnya, istrinya tidak pernah sekalipun meminta sesuatu padanya ataupun Keluarga Dewata.
Dalam aspek ini, istrinya mengingatkannya pada Evelyn.
Akibatnya, persepsinya terhadap istrinya meningkat secara signifikan, membuatnya ingin memberikan penyelesaian perceraian sebesar empat puluh miliar rupiah.
Evelyn segera menyelesaikan persiapan perjanjian perceraian dan mengirimkannya kepada Brian. Dengan persetujuannya, dia pun mencetak perjanjian tersebut.
Kemudian, Brian dan Evelyn pergi ke bandara untuk menjemput Vivi.
Di bandara yang ramai, para muda-mudi menikmati momen-momen kebersamaan mereka, sementara para pelancong yang berpasangan memancarkan kegembiraan untuk perjalanan yang akan datang.
Di antara kerumunan orang banyak, Brian dan Evelyn tampak menonjol.
Brian, yang mengenakan setelan jas yang dirancang dengan indah, memiliki wajah yang tegas dan kehadirannya yang menarik perhatian.
Bibirnya sedikit terkatup, dan matanya yang dalam menunjukkan sedikit ketidaksabaran saat dia memperhatikan gerbang kedatangan.
Evelyn berdiri di sampingnya, tampak lembut dan tenang. Rambut panjangnya tergerai longgar di bahunya, dan riasan tipis mempercantik wajahnya. Dia telah berdandan dengan hati-hati, karena dia tahu bahwa Brian akan meminta ditemani olehnya ke bandara.
Tanpa mengetahui alasannya dan memahami bahwa hal itu mungkin tidak ada gunanya, dia tetap berusaha.
Ekspresi terkejut di mata Brian saat melihatnya tadi tidak sia-sia, terutama saat pria itu dengan santai berkata, "Kamu terlihat lebih baik daripada saat mengenakan pakaian kerjamu."
Satu kalimat yang diucapkannya secara acak itu membuat suasana hati Evelyn menjadi baik.
Tiba-tiba, sekelompok besar orang muncul dari gerbang kedatangan. Tatapan Evelyn menyorot di antara kerumunan orang, mengamati setiap wanita.
Seorang wanita dengan gaun bermotif bunga, rambut panjangnya dicat warna ungu muda dan ditata bergelombang, terlihat mengenakan kacamata hitam. Dia mendorong kopernya sambil berjalan.
Evelyn merasakan tatapan wanita itu, bahkan di balik lensa kacamata yang dikenakan, tertuju pada Brian.
Sesuai dengan intuisi Evelyn, wanita itu bergegas ke arah Brian pada saat berikutnya, kopernya terlempar ke samping saat dia melemparkan dirinya ke dalam pelukan Brian.
Vivi, tanpa peduli dengan kopernya, memeluk Brian, suaranya lembut dan manis. "Brian, aku pulang. Maaf ...."
Evelyn, yang menyaksikan pelukan mereka, merasakan suasana hatinya yang tadinya baik segera menjadi buruk dalam sekejap.
Dia berbalik untuk mengambil koper Vivi, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
Koper itu telah menempuh jarak yang cukup jauh, sehingga mengharuskannya untuk menavigasi kerumunan orang banyak, yang membuatnya terlihat sedikit canggung.
Setelah dia mengambil koper itu dan kembali, dia berhenti beberapa langkah dari Brian dan Vivi, tidak yakin apakah akan mendekat.
Tangan Brian berada di pinggang Vivi saat Vivi memeluk pria itu erat-erat, seolah-olah sedang memeluk seluruh dunia.
Kerinduan dan kasih sayang yang menyelimuti Vivi membuat Evelyn semakin sulit mempertahankan ketenangannya.
Kesadaran bahwa pria yang baru saja dia dekap dengan mesra tadi pagi kini sedang memeluk wanita lain, terasa menyesakkan.
Lipstik yang sengaja dia pakai menyamarkan kepucatannya, menyembunyikan kesedihannya yang luar biasa.
"Brian, aku sangat merindukanmu. Apakah kamu merindukanku?" Vivi melonggarkan cengkeramannya di leher Brian, tetapi tetap melingkarkan tangannya di pundak Brian, menunjukkan bahwa kedekatan mereka tidak terbantahkan.
Dibandingkan dengan Vivi, kehadiran Evelyn di samping Brian tampak kurang cocok.
Pakaiannya sendiri sangat kontras dengan Vivi, dan dia tidak pernah bisa semesra ini dengan seseorang di depan umum.
"Aku merindukanmu," ucap Brian dengan pelan. Matanya sejenak bertemu dengan mata Evelyn, yang berdiri tidak jauh dari situ.
Wanita itu tampak kurang tenang dari biasanya, tetapi dia tidak bisa memastikan apa yang tidak beres. Dia sedikit mengernyit.
Mata Vivi memerah saat dia menatap Brian, suaranya sarat akan penyesalan. "Brian, aku akan menebusnya padamu sekarang setelah aku kembali."
"Hari sudah larut. Ayo kita pulang," ucap Brian, matanya mencerminkan penyesalan dan rasa menyalahkan diri sendiri di mata wanita itu.
Evelyn telah mempersiapkan diri secara mental untuk sementara waktu, dan kini dia memasang senyum profesional.
"Pak Brian, Nona Vivi, lewat sini, silakan," ucapnya.
Brian memimpin jalan, sambil berkata, "Ayo." Dengan menarik koper di tangan, Evelyn mengikuti di belakang Brian, langkahnya selama bertahun-tahun telah menyesuaikan diri dengan langkah cepat pria itu.
Dia mampu mengimbangi Brian, tetapi Vivi kesulitan karena sepatu hak tingginya yang berdecit saat dia bergegas untuk mengimbangi langkah Evelyn.
"Apakah kamu asisten Brian?" Vivi bertanya, sedikit terengah-engah.
Evelyn mengangguk pelan. "Ya."
"Kalau begitu, kamu pasti sangat cakap. Kita sepertinya seumuran. Mari kita berteman. Aku akan menambahkan kontakmu di WhatsApp nanti," ucap Vivi.
Vivi tersenyum, wajahnya dihiasi dua lesung pipi.
Evelyn terkejut. Tidak pernah terlintas di benaknya bahwa Vivi akan menghargai kemampuan profesionalnya hingga menawarkan diri untuk menjalin pertemanan dengannya.
Namun, motif di balik tawaran Vivi membingungkan Evelyn.
Melihat keraguan Evelyn, Vivi bertanya, "Apakah kamu tidak bersedia?"
"Oh, tentu saja saya bersedia." Evelyn, yang menutupi keengganannya dengan senyuman sopan, mengambil ponselnya. "Saya akan menambahkan Anda sekarang," ucapnya, tanpa melihat alasan untuk menolak.
Vivi dengan cepat mengetuk WhatsApp, dan mereka segera menambahkan satu sama lain sebagai kontak.
Sebelum Vivi dapat berkata lebih banyak, Evelyn menyadari ketidakhadiran Brian. Dia mengingatkan Vivi, dengan mengatakan, "Nona Vivi, jangan biarkan Pak Brian menunggu terlalu lama. Sebaiknya kita keluar sekarang."
"Baiklah." Vivi setuju, lalu mulai berjalan dengan langkah cepat.
Jalanan hampir kosong pada tengah malam saat mereka masuk ke dalam mobil Mercedes Benz hitam.
Brian dan Vivi duduk di belakang, sementara Evelyn duduk di kursi pengemudi.
Pandangan Evelyn tertuju pada jalan di depan, meskipun fokusnya goyah. Gumaman lembut dari Brian dan Vivi memenuhi telinganya.
Mereka terdengar seperti pasangan muda yang saling jatuh cinta, juga seperti pasangan suami istri dengan hubungan yang sangat baik sedang membicarakan kehidupan sehari-hari mereka.
Mendengar mereka berbicara sudah cukup menenangkan bagi Evelyn, itu berarti mereka hanya berbicara, tidak lebih.
Namun setelah hening sejenak, Evelyn tiba-tiba berpikir bahwa Brian dan Vivi mungkin sedang berciuman.
Dia melirik ke kaca spion untuk melihat sekilas ke arah kursi belakang.
Brian tampak ceria, senyumnya terlihat jelas saat dia duduk dengan jari-jarinya terjalin di atas kaki yang disilangkan.
Vivi mencondongkan tubuh ke arah Brian, hampir menutup jarak di antara mereka, seolah-olah ingin berada dalam pelukan pria itu.
Sepertinya mereka telah menghentikan pembicaraan mereka, mungkin terhanyut dalam kenangan masa lalu.
Sebelum Evelyn dapat berpikir lebih jauh, dia bertemu dengan tatapan Brian.
Mata pria itu memesona, dan dia segera mengalihkan tatapannya ke arah lain.
Sambil berdeham, Evelyn berkata, "Kita akan segera sampai di kediaman Keluarga Wiradi, Pak Brian. Apakah sebaiknya saya menyetir ke dalam atau berhenti di pintu kompleks?"
Dia segera menyesali pertanyaannya yang terburu-buru.
Rumah Keluarga Wiradi berada di Kompleks Vila Mentari, dan jika berjalan kaki jaraknya cukup jauh dari pintu kompleks ke vila terdekat. Evelyn ragu Brian ingin Vivi berjalan kaki dengan barang bawaannya.
"Brian, kenapa kamu mengantarkanku ke rumahku?" Vivi tiba-tiba menyadari bahwa mereka telah sampai di kediaman keluarganya. Dia menggigit bibir dan menyuarakan keengganannya. "Aku belum mau pulang ke rumah."
"Kamu sudah bertahun-tahun tidak pulang. Ini waktunya untuk reuni keluarga," ucap Brian. Kemudian, dia menatap mata Evelyn dan berkata, "Berhentilah di pintu kompleks."
Keheningan yang pekat menyelimuti mobil itu.
Setelah mereka berhenti, Evelyn keluar dari mobil dengan cepat dan membuka pintu belakang.
"Kita sudah sampai, Pak Brian, Nona Vivi," ucapnya sebelum mengambil koper Vivi dari bagasi. Saat dia melakukannya, dia melihat sesosok tubuh mendekat.
Mengenakan satu set pakaian olahraga, pria itu bergerak ke arah mereka di bawah cahaya bulan.
Kiran Wiradi, yang dua tahun lebih tua dari Brian, mengelola urusan Keluarga Wiradi dan terkenal di Onda.
Seringnya Brian dan Evelyn bertemu membuat Evelyn juga sering bertemu dengan Kiran.
Sikapnya yang lembut dan tatapan matanya yang menawan memberikan kesan buaya darat.
Namun, Evelyn sadar akan bahaya yang mengintai bagi mereka yang menyinggung Kiran. Dia jauh dari kata tidak berbahaya.
Vivi, sebagai adik perempuan yang disayanginya, memiliki tempat khusus dalam Keluarga Wiradi.
Evelyn menyapanya, "Halo, Tuan Muda Kiran."
Sambil membalas sapaan Evelyn dengan anggukan, Kiran memeluk Vivi dengan hangat.
"Kamu pergi selama enam tahun lamanya. Tidakkah kamu senang karena kamu sudah kembali?" ucap Kiran pada Vivi.
Melihat kakaknya membuat Vivi senang, tetapi dia merasa tidak senang dengan keputusan Brian yang mendadak untuk mengantarnya pulang ke rumah.
Kali ini, dia kembali untuk berdamai dengannya. Dia telah memilih Brian daripada keluarganya sendiri untuk membuat pria itu bahagia.
"Akulah yang meminta Brian untuk mengantarmu pulang. Ayah dan Ibu sudah menantikan kepulanganmu," jelas Kiran. "Perjalananmu bersama Brian masih panjang. Tidak perlu terburu-buru."
Mendengar kata-kata Kiran, Vivi merasa sedikit lega. Dia tersenyum dan melirik ke arah Brian. "Aku berharap bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan Brian, tapi karena sekarang aku sudah berada di sini, sepertinya lebih tepat jika aku pulang ke rumah lebih dulu."
Reaksi Brian sangat tenang, ekspresi di wajahnya tidak terbaca. Dia dengan santai memasukkan tangannya ke dalam saku, bersandar pada mobil, dan memberikan anggukan sederhana.
"Kurasa sudah waktunya aku pergi," ucapnya.
Evelyn, yang menangkap isyarat ini, segera bergerak untuk membukakan pintu untuknya. Brian berbalik dan masuk ke dalam mobil. Namun, ketika Evelyn hendak menutup pintu di belakangnya, Vivi menginterupsi, mencondongkan tubuh untuk berbicara lebih banyak dengan Brian.
"Brian, aku berencana untuk mengunjungi Nenek Soraya di Mansion Dewata besok pagi," ucap Vivi.
Cahaya di dalam mobil redup, dan Evelyn hampir tidak dapat melihat kontur yang jelas dari wajah samping Brian melalui jendela.
Brian sedikit membuka bibir untuk menjawab, "Oke."
Puas dengan jawabannya, Vivi melangkah mundur untuk bergabung kembali dengan Kiran, sambil melambaikan tangan ke arah Brian.
Setelah menutup pintu, Evelyn pamit pada Kiran dan Vivi dengan sopan. "Tuan Muda Kiran, Nona Vivi, sampai jumpa."
Dia kemudian berputar ke sisi pengemudi mobil, duduk, dan melaju dengan santai, yang menyangkal beban di hatinya.
Mereka masih perlu kembali ke Grup Puncak, disebabkan oleh jadwal Brian, yang mencakup rapat online internasional yang menuntut kehadirannya. Sebagai asistennya, tugas Evelyn membuatnya harus berada di sisi Brian hampir setiap saat.
Akibatnya, pada pukul dua pagi, dia mendapati dirinya menunggu hingga rapat Brian berakhir.
Brian memanggil dan berkata dengan suara yang jelas dan menyenangkan, "Masuk."
Perintahnya singkat. Dia tidak perlu mengonfirmasi kehadirannya. Tiga tahun telah memupuk pemahaman tanpa perlu bicara di antara mereka, komunikasi yang sempurna dalam konteks pribadi dan profesional.
Evelyn, dengan surat perjanjian perceraian di tangan, berjalan masuk ke dalam kantor. Sebelum dia sempat berbalik, sebuah tangan yang kuat menariknya ke dalam pelukan.
Brian menciumnya pada detik berikutnya, dan tangan pria itu bergerak dengan gelisah di tubuhnya.
Tertegun selama beberapa detik, Evelyn bergerak mundur untuk menghindari bibirnya, keterkejutan terlihat di matanya.
"Ada apa?" Brian bertanya, suaranya hampir serak karena gairah yang terlihat jelas.
Sambil menggigit bibir, Evelyn memberikan surat perjanjian perceraian kepadanya. "Pak Brian, ini surat perjanjian perceraian Anda. Apakah Anda perlu merevisinya?"
Brian menarik napas dalam-dalam, meletakkan surat perjanjian itu di atas meja tanpa melihatnya, dan berbalik menatapnya.
"Evelyn, kamu tidak terlihat seperti dirimu sendiri hari ini," ucapnya.
Evelyn tidak tahu apakah komentarnya itu karena dia telah memperhatikan mereka di dalam mobil atau karena situasi saat ini. Dia mencoba mengalihkan topik pembicaraan dengan senyum tegang. "Pak Brian, ini sudah larut. Haruskah saya mengantar Anda pulang untuk beristirahat? Anda harus berada di Mansion Dewata besok pagi, ingat?"
"Sudah terlalu malam untuk pulang sekarang. Mari kita menginap di sini malam ini," ucap Brian sambil melihat ke arah ruang istirahat.
Waktu Evelyn di ruang istirahat tidak pernah lebih dari tiga jam setiap kali Brian membutuhkan kehadirannya. Setelah kebutuhan Brian terpuaskan, Evelyn akan mengenakan pakaiannya dan pergi.
Satu-satunya kesempatan dia tinggal lebih lama dari durasi ini adalah ketika kelemahan pada kakinya memaksanya untuk beristirahat di ranjang selama beberapa waktu.
Ini adalah pertama kalinya Brian mengajaknya menginap.
Ini juga merupakan kali pertama dia menolak Brian. "Pak Brian, melakukan tindakan seperti itu tidak pantas, apalagi ...."
Vivi telah kembali.
Namun sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya, Brian menyela, "Apakah kamu menolak permintaanku?"
Evelyn mengerutkan alis. Bukankah seharusnya dia menolaknya?
Sebagai istrinya, dia akan segera bercerai. Bagaimana mungkin dia bisa terus hidup seperti seorang wanita simpanan?
Terlebih lagi, jika Brian ingin ditemani oleh wanita, mengapa dia tidak meminta Vivi untuk tinggal, terutama mengingat Vivi yang jelas bersedia?
Namun, bukan tempatnya untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini. Terlepas dari kebingungannya dalam hati, Evelyn terpaksa menahan diri.
"Pak Brian, saya punya komitmen di rumah," ucap Vivi, kata-katanya merupakan penolakan yang sopan tetapi jelas.
Brian menundukkan kepalanya, menyandarkannya ke bahu Evelyn, napas pria itu terasa hangat di tulang selangkanya, menimbulkan sensasi geli.
"Kalau begitu, antar aku ke Vila Taman Barat dalam perjalanan pulang. Besok, bawalah surat perjanjian perceraian dan jemput aku untuk pergi ke Mansion Dewata," gumam Brian, napasnya membelai leher Evelyn. Kemudian, dia menegakkan tubuh, berjalan kembali ke mejanya, mengambil jasnya, dan pergi.
Evelyn tetap diam sambil mengikutinya keluar. Mengaku ada urusan yang harus diselesaikan di rumah bukanlah alasan yang tepat.
Setelah mengantar Brian, dia tiba di apartemennya dalam waktu sepuluh menit.
Apartemennya berbentuk dupleks. Ukurannya sederhana, tetapi terdiri dari dua tingkat, dengan harga sekitar empat miliar rupiah karena lokasinya yang strategis.
Brian telah memberikannya sebagai hadiah ulang tahun pada tahun sebelumnya, pada suatu malam ketika mereka sedang bermesraan.
Sekembalinya ke rumah, dia meletakkan tas dan kunci mobilnya, menyalakan lampu, dan naik ke lantai dua. Di sana, dia mengambil buku nikah dan dokumen yang diperlukan dari laci nakas sebelum kembali ke lantai bawah untuk memasukkannya ke dalam tasnya.
Jika Soraya Dirsan, nenek Brian, menyetujui Vivi dan Brian untuk rujuk besok, langkah selanjutnya adalah menyelesaikan perceraiannya dengan Brian.
Dia tahu bahwa dia tidak akan memiliki kesempatan untuk kembali untuk mengambil dokumen-dokumen itu besok.
Mengungkapkan identitasnya sebagai istri Brian akan mengakhiri perannya sebagai asistennya.
Dia merenungkan bagaimana cara mengungkapkan pada Brian besok bahwa dia adalah istri yang telah dilupakannya.
Akankah Brian percaya bahwa niatnya hanya bekerja untuknya?
Karena ketidakmampuan Brian untuk mengenalinya dan kebutuhannya yang mendesak akan pekerjaan itu, Evelyn menyembunyikan identitasnya.
Belakangan, mengetahui bahwa Brian tidak menyukai tipu daya, membuat keadaan menjadi semakin rumit.
Evelyn merasa terlalu takut untuk memberitahukan hal tersebut.
Namun sekarang, dia tidak punya pilihan lain selain berharap bahwa dia tidak akan berada dalam situasi yang buruk besok.
Tersesat dalam pikirannya, dia akhirnya terlelap di sofa. Alarm yang disetel untuk pukul enam pagi membangunkannya.
Melirik ke arah jam, dia bergegas bersiap-siap, merias wajahnya dengan cermat, meskipun riasannya tidak dapat menyembunyikan kantong hitam di bawah matanya.
Dia merebus dua butir telur dan menghangatkan sebotol susu untuk sarapannya. Dia selesai makan sebelum berangkat ke Vila Taman Barat.
Meskipun tidak memiliki nafsu makan, dia memaksakan diri untuk mengisi perutnya. Mengetahui bahwa surat perjanjian perceraian akan menandai dimulainya pencarian pekerjaannya yang baru, dia membutuhkan energi pagi ini.
Brian yang terlihat lelah menaiki mobil dan langsung memejamkan mata, menambah suasana hati Evelyn yang sudah muram semakin sesak.
Mansion Dewata menempati lereng bukit yang luas, mencakup lebih dari lima ribu meter persegi. Di pintu gerbangnya yang terbuat dari besi, Vivi menunggu di dalam mobilnya.
Brian dan Evelyn tiba di gerbang. "Hentikan mobilnya," ucap Brian. Tanpa menunggu lama, Evelyn mengarahkan mobilnya ke pinggir jalan dan memarkirnya.
Brian kemudian membuka pintu dan keluar dari mobil. Vivi, yang bersemangat seperti seorang gadis muda, berada di dalam mobil di depan mereka. Dia juga turun dan bergegas menghampiri Brian.
"Brian, aku terlalu khawatir untuk masuk sendirian, jadi aku menunggumu di sini." Vivi mengakui.
Untuk pertama kalinya, Evelyn memilih untuk tetap berada di dalam mobil. Dia mengamati melalui jendela, memperhatikan wajah Brian yang memalingkan wajahnya darinya, ekspresinya menunjukkan kelembutan dan kasih sayang terhadap Vivi. Namun, Evelyn tahu bahwa kelembutan Brian akan menguap begitu dia dihadapkan pada kebenaran.
Pada saat ini, gerbang besi mulai terbuka perlahan, dan kepala pelayan, Jurais, muncul dari dalam.
"Nona Vivi, Anda sudah kembali. Sudah lama sekali," sapa Jurais.
Dengan senyum cerah, Vivi menjawab, "Ya, sudah lama sekali! Tapi ... kita akan sering bertemu lagi!"
Jurais memberikan senyuman yang sopan sebelum mengalihkan perhatiannya kepada Brian. "Tuan Muda, seandainya Anda memberi tahu saya tentang kedatangan Anda lebih awal, saya bisa bersiap-siap. Nenek Anda mengatakan ingin mengunjungi tempat ibadah, dan karena dorongan hati yang tiba-tiba, dia pergi ke sana tadi malam. Tapi, di sinilah Anda hari ini."
Senyum Vivi memudar mendengar kata-katanya.
Brian mengerutkan alis sebagai tanggapan.
Di sisi lain, Evelyn masih duduk di dalam mobil, berusaha keras menahan tawanya.
Rasa geli yang dia rasakan tidak dipicu oleh penundaan pengungkapan identitasnya.
Sebaliknya, Soraya sengaja menghindari mereka dan mengungkapkan fakta ini secara terbuka, yang dirancang untuk memancing rasa jengkel mereka, yang menurut Evelyn sangat ironis.
"Kapan Nenek Soraya akan kembali?" Vivi bertanya, berusaha keras menyembunyikan kekecewaannya.
Jurais terdiam sejenak sebelum menjawab, "Dia tidak menyebutkan waktu yang pasti, tapi dia tidak akan segera kembali. Dia biasanya tinggal di sana setidaknya selama setengah bulan. Kali ini, dia mengatakan ingin menikmati beberapa hari tambahan untuk menenangkan diri."
Soraya memilih untuk tidak hadir pagi ini karena dia tahu Brian akan datang ke sini bersama Vivi.
Orang tua Brian telah tinggal di luar negeri selama lebih dari sepuluh tahun. Pekerjaan mereka membuat mereka sangat sibuk sehingga mereka hanya bisa pulang ke rumah sekali atau dua kali dalam setahun.
Soraya telah membesarkan Brian dan menghargainya lebih dari nyawanya sendiri. Evelyn dapat memahami mengapa Soraya memiliki perasaan tidak suka terhadap Vivi karena apa yang telah terjadi enam tahun yang lalu.
Kemarin, Evelyn terlalu khawatir dengan konsekuensi terungkapnya identitasnya sehingga tidak mempertimbangkan perasaan Soraya.
Bagaimana mungkin Soraya dengan mudah memaafkan Vivi?
Evelyn turun dari mobil dan menyapa kepala pelayan, "Selamat pagi, Paman Jurais."
Ketika Jurais melihatnya, senyumnya lebih tulus dibandingkan dengan senyumnya kepada Vivi. "Bu Evelyn, Nyonya Soraya menyebut namamu dua hari yang lalu. Dia menghargai betapa kerasnya kamu bekerja untuk Tuan Muda Brian dan mengingatkanku untuk mengatakan pada Tuan Muda Brian agar memperlakukanmu dengan baik."
Pada saat ini, Evelyn menegang karena dia menyadari bahwa Brian dan Vivi sama-sama menatapnya.
Sekarang, terlihat jelas bahwa Soraya lebih menghargai Evelyn, asisten Brian, daripada Vivi.
Pada titik ini, Evelyn menyesal telah keluar dari mobil.
Dia menoleh ke Brian, tidak yakin apa yang harus dikatakan selanjutnya.
"Karena Nenek tidak ada di sini, mari kita pulang dulu," ucap Brian menyarankan.
Dia tidak meminta Evelyn untuk bertanggung jawab. Dia tahu Soraya telah melakukan itu dengan sengaja. Dia membuka pintu mobil Vivi dan berkata pada Vivi, "Kamu harus pulang."
Vivi berjalan ke arah mobil Mercedes Benz hitam dan masuk ke dalamnya, menolak untuk kembali. "Aku tidak ingin pulang. Aku ingin pergi ke perusahaan bersamamu," ucapnya.
Brian terdiam sejenak sebelum dia berbalik, menatap Jurais, dan masuk ke dalam mobil Mercedes Benz hitam itu.
"Jaga dirimu, Paman Jurais. Sampai jumpa," ucap Evelyn. Kemudian, dia memasuki mobil dan pergi.
Kedatangan Vivi di perusahaan menimbulkan diskusi di antara para karyawan.
Semua orang mengetahui pernikahan Brian, dan memahami bahwa tujuan utama pernikahan itu adalah untuk menyenangkan neneknya.
Selama enam tahun berikutnya, istrinya tidak pernah terlihat oleh mereka, sehingga jelas bahwa pernikahan Brian hanya dalam nama.
Kembalinya Vivi, yang ditandai dengan kehadirannya di perusahaan, tampaknya untuk menegaskan kekuasaan.
Implikasinya terhadap masa depan sudah jelas.
Ketika Evelyn sedang menyiapkan kopi, beberapa rekan kerja mendekatinya, dengan penuh semangat untuk bergosip. "Kak Evelyn, apakah bos akan mengganti istrinya?"
"Dia belum pernah punya istri sebelumnya," jawab Evelyn.
Meskipun merasa kesal, Evelyn mengingatkan dirinya sendiri untuk menerima kenyataan.
Yang bisa dia lakukan hanyalah bersiap-siap menghadapi pengungkapan identitasnya dan konsekuensi yang akan mengiringi. Dia memutuskan untuk tidak mengungkapkan identitasnya secara proaktif.
Dia percaya bahwa mengatakan kebenaran pada Brian tidak akan meredakan kemarahan pria itu. Mengantisipasi pemecatannya yang tidak terelakkan, dia menghargai setiap hari bahwa dia masih bisa bekerja di sini.
"Kamu benar. Aku baru saja melihat Nona Vivi. Dia menakjubkan!"
"Memang. Pak Brian jelas tidak melupakannya bahkan setelah enam tahun. Dia pasti sangat menawan!"
Ketika topik ini berkembang, semakin banyak orang yang bergabung dalam percakapan. Evelyn, sambil memegang kopinya, menyesapnya di tengah-tengah obrolan.
Setelah menghabiskan kopinya, Evelyn mencuci cangkirnya dan berkata kepada rekan-rekan kerjanya, "Mari kita fokus pada tugas kita. Ingat, yang terpenting adalah pekerjaan kita."
Identitas istri Brian yang penuh teka-teki memicu keingintahuan yang meluas di dalam perusahaan. Evelyn sering mendengar cuplikan percakapan para karyawan, spekulasi mereka tentang identitas sang istri tidak pernah berhenti menjadi bahan pembicaraan.
Bahkan ada bisik-bisik tentang rencana untuk melonggarkan lidah Brian dengan alkohol di sebuah pertemuan sosial, dengan harapan dia akan mengungkapkan informasi tentang istrinya.
Evelyn berharap dia dapat memberikan pencerahan pada mereka bahwa alkohol sebanyak apa pun tidak akan membantu, karena Brian sendiri tidak menyadari identitas istrinya.
Ketika rekan-rekannya bubar, Evelyn mengantisipasi kelanjutan gosip mereka di tempat yang lebih sepi.
Kembali ke mejanya, dia mendapati Vivi sedang menduduki kursinya.
"Evelyn, kamu sudah kembali," Vivi menyambutnya dengan senyuman hangat, terlihat seperti sedang dalam suasana hati yang baik. Jelas, dia tidak memasukkan komentar kepala pelayan sebelumnya ke dalam hati.
"Nona Vivi, bukankah seharusnya Anda bersama Pak Brian di kantornya?" Evelyn mendekat, sambil tersenyum sopan.
"Dia sedang sibuk rapat," jawab Vivi, sambil menunjuk kursi di sampingnya.
Kursi itu biasanya berada di ruang kerja Brian, tetapi telah dipindahkan oleh Vivi, menandakan bahwa dia berniat untuk tinggal di sini untuk sementara waktu.
"Tidak perlu formalitas di antara kita. Panggil saja aku Vivi. Lagi pula, kita seumuran." Vivi menyadari keraguan Evelyn dan dengan lembut mendesaknya untuk duduk.
Di sisi lain, Evelyn merasa cemas karena dia khawatir dengan apa yang akan dilakukan Vivi.
"Brian terkadang bisa sangat temperamental. Kamu mungkin sudah sering dimarahi olehnya selama ini, bukan?" Vivi berkata dengan nada santai.
"Tidak apa-apa. Saya sudah bisa memahami tindakannya," jawab Evelyn.
"Brian mengatakan bahwa kamu adalah asistennya yang paling lama bekerja, sebuah bukti atas kompetensimu," ucap Vivi. "Aku telah melihat banyak asisten pria seperti asisten kakakku, Benyamin. Dia sering dimarahi oleh kakakku. Dari apa yang kulihat, kamu tampaknya lebih baik daripada para asisten khusus itu."
Evelyn mendengarkan sambil menundukkan pandangannya. Ada perasaan tidak terlibat secara emosional di ujung matanya. Keramahan Vivi membuatnya merasa sedikit bersalah.
"Apakah Brian selalu sibuk dengan pekerjaannya?" Meskipun Evelyn tidak menanggapi, Vivi tetap melanjutkan percakapan.
"Dia sangat sibuk, baru menyelesaikan pekerjaannya sekitar pukul sepuluh malam," jawab Evelyn.
"Bisakah kamu membagikan jadwalnya padaku?" Vivi bertanya sambil memberi isyarat dengan ponselnya. "Kamu bisa mengirimkannya padaku melalui WhatsApp."
Bagi Evelyn, kini menjadi jelas bahwa alasan Vivi untuk terhubung melalui WhatsApp hanyalah untuk mengakses jadwal Brian.
"Maaf, Nona Vivi, tapi saya tidak bisa membagikan jadwal Pak Brian," ucap Evelyn, menolak Vivi dengan sopan.
"Bahkan tidak denganku? Mengingat hubungan kami, aku jamin, aku tidak akan memberitahukan jadwalnya pada siapa pun," ucap Vivi.
"Nona Vivi, mohon pahami posisi saya. Jangan mempersulit saya," jawab Evelyn, tidak ingin terlihat menghalangi Vivi dengan sengaja. Komitmennya terhadap etika profesional tidak akan mengizinkan tindakan seperti itu.
Mengungkap keberadaan Brian secara sembarangan bisa menimbulkan dampak yang mengerikan.
Vivi mengembuskan napas dengan pasrah. "Sepertinya kalian berdua tidak mudah dipengaruhi. Tapi, jika aku bisa membuat Brian bahagia, aku yakin dia akan bisa mengatasi situasi dengan neneknya."
Namun, Evelyn diam-diam menganggap optimisme Vivi salah tempat. Seandainya Brian mampu menavigasi hubungannya dengan Soraya, pernikahan yang dipaksakan enam tahun sebelumnya tidak akan terjadi.
Pernikahan itu lebih terlihat seperti sebuah kesepakatan antara Brian dan Soraya.
Brian bahkan tidak akan bisa bercerai tanpa persetujuan Soraya.
"Kupikir dia menyimpan kebencian atas apa yang terjadi enam tahun yang lalu. Kembalinya aku adalah sebuah upaya untuk berbaikan kembali. Jika kamu tidak mau mengungkapkan jadwalnya, bisakah kamu membantuku dengan cara lain?" Vivi berkata sambil menatap Evelyn dengan mata penuh harapan.
Dihadapkan dengan permintaan Vivi yang sungguh-sungguh, Evelyn mendapati dirinya tidak dapat menolak.
"Jika itu sesuai dengan kemampuan saya, saya akan coba membantu," jawab Evelyn.
Ekspresi Vivi menjadi cerah mendengar jawaban tersebut. "Aku belum merampungkan rencanaku. Aku akan menghubungimu melalui WhatsApp begitu semuanya beres!"
Evelyn mengangguk setuju. Sebelum Vivi sempat mengatakan sesuatu lagi, sebuah bunyi interkom menyela pembicaraan mereka.
"Bawakan aku secangkir kopi." Suara Brian terdengar jelas dan enak didengar.
Sebelum Evelyn sempat bangkit, Vivi sudah berdiri dan berkata, "Serahkan tugas-tugas kecil ini padaku mulai sekarang. Fokuslah pada tanggung jawabmu!"
Setelah itu, dia mulai menyiapkan kopi dan mengantarkannya ke kantor Brian.
Evelyn memijat pelipis, kembali fokus pada tugas-tugasnya. Dia melepaskan diska lepas dari komputernya dan menuju ke ruang fotokopi.
Di sana, saat melamun di samping printer, dia secara tidak sengaja membuat sepuluh salinan tanpa menyadarinya.
Seorang rekan kerja yang memasuki ruangan tersebut menyadari hal itu dan berkata, "Evelyn, mengapa kamu membuat begitu banyak salinan?"
Pikiran Evelyn telah disibukkan dengan pikiran tentang apa yang mungkin terjadi antara Vivi dan Brian di kantornya. Dia tersentak kembali ke dunia nyata oleh rekannya.
"Aku sudah selesai menggunakan printer. Kamu bisa menggunakannya sekarang," ucapnya.
Keluar dari ruang fotokopi dengan dokumen di tangan, dia dengan cepat ditarik ke sudut yang terpencil.
"Kak Evelyn, apakah benar cinta pertama Pak Brian telah kembali?" Julia Kusmawan bertanya, mengenakan setelan bisnis dan riasan wajah yang terlalu tebal untuk usianya, tanpa memberi jeda untuk menjawab. "Apa yang akan terjadi padamu? Apakah dua tahunmu berbaring dengannya sia-sia?"
Mungkin karena dia sangat gelisah, suaranya cukup keras untuk menarik perhatian orang-orang yang keluar dari ruang fotokopi.
Sambil mengerutkan kening, Evelyn menjawab, "Kamu tidak perlu memedulikan urusanku. Selain itu, topik seperti itu tidak sesuai untuk dibicarakan saat jam kerja."
Julia adalah satu-satunya orang yang mengetahui rahasia masalah pribadi Evelyn dengan Brian.
"Bagaimana mungkin aku tidak khawatir? Randi dan aku sedang mencari tempat di distrik sekolah, ingat?" ucapnya dengan nada mendesak.
Evelyn menatap mata Julia, yang mengandung sedikit niat untuk mementingkan diri sendiri.
Randi adalah adik laki-laki Evelyn, dan Julia adalah pasangannya, seorang alumni universitas yang sederhana.
Julia telah mendapatkan keuntungan dari dukungan Evelyn untuk mendapatkan posisi di perusahaan.
Kini, harapan Julia telah meningkat menjadi sebuah mobil dan rumah, dan dia ingin Evelyn membantunya untuk mencapai keinginannya tersebut.